Sabtu, 15 Februari 2014

Al-Mu'min 1-10


[TAFSIR] : al-Mu'min
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH al-Mu'min>>

Surah Al Mu'min 1 
حم (1) 
Ha Mim, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini? 
Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu: 
1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat. 
2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu: 

a. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah. 
b. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu. 
c. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya. 
d. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. 
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya." 
Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri. 
Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut: 
1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata. 
2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah. 
3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab. 
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi). 
Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka. 
Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini: 
1. Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32) 
Alasan-alasan mereka ialah: 
a. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran: 

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) 
Artinya: 
Dengan bahasa Arab yang jelas. 
(Q.S. Asy Syu'ara': 195) 
Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. 
b. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah: 

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) 
Artinya: 
Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. 
(Q.S. Al-Baqarah: 2) 
Firman-Nya lagi: 

وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 
Artinya: 
....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. 
(Q.S. Al-Baqarah: 97) 
Firman-Nya lagi: 

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138) 
Artinya: 
(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. 
(Q.S. Ali Imran: 138) 
Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk. 
c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula: 

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (17) 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? 
(Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40) 
2. 
a. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. 
Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73) 
b. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang. 
Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73) 
c. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9) 
d. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303) 
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."

Diturunkan Kitab ini (Al quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui,(QS. 40:2)

Surah Al Mu'min 2 
تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (2) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Kitab Alquran yang merupakan Kitab Suci bagi Muhammad saw dan umatnya yang wajib diamalkan isinya, petunjuknya, Kitab Suci terakhir yang membenarkan kitab-kitab suci yang sebelumnya, benar-benar diturunkan dari Allah, Tuhan seru sekalian alam, Tuhan Yang Maha Perkasa; tak ada suatu makhluk yang bagaimanapun kekuasaan dan kebesarannya yang dapat mengalahkan-Nya, Tuhan Yang Maha Mengetahui, tiada sesuatu yang bagaimanapun kecilnya dan halusnya tersembunyi daripada-Nya, sejalan dengan ayat firman Allah SWT: 

تنزيل الكتاب من الله العزيز 
Artinya: 
Diturunkan Kitab (Alquran) ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al Ahqaf : 2) 
Kitab Alquran, tidak mungkin dibuat oleh selain Allah SWT dan tidak mungkin dibuat oleh Muhammad saw sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam itu. Hal ini telah ditegaskan Allah SWT di dalam Alquran dengan firman-Nya: 

وما كان هذا القرآن أن يفترى من دون الله 
Artinya: 
Tidaklah mungkin Alquran ini dibuat oleh selain Allah SWT. (Q.S. Yunus : 37) 
Dan firman-Nya: 

أم يقولون افتراه 
Artinya: 
Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya". (Q.S. Yunus: 38) 
Bahkan Kitab Alquran itu, diturunkan dengan latar belakang yang beraneka ragam, berisi petunjuk bagi manusia untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan ke terang benderang, sebagaimana firman Allah SWT: 

كتاب أنزلناه إليك لتخرج الناس من الظلمات إلى النور بإذن ربهم إلى صراط العزيز الحميد 
Artinya: 
Kitab Alquran yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji. (Q.S. Ibrahim : 1)


Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).(QS. 40:3)

Surah Al Mu'min 3 
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ (3) 
Pada ayat ini dijelaskan lima macam sifat Allah Yang menurunkan kitab Alquran: 
1. Pengampun dosa, sifat Allah SWT ini ditegaskan pula pada ayat yang lain, sebagaimana firman Allah SWT: 

نبئ عبادي أني أنا الغفور الرحيم 
Artinya: 
"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. Al Hijr: 49) 
Dan firman-Nya: 

إنه هو الغفور الرحيم 
Artinya: 
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az Zumar: 53) 
Bagaimana banyaknya dosa seseorang apabila ia meminta ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah SWT akan mengampuni semua dosanya sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Qudsi yang dalam bahasa Indonesianya berbunyi sebagai berikut: 
"Hai hamba-hamba Ku, sesungguhnya kamu melakukan kesalahan di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun pada Ku, niscaya Aku mengampuninya". (H.R. Muslim dan Abu Zar) 
Di dalam hadis Qudsi yang lain Allah SWT menegaskan pula yang dalam bahasa Indonesianya berbunyi sebagai berikut: 
Berfirman Allah SWT: "Wahai anak Adam! Selagi kamu meminta dan mengharap kepada Ku, maka Aku akan mengampuni dosa-dosa yang ada padamu dan tidak Aku pedulikan lagi. Wahai anak Adam! Andai kata dosamu (bertumpuk) dan telah sampai ke awan langit, kemudian kamu meminta ampun kepada Ku niscaya Aku mengampuninya". (H.R. Tirmizi dari Anas) 
2. Penerima tobat Sifat Allah SWT ini ditegaskan pula pada ayat yang lain di dalam Alquran: 

ألم يعلموا أن الله هو يقبل التوبة عن عباده 
Artinya: 
Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah SWT Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya. (Q.S. Taubah: 104) 
Seseorang yang telah berbuat kejahatan seperti penganiayaan dan lain-lain, kemudian ia bertobat, menyesali perbuatannya itu, mempertebal imannya, berbuat baik, dan tetap di jalan Allah, maka Allah SWT akan menerima tobatnya, sebagaimana firman-Nya: 

فمن تاب من بعد ظلمه وأصلح فإن الله يتوب عليه 
Artinya: 
Maka barangsiapa yang bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah SWT menerima tobatnya. (Q.S. Al Maidah: 39) 
Dan firman-Nya: 

وإني لغفار لمن تاب وآمن وعمل صالحا ثم اهتدى 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Q.S. Taha: 82) 
Dan firman-Nya lagi: 

إلا الذين تابوا وأصلحوا وبينوا فأولئك أتوب عليهم وأنا التواب الرحيم 
Artinya: 
Kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran) maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Baqarah: 160) 
3. Keras hukuman dan berat siksa-Nya. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman: 

أن القوة لله جميعا وأن الله شديد العذاب 
Artinya: 
Bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah itu amat berat (keras) siksa-Nya. (Q.S. Al Baqarah: 165) 
Orang-orang yang berbuat jahat, bergelimang dosa seperti mendustakan dan memungkiri ayat-ayat Allah SWT, menempuh jalan yang sesat yaitu Selain jalan yang telah ditunjukkan dan digariskan Allah SWT mereka itulah yang mendapat siksaan Allah yang berat dan keras, sebagaimana firman-Nya: 

كذبوا بآياتنا فأخذهم الله بذنوبهم والله شديد العقاب 
Artinya: 
Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka, dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Q.S. Ali Imaran: 11) 
Pada ayat lain Allah SWT menegaskan: 

إن الذين كفروا بآيات الله لهم عذاب شديد والله عزيز ذو انتقام 
Artinya: 
Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). (Q.S. Ali Imran : 4) 
Dan firman-Nya pula: 

إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد 
Artinya: 
Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat. (Q.S. Sad: 26) 
4. Mempunyai karunia. Setiap karunia dan nikmat yang kita peroleh adalah dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya: 

فضلا من الله ونعمة والله عليم حكيم 
Artinya: 
Sebagai karunia dan nikmat dari Allah SWT dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al Hujrat: 8) 
Dan firman-Nya: 

وما بكم من نعمة فمن الله 
Artinya: 
Dan apa saja nikmat (karunia) yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya). (Q.S. An Nahl: 53) 
Tidak ada seorang manusia, dengan jalan apa pun, yang dapat memberi angka yang pasti tentang banyaknya karunia dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT padanya, sebagaimana firman-Nya: 

وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها 
Artinya: 
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menemukan jumlahnya. (Q.S. An Nahl: 18) 
5. Keesaan-Nya. Salah satu sifat Allah SWT dari sifat-sifat-Nya yang wajib diimani yaitu bahwa Dia Esa, tidak ada Tuhan selain Din, tiada sekutu bagi-Nya, tiada sesuatu yang serupa dengan Dia, sebagaimana firman Allah SWT: 

ليس كمثله شيء وهو السمع البصير 
Artinya: 
Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dialah Maha Mendengar dan Maha Melihat. (Q.S. Asy Syura: 11)
Sekiranya Ia mempunyai sekutu, ada Tuhan lain yang berkuasa sama dengan kekuasaan-Nya, maka dunia ini akan hancur sebagaimana firman Allah SWT: 

لو كان فيهما آلهة إلا الله لفسدتا فسبحان الله رب العرش عما يصفون 
Artinya: 
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan, selain Allah SWT tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan. (Q.S. Anbiya: 22) 
Orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga, mereka itu adalah termasuk golongan yang ingkar dan kafir, karena sebenarnya Allah itu Esa, tiada Tuhan selain Dia, firman Allah SWT 

لقد كفر الذين قالوا إن الله ثالث ثلاثة وما من إله إلا إله واحد وإن لم ينتهوا عما يقولون ليمسن الذين كفروا منهم عذاب أليم 
Artinya: 
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksa yang pedih. (Q.S. Al Maidah: 73) 
Ayat ini diakhiri dengan suatu ketegasan bahwa semua makhluk akan kembali kepada Allah dan di sanalah nanti disempurnakan balasan bagi mereka menurut perbuatan mereka masing-masing sebagaimana firman Allah SWT: 

واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون 
Artinya: 
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. al Baqarah: 281)

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.(QS. 40:4)

Surah Al Mu'min 4 
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ (4) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa hanyalah orang-orang kafir yang tidak senang kepada kebenaran yang suka mendebat, menentang dan mendustakan isi Alquran serta menuduhnya yang bukan-bukan, seperti dikatakan oleh mereka bahwa Alquran itu hanya syair dan sihir atau dongeng orang-orang purbakala dan lain-lain tuduhan yang meremehkannya, sekalipun Alquran itu sudah jelas dan diketahui oleh umum bahwa isinya semuanya adalah benar. Suatu perdebatan yang sifatnya seperti tersebut di atas, yang mendebat isi Alquran adalah perbuatan yang sangat tercela dan ia adalah suatu kekafiran, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: 

المراء في القرآن كفر 
Artinya: 
Debat terhadap isi Alquran adalah kekafiran. (H.R. Imam Ahmad dalam Musnad) 
Oleh karena itu Nabi Muhammad saw melarang keras yang demikian itu sebagaimana sabdanya: 

لا تماروا في القرآن فإن المراء فيه كفر 
Artinya: 
"Janganlah kamu mendebat isi Alquran, karena suatu debatan mengenai isi Alquran. adalah kekafiran". (Lihat Tafsir Maragi, Jilid 8 Juz. 24 halaman: 44) 
Adapun perdebatan yang mempersoalkan sesuatu dengan maksud untuk mencari dan menguatkan sesuatu yang hak, menjelaskan yang masih samar-samar, mengambil suatu pengertian hukum, menolak paham-paham dan kepercayaan yang menyimpang dan tidak sesuai dengan ajaran Islam,. menentang pengertian yang meremehkan isi Alquran, adalah perbuatan yang baik dan terpuji, bahkan yang demikian itu adalah perbuatan yang menjadi tugas para Nabi, sebagaimana halnya Nabi Nuh kepada kaumnya yang dikisahkan di dalam Alquran: 

قالوا يا نوح قد جادلتنا فأكثرت جدالنا 
Artinya: 
Mereka berkata "Hai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami". (Q.S. Hud: 32) 
Pada akhir ayat ini, Allah SWT memperingati Nabi Muhammad saw supaya ia jangan terpedaya dengan kemewahan yang mereka peroleh, kebebasan gerak mereka dari satu kota ke kota yang lain, berjual beli dan berdagang seenaknya sehingga memperoleh kekayaan yang bertumpuk-tumpuk, karena bagaimanapun juga kesemuanya itu mempunyai batas, dan sifatnya sementara paling lama sama dengan umurnya. Sesudah itu mereka akan mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat.

Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?(QS. 40:5)

Surah Al Mu'min 5 
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (5) 
Pada ayat ini, Allah SWT menghibur Nabi Muhammad saw agar jangan cemas dan gusar menghadapi kaumnya yang selalu menentang dan mendustakannya, karena yang demikian itu adalah Sunatullah yang berlaku pada setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT. Kaum Nabi Nuh mendustakan Nabi Nuh, begitu pula umat-umat yang lain, telah mendustakan Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang diutus kepada mereka, seperti kaum `Ad, Samud, dan lain-lain. Bahkan selain mendustakan Rasul-rasul mereka, mereka juga merencanakan makar terhadap Rasul-rasul mereka. Mereka berusaha melawan Rasul-rasul mereka dan menganiaya sekehendak hati mereka. Mereka tidak henti-hentinya menentang dan mendustakan serta mendebat Rasul-rasul mereka dengan atasan yang batil, tak berdasar seperti kata mereka bahwa Rasul-rasul itu manusia-manusia biasa seperti kita-kita juga, dengan maksud untuk melepaskan kebenaran, mengaburkan yang hak yang datangnya dari Allah SWT serta senantiasa mematikan dan memudarkan cahaya (agama) Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT: 

يريدون أن يطفئوا نور الله بأفواههم ويأبى الله إلا أن يتم نوره ولو كره الكافرون 
Artinya: 
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya. Walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (Q.S. At Taubah: 32) 
Allah SWT tidak tinggal diam melihat perbuatan-perbuatan jahat yang menunjukkan kebejatan akhlak mereka itu. Mereka diazab dengan azab yang amat pedih dan dibinasakan oleh Allah SWT, bahkan ada yang dimusnahkan sehingga mereka seakan-akan tak pernah ada di bumi ini. Umat Muhammad saw. terutama penduduk Mekah dapat menyaksikan bekas-bekas kehancuran mereka sebagaimana dikisahkan di dalam Alquran. 

وإنكم لتمرون عليهم مصبحين وبالليل أفلا تعقلون 
Artinya: 
Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan. (Q.S. As Saffat : 137-138)

Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.(QS. 40:6)

Surah Al Mu'min 6 
وَكَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ (6) 
Ayat ini menunjukkan bagaimana umat-umat dahulu telah diazab dan dibinasakan karena perlakuan mereka yang tidak wajar kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul mereka, karena itu berlaku pula hal yang demikian kepada umat Nabi Muhammad saw yang tetap membangkang, mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT dan akan dimasukkan ke dalam neraka kelak. 
Sebagaimana difirmankan Allah SWT.: 

والذين كفروا وكذبوا بآياتنا أولئك أصحاب النار هم فيها خالدون 
Artinya: 
Adapun orang-orang yang kafir (mengingkari) dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah: 39)

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):` Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala,(QS. 40:7)

Surah Al Mu'min 7 
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (7) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa para malaikat yang memikul Arasy Tuhan dan yang ada di sekelilingnya, menyucikan Allah mengucapkan janji dan syukur atas nikmat-Nya beriman dan mengakui bahwa tiada Tuhan yang disembah sebenarnya, melainkan Dia dan tidak segan-segan menyembah kepada-Nya mereka meminta dan memohonkan ampun bagi orang yang mengakui sebagaimana mereka akui, seperti keesaan Allah SWT dan kesucian-Nya, dari Tuhan yang disembah selain Dia. Mengenai cara malaikat itu memikul Arasy dan berapa banyak malaikat yang memikulnya, cukup kita percaya sebagaimana adanya dan mengembalikannya kepada ilmu Tuhan, karena yang demikian termasuk hal-hal yang tidak didapati perinciannya, baik di dalam Alquran maupun di dalam hadis-hadis yang mutawatir. Adapun teks (bunyi) doa para malaikat itu bagi orang-orang mukmin adalah sebagai berikut: 
ربنا وسعت كل شيء رحمة وعلما فاغفر للذين تابوا واتبعوا سبيلك. 
Isi doa ini: Pertama menggambarkan bahwa ilmu Tuhan meliputi segala sesuatu. Rahmat Allah meliputi pengampunan dosa-dosa dan kesalahan mereka dan ilmu Tuhan meliputi perbuatan, ucapan-ucapan dan gerak-gerik mereka. Mudah bagi Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan karena rahmat-Nya itu lebih luas dan lebih besar dari dosa-dosa dan kesalahan itu. Tiada suatu perbuatan sekali pun di tempat yang gelap, tiada suatu kata atau ucapan, sekalipun kata hati atau bisikan sukma, tiada suatu tindak tanduk atau gerak gerik kecuali diketahui oleh Allah SWT. Kedua memintakan ampun kepada Allah SWT orang-orang yang bertobat dan menghentikan perbuatan mereka dari dosa-dosa yang dilakukan mereka, serta mengikuti apa yang diperintahkan kepada mereka, mengamalkan yang baik meninggalkan hal-hal yang mungkar. Kecuali itu malaikat pun memohon agar orang-orang mukmin itu dilindungi dari siksaan neraka Jahanam sesuai dengan janji Allah itu tidak menyalahi janji-Nya, sebagaimana firman Allah SWT: 

إن الله لا يخلف الميعاد 
Artinya: 
Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (Q.S. Ali Imran: 9) 
Seorang Qari bernama Khalaf bin Hisyam Al-Bazzaz pernah membacakan ayat ini kepada Salim bin Isa, setelah sampai kepada: "Serta mintakan ampun bagi orang-orang yang beriman". Salim menangis dan berkata wahai Khalaf! Alangkah mulia orang mukmin itu di sisi Allah. Ia tidur di atas tikarnya, sedang malaikat memintakan ampun baginya".

ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,(QS. 40:8)

Surah Al Mu'min 8 
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (8) 
Selanjutnya pada ayat ini, para malaikat memohon agar orang-orang mukmin itu dimasukkan ke dalam surga `Ada yang telah dijanjikan oleh Allah SWT melalui ucapan Rasul-Nya, juga dimasukkan ke dalam surga bersama mereka itu, orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka serta keturunan mereka semua, agar mereka itu merasa senang, karena berkumpul dengan keluarga di tempat kegembiraan dan kesenangan, menimbulkan rasa riang dan suka yang amat berkesan. 
Berkata Said bin Jubair: "Ketika seorang laki-laki masuk surga ia berkata: "Ya Tuhan! Di mana ayahku, nenek dan ibuku? Dan di mana anak dan cucuku? Di mana istri-istriku? Dijawab bahwa mereka itu tidak beramal seperti amalan yang telah engkau lakukan ia berkata lagi: "Ya Tuhan! Saya beramal untuk diriku sendiri dan untuk mereka", masukkan mereka itu ke dalam surga, lalu membaca ayat 6 ini. Sejalan dengan ayat ini firman Allah SWT: 

والذين ءامنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين 
Artinya: 
Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Q.S. At Tur: 21) 
Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah itu Maha Perkasa tiada sesuatu yang dapat menghalangi kehendak-Nya, Maha Bijaksana, tiada sesuatu yang dikerjakan-Nya, kecuali sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya.


dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar `.(QS. 40:9)

Surah Al Mu'min 9 
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9) 
Doa malaikat pada ayat ini, lebih umum dari doa sebelumnya. Doa ini tidak saja memintakan ampun bagi orang-orang mukmin dari dosa-dosa mereka sesudah mereka tobat, tetapi juga dosa-dosa dan balasan amal jahat yang mereka kerjakan, sebelum mereka bertobat supaya dihapuskan dan tidak diazab karenanya, orang-orang yang dimaafkan dan diampuni serta dihapuskan pembalasan amal kejahatan yang telah dikerjakan di dunia ini, berarti mereka itu telah mendapat karunia dari Allah SWT dan dibebaskan dari azab dan siksa-Nya di Hari Kiamat. Yang demikian itu merupakan suatu kemenangan yang amat besar karena dengan amal baiknya yang tidak seberapa itu memperoleh nikmat dan karunia yang berkepanjangan tiada putus-putusnya.


Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat):` Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir `.(QS. 40:10)

Surah Al Mu'min 10 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ (10) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa di akhirat nanti orang-orang kafir yang sedang meringkuk di dalam neraka merasakan azab yang amat pedih, saling benci membenci, laknat melaknati antara satu dengan yang lain, sebagaimana firman Allah: 

الإخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو 
Artinya: 
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain.(Q.S. Az Zuhruf: 67) 
Dan firman-Nya: 

ثم يوم القيامة يكفر بعضكم ببعض ويلعن بعضكم بعضا 
Artinya: 
Kemudian di Hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain). (Q.S. Ankabut: 25) 
Bahkan mereka membenci sekeras-kerasnya diri mereka karena perbuatan yang telah dilakukannya di dunia yang menyebabkan mereka masuk neraka, diseru oleh malaikat dan dikatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya kemurkaan dan kebencian Allah di dunia kepada orang-orang kafir, yang tetap ingkar dan membangkang ketika mereka itu diseru dan diajak untuk beriman kepada Allah SWT jauh lebih besar dan mendalam jika dibandingkan dengan kebencian mereka kepada diri mereka di dalam keadaan seperti tersebut di atas. Berkata Muhammad bin Kaab Al Qurazy: "Penghuni neraka, setelah berputus asa dari harapan-harapan mereka, malaikat Malik penjaga neraka berkata kepada mereka bahwa mereka akan kekal di neraka, berkatalah sebagian mereka kepada sebagian yang lain: "Wahai kalian! Kalian telah ditimpa azab dan bencana sebagaimana kalian saksikan, maka marilah kita semua bersabar, mudah-mudahan kesabaran itu memberi manfaat kepada kita sebagaimana halnya orang-orang yang taat kepada Allah, maka tidak sedikit manfaat diperoleh dari kesabaran itu, akhirnya bersepakatlah untuk bersabar dan tidak ada tanda akan ada perubahan mengenai nasib mereka, mereka mengeluh dan berkata sebagaimana dikisahkan di dalam Alquran: 

سواء علينا أجزعنا أم صبرنا ما لنا من محيص 
Artinya: 
Sama-sama bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Sekali-kali tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri. (Q.S. Ibrahim: 21) 
Pada waktu itulah iblis berkata pada mereka sebagaimana dilukiskan di dalam Alquran: 

إن الله وعدكم وعد الحق ووعدتكم فأخلفتكم وما كان لي عليكم من سلطان إلا أن دعوتكم فاستجبتم لي فلا تلوموني ولوموا أنفسكم 
Artinya: 
Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan akupun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. (Q.S. Ibrahim: 32) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Mu'min 10 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ (10) 
(Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka) oleh para malaikat, sedangkan mereka membenci diri mereka sendiri sewaktu mereka dimasukkan ke dalam neraka ("Sesungguhnya kebencian Allah) kepada kalian (lebih besar daripada kebencian kalian kepada diri kalian sendiri karena kalian diseru) sewaktu di dunia (untuk beriman, lalu kalian kafir.")


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH al-Mu'min>>

COPAS FROM:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar