Sabtu, 15 Februari 2014

Al-Mu'min 21-30


[TAFSIR] : al-Mu'min
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH al-Mu'min>>

Surah Al Mu'min 21 
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sekali-kali mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.(QS. 40:21)

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (21) 
Dalam ayat ini diingatkan kepada kaum kafir yang mengingkari kebenaran risalah Muhammad saw, apakah mereka tidak pernah memperhatikan dan mempelajari serta mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa dahulu kala (yang mendurhakai Allah), atau menyaksikan sendiri bekas-bekas yang tertinggal dari daerah-daerah yang telah dibinasakan Allah penduduknya? Ayat ini menerangkan bahwa mereka adalah manusia yang perkasa, kuat fisiknya (dibandingkan dengan generasi manusia masa kini), seperti bangsa `Ad, Samud dan lain-lainnya. Di samping kekerasan fisik mereka, Allah juga menganugerahkan harta dan keturunan yang banyak, keahlian untuk membangun gedung dan perumahan yang kuat, keterampilan dalam bidang pertanian, dan sehingga mereka hidup makmur dan berbudaya tinggi. Tetapi mungkin karena kemakmuran dan kebahagiaan hidup duniawi yang mereka nikmati itu, para Rasul yang dikirim Allah untuk mengajak ke jalan yang benar, mereka dustai bahkan disiksa atau dibunuh. Karena dosa dan perbuatan sewenang-wenang yang melampaui batas itu Allah menjatuhkan hukum-Nya. Bangunan-bangunan megah yang mereka dirikan, sawah ladang dan hewan ternak serta harta benda mereka dihancurkan Allah menjadi puing-puing tidak berarti. Mereka menemui kiamatnya dengan segala kesengsaraan dan penderitaan yang tiada taranya. Dalam keadaan demikian tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan diri, sebab keperkasaan dan kekuatan fisik yang mereka miliki tiada artinya di hadapan Allah bila Dia menurunkan azab-Nya. Demikian pula halnya yang akan berlaku di masa kini, tiada yang akan menolong menyelamatkan manusia dari siksaan-Nya kecuali iman, amal saleh serta sikap kesediaan untuk membela iman dan kebenaran. Sebaliknya sikap mendustai dan mengingkari risalah (ajaran) Rasul yang dapat diuji kebenarannya dengan ratio yang sehat itu, pada akhirnya justru akan membawa kepada kehancuran dan kebinasaan.


Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya.(QS. 40:22)

Al Mu'min 22 
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ (22) 
Sebab utama dari turunnya siksaan itu ialah seperti yang diterangkan di atas, yakni sikap mereka yang tidak mau membenarkan risalah Rasul, padahal apa yang mereka sampaikan adalah ajaran yang mengandung kebenaran dengan keterangan-keterangan yang jelas. Itulah resiko yang harus dialami oleh seseorang yang tidak man percaya dengan kebenaran agama. Akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa dan sangat keras siksa-Nya. Oleh karena itu Alquran menyeru kepada kaumnya yang mempersekutukan Tuhan dan juga kepada manusia-manusia fasik, supaya mereka memperingatkan diri mereka sendiri akan besarnya bahaya yang pasti akan datang dari Allah bila mereka tidak mau berhenti dari kemusyrikan dan kefasikan. Ambillah pelajaran dari peristiwa sejarah yang menimpa umat dahulu, dan peristiwa itu pasti akan berulang kembali, dan tidak ada perubahan dalam ketetapan Sunatullah itu.

Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(QS. 40:23)

Al Mu'min 23
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (23)
Dalam ayat ini Allah menceritakan kisah Nabi Musa as ketika menghadapi Firaun, sebagai hiburan bagi Nabi Muhammad saw untuk memantapkan hatinya dalam berdakwah, dan agar beliau tidak putus asa dan bersedih hati, karena sikap membatu dan keras kepala yang diperlihatkan oleh orang Quraisy. Allah menjanjikan kemenangan bagi perjuangan Nabi Muhammad saw yakni kemenangan dunia akhirat, sebaliknya siksa dan azab pasti akan menimpa orang musyrik yang tidak juga beriman. Untuk meyakinkan Nabi Muhammad saw Allah menyebutkan kisah Musa menghadapi Firaun.

kepada Firaun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata:` (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta `.(QS. 40:24)

Al Mu'min 24 
إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (24) 
Ayat ini menegaskan bahwa kedatangan Musa sebagai utusan (Rasul Allah) dengan membawa ayat-ayat yang menerangkan keesaan Allah SWT. Beliau bertugas untuk menyeru Firaun supaya beriman bersama Haman dan Karun (salah seorang saudagar dan hartawan terkaya waktu itu). Tetapi Firaun, Haman dan Karun tidak mau beriman, malah mendustakannya, dan menuduh Musa sebagai tukang sihir yang sudah gila. Tuduhan Firaun itu disebabkan ahli-ahli sihirnya tidak mampu mengalahkan mukjizat yang diperlihatkan oleh Nabi Musa. Kandungan ayat ini dikuatkan oleh keterangan ayat lain: 

فتولى بركنه وقال ساحرا ومجنون 
Artinya: 
Maka dia (Firaun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata. "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila". (Q.S. Az Zariyat: 39) 
Kenapa Firaun, Haman dan Karun disebutkan Allah secara khusus dalam ayat ini? Oleh karena ketiga orang itulah yang merupakan tokoh berpengaruh yang tidak hanya mendustakan Musa secara pribadi saja, tetapi juga menyerukan kepada pengikut-pengikutnya untuk menerima jalan pikirannya. Ketika terjadi dialog sekitar masalah Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana Firaun bersama pengikutnya tidak mempercayai sama sekali atas keterangan-keterangan yang cukup meyakinkan. Akan tetapi Firaun tidak mau tunduk begitu saja, kini ia menggunakan kekerasan dan kekuasaan tangan besinya untuk mengintimidasi dan memaksa orang mendustakan Musa, seperti disebutkan dalam ayat berikut ini.

Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata:` Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka `. Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka).(QS. 40:25)

Surah Al Mu'min 25 
فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (25) 
Setelah Musa menyampaikan keterangan-keterangan terperinci tentang ke Maha Esaan Allah SWT, dan kewajiban manusia untuk beramal dan menaati perintah-Nya, mereka marah sekali karena tidak sanggup melanjutkan tukar pikiran dengan Musa. Karena itu mereka berseru: "Bunuh anak-anak kaum Bani Israel yang beriman kepada Musa, tetapi hidupkan dan peliharalah anak wanita mereka untuk melayani kita". Pembunuhan yang diperintahkan oleh Firaun yang berlaku terhadap setiap anak laki-laki Bani Israel ini adalah instruksi yang kedua kalinya. 
Sejak Firaun memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki atas nasihat ahli-ahli ramal guna mencegah lahirnya seorang anak dan keluarga Bani Israel yang akan menggulingkan kerajaannya, maka setelah Musa lahir Firaun menghentikan perintah pembunuhan bayi laki-laki itu. Kata Ibnu Kasir: "Maksud (rahasia) dari perintah pembunuhan bayi besesar-besam itu adalah untuk memusnahkan atau melemahkan potensi Bani Israel yang hidup di bumi Mesir. Setelah Musa diutus sebagai Nabi dan Rasul-Nya kembalilah Bani Israel mengalami tekanan-tekanan dan siksaan-siksaan dari rezim Firaun terutama bagi mereka yang beriman kepada Nabi Musa as. Tekanan tersebut mencapai puncaknya, ketika Firaun memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki tetapi memelihara bayi perempuan seperti perintah menjelang munculnya kerasulan Musa. Kali ini instruksi tersebut dimaksudkan untuk mencegah dan menakut-nakuti orang agar jangan percaya kepada Musa, atau mencegah bertambah besarnya jemaah orang-orang yang beriman dan terutama dari bayi laki-laki yang mungkin kelak mereka akan membela bangsanya dari tindasan Firaun. Tetapi rencana jahat mereka itu tidak jadi terlaksana dengan baik, sebab Allah segera menurunkan berbagai rupa azab-Nya, seperti munculnya ribuan binatang; katak, belalang, dan darah (yang keluar dari hidung), topan sampai kepada hijrahnya Bani Israel bersama Musa meninggalkan bumi Mesir. Menurut komentar Ibnu Kasir tujuan utama dari penyiksaan Firaun tersebut (antara lain dengan membunuh bayi laki-laki) adalah untuk menanamkan rasa kecewa dan tidak puas kepada Musa di kalangan pengikut-pengikutnya, sehingga mereka menjadi lemah imannya; sebagaimana disebutkan dalam ayat lain: 

قالوا أوذينا من قبل أن تأتينا ومن بعد ما جئتنا قال عسى ربكم أن يهلك عدوكم ويستخلفكم في الأرض فينظر كيف تعملون 
Artinya: 
Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu". (Q.S. al a'raf: 129) 
Program Firaun untuk membinasakan Bani Israel dan untuk mematikan gerakan dakwah Musa mengalami kegagalan. Ujung ayat 25 surah ini menegaskan bahwa rencana jahat mereka dan usahanya untuk mengurangi jumlah rakyat Bani Israel supaya Firaun itu dapat mengalahkan mereka, sia-sia saja dan terpaksa harus dibatalkan. Sebab orang-orang yang hendak beriman kepada Musa tidak terhalang, walaupun ada rencana yang begitu kejamnya, ketentuan yang telah ditetapkan Allah yakni kemenangan akhir berada di tangan Nabi Musa, mau tidak mau harus berlaku, kemenangan harus berada di tangan orang mukmin, sebagaimana dijanjikan Allah dalam ayat: 

كتب الله لأغلبن أنا ورسلي إن الله قوي عزيز 
Artinya: 
Allah telah menetapkan: "Aku dan Rasul-rasul Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa". (Q.S. Al Mujadilah: 21) 
Ringkasnya segala bentuk rencana jahat yang bermaksud hendak melenyapkan agama Allah pasti akan gagal bila berhadapan dengan kekuatan Yang Maha Perkasa yang berasal dari Allah SWT, dan kemenangan pasti akan diraih oleh golongan muttaqin. Pengikut Musa diselamatkan Allah dari segala bala, sedang Firaun bersama kaumnya tenggelam di laut Merah.

Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya):` Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi `.(QS. 40:26)
Dan Musa berkata:` Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab `.(QS. 40:27)

Surah Al Mu'min 26 - 27 
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ (26) وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ (27) 
Keinginan rezim Firaun itu tidak hanya terbatas untuk hanya membunuh anak laki-laki Bani Israel dan menghidupkan anak-anak perempuan, tetapi mereka juga hendak menumbangkan pokok pangkal agama tauhid yaitu langsung hendak membunuh Musa dan menantang Musa minta bantuan Tuhan yang mengutusnya untuk mencegah pembunuhan itu, akan tetapi setiap rencana demikian hendak dilaksanakan mereka batal begitu saja. Boleh jadi mereka tidak sanggup melaksanakannya, atau mungkin yang mereka takuti bahaya dari pengaruh Musa yang mereka anggap sebagai tukang sihir yang tiada bandingannya. Menurut mereka bila Musa terbunuh, tentulah timbul dugaan di kalangan pengikutnya bahwa Firaun takut berhadapan dengan hujah dan keterangan yang disampaikan Musa. Demikianlah rencana jahat itu sebagai dijanjikan Allah tidak akan pernah berhasil. Boleh juga jadi ucapan hendak membunuh Musa itu hanya semacam gertak sambal saja. Sebab mereka ingin menentang Tuhan apakah Dia betul-betul membela Musa atau sekadar hendak menunjukkan sikap sombong dan kecongkakan belaka. Latar belakang rencana jahat terhadap Musa itu seperti disebutkan oleh lanjutan ayat ini ialah rasa kekhawatiran Firaun bahwa Musa akan menukar agama rakyatnya yang menyembah selain Allah kepada agama yang mentauhidkan Allah atau dikhawatirkan Musa akan menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan rakyatnya. Padahal sesungguhnya tidaklah benar petunjuk yang dibawa Musa kepada kaumnya dengan berkembangnya ajaran Musa kepada kaumnya, membawa kebinasaan dan kerusakan seperti yang dituduhkan Firaun kepadanya. Ketika rencana pembunuhan itu didengar oleh Musa, beliau mengumandangkan kepada orang-orang yang merencanakan itu bahwa ia akan berlindung diri kepada Tuhan-Nya dan Tuhan mereka juga dari segala kejahatan orang yang takabur (sombong) yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau beriman dengan hari di mana Allah membalas segala amalan, yang baik dibalas dengan kebaikan, sedang yang berbuat jahat diganjari dengan siksa. Dalam ayat ini dikhususkan perlindungan itu dari segala bentuk kesombongan dan pendustaan terhadap adanya pembalasan (hari akhirat).

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata:` Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: `Tuhanku ialah Allah` padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu `. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.(QS. 40:28)

Surah Al Mu'min 28 
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ (28) 
Para ulama tafsir meriwayatkan bahwa laki-laki beriman yang disebutkan dalam ayat ini adalah seorang bangsa Qibty, dari keluarga Firaun. Tentang namanya Ibnu Kasir meriwayatkan kisah ini dari Ibnu Hatim tidak menyebutkannya dengan jelas, cuma hanya mengatakan bahwa ia adalah seorang anak dari paman Firaun yang beriman secara sembunyi-sembunyi kepada Musa. Tidak ada dari keluarga Firaun yang beriman melainkan laki-laki yang disebutkan dalam ayat ini ditambah dengan istri Firaun sendiri. Laki-laki itu pula yang mengingatkan kepada Musa tentang adanya rencana jahat hendak membunuhnya, demikian kata Ibnu Abbas Al Khazin, demikian pula An Nasafy dalam kitab tafsirnya meriwayatkan pula dari Ibnu `Abbas, bahwa laki-laki itu bernama Sam'an atau Habib. Sebagian menyebutkan Kharbil atau Hazbil. Yang disepakati oleh Jumhur ulama tafsir ialah bahwa laki-laki yang beriman dalam ayat ini adalah anak paman Firaun. Demikian laki-laki yang beriman itu dengan penuh kebijaksanaan menasihati Firaun: "Apakah patut engkau membunuh seseorang (Musa) oleh karena ia mengatakan Tuhanku Allah, sedang ia telah membuktikan kebenaran pendiriannya Menurut hematku tidaklah wajar kalau cuma itu kesalahannya ia harus disiksa atau dijatuhi hukuman". Nasihat itu diterima oleh Firaun, dan rencana itu dibatalkan. Ringkasnya ia memperingatkan kepada Firaun dan pembantu-pembantunya bahwa pembunuhan terhadap diri Musa tiada beralasan sama sekali, hanya oleh karena ia menyampaikan keyakinannya yaitu "Tiada Tuhan melainkan Allah". 
Imam Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, di mana orang bertanya kepada Amru bin As tentang penyiksaan yang paling dahsyat yang dilakukan orang-orang musyrik kepada diri Rasulullah. Amru menceritakan: "Suatu saat Rasulullah saw salat di halaman Kakbah. Tiba-tiba muncul seorang tokoh Quraisy bernama `Uqbah lbnu Abu Mu'it. Rasulullah dipegangnya kuat-kuat, seraya melilitkan selembar kain kuat-kuat di leher beliau sampai kencang sekali, sehingga beliau hampir tercekik. Untunglah Abu Bakar segera datang, cepat-cepat ia lepaskan lilitan kain itu. Sambil membela Rasulullah, Aba Bakar menghardik Uqbah: "Apakah engkau membunuh seseorang yang mengatakan Tuhanku Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu? 
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Ah bin Abu Talib terlibat dalam percakapan dengan para sahabat. Beliau bertanya: "Tahukah Anda siapa di antara kita yang paling berani?". Mereka menjawab: "Engkau hai Ali. Tidak aku sekadar mengambil hakku dari orang yang aku tandingi, jawab Ali. "Siapa orang yang paling berani? tanya Ali lagi. Kami tidak tahu jawab para sahabat. Kemudian Ali menceritakan bahwa orang yang paling berani itu ialah Aba Bakar. Aku lihat, Rasulullah tengah dikeroyok oleh segerombolan orang Quraisy. "Apakah engkau yang menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan Yang Maha Esa?" bentak mereka. Maka beliau melanjutkan, demi Allah tiada seorang pun di antara kami yang berani menolong Rasul, kecuali Aba Bakar. Dia segera memisahkan orang banyak itu dari Rasul. Ada yang ditabrak, dan ada yang didorong oleh Abu Bakar sampai Rasul bebas sama sekali. Celaka kalian semua, apakah kalian hendak membunuh seorang yang mengatakan "Tuhanku Allah?", hardik Aba Bakar kepada gerombolan itu. Kemudian Ali membuka shal yang dipakainya seraya menangis sampai basah jenggotnya. Lalu Ali bertanya kepada para sahabat tersebut: "Manakah yang lebih baik imannya laki-laki mukmin dari keluarga Firaun atau Abu Bakar?". Para sahabat itu diam tak menjawab. Kenapa kamu tidak menjawab tanya Ali lagi. Demi Allah, sesaat saja dari kehidupan Abu Bakar lebih berharga dari laki-laki mukmin dari keluarga Firaun itu. Laki-laki mukmin itu menyembunyikan keimanannya (kepada Nabi Musa), sehingga Allah memujinya dalam Alquran, sedang laki-laki ini (sambil menunjuk Abu Bakar) memproklamirkan imannya dan berjuang dengan harta dan darahnya". 
Ayat ini melanjutkan alasan-alasan supaya Musa jangan di bunuh: "Seandainya Musa itu berdusta dalam pembicaraannya yang mendakwakan ia adalah utusan Allah kepadamu yang menyuruhmu agar beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan agama nenek moyangmu, maka dosa kedustaannya itu ditanggung oleh dirinya sendiri, bukan kamu yang memikulnya. Tetapi bilamana ia benar dalam ucapannya, pastilah azab akan menimpamu seperti apa yang diancamkannya, karena kamu masih tetap dalam kepercayaanmu. Karena itu tidak ada alasan untuk membunuhnya. Bila rencana itu kamu jalankan juga, pasti Tuhan akan marah dua kali lipat kepadamu. Karena kekafiranmu dan karena membunuh Rasul-Nya". 
Demikian pandangan laki-laki mukmin dari keluarga Firaun itu. Firman Allah "sebagian ancaman yang akan menimpa kamu", mengandung suatu ancaman (peringatan) yang amat keras. Sebab makna yang sebenarnya ialah bila Tuhan memperingatkan dengan turunnya sebagian dari siksa-Nya, berarti Dia akan menghancurkan Seluruhnya. 
Jelaslah pengertian "sebagai ancaman" dalam ayat ini tidak menghilangkan arti azab secara keseluruhannya. Boleh jadi sebagian azab yang diancamkan itu adalah azab yang segera datang yang sifatnya membinasakan dan menakutkan, sedang yang dimaksud dalam ancaman itu adalah azab akhirat. Andai kata Musa itu seorang yang berlebih-lebihan dalam ucapannya atau berdusta kepada kaumnya, tentulah Allah tidak akan memberinya hidayah (taufik). Ia berhasil memperlihatkan mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepadanya, di mana tiada seorang pun yang sanggup menandinginya, kalau bukan mukjizat itu berasal dari pemberian Allah, tentulah ia akan binasa dan merasa terhina. Dari itu kata orang mukmin itu selanjutnya, tiada alasan bagi Firaun dan para pembesarnya untuk membunuh Nabi Musa as. Lafal "sesungguhnya Allah tidak menunjuki siapa yang melampaui batas lagi pendusta", merupakan sindiran pedas kepada Firaun sendiri. Sebab dialah yang membunuh dan membuat kerusakan, pendusta dengan. mendakwakan dirinya sebagai Tuhan. Allah tidak akan menunjukinya kepada jalan yang benar, dan tidak akan mengilhamkan kepadanya perbuatan baik yang membawa kemenangan.

(Musa berkata):` Hai kaumku untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita! `Firaun berkata:` Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar `.(QS. 40:29)

Surah Al Mu'min 29 
يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ يَنْصُرُنَا مِنْ بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءَنَا قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ (29) 
Kembali laki-laki beriman itu mengatakan kepada Firaun dan kaumnya bahwa hari ini memang bumi Mesir dan kerajaannya mereka kuasai, di mana dengan kekuasaan itu mereka melakukan apa saja yang dikehendakinya dengan penuh kesombongan. Laki-laki beriman itu mengingatkan lagi, kalau azab Tuhan telah diturunkan-Nya tiada seorangpun yang sanggup menolaknya. Memang benar engkau wahai Firaun penguasa tertinggi di Mesir dan engkau dapat berbuat sesuka hatimu, tetapi janganlah kamu sampai merusak kekuasaanmu sendiri dan jangan kamu pandang enteng azab Allah itu. Sebab pasukan tentara yang kamu banggakan ini tidak akan mungkin menyelamatkan kita bila Allah telah mendatangkan azab-Nya. Sengaja laki-laki itu mengatakan "Maka siapakah yang akan menolong kita jika azab itu menimpa kita", karena ia juga berada di negeri itu, di mana kalau azab itu turun pasti mengenai seluruh penduduk negerinya. Kalimat ini juga mengandung pelajaran, sehingga berkesan di hati Firaun dan pengikut-pengikutnya. 
Jawab Firaun atas nasihat laki-laki itu, aku tidak mengatakan kepadamu melainkan apa yang telah kupandang baik, yakni Musa harus dibunuh karena mengajarkan pengajaran yang merusak kepercayaan bangsa Mesir. Sebenarnya Firaun telah berdusta kepada laki-laki itu, sebab hati kecilnya sudah membenarkan apa-apa yang disampaikan Musa, hanya karena faktor prestise dan kekhawatiran akan kekuasaannya tumbang, menyebabkan ia berlagak memusuhi Musa di hadapan rakyatnya. ini ditegaskan Allah dalam ayat: 

ولقد آتينا موسى تسع آيات بينات فسئل بني إسرائيل إذ جاءهم فقال له فرعون إني لأظنك يا موسى مسحورا 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Firaun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu hai Musa seorang yang kena sihir". (Q.S. Al Isra': 101) 
Dan ayat: 

وجحدوا بها واستيقنتها أنفسهم ظلما وعلوا فانظر كيف كان عاقبة المفسدين 
Artinya: 
Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenarannya). Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (Q.S. An Naml : 14) 
Sesungguhnya pendapat Firaun bahwa apa yang dipikirkannya (yaitu membunuh Nabi Musa) adalah satu pikiran yang baik, merupakan kedustaan dan pengkhianatan terhadap Allah SWT dan terhadap rakyatnya. Tidaklah benar dengan jalan membunuh seorang pesuruh Allah, rakyat Mesir akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus Seperti argumentasi yang dikemukakan oleh Firaun kepada laki-laki yang memberi nasihat itu. Dan ucapan Firaun "dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar", juga merupakan suatu kebohongan, sekalipun kenyataannya menunjukkan bahwa apa yang disampaikan Firaun (yakni ajaran Musa adalah sesat), diikuti dan ditaati oleh kaumnya. Yang jelas propaganda Firaun adalah sesat dan tidak benar sama sekali, seperti dijelaskan dalam ayat lain: 

إلى فرعون وملئه فاتبعوا أمر فرعون وما أمر فرعون برشيد 
Artinya: 
Kepada Firaun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perintah Firaun, pada hal sekali-kali perintah Firaun sama sekali bukanlah (perintah) yang benar. (Q.S. Hud: 97) 
Dan dijelaskan lagi di dalam ayat: 

وأضل فرعون قومه وما هدى 
Artinya: 
Dan Firaun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk". (Q.S. Taha: 79) 
Sesungguhnya cara Firaun membohongi rakyatnya dengan menghasut mereka untuk mendustai seorang Rasul, hendaknya menjadi pelajaran bagi para pemimpin. Pemimpin seperti ini selalu berusaha menjauhkan masyarakat dari ajaran agama. Dengan kata lain ingin menciptakan sesuatu masyarakat yang mengenyampingkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan duniawi. Dia pasti akan mengalami nasib seperti yang telah dialami Firaun sebagai pemimpin besar di zaman yang silam. Rasulullah saw memperingatkan setiap pemimpin dengan sabda beliau: 

ما من إمام يموت وهو غاش لرعيته إلا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها ليوجد من مسيرة خمسمائة عام. 
Artinya: 
Tiadalah mati imam (seorang pemimpin), di mana pada hari kematiannya itu ia telah menipu rakyatnya, melainkan ia tidak akan mencium bau surga. Sebab keharuman surga itu amat jauh dari dia (sejauh) limo ratus tahun perjalanan dari padanya).

Dan orang yang beriman itu berkata:` Hai kaumku sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu,(QS. 40:30)
(Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.(QS. 40:31)

Surah Al Mu'min 30 - 31 
وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِثْلَ يَوْمِ الْأَحْزَابِ (30) مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ (31) 
Sam'an memperingati azab Allah yang pasti di turunkan-Nya baik azab dunia maupun azab akhirat. "Wahai kaumku, andai kata Anda sekalian masih juga mendustakan Musa malah kamu menganiaya dia dan pengikutnya dengan siksaan berat, maka aku khawatir bahwa kamu akan mengalami nasib malang seperti apa yang telah menimpa bangsa-bangsa dahulu di mana mereka bersekutu menentang dan mendustakan para Rasul yang diutus Allah. Ingatlah apa yang telah dialami oleh umat Nabi Nuh, kaum Ad, Samud dan kaum-kaum sesudahnya. Mereka semua telah dibinasakan Allah dengan berbagai rupa azab, dan tiada seorang pun yang sanggup menolaknya dan menyelamatkan diri. Itulah balasan (siksaan) Allah yang ditetapkannya kepada umat yang mendustakan Rasul-Nya. Aku sampaikan peringatan keras kepada Anda semua dan aku ini penasihat yang jujur, bahwa mereka yang telah dibinasakan itu disebabkan jahatnya tingkah laku mereka, dan besarnya dosa kedurhakaan serta kelaliman mereka terhadap Allah. Allah tidak menganiaya mereka tetapi mereka sendirilah yang menganiaya dirinya sendiri. 
Pengertian "Yaumul Ahzab" seperti yang dikisahkan oleh Alquran surah Al-ahzab ayat 9-27. Yaitu golongan yang dihancurkan Allah pada hari peperangan Khandak karena menentang Allah dan Rasul-Nya, terjadi pada masa Nabi Muhammad, di mana berkat teknik perang parit seperti yang diusulkan Salman Al-Farisi, kaum (musyrikin Quraisy) dapat dikalahkan. Sedang `Yaumul Ahzab, pada ayat ini terjadi pada masa-masa di mana Allah menurunkan siksa-Nya pada umat yang menentang dan mendustai Rasul. Sudah barang tentu yaumul ahzab terjadi berulang kali, yakni pada masing-masing periode kenabian di mana Allah menurunkan azab akibat mereka mendustai Rasul-Nya. Yang disebutkan di antara kaum-kaum yang terkena siksaan itu adalah umat Nabi Nuh, bangsa Ad (umat Nabi Hud), bangsa Samud (umat Nabi Saleh), dan kaum-kaum sesudahnya sehingga mencakup umat yang sudah menerima siksaan karena menentang Rasul-rasul Allah. Lafal "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya" melambangkan keadilan Tuhan, karena di situ terkandung suatu pengertian, bahwa kaum-kaum yang terkena siksaan seperti disebutkan di atas bukanlah karena kelaliman Allah, tetapi semata-mata karena kejahatan, keingkaran dan kedustaan terhadap para Rasul. Siksaan itu belumlah akan didatangkan, kecuali setelah para Rasul selesai menjalankan missinya secara sempurna dengan menyampaikan keterangan-keterangan yang jelas dan benar oleh karena itu wajarlah bila azab yang diancamkan itu selalu berlaku sepenuhnya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH al-Mu'min>>

COPAS FROM:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar