Rabu, 25 Juni 2014

Fushishilat 11 - 20


[TAFSIR-QS:41] : FUSHSHILAT
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH FUSHSHILAT>>

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: `Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa`. Keduanya menjawab: `Kami datang dengan suka hati`(QS. 41:11)

Surah Fush shilat 11 
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (11) 
Setelah penciptaan bumi pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah SWT menerangkan keadaan langit. Setelah Allah menciptakan bumi Dia menuju ke langit, waktu itu langit berupa asap. 
Bagaimana keadaan asap itu dan bagaimana hakikatnya, hanya Allah sajalah yang mengetahui Nya, sekalipun ada yang mencoba menerangkan keadaan asap yang dimaksud, baik yang dikemukakan oleh pendeta-pendeta Yahudi, maupun oleh para ahli yang telah mencoba menyelidikinya, namun belum ada keterangan yang pasti yang menerangkan keadaan dan hakikat asap itu. 
Dalam ayat ini, seolah-olah Allah menerangkan bahwa bumi lebih dahulu diciptakan Nya dari langit, barulah Dia menciptakan langit dengan segala isinya, termasuk di dalamnya matahari, bulan dan bintang-bintang yang lain. Tentang pada ayat yang lain diterangkan bahwa Allah menciptakan langit lebih dahulu dari menciptakan bumi. Karena itu ada sebagian mufassir yang mencoba mengkompromikan kedua ayat ini. Menurut mereka bahwa dalam merencanakan, maka Allah SWT lebih dahulu merencanakan bumi dengan segala isinya. Tetapi dalam pelaksanaanya, maka Allah SWT menciptakan langit dengan segala isinya lebih dahulu, kemudian sesudah itu baru menciptakan bumi dengan segala isinya. 
Setelah Allah selesai menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, maka Dia memerintahkan kepada keduanya, "Datanglah kamu berdua kepada Ku, baik dalam keadaan senang hati maupun terpaksa" Maka langit dan bumi itu menjawab: "Kami akan datang dengan tunduk dan patuh". Kemudian Allah bertitah kepada alam langit: "Perhatikanlah sinar mataharimu, cahaya bulanmu, cahaya gemerlapan dari bintang-bintang, hembuskanlah anginmu, edarkanlah awanmu, sehingga dapat menurunkan hujan". Dan Dia berkata pula kepada bumi: "Alirkanlah sungai-sungaimu, tumbuhkanlah tanaman-tanaman dan pohon-pohonanmu". Maka keduanya menjawab: "Kami penuhi segala perintah Mu dengan patuh dan taat". 
Sebagian ahli tafsir menafsirkan "Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa" dengan "Jadilah kamu keduanya menurut Sunah Ku yang telah Aku tetapkan, jangan menyimpang sedikitpun dari ketentuan-Ku itu, ikutilah proses-proses kejadianmu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan". Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan kepada langit dan bumi untuk meyempurnakan kejadiannya sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan, seperti bumi akan tercipta pada saatnya, demikian pula gunung-gunung, air, udara, binatang-binatang, manusia, tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman. Semuanya akan terjadi pada waktu yang ditentukan Nya, tidak ada sesuatu pun yang menyimpang dari ketentuan Nya itu. 
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kejadian langit dan bumi itu, mulai dari terjadinya sampai kepada bentuk yang ada sekarang melalui proses-proses tertentu, sesuai dengan Sunah Allah. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit akan ada pada waktunya, dan akan hilang atau musnah pada waktunya pula, sesuai dengan keadaan langit dan bumi pada waktu itu. Seperti kehidupan akan ada di bumi setelah ada air dan sebagainya.

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(QS. 41:12)

Surah Fush shilat 12 
فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (12) 
Setelah Allah SWT menciptakan langit dan bumi, seperti yang diterangkan pada ayat yang lain, maka pada ayat ini diterangkan keadaan keduanya setelah penciptaan itu. 
Diterangkan bahwa Allah menyempurnakan kejadian langit itu dengan menjadikan tujuh langit dalam dua masa: dengan demikian, lamanya Allah SWT merencanakan penciptaan langit dan bumi ialah selama enam masa. 
Diterangkan bahwa menghiasi langit dengan bintang-bintang yang gemerlapan, ada bintang yang bercahaya sendiri dan ada pula yang menerima pantulan cahaya dari planet yang lain. Karena itu terlihat cahaya bintang-bintang itu tidak sama, ketidaksamaan cahaya bintang-bintang itu menimbulkan keindahan yang tiada taranya. 
Dan Allah menjadikan pada tiap-tiap langit sesuatu yang diperlukan oleh tiap-tiap langit itu, sesuai dengan hikmah dan Sunatullah. Seperti mengadakan daya tarik pada tiap-tiap planet dan menjadikannya berjalan pada garis edarnya, sehingga dengan demikian planet-planet itu tidak akan jatuh dan berbenturan antara yang satu dengan yang lain. Untuk masing-masing planet itu ditetapkan tugas-tugas tertentu, sesuai dengan keadaan dan terjadinya, seperti tugas bulan tidak sama dengan tugas matahari, karena kejadian keduanya berlainan pula. 
Semua yang diterangkan itu merupakan ciptaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang harus tunduk kepada ketetapan Nya. Tidak ada satupun dari yang diciptakan Nya yang menyimpang dari ketetapan Nya itu. Dia mengetahui keadaan makhluk yang diciptakan Nya itu, baik yang halus maupun yang kasar, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Fush shilat 12 
فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (12) 
(Maka Dia menjadikannya) dhamir yang ada pada lafal ayat ini kembali kepada lafal As-Samaa atau langit, karena memandang dari segi maknanya (tujuh langit dalam dua hari) yakni hari Kamis dan hari Jumat, Dia telah selesai dari menciptakan langit pada saat-saat terakhir dari hari tersebut. Dan pada hari itu juga diciptakan Nabi Adam, oleh karena itu maka di sini tidak dikatakan Fasawwaahunna tetapi Faqadhaahunna. Dan sesuai dengan makna ayat ini yaitu ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari (dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya) yang telah Dia perintahkan kepada penduduk yang ada di dalamnya, yaitu taat dan beribadah kepada-Nya. (Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita) yakni bintang-bintang yang cemerlang (dan Kami memeliharanya) dinashabkan oleh Fi'ilnya yang keberadaannya diperkirakan, Kami menjaganya dengan meteor-meteor dari setan yang mau mencuri-curi pembicaraan para malaikat. (Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) makhluk-Nya.

Jika mereka berpaling maka katakanlah: `Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Aad dan kaum Tsamud`.(QS. 41:13)
Surah Fush shilat 13 - 14 
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ (13) إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (14) 
Ayat ini menerangkan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, agar menyeru kepada orang-orang kafir agar beriman kepada Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya Jika mereka tidak menerima ajakan itu dan berpaling, katakanlah kepada mereka: "Aku peringatkan kepada kamu sekalian akan azab yang akan ditimpakan Allah SWT kepada setiap orang yang ingkar kepada-Nya. Di antara azab yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar ialah suara keras yang mengguntur dari langit yang memusnahkan semua yang dikenalnya, seperti yang pernah ditimpakan kepada kaum Ad, kaum Samud, penduduk Aikah dan sebagainya. Malapetaka itu menimpa mereka karena mereka mengingkari seruan Rasul yang diutus kepada mereka dan mengabaikan peringatan para Rasul itu. Jika kamu sekalian hai orang-orang musyrik ingin tidak ditimpa malapetaka seperti yang demikian itu, ikutilah seruanku, sembahlah Allah SWT saja Tuhan Yang Maha Esa, jangan sekali-kali kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun". 
Seruan Rasulullah saw itu ditanggapi orang-orang musyrik dengan sikap angkuh dan sombong. Mereka mengingkarinya dengan mengatakan: "Sekiranya Allah SWT hendak mengutus para Rasul kepada manusia, tentulah Dia tidak akan mengutus manusia seperti kamu hai Muhammad, tetapi Dia akan mengutus orang-orang yang mempunyai kelebihan dari manusia biasa, mempunyai kekuatan gaib, sanggup mengabulkan dengan langsung segala yang diminta orang-orang yang diserunya, seperti malaikat, jin dan sebagainya. Rasul yang diangkat dari manusia biasa tidak akan memperkenankan permintaan orang-orang yang diserunya. Karena Rasul itu tidak mempunyai kelebihan sesuatupun dari mereka. Dalam pada itu Allah SWT belum berkehendak mengutus Rasul itu. Itulah sebabnya kami mengingkari kerasulanmu hai Muhammad". Mustahil Allah SWT mengangkat Rasul, jika Dia sendiri belum berkehendak untuk mengangkatnya. 
Diriwayatkan oleh Baihaqy dalam kitab "Ad Dalail" dan Ibnu Asakir dari Jabir bin Abdillah ia berkata: "Berkata Abu Jahal dan para pemimpin kaum Quraisy: "Sesungguhnya kurang jelas bagi kita apa yang disampaikan oleh Muhammad itu, jika kamu menemukan seseorang ahli sihir, tenung dan syair, maka hendaklah ia berbicara dengannya, kemudian datang kepada kita untuk menerangkan maksud yang disampaikan Muhammad itu. Maka berkata Utbah bin Rabi'ah: "Demi Allah, aku benar-benar telah mendengar sihir, tenung dan syair, dan aku benar-benar memahami rumpun engkau hai Muhammad adalah orang yang paling baik dalam rumpun keluarga Abdul Mutalib?". Muhammad tidak menjawabnya. Utbah berkata: "Kenapa engkau mencela tuhan-tuhan kami dan menganggap kami sesat ? Jika engkau menghendaki wanita, pilihlah olehmu sepuluh wanita yang paling cantik yang kamu kehendaki dalam suku Quraisy ini, jika engkau menghendaki harta kami kumpulkan harta itu menurut yang kamu perlukan". Setelah Rasulullah mendengar ucapan Utbah itu, beliau membaca surat Fussilat ini sejak permulaan ayat sampai kepada ayat ini, yang menerangkan malapetaka yang pemah ditimpakan kepada kaum Ad dan Samud. Mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah saw itu, Utbah bungkem dalam seribu bahasa, lalu kembali pulang ke rumahnya, tidak langsung kepada kaumnya. Tatkala kaumnya melihat Utbab demikian, kaumnya mengatakan bahwa Utbah telah kena sihir Muhammad pula. Lalu mereka mencari Utbah dan berkata kepadanya: "Ya Utbah, engkau tidak datang kepada kami itu adalah karena engkau telah kena sihir pula". Maka Utbah marah dan bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Muhammad, kemudian ia berkata: "Demi Allah, aku benar-benar telah berbicara dengannya, lalu ia menjawab dengan satu jawaban yang menurut pendapatku jawaban itu bukan syair, bukan sihir dan bukan pula tenung, dan tatkala ia sampai kepada ucapan: Petir yang seperti menimpa kaum Ad dan Samud, aku pun bungkem dalam seribu bahasa. Aku benar-benar mengetahui bahwa Muhammad itu, apabila ia mengatakan sesuatu, ia tidak berdusta, dan takutlah kepada azab yang akan menimpa itu". 
Sebagaimana diketahui bahwa Utbah termasuk pemuka Quraisy dan termasuk orang yang berpengetahuan luas di antara mereka, di samping seorang sastrawan ia juga mengetahui seluk-beluk sihir dan tenung yang dipercayai orang pada waktu itu. Kebungkeman Utbah itu menunjukkan bahwa hatinya telah beriman kepada Rasulullah, tetapi karena pengaruh nafsu dan kedudukan, maka ia mengingkari suara hatinya. Demikian pula halnya dengan kebanyakan orang-orang musyrik. Hatinya telah beriman dan ia telah takut kepada azab yang akan ditimpakan kepadanya seandainya ia tidak beriman, ia tetap tidak beriman. karena khawatir akan dipencilkan oleh kaumnya. Karena itu mereka mencari-cari alasan untuk menutupi hati mereka itu, dengan mengatakan bahwa mustahil Allah SWT mengangkat seorang Rasul itu dari manusia biasa, jika Dia mengangkat Rasul tentulah Rasul itu seorang malaikat.

Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan): `Janganlah kamu menyembah selain Allah`. Mereka menjawab: `Kalau Rabb kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya`.(QS. 41:14)

Surah Fush shilat 13 - 14 
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ (13) إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (14) 
Ayat ini menerangkan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, agar menyeru kepada orang-orang kafir agar beriman kepada Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya Jika mereka tidak menerima ajakan itu dan berpaling, katakanlah kepada mereka: "Aku peringatkan kepada kamu sekalian akan azab yang akan ditimpakan Allah SWT kepada setiap orang yang ingkar kepada-Nya. Di antara azab yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar ialah suara keras yang mengguntur dari langit yang memusnahkan semua yang dikenalnya, seperti yang pernah ditimpakan kepada kaum Ad, kaum Samud, penduduk Aikah dan sebagainya. Malapetaka itu menimpa mereka karena mereka mengingkari seruan Rasul yang diutus kepada mereka dan mengabaikan peringatan para Rasul itu. Jika kamu sekalian hai orang-orang musyrik ingin tidak ditimpa malapetaka seperti yang demikian itu, ikutilah seruanku, sembahlah Allah SWT saja Tuhan Yang Maha Esa, jangan sekali-kali kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun". 
Seruan Rasulullah saw itu ditanggapi orang-orang musyrik dengan sikap angkuh dan sombong. Mereka mengingkarinya dengan mengatakan: "Sekiranya Allah SWT hendak mengutus para Rasul kepada manusia, tentulah Dia tidak akan mengutus manusia seperti kamu hai Muhammad, tetapi Dia akan mengutus orang-orang yang mempunyai kelebihan dari manusia biasa, mempunyai kekuatan gaib, sanggup mengabulkan dengan langsung segala yang diminta orang-orang yang diserunya, seperti malaikat, jin dan sebagainya. Rasul yang diangkat dari manusia biasa tidak akan memperkenankan permintaan orang-orang yang diserunya. Karena Rasul itu tidak mempunyai kelebihan sesuatupun dari mereka. Dalam pada itu Allah SWT belum berkehendak mengutus Rasul itu. Itulah sebabnya kami mengingkari kerasulanmu hai Muhammad". Mustahil Allah SWT mengangkat Rasul, jika Dia sendiri belum berkehendak untuk mengangkatnya. 
Diriwayatkan oleh Baihaqy dalam kitab "Ad Dalail" dan Ibnu Asakir dari Jabir bin Abdillah ia berkata: "Berkata Abu Jahal dan para pemimpin kaum Quraisy: "Sesungguhnya kurang jelas bagi kita apa yang disampaikan oleh Muhammad itu, jika kamu menemukan seseorang ahli sihir, tenung dan syair, maka hendaklah ia berbicara dengannya, kemudian datang kepada kita untuk menerangkan maksud yang disampaikan Muhammad itu. Maka berkata Utbah bin Rabi'ah: "Demi Allah, aku benar-benar telah mendengar sihir, tenung dan syair, dan aku benar-benar memahami rumpun engkau hai Muhammad adalah orang yang paling baik dalam rumpun keluarga Abdul Mutalib?". Muhammad tidak menjawabnya. Utbah berkata: "Kenapa engkau mencela tuhan-tuhan kami dan menganggap kami sesat ? Jika engkau menghendaki wanita, pilihlah olehmu sepuluh wanita yang paling cantik yang kamu kehendaki dalam suku Quraisy ini, jika engkau menghendaki harta kami kumpulkan harta itu menurut yang kamu perlukan". Setelah Rasulullah mendengar ucapan Utbah itu, beliau membaca surat Fussilat ini sejak permulaan ayat sampai kepada ayat ini, yang menerangkan malapetaka yang pemah ditimpakan kepada kaum Ad dan Samud. Mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah saw itu, Utbah bungkem dalam seribu bahasa, lalu kembali pulang ke rumahnya, tidak langsung kepada kaumnya. Tatkala kaumnya melihat Utbab demikian, kaumnya mengatakan bahwa Utbah telah kena sihir Muhammad pula. Lalu mereka mencari Utbah dan berkata kepadanya: "Ya Utbah, engkau tidak datang kepada kami itu adalah karena engkau telah kena sihir pula". Maka Utbah marah dan bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Muhammad, kemudian ia berkata: "Demi Allah, aku benar-benar telah berbicara dengannya, lalu ia menjawab dengan satu jawaban yang menurut pendapatku jawaban itu bukan syair, bukan sihir dan bukan pula tenung, dan tatkala ia sampai kepada ucapan: Petir yang seperti menimpa kaum Ad dan Samud, aku pun bungkem dalam seribu bahasa. Aku benar-benar mengetahui bahwa Muhammad itu, apabila ia mengatakan sesuatu, ia tidak berdusta, dan takutlah kepada azab yang akan menimpa itu". 
Sebagaimana diketahui bahwa Utbah termasuk pemuka Quraisy dan termasuk orang yang berpengetahuan luas di antara mereka, di samping seorang sastrawan ia juga mengetahui seluk-beluk sihir dan tenung yang dipercayai orang pada waktu itu. Kebungkeman Utbah itu menunjukkan bahwa hatinya telah beriman kepada Rasulullah, tetapi karena pengaruh nafsu dan kedudukan, maka ia mengingkari suara hatinya. Demikian pula halnya dengan kebanyakan orang-orang musyrik. Hatinya telah beriman dan ia telah takut kepada azab yang akan ditimpakan kepadanya seandainya ia tidak beriman, ia tetap tidak beriman. karena khawatir akan dipencilkan oleh kaumnya. Karena itu mereka mencari-cari alasan untuk menutupi hati mereka itu, dengan mengatakan bahwa mustahil Allah SWT mengangkat seorang Rasul itu dari manusia biasa, jika Dia mengangkat Rasul tentulah Rasul itu seorang malaikat.

Adapun kaum Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: `Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami` Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.(QS. 41:15)

Surah Fush shilat 15 
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (15) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan keadaan kaum Ad yang telah ditimpa azab Allah dan sikapnya terhadap seruan Rasul yang diutus kepadanya. Diterangkan bahwa kaum Ad itu menyombongkan diri. merasa diri mereka tidak ada yang menandingi, semua tunduk kepadanya, karena itu mereka durhaka kepada Tuhan yang telah menciptakan dan memberikan karunia kepada mereka, dan tidak menerima seruan Rasul Allah yang diutus kepada mereka. Mereka berkata: "Siapakah yang lebih kuat dan sanggup menandingi kami?" 
Allah SWT mengancam dan memperingatkan mereka dengan mengatakan: "Apakah mereka telah memikirkan betul-betul yang mereka ucapkan itu, apakah mereka tidak mengetahui siapa yang mereka tentang itu ? Yang mereka tentang itu adalah Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan segala sesuatu termasuk diri mereka sendiri, Yang Maha Perkasa, yang lebih kuat dari mereka. Jika Dia menghendaki, maka Dia dapat menimpakan bencana apapun terhadap mereka dan mereka sedikitpun tidak dapat menghindarkan diri dari bencana itu. 
Mereka sebenarnya telah mengetahui dan meyakini bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Kami, yang disampaikan oleh para Rasul yang diutus kepada mereka, akan tetapi mereka mengingkarinya dan mendurhakai para Rasul itu.

Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.(QS. 41:16)

Surah Fush shilat 16 
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ (16) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bentuk azab yang ditimpakan kepada kaum Ad itu. Dia menghembuskan angin kencang yang sangat dingin kepada mereka dengan suara gemuruh yang memusnahkan mereka. Angin kencang yang sangat dingin itu terus menerus melanda mereka dalam tujuh malam dan delapan hari, yang merupakan hari yang sial bagi mereka, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT: 

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ 
Artinya: 
Adapun kaum Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang Sangat dingin lagi amat kencang yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (Q.S. Al Haqqah: 6-7) 
Kemudian diterangkan tujuan Allah SWT menimpakan azab yang dahsyat itu kepada kaum Ad, yaitu untuk merasakan kepada mereka akibat menyombongkan diri dan takabur yang mereka lakukan terhadap Allah dan para Rasul yang diutus kepada mereka, yaitu berupa kehinaan, kerendahan dan malapetaka yang menimpa mereka dalam kehidupan duniawi. Sedang azab akhirat lebih dahsyat dan sangat menghinakan mereka, dan mereka tidak akan memperoleh seorang penolong pun yang dapat membebaskan mereka dari azab itu.

Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 41:17)

Surah Fush shilat 17 
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (17) 
Kepada kaum Samud, saudara dari kaum Ad Allah SWT telah menyampaikan agama Nya dengan perantaraan Nabi Saleh as. Allah SWT telah menunjukkan kepada mereka jalan keselamatan dan jalan yang lurus, dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang ada di cakrawala luas ini dan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum yang dapat membahagiakan mereka hidup di dunia dan di akhirat, tetapi mereka mengutamakan kekafiran dari keimanan yang berarti pula mereka lebih mengutamakan kehinaan dan kesengsaraan dari pada kemuliaan dan kebahagiaan. Karena sikap dan perbuatan mereka itu, maka Allah SWT menurunkan kepada mereka azab yang berupa suara keras yang mengguntur dari langit. 
Pada ayat yang lain Allah SWT menerangkan azab yang ditimpakan kepada mereka. Allah SWT berfirman: 

وأخذ الذين ظلموا الصيحة فأصبحوا في ديارهم جاثمين كأن لم يغنوا فيها ألا إن ثمود كفروا ربهم ألا بعدا لثمود 
Artinya: 
Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Samud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Samud". (Q.S. Hud: 67-68)

Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa.(QS. 41:18)

Surah Fush shilat 18 
وَنَجَّيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (18) 
Mengenai Saleh beserta orang-orang yang beriman dengan Nya, diselamatkan Allah SWT dari azab itu. Mereka tidak ditimpa malapetaka dan bencana yang dahsyat itu karena keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya).(QS. 41:19)

Surah Fush shilat 19 
وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (19) 
Ayat ini menerangkan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada orang-orang yang ingkar itu keadaan mereka pada Hari Kiamat nanti, bahwa pada hari itu semua musuh-musuh Allah dan orang-orang yang ingkar kepada Nya akan dikumpulkan di dalam neraka. Mereka dihalau ke dalamnya seperti orang menggiring dan menghalau binatang temak. Tidak ada satu pun yang luput dan tertinggal di antara mereka.

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 41:20)
Surah Fush shilat 20 
حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (20) 
Tatkala mereka sampai di pinggir neraka, maka mereka ditanya tentang perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Sebagai saksi atas perbuatan yang telah mereka lakukan itu ialah seluruh anggota badan mereka yang langsung melakukan perbuatan-perbuatan dosa itu, seperti telinga mereka, mata mereka, anggota-anggota tubuh mereka dan sebagainya. Tiap-tiap makhluk ditanya sesuai dengan keadaan dan sifatnya. Apa yang ditanya dan bagaimana jawaban makhluk-makhluk itu, termasuk ilmu yang gaib, yang Allah SWT sendiri yang mengetahuinya. Mungkin ada soal yang berhubungan dengan niat dan isi hatinya, mengenai perbuatan-perbuatannya itu. Jika pertanyaan itu tentang ketaatan beribadat, sopan Santun, hubungan silaturahmi, amal saleh dan yang serupa dengan itu dihadapkan kepada orang yang suka mengerjakan perbuatan itu selama hidup di dunia, tentulah orang-orang itu akan menjawabnya dengan gembira kepada Allah, budi pekerti yang buruk, memutuskan hubungan silaturahmi, perbuatan jahat dan perbuatan yang lain yang serupa dengan itu, dihadapkan kepada orang yang mengerjakannya, tentukan mereka menjawab dengan gemetar dan penuh ketakutan. Allah Maha mengetahui tentang itu.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH FUSHISHILAT>>

COPAS FROM:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar