Selasa, 19 Februari 2013

Al-'Ankabut 41 - 50

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-'ANKABUT>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=29#Top

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 41 
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41) 
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.(QS. 29:41)
Kaum penyembah berhala yang memandangnya sebagai penolong selain dari Allah, Yang selalu diharapkan pertolongan dan menolak bahaya yang datang kepada mereka, adalah bagaikan laba-laba yang disebutkan dalam ayat ini begitu lemahnya, sehingga tak kuat menahan tiupan angin, dan melindungi laba-laba itu sendiri dari dingin dan panas. Sarang tersebut tak dapat memenuhi kebutuhan utamanya apabila sedang diperlukan. Demikianlah halnya orang-orang kafir (musyrik), mereka tak sanggup menyelamatkan diri bila Allah mendatangkan siksa-Nya. Penolong mereka (selain dari Allah) tidak akan dapat memberikan pertolongan bahkan diri mereka sendiri tidak dapat mengelakkan mereka dari azab Allah. Ringkasnya hal orang musyrik penyembah berhala itu tak ubahnya bagaikan laba-laba yang membuat sarang, sangat rapuh dan lemah, sebab sarang laba-laba itulah ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh. Demikian pulalah agama yang sangat lemah adalah agama yang menyembah berhala.


Surah Al 'Ankabuut 42 
إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (42) 
Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 29:42)
Allah Maha Mengetahui tentang apa yang mereka mohonkan kepada berhala, patung,. jin, bahkan apa yang mereka minta kepada manusia selain Allah. Semuanya tak akan mungkin memberikan manfaat atau mendatangkan kecelakaan kepada seseorang bilamana Allah tidak menghendaki. Begitu lemahnya apa yang mereka sembah sehingga sama halnya dengan laba-laba yang hanya sanggup membuat rumah yang sangat rapuh sekali. Allah berkuasa menurunkan siksa kepada siapa yang kafir, karena itu orang-orang musyrik hendaklah merasa takut kepada Tuhan, dan segera beriman kepada-Nya sebelum datang siksaan-Nya, seperti yang pernah dikirimkan-Nya kepada orang-orang dahulu kala. Sebab bila siksaan Allah datang, tidak seorangpun di antara para penolong mereka itu (berhala-berhala) yang dapat menyelamatkan mereka. Allah selalu perkasa untuk menghancurkan barang siapa yang sepatutnya dibinasakan, dan Maha Bijaksana untuk mengundurkan siksa tersebut bagi orang yang diharapkan ada perubahan ke arah kebaikan dan dengan teguh melaksanakan kebaikan itu.

Surah Al 'Ankabuut 43 
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ (43) 
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(QS. 29:43)
Demikianlah Allah mengumpamakan sesuatu perumpamaan bagi manusia. Hanya orang berakallah yang dapat memikirkan perumpamaan tersebut. Sengaja Allah mengambil laba-laba sebagai perumpamaan, karena itu barangkali yang mudah bagi mereka untuk memahaminya. Selain dari itu, juga dimaksudkan untuk menerangkan segala keraguan mereka selama ini. Bagi orang yang selalu menggunakan hati dan pikirannya dan bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan, pastilah dapat memahami perumpamaan seperti tersebut dan akan semakin banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah yang terkandung dalam ayat-ayat-Nya. Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah pernah berkata: 

العالم من عقل عن الله تعالى وعمل بطاعته واجتنب سخطه 
Artinya: 
Orang yang berilmu itu ialah orang yang selalu memikirkan Allah (dengan memperhatikan makhluk) yang diciptakan Allah, kemudian beramal dalam rangka taat kepada-Nya serta menjauhi segala kemarahan-Nya.

Surah Al 'Ankabuut 44 
خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ (44) 
Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin.(QS. 29:44)
Dalil tentang kebesaran dan keagungan Allah itu terlihat pada ciptaan langit dan bumi. Bagi orang yang beriman dan menggunakan akal pikirannya, semua ciptaan Allah itu mengandung hikmah, dan tidak dijadikan percuma begitu saja. Dengan demikian kejadian langit dan bumi, memungkinkan manusia untuk menambah dan memperluas cakrawala pengetahuannya. Di samping itu pengenalan mereka akan lebih intensif kepada Pencipta-Nya yakni Allah Azza Wa Jalla. Ini diterangkan dalam suatu hadis yang berbunyi: 

كنت كنزا مخفيا فأردت أن أعرف فخلقت الخلق فبي عرفوني 
Artinya: 
(Aku Allah) adalah gudang (pengetahuan) yang tersembunyi maka Aku bermaksud untuk dikenali. Maka Aku ciptakanlah makhluk. Dengan sebab Aku (menciptakan makhluk itu)mereka mengenali Aku.

Surah Al 'Ankabuut 45 
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45) 
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. 29:45)
Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw agar selalu membaca. mempelajari dan memahami Alquran yang telah diturunkan kepadanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian ia akan mengetahui rahasia dan kelemahan dirinya, sehingga ia dapat memperbaiki, dan membina dirinya sesuai dengan tuntunan Nya. Perintah ini juga ditujukan kepada seluruh kaum Muslimin. Penghayatan seseorang terhadap kalam Ilahi yang pernah dibacanya itu akan nampak pengaruhnya pada sikap, tingkah laku, dan budi pekerti orang yang membacanya itu. 
Setelah Allah SWT memerintahkan membaca dan mempelajari dan melaksanakan ajaran-ajaran Alquran, maka Allah memerintahkan pula agar kaum Muslimin mengerjakan salat wajib, yaitu salat yang lima waktu. Salat itu hendaklah dikerjakan dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya dan dikerjakan dengan penuh kekhusyukan. Sangat dianjurkan mengerjakan salat itu lengkap dengan sunah-sunahnya. Jika salat itu dikerjakan sedemikian rupa, maka salat itu dapat menghalangi dan mencegah orang yang mengerjakannya dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. 
Mengerjakan salat adalah sebagai perwujudan dari keyakinan yang telah tertanam di dalam hati orang yang mengerjakannya, dan menjadi bukti bahwa ia telah merasakan bahwa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah. Karena itu ia berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan Nya, sesuai dengan doanya kepada Allah dalam salatnya, "Tunjukanlah kepada kami (wahai Allah) jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat". Doa-doa yang diucapkannya dalam salat selalu teringat olehnya, sehingga ia tidak berkeinginan sedikitpun untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar. 
Dalam pada itu ada pula sebagian ahli tafsir yang berpendapat bahwa yang memelihara orang yang mengerjakan salat dari perbuatan keji dan mungkar itu ialah salat itu sendiri. karena salat itu memelihara seseorang selama orang itu memelihara salatnya, sebagaimana firman Allah SWT: 

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين 
Artinya: 
Peliharalah segala salatmu dan (peliharalah) salat wusta. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk (Q.S. Al Baqarah: 238) 
Rasulullah saw menerangkan keutamaan dan manfaat yang diperoleh orang yang mengerjakan salat serta kerugian dan siksaan yang akan menimpa orang yang tidak mengerjakannya, sebagaimana tersebut dalam hadis: 

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه ذكر الصلاة فقال: من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة, ومن لم يحافظ عليها لم تكن له نورا ولا برهانا ولا نجاة, وكان يوم القيامة مع قارون وفرعون وهامان وأبي بن خلف. 
Artinya: 
Dari Nabi saw, bahwasanya ia pada suatu hari menyebut tentang salat, maka ia berkata "Barangsiapa yang memelihara salat, ia akan memperoleh cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari Kiamat, dan barangsiapa yang tidak memeliharanya, ia tidak akan memperoleh cahaya, petunjuk dan tidak pula keselamatan. Dan ia pada hari Kiamat bersama Karun, Firaun, Haman dan Ubai bin Khalaf (H.R. Ahmad dan Tabrani dari Abdullah bin Umar) 
Nabi saw menerangkan pula keadaan orang yang mengerjakan salat lima waktu yang dikerjakannya dengan sungguh-sungguh, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, tetap dikerjakan pada waktu-waktu yang telah ditentukan, maka seakan-akan dosa orang tersebut dicuci lima kali sehari, sehingga tidak sedikitpun yang tertinggal dari dosa-dosanya itu, Rasulullah saw bersabda: 

أرأيتم لو أن نهرا بباب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمس مرات هل يبقى من درنه شيء? قالوا: لا يبقى من درنه شيء قال: فذلك مثل صلوات الخمس يمحو الله بهن الخطايا 
Artinya: 
Bagaimanakah pendapatmu, andai kata ada sebuah sungai dekat pintu rumah salah seorang kamu, ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari. Adakah dakinya yang masih tinggal barang sedikitpun?". Para sahabat menjawab, "Tidak ada daki yang tertinggal barang sedikitpun". Rasulullah bersabda, "Maka demikianlah perumpamaan salat yang lima waktu dengan salat itu Allah akan menghapus semua kesalahannya". (H.R. tirmizi) 
Demikianlah perumpamaan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang keadaan orang yang mengerjakan salat lima waktu dengan sungguh-sungguh, semata-mata karena Allah SWT. 
Dari ayat di atas dan hadis-hadis Rasulullah yang telah disebutkan itu dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa ada tiga sasaran yang hendak dituju oleh orang yang mengerjakan salat yaitu: 
1. Timbulnya keikhlasan. 
2. Bertakwa kepada Allah. 
3. Mengingat Allah. 
Hendaklah salat itu menimbulkan keikhlasan bagi orang yang mengerjakannya, sehingga salat itu dikerjakan semata-mata karena Allah, untuk memurnikan ketaatan hanya kepada Nya saja. Sebagai perwujudan dari ikhlas ini pada diri seseorang ialah timbulnya keinginan di dalam hatinya untuk mengerjakan segala sesuatu yang diridai Allah. Yang dimaksud dengan bertakwa kepada Allah ialah timbulnya keinginan bagi orang yang mengerjakan salat itu untuk melaksanakan semua yang diperintahkan Allah dan untuk menghentikan semua yang dilarang Nya. Dengan bersalat seseorang akan selalu mengingat Allah, karena dalam bacaan salat itu terdapat ucapan-ucapan tasbih, tahmid, takbir serta dapat merasakan keagungan dan kebesaran Allah. 
Terhadap orang-orang yang tidak mengerjakan salat, maka Allah mengancam mereka dengan siksa neraka. Demikian pula terhadap orang-orang yang mengerjakan salat karena ria dan terhadap orang-orang yang lalai dalam mengerjakan salat, Allah SWT berfirman: 

فويل للمصلين الذين هم عن صلاتهم ساهون الذين هم يراءون ويمنعون الماعون 
Artinya: 
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Q.S. Al Ma'un: 47) 
Senada dengan ayat di atas, maka Rasulullah saw bersabda 

من صلى صلاة لم ينه عن الفحشاء والمنكر لم يزد بها من الله إلا بعدا. 
Artinya: 
Barangsiapa yang telah mengerjakan salat, tetapi salatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar, maka salatnya itu tidak akan menambah sesuatupun (kepadanya), kecuali ia bertambah jauh dari Allah. H.R. Ibnu Jarir dari Ismail bin Muslim dari Al Hasan, Lihat Fi zilalil Quran, juz 20 hal.131) 
Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa "mengingat Allah itu adalah lebih besar", maksudnya ialah, "Salat itu adalah ibadat yang paling utama dibanding dengan ibadat-ibadat yang lain". Karena itu hendaklah setiap kaum Muslimin mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain, bahwa kalimat ini merupakan penguat dari kalimat yang sebelumnya yang memerintahkan kaum Muslimin mengerjakan salat dan menerangkan hikmah mengerjakannya. 
Ibnu Abbas dan Mujahid menafsirkan kalimat "mengingat Allah itu adalah Iebih besar" dengan Allah mengingat hamba-hamba Nya itu adalah lebih banyak dibanding dengan ingatnya hamba-hamba Nya kepada Allah dengan menaati Nya. Pendapat ini didasarkan kepada hadis Rasulullah saw waktu menafsirkan ayat ini. Beliau bersabda: 

ذكر الله إياكم أكبر من ذكركم إياه 
Artinya: 
Allah mengingatmu lebih banyak dari pada kamu mengingat Nya. 
Dan sesuai dengan hadis Nabi saw: 

من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي ومن ذكرني في ملإ ذكرته خيرا منهم. 
Artinya: 
Barangsiapa yang mengingat Aku di waktu dia berada seorang diri, tentu Aku akan mengingatnya pula dan siapa yang mengingat Ku bersama-sama dengan suatu jemaah tentu Aku akan mengingat mereka lebih banyak. (Tafsir Qurtubi Juz 13, hal 349)

Surah Al 'Ankabuut 46 
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (46) 
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah:` Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri `.(QS. 29:46)
Sesungguhnya ajaran tentang keesaan Allah yang merupakan azas risalah yang dibawa para Nabi dan Rasul sejak dahulu kala sampai kepada risalah Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw berasal dari sumber yang satu, yaitu dari Allah Maha Pencipta, dan tujuannya adalah satu pula, yaitu memberi petunjuk kepada manusia dan mengembalikan mereka dari jalan yang sesat ke jalan yang lurus, serta untuk mendidik mereka agar selalu mengikuti ajaran-ajaran Allah, sehingga mereka berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Allah SWT juga menetapkan bahwa setiap orang yang telah mengikuti risalah Nabi dan Rasul yang diutus kepada mereka, masing-masing mereka adalah manusia yang lebih mulia dari yang lain, karena mereka adalah merupakan umat yang satu sama-sama menyembah Tuhan yang satu Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta. 
Berdasarkan hal yang tersebut di atas maka manusia pada setiap kurun, masa dan generasi dapat dibagi kepada dua golongan, yaitu: 
1. Golongan mukmin yang merupakan pendukung agama Allah. 
2. Golongan kafir yang merupakan penentang agama Allah dan termasuk pengikut setan. 
Setiap manusia yang mengikuti seruan Rasul yang diutus kepada mereka, adalah orang-orang mukmin dan termasuk hizbullah. Mereka sejak dahulu sampai saat ini, masing-masing kelompok mereka merupakan mata-mata rantai yang sambung menyambung, sehingga merupakan suatu rantai yang amat panjang, tidak ada putus-putusnya. Antara mata rantai yang satu dengan mata rantai yang lain dijalin dan diikat oleh ikatan kepercayaan yang kokoh, yaitu kepercayaan akan keesaan Allah, yang akhirnya dilanjutkan dan disempurnakan Allah SWT dengan diutus-Nya Nabi Muhammad saw, sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir, sebagaimana firman Allah SWT: 

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا 
Artinya: 
Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu. dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al Maidah: 3) 

ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين 
Artinya: 
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu; tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. (Q.S. Al Ahzab: 40) 
Risalah yang berazaskan keesaan Allah yang telah dibawa dan disampaikan para Nabi dan Rasul sejak berabad-abad yang lalu kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat ini, mempunyai suatu nilai yang sangat tinggi yang meningkatkan hubungan antara manusia, sejak manusia pertama kali diciptakan sampai kepada suatu saat manusia dan alam semesta ini mengalami kehancuran yang total. Dengan azas ini manusia tidak hanya terikat oleh hubungan keturunan, hubungan suku bangsa hubungan senegara dan setanah air, hubungan perdagangan, hubungan se-ideologi dan sebagainya, yang kadang-kadang terlalu bersifat subyektif, mementingkan diri atau kelompok, tetapi terikat dengan hubungan yang maha tinggi dan agung, yaitu hubungan dengan Allah. Hubungan dalam bentuk ini adalah hubungan antara Khalik dan makhluk dan hubungan antara sesama makhluk yang selalu menghambakan diri kepada Khaliknya, karena merasa diri tergantung kepada Nya. Hubungan yang seperti ini adalah hubungan yang tidak lagi terikat kepada keadaan masa dan tempat serta merupakan hubungan yang sangat erat kekal dan abadi, sejak dari dunia fana ini sampai ke akhirat nanti. Hubungan yang demikian berada di atas segala macam hubungan yang ada bahkan berada jauh di atas hubungan kemanusiaan. Karena hubungan kemanusiaan hanyalah hubungan antara sesama makhluk saja. 
Berdasarkan kepada azas inilah, maka Allah SWT menunjukkan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslimin materi dakwah yang akan disampaikan kepada Ahli Kitab. Dengan materi ini akan dirasakan hikmah kedatangan. Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir beserta risalah yang dibawanya. Nikmat itu ialah berupa keterangan dan pengungkapan hubungan antara risalah dengan risalah-risalah yang telah disampaikan para Rasul Allah yang telah diutus Nya sejak zaman dahulu. Dengan petunjuk yang demikian itu, hendaklah kaum Muslimin merasa berbahagia dan hendaklah mereka melaksanakan dakwah sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah disampaikan Allah itu. Dalam pada itu hendaklah kaum Muslimin mengkaji, mendalami dan mengembangkan petunjuk Allah itu, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh orang-orang yang akan menerimanya. 
Allah SWT memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin tentang materi dakwah dan cara menghadapi Ahli Kitab itu adalah karena orang-orang Ahli Kitab tidak menerima seruan Nabi Muhammad yang disampaikan kepada mereka. Ketika Rasulullah saw menyampaikan kepada mereka kalam Ilahi, kebanyakan dari mereka mendustakannya; hanya sedikit sekali di antara mereka yang menerimanya. Padahal mereka telah mengetahui Muhammad dan ajaran yang dibawanya, sebagaimana mereka mengetahui dan mengenal anak-anak mereka sendiri. 
Allah SWT berfirman: 

الذين آتيناهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون أبناءهم وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون 
Artinya: 
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil), mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, pada hal mereka mengetahui. (Q.S. Al Baqarah: 146) 
Pada ayat yang lain Allah SWT menerangkan dan menjelaskan cara berdakwah yang baik itu, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT: 

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين 
Artinya: 
Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan mu Dialah yang mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An Nahl : 125) 
Menyeru manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan kebijaksanaan dan mendebat mereka dengan yang baik, hanyalah dilakukan kepada orang-orang yang tidak melakukan kezaliman. Adapun orang-orang yang melakukan kezaliman, yaitu orang-orang yang hatinya telah terkunci mati tidak mau menerima kebenaran lagi dan ia berusaha untuk melenyapkan Islam dan kaum Muslimin, maka orang-orang yang semacam ini tidak dapatlah kaum Muslimin melapangkan dada kepada mereka. 
Sebagian orang-orang Ahli Kitab yang zalim itu ialah mereka yang di dalam hatinya ada penyakit, berupa iri hati, rasa benci dan dengki kepada kaum Muslimin, karena Rasul dan Nabi terakhir tidak diangkat dari kalangan mereka. Mereka memerangi kaum Muslimin dengan mengadakan tipu daya dan fitnah, menimbulkan api peperangan dan perselisihan secara terang-terangan dan tersembunyi dengan Rasulullah dan kaum Muslimin. Mereka selalu berusaha merintangi dakwah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, seperti mengadakan perjanjian persekutuan dengan orang-orang kafir yang lain untuk memerangi kaum Muslimin. Amatlah banyak contoh-contoh yang terjadi dalam sejarah yang berhubungan dengan usaha orang-orang kafir itu. Karena usaha-usaha mereka itulah, maka mereka dinamai orang-orang yang zalim, berusaha merugikan kaum Muslimin dan di akhirat nanti mereka menjadi orang-orang yang merugi dengan menerima azab yang setimpal dengan perbuatan mereka itu. 
Selanjutnya Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin diperingatkan Allah, bahwa jika orang-orang Ahli Kitab mengajak kaum Muslimin memperbincangkan kitab suci mereka, dan memberitahukan kepadanya apa yang patut dibenarkan dan apa yang patut ditolak, sedang kamu sekalian mengetahui keadaan mereka itu, maka katakanlah kepada mereka, "Kami percaya kepada Alquran yang telah diturunkan kepada kami dan kami juga percaya kepada Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepadamu Yang kami sembah dan yang kamu sembah, sebenarnya adalah sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, karena itu marilah kita bersama-sama tunduk dan patuh kepada Nya dan marilah kita sama-sama melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan Nya. 
Sehubungan dengan maksud ayat ini, Abu Hurairah berkata, "Para ahli Kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkan dengan bahasa Arab untuk orang-orang Islam. Lalu Nabi saw bersabda: 

لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا آمنا بالذي أنزل إلينا وأنزل إليكم وإلهنا وإلههم واحد ونحن له مسلمون 
Artinya: 
Janganlah kamu membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula kamu mendustakan mereka Katakanlah kepada mereka, "Kami beriman dengan apa yang telah diturunkan kepada kami dan yang telah diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu dan kami berserah diri hanya kepada Nya saja (H.R. Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah) 
Dalam hadis yang lain Nabi saw bersabda: 

لا تسألوا أهل الكتاب عن شيء فإنهم لن يهدوكم وقد ضلوا إما أن تكذبوا بحق وإما أن تصدقوا بباطل. 
Artinya: 
Janganlah kamu bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu. maka sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan menunjuki kamu dan sungguh mereka telah sesat. Adakalanya mereka mendustakan kebenaran dan adakalanya mereka membenarkan yang batil. (H.R. Ibnu Jarir dari Ibnu Mas'ud) 
Demikianlah keadaan kaum Yahudi dan Nasrani pada umumnya yang di dalam Alquran mereka disebut Ahli Kitab.

Surah Al 'Ankabuut 47 
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ (47) 
Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.(QS. 29:47)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan kepada Muhammad saw, "Hai Muhammad, sebagaimana Kami telah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul yang telah Kami utus sebelum engkau. Kepada para Rasul yang Kami utus sebelum engkau telah Kami turunkan Kitab-kitab. Dalam kitab-kitab itu diisyaratkan kedatangan Rasul di kemudian hari sesudah masing-masing Rasul itu. Dan akhirnya engkau diutus sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Kepada Rasul itu Kami perintahkan agar mereka menyampaikan kepada umatnya termasuk umatnya yang datang kemudian setelah ia meninggal dunia, agar beriman dan mengikut para Rasul yang datang kemudian, karena jika seseorang beriman kepada salah seorang Rasul-rasul yang diutus Allah, maka ia wajib pula beriman kepada Rasul-rasul Allah yang lain, baik para Rasul yang datang dahulu, maupun para rasul yang datang kemudian. 
Karena itulah sebagian orang-orang Ahli Kitab yang ada pada masa engkau beriman kepada engkau dan kepada Alquran, sesuai dengan yang diperintahkan Nabi-nabi mereka kepada mereka. Mereka itu lebih mementingkan akhirat dari dunia yang fana ini, tidak memperturutkan hawa nafsu mereka. Mereka itu ialah seperti Abdullah bin Salam, Tamim Al Ansari dan sebagainya. 
Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, seperti iri hati, karena Rasul yang mereka tunggu kedatangannya itu bukan dari golongan mereka, atau tertipu oleh kesenangan dunia, karena mereka memperturutkan hawa nafsunya dan sebagainya, mereka mengingkari Alquran, terutama ayat-ayat yang menyatakan kerasulan engkau. Karena itu hendaklah orang-orang Ahli Kitab memperhatikan seruan dan petunjuk Rasul-rasul mereka itu, yaitu dengan menyembah kepada Allah saja, serta mempercayai bahwa Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir, tidak ada seorang Nabi atau Rasulpun yang diutus Allah sesudahnya, dan beriman kepada Alquran, karena mereka yakin orang-orang Ahli Kitab itu adalah orang-orang yang mengesakan Allah.

Surah Al 'Ankabuut 48 
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (48) 
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu).(QS. 29:48)
Ayat ini menerangkan bahwa sebelum Alquran diturunkan, orang Arab telah mengetahui dengan sesungguhnya bahwa Nabi Muhammad tidak pandai menulis dan membaca. Seakan-akan ayat ini menerangkan: Muhammad yang diutus itu adalah Muhammad yang telah dikenal dengan baik oleh kaumnya. la telah lama hidup di tengah-tengah mereka sebelum diangkat menjadi Rasul. Semua orang Arab waktu itu mengakui bahwa Muhammad mempunyai budi pekerti yang tinggi, seorang kepercayaan, tidak pernah berdusta dan disegani oleh kawan-kawannya. Mereka mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa Muhammad tidak pandai membaca dan menulis, apalagi mengarang buku atau cerita. 
Di samping orang-orang Arab, orang-orang Yahudi dan Nasranipun mengetahui dari kitab-kitab mereka bahwa Muhammad adalah seorang yang tidak pandai menulis dan membaca. 
Berkata Mujahid, "Ahli Kitab mengetahui dari kitab-kitab mereka bahwa Nabi Muhammad saw tidak pandai menulis dan membaca, karena itu turunlah ayat ini. 
Dalam ayat yang lainpun Allah menegaskan yang demikian. Allah SWT. berfirman: 

الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجيل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم أصرهم والأغلال التي كانت عليهم 
Artinya: 
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka (Q.S. Al A'raf: 157) 
Dalam keadaan yang demikian, Allah SWT menurunkan Alquran kepada Muhammad, yang memuat akidah yang sangat tinggi nilainya, dilengkapi dengan bukti-bukti yang meyakinkan, mempunyai gaya bahasa yang sangat indah tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya, sekalipun di waktu itu di kalangan bangsa Arab banyak pujangga-pujangga sastra yang kenamaan dan seni sastra sedang berkembang pula. Namun demikian sedikit sekali mereka yang beriman di waktu itu. 
Seandainya Muhammad saw dapat membaca dan menulis, pernah belajar kepada Ahil Kitab, atau ia bukan seorang kepercayaan, tidak memiliki budi pekerti yang luhur dan tidak pula seorang yang disegani, tentulah orang-orang kafir Mekah itu akan lebih mudah lagi mengatakan bahwa Alquran itu adalah buatan Muhammad, bukan berasal dari Tuhan. 
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang kafir Quraisy pada permulaan Islam, berdasarkan pengetahuan mereka kepada Muhammad, dan berdasarkan nilai sastra Alquran itu sendiri, sebenarnya hati dan pikiran mereka telah mempercayai Alquran dan kerasulan Muhammad. Tetapi karena dalam hati mereka ada penyakit dan takut kedudukan mereka dalam kaumnya akan jatuh, maka mereka menyatakan sesuatu yang bertentangan den gan hati dan pikiran mereka sendiri. 
Yang dimaksud dengan ummi dalam ayat ini ialah tidak pandai menulis dan membaca, tidak termasuk di dalamnya "tidak berilmu pengetahuan". Mengenai ilmu pengetahuan, maka Allah SWT telah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan yang tinggi, bahkan mungkin ilmu pengetahuan yang belum pernah diajarkan Nya kepada manusia biasa, sekalipun beliau adalah orang yang alim dan bijaksana. Allah SWT berfirman: 

وأنزل الله عليك الكتاب والحكمة وعلمك ما لم تكن تعلم وكان فضل الله عليك عظيما 
Artinya 
Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (Q.S. An Nisa: 153)

Surah Al 'Ankabuut 49 
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ (49) 
Sebenarnya, Al quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.(QS. 29:49)
Ayat ini menegaskan bahwa ayat-ayat Alquran itu petunjuknya, tidak ada kesamaran sedikitpun tentang pengertiannya dan Allah memudahkan penafsirannya bagi orang-orang yang ingin mencari kebenaran yang hakiki. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: 

ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran. (Q.S. Al Qamar: 17) 
Demikian pula para Ahli Kitab yang ingin mencari kebenaran, mereka dengan mudah dapat memahami Alquran, sehingga beriman kepadanya dan meyakini bahwa Muhammad itu benar-benar Rasul. Allah SWT berfirman mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada orang-orang kafir yang tidak percaya kepada kerasulan beliau: 

كفى بالله شهيدا بيني وبينكم ومن عنده علم الكتاب 
Artinya: 
Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab. (Q.S. Ar Ra'd: 43) 
Maksudnya: Ulama-ulama Ahli Kitab itupun cukuplah menjadi saksi-saksi atas kerasulan Muhammad, karena mereka telah membaca dalam kitab-kitab mereka akan kedatangan Muhammad itu, karena itu ada di antara ahli Kitab yang beriman kepadanya, di antaranya orang-orang yang telah disebutkan di atas, dan ada lagi yang lain-lain. 
Allah SWT menegaskan lagi bahwa Alquran itu terpelihara dalam dada dengan dihafal oleh kaum Muslimin turun temurun sehingga tidak seorangpun dapat merubahnya. 
Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengingkari ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang zalim. Ayat ini merupakan isyarat bagi Ahli Kitab, bahwa mereka telah mengetahui dalam kitab suci mereka tentang kenabian Muhammad, dan diturunkannya Alquran kepadanya banyak di antara mereka yang mengingkari kebenaran itu setelah mereka mengetahuinya. Allah SWT berfirman: 

فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به فلعنة الله على الكافرين 
Artinya: 
maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Q.S. Al Baqarah: 89) 
Selain dari pada isyarat bagi Ahli Kitab, ayat ini juga merupakan cercaan dari Allah SWT yang ditujukan kepada orang-orang musyrik Mekah yang mengingkari ayat-ayat Tuhan dengan tidak percayanya mereka kepada Alquran dan kerasulan Muhammad saw yang sudah menjadi suatu kebenaran yang nyata itu. 
Mereka yang mengingkari kebenaran itu disebut oleh Tuhan "zalim". Sifat zalim ini adalah sifat yang paling tepat bagi mereka, sebab mereka menyembunyikan persaksian akan kebenaran yang telah mereka ketahui. Allah SWT berfirman : 

ومن أظلم ممن كتم شهادة عنده من الله 
Artinya: 
dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadat dari Allah yang ada padanya?. (Q.S. Al Baqarah: 140)

Surah Al 'Ankabuut 50 
وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) 
Dan orang-orang kafir Mekah berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya? `Katakanlah:` Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata `.(QS. 29:50)
Dalam sebuah hadis diterangkan mengenai kebodohan orang musyrik itu dan sebab turunnya ayat ini, yaitu: 

جاء الناس من المسلمين بكتب قد كتبوها فيها بعض ما سمعوه من اليهود, فقال النبي صلى الله عليه وسلم: كفى بقوم حمقا او ضلالة أن يرغبوا بما جاء به نبيهم إلى ما جاء به غيره إلى غيرهم. فنزلت "أولم يكفهم" الآية. 
Artinya: 
Telah datang serombongan kaum Muslimin kepada Nabi Muhammad saw membawa kitab-kitab yang telah mereka tulis di dalamnya sebagian dari apa yang telah mereka dengar dari orang-orang Yahudi, maka Nabi saw berkata: "Cukuplah kebodohan dan kesesatan suatu kaum yang menolak apa yang dibawa Nabi mereka untuk mereka, dan menginginkan sesuatu yang dibawa oleh seorang Nabi yang bukan Nabi mereka untuk orang lain. Lalu ayat ini diturunkan oleh Allah SWT. (H.R. Darimi dan Abu Daud) 
Dalam hadis yang lain diterangkan pula bahwa orang-orang yang tidak merasa cukup dengan Alquran sebagai suatu mukjizat, maka mereka bukanlah termasuk orang-orang Islam. Hadis ini berbunyi: 

ليس منا من لم يتغن بالقرآن -أي يستغن به عن غيره 
Artinya: 
Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak merasa cukup dengan Alquran. (H.R. Bukhari) 
Hadis di atas dengan jelas menerangkan kebodohan orang-orang musyrik yang menuntut agar diturunkan mukjizat yang nyata, padahal mukjizat Alquran lebih tinggi nilainya dan berlaku untuk selamanya sampai hari akhirat. 
Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengingkari Alquran sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. karena menurut mereka tidak pantas Alquran itu dijadikan sebagai mukjizat, yang pantas dijadikan mukjizat itu ialah suatu yang nyata, yang langsung dapat dilihat dan dirasakan, seperti mukjizat yang diturunkan kepada para Rasul yang terdahulu, seperti topan Nabi Nuh, tongkat Nabi Musa dan sebagainya. Mereka menyatakan bahwa mukjizat yang nyata itu mudah diterima akal pikiran dan dapat menimbulkan keyakinan bagi orang-orang yang melihatnya. 
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menjawab permintaan orang-orang musyrik Quraisy itu dengan mengatakan bahwa persoalan mukjizat itu adalah persoalah Tuhan. Tuhanlah yang menetapkan mukjizat apakah yang akan diberikan kepada seorang Rasul yang diutus Nya, serta disesuaikan pula dengan tingkat kemampuan umat yang akan menyaksikan mukjizat itu. Mengenai pengakuan orang-orang Quraisy, bahwa mereka tidak dapat menerima Alquran sebagai mukjizat, Allah SWT Maha Mengetahui isi hati mereka. Sebenarnya hati mereka telah mengakuinya sebagai mukjizat, tetapi karena keingkaran dan penyakit yang ada dalam hati mereka, maka mereka mengatakan yang demikian itu hanyalah sekadar membantah saja. Jika mereka benar-benar akan beriman dengan diturunkan Nya mukjizat sesuai dengan yang mereka minta itu, tentulah Allah akan menurunkan. tidak ada sesuatupun yang sukar bagi Allah, semua mudah bagi Nya. Allah SWT berfirman: 

وما منعنا أن نرسل بالآيات إلا أن كذب بها الأولون 
Artinya: 
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Q.S. Al Isra: 59) 
Setelah permintaan mereka yang bukan-bukan itu dijawab Nabi, maka Allah SWT memerintahkan kepadanya agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa dia (Nabi) diperintahkan hanya sekadar memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak mengindahkannya. Tugasnya hanyalah menyampaikan risalah kepada mereka. Ia tidak dapat menjadikan mereka orang-orang yang beriman, Yang dapat menjadikan orang beriman hanyalah Allah semata. Allah berfirman: 

من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا 
Artinya: 
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan Nya maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Q.S. Al Kahfi: 17) 
Dan firman Allah SWT yang lain: 

ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء 
Artinya: 
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (taufik) kepada siapa yang dikehendaki Nya. (Q.S. Al Baqarah: 272)
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-'ANKABUT>>





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar