Senin, 11 Februari 2013

Al Qashash 1 - 10

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-QASHASH>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=28
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qashash 1 
طسم (1) 
Ta Sin Mim, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini? 
Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu: 
1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat. 
2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
a. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah. 
b. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu. 
c. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya. 
d. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. 
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya." 
Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri. 
Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut: 
1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata. 
2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah. 
3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab. 
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi). 
Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka. 
Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini: 
1. Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32) 
Alasan-alasan mereka ialah: 
a. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran: 

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) 
Artinya: 
Dengan bahasa Arab yang jelas. 
(Q.S. Asy Syu'ara': 195) 
Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. 
b. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah: 

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) 
Artinya: 
Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. 
(Q.S. Al-Baqarah: 2) 
Firman-Nya lagi: 

وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 
Artinya: 
....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. 
(Q.S. Al-Baqarah: 97) 
Firman-Nya lagi: 

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138) 
Artinya: 
(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. 
(Q.S. Ali Imran: 138) 
Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk. 
c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula: 

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (17) 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? 
(Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40) 
2. 
a. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. 
Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73) 
b. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang. 
Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73) 
c. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9) 
d. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303) 
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."

Surah Al Qashash 2 
تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ (2) 
Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al quran) yang nyata (dari Allah)(QS. 28:2)
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah ayat-ayat dari Alquran yang jelas dan terang yang memberikan keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan urusan .agama dan membukakan tabir rahasia umat-umat yang dahulu yang kebenaran beritanya tidak banyak dikenal oleh manusia di masa itu. Oleh sebab itu jelaslah bahwa Alquran bukan bikinan Muhammad saw sebagaimana dituduhkan oleh orang-orang musyrik, karena Muhammad adalah seorang ummi yang tidak tahu menulis dan membaca dan tidak pernah belajar kepada orang-orang pandai apalagi kepada pendeta-pendeta Ahli Kitab. Dari mana Nabi Muhammad Saw dapat mengetahui kisah umat-umat yang telah berlalu masanya selama berabad-abad kalau tidak dari wahyu yang telah diturunkan Allah kepadanya yaitu Alquranulkarim. Karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa ayat-ayat Alquran yang jelas dan terang itu yang mengandung hukum-hukum dan hal-hal yang berhubungan dengan agama serta kisah-kisah mengenai umat-umat dahulu kala, adalah benar-benar wahyu dari Allah SWT.
Surah Al Qashash 3 
نَتْلُوا عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (3) 
Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Firaun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.(QS. 28:3)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia membacakan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantaraan Jibril ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah Nabi Musa dengan Firaun untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman agar mereka memperhatikan kisah itu supaya bertambah kuat iman mereka dengan mengetahui nasib orang-orang yang durhaka dan terlepasnya orang-orang mukmin dari tindasan orang-orang yang zalim dan agar mereka bertambah yakin bahwa Alquran memang wahyu yang diturunkan Allah kepada Muhammad saw. 
Dalam ayat ini disebutkan bahwa kisah Nabi Musa dikisahkan khusus bagi kaum mukminin saja, pada hal Alquran diturunkan untuk semua umat manusia baik yang beriman maupun yang kafir, adalah untuk menjelaskan bahwa orang-orang yang berimanlah yang dapat mengambil manfaat dari pembacaan kisah-kisah umat yang dahulu karena mereka mempunyai pikiran yang jernih, hati yang suci belum dipengaruhi oleh hal-hal yang mengotori jiwa dan akal mereka. Adapun orang-orang yang kafir dan tetap dalam kekafiran tidak akan mungkin mendapat manfaat dari padanya, karena mereka telah jauh terperosok ke dalam kemusyrikan dan hati mereka telah banyak dikotori oleh dengki sombong dan takabur, suka memperturutkan hawa nafsu sehingga sulitlah bagi mereka menerima kebenaran selama kebenaran itu bertentangan dengan keinginan dan kemauan mereka. 
Bagaimanapun jelasnya ayat-ayat dan bukti-bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka akan tetap mengingkarinya dan tetap menolaknya dengan berbagai alasan yang dicari-cari seperti mengatakan bahwa Muhammad Saw sudah gila atau mukjizat yang diturunkan kepadanya hanya sihir belaka.
Surah Al Qashash 4 
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (4) 
Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. 28:4)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan kisah Firaun yang mempunyai kekuasaan mutlak di negeri Mesir, tak satu kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaannya, apa saja yang disukai dan dikehendakinya harus terlaksana, semua rakyat tunduk dan patuh di bawah perintahnya sampai dia mengangkat dirinya menjadi tuhan. Dengan kekuasaan mutlak itu ia dapat melakukan kelaliman dan penganiayaan dengan sewenang-wenang. Pemerintahnya bukan berdasar keadilan dan akhlak yang mulia, tetapi berdasarkan kemauan dan keinginannya semata. Dipecah belahnya kaumnya kepada beberapa golongan dan ditanamkannya pada golongan-golongan itu benih pertentangan dan permusuhan agar dia tetap berkuasa terhadap mereka. Apa saja gerakan yang dirasakannya menentang kekuasaannya harus dibasmi dan dikikis habis. Kalau ada berita atau issu yang mengatakan bahwa seseorang atau satu golongan berusaha untuk menumbangkan kekuasaannya atau mungkin menjadi sebab bagi kejatuhannya, pastilah orang atau golongan itu dimusnahkannya. Golongan yang dianggap setia dan selalu menunjang dan mengokohkan singgasananya dimuliakan dan didekatkan, diberi berbagai macam fasilitas dan keistimewaan agar golongan itu dapat berkembang dan menjadi kuat dan jaya. Demikianlah Firaun telah menindas golongan Bani Israel karena dianggapnya golongan yang berbahaya, golongan yang bila dibiarkan pasti akan merubuhkan pemerintahannya. Dia memperlakukan golongan ini dengan sewenang-wenang direndahkan dan dihinakan malah dianggap sebagai golongan budak yang tidak mempunyai apa-apa kecuali untuk hekerja paksa membangun piramid dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan berat lainnya. Apalagi setelah ia mendengar dari tukang-tukang tenung bahwa yang akan merubuhkan kekuasaannya ialah Bani Israel. Semenjak itu Firaun telah bertekad bulat untuk membasmi golongan ini. Selain dengan memperlemah dan memperbudak mereka, diambilnya lagi suatu tindakan kejam, tidak berperikemanusiaan yaitu setiap anak laki-laki yang lahir di kalangan Bani Israel harus dibunuh seketika, tanpa belas kasihan tanpa memperdulikan ratap tangis ibu, karena anaknya yang dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan dan menjadi tumpuan harapannya dan buah hatinya direnggutkan dari pangkuannya. 
Dengan tindakan ini Firaun menyangka bahwa Bani Israel tentu akan musnah dengan sendirinya karena tidak ada lagi bibit yang akan tumbuh dan berkembang. Adapun anak-anak perempuan dibiarkan hidup, karena anak-anak perempuan itu dapat dipergunakan tenaganya dan dapat pula dijadikan gundik untuk memuaskan hawa nafsu birahinya dan nafsu birahi kaumnya. Oleh karena itu Allah mencapnya sebagai orang yang berbuat kebinasaan di muka bumi. Kalau ada perikemanusiaan sedikit saja dalam hatinya tentu dia tidak akan berlaku sekejam itu. 
Banyak cara-cara lain yang tidak bertentangan dengan perikemanusiaan dapat dilakukan oleh Firaun untuk membendung terjadinya apa yang ditakutinya itu tetapi karena hatinya sudah keras membatu dan pikirannya sudah gelap tak ada sedikit cahayapun yang meneranginya tak ada jalan yang tampak olehnya kecuali membasmi semua anak laki-laki Bani Israel. Disebarkannya mata-mata ke seluruh pojok negeri Mesir untuk menyelidiki semua perempuan. Bila ada di antara mereka yang hamil dicatatlah perempuan itu dan ditunggu datangnya masa melahirkan. Bila yang dilahirkan anak perempuan akan dibiarkan saja, tetapi kalau yang dilahirkan anak laki-laki langsung anak itu diambil untuk dibunuh. 
Tetapi apakah dengan tindakan itu Firaun dapat mempertahankan kekuasaannya? Pasti tidak, Karena di balik kekuasaannya itu ada kekuasaan yang jauh lebih perkasa yaitu kekuasaan Allah SWT yang tak dapat dikalahkan oleh siapapun. Dia lah Maha Pencipta Maha Kuasa dan Maha Perkasa. 
Diriwayatkan oleh As-Suddi, Firaun bermimpi melihat api datang ke negerinya dari Baitulmakdis. Api itu membakar rumah-rumah kaum Qibti dan membiarkan rumah-rumah Bani Israel. Firaun bertanya kepada orang-orang cerdik pandai dan tukang-tukang tenung. Tukang-tukang tenung menjawab bahwa takwil mimpi itu ialah akan lahir seorang anak laki-laki (dari Bani Israel) yang akan meruntuhkan kekuasaannya di Mesir. Maka takwil inilah yang mendorong Firaun melakukan tindakan kejam dan ganas itu.
Surah Al Qashash 5 - 6 
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ (5) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ (6) 
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),(QS. 28:5)
dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tetaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.(QS. 28:6)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia akan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada Bani Israel yang tertindas dan lemah itu dengan memberikan kepada mereka kekuasaan duniawi dan kekuasaan agama. Maka berdirilah berkat perjuangan mereka satu kerajaan yang besar dan kuat di negeri Syam dan akhirnya mereka mempunyai kekuasaan yang besar di Mesir yang dahulunya pernah menindas dan memperbudak mereka. Hal ini ditegaskan Allah lagi dalam ayat lain Firman-Nya 

وأورثنا القوم الذين كانوا يستضعفون مشارق الأرض ومغاربها التي باركنا فيها وتمت كلمة ربك الحسنى على بني إسرائيل بما صبروا ودمرنا ما كان يصنع فرعون وقومه وما كانوا يعرشون 
Artinya: 
Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian Timur dan bahagian Baratnya yang telah Kami beri berkah padanya Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Firaun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Q.S. Al A'raf: 137) 
Demikianlah bila Allah menghendaki sesuatu pastilah terlaksana. Bagaimanapun kuatnya Firaun dengan tentaranya dan kekayaannya dan bagaimanapun lemahnya Bani Israel sampai tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun bahkan selalu ditindas, dianiaya dan diambil terhadapnya tindakan permusuhan, tetapi karena Allah hendak memulihkan mereka ada saja jalan dan kesempatan bagi mereka untuk bangun dan bergerak, berkat keuletan dan kesabaran, mereka berhasil juga sampai menguasai negeri Mesir yang pernah memperbudak mereka. Allah memperlihatkan kepada Firaun apa yang selalu ditakutinya, ditakuti oleh Haman menterinya dan ditakuti oleh tentaranya yaitu runtuhnya kerajaan mereka dengan lahirnya seorang bayi, yaitu Musa yang luput dari pengawasan Firaun. Bahkan bayi itu diasuh dan dididik di istana Firaun, dimanjakan, dibesarkan dengan penuh kasih sayang, padahal bayi itulah nanti di waktu besarnya yang akan menumbangkan kekuasaannya menghancurkan tentaranya dan menaklukkan negaranya. Bagaimana perihnya luka yang ditimbulkan dalam hati Firaun ketika ia melihat anak yang disayangi dan dimanjakan yang menantangnya dan melawan kekuasaannya, tetapi apa hendak dikata kesombongan, takabur dan keangkuhannya tak ada gunanya lagi bila berhadapan dengan kekuasaan Allah dan keperkasaan-Nya. Pendeknya semua tindakan Firaun itu kontan dibalas dengan tindakan yang setimpal. Ada lima tindakan yang dilakukan oleh Firaun yang melampaui batas: 
1. Dia menganggap dirinya berkuasa mutlak karena itu ia bersikap takabur dan sombong sampai mendakwakan dirinya sebagai tuhan. 
2. Untuk menjamin kelestarian kekuasaannya dia memecah belah bangsanya dan ingin memusnahkan golongan yang menentangnya. 
3. Dia membunuh semua bayi laki-laki Bani Israel. 
4. Dia biarkan anak-anak perempuan mereka hidup untuk dipekerjakan dan diambil jadi gundik. 
5. Dia berlaku sewenang-wenang dan berbuat kerusakan di muka bumi. Lima tindakan Firaun itu dibalasi oleh Allah dengan lima tindakan pula, yaitu: 
1. Allah membebaskan Bani Israel dari cengkeraman Firaun dan kaumnya. 
2. Allah menjadikan Bani Israel yang tertindas itu, karena taatnya kepada Allah, menjadi pemuka dan pemimpin di dunia dan akhirat. 
3. Allah mewariskan kepada mereka negeri Syam dengan menjadikan mereka berkuasa di sana. 
4. Allah mewariskan pula kepada mereka negeri Mesir. 
5. Allah memperlihatkan kepada Firaun, Haman dan tentaranya bagaimana runtuhnya kekuasaan mereka. Demikianlah Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Suatu hal yang rasanya tidak mungkin terjadi yaitu tumbangnya suatu kekuasaan besar oleh orang-orang yang lemah karena ditindas dan dianiaya. Benarlah Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, membuat dan mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki-Nya sebagai tersebut dalam firman-Nya: 

قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتزل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير 
Artinya: 
Katakanlah "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Q.S. Ali Imran: 26)
Surah Al Qashash 7 
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (7) 
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: `Susukanlah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.(QS. 28:7)
Adalah suatu hal yang sangat mengerikan dan mencemaskan setiap ibu yang akan melahirkan anaknya dan mengetahui bahwa anak itu akan direnggutkan dari pangkuannya kemudian dibunuh tanpa rasa iba dan belas kasihan. Demikianlah halnya ibu Musa ketika melahirkannya. Walaupun kelahiran Musa dapat di sembunyikan tetapi lama kelamaan pasti akan diketahui pula oleh tukang jagal anak-anak. Yang banyak bertebaran di segala pelosok negeri, dan akhirnya nasib bayinya itu akan sama saja dengan nasib bayi-bayi Bani Israel lainnya yaitu : direnggut dari ibunya dan dipenggal kepalanya. Inilah yang selalu ditakuti dan dicemaskan oleh ibu Musa setelah ia melahirkannya. Ia selalu dalam keadaan gelisah dan khawatir memikirkan nasib anaknya yang telah dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan yang menjadi harapan setelah bayi itu besar, karena itu ia selalu memohon doa kepada Tuhan agar anaknya itu diselamatkan dan terlepas dari bahaya maut yang selalu mengancamnya. Dalam keadaan gelisah dan cemas itulah Allah mengilhamkan kepada ibunya bahwa dia tidak perlu khawatir dan cemas. Hendaklah dia tetap menyusukannya dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Bila dia merasa takut juga karena ada tanda-tanda bahwa anaknya itu akan diketahui juga, maka hendaklah melemparkan anak itu ke sungai Nil dan janganlah sekali-kali merasa ragu dan khawatir, karena Allah akan menjaga dan membelanya dan akan -mengembalikannya kepada pangkuannya, dia pula yang akan menyusuinya dan nanti anak itu akan menjadi Rasul Allah yang akan menyampaikan dakwah kepada Firaun sendiri.
Surah Al Qashash 8 
فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (8) 
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.(QS. 28:8)
Benarlah apa yang dijanjikan Allah kepada ibu Musa Setelah anak itu dibungkus badannya dengan bendungan (kain pembalut bayi) dan dimasukkan ke dalam peti agar jangan tenggelam, di lemparkanlah dia ke sungai Nil dan dibawalah dia oleh arus sungai itu ke istana Firaun yang dibangun di tepi sungai itu. Kebetulan saja di waktu itu salah seorang keluarga Firaun sedang berada di sana. Ketika melihat sebuah peti, terapung-apung hanya dibawa arus sungai, diambilnya peti itu dibawanya kepada istrinya Firaun lalu dibukanya agar diketahui isinya. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa isi peti itu adalah seorang bayi dan ketika itu juga timbullah kasih sayangnya kepada bayi itu. Dengan cepat dibawanya bayi itu kepada Firaun. Tanpa ragu-ragu Firaun memerintahkan kepada istrinya supaya anak itu dibunuhnya karena dia takut kalau-kalau bayi itu keturunan seorang Bani Israel. Tetapi istri Firaun membujuknya agar tidak membunuhnya. Siapa tahu di belakang hari anak itu akan berjasa kepada Firaun dan kerajaannya. Akhirnya Firaun mengizinkan supaya diasuh dan dipelihara oleh istrinya. 
Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa diizinkannya anak itu diasuh di istana Firaun adalah supaya anak itu bila telah besar nanti akan menjadi musuhnya yang paling besar yang akan menumbangkan kekuasaannya, bukan sebagai seorang yang akan berjasa dan berbakti kepadanya. Demikianlah Allah menakdirkan bagi keruntuhan kekuasaan Firaun. Dipungutnya sendiri seorang anak yang akan menentangnya dan mencelakakannya di belakang hari, sebagai balasan atas kesombongan dan kelalimannya dan tindakan kejamnya terhadap Bani Israel. Memang sesungguhnya Firaun dan Haman sebagai tangan kanannya demikian pula tentaranya, telah berbuat kesalahan besar dengan melakukan kekejaman itu. Sudah sewajarnyalah Allah menghancurkan kekuasaannya dengan perantaraan seorang anak dari Bani Israel yang dihinakannya itu.
Surah Al Qashash 9 
وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (9) 
Dan berkatalah isteri Firaun:` (Ia) biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak `, sedang mereka tiada menyadari.(QS. 28:9)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bagaimana jawaban istri Firaun pada waktu membela bayi yang akan dibunuh itu, karena dia khawatir kalau-kalau bayi itu anak seorang Bani Israel yang sangat ditakutinya akan menghancurkan kekuasaannya. Berkata istri Firaun yang telah menyayangi anak itu karena melihat parasnya yang cantik dan menarik "Janganlah engkau bunuh anak ini karena saya amat sayang dan tertarik kepadanya Biarkanlah saya mengasuh dan mendidiknya, dia akan menjadi penghibur hatiku yang susah, siapa tahu di belakang hari dia akan berjasa kepada kita. Atau alangkah baiknya kalau dia kita ambil menjadi anak angkat kita, karena sampai sekarang aku belum dikaruniai seorang anakpun. Karena kegigihan istri Firaun dan alasan-alasan yang dikemukakannya adalah masuk akal pula akhirnya Firaun membiarkan anak itu hidup diasuh sendiri oleh istrinya. Demikianlah takdir Allah. Dia telah menjadikan istri Firaun menyayangi anak itu dan menjadikan hati Firaun lunak karena rayuan istrinya sehingga anak itu tidak jadi dibunuh, padahal anak itulah nanti yang akan menentang Firaun dan akan menjadi musuhnya yang utama tanpa mereka sadari sedikitpun.
Surah Al Qashash 10 
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (10) 
Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).(QS. 28:10)
Pada ayat ini Allah menerangkan bagaimana keadaan ibu Musa setelah ia melemparkan anaknya ke sungai Nil untuk melaksanakan ilham yang diterimanya dari Allah SWT. Walaupun tindakan yang dilakukannya berdasarkan ilham dari Allah dengan janji bahwa anaknya akan dikembalikan kepadanya, namun ia tetap gelisah dan tidak pernah merasa tenteram memikirkan nasib anaknya yang telah dihanyutkan oleh arus sungai Nil. Di manakah anak itu sekarang? Apakah dia sudah tenggelam di telan gelombang? Kalau tidak tenggelam kemanakah dia dibawa arus dan di manakah dia terdampar ? Berbagai macam pertanyaan terlintas dalam pikirannya kadang-kadang dia menyesali dirinya atas perbuatannya itu. Bagaimanakah dia sebagai seorang ibu sampai hati melemparkan anaknya ke sungai, dan sekarang bagaimanakah cara menyusuli anak itu? Apakah dia akan berteriak-teriak dan mengakui bahwa dia telah melemparkan anaknya ke sungai, kemudian minta tolong kepada khalayak ramai untuk mencarinya ? Benar-benar hati dan pikirannya telah menjadi kosong. Dia telah kehilangan akal, kehilangan kesadaran tak dapat berpikir lagi dan tak dapat berdaya sedikitpun. Hampir saja dia melakukan tindakan yang membahayakan jiwa anaknya dengan mengumumkan bahwa dia telah menghanyutkan anaknya ke sungai dan tentulah mata-mata dari Firaun akan segera mengambilnya dan langsung membunuhnya karena sudah diketahui bahwa anak itu adalah anak dari Bani Israel. Tetapi Allah menguatkan hatinya dan menenteramkan pikirannya sehingga sadar dan percayalah dia bahwa Allah telah menjanjikan akan mengembalikan anaknya itu kepangkuannya dan akan mengangkatnya menjadi Rasul.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-QASHAASH>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar