Senin, 11 Februari 2013

Al Qashash 31 - 40



<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-QASHASH>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=28
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qashash 31 
وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ (31) 
dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru):` Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.(QS. 28:31)
Kemudian Allah memerintahkan kepadanya supaya dia melemparkan tongkatnya. Musa dengan patuh melemparkan tongkatnya, tetapi apa yang terjadi ? Tongkat itu telah menjadi ular besar yang bergerak dengan cepat seakan-akan dia seekor ular kecil yang gesit. Musa sangat terkejut dan merasa ngeri serta takut melihat ular itu dengan serta merta ia lari tanpa menoleh ke belakang. Tak ada yang dipikirkannya kecuali menyelamatkan dirinya dari cengkeraman ular yang dahsyat itu. 
Di waktu itu Tuhannya berseru lagi : "Datanglah kembali ke tempatmu semula dan janganlah engkau takut kepada ular itu. Ular itu hanyalah tongkatmu belaka yang berubah menjadi ular dan ular itu tidak akan mengganggumu dan sekali-kali tidak berbahaya bagimu. Engkau aman di sini tak ada sesuatupun yang dapat mengganggu ketenteramanmu. Ini adalah suatu mukjizat yang Aku berikan kepadamu untuk menghadapi Firaun yang sombong dan takabur itu. Barulah hati Musa merasa aman dan tenteram, setelah mendengar bahwa keamanannya dijamin oleh Tuhannya.

Surah Al Qashash 32 
اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (32) 
Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia ke luar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada) mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Firaun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik `.(QS. 28:32)
Kemudian datang lagi perintah dari Tuhannya supaya memasukkan tangannya ke leher bajunya. Perintah inipun dilaksanakan Musa dengan taat dan patuh. Ketika ia mengeluarkan tangannya dari leher bajunya itu, ia melihat tangannya menjadi putih bercahaya dan bersinar bukan karena sakit sopak dan lain sebagainya. Sekali lagi Musa menjadi kaget dan terkejut dan sangat merasa takut. Tetapi segera sesudah itu turun pula perintah Tuhannya untuk menghilangkan rasa terkejut dan takut, yang telah menguasai dirinya supaya dia mendekapkan kedua tangannya ke dadanya. 
Ibnu Abbas pernah mengatakan : "Siapa saja yang merasa takut, apabila dia meletakkan tangannya di dadanya hilanglah rasa takutnya itu". 
Kemudian Allah menegaskan kepada Musa bahwa itulah dua mukjizat yang Aku berikan kepadamu yang menunjukkan kekuasaan Ku yang akan kamu perlihatkan nanti kepada Firaun yang sombong dan fasik itu ketika kamu menyerunya agar dia beriman kepada Allah dan meninggalkan kesesatan yang dianutnya. Ketika itu mengertilah Musa bahwa di atas pundaknya telah dibebankan suatu risalah yang harus disampaikan kepada Firaun dan kaumnya dan kepada Bani Israel sendiri. Ini berarti bahwa dia telah menjadi Rasul. Benarlah apa yang dijanjikan Allah kepada ibunya bahwa dia akan mengembalikanmnya ke haribaannya dan hal itu telah terlaksana di waktu dia masih kecil, sekarang terlaksana pula janji-Nya yang kedua bahwa Dia akan mengangkatnya menjadi Rasul. Di sini teringatlah Musa kembali bahwa dia telah membunuh seorang Qibti dan karenanya Firaun dengan kaumnya telah sepakat untuk membunuhnya. Kalau sebelum ini yang mendorongnya meninggalkan Madyan menuju Mesir karena sangat rindu kepada kampung halaman dan sanak keluarga dan ia berani melakukan hal. itu karena dia mengharapkan orang Mesir telah lupa akan kejadian di masa yang lampau dan iapun dapat memasukinya secara diam-diam, tetapi ia sekarang harus kembali ke sana secara terang-terangan dan untuk menentang kekuasaan Firaun yang perkasa. Pastilah Firaun dan kaumnya akan membunuhnya. Mulailah dia merasa khawatir terhadap dirinya kalau dia pergi sendirian. Yang lebih mengkhawatirkannya lagi kalau ia sudah dibunuh Firaun tentu risalah Tuhannya tidak jadi sampai kepada kaumnya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qashash 32 
اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (32) 
(Masukkanlah) sisipkanlah (tanganmu) yang sebelah kanan, yang dimaksud adalah telapak tangannya (ke leher bajumu) maksudnya, kerah baju gamismu, kemudian keluarkanlah kembali (niscaya ia keluar) berbeda keadaannya dengan tangan yang biasanya (putih tidak bercela) maksudnya bukan karena penyakit sopak. Nabi Musa memasukkan tangannya itu sesuai dengan perintah, kemudian ia mengeluarkannya kembali, tiba-tiba tampak bagaikan cahaya matahari yang menyilaukan pandangan mata (dan dekapkanlah tanganmu itu ke dadamu bila ketakutan) dapat dibaca Ar Rahbi dan Ar Rahbu yang artinya takut disebabkan sinar tangan tadi. Maksudnya jika kamu merasa takut maka masukkan kembali tanganmu itu ke dalam bajumu, niscaya kembali kepada keadaan semula. Pengertian tangan diungkapkan dengan istilah Janah yang artinya sayap, karena kedua tangan bagi manusia fungsinya sama dengan dua sayap bagi burung (maka yang demikian itu adalah dua) dapat dibaca Tasydid dan Takhfif, yakni Fadzanika dan Fadzannika, yang dimaksud adalah tongkat dan tangan itu; keduanya merupakan lafal Muannats dan Musyar ilaih dalam bentuk mudzakar karena khabarnya mudzakar (mukjizat) yang diturunkan (dari Rabbmu yang akan kamu hadapkan kepada Firaun dan pembesar-pembesar kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik") .


Surah Al Qashash 33 - 34
قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ (33) وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ (34)
Musa berkata:` Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.(QS. 28:33)
Dan saudaraku Harun, dia lebih petah lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan. `(QS. 28:34)
Maka Musa mengadukannya kepada Tuhannya bahwa dulu dia pernah membunuh seorang Qibti di Mesir. Hal itu telah tersiar luas di kalangan orang Mesir, dan Firaun telah menetapkan akan membunuhnya. Sungguh hal itu sangat mengkhawatirkannya, siapa tahu baru saja dia tiba di sana, Firaun dan kaumnya telah bersiap-siap untuk membunuhnya. Dengan demikian akan terlantarlah risalah engkau yang telah Engkau bebankan kepadaku. Aku mempunyai seorang saudara yang lebih fasih lidahnya dari lidahku, lebih pandai berdebat dan memberikan penerangan yang bernama Harun. Dengan kefasihannya itu dia akan dapat mempertahankan diriku, bila mereka mengadakan tuduhan-tuduhan yang mungkin memberatkanku. Dia akan dapat mengemukakan atasan-alasan yang tepat untuk menyampaikan risalah ini, bila terjadi perdebatan antaraku dengan Firaun beserta kaumnya Oleh sebab itu aku sangat mengharapkan agar Engkau angkat pula dia menjadi Rasul untuk membelaku dan membela keterangan-keterangan yang aku kemukakan. Aku sangat khawatir kalau aku saja yang memikul risalah ini mereka akan mendustakan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qashash 34 
وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ (34) 
(Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku) maksudnya jelas bicaranya (maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku) yang kelak akan membantuku. Lafal Rid-an menurut qiraat yang lain dibaca Riddan (untuk membenarkan aku) lafal Yushaddiqni yang dibaca Jazm adalah menjadi Jawab dari Ad Du'a. Tetapi menurut qiraat yang lain dibaca Rafa, sehingga bacaannya menjadi Yushaddiquni sebagai sifat dari lafal Rid-an (sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan aku").

Surah Al Qashash 35 
قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا بِآيَاتِنَا أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ (35) 
Allah berfirman:` Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang `.(QS. 28:35)
Allah mengabulkan permintaan Musa dan berjanji akan mengangkat Harun menjadi Rasul untuk menjadi pembantunya (wazirnya) dan sekaligus menenteramkan hatinya yang selalu diliputi kekhawatiran karena beratnya beban yang dipikulkan kepadanya. Allah menjanjikan kepadanya bahwa Dia akan memberikan kepadanya dan kepada saudaranya. kekuatan yang tak dapat dikalahkan oleh kekuatan apapun di dunia apalagi kekuatan Firaun yang sangat terbatas itu, kekuatan yang akan menjadi tameng dan benteng baginya, sehingga tak ada seorangpun yang dapat mengganggunya atau membunuhnya, karena kekuatan itu adalah kekuatan besar dari Allah dan saudaramu menyeru Firaun tanpa ragu-ragu dengan tekad yang bulat membawa tanda-tanda kekuasaan Ku, mukjizat-Ku, pasti kamu (berdua) dan pengikut-pengikutmu akan mencapai kemenangan yang gemilang. 
Dengan hati yang aman dan tenteram, kembalilah Musa ke tempat istrinya yang ditinggalkannya tadi dan dia menceritakan kepadanya semua kejadian yang dialaminya, tegasnya dia telah diangkat Allah menjadi Rasul. Hati istrinyapun menjadi tenteram pula mendengar ceritanya itu. Akhirnya berangkatlah Musa bersama keluarganya menuju Mesir didorong oleh cita-cita yang suci murni yaitu menyampaikan risalah Tuhannya kepada Firaun dan kaumnya dan kepada kaumnya sendiri Bani Israel. Sedang di Mesir Harun telah siap-siap pula hendak memikul risalah itu dan membantu saudaranya dalam menyampaikannya.

Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata:` Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu `.(QS. 28:36)
Surah Al Qashash 36 
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ (36) 
Tatkala Musa datang kepada Firaun dan kaumnya untuk menyeru mereka kepada agama tauhid dengan memberikan bukti-bukti yang nyata dan keterangan-keterangan yang kuat lagi jelas, sehingga tak ada alasan lagi bagi mereka untuk menolak kebenaran yang dikemukakannya, dengan serta merta mereka berkata "Apa yang kamu serukan itu supaya kami menerima dan mengikutinya tiada lain hanyalah sihir belaka, belum pernah kami mendengar seruan serupa itu dari bapak-bapak dan nenek moyang kami. Memang begitulah sifatnya orang-orang yang tersesat, orang-orang keras kepala yang hati dan pikirannya telah ditutupi oleh kesesatan dan kesombongan. Persis seperti itulah ucapan yang diucapkan oleh kaum musyrikin Mekah kepada Nabi Muhammad saw bila mereka telah terpojok dan tak dapat lagi membantah kebenaran yang dibawanya seperti tersebut dalam firman Allah: 

ولو نزلنا عليك الكتاب في قرطاس فلمسوه بأيديهم لقال الذين كفروا إن هذا إلا سحر مبين 
Artinya: 
Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (Q.S. Al an'am: 7) 
Demikianlah sikap orang-orang kafir terhadap Rasul-rasul yang menyerukan kepada agama yang hak seperti tersebut dalam firman-Nya 

كذلك ما أتى الذين من قبلهم من رسول إلا قالوا ساحر أو مجنون 
Artinya: 
Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka melainkan mereka menyatakan "la adalah seorang tukang sihir atau orang gila. (Q.S. Az Zariyat: 52)

Surah Al Qashash 37 
وَقَالَ مُوسَى رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَى مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (37) 
Musa menjawab:` Tuhanku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim `.(QS. 28:37)
Tetapi Musa menjawab tuduhan mereka bahwa bukti-bukti yang dikemukakannya hanya sihir belaka, dengan tenang dan tidak keluar dari adab dan sopan santun berdebat, tanpa menuduh lawannya bahwa mereka telah sesat Musa mengatakan kepada mereka bahwa Tuhannya yang lebih mengetahui siapa sebenarnya yang membawa petunjuk dari Allah dan siapa sebenarnya yang beruntung yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat nanti, walaupun dalam hatinya ia yakin sepenuhnya dialah yang benar, dialah orang yang beruntung itu dan siapa yang menentang kebenaran yang dibawanya pasti akan merugi dan menyesal. Jawaban ini sama dengan jawaban yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw, kepada kaum musyrikin yang menentangnya seperti tersebut dalam firman Allah: 

وإنا وإياكم لعلى هدى أو في ضلال مبين 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Saba: 24) 
Dan firman-Nya: 

قل يجمع بيننا ربنا ثم يفتح بيننا بالحق وهو الفتاح العليم 
Artinya: 
Katakanlah, "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". (Q.S. Saba: 26) 
Walaupun demikian Musa tetap menegaskan bahwa orang-orang zalim tidak akan memperoleh kemenangan. Ini adalah sebagai isyarat dari dia kepada Firaun dan kaumnya, bahwa mereka tidak akan menang, yang pasti akan kalah dan hancur, karena mereka sudan jelas orang-orang yang sombong dan aniaya


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qashash 37 
وَقَالَ مُوسَى رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَى مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (37) 
(Berkatalah) dapat dibaca waqala dan Qala tanpa memakai Wawu (Musa, "Rabbku lebih mengetahui) (orang yang patut membawa petunjuk dari sisi-Nya) Dhamir yang ada pada lafal 'Indahu kembali kepada Ar Rabb (dan siapa) di'athafkan kepada lafal Man sebelumnya (yang akan ada) dapat dibaca Takunu dan Yakunu (baginya kesudahan yang baik di negeri akhirat) yakni akibat yang terpuji di akhirat; maksudnya dia adalah aku sendiri, keduanya adalah aku sendiri yang berhak menyandangnya dan aku orang yang benar di dalam menyampaikan apa yang diturunkan kepadaku. (Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim") yakni orang-orang yang kafir.

Surah Al Qashash 38 
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ (38) 
Dan berkata Firaun:` Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta `,(QS. 28:38)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Firaun, setelah kehabisan hujah dan dalil untuk membatalkan keterangan Musa dan bukti-bukti yang dikemukakannya, memerintahkan kepada kaumnya supaya jangan percaya kepada omong kosong yang dikemukakan Musa karena selama ini tak ada seorangpun yang berani mendakwakan, bahwa ada pula Tuhan selain dia. Semenjak dahulu selama Mesir diperintah oleh Firaun, Firaun yang silih berganti, tak seorangpun yang mengingkari bahwa Firaun adalah tuhan-tuhan yang berkuasa di muka bumi. Mata hati rakyat dikelabui dengan dongeng dan khurafat yang menyatakan bahwa manusia harus tunduk kepada kekuasaan Firaun. Dan siapa yang tidak mau tunduk dan patuh tentulah dia akan dilaknati oleh arwah-arwah Firaun yang telah meninggal dan pastilah hidupnya akan sengsara dan celaka karena laknat itu. Firaun selalu melakukan tindakan yang kejam dan bengis terhadap siapa yang berani mengingkari kekuasannya, sebagai tuhan dengan menyiksanya dan memenjarakannya bahkan membunuhnya. Hal ini tersebut dalam firman Allah: 

فحشر فنادى فقال أنا ربكم الأعلى 
Artinya: 
Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata "Akulah Tuhanmu Yang paling Tinggi". (Q.S. An Naziat: 23-24) 
Dan firman-Nya: 

قال لئن اتخذت إلها غيري لأجعلنك من المسجونين 
Artinya: 
Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan. (Q.S. Asy syura: 29) 
Mengenai hal ini Imam Ar-Razi berpendapat, bahwa Firaun mendakwakan dirinya sebagai tuhan bukan maksudnya dialah yang menciptakan langit dan bumi, lautan gunung-gunung dan manusia seluruhnya, karena hal itu tentu tidak akan dapat diterima oleh akal tetapi maksudnya ialah supaya orang memperhambakan diri kepadanya. Dia hanya menolak adanya tuhan (yang harus dipatuhi) dan memerintahkan kepada manusia menaati raja mereka dan mematuhi perintahnya". 
Lalu Firaun memerintahkan kepada wazirnya Haman supaya menyalakan api yang besar untuk membikin batu bata yang banyak dan membuat sesuatu bangunan yang tinggi supaya dia dapat naik ke langit melihat Tuhan yang didakwahkan Musa, Tuhan yang sebenarnya, tak ada yang patut disembah selain Dia, karena Dialah yang menciptakan semua makhluk di langit dan di bumi dan telah menjanjikan kepada Musa dan Harun akan membantu dan menyokongnya dalam menyampaikan dakwahnya. Kemudian dia menegaskan bahwa Musa adalah pembohong yang besar. Senada dengan ini Allah berfirman: 

وقال فرعون يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السموات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا وكذلك زين لفرعون سوء عمله وصد عن السبيل وما كيد فرعون إلا في تباب 
Artinya: 
Dan berkatalah Firaun "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu (yakni) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa. Dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Firaun memandang baik perbuatannya yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar) dan tipu daya Firaun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian". (Q.S. Al Mu'min: 36-37)

Surah Al Qashash 39 - 40 
وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ (39) فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (40) 
dan berlaku angkuhlah Firaun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.(QS. 28:39)
Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.(QS. 28:40)
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Firaun dan tentaranya benar-benar sombong dan takabur, dia menyangka hanya dialah penguasa yang mutlak di muka bumi Siapa saja yang menantangnya adalah salah dan durhaka. Kalau dikatakan kepadanya ada Tuhan yang lebih besar kekuasaan-Nya dari kekuasaannya, dia menjadi kalap, tak dapat lagi menguasai dirinya, seperti memerintahkan dengan segera membuat suatu hal yang mustahil, seperti membuat bangunan setinggi langit agar dia dapat berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa itu. 
Firaun dan kaumnya mengira bahwa mereka tidak akan di bangkitkan; tidak akan diperhitungkan apa yang telah dikerjakannya selama hidupnya tak ada yang akan menyiksanya, bila dia melakukan kelaliman dan kekejaman. Memang demikianlah kepercayaan mereka karena pengaruh kesombongan dan ketakaburan itu. Mereka membuat pyramid yang besar untuk kuburan mereka dan diisi dengan perabot yang lengkap dan serba mewah serta pakaian dan perhiasan yang indah-indah, untuk dinikmati sesudah ia mati. 
Karena kesombongan dan ketakaburan itu Allah menyediakan baginya azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Di dunia dia ditenggelamkan bersama tentaranya ke dalam lautan, dan akhirnya mereka akan disiksa dalam neraka yang menyala-nyala. 
Demikianlah nasib yang telah ditetapkan Allah bagi orang-orang yang takabur dan sombong, berbuat zalim dan aniaya terhadap Allah. Sebenarnya kelanjutan dari kisah ini sebelum Firaun ditenggelamkan di laut masih banyak lagi kejadian-kejadian lain seperti pertarungan antara tukang-tukang sihir Firaun dengan Musa yang memiliki tongkat dapat menelan semua ular-ular yang dibuat-buat oleh mereka, dan turunnya beberapa mukjizat lainnya, tersebut pada surah-surah lain dalam Alquran seperti surat Al A'raf, surat Yunus, surat Taha dan sebagainya. Tetapi Allah hendak menegaskan di sini bagaimana nasib orang-orang yang durhaka yang tidak lagi mempergunakan akal dan pikirannya sehingga tertutuplah hatinya untuk menerima kebenaran dari manapun datangnya, sehingga dia menjadi sombong dan takabur. Patutlah hal itu menjadi perhatian dan pelajaran bagi setiap orang dan setiap umat.




<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-QASHAASH>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar