Selasa, 19 Februari 2013

Al-'Ankabut 51 - 60

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-'ANKABUT>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=28
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 51 
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (51) Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.(QS. 29:51)
Ayat ini merupakan jawaban yang lain terhadap permintaan orang-orang musyrik Mekah kepada Nabi Muhammad saw untuk mendatangkan mukjizat yang nyata. Jawaban ini menolak tuntutan mereka yang meminta mukjizat yang nyata. Padahal Alquran telah dibacakan kepada mereka. Apakah tidak cukup bagi mereka dalil-dalil yang menerangkan bukti-bukti kerasulannya, memberitahukan yang. termuat dalam kitab-kitab suci yang terdahulu, sedang mereka sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti. Dalam pada itu apakah tidak terpikir oleh mereka bahwa seorang yang tidak pandai tulis baca, tidak pernab bergaul rapat apalagi belajar kepada Ahli Kitab sanggup menyampaikan -Alquran kepada mereka dengan isi yang demikian itu. Seandainya mereka mau berpikir dan menginginkan kebenaran, sebenarnya telah cukup Alquran itu saja bagi mereka untuk membenarkan kerasulanmu. 
Kemudian Allah SWT menerangkan keutamaan dan kelebihan Alquran dengan mengatakan bahwa ayat-ayatnya merupakan rahmat bagi mereka, karena di dalamnya tidak terdapat ancaman-ancaman kehancuran itu, seperti ancaman yang pernah diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, mereka pasti mengingkari juga, dan tentu mereka akan mengalami pula apa yang pernah dialami oleh orang-orang dahulu yang pernah mengingkari Rasul Nya, seperti yang pernah dialami oleh kaum `Ad, Samud, Firaun dan kaumnya yang lain. Tidak adanya ancaman kemusnahan bagi kaum musyrikin di dalam Alquran merupakan suatu rahmat Allah yang besar bagi umat Muhammad yang datang kemudian. 
Diterangkan pula bahwa ayat-ayat Alquran itu adalah pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Maksudnya ialah ayat-ayat Alquran-itu menerangkan peristiwa yang dialami umat-umat dahulu karena sikap mereka terhadap para Rasul yang diutus kepada mereka, menerangkan bukti-bukti yang kuat dan lengkap, menerangkan akhlak yang mulia yang harus dipunyai oleh seorang manusia yang baik, menerangkan hukum-hukum dan petunjuk mencapai kebahagiaan hidup, memuat pengetahuan yang sangat berguna bagi manusia, dan sebagainya. Seandainya orang-orang musyrik dan manusia yang lain mau menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai pelajaran, memikirkan serta mengamalkannya, tentulah mereka akan memperoleh jalan yang benar, mereka akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat. Tetapi jika mereka tidak mau dan tidak berniat untuk menghilangkan penyakit yang ada dalam hati mereka, tentulah mereka akan menjadi orang yang merugi di dunia dan di akhirat.


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 52 
قُلْ كَفَى بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (52) Katakanlah:` Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS. 29:52)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik yang tetap tidak percaya kepada kerasulannya: 
"Hai orang-orang musyrik, cukuplah Allah mengetahui dan menyaksikan bahwa aku telah menyampaikan tugasku kepada kamu sekalian, bahwa aku telah menyampaikan ancaman-ancaman Nya kepadamu, tetapi semuanya itu kamu ingkari, Allah mengetahui sikapmu terhadap seruanku, bahkan mengetahui isi hatimu. Dia akan memberi ganjaran setiap sesuatu yang dikerjakan oleh makhluk Nya. Seandainya aku berdusta dan mengada-adakan kebohongan terhadap Nya pasti aku akan ditimpa azab Nya, sesuai dengan firman Nya: 

ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا منه الوتين فما منكم من أحد عنه حاجزين 
Artinya: 
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (Q.S. Al Haqqah: 44-47) 
Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui segala apa yang ada di langit dan di bumi, dia mengetahui keadaan makhluk Nya sejak dari yang halus tidak kelihatan oleh mata, sampai kepada yang sebesar-besarnya. Dia mengetahui keadaan orang-orang musyrik dan keadaan orang-orang beriman., Dia mengetahui tuduhan-tuduhan orang-orang musyrik bahwa Alquran adalah buatan Muhammad, sekalipun tidak seorangpun dari mereka yang sanggup menandinginya. Orang-orang yang percaya kepada kebatilan dan mengingkari Allah itu adalah orang-orang yang merugi hidupnya di dunia dan di akhirat.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 53 
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَوْلَا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (53) Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.(QS. 29:53)
Ayat ini menerangkan bahwa kaum musyrikin telah mengetahui ancaman Tuhan berupa azab yang akan ditimpakan kepada mereka, tetapi mereka tidak percaya akan kedatangan azab itu, sehingga mereka menantang; kalau benar azab itu ada, maka hendaklah segera ditimpakan kepada mereka, seperti perkataan mereka dalam firman Allah SWT: 

فأمطر علينا حجارة من السماء أو أئتنا بعذاب أليم 
Artinya: 
Hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. Al anfal: 32) 
dan firman Allah SWT: 

ويقولون متى هذا الوعد إن كنتم صادقين 
Artinya: 
Mereka mengatakan: "Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar". (Q.S. Yunus: 48) 
Allah SWT menerangkan bahwa ketentuan datangnya azab itu seluruhnya berada di tangan-Nya, tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya. Allah SWT telah menetapkan untuk menangguhkan azab itu sampai kepada waktu yang telah ditentukan-Nya Seandainya Allah SWT tidak menetapkan waktu akan mendatangkan azab itu, tentu telah ditentukannya azab itu kepada orang-orang musyrik secara tiba-tiba, pada saat-saat mereka lengah dan tidak menyadarinya. 
Pengunduran datangnya azab kepada orang-orang kafir itu tentu ada hikmah dan tujuannya. Di antara hikmah pengunduran azab itu ialah sebagai ujian bagi manusia, siapa di antara mereka yang sabar dan siapa yang tidak. Orang yang sabar, maka ujian itu akan menambah kuat keimanannya, sedang orang yang tidak sabar, maka dengan ujian itu ia akan kembali kafir atau bertambah kekafirannya sebagaimana firman Allah SWT: 

ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلو أخباركم 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal-ikhwalmu. (Q.S. Muhammad: 31) 
Adakalanya penangguhan azab itu ialah agar orang yang ingkar itu semakin bertambah keingkarannya, sehingga mereka akan ditimpa azab yang berlipat ganda. 
Allah SWT berfirman 

الذين كفروا وصدوا عن سبيل الله زدناهم عذابا فوق العذاب بما كانوا يفسدون 
Artinya: 
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan yang disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (Q.S. An Nahl: 88) 
Dalam pada itu ada semacam azab yang telah menimpa orang-orang musyrik Mekah, tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang mereka alami itu adalah semacam azab Tuhan kepada mereka, yakni kekalahan mereka pada peperangan Badar. Dalam perang Badar itu mereka melihat dan merasakan bagaimana Allah SWT telah menimpakan azab kepada mereka. Namun demikian Allah SWT tidak menghancurkan semua orang-orang kafir dalam peperangan itu, sebagaimana terjadi pada umat-umat yang dahulu. Bagi orang yang berpikir, maka mereka akan menemukan pula kenapa Allah SWT tidak memusnahkan seluruh orang-orang kafir dalam perang Badar. Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa Allah SWT sengaja tidak menghancurkan mereka semuanya itu, karena di antara mereka masih ada orang-orang yang masih diharapkan keimanannya, sesudah peperangan itu, dan agar mereka nanti menjadi tentara Islam yang berpengalaman yang akan membawa panji-panji Islam, kemudian dilanjutkan keturunan-keturunan mereka dari suatu generasi ke generasi yang akan datang kemudian, sampai kepada waktu yang ditentukan Allah. Semuanya itu adalah sesuai dengan rencana dan kebijaksanaan Allah yang tidak diketahui oleh seorangpun, selain dari Dia sendiri.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 54 
يَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ (54) Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya Jahannam benar-benar meliputi orang-orang kafir,(QS. 29:54)
Pada ayat ini diterangkan akibat-akibat yang akan dialami oleh orang-orang musyrik karena keingkaran dan kebodohan mereka, yaitu mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, yang apinya meliputi seluruh tubuh mereka. Ayat ini merupakan peringatan keras bagi orang-orang kafir dengan menerangkan azab yang sangat, yang akan menimpa mereka di akhirat nanti. Karena tuntutan mereka agar disegerakan datangnya azab itu.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 55 
يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ وَيَقُولُ ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (55) pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka): `Rasailah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan`.(QS. 29:55)
Ayat ini menerangkan bagaimana api neraka itu meliputi orang-orang kafir di akhirat nanti. Pada hari seluruh bagian tubuh mereka akan merasakan azab, sejak dari ubun-ubun di. kepala, sampai kepada ujung-ujung jari kaki, sejak dari bagian-bagian tubuh yang kelihatan sampai ke bagian tubuh mereka yang tidak kelihatan, mereka akan diselubungi oleh azab dari segala penjuru, dari atas dan dari bawah, dari samping kanan dan dari samping kiri mereka. Dalam keadaan demikian, dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah olehmu pada hari ini azab yang dijanjikan itu, sebagai akibat perbuatan-perbuatanmu dahulu". 
Pada ayat-ayat yang lain dijelaskan bagaimana api neraka itu meliputi orang-orang kafir. Allah SWT berfirman: 

لهم من جهنم مهاد ومن فوقهم غواش 
Artinya: 
Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). (Q.S. Al A'raf: 41) 
Dan firman-Nya: 

لهم من فوقهم ظلل من النار ومن تحتهم ظلل 
Artinya: 
Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dan api). (Q.S. Az Zumar: 16)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 56 
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ (56) 
(Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja) di mana saja kalian dapat melakukannya dengan mudah, umpamanya kalian berhijrah dari suatu tempat yang kalian mendapat kesukaran untuk melakukannya, ke tempat yang kalian akan mendapat kemudahan untuk melakukannya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Muslimin Mekah yang lemah, karena mereka mendapat tekanan dari orang-orang kafir Mekah yang tidak menghendaki Islam berkembang di negerinya. 

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 56 

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ (56) Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.(QS. 29:56)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar meninggalkan tanah air mereka, seandainya di tanah air mereka itu tidak dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan agama, dan hidup dalam keadaan tertindas. Ayat ini mengandung suatu prinsip yang universal yang menyatakan bahwa bumi Allah ini, diciptakan untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan. Seseorang boleh tinggal di mana saja yang mereka ingini, apabila mereka merasa aman di tempat itu. Di tempat yang baru itu, mereka akan menemui saudara-saudara baru, keluarga-keluarga yang baru sebagai ganti dari saudara dan keluarga yang mereka tinggalkan, karena pada asasnya seluruh kaum Muslimin adalah bersaudara, saudara senasib dan seperjuangan. 
Prinsip lain yang terkandung dalam ayat ini ialah agama Islam menyuruh penganutnya agar jangan terlalu fanatik kepada tanah air dan bangsanya. Tanah air wajib dibela, dibina dan dibangun, demikian pula bangsa wajib dimajukan, tetapi janganlah sekali-kali karena terlalu mementingkan tanah air dan bangsa sendiri, berakibat merugikan negara dan bangsa lain. Seakan-akan Allah mengingatkan; bahwa alam semesta ini adalah milik Allah diciptakan untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan; karena itu gunakanlah alam ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan-Nya. Jangan sekali-kali ada yang mengaku bahwa sesuatu adalah miliknya yang mutlak, karena pemilikan seseorang atas sesuatu hanyalah sementara, dan pada saatnya milik itu akan diambil oleh-Nya kembali. 
Ungkapan kalimat ayat di atas juga mengingatkan kaum Muslimin akan luas dan banyaknya milik Allah, agar mereka melayangkan pandangan mereka jauh ke depan, dan jangan sekali-kali berpandangan sempit dan terbatas. Ungkapan itu mengingatkan kaum Muslimin agar jangan hanya melihat tempat kediaman sendiri dan jangan sekali-kali beranggapan bahwa bumi itu hanyalah terbatas pada tempat mereka saja. Anggapan yang demikian itu adalah anggapan yang salah. Bumi Allah itu adalah lebih luas dari yang mereka perkirakan semula. Kalau mereka keluar dari negeri mereka pergi menjalani negeri-negeri yang ada di dunia ini, tentulah mereka akan melihat dan memperoleh pengalaman yang pengalaman yang berharga dalam perjalanan itu, dan tentulah mereka akan memperoleh kelapangan sesudah kesempitan dan sebagainya. 
Allah SWT berfirman: 

ومن يهاجر في سبيل الله يجد في الأرض مراغما كثيرا وسعة 
Artinya 
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak (Q.S. An Nisa: 100) 
Kemudian dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda: 

البلاد بلاد الله والعباد عباد الله فحيثما أصبت خيرا فأقم 
Artinya: 
Semua negeri adalah negeri Allah, dan semua hamba adalah hamba Allah, maka di mana saja kamu mendapat kebaikan (rezeki), maka berdiamlah di sana. (H.R. Ahmad). 
Sebagaimana diterangkan di atas bahwa dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan agar hamba-hamba-Nya yang beriman berhijrah meninggalkan tanah air mereka. berarti Allah menjamin kehidupan mereka di bumi tempat mereka berhijrah itu. Melaksanakan perintah berhijrah, meninggalkan kampung halaman adalah suatu perintah yang sangat berat dilaksanakan oleh seseorang, karena dengan hijrah itu berarti ia bercerai dan meninggalkan famili dan kaum kerabatnya, ia meninggalkan rumah dan pekarangan yang telah lama dirawat dan dibinanya ia meninggalkan harta benda dan binatang ternak kesayangannya, ia akan berpisah dengan negeri dan segala isinya yang selama ini, yang seakan-akan telah bersatu dengan dirinya sebagai mana bersatunya tubuh dengan anggota-anggota tubuh lainnya. Karena itu Allah SWT menyampaikan perintah berhijrah. itu dengan nada yang lemah lembut dan halus sekali, seakan-akan diperintahkan kepada mereka; "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku, ingatlah olehmu bahwa Aku telah menciptakan bumi yang luas ini untuk kamu semua, oleh karena itu manfaatkanlah dan diami bumi itu olehmu, sebagai tamu-Ku pada banyak negeri yang lain yang lebih subur dan aman yang dapat kamu diami". 
Dalam seruan Allah SWT tergambar pula janji Allah yang dapat diharapkan oleh orang-orang yang berhijrah itu, yaitu Allah akan membalasi mereka karena kepatuhan mereka melaksanakan seruan-Nya, yaitu akan memberinya rumah-rumah yang lebih baik dari rumah yang mereka tinggalkan, akan memberikan harta yang lebih banyak berkahnya dari harta yang mereka tinggalkan. Demikian pula saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka akan diganti dengan kerabat yang lebih baik dan luhur dari saudara dan kerabat yang mereka tinggalkan selama mereka tetap menghambakan diri kepada-Nya dan melaksanakan dakwah kepada manusia. 
Nabi saw dan kaum Muslimin telah memperkenalkan panggilan suci itu. Mereka telah pergi hijrah kepada Allah baik secara perorangan maupun secara rombongan. Pertama kali mereka berhijrah ke Ethiopia (Habsyah). Di sana Allah menempatkan mereka di tempat yang mulia. Kemudian mereka berhijrah ke Madinah. yang akhir nya menjadi tempat hijrah kaum Muslimin terutama setelah Rasulullah saw berhijrah ke sana. Di Madinah orang-orang Muhajirin (kaum Muslimin yang datang dari Mekah) diterima dengan tangan terbuka dan senang hati oleh sahabat-sahabat mereka kaum Ansar (Penduduk asli Madinah) yang masuk Islam, seakan-akan kaum Muhajirin itu adalah tamu-tamu yang mereka nanti-nantikan kedatangannya selama ini. Rumah-rumah dan harta mereka dimanfaatkan bersama dengan orang Muhajiriin yang baru datang, yang tidak membawa sesuatupun dari Mekah. Bahkan terlihat kaum Ansar telah mengutamakan kaum Muhajirin dari mereka sendiri. Demikian eratnya kedua golongan itu sehingga Rasulullah menjadikan keduanya sebagai hubungan karib-kerabat, bahkan pada permulaan hijrah itu mereka dapat waris mewarisi antara mereka yang telah mengikat persaudaraan. 
Dengan kedatangan kaum Muhajirin itu kota Madinah semakin bersemarak dan berkembang telah menjadi pusat pembinaan masyarakat Islam, tempat berkumpul kaum Muslimin dari segala penjuru dan akhirnya menjadi pusat pemerintahan Islam. 
Kedua golongan Muhajirin dan Ansar dipuji Allah sebagai golongan-golongan yang menjadi dasar masyarakat Islam. Allah meninggikan kedudukan Muhajirin, karena mereka telah mengorbankan segala yang ada pada mereka, untuk kepentingan agama Allah, sedang kaum Ansar adalah penolong-penolong agama Allah. Mereka telah menyediakan apa yang ada pada mereka untuk kepentingan agama Allah. 
Semua yang dialami oleh orang-orang Muhajirin setelah sampai di Madinah dan setelah menetap dan menjadi satu dengan penduduk asli Madinah, yaitu golongan Ansar, merupakan bukti kebenaran janji Allah, kepada mereka, di waktu mereka diperintahkan hijrah ke Madinah. 
Ayat ini ditutup dengan perkataan: "karena itu hanya kepada Nyalah kamu menyembah". Kalimat ini berarti bahwa kami ini kepunyaan Allah, dan bumi Allah adalah luas sekali. Di mana saja kamu berada dan bertempat tinggal, maka tempat itu adalah milik Allah. Karena itu sepantasnyalah kamu mengesakan dan menghambakan diri kepada-Nya. 
Ayat suci di atas merupakan dakwah samawiyah kepada manusia untuk membebaskan dirinya baik fisik maupun jiwanya dari segala macam belenggu material atau spiritual yang dapat mengganggu gerak-geriknya, menghalangi kebebasannya atau menghambat keinginan dan sebagainya. 
Di dalam kehidupan mana saja dan dalam situasi apa saja, manusia tidak akan mendapatkan kebebasan. kemerdekaan. kelangsungan hidup dan kelangsungan jenisnya yang hakiki, sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, seandainya ia sendiri tidak berusaha dengan sungguh-sungguh ke arah itu. Jika mereka berusaha tentu mereka akan memperolehnya. Sebaliknya jika mereka tidak berusaha berarti mereka telah menganiaya diri mereka sendiri dan mereka tidak akan memperoleh apa yang mereka inginkan itu. 
Dakwah Islam itu adalah untuk membebaskan manusia dari penindasan dan kesesatan. Karena itu kaum Muslimin diwajibkan berjihad menentang penindasan dan kesesatan itu, dengan jalan mengorbankan harta dan jiwa mereka. Jihad yang paling tinggi nilainya dan paling utama bagi seseorang mukmin ialah jihad yang dilakukan oleh mereka untuk membebaskan diri sendiri dari penindasan dan kesesatan, sesudah itu barulah dihadapkan kepada orang lain. Seorang mukmin harus membebaskan diri dari segala belenggu kerendahan dan penghinaan karena itu ia harus memberantas kedua penyakit itu. Allah SWT berfirman: 

إن الذين توفهم الملائكة ظالمي أنفسهم قالوا فيما كنتم قالوا كنا مستضعفين في الأرض قالوا ألم تكن أرض الله واسعة فتهاجروا فيها فأولئك مأواهم جهنم وساءت مصيرا 
Artinya: 
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukanlah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempatnya ialah neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuh-buruk tempat kembali. (Q.S. An Nisa: 97) 
Pada ayat di atas Allah SWT menjanjikan azab yang sangat di akhirat nanti, kepada orang-orang yang hina dan lemah itu, karena mereka telah merendahkan agama dan meremehkan budi pekerti yang luhur dengan merendahkan diri kepada orang-orang kafir. Mereka tidak ubahnya seperti barang dagangan yang berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Mereka tidak sanggup menyatakan kehendak dan keinginan mereka, apalagi dakwah ke jalan kebaikan. Karena itu dakwah Islam itu ditujukan secara seutuhnya, untuk pembebasan manusia, untuk perkembangan akal, untuk menghilangkan segala macam tekanan pada hati dan jiwa, sebagaimana dakwah itu ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan adanya manusia, sebagai makhluk yang diciptakan untuk beribadat kepada-Nya. 
Keadaan manusia itu bebas seratus persen dari pengaruh masyarakat sekitarnya. sehingga ia tidak mendapat kelaliman dari kelompoknya. Sekalipun demikian ia masih menjadi tawanan dari hawa nafsunya dan diperbudak oleh kehendak dan keinginannya. Orang seperti itu berarti tidak mempunyai kebebasan hidup sama sekali. Karena itu pertama sekali manusia harus berjihad melawan hawa nafsunya, hawa nafsu yang selalu menggoda dan menguasainya. Sebagai yang dimaksud oleh Nabi saw dalam suatu hadis yang diucapkannya, ketika beliau menyambut sebuah pasukan yang kembali dari suatu peperangan. beliau berkata: 

رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قالوا: يا رسول الله وما الجهاد الأكبر. قال: جهاد النفس. 
Artinya: 
"Kamu telah kembali dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang lebih besar". Para sahabat bertanya "Ya, Rasulullah, apakah jihad yang lebih besar itu?". Beliau menjawab "Jihad memerangi hawa nafsu".

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 57 
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (57) 
Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya dengan menerangkan hakikat kehidupan manusia itu sendiri. Diterangkan bahwa tiap-tiap manusia pasti akan mati dan setelah mati. ia akan kembali kepada pemiliknya, yaitu Tuhan seru sekalian alam. Pada saat ia akan dibangkitkan kembali di akhirat. sejak itulah manusia akan mengalami kehidupan yang sebenarnya. Corak kehidupan yang sebenarnya itu ditentukan oleh keadaan dan tindak-tinduk seseorang selama hidup di dunia. Jikalau seseorang yang mukmin, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang abadi, sedang jika ia kafir ia akan mengalami azab yang pedih dan Allah. 
Ayat ini telah disebut pula pada ayat 185 surat Ali-Imran, tapi di sini diulangi lagi dengan maksud agar kaum Muslimin jangan terlalu terpikat dan terpesona oleh kehidupan dunia yang fana ini. semuanya itu merupakan kesenangan yang akan berakhir. Hubungan manusia dengan semua yang dimilikinya itu lambat laun akan habis. Janganlah sampai kecintaan seseorang kepada sesuatu menghalanginya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena sesuatu itu bersifat sementara yang kekal hanyalah hasil ibadat dan amal saleh seseorang, berupa rida dan surga yang dijanjikan-Nya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 57 
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (57) Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.(QS. 29:57)
(Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kalian dikembalikan) sesudah kalian dibangkitkan, lafal turja'uuna dapat pula dibaca yurja'uuna.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 58 - 59 
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (58) الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (59) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,(QS. 29:58)
Ayat ini menerangkan ganjaran yang akan diperoleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, karena mereka telah berhijrah untuk kepentingan agama-Nya. Mereka lari dari orang-orang yang memperserikatkan Allah dan telah berani menanggung segala resiko akibat dari berhijrah itu. 
Janji Allah SWT itu ialah memberi ganjaran orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan surga yang penuh kenikmatan. Di dalamnya terdapat taman-taman yang indah dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalam surga itu selama-lamanya. 
Mengenai gambaran surga itu, diterangkan oleh hadis Nabi, beliau bersabda: 

أهل الجنة ليتراءون أهل الغرف من فوقهم كما تراءون الكواكب الدري من الأفق من المشرق أو المغرب لتفاضل بينهم. قالوا: يا رسول الله تلك منازل الأنبياء لا يبلغها غيرهم. قال: بلى والذي نفسي بيده رجال آمنوا بالله وصدقوا المرسلين 
Artinya: 
Sesungguhnya penghuni surga akan melihat penghuni tempat yang tinggi di atas mereka, seperti mereka melihat bintang-bintang gemerlapan yang lewat di ufuk, baik dari timur maupun dari barat, karena keimanan yang ada pada mereka. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, itu adalah tempat-tempat para Nabi, manusia yang lain tidak akan sampai kepadanya". Rasulullah menjawab: "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, itu adalah tempat-tempat mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul". (H.R. Muslim). 
Pada hadis yang lain Nabi bersabda: 

إن في الجنة لغرفا يرى ظهورها من بطونها ويرى بطونها من ظهورها. فقام عليه أعرابي فقال: لمن هو يا رسول الله? قال: لمن أطاب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى لله بالليل والناس نيام. 
Artinya: 
Sesungguhnya di dalam surga ada tempat-tempat yang tinggi. di belakangnya dapat dilihat tembus dari hadapan-nya dan hadapannya dapat dilihat tembus dari belakangnya". Lalu seseorang Arab Badui berdiri dan bertanya: "Untuk siapa tempat-tempat itu Ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab: "Tempat-tempat itu untuk orang-orang yang baik perkataannya, memberi makan (orang miskin), selalu berpuasa dan salat karena Allah di malam hari sedang orang lain tidur". (H.R. tirmizi). 
Demikianlah surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, bersabar dan bertawakal kepada-Nya. 
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah berjanji akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang beriman. Janji Allah itu dikuatkan dengan kalimat sumpah. Hal ini adalah untuk menenteramkan hati kaum Muslimin, agar langkah mereka tetap dalam menempuh jalan yang lurus dan sulit, seperti berhijrah dan sebagainya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 58 
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (58) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,(QS. 29:58)  (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.(QS. 29:59)
(Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka) akan diberi tempat tinggal. Menurut qiraat yang lain lafal lanubawwiannahum dibaca lanutsawwiannahum dengan memakai huruf tsa sebagai ganti huruf ba, karena berasal dari kata ats-tsawa yang artinya tempat bermukim, yang menjadi maf`ulnya adalah lafal ghurafan dengan membuang huruf fi (pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal) mereka ditakdirkan hidup kekal (di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal) imbalan yang terbaik.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 60 
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (60) Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 29:60)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw berkata kepada orang-orang yang beriman di Mekah, ketika orang-orang musyrik menyiksa mereka: "Keluarlah kamu sekalian dan berhijrahlah jangan bertetangga dengan orang yang zalim itu". Orang-orang mukmin menjawab: "Ya Rasulullah, di sana kami tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai harta yang dimiliki, tidak ada orang yang akan memberi makan dan tidak ada orang yang akan memberi minum". Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban kekhawatiran orang-orang mukmin itu. 
Ayat ini turun untuk menenteramkan hati orang-orang yang beriman yang memperkenankan seruan Rasulullah saw untuk berhijrah, baik mereka yang telah berhijrah, maupun kaum Muslimin yang sedang bersiap-siap untuk berhijrah, seakan-akan Allah SWT mengatakan: "Hai orang-orang yang beriman, tantanglah musuh-musuh Allah itu. Janganlah sekali-kali kamu takut kepada kepapaan dan kemiskinan karena betapa banyaknya binatang melata yang tidak sanggup mengumpulkan makanan setiap hari untuk keperluannya, tetapi Allah tetap memberinya rezeki. Maka kamu wahai orang-orang yang beriman, jauh lebih baik dari binatang dan lebih pandai mencari makan, kenapa kamu khawatir tidak akan mendapat makanan. Walaupun kamu berhijrah tanpa membawa sesuatu, tetapi Allah pasti memberimu rezeki. Allah Maha Mendengar segala macam doa, mengetahui segala rupa keadaan hamba-hamba Nya. 
Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mahkluk-Nya sedikiptun. Dia mengemukakan suatu perumpamaan yang sudah ditangkap pengertiannya oleh kaum Muslimin, seperti anak-anak binatang yang tidak sanggup mencari makanannya sendiri. Allah telah menjadikan induknya sayang kepadanya, sehingga mereka bersedia berusaha dan bersusah payah mencarikan makanan bagi anaknya itu. Kemudian menyuapkan ke dalam mulut anak-anaknya itu, seperti burung dan sebagainya. Ada pula binatang yang memberi makan anaknya telah tersedia pada ibunya sendiri seperti susu yang terdapat pada binatang-binatang menyusui. Semuanya itu merupakan ketentuan yang rapi dari Allah, sehingga dengan demikian setiap makhluk yang ada ini mempertahankan jenis dan kelangsungan hidupnya. 
Demikian pula halnya manusia, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tinggal di tempat yang subur, dan ada pula yang tinggal di tempat yang tandus, semuanya diberi. rezeki oleh Allah, sesuai dengan keperluan mereka. Inilah yang dimaksud dengan ayat. Allah memberikan kepadanya dan kepadamu. Sebagaimana binatang yang tidak berakal diberi rezeki, begitu pula kamu diberi rezeki, hai para Muhajirin, sekalipun harta bendamu tertinggal di Mekah, dan mata pencaharianmu terputus. 
Allah SWT berfirman: 

وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها كل في كتب مبين 
Artinya: 
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Q.S. Hud: 6) 
Kemudian ayat ini ditutup dengan menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar apa yang kamu minta dan Dia Maha Mengetahui semua keperluanmu. 
Dari ayat-ayat di atas dipahami bahwa manusia itu tidak mengetahui dengan pasti apa-apa yang dilakukannya, ada yang diketahuinya dan ada pula yang tidak diketahuinya. Ia hanya mengetahui keperluan-keperluannya yang lahir saja, sedang keperluan-keperluannya yang batin dan keperluan-keperluannya yang lain banyak yang tidak diketahuinya, seperti keperluan akan udara yang harus ia hirup sehari-hari, keperluan air, keperluan batinnya dan sebagainya. Karena itu manusia meminta kepada Tuhan hanya keperluan-keperluan dirinya yang diketahuinya saja sedang keperluan-keperluan yang tidak diketahuinya tidak dimintanya. Bahkan orang-orang yang tidak mengetahui adanya Tuhan tidak pernah meminta keperluan-keperluannya kepada Tuhan yang menciptakannya, namun semua keperluan itu dicukupi dan dilengkapi Allah SWT kepada makhluk-Nya. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 60 
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (60) 
(Dan berapa banyak) alangkah banyaknya (binatang yang tidak dapat membawa rezekinya sendiri) karena lemah. (Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian) hai orang-orang Muhajirin, sekalipun kalian tidak membawa bekal dan pula tidak membawa nafkah (dan Dia Maha Mendengar) perkataan-perkataan kalian (lagi Maha Mengetahui) apa yang terpendam di dalam hati kalian.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-'ANKABUT>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar