Minggu, 09 September 2012

Al-Furqaan 21-30

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-FURQAAN>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=25
Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan (nya) dengan Kami:` Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita? `Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman.(QS. 25:21)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 21 
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا (21) 
Orang-orang yang mengingkari dan tidak percaya hari kebangkitan pada Hari Kiamat bahwa mereka akan dihadapkan ke hadirat Allah untuk diadili segala amal perbuatannya di dunia, mereka berkata dengan penuh kesombongan: "Mengapa tidak diturunkan kepada kita malaikat yang menjadi saksi atas kebenaran Muhammad, sehingga dapat menghilangkan keragu-raguan kita tentang kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya atau jika hal itu sulit untuk dilaksanakan, mengapa kita tidak langsung saja melihat Tuhan kita yang dengan nyata menerangkan kepada kita bahwa Muhammad itu benar-benar diutus oleh-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan, dan jika yang demikian itu dilaksanakan, niscaya kita semuanya akan beriman kepada Muhammad". Mereka mengucapkan yang demikian itu tidak lain hanyalah karena kesombongan mereka sendiri, dan karena kelaliman mereka dengan mendustakan seorang utusan Allah. Mereka sama sekali tidak menghiraukan mukjizat besar dan nyata yang telah dikemukakan oleh Rasulullah saw kepada mereka, dan setiap orang yang berakal sehat pasti tercengang mendengar ucapan-ucapan mereka itu dan menilainya seperti ucapan orang yang sinting sebagaimana tercantum dalam firman Allah: 
أم تأمرهم أحلامهم بهذا أم هم قوم طاغون 
Artinya: 
Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?. (Q.S. At Tur: 32) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 21 
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا (21) 
(Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya dengan Kami,) yakni orang-orang yang tidak takut kepada adanya hari berbangkit dan hari pembalasan ("Mengapakah tidak) (diturunkan kepada kita malaikat) yang menjadi Rasul-rasul kepada kita (atau mengapa kita tidak melihat Rabb kita?") kemudian kita diberi tahu, bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya. Lalu Allah berfirman, ("Sesungguhnya mereka memandang besar) merasa besar (tentang diri mereka dan mereka telah melampaui batas) berlaku sangat kurang ajar (dengan kelewat batas yang sangat besar) disebabkan mereka berani meminta melihat Allah swt. di dunia. Lafal 'Atauw dengan memakai huruf Wau sesuai dengan kata asalnya, berbeda dengan lafal 'Ataa yang huruf akhirnya telah diganti menjadi Ya, seperti dalam surah Maryam.

Pada hari mereka melihat-malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata:` Hijraan mahjuura `(QS. 25:22)

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا (22) 
Pada hari orang-orang kafir itu melihat malaikat maka pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa, ketika mereka berkata: "hijran mahjura", yang artinya diharamkan kepada kamu menerima kabar baik yaitu akan dapat ampunan atau masuk surga, karena keduanya itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya". Kemudian Allah SWT menjelaskan sebab-sebab kemalangan dan kerugian orang kafir itu pada ayat berikutnya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 22 
يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا (22) 
(Pada hari mereka melihat Malaikat) di antara makhluk-makhluk Allah yang lainnya, yaitu pada hari kiamat. Lafal Yauma dinashabkan oleh lafal Udzkur, yang keberadaannya diperkirakan sebelumnya; maksudnya, ingatlah pada hari mereka melihat Malaikat (di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa) yakni orang-orang kafir, berbeda keadaannya dengan orang-orang Mukmin, bagi mereka kabar gembira yaitu mendapatkan surga (dan mereka berkata: 'Hijran mahjuuran'") sebagaimana kebiasaan mereka di dunia apabila mereka tertimpa kesengsaraan, artinya: lindungilah kami di tempat perlindungan. Mereka pada hari itu meminta perlindungan kepada Malaikat. Kemudian Allah berfirman,

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.(QS. 25:23)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا (23) 
Allah akan memperlihatkan segala kebaikan yang pernah dikerjakan orang kafir selama hidup di dunia seperti; menghubungkan silaturahmi, menolong orang yang menderita, memberikan derma untuk meringankan bencana alam, memberi bantuan kepada rumah sakit, yatim piatu, membebaskan atau menebus orang-orang tawanan dan sebagainya. Kebaikan-kebaikan itu walaupun besarnya laksana gunung, mereka hanya dapat melihat saja, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan di angkasa. Mereka sedikitpun tidak dapat mengambil manfaat darinya, sehingga mereka duduk termenung penuh dengan penyesalan. Itulah yang mereka rasakan sebagai akibat kekafiran dan kesombongan mereka. Jauh berbeda sekali dengan nasib orang-orang yang beriman.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 23 
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا (23) 
("Dan Kami hadapi) kami hadapkan (segala amal yang mereka kerjakan) amal kebaikan seperti sedekah, menghubungkan silaturahmi, menjamu tamu dan menolong orang yang memerlukan pertolongan sewaktu di dunia (lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.") amal perbuatan mereka tidak bermanfaat sama sekali pada hari itu, tidak ada pahalanya sebab syaratnya tak terpenuhi, yaitu iman, akan tetapi mereka telah mendapatkan balasannya selagi mereka di dunia.

Penghuni-penghuni syurga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.(QS. 25:24)

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا (24) 
Kaum mukmin penghuni surga, pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dibanding dengan tempat kediaman kaum musyrikin di dunia yang oleh mereka selalu dijadikan kemegahan dan kemewahan. Tempat kediaman ahli surga, adalah merupakan tempat istirahat yang paling indah. Kenikmatan di dunia hanya sebentar dapat dirasakan yaitu selama hidup saja dan kesenangannyapun hanya memperdayakan belaka, seperti tersebut dalam firman Allah SWT: 

كل نفس ذائقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور 
Artinya: 
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Q.S. Ali Imran: 185) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 24 
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا (24) 
(Penghuni-penghuni surga pada hari itu) di hari kiamat (paling baik tempat tinggalnya) lebih baik daripada tempat tinggal orang-orang kafir sewaktu di dunia (dan paling indah tempat istirahatnya) lebih indah daripada tempat istirahat mereka sewaktu di dunia. Lafal Maqiila artinya tempat untuk beristirahat di tengah hari yang panas. Kemudian dari pengertian ini dapat diambil kesimpulan makna tentang selesainya masa perhitungan amal perbuatan, yaitu di waktu tengah hari, hanya memakan waktu setengah hari, seperti yang telah disebutkan di dalam hadis.

Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang.(QS. 25:25)

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنْزِيلًا (25) 
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Muhammad supaya memberi peringatan kepada kaumnya tentang kedahsyatan hari kiamat, di mana langit akan pecah, dan semua benda angkasa yang berada di dalamnya akan hancur bagaikan kabut yang beterbangan, akibat benturan planet-planet dan bintang-bintang yang tidak berjalan lagi menurut ketentuan orbitnya masing-masing, sebagaimana dalam firman Allah: 

وفتحت السماء فكانت أبوابا وسيرت الجبال فكانت سرابا 
Artinya: 
Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. (Q.S. An Naba: 19-20) 
Dan seperti firman Allah: 

إذا الشمس كورت وإذا النجوم انكدرت وإذا الجبال سيرت .... .... علمت نفس ما أحضرت 
Artinya: 
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan .. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. (Q.S. At Takwir: 1,2,3 dan 14) 
Maka pada hari yang dahsyat itu diturunkanlah malaikat secara bergelombang sambil membawa kitab-kitab yang berisi catatan semua amal hamba-hamba Allah yang mereka saksikan ketika mereka masih hidup di dunia untuk dijadikan bahan bukti ketika diadili Allah di padang mahsyar. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 25 
وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنْزِيلًا (25) 
(Dan ingatlah di hari ketika langit pecah) yaitu semua langit (mengeluarkan kabut) seraya mengeluarkan kabut yang berwarna putih (dan diturunkan Malaikat) dari setiap lapisan langit (bergelombang-gelombang) pada hari kiamat itu. Dinashabkannya lafal Yauma karena pada sebelumnya diperkirakan ada lafal Udzkur. Menurut qiraat yang lain lafal Tasyaqqaqu dibaca Tasysyaqqaqu dengan ditasydidkannya huruf Syin yang diambil dari asal kata Tatasyaqqaqu. Kemudian huruf Ta yang kedua diganti menjadi Syin lalu diidgamkan kepada Syin yang kedua sehingga menjadi Tasysyaqqaqu. Sedangkan menurut qiraat yang lainnya lagi lafal Nuzzila dibaca Nunzilu dan lafal Al Malaaikatu dibaca Al Malaaikata, sehingga bacaan lengkapnya menurut qiraat ini menjadi Nunzilul Malaaikata, artinya, Kami menurunkan Malaikat-malaikat.

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.(QS. 25:26)

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا (26) 
Kerajaan yang hak pada hari kiamat itu adalah kepunyaan Allah Yang Maha Pemurah. Dia-lah Yang mempunyai kekuasaan yang menentukan yang akan mengadili sekalian hamba-Nya dengan penuh keadilan dan memperlakukan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kasih sayang. Pada hari itu terasa benar akibat kekafiran dan keingkaran orang-orang musyirikin, yaitu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir, karena tidak ada yang memberi syafaat atau pertolongan kepada mereka yang telah putus asa itu. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 26 
الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا (26) 
(Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Allah Yang Maha Pemurah) tiada seorang pun yang menyaingi-Nya dalam hal ini. (Dan adalah) hari itu (satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir) berbeda dengan keadaan orang-orang yang beriman.

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata:` Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. `(QS. 25:27)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 27
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27)
Pada hari itu orang-orang yang zalim akan menggigit jari mereka dengan penuh penyesalan karena telah melalaikan kewajiban-kewajibannya selama hidup di dunia, dan dengan sombong, mereka telah berpaling dari kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah kepada mereka. Mereka menangis tersedu-sedu mengharapkan kiranya dulu ketika hidup di dunia mereka mengikuti ajakan Rasulullah kepada jalan yang lurus yang membawa keselamatan dunia dan akhirat. Mereka berkata dengan penuh penyesalan: "Kiranya aku di dunia mengikuti Muhammad, aduhai kiranya dulu aku bersama-sama beliau mengambil jalan yang benar. Aduhai, kiranya aku dulu dapat menahan kesombongan sehingga dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam". Hanya sayang keluhan itu tidak berguna lagi. Dan mereka mengeluh pula karena keliru mencari kawan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 27
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27)
(Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim) orang musyrik, yaitu Uqbah bin Mu'ith yang pernah membaca dua kalimat syahadat, kemudian ia menjadi murtad demi mengambil hati Ubay bin Khalaf (menggigit dua tangannya) karena menyesal dan kecewa, di hari kiamat (seraya berkata, "Aduhai!) huruf Ya menunjukkan makna penyesalan (Kiranya dahulu aku mengambil bersama Rasul) yakni Nabi Muhammad (jalan) petunjuk.

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku).(QS. 25:28)

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) 
Inilah kecelakaan yang besar pula. Kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku yang telah menjerumuskan aku ke dalam kesesatan". Memang yang menjerumuskan manusia ke dalam kecelakaan dan kesesatan itu ada kalanya setan sendiri atau setan yang berbentuk manusia, seperti seorang musyrik Arab yang bernama Ubay bin Khalaf. 
Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa seorang yang bernama 'Uqbah bin Abu Mu'it sering duduk menghadiri pengajian Nabi Muhammad saw, sehingga karena dipandang sebagai kenalannya, maka pada suatu hari ia mengundang Nabi saw makan di rumahnya. Setelah makanan disiapkan, Nabi saw tidak mau makan, melainkan setelah tuan rumah mengucapkan dua kalimat syahadat. Maka 'Uqbah mengucapkan kalimat syahadat, dan pada hari itu ia sudah dipandang memeluk agama Islam. 
Berita tentang 'Uqbah masuk Islam itu setelah sampai kepada Ubay bin Khalaf teman akrabnya membangkitkan kemarahannya, sampai ia berkata kepada 'Uqbah: "Apa betul engkau telah meninggalkan agama nenek moyangmu dan memeluk agama Muhammad?" Uqbah menjawab: "Demi Allah, tidak. Muhammad hanya datang ke rumahku. Aku sodorkan makanan kepadanya, tetapi ia tidak mau makan kecuali bila aku sudah mengucapkan dua kalimah syahadat. Oleh karena aku malu, jika ada tamu tidak mau makan makananku, maka aku mengucapkan dua kalimat syahadat itu, dan sekali-kali bukan dengan maksud masuk Islam". Ubay bin Khalaf berkata: "Jika benar ucapanmu itu, bahwa kamu hanya berpura-pura saja, maka saya tidak suka bersahabat lagi dengan kamu kecuali kamu harus berani menginjak Muhammad dan meludahi wajahnya". Pada suatu hari Uqbah menjumpai Muhammad saw sedang salat di Darun Nadwah, dekat Baitullah, lalu dikerjakan perbuatannya yang terkutuk itu dan Nabi saw berkata: "Awas hai Uqbah, bila aku menjumpai nanti di luar kota Mekah, Insya Allah pasti aku akan memukulmu dengan pedang pada lehermu". Maka pada waktu perang Badar Uqbah ditawan dan Nabi menyuruh Ali bin Abu Talib memotong lehernya. Itulah akibat yang diderita oleh Uqbah bin Abu Mu'it, karena murtadnya dan perbuatannya yang sangat terkutuk terhadap Nabi ketika beliau sedang salat di muka Baitullah itu. Pantaslah jika ia pada hari kiamat nanti mengeluarkan keluhannya yang penuh dengan penyesalan itu. 
Adapun nasib yang menimpa Ubay bin Khalaf, ialah ketika terjadi perang Uhud, Nabi saw melemparkan sebuah tombak kepadanya yang tepat mengenai tenggorokannya. Ia tidak banyak mengeluarkan darah, karena darahnya terbendung dalam kerongkongannya. Ia hanya meraung-raung saja menderita kesakitan, sehingga dengan cara sempoyongan ia kembali kepada kaumnya, yang tidak dapat menolong lagi dan iapun mati beberapa hari kemudian dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Oleh karena itu Nabi saw memberi pedoman supaya selalu mencari sahabat atau teman yang akrab yang baik. Sabda beliau: 

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل. 
Artinya: 
Manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar bersama teman se agamanya. Oleh karena itu, perhatikanlah olehmu siapa yang dijadikan teman akrabmu itu. (H.R. Abu Daud dan Tirmizi) 
Dan sabda Rasulullah saw: 

لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقي 
Artinya: 
Jangan bersahabat melainkan dengan orang yang beriman, dan jangan memakan hidanganmu melainkan orang yang bertakwa. (H.R. Abu Daud dan Tirmizi) 
Dan Sabda Rasulullah saw: 

إنما مثل الجليس الصالح وجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد منه ريحا منتنة 
Artinya: 
Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang jahat, ialah seperti pembawa minyak kasturi dan pandai besi. Pembawa minyak kasturi itu adakalanya kamu menerima atau membeli minyak daripadanya. Dan paling sedikit kamu mendapatkan bau harum daripadanya. Adapun pandai besi kadang-kadang ia membakar pakaianmu karena semburan apinya atau paling sedikit kamu menjumpai bau keringatnya yang busuk". (H.R. Syaikhani dari Abu Musa Al Asy'ari) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 28 
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) 
(Kecelakaan besar bagiku) huruf Alif dari lafal Yaa Wailataa merupakan pergantian Ya Idhafah, asalnya adalah Yaa Wailatii maknanya alangkah binasanya aku (kiranya aku dahulu tidak menjadikan si Polan itu) yakni Ubay bin Khalaf yang dijilatnya tadi (teman akrab).

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al quran ketika Al quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.(QS. 25:29)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 29
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)
Orang-orang kafir itu berkata: "Si Fulan itu telah menyesatkan aku dari ajaran Alquran dan dari beriman kepada Muhammad setelah petunjuk itu datang kepadaku. Dan adalah kebiasaan setan itu menipu manusia dan memalingkannya dari kebenaran dan tidak mau menolong manusia yang telah disesatkannya itu.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 29
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)
(Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan) Alquran (sesudah peringatan itu datang kepadaku") karena dialah yang menjadikan aku murtad dan tidak beriman lagi kepada Alquran. Kemudian Allah berfirman, ("Dan adalah setan itu terhadap manusia) yang kafir (selalu membuat kecewa.") karena ia akan meninggalkannya begitu saja, cuci tangan bilamana manusia tertimpa malapetaka.

Berkatalah Rasul:` Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al quran ini suatu yang tidak diacuhkan `.(QS. 25:30)

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (30) 
. Rasulullah saw berkata, seraya mengadu kepada Allah SWT: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku yang aku diutus untuk mengajak mereka kepada ketauhidan menjadikan Alquran ini sesuatu yang tidak dihiraukan lagi. Mereka tidak beriman kepadanya, tidak memperhatikan janjinya dan peringatan-peringatannya: Bahkan berpaling dari mendengarnya dan mengikutinya. Kemudian Allah menyuruh Rasul-Nya berlaku sabar menghadapi persoalan-persoalan yang berat itu. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 30 
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (30) 
(Berkatalah Rasul) Nabi Muhammad, ("Ya Rabbku! Sesungguhnya kaumku) kabilah Quraisy (menjadikan Alquran ini suatu yang diasingkan") ditinggal begitu saja. Maka Allah swt. berfirman,

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-FURQAAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar