Minggu, 09 September 2012

Al-Furqaan 41-50

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-FURQAAN>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=25
Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan):` Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?(QS. 25:41)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 41 
وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا (41) 
Pada ayat ini Allah SWT menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa orang kafir selalu mengejeknya, dengan mengatakan: "Apakah ini orang yang diutus sebagai Rasul?".

Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah) nya `. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.(QS. 25:42)

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا (42) 
Orang musyrik mengatakan: "Hampir saja Muhammad menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak tekun dan sabar menyembahnya". Ucapan mereka itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw telah menyampaikan dakwahnya dengan sungguh-sungguh disertai dengan hujah-hujah yang nyata dengan memperhatikan pula mukjizat-mukjizat sehingga mereka hampir-hampir meninggalkan agama nenek moyangnya dan memasuki agama Islam seandainya mereka tidak terlalu fanatik dan memegang teguh agama nenek moyangnya. Ucapan mereka itu menunjukkan pula adanya pertentangan yang hebat dalam hati sanubari mereka, dari satu sudut mereka mencemoohkan Nabi dan dari sudut lain mereka merasa khawatir akan terpengaruh oleh dakwah Nabi yang sangat kuat dan logis itu. Kemudian Allah menerangkan bahwa mereka akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang sesat jalannya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 42 
إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا (42) 
(Sesungguhnya) lafal In adalah bentuk Takhfif dari lafal Inna, sedangkan isimnya tidak disebutkan, jadi bentuk lengkapnya adalah Innahuu, artinya, sesungguhnya ia (hampirlah ia menyesatkan kita) memalingkan diri kita (dari sesembahan-sesembahan kita, seandainya kita tidak sabar menyembahnya.") niscaya kita dapat dipalingkan dari sesembahan-sesembahan kita olehnya. Maka Allah berfirman, ("Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab) secara terang-terangan kelak di akhirat (siapa yang paling sesat jalannya") yang paling keliru tuntunannya, apakah mereka ataukah orang-orang yang beriman?

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,(QS. 25:43)

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43) 
Pada ayat ini Allah mencela orang-orang kafir Mekah yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahan dan menaati hawa nafsu sehingga dijadikan landasan untuk semua urusan agamanya, mereka tidak mendengarkan hujah yang nyata, dan penjelasan-penjelasan yang terang. Allah menasihatkan supaya Muhammad tidak terlalu memikirkan mereka, karena beliau tidak ditugaskan untuk menyadarkan mereka beriman selamanya, mereka tidak mau melepaskan dari belenggu hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk kepada kebenaran. Allah mengatakan bahwa Muhammad tidak menjadi pemelihara dan penjamin bagi mereka? Karena kewajibannya hanya menyampaikan risalah saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah: 

لست عليهم بمسيطر 
Artinya: 
"Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka". (Q.S. Al Gasiah: 22) 
Berkata Ibnu Abbas r.a: "Seorang laki-laki di zaman Jahiliah pernah menyembah batu yang putih selama beberapa masa; apabila dia melihat yang lain yang lebih baik, lalu ia meninggalkan batu putih itu dan memilih sembahan kedua yang lebih baik menurut ukuran hawa nafsunya, sehubungan dengan itu turunlah ayat ini". 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 43 
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43) 
(Terangkanlah kepadaku) ceritakanlah kepada-Ku (tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) maksudnya orang-orang yang menurutkan hawa nafsunya; dalam ungkapan ayat ini Maf'ul kedua didahulukan mengingat kedudukannya yang penting, yaitu lafal Ilaahahu. Sedangkan jumlah Manittakhadza Hawaahu adalah Maf'ul Awwal dari lafal Ara-aita, dan Maf'ul yang kedua adalah lafal Ilaahahu yang didahulukan tadi. (Maka apakah kamu dapat menjadi pemeliharanya?) yang dapat memelihara dia untuk tidak mengikuti hawa nafsunya? Tentu saja tidak.

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).(QS. 25:44)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا (44) 
Pada ayat ini Allah menasihati Nabi Muhammad supaya jangan menganggap bahwa kebanyakan orang-orang musyrik mendengarkan ayat yang dibacakan kepadanya atau mereka memahami kebenaran yang terkandung dalam ayat itu sehingga mereka dapat mengamalkan petunjuknya untuk melakukan amal saleh dan memperbaiki akhlak kelakuannya. Allah SWT menasihati yang demikian karena mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. Jika diadakan perbandingan antara mereka dengan binatang ternak, maka binatang ini suka tunduk kepada majikannya, yang dirasakan mencintainya, tahu siapa yang berbuat kebaikan dan siapa yang berbuat kejahatan kepadanya, dapat mencari sendiri tempat di mana ada rumput makanannya dan air minumannya, dan jika menghadapi malam hari tahu kembali ke tempat kembalinya dan tempat penginapannya, berbeda sekali dengan hal ihwal kaum musyrikin itu sendiri. Mereka tidak mau mengenal Pencipta dan Pemberi rezeki, mereka tidak merasakan berbagai-bagai nikmat yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. Mereka tidak merasa tertipu oleh setan, yang selalu memandang baik bujukan hawa nafsunya. Kebodohan binatang ternak terbatas hanya pada dirinya sendiri, akan tetapi kebodohan mereka menjalar sampai menimbulkan berbagai-bagai fitnah dan kebinasaan dan menghalang-halangi orang lain dari jalan kebenaran, sampai menimbulkan perpecahan dan peperangan di antara sesama manusia. Walaupun binatang itu tidak mengetahui tentang ketauhidan dan kenabian, namun mereka tidak menentangnya, berlainan dengan mereka itu, yang mengingkari ketauhidan karena kesombongan dan kefanatikan terhadap ajaran yang salah yang diwarisi dari nenek moyangnya. Binatang ternak itu tidak menyia-nyiakan instink yang dikaruniakan Allah kepadanya, berlainan sekali dengan kaum musyrikin. Mereka dianugerahi akal yang sehat, dengan naluri yang baik sejak kelahiran, akan tetapi mereka menyia-nyiakan akal yang sehat itu yang telah dijadikan fitrah Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia. 
Di dalam ayat disebutkan bahwa sebagian besar mereka tidak mendengar atau memahami kebenaran; memang ada pula sebagian kecil di antara mereka yang mengakui kebenaran tetapi tidak sanggup mengikutinya karena khawatir akan hilang kedudukannya.

Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,(QS. 25:45)

أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا (45) 
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya memperhatikan ciptaan-Nya bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dari tiap-tiap benda yang kena sinar matahari. mulai terbit sampai terbenamnya. Sengaja Allah menjadikan panas dari teriknya matahari. Kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Biasanya Allah SWT membiarkan bayang-bayang itu memanjang atau memendek untuk dipergunakan manusia mengukur waktu seperti di Mesir mempergunakan alat yang diberi nama "Al Misallat" untuk mengukur waktu pada siang hari dan menentukan musim-musim selama setahun, hal mana sudah berjalan sejak dahulu kala, dan bangsa Arabpun telah mempergunakan alat yang diberi nama "Al Misawil" untuk menentukan waktu salat dengan bayang-bayang sehingga mereka dapat memastikan tibanya waktu Zuhur bila bayangan jarumnya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu Asar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya, kecuali menurut pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa bayangan itu harus dua kali dari panjang benda itu sendiri. Jadi jelas bahwa menurut ayat ini Allah SWT menjadikan bayang-bayang matahari sebagai petunjuk waktu.

kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan.(QS. 25:46)

ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا (46) 
Kemudian Allah hapuskan bayang-bayang itu dengan perlahan-lahan sesuai dengan terbenamnya matahari sedikit demi sedikit.

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.(QS. 25:47)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا (47) 
Kemudian Allah menyebutkan kekuasaan-Nya yang kedua ialah bahwa Dia menjadikan malam itu bagi manusia bermanfaat seperti manfaatnya pakaian yang menutup badan dan tidur seperti mati, karena seseorang di waktu tidur tidak sadar sama sekali, dan anggota badannya berhenti bekerja dengan demikian dia mendapat istirahat yang sempurna seperti dalam firman-Nya: 

وهو الذي يتوفاكم بالليل 
Artinya: 
Dan Dia lah yang menidurkan kamu di malam hari. (Q.S. Al An'am: 60) 
Dan firman-Nya: 

الله يتوفى الأنفس حين موتها والتي لم تمت في منامها 
Artinya: 
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. (Q.S. Az zumar: 42) 
Allah menjadikan siang untuk berusaha. Maka sebagaimana manusia tidur di malam hari untuk istirahat, yang tidurnya itu diserupakan dengan mati, lalu ia bangun berusaha pada siang hari, laksana seorang yang bangun lagi dari matinya, maka demikian pula seluruh umat manusia setelah selesai melaksanakan masa hidupnya di dunia ini, akan dibangkitkan kembali setelah matinya, untuk diadili oleh Tuhan tentang segala yang mereka kerjakan selama hidupnya di dunia itu. Lukman pernah berkata kepada anaknya: 
كما تنامون ثم تستيقظون وتموتون ثم تبعثون 
Artinya: 
Sebagaimana kamu tidur lalu kamu dibangunkan, demikian pula kamu dimatikan lalu dibangkitkan.

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya-xx (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.(QS. 25:48)

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا (48) 
Tanda kekuasaan Allah yang ketiga ialah Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira terutama bagi para petani bahwa sudah dekat datangnya hujan yang merupakan rahmat dari Allah SWT, dan Dialah yang menurunkan air hujan yang amat bersih, membersihkan badan dan pakaian terutama untuk minuman dan keperluan lainnya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 48 
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا (48) 
(Dialah yang meniupkan angin) menurut qiraat yang lain lafal Ar-Riih dibaca Ar-Riyah (pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya) yakni dekat sebelum hujan. Lafal Nusyuran menurut suatu qiraat dibaca Nusyran, artinya secara terpisah-pisah yakni dibaca secara Takhfif supaya ringan bacaannya. Menurut qiraat yang lain dibaca Nasyran karena dianggap sebagai Mashdar. Menurut qiraat lainnya lagi dibaca Busyra, artinya sebagai pembawa kabar gembira. Bentuk tunggal bacaan pertama adalah Nusyurun, wazannya sama dengan lafal Rasulun yang bentuk jamaknya adalah Rusulun. Sedangkan bentuk tunggal dari bacaan yang kedua yaitu Busyran ialah Basyirun, artinya pembawa kabar gembira (dan Kami turunkan dan langit air yang amat bersih) yaitu air yang dapat dipakai untuk bersuci, atau air yang menyucikan.

Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.(QS. 25:49)

لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا (49) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hujan untuk menyuburkan negeri-negeri atau tanah yang mati dan tandus. Dengan air hujan Dia memberi minum sebagian besar makhluk-Nya, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dalam ayat lain diterangkan: 

وترى الأرض هامدة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت وأنبتت من كل زوج بهيج 
Artinya: 
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Q.S. Al Hajj: 5) 
Dan seperti firman-Nya: 

فانظر إلى آثار رحمة الله كيف يحيي الأرض بعد موتها إن ذلك لمحيي الموتى 
Artinya: 
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah hidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan Yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. (Q.S. Ar Rum: 50) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 49 
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا (49) 
(Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri atau tanah yang mati) lafal Maitan dibaca Takhfif bentuk Mudzakkar dan Muannatsnya sama saja. Disebutkan dengan maksud, bahwa yang mati itu adalah tanah negeri itu (dan agar Kami memberi minum dengannya) dengan air itu (sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak) unta, sapi dan kambing (dan manusia yang banyak) lafal Anaasiyyu merupakan bentuk jamak dari lafal Insaanun, bentuk asalnya adalah Anaasiinu, kemudian huruf Nun diganti menjadi Ya, lalu huruf Ya yang pertama diidgamkan kepadanya sehingga jadilah Anaasiyyu. Atau lafal Anaasiyyu ini adalah bentuk jamak dari lafal Insiyyun.

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).(QS. 25:50)

وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا (50) 
Sesungguhnya Allah telah mengatur turunnya hujan secara bergiliran di antara manusia. Kadang-kadang turun siang atau malam, kadang-kadang ditujukan untuk menyirami tanah satu kaum yang baru melaksanakan salat Istisqa, kadang-kadang dipalingkan dari kaum yang banyak melakukan kedurhakaan dan kemaksiatan, agar manusia mengambil pelajaran dari nya, dan agar mereka mengerti, bahwa Tuhanlah yang mengatur giliran hujan itu seperti mengatur peredaran bintang-bintang dan planet di angkasa luas. Air hujan itu bukan hanya diatur turunnya saja dengan bergiliran, akan tetapi diatur pula bentuk dan keadaannya. Kadang-kadang merupakan benda seperti batu, yaitu jika suhunya jauh di bawah nol dan merupakan es batu. Kemudian jika dipanaskan berubah menjadi cairan, dan jika tambah dipanaskan lagi berubah menjadi uap seperti gas atau angin, dan air itu terdapat pula sebagai unsur hidup di udara. di sungai, di lautan, dalam tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, patut sekali jika air itu dijadikan unsur dalam segala sesuatu yang hidup seperti dalam firman Allah: 

وجعلنا من الماء كل شيء حي 
Artinya: 
"Dan dari pada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup". (Q.S. Al Anbiya: 30) 
Semuanya ini harus jadi bahan pemikiran bagi manusia agar dapat mensyukuri nikmat Allah, tetapi kebanyakan manusia itu enggan kecuali mengingkari nikmat-nikmat itu. Kemudian Allah menerangkan bahwa nikmat-Nya besar sekali dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw dengan meletakkan beban kerasulan yang berat sekali di atas pundaknya, agar supaya beliau bertambah tinggi derajat dan kemuliaannya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 50 
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا (50) 
(Dan sesungguhnya Kami telah menggilirnya) yakni air hujan itu (di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya) Yadzdzakkaruu asalnya Yatadzakkaruu, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Dzal setelah terlebih dahulu diganti menjadi Dzal pula, sehingga jadilah Yadzdzakkaruu. Menurut suatu qiraat dibaca Liyadzkuruu, sehingga artinya menjadi: supaya mereka ingat akan nikmat Allah dengan adanya air tersebut (maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari) nikmat Allah, karena mereka mengatakan bahwa hujan kita ini disebabkan munculnya bintang anu.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-FURQAAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar