Rabu, 12 September 2012

An-Naml 1 - 20


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AN-NAML>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=27
Thaa siin. (Surat) ini adalah ayat-ayat Al quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan,(QS. 27:1)
An Naml 1 
طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ (1) 
Surah ini adalah wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Ia merupakan ayat-ayat Alquran, yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril as. 
Ayat-ayat ini memberikan penjelasan dan keterangan bagi orang yang berpikir bahwa Alquran benar-benar suatu Kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, bukan kata-kata tipuan atau hasil ciptaan Nabi Muhammad saw, demikian pula ciptaan seorang dari makhluk Allah, karena tidak mungkin dapat membuat dan menyamainya, meskipun jin dan manusia bekerja sama untuk itu. 
Yang dimaksud dengan "Kitab yang menjelaskan" adalah Alquran. Dalam ayat ini berkumpul dua nama dari Alquran itu, yaitu "Alquran" (yang dibaca) dan "Kitab" (yang dituliskan). Dua buah nama yang mempunyai arti dan maksud yang sama. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: 
الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ (1) 
Artinya: 
Alif Lam Ra, (surah) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Alquran yang memberi penjelasan. (Q.S. Al Hijir: 1) 
Ayat-ayat Alquran memberi penjelasan tentang arti ayat-ayatnya, karena di dalam Alquran itu terdapat ayat-ayat yang jelas-menjelaskan, yakni ada ayat yang menjelaskan ayat-ayat yang lain. Begitu juga memberi penjelasan tentang tujuan-tujuan menurunkan Alquran, tentang hukum-hukum yang berupa halal dan yang haram, serta janji-janji dan ancaman-ancaman, yang kesemuanya itu dijadikan pedoman hidup di dunia sebagai jalan mencapai kebahagiaan hidup di akhirat kelak. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Naml 1 
طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ (1) 
(Tha Sin) hanya Allah saja yang mengetahui maksudnya (ini) yakni ayat-ayat ini (adalah ayat-ayat Alquran) sebagian daripada Alquran (dan ayat-ayat Kitab yang menjelaskan) yang memenangkan perkara yang hak di atas perkara yang batil. Lafal Kitabin di'athafkan kepada lafal yang sebelumnya dengan ditambahi sifat.

untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman.(QS. 27:2)
An Naml 2 
هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (2) 
Alquran itu sebagai petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Petunjuk yang merupakan hidayah Allah, sehingga manusia menjadi yakin dan beriman. Akan tetapi tidak semua manusia dapat memperoleh dan menikmati hidayah dari Allah, meskipun Alquran itu diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia seluruhnya, sebagaimana dalam firman Allah: 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ 
Artinya: 
"....Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) (Q.S. Al Baqarah: 185) 
Hanya orang-orang yang beriman, yakni yang mempunyai kesediaan dalam dirinya untuk beriman sajalah yang dapat menikmati petunjuk Alquran itu, bahkan bagi orang-orang yang beriman, Alquran menambah petunjuk dan hidayah yang sudah ada, sehingga bertambah pula amal perbuatannya dalam melaksanakan ajaran Islam yang bersumber utama pada Alquran. Dengan demikian bertambah pula imannya, maka iman seseorang dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan amalnya. 
Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya: 

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ 
Artinya: 
Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (Q.S. At Taubah: 124) 
Mereka merasa gembira karena mendapat berita tentang limpahan rahmat Allah dan keridaan-Nya, serta surga yang tersedia bagi mereka sebagai tempat tinggal yang penuh bermacam-macam kenikmatan.
(Yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.(QS. 27:3)
An Naml 3 
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (3) 
Di antara sifat-sifat orang-orang mukmin yang tersebut dalam ayat ini adalah: 
1. Mendirikan salat, yaitu mengerjakan dan menunaikan salat wajib dengan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, sesuai dengan yang diperintahkan Allah dalam ajaran-Nya. Salat dikerjakan dengan segala ketulusan hati, disertai dengan kekhusyukan dan merendahkan diri kepada Allah. Salat dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar, dan menghilangkan sifat-sifat jiwa yang negatif. Salat merupakan unsur takwa yang mutlak di samping iman kepada yang gaib. Kekhusyukan dalam mendirikan salat menjadi salah satu syarat bagi orang mukmin yang sejati. 
Kedudukan salat dalam Islam antara lain: 
a. Salat tiang agama Islam yang berarti, tanpa salat amal-amal baik tidak akan diperhatikan dan agama itu akan runtuh. 
b. Salat adalah kewajiban pertama dari Allah sebelum kewajiban-kewajiban ibadah lainnya dan perintah wajib ini diterima langsung oleh Nabi Muhammad tanpa perantara malaikat Jibril as sebagaimana yang disebutkan dalam kisah Israk dan mikraj. 
c. Salat merupakan amal yang pertama-tama dihitung (dihisab) pada hari Kiamat nanti. Kalau baik amal salatnya, maka amal-amal lainnya ikut baik. Demikian pula sebaliknya, kalau amal salatnya rusak, maka amal lainnya ikut rusak. 
2. Menunaikan zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Membayar zakat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, adalah kewajiban yang tidak sama dengan kewajiban menjalankan salat lima kali sehari semalam. Abu Bakar sebagai khalifah pertama setelah Nabi Muhammad wafat, telah memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat atas dasar mereka membedakan antara salat dan zakat, padahal zakat itu merupakan suatu kewajiban yang berhubungan dengan harta. Dengan zakat, orang-orang mukmin membersihkan jiwa mereka dari sifat-sifat kikir dan tamak yang keduanya dapat menimbulkan fitnah (keonaran) karena harta. Harta adalah rezeki dari Allah yang wajib disyukuri dengan menunaikan zakat, sebagai pembersih dari harta tersebut. Karena pada harta tersebut ada bagian yang menjadi haknya orang-orang ini skin. Bagi orang-orang ini skin zakat dapat membersihkan jiwa mereka dari sifat-sifat dengki dan iri hati atas orang-orang yang kaya. Dengan demikian hubungan baik antara si kaya dan si ini skin dalam masyarakat akan tetap terjaga terutama segi sosialnya. 
3. Yakin akan adanya hari akhirat, maksudnya ialah yakin akan adanya hidup setelah mati yang pada waktu itu semua orang akan kembali menghadap Allah untuk diperhitungkan amal-amal baik dan jeleknya dan akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang setimpal. Dengan demikian, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan segala apa yang diperbuatnya selama hidup di dunia. Dan ini berarti bahwa manusia diciptakan Allah di dunia bukanlah sia-sia belaka. 
Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya: 
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ 
Artinya: 
apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. (Q.S. Al-Mu'minun: 115)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).(QS. 27:4)
An Naml 4 
إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ (4) 
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, ialah mereka yang tidak yakin akan adanya hari kiamat tidak yakin bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah setelah mati, dan dibangkitkan kembali pada hari pembangkitan, tidak percaya akan adanya pahala sebagai balasan amal baik dan siksa sebagai balasan amal jelek. 
Mereka hidup di dunia tanpa mengekang hawa nafsu, dan amat cinta kepada kelezatan, seakan-akan memang demikian itulah hidup di dunia dan merupakan kesempatan baik untuk itu. Mereka tidak mengenal halal dan haram, serta tidak memikirkan tanggung jawab di akhirat. Segala tingkah laku tersebut mereka anggap baik. Mengikuti hawa nafsu berarti mengikuti ajaran-ajaran setan yang sesat lagi menyesatkan. Maka merekapun hidup dan bergelimang dalam kesesatan. Hal ini adalah balasan bagi mereka karena keingkarannya itu.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.(QS. 27:5)
An Naml 5 
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ (5) 
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa mereka akan menerima siksa yang buruk di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang tidak beriman dengan hari akhirat itu, dan juga merupakan peringatan bagi seluruh manusia. 
Siksa di dunia dapat terjadi dengan adanya bermacam-macam bencana alam seperti banjir, gempa bumi, peperangan yang membawa korban manusia dan harta benda dan lain-lain. Siksaan dunia ini dapat berupa siksaan batin atau jiwa yang dialami secara perorangan, meskipun di antara mereka ada yang sudah cukup kebutuhan-kebutuhan hidup dunianya, bahkan ada kebutuhan duniawinya lebih dari cukup, namun demikian, hidupnya tidak bahagia selalu resah, karena jiwa mereka kosong, mereka tidak tahu tujuan hidup, karena tidak percaya pada hari akhirat. 
Dalam kehidupan hari Akhirat nanti, mereka sangat merugi, mereka menjadi penghuni neraka selamanya. Mereka masing-masing menerima balasan siksa yang setimpal sesuai dengan amal buruk mereka. 
Sehingga mereka ini nta keringanan, yakni tidak disiksa biarpun barang sehari. 
Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya: 

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ (49) 
Artinya: 
Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab untuk kami barang sehari". (Q.S. Al Mu'min: 49)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al quran dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. 27:6)
An Naml 6 
وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ (6) 
Dalam ayat ini Allah berfirman yang langsung ditujukan kepada Nabi Muhammad saw memberi tahukan bahwa Alquran diturunkan Allah kepadanya dengan perantaraan Jibril untuk dihafalkan dan diajarkan kepada umatnya serta dilaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya: 

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) 
Artinya: 
Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya sendiri. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (Q.S. An Najm: 1-5) 
Jelaslah bahwa Alquran dari Allah Yang Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya terhadap makhluk-Nya, dan Maha Mengetahui keadaan mereka dan apa-apa yang baik bagi mereka. Beritanya adalah benar dan hukum-Nya adalah adil sebagaimana Allah telah berfirman: 

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا 
Artinya: 
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Alquran) sebagai kalimat yang benar dan adil. (Q.S. Al An'am: 115)

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: `Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang`.(QS. 27:7)
An Naml 7 
إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (7) 
Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perintah agar beliau menyampaikan kepada umatnya bahwa telah terjadi suatu peristiwa besar waktu dahulu. Waktu itu Musa as dalam perjalanan dari Maydan untuk kembali ke Mesir dengan disertai oleh keluarganya. Mereka sesat dalam perjalanan pada suatu malam yang sangat dingin. Perjalanan ini dilakukan setelah Musa menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, sebagaimana yang disepakati antara Musa dengan mertuanya yaitu Nabi Syuaib as. Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya: 

فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (29) 
Artinya: 
Dan tatkala Musa menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnya api di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api", mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan". (Q.S. Al Qasas: 29) 
Waktu yang ditentukan itu adalah perjanjian antara Musa dengan mertuanya dalam menetapkan mahar perkawinannya. Maharnya berupa pekerjaan menggembalakan kambing mertuanya selama delapan tahun atau disempurnakan menjadi sepuluh tahun. Nabi Musa telah memilih salah satu dari dua masa itu. 
Yang dimaksud dengan keluarganya adalah istrinya, tanpa ada orang lain beserta keduanya. Alquran menyebutkan kisah Musa setelah kisah Syuaib dalam beberapa surah. Dengan demikian dilihat dari segi sejarah, antara keduanya adalah satu masa atau dua masa yang berurutan. 
Pada saat sesat dalam perjalanan itu malam sangat gelap dan dingin, Musa berkata kepada keluarganya bahwa ia melihat api. Musa berpesan agar keluarganya tetap tinggal di tempat itu, sedang dia akan pergi ke tempat api itu dengan harapan supaya memperoleh berita tentang jalan dari tempat itu, sehingga mereka dapat terhindar dari kesesatan jalan. Dengan adanya api berarti ada orang di sekitarnya tempat bertanya. Selain itu Nabi Musa mengharapkan agar dia dapat membawakan kepada keluarganya itu nyala api yang disulutnya dari api yang kelihatan olehnya. Dengan memperoleh nyala api itu dia dan keluarganya tentu dapat berdiang, menghangatkan badan dari kedinginan yang mencekam itu.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Naml 7 
إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (7) 
Ingatlah (ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu istrinya sewaktu ia berjalan dari Madyan menuju ke Mesir, ("Sesungguhnya aku melihat) dari jauh (api. Aku kelak akan membawa kepadamu kabar daripadanya) mengenai jalan yang harus kita tempuh, karena pada saat itu Nabi Musa tersesat (atau aku membawa kepadamu) dari api itu (suluh api). Jika dibaca Bisyihabi Qabasin, maka Idhafah di sini mengandung makna Bayan. Dapat pula dibaca Bisyihabin Qabasin, artinya obor api yang dinyalakan pada sumbu atau kayu (supaya kamu dapat berdiang") huruf Tha pada lafal Tashthaluna adalah pengganti dari huruf Ta asal, karena wazannya adalah Tafta'iluna, yaitu berasal dari Shaliya atau Shala yang artinya berdiang pada api untuk menghilangkan rasa dingin.
Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: `Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di daerah di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam`.(QS. 27:8)

An Naml 8 - 9 
فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (8) يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9) 
Ketika Musa datang mendekati api itu ternyata yang disangkanya api itu bukan api seperti yang dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari "Ullaiq", yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit pada sebuah dahan kayu dan terkulai dari dahan itu. 
Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu. Di tempat itu Musa as tidak menemukan seorangpun, karena itu ia heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya itu. Waktu itu mencoba menyulut nyala api, ia merasa takut dan mundur. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh suatu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa telah diberkati siapa yang berada di dekat api itu yaitu Musa dan para malaikat. 
Ucapan pernyataan telah diberkati ini , merupakan salam dan kehormatan dari Allah SWT kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim as dalam firman-Nya: 

رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت 
Artinya: 
Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait. 
Abdulah Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "diberkati" siapa yang berada di dekat api ialah disucikan Allah. 
Menurut Ibnu Abbas bahwa yang kelihatan sebagai api oleh Nabi Musa itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api. 
Menurut Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah cahaya Tuhan Semesta alam". Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abu Ubaidah dari Abu Musa AI-Asy'ary, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: 

إن الله عز وجل لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه يرفع إليه عمل الليل قبل النهار وعمل النهار قبل الليل حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه 
Artinya: 
Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya (H.R. Muslim) 
Kemudian Abu Ubaidah membaca ayat ini (S. 27: 8). 
Peristiwa itu terjadi sewaktu Musa sampai di suatu tempat yang diberkati, yaitu lembah suci yang bernama lembah Thuwa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: 

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (30) 
Artinya: 
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang pohon kayu. (Q.S. Al Qasas: 30) 
Dan firman Allah yang berbunyi: 

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى (16) 
Artinya: 
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Tuwa. (Q.S. An Naziat: 16) 
Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Thuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa as sebagai Rasul yang diutus Allah menyampaikan risalah kepada Firaun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat. 
Musa berhadapan langsung dengan Allah dalam menerima wahyu ini , tetapi Musa tidak dapat melihatnya, karena terhalang oleh satu tabir yang berupa cahaya. 
Penerimaan wahyu semacam ini , dari balik tabir merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para Nabi-Nya. Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya: 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (51) 
Artinya: 
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perkataan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. (Q.S. Asy Syu'ara: 51) 
Maha suci Allah, Tuhan semesta alam yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatupun makhluk-makhluk-Nya yang menyamai-Nya, Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya. 
Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 9 bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk. 
Allah Yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, Maha bijaksana dalam firman-firman-dan perbuatan-perbuatan-Nya. 


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Naml 8 
فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (8) 
(Maka tatkala ia tiba di tempat api itu, diserulah dia, "Bahwa telah diberkati) yakni semoga Allah memberkati (orang yang berada di dekat api itu) yaitu Nabi Musa (dan orang-orang yang berada di sekitarnya) yang terdiri dari para Malaikat. Atau maknanya terbalik, yakni malaikat dahulu kemudian Nabi Musa. Lafal Baraka ini bermuta'addi dengan sendirinya sebagaimana dapat bermuta'addi dengan huruf. Kemudian setelah lafal Fi diperkirakan adanya lafal Makani, maksudnya Fi Makanin Nari, yaitu orang-orang yang ada di sekitar api. (Dan Maha Suci Allah, Rabb semesta alam) dari semua apa yang diserukan-Nya, maksudnya Maha Suci Allah dari keburukan.

(Allah berfirman): `Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,(QS. 27:9)
An Naml 8 - 9 
فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (8) يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9) 
Ketika Musa datang mendekati api itu ternyata yang disangkanya api itu bukan api seperti yang dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari "Ullaiq", yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit pada sebuah dahan kayu dan terkulai dari dahan itu. 
Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu. Di tempat itu Musa as tidak menemukan seorangpun, karena itu ia heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya itu. Waktu itu mencoba menyulut nyala api, ia merasa takut dan mundur. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh suatu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa telah diberkati siapa yang berada di dekat api itu yaitu Musa dan para malaikat. 
Ucapan pernyataan telah diberkati ini , merupakan salam dan kehormatan dari Allah SWT kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim as dalam firman-Nya: 

رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت 
Artinya: 
Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait. 
Abdulah Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "diberkati" siapa yang berada di dekat api ialah disucikan Allah. 
Menurut Ibnu Abbas bahwa yang kelihatan sebagai api oleh Nabi Musa itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api. 
Menurut Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah cahaya Tuhan Semesta alam". Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abu Ubaidah dari Abu Musa AI-Asy'ary, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: 

إن الله عز وجل لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه يرفع إليه عمل الليل قبل النهار وعمل النهار قبل الليل حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه 
Artinya: 
Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya (H.R. Muslim) 
Kemudian Abu Ubaidah membaca ayat ini (S. 27: 8). 
Peristiwa itu terjadi sewaktu Musa sampai di suatu tempat yang diberkati, yaitu lembah suci yang bernama lembah Thuwa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: 

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (30) 
Artinya: 
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang pohon kayu. (Q.S. Al Qasas: 30) 
Dan firman Allah yang berbunyi: 

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى (16) 
Artinya: 
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Tuwa. (Q.S. An Naziat: 16) 
Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Thuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa as sebagai Rasul yang diutus Allah menyampaikan risalah kepada Firaun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat. 
Musa berhadapan langsung dengan Allah dalam menerima wahyu ini , tetapi Musa tidak dapat melihatnya, karena terhalang oleh satu tabir yang berupa cahaya. 
Penerimaan wahyu semacam ini , dari balik tabir merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para Nabi-Nya. Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya: 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (51) 
Artinya: 
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perkataan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. (Q.S. Asy Syu'ara: 51) 
Maha suci Allah, Tuhan semesta alam yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatupun makhluk-makhluk-Nya yang menyamai-Nya, Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya. 
Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 9 bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk. 
Allah Yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, Maha bijaksana dalam firman-firman-dan perbuatan-perbuatan-Nya.

dan lemparkanlah tongkatmu`. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. `Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul tidak takut di hadapan-Ku,(QS. 27:10)
tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 27:11)
An Naml 10 - 11 
وَأَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ (10) إِلَّا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (11) 
Ayat ini adalah rentetan pembicaraan langsung antara Allah dan Musa di lembah suci Thuwa. Setelah Musa diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Allah memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkat yang dipegang tangan kanannya. 
Ketika tongkat itu dilemparkan, Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor Jann, yaitu sejenis ular yang sangat gesit geraknya. Berubahlah tongkat itu menjadi ular. Tidak terlintas di hati Musa sedikitpun bahwa tongkatnya itu akan berubah menjadi ular, padahal dengan tongkat itu Musa dapat mengambil manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai penggembala kambing. 
Hal ini dinyatakan Allah dalam firman-Nya: 

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) 
Artinya: 
Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". (Q.S. Taha: 18) 
Ketika Musa melihat tongkatnya menjadi ular, dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh, karena merasa sangat takut. 
Mengetahui hal demikian itu, Allah memanggil Musa agar jangan takut kepada ular, karena sesungguhnya orang yang diangkat jadi Rasul tidak patut takut di hadapan Allah. 
Seruan Allah agar jangan takut ini didahului dengan perintah datang ke hadapan-Nya dan dijamin keamanannya. 
Maka Allah menegaskan dengan firman-Nya: 

يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ 
Artinya: 
Hai Musa datanglah kepada-Ku, dan janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman (Q.S. Al Qasas: 31) 
Selain itu, disuruh Nya Musa memegang ular itu, agar kembali menjadi tongkat lagi. Firman Allah SWT: 

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى (21) 
Artinya: 
Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. (Q.S. Taha: 21) 
Ini merupakan mukjizat yang pertama bagi Musa. 
Adapun orang takut kepada Allah ialah orang-orang yang berbuat zalim, yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zalim berupa, zalim terhadap diri sendiri, zalim terhadap orang lain, demikian pula terhadap makhluk-makhluk Allah lain. 
Orang yang sungguh-sungguh bertobat kepada Allah, tidak akan berbuat zalim lagi, kemudian mengiringinya dengan perbuatan baik, tidak perlu takut menghadapi Allah SWT. Hal ini merupakan kabar gembira bagi mereka dan juga bagi seluruh umat manusia, sebagaimana perilaku para tukang sihir Firaun yang beriman kepada Musa sebagai utusan Allah. Siapa saja yang berbuat dosa, kemudian menghentikan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya. 
Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: 

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى (82) 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Q.S. Taha: 82) 
Dan firman-Nya lagi: 

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (110) 
Artinya: 
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An Nisa: 110)

Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Firaun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik`.(QS. 27:12)
An Naml 12 
وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ فِي تِسْعِ آيَاتٍ إِلَى فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (12) 
Pada ayat ini Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang lain, setelah menunjukkan, kekuasaan-Nya merubah benda mati yang berada di tangan Musa menjadi binatang hidup berupa ular. Kali ini diperintahkan-Nya Musa memasukkan tangannya ke ketiaknya, melalui belahan leher bajunya, yang kemudian dikeluarkan lagi berubah menjadi putih bersinar cemerlang seperti sinar matahari. 
Ini adalah merupakan mukjizat yang kedua, yaitu tangannya berubah warna menjadi putih cemerlang. 
Dua macam mukjizat Musa ini termasuk dalam jumlah mukjizat Musa yang seluruhnya ada sembilan mukjizat dari Allah sebagai bukti kepada Firaun dan kaumnya bahwa dirinya adalah utusan Allah untuk mengajak ke jalan yang benar yang diridai-Nya. Jumlah mukjizat Musa yang sembilan itu ditegaskan Allah lagi dalam firman-Nya: 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ 
Artinya: 
Dan sesungguhnya kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata. (Q.S. Al Isra': 101) 
Musa diutus Allah dengan bermacam-macam kejadian yang luar biasa untuk menghadapi Firaun dan kaumnya yang fasik, melampaui batas fitrah manusia. Bahkan Firaun mengaku dirinya sebagai Tuhan dan dibenarkan pengakuannya ini oleh kaumnya. Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya: 

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (24) 
Artinya: 
(Seraya) berkata: "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". (Q.S. An Naziat: 24)

Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: `Ini adalah sihir yang nyata`.(QS. 27:13)
An Naml 13 
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (13) 
Tatkala Musa berhadapan dengan Firaun, Firaun mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Firaun minta bukti kepada Musa bahwa ia utusan Allah. Musa sebagai utusan Allah, memberi bukti dengan melemparkan tongkatnya yang kemudian menjadi ular bergerak dengan gesit, kemudian memasukkan tangannya ke ketiaknya melalui belahan leher bajunya, lalu dikeluarkannya, maka tangannya menjadi putih bersinar cemerlang bagi orang-orang yang melihatnya. 
Kedua bukti ini sangat jelas menjadi saksi nyata bahwa Musa benar-benar utusan Allah. Tetapi mereka menghindari bukti-bukti tersebut dan berkata bahwa hal itu adalah sihir semata-mata.

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.(QS. 27:14)
An Naml 14 
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (14) 
Mereka mendustakan bukti-bukti tersebut dengan perkataan, sedang hati kecilnya membenarkan bahwa Musa utusan Allah. Mereka ingkar, karena dipenuhi dengan sifat zalim dan rasa sombong, serta tidak mau mengikuti kebenaran, meskipun hati mereka yakin kepada Musa sebagai utusan Allah. Sikap mereka yang takabur, sombong dan tinggi hati diterangkan Allah dalam firman-Nya: 

فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا عَالِينَ (46) 
Artinya: 
"... mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong". (Q.S. Al Mu'minun: 46) 
Hal ini merupakan peringatan bagi Muhammad dan umatnya, sehingga mereka diseru untuk memperhatikan akibatnya yang dialami Firaun dan kaumnya, yaitu binasa tenggelam di laut, sebagaimana Allah berfirman: 

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (136) 
Artinya: 
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu (Q.S. Al A'raf: 136) 
Selain itu, juga peringatan bagi orang-orang yang mendustakan Muhammad, bahwa mereka akan menerima akibat yang sama seperti orang-orang dahulu yang mendustakan ajaran-ajaran Allah.

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: `Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman`.(QS. 27:15)
An Naml 15 
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ (15) 
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan kepada putranya Nabi Suliaman as ilmu pengetahuan, baik yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan ketuhanan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti kemampuan memimpin dan mengatur bangsanya. Kedua Nabi ini tidak saja memiliki pengetahuan-pengetahuan itu, tetapi juga mengamalkan dengan baik, maka ilmu pengetahuan yang dipunyai oleh masing-masing Nabi itu berfaedah bagi dirinya sendiri, bagi masyarakat dan umatnya, di dunia dan di akhirat kelak. 
Karena memperoleh nikmat yang tidak terhingga dari Allah itu keduanya mensyukuri nikmat dengan mengucapkan: "Alhamdu lillahil lazi faddalana alakasirin min ibadihil mu'minin" (artinya): "segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba yang beriman" 
Sikap Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam menerima nikmat Allah itu, suatu sikap yang terpuji. Karena itu para ulama menganjurkan agar kaum Muslimin meneladani sikap seorang hamba mengucapkan "hamdalah" ("alhamdu lillahi" segala puji bagi Allah). Hal ini berarti bahwa hamba yang menerima nikmat itu, benar-benar merasakan bahwa yang diterimanya itu benar-benar merupakan pernyataan kasih sayang Allah kepadanya dan ia merasa bahwa ia benar-benar memerlukan nikmat Allah itu. Tanpa nikmat itu ia tidak akan hidup dan merasakan kebahagiaan: 
Allah SWT berfirman: 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7) 
Artinya: 
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" . (Q.S. Ibrahim: 7) 
Nabi Daud as mulai memerintah di Palestina kira-kira 250 (dua ratus lima puluh) tahun setelah wafatnya Nabi Musa. 
Di dalam sejarah diterangkan bahwa sebelum Nabi Musa meninggal dunia, dia telah mengangkat pengikutnya yang setia, Yaitu Yusya' bin Nun menjadi penggantinya. Setelah Nabi Musa wafat pada tahun 1.250 Sebelum Masehi dalam usia 100 tahun, (beliau dilahirkan tahun 1.350 Sebelum Masehi), Yusya' memimpin Bani Israel memasuki Palestina. Bani Israel di bawah pimpinan Yusya' dapat menaklukkan kota demi kota di Palestina itu. Akhirnya seluruh Palestina dapat mereka taklukkan. Ada 31 orang raja-raja di Palestina, kesemuanya telah takluk di bawah kekuasaan Bani Israel. 
Kemudian oleh Yusya' diadakan perbaikan-perbaikan dalam negeri. Diangkatnya hakim-hakim atau qadi-qadi dan ditentukannya pekerjaan dan tempat masing-masing qadi itu. Yang menjadi sumber hukum adalah syariat Musa as, di samping itu Yusya' sendiripun membuat undang-undang dan peraturan-peraturan yang tidak menyimpang dari syariat Musa as. 
Dengan adanya perbaikan-perbaikan itu Bani Israel telah mempunyai pemerintahan yang kuat. Yusya' dapat memimpin Bani Israel dengan baik sampai ia wafat. Akan tetapi sesudah wafatnya Yusya' tidak terdapat lagi pemerintahan yang kuat di Palestina, sering terjadi peperangan antara Bani Israel dengan kabilah-kabilah yang tadinya sudah ditaklukkan, kemudian mereka bersatu kembali. 
Sampai saat itu Bani Israel belum mempunyai seorang raja yang akan mempersatukan mereka dan mengikat mereka dalam suatu pimpinan dan pemerintahan. Mereka hidup di bawah pemerintahan hakim-hakim (qadi) yang masing-masing memerintah sendiri-sendri. Di bawah pimpinan para hakim yang bercerai-berai itulah Bani Israel melawan musuh yang telah menguasai kampung halaman dan anak-anak mereka. Oleh karena itu mereka selalu kalah dalam peperangan-peperangan itu dan kerap kali ditawan, dan jatuh ke bawah kekuasaan kabilah-kabilah yang memeranginya, dan mereka terpaksa membayar upeti. Oleh karena itu mereka meminta kepada Nabi Syamuil, yang juga menjabat sebagai kadi agar mengangkat raja yang akan memimpin mereka berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh itu. 
Di dalam surah Al Baqarah ayat 246-252, telah diterangkan bahwa Nabi Syamuil mengatakan kepada Bani Israel bahwa Allah SWT akan mengangkat Thalut menjadi raja bagi Bani Israel, Thalut ini disebut Syamul atau Syaul'. Karena Bani Israel tidak mempercayai berita-berita tersebut, maka Syamuil menyatakan bahwa sebagai bukti kebenaran berita itu ialah: "Tabut" (Sebuah peti pusaka Bani Israel yang berisi Taurat dan barang-barang peninggalan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.) akan kembali kepada Bani Israel dan orang-orang 'Amaliqah akan mengembalikannya tanpa peperangan. 
Dengan kembalinya tabut ini , barulah Bani Israel tunduk, dan menerima Thalut sebagai raja bagi mereka. Dia diangkat menjadi raja pada tahun 1.020 sebelum Masehi. Dengan demikian Thalut ini adalah raja yang pertama bagi Bani Israel. 
Tatkala raja Talut bersama tentaranya telah berhadap-hadapan dengan tentara Amaliqah, mak, Jalut (Goliat) raja 'Amaliqah, meminta kepada Talut agar diadakan perang tanding antara salah seorang dari orang-orang 'Amaliqah dengan salah seorang dari Israel. Dari pihak 'Amaliqah, perang tanding itu akan diwakili oleh raja mereka sendiri, yaitu raja Jalut. Raja Jalut adalah seorang yang bertubuh besar lagi tinggi dan perkasa, terkenal kuat dan pandai perang tanding. Di samping itu Ia diperlengkapi dengan baju besi dan perlengkapan perlengkapan perang tanding yang lain. Karena itu orang-orang Bani Israel takut dan gentar menghadapinya. Mereka telah merasa diri mereka akan kalah menghadapinya. Dalam keadaan yang demikian itulah tampil seorang yang bernama Daud menjawab tantangan Jalut itu. Daud adalah seorang peternak kambing yang ikut berperang di pihak TaIut, bertubuh biasa dan tidak tampak pada dirinya bahwa ia adalah seorang yang biasa melakukan perang tanding, sesuai dengan yang dikehendaki Jalut. Karena Jalut memandang enteng Daud, dan ia merasa yakin akan dapat dengan mudah mengalahkan Daud. Setelah diadakan perang tanding antara Talut dan Daud dan terjadi perkelahian Daud dapat mengalahkan Jalut yang sombong itu. Kemenangan Daud atas Jalut disambut oleh Talut dan tentaranya dengan penuh kegembiraan karena kemenangan itu berarti kemenangan tentara Talut atas tentara Jalut. Sejak waktu itulah Talut menyayangi Daud dan mengawinkan salah seorang putrinya dengan Daud. Setelah Jalut meninggal dunia, maka Daud diangkat menjadi raja Bani Israel menggantikan Talut mertuanya itu. Kemudian Allah SWT mengangkatnya pula sebagai Nabi dan Rasul yang diutusnya kepada Bani Israel. Dengan demikian Nabi Daud as memegang dua jabatan, yaitu jabatan sebagai kepala negara dan jabatan sebagai pesuruh Allah menyampaikan agama-Nya kepada Bani Israel. Sebagai seorang Kepala Negara dan sebagai seorang Rasul Allah, maka orang itu harus mempunyai ilmu yang cukup luas di samping harus mempunyai bakat sebagai seorang pemimpin. Maka Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi Daud as segala macam ilmu yang diperlukan itu. Di antara keutamaan dan ilmu yang dikaruniakan Allah SWT kepada Daud as itu ialah: 
1. Allah SWT menundukkan kepada Daud as gunung dan burung. Gunung dan burung itu bertasbih bersama Daud pagi dan petang. Allah berfirman: 

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ (18) وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ (19) 
Artinya: 
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami menundukkan burung-burung dalam keadaan berkumpul. Masing-masingnya amat taat (kepada Allah) (Q.S. Sad: 18-19) 
2. Allah SWT mnganugerahkan kepada Daud as pengetahuan melunakkan besi, sehingga dengan pengetahuan itu ia dapat membuat baju besi dan keperluan-keperluan lain, untuk menguatkan pemerintahan dan kerasulannya. 
Allah berfirman: 

وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (10) 
Artinya: 
dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud). (Q.S. Saba: 10) 
3. Allah SWT telah menguatkan kerajaannya dan menganugerahkannya hikmah dan kebijaksanaan, sehingga ia dapat menyelesaikan dengan mudah perselisihan-perselisihan dan perkara yang diajukan kepadanya. Allah SWT berfirman: 

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ (20) 
Artinya: 
Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan". (Q.S. Sad: 20) 
4. Allah SWT menurunkan kepadanya kitab Zabur, sehingga beliau termasuk salah seorang dari empat orang Rasul yang telah diturunkan kitab kepadanya. Allah SWT berfirman: 

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian Nabi-nabi atas sebagian (yang lain) dan Kami berikan Zabur kepada Daud". (Q.S. Al Isra': 55) 
5. Allah SWT memberikan kesanggupan kepadanya memahami pembicaraan burung, sebagaimana yang diterangkan pada ayat berikut. 
6. Allah SWT mengokohkan dan menguatkan kerajaannya. Dia berfirman: 

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ 
Artinya: 
Dan Kami kuatkan kerajaannya. (Q.S. Sad: 20) 
Menurut Al Baidawi yang dimaksud dengan firman Allah: "Dan Kami kuatkan kerajaannya" ialah: "Kami (Allah) telah menguatkan dengan kekebalan, memenangkan peperangannya dan banyak mempunyai tentara.

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: `Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu kurnia yang nyata`.(QS. 27:16)
An Naml 16 
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ (16) 
Ayat ini menerangkan bahwa Sulaiman as, putra Daud menggantikan bapaknya Daud, sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Rasul Allah. Menurut Ibnu `Atiyyah: "Daud adalah raja dan Rasul Allah, yang diutus Nya kepada Bani Israel jabatan ini dipegang oleh Sulaiman setelah bapaknya itu meninggal dunia. Karena Sulaiman menerima kedua jabatan itu setelah bapaknya meninggal dunia, maka disebutlah dalam ayat ini "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud". 
Menurut Al-Kalbi: "Nabi Daud mempunyai 19 orang anak laki-laki. Dari anaknya yang 19 itu, hanyalah Sulaiman sendiri yang mewarisi dari bapaknya ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengendalikan pemerintahan. Karena itu pulalah beliau yang menggantikan bapaknya (setelah bapaknya meninggal dunia) sebagai Kepala Negara dan kemudian Allah mengangkatnya pula menjadi Rasul. 
Menurut Ensiklopedi, Nabi Daud diangkat ,menjadi raja pada tahun 1.002 sebelum Masehi, di waktu beliau berumur 37 tahun ( beliau dilahirkan pada tahun 1.039 sebelum Masehi). Meninggal dunia 962 Sebelum Masehi. Memegang pusat pemerintahan selama 40 tahun, yaitu 7 tahun di Hebron dan 33 tahun di Yarusalem. 
Sebelum meninggal beliau menunjuk putranya yang bernama Sulaiman menjadi raja sesudahnya. Beliau meninggal setelah memberikan nasihat-nasihat dan pesan-pesan yang amat berharga kepada Sulaiman, antara lain agar melakukan ibadah kepada Allah, memelihara segala hukum, undang-undang, syariat dan firman Allah, sesuai dengan yang tersebut dalam Taurat Musa dan sebagai tempat beribadah kepada Allah agar Nabi Sulaiman mendirikan sebuah Haikal. Maka setelah Nabi Daud meninggal dunia mulailah Sulaiman memegang tampuk pemerintahan yaitu pada tahun 961 sebelum Masehi. Sebagai seorang raja dan Nabi, semua nasihat-nasihat dan pesan-pesan Nabi Daud itu dilaksanakan dengan baik, maka stabil dan mantaplah kerajaan di tangannya, sampai beliau meninggal dunia pula, yaitu pada tahun 962 sebelum Masehi. (Lihat Encyclopedia America, Jilid 8, hal. 526 Judul David et Tarikh as Siyasi Oleh Al Ustaz Muhammad Fakhruddin) 
Di samping Sulaiman mewarisi kerajaan, ilmu pengetahuan, kenabian dan kitab Zabur dari bapaknya, maka Sulaiman dianugerahi Allah pula dengan beberapa keutamaan yang lain, karena Itu dia bersyukur kepada Allah dengan mengatakan: "Wahai sekalian manusia, Allah SWT telah menganugerahkan kepada kami pengertian dan pengetahuan tentang suara burung dan diberi segala sesuatu yang diperlukan. Sesungguhnya semua benar-benar suatu yang nyata". 
Nabi Sulaiman as dengan kekuatan dan kesanggupan yang telah diberikan Allah kepadanya, telah dapat memahami suara-suara binatang-binatang yang lain, selain dari suara burung. Dalam ayat ini dikhususkan menyebutkan bahwa Sulaiman memahami suara burung adalah karena burung adalah tentara khusus Nabi Sulaiman yang mempunyai keistimewaan khusus pula, seperti yang telah dilakukan oleh burung hud-hud. 
Sebagaimana diketahui bahwa binatang yang mempunyai suara sebagai bahasa isyarat yang berlaku di antara mereka. Suara-suara itu kedengarannya dalam bentuk dan nada yang bermacam-macam, seperti suara dalam keadaan riang berbeda dengan suara burung dalam keadaan ketakutan. Suara kambing betina yang kehilangan anaknya berlainan dengan suara dikejar atau diterkam binatang buas. Nabi Sulaiman as mengetahui maksud suara-suara binatang itu dengan kekuatan perasaan dan ilmu pengetahuan yang telah dilimpahkan Allah kepadanya. 
Menurut Baidawi: "Barangkali Sulaiman, apabila mendengar suara-suara burung, ia mengetahui makna dan maksud suara-suara itu dengan kekuatan perasaan, sesuai dengan maksud burung-burung itu." 
Dan diterangkan pula bahwa Allah SWT telah melimpahkan kepada Sulaiman segala macam kesanggupan dan segala sesuatu yang diperlukannya untuk mengendalikan pemerintahan negaranya, sehingga pada masanya itu adalah masa kejayaan Bani Israel. 
Sebagian ahli tafsir menafsirkan ayat: "Wa utina min kulli syai'in" (dan diberi segala sesuatu yang diperlukan), maksudnya ialah Allah SWT telah menganugerahkan kepada Sulaiman hikmah harta yang berlipat ganda, kekuatan yang besar dan luas sebagai seorang raja menundukkan jin, manusia, burung dan binatang-binatang yang lain. 
Karena nikmat yang telah dilimpahkan Allah itu, maka Nabi Sulaiman as bersyukur kepada Tuhan dengan menyatakan bahwa segala nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya, baik yang berupa pengetahuan, pemberian, keutamaan dan sebagainya adalah suatu keistimewaan yang telah diberikan Allah kepada beliau yang telah melebihkannya dari manusia-manusia yang lain.

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).(QS. 27:17)
An Naml 17 
وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (17) 
Ayat ini menerangkan bahwa Sualaiman as telah dapat membentuk suatu bala tentara yang terdiri dari berbagai macam-macam jenis makhluk Allah, seperti jin, manusia, burung-burung dan binatang-binatang yang lain yang setiap saat dapat dikerahkan untuk memerangi orang-orang yang tidak mau mengindahkan seruannya. Semua tentara tersusun rapi , bersatu dan berkumpul di bawah pimpinannya.

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: `Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari`;(QS. 27:18)
An Naml 18 
حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِي النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18) 
Ayat ini menerangkan bahwa pada suatu ketika Sulaiman as berjalan dengan tentaranya pada suatu daerah yang menurut Qatadah daerah itu merupakan suatu daerah di lembah Syam. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Sulaiman mendengar suara raja semut yang memerintahkan kepada rakyatnya agar mereka semuanya segera memasuki liangnya masing-masing, agar tidak terinjak oleh Sulaiman dan balatenteranya. Sulaiman dan tentaranya akan menginjak mereka tanpa menyadarinya, karena tubuh mereka amat kecil. Sehingga Sulaiman dan balatentaranya tidak melihat mereka.

maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: `Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh`.(QS. 27:19)
An Naml 19 
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (19) 
Mendengar perkataan raja semut itu, maka tersenyumlah Sulaiman as, karena raja semut itu mengatakan bahwa Sulaiman as dan tentaranya tidak bermaksud membinasakan mereka dan berbuat jahat, dan dikatakan pula oleh raja semut itu, bahwa seandainya ada di antara semut-semut itu terpijak oleh Sulaiman dan tentaranya, maka hal itu bukanlah sengaja dilakukannya, tetapi adalah karena Sulaiman dan tentaranya tidak melihat mereka, karena tubuh mereka amat kecil. 
Atas rahmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya berupa kesanggupan memahami percakapan raja semut itu, dan adanya semacam anggapan baik dari raja semut terhadap Sulaiman dan balatentaranya, maka Sulaiman berdoa kepada Allah SWT: "Wahai Tuhanku Yang Pemberi Rahmat, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang terus menerus mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan jadikanlah aku sebagai seorang hamba Mu yang selalu mengerjakan amal-amal saleh yang Engkau ridai, dan jadikanlah aku orang yang berkeinginan mengerjakan amal saleh itu, dan bila aku meninggal dunia, masukkanlah aku dalam surga bersama-sama orang-orang yang saleh yang Engkau masukkan ke dalamnya dengan rahmat Mu". 
Dari doa Nabi Sulaiman itu dipahami bahwa yang diminta oleh Sulaiman kepada Allah SWT ia">ah kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Sekalipun Allah telah melimpahkan beraneka ragam kesenangan dan kekuasaan duniawi kepadanya, namun ia tidak terpesona dengan kekuasaan dan kesenangan duniawi itu, karena ia telah yakin bahwa kesenangan duniawi itu, adalah kesenangan yang sementara sifatnya yang tidak kekal. 
Sikap Nabi Sulaiman as di waktu menerima nikmat Allah itu, adalah sikap yang harus dicontoh dan dijadikan suri teladan oleh setiap kaum Muslimin, jangan sekali-kali bersikap mengingkari nikmat Allah itu. Berdoa dan bersyukurlah kepada Allah pada setiap menemui nikmat Allah SWT.

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: `Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.(QS. 27:20)
An Naml 20 
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (20) 
Ayat ini menerangkan bahwa pada suatu hari Nabi Sulaiman as memeriksa barisan tentaranya, termasuk di dalamnya tentara burung, tetapi ia tidak melihat burung Hud-hud. Dengan nada marah dan heran ia berkata. "Mengapa aku tidak melihat burung Hud-hud! 
Apakah aku tidak melihatnya ataukah burung Hud-hud itu sendiri yang telah pergi tanpa minta izin kepadaku lebih dahulu? Perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dari ayat ini dipahami sebagai berikut: 
1. Nabi Sulaiman as mempunyai tentara, dan di antaranya terdapat sejenis burung yang bernama burung Hud-hud. Burung Hud-hud termasuk jenis burung pemakan serangga, yaitu sejenis burung pelatuk. Ia mempunyai paruh yang panjang, berjambul di kepalanya, berekor panjang dan berbulu indah beraneka warna. Ia hidup dengan membuat sarang atau lubang pada pohon-pohon kayu yang telah mati. 
2. Nabi Sulaiman selalu memeriksa tentaranya itu , karena itu ia mengetahui tentaranya yang hadir dan yang tidak hadir waktu pemeriksaan itu. 
3. Setiap tentaranya bepergian atau melakukan sesuatu pekerjaan hendaklah mendapat izin dari padanya terlebih dahulu. Jika ada yang melanggar ketentuan ini akan mendapat hukuman dari Sulaiman. 
4. Tentara Sulaiman itu mengikuti segala perintahnya dengan patuh dan tidak pernah ada yang mengingkarinya. Karena itu Sulaiman as merasa heran dan tercengang atas kepergian burung Hud-hud tanpa pamit. Tidak pernah terjadi kejadian seperti yang demikian itu sebelumnya. Karena itu ia mengancam burung Hud-hud dengan hukuman yang berat seandainya nanti burung itu kembali tanpa mengemukakan alasan-alasan yang dapat diterima.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AN-NAML>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar