Senin, 03 September 2012

AL-MU'INUUN 101 - 118

SURAH AL-MU'INUUN
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-MU'INUUN>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=16
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Mu'minuun 101

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.(QS. 23:101)
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ (101)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa apabila sangkakala ditiup untuk kedua kalinya dan arwah dikembalikan kepada tubuhnya masing-masing pada hari berbangkit nanti, maka pada waktu itu tidaklah bermanfaat lagi pertalian nasab. Tidak dapat lagi seseorang membanggakan nasabnya, bahwa dia adalah dari keturunan bangsawan yang tinggi sebagaimana halnya pada waktu ia masih berada di dunia. Tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain, semua terpengaruh suasana yang meliputinya. Mereka bingung diliputi perasaan takut karena kedahsyatan hari itu, sehingga hilanglah rasa cinta dan sayang. Tiap-tiap mereka memikirkan dirinya sendiri dan tidak mau tahu lagi orang lain, sebagaimana yang dilukiskan di dalam firman Allah SWT:

فإذا جاءت الصاخة يوم يفر المرء من أخيه وأمه وأبيه وصاحبته وبنيه لكل امرئ منهم يومئذ شأن يغنيه
Artinya:
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (Q.S. Abasa: 33-37)
Mereka tidak tegur menegur lagi. Tidak pula mereka saling bertanya. Tidak seorang di antara mereka yang menanyakan si anu itu anak siapa, keturunan dari mana, sebagaimana halnya di dunia mereka tidak kenal mengenal lagi. Mereka kebingungan tidak bedanya dengan orang-orang yang mabuk pada hal mereka tidak mabuk. Firman Allah SWT:

ولا يسأل حميم حميما
Artinya:
Dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya. (Q.S. Al Ma'arij: 10)
Dan firman-Nya:

يوم ترونها تذهل كل مرضعة عما أرضعت وتضع كل ذات حمل حملها وترى الناس سكارى وما هم بسكارى ولكن عذاب الله شديد
Artinya:
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (Q.S. Al Hajj: 2)

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.(QS. 23:102)

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (102) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang berat timbangan amal kebaikannya yaitu orang-orang yang beriman dan banyak berbuat amal saleh, mereka itulah orang-orang yang beruntung dan berbahagia. Pada hari kiamat nanti, seseorang sebelum ditetapkan tempatnya, apakah ia dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam neraka, maka lebih dahulu ia akan dihadapkan kepada suatu pengadilan yang akan memberi keputusan yang seadil-adilnya. Tidak akan terjadi kecurangan di dalamnya, karena yang menjadi hakimnya ialah Allah SWT sendiri. Berbeda halnya dengan pengadilan di dunia ini. Seseorang yang bersalah adakalanya diputuskan tidak bersalah, karena pintarnya bersilat lidah, memutar balikkan keadaan atau karena kelicikan pembelanya, sehingga hakimnya terkicuh olehnya. Begitu pula sebaliknya, orang yang benar ada kemungkinan diputuskan bahwa dialah yang bersalah dan tidak benar. Setiap keputusan di dunia ini yang tidak adil akan mentah kembali dan akan diputuskan sekali lagi di akhirat dengan seadil-adilnya. Segala sangkut paut yang belum beres di dunia ini akan diselesaikan nanti di akhirat dengan seadil-adilnya. Setelah selesai melalui pengadilan dan sangkut paut masing-masing telah dibereskan maka untuk mengetahui kadar kebaikan dan kejahatan masing-masing diadakan timbangan sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT: 

ونضع الموازين القسط ليوم القيامة 
Artinya: 
Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat di Hari Kiamat. (Q.S. Al Anbiya: 47) 
Barang siapa yang berat timbangan amal kebaikannya, berbahagialah ia. Sejalan dengan ayat 102 ini firman Allah SWT: 

فأما من ثقلت موازينه فهو عيشة راضية 
Artinya: 
Maka adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. (Q.S. Al Qariah: 6-7)

Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.(QS. 23:103)

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (103) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan kebalikan dari ayat sebelumnya yaitu kerugian orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya. Mereka itu ketika masih berada di dunia banyak berbuat maksiat menuruti kehendak hawa nafsunya bahwa mereka mengingkari ayat-ayat Allah SWT yang menyebabkan amal-amal mereka tidak mempunyai penilaian di hari kemudian, sebagaimana firman Allah SWT: 

أولئك الذين كفروا بآيات ربهم ولقائه فحبطت أعمالم فلا نقيم لهم يوم القيامة وزنا 
Artinya: 
Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amal-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Q.S. Al Kahfi: 105) 
Mereka itulah yang akan kekal di dalam neraka Jahanam. Sejalan dengan ayat 103 ini firman Allah SWT: 

وأما من خفت موازينه فأمه هاوية 
Artinya: 
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (Q.S. Al Qariah: 8-9)

Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacad.(QS. 23:104)

تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ (104) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka itu, akan di bakar mukanya dengan api sehingga kelihatan jelek sekali dan bercacat. Dagingnya hancur, melelehlah sampai ke kakinya. Mereka mengeluh atas azab yang menimpanya, dan menyadari perbuatannya, ketika masih di dunia sebagaimana firman Allah SWT: 

ولئن مستهم نفحة من عذاب ربك ليقولن يا ويلنا إنا كنا ظالمين 
Artinya: 
Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Tuhanmu, pastilah mereka berkata, "Aduhai, celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri". (Q.S. Al Anbiya: 46)

Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?(QS. 23:105)

أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (105) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa kepada penghuni neraka ditujukan kata-kata berbentuk pertanyaan yang sifatnya mengejek, yang maksudnya bahwa kepada mereka telah diutus Rasul-rasul untuk membimbing mereka, diturunkan kitab-kitab samawi untuk jadi pedoman mereka, supaya tidak ada lagi alasan mereka untuk tidak taat dan patuh kepada ajaran-ajaran yang dibawa Rasul-rasul itu, sebagaimana firman Allah SWT: 

لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل وكان الله عزيزا حكيما 
Artinya: 
Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. (Q.S. An Nisa: 165) 
Dan firman-Nya: 

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا 
Artinya: 
Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul. (Q.S. Al Isra': 15) 
Tetapi mereka itu mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mempercayainya sedikitpun, bahkan Rasul-rasul yang diutus kepada mereka disiksanya dan dianiaya. Sejalan dengan ayat 105 ini, firman Allah SWT: 

كلما ألقي فيها فوج سألهم خزنتها ألم يأتكم نذير قالوا بلى قد جاءنا نذير فكذبنا وقلنا ما نزل الله من شيء إن أنتم إلا في ضلال كبير 
Artinya: 
Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir) penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab, "Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan, "Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar". (Q.S. Al Mulk: 8-9)

Mereka berkata: `Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.(QS. 23:106)

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ (106) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan pengakuan penghuni neraka atas kesesatan mereka. Sekalipun telah diutus kepada mereka Rasul-rasul untuk membimbing mereka, diturunkan kitab-kitab Samawi untuk jadi pedoman mereka, tetapi oleh karena mereka telah dikalahkan oleh kejahatan mereka, dikendalikan oleh hawa nafsu mereka, maka tidak ada jalan lain bagi mereka untuk tidak berbuat demikian dan menghindari dari padanya. Sejalan dengan ayat ini firman Allah SWT: 

فاعترفنا بذنوبنا فهل إلى خروج من سبيل 
Artinya: 
Lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?. (Q.S. Al Mu'min: 11)

Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.`(QS. 23:107)

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ (107) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan permohonan penghuni neraka kepada-Nya, yaitu agar mereka dikeluarkan dari neraka dari dikembalikan ke dunia. Mereka berjanji, bahwa kalau permohonan mereka dikabulkan, mereka akan beriman dan taat kepada segala apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi kalau mereka masih tetap juga berbuat maksiat sebagaimana halnya dahulu, kembali kepada kekafiran mereka; maka mereka benar-benar adalah orang yang aniaya dan wajarlah mereka menerima azab dan siksa yang amat pedih.

Allah berfirman: `Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.(QS. 23:108)

قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ (108) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan jawaban-Nya terhadap permintaan penghuni neraka untuk dapat dikembalikan ke dunia menebus kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. 
Allah SWT menandaskan kepada mereka supaya mereka tetap sajalah di dalam neraka, meringkuk dalam keadaan hina tak mempunyai harga sedikitpun dan supaya mereka diam sajalah serta jangan mengulang lagi perbuatannya itu, karena mereka tak mungkin lagi dapat dikembalikan ke dunia. Sesudah itu tak kedengaran apa-apa lagi dari mereka, kecuali suara meraung-raung seperti keledai dan himar yang seram mengerikan kedengarannya itu.

Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia):` Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.(QS. 23:109)

Surah Al Mu'minuun 109 - 110 
إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (109) فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ (110) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan tentang sebab musabab mereka disiksa dan diazab serta jawabnya dengan jawaban yang menghina atas permintaan mereka kembali ke dunia, yaitu karena ada di antara hamba-hamba Allah yang telah beriman, seperti Bilal, Khabbab, Suhaib dan lain-lain dari orang-orang mukmin yang lemah, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, menegaskan ikrar dan pengakuannya telah beriman kepada-Nya, membenarkan Rasul-rasul yang diutus oleh-Nya, Senantiasa meminta ampun dan memohon rahmat kepada-Nya karena Dialah pemberi rahmat yang sebaik-baiknya, tetapi orang-orang kafir menghadapi orang-orang mukmin itu dengan sikap mengejek. Mereka mengejek dan menertawakan orang-orang mukmin dengan nada menghina terutama perlakuan yang ditujukan oleh Abu Jahal sendiri. Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa atas kesibukan mereka mengejek dan menertawakan orang-orang mukmin, sehingga mereka lupa mengingat Allah. Sejalan dengan ayat ini, firman Allah SWT: 

إن الذين أجرموا كانوا من الذين ءامنوا يضحكون وإذا مروا بهم يتغامزون وإذا انقلبوا إلى أهلهم انقلبوا فكهين وإذا رأوهم قالوا إن هؤلاء لضالون وما أرسلوا عليهم حافظين 
Artinya: 
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin mereka mengatakan, "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat". Padahal orang-orang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin". (Q.S. Mutaffifin: 29-33)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Mu'minuun 110 
فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ (110) 
(Lalu kalian menjadikan mereka buah ejekan) lafal Sikhriyyan dapat pula dibaca Sukhriyyan keduanya merupakan bentuk Mashdar, maknanya adalah ejekan. Di antara mereka yang menjadi bahan ejekan orang-orang musyrik adalah sahabat Bilal, sahabat Shuhaib, sahabat Ammar, sahabat Salman (sehingga menjadikan kalian lupa mengingat Aku) kalian melupakannya disebabkan kalian sibuk dengan memperolok-olokkan mereka. Mengingat mereka sering lupa, maka sifat pelupa dinisbatkan kepada mereka (dan adalah kalian selalu menertawakan mereka).

Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. `(QS. 23:111)

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ (111) 
Pada ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa Dia akan memberi balasan kepada orang-orang mukmin di Hari Kiamat nanti, karena kesabaran mereka menghadapi ejekan dan tertawaan orang-orang yang berdosa itu, dan ketabahan mereka, taat dan patuh kepada perintah-Nya, sesungguhnya orang-orang mukmin, itulah orang-orang yang yang menang dan beruntung. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang santai, menertawakan orang-orang kafir yang menertawakan mereka dahulu di dunia, yang diberi ganjaran terhadap apa yang telah dikerjakannya, sebagaimana firman Allah SWT: 

فاليوم الذين آمنوا من الكفار يضحكون على الأرائك ينظرون هل ثوب الكفار ما كانوا يفعلون 
Artinya: 
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Q.S. Mutaffifin: 34-36)

Allah bertanya:` Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? `(QS. 23:112)

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ (112) 
Setelah permintaan penghuni neraka untuk dikembalikan ke dunia ditolak oleh Allah SWT dengan penegasan bahwa mereka akan tetap meringkuk di neraka dan supaya jangan meminta-minta kepada Dia, mereka ditanya lagi berapa lamanya mereka tinggal hidup di bumi, sejak dilahirkan sampai meninggalkan dunia fana itu ke alam baka.

Mereka menjawab:` Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. `(QS. 23:113)

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ (113) 
Oleh karena besarnya pengaruh bencana yang menimpa penghuni neraka itu dan hebatnya siksa dan azab yang diderita mereka, maka mereka yang malang itu, tidak ingat lagi berapa lamanya mereka tinggal di dunia. Mereka merasa sebentar sekali, bahkan mereka menyangka bahwa mereka itu tinggal di dunia hanya sehari atau tidak sampai satu hari. Pada ayat ini, Allah SWT menganjurkan kepada mereka, kalau perlu supaya ditanyakan kepada orang-orang yang ahli hitung.

Allah berfirman:` Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui `.(QS. 23:114)

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (114) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa memang benar mereka itu tinggal di dunia hanya sebentar. Andai kata mereka menyadari hal itu semasih mereka tinggal di dunia, bahwa mereka hidup di dalamnya hanya sebentar, sedang kehidupan yang dihadapinya adalah kehidupan yang tiada ada batasnya, tentunya mereka itu akan berbuat sesuai dengan yang demikian itu. 
Diriwayatkan di dalam satu Hadis Marfu' bahwa Allah SWT telah memasukkan ahli surga ke dalam surga dan ahli neraka ke dalam neraka; berfirmanlah Dia, "Wahai penghuni surga!, berapa lama engkau hidup di dunia ?, mereka menjawab, "Kami tinggal di dunia hanya sehari atau tidak sampai satu hari". Allah berfirman, "Alangkah baiknya engkau sekalian menunaikan dan memanfaatkan waktu yang sehari itu, atau tidak sampai satu hari itu. Engkau sekalian memperoleh rahmat Ku, rida Ku dan surga Ku. Tinggallah kamu sekalian di dalam surga (bersenang-senang) untuk selama-lamanya. Sesudah itu Allah SWT berfirman, "Wahai penghuni neraka!, berapa lamakah kamu tinggal hidup di dunia?, mereka menjawab, "Kami tinggal di dunia hanya sehari atau tidak sampai satu hari". Allah berfirman, "Alangkah jahatnya kamu sekalian melintasi waktu yang sehari atau yang tidak sampai satu hari itu. Kamu sekalian menerima murka Ku dan memasuki neraka Ku. Tinggallah di dalam neraka untuk selama-lamanya".

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?(QS. 23:115)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa keingkaran mereka ahli neraka itu tentang adanya hari berbangkit, apakah mereka menyangka bahwa mereka Kami ciptakan secara main-main saja, dibiarkan begitu saja seperti halnya binatang tidak diberi pahala dan tidak diazab? Ataukah karena mereka mengira bahwa mereka itu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Tidak, sekali lagi tidak. Mereka diciptakan sebagai hamba Allah dan diberi kewajiban. Kalau melaksanakan kewajiban-kewajiban itu, mereka diberi pahala dan kalau mereka menyia-nyiakan kewajiban itu, mereka akan diazab dun mereka nanti akan dikembalikan kepada Allah SWT, mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan mereka di dunia ini, sebagaimana firman Allah SWT: 

أيحسب الإنسان أن يترك سدى 
Artinya: 
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja ? (tanpa pertanggungjawaban?). (Q.S. Al Qiyamah: 36)

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) Arsy yang mulia.(QS. 23:116)

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116) 
Pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa Dia Maha Suci dan apa yang disangkakan orang-orang musyrik kepada-Nya begitu pula sangkaan bahwa Dia menciptakan manusia secara sia-sia, karena Dia itu adalah Tuhan yang sebenarnya. Tiada Tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai dan memiliki Arasy yang mulia itu Dialah yang mengatur alam sejagat ini, baik yang di atas maupun yang di bawah, begitu pula semua makhluk diciptakan oleh-Nya.

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada beruntung.(QS. 23:117)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang menyembah bersama Dia, tuhan yang lain, pada hal tidak ada yang pantas disembah melainkan Dia, pada hakikatnya tidak ada alasan sama sekali yang dapat membenarkan perbuatan mereka itu. Mereka akan dihadapkan kepada Allah SWT memperhitungkan dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan mereka itu. Dialah yang akan menyempurnakan ganjaran amal perbuatan mereka. Sesungguhnya orang-orang kafir itu, tidak akan beruntung untuk selama-lamanya, dan tidak akan luput dan azab yang menyiksanya.

Dan katakanlah:` Ya Tuhanku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik. `(QS. 23:118)

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (118) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa setelah Dia menjelaskan keadaan orang-orang kafir, kebodohan mereka di dunia dan siksaan di akhirat, Dia memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya memohon kepada-Nya, agar dimaafkan atas kesalahan yang diperbuatnya, diberi rahmat dengan diterima tobatnya, dan dibebaskan dari azab atas kelalaian dan kekeliruan yang telah diperbuatnya, karena Dialah Pemberi rahmat yang paling baik. Perintah Allah kepada Rasul-Nya seperti tersebut di atas, adalah supaya menjadi contoh yang baik kepada umatnya. Setiap mereka berbuat kesalahan, supaya mereka beristigfar, dan setiap mereka berbuat maksiat, supaya cepat-cepat bertobat, jangan sampai kesalahan, dan maksiat itu bertumpuk-tumpuk, karena yang demikian itu akan menjadi beban yang berat nanti di Hari Akhirat.




<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH MU'MINUUN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar