Senin, 03 September 2012

An-Nuur 21 - 30

SURAH AN-NUUR
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AN-NUUR>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=24
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 24:21)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (21) 
Pada ayat ini, Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, agar mereka itu jangan terbawa-bawa menuruti ajakan setan, mengikuti jejak dan langkahnya, seperti suka dan senang menyebar luaskan aib dan perbuatan keji di antara orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang senang mengikuti langkah-langkah setan, pasti ia akan terjerumus kelembah kehinaan, berbuat yang keji dan munkar, karena setan itu memang suka berbuat yang demikian itu. Oleh karena itu jangan sekali-kali mau mencoba-coba mengikuti jejak dan langkahnya. Sekiranya Allah tidak memberikan karunia dan rahmat kepada hamba-Nya dan yang selalu membukakan kesempatan sebesar-besarnya untuk bertobat dari maksiat yang telah diperbuat mereka, tentunya mereka tidak akan bersih dari dosa-dosa mereka yang mengakibatkan kekecewaan dan kesengsaraan, bahkan akan disegerakan azab yang menyiksa mereka itu di dunia ini, sebagaimana firman Allah SWT: 
ولو يؤاخذ الله الناس بظلمهم ما ترك عليها من دابة ولكن يؤخرهم إلى أجل مسمى 
Artinya: 
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. (Q.S. An Nahl: 61) 
Allah Yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi, bagaimanapun juga, Dia tetap akan membersihkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-Nya, dengan menerima tobat mereka seperti halnya Hassan Mistah dan lainnya. Mereka itu telah dibersihkan dari penyakit nifak, sekalipun mereka itu telah berperan secara aktif di dalam penyebaran berita bohong yang dikenal dengan "Hadisul ifki", Allah SWT Maha Mendengar segala apa yang diucapkan yang sifatnya menuduh dan ketentuan kebersihan yang dituduh, Maha Mengetahui apa yang terkandung dan tersembunyi di dalam hati mereka yang senang menyebarkan berita-berita keji yang memalukan orang lain. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nuur 21 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (21) 
(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan) mengikuti godaan-godaannya. (Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu) yakni yang diikutinya itu (selalu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji) yakni perbuatan yang buruk (dan yang mungkar) menurut syariat, yaitu jika perbuatan itu diikuti (Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih) hai orang-orang yang menuduh, disebabkan berita bohong yang kalian katakan itu (selama-lamanya) tidak akan menjadi baik dan tidak akan menjadi bersih dari dosa ini hanya dengan bertobat daripadanya (tetapi Allah membersihkan) menyucikan (siapa yang dikehendaki-Nya) dari dosa, yaitu dengan menerima tobatnya. (Dan Allah Maha Mendengar) tentang apa yang telah kalian katakan (lagi Maha Mengetahui) tentang apa yang kalian maksud.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 24:22)

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (22) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah, janganlah mereka itu bersumpah untuk tidak mau memberikan bantuan kepada karib kerabatnya yang memerlukan bantuan seperti misalnya Mistah anak dari saudara perempuan Ibu Abu Bakar ra. Padahal ia seorang fakir miskin, berhijrah dari Mekah ke Madinah yang turut bersama Rasulullah saw, memperkuat pasukan kaum Muslimin di Perang Badar. 
Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan dun ditujukan kepada Abu Bakar r.a. ketika ia bersumpah untuk tidak memberi bantuan apapun sepanjang masa kepada Mistah bin Usasah anak saudara perempuan ibunya karena Mistah itu adalah salah seorang pelaku utama secara aktif di dalam peristiwa yang dikenal dengan "Hadisul ifki". 
Oleh karena itu, sesudah turun wahyu yang menunjukkan atas kebersihan Siti 'Aisyah dari hal yang dituduhkan kepadanya, dan setelah Allah SWT mengampuni orang-orang yang semestinya diampuni serta diberi hukuman had kepada orang-orang yang semestinya menerima yang demikian itu, maka Abu Bakar r.a, kembali ramah dan berbuat baik serta memberi bantuan kepada kerabatnya yaitu Mistah. Mistah adalah sepupunya, anak dari saudara penempuan ibunya. Orang-orang mukmin hendaklah memaafkan dan berlapang dada kepada segenap oknum yang terlibat atau dilibatkan di dalam peristiwa hadisul ifki. Apakah mereka tidak ingin diampuni oleh Allah SWT sebagaimana mereka mengampuni dan memaafkan orang-orang yang berbuat salah kepada-Nya, begitu pula Allah SWT akan mengampuni dan memaafkan mereka itu dari dosa dan maksiat yang diperbuatnya. Allah SWT Maha Pengampun, mengampuni dosa orang-orang yang taat dan menuruti perintah-Nya, Maha Penyayang kepada hamba-Nya dan tidak akan mengazab dosa yang telah diperbuat mereka, asal mereka itu bertobat, taubatan nasuha dari dosa mereka itu. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nuur 22 
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (22) 
(Dan janganlah bersumpah orang-orang yang mempunyai kelebihan) yaitu orang-orang kaya (dan kelapangan di antara kalian, bahwa mereka) tidak (akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah) ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar r.a, ia bersumpah tidak akan memberikan nafkah lagi kepada Misthah saudara sepupunya yang miskin lagi seorang Muhajir, padahal Misthah adalah sahabat yang ikut dalam perang Badar. Misthah terlibat dalam peristiwa berita bohong ini; maka sahabat Abu Bakar menghentikan nafkah yang biasa ia berikan kepadanya. Para sahabat lainnya telah bersumpah pula, bahwa mereka juga tidak akan memberikan nafkah lagi kepada seorang yang terlibat membicarakan masalah berita bohong tersebut (dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada) terhadap mereka yang terlibat, dengan mengembalikan keadaan seperti semula. (Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) terhadap orang-orang yang beriman. Sahabat Abu Bakar r.a. berkata sesudah turunnya ayat ini, "Tentu saja, aku menginginkan supaya Allah mengampuni aku", lalu ia memberikan lagi bantuannya kepada Misthah sebagaimana biasanya.

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,(QS. 24:23)

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (23) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang saleh yang bersih hatinya dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berbuat yang keji dan tidak senonoh seperti zina dan lainnya, mereka itu akan dijauhkan dari rahmat Allah di dunia dan di ahirat, dan di akhirat nanti akan ditimpakan kepada mereka azab yang amat pedih, sebagai balasan dari kejahatan yang telah diperbuat mereka. Merekalah yang menjadi sumber dari berita yang menyakitkan hati wanita-wanita yang beriman, menyebarkan berita itu di antara orang-orang yang beriman. Mereka telah menjadi ikutan buruk bagi orang-orang yang turut menyiarkan berita-berita keji itu. Bagi mereka itu dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang turut menyiarkan berita-berita bohong yang bersumber dari mereka, sebagaimana sabda Rasulullah saw: 

من سن سنة شر فأتبع عليها كان عليه وزره ومثل أوزار من اتبع غير منقوص من أوزارهم شيئا. 
Artinya: 
Barangsiapa yang mengadakan perbuatan yang buruk dan ada yang mengikutinya, maka dosa perbuatannya itu akan dipikulnya bersama dosa orang-orang yang melakukan perbuatan buruk itu tanpa dikurangi sedikitpun. (H.R. Abdullah bin Jarir)

pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.(QS. 24:24)

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa ketika orang-orang jahat yang bergelimang dosa di dunia akan ditindak di akhirat nanti, mereka membantah dan mengingkari perbuatan jahat mereka, maka datanglah anggota tubuhnya menjadi saksi. Datanglah lidah, tangan dan kaki mereka, menceritakan apa-apa yang telah dikerjakannya dahulu di dunia. Dengan kekuasaan Allah SWT anggota-anggoa tubuh itu bisa berbicara dan bercerita, sebagaimana firman Allah SWT: 

وقالوا لجلودهم لم شهدتم علينا قالوا أنطقنا الله الذي انطق كل شيء 
Artinya: 
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab, "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata." (Q.S. ) 
Fussilat: 21 
Dan sabda Rasulullah saw: 

إذا كان يوم القيامة عرف الكافر بعمله فيجحد ويخاصم فيقال هؤلاء جيرانك يشهدون عليك. فيقول كذبوا فيقال اهلك وعشيرتك فيقول كذبوا فيقال أحلفوا فيحلفون ثم يصمهم الله فتشهد عليهم ألسنتهم وأيديهم وأرجلهم ثم يدخلهم النار. 
Artinya: 
Pada Hari Kiamat nanti, diperkenalkanlah orang kafir dengan perbuatannya Ia menyangkal dan membantah (tidak mengakui perbuatannya itu). Dikatakan kepadanya, "Mereka tetanggamu menjadi saksi atas perbuatanmu itu". Jawabnya "Mereka itu dusta". Dikatakan lagi, "Keluargamu dan karib keluargamu menjadi saksi". Jawabnya: "Mereka juga itu bohong". Saksi-saksi itu disuruh bersumpah. Mereka bersumpah (memperkuat kesaksian mereka) kemudian Allah menutup persoalan orang-orang kafir itu dan bersaksilah lidah, tangan dan kaki mereka, lalu mereka dimasukkan ke dalam neraka." (H.R. Abu Said Al Khudri) 
Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan bahwa kesaksian yang dimaksud di sini bukan berupa ucapan, tetapi kesaksian berupa gerakan. Kalau mengenai ucapan, lidahnya yang bergerak. Kalau mengenai perbuatan tangan atau kaki, bergeraklah tangan dan kaki sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya di dunia. Kalau di dalam pengusutan suatu perkara pidana, samalah dengan istilah yang dinamakan rekonstruksi. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nuur 24 
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) 
(Pada hari) yauma dinashabkan oleh lafal Istaqarra yang berta'alluq kepadanya, maksudnya pada hari yang telah ditetapkan bagi mereka (memberi kesaksian) dapat dibaca Tasyhadu dan Yasyhadu (lidah, tangan dan kaki mereka atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan) berupa perbuatan dan perkataan yang telah mereka kerjakan, yaitu pada hari kiamat.

Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).(QS. 24:25)

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ (25) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa di akhirat nanti, akan disempurnakan balasan amal perbuatan tiap-tiap manusia oleh Allah SWT. Di-sanalah pula mereka akan mengetahui bahwa azab yang dijanjikan kepada mereka yang berbuat dosa dan maksiat di dunia ini, benar-benar akan menjadi kenyataan dan tidak ada keragu-raguan, lagi Allah itu benar-benar menepati janji-Nya, dan menjelaskan sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya Sejalan dengan ayat ini firman Allah SWT: 

واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون 
Artinya: 
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. Al Baqarah: 281) 
Oleh karena itu hendaklah setiap manusia berhati-hati berbuat sesuatu dan sedapat mungkin menghindari hal-hal yang menyebabkan dia binasa dan diazab nanti di akhirat, sebagaimana sabda Nabi saw: 

اجتنبوا السبع الموبقات, وقيل من هن يا رسول الله قال الشرك بالله, السحر وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق وأكل الربا وأكل مال اليتيم, والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات. 
Artinya: 
Jauhilah tujuh macam yang membinasakan. Di tanya apakah yang tujuh itu wahai Rasulullah? Jawab beliau, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh (manusia) yang diharamkan Allah SWT membunuhnya, kecuali dengan hak. memakan riba, memakan harta benda anak yatim, lari membelakang dari pertempuran (fi sabilillah) dan menuduh wanita-wanita yang baik yang bersih hatinya dan beriman". (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Khurairah) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nuur 25 
يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ (25) 
(Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal) Dia akan membalas mereka dengan pembalasan yang semestinya mereka terima (dan tahulah mereka bahwa Allahlah Yang Benar lagi Yang menjelaskan) karena Dia benar-benar membuktikan pembalasan-Nya yang selama ini mereka ragukan kebenarannya; di antara mereka yang mendapat pembalasan adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang terpelihara kehormatannya adalah istri-istri Nabi saw. Adapun mengenai wanita-wanita yang disebutkan Qadzafnya dalam awal surah At-Taubah, yang dimaksud adalah wanita-wanita selain istri-istri Nabi.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (syurga).(QS. 24:26)

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (26) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa wanita-wanita yang tidak baik biasanya menjadi istri laki-laki yang tidak baik pula. Begitu pula laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita-wanita yang tidak baik pula, karena bersamaan sifat-sifat dan akhlak itu, mengandung adanya persahabatan yang akrab dan pergaulan yang erat. Dan wanita-wanita yang baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik-baik pula karena sebagaimana kita ketahui bahwa keramah-tamahan antara satu dengan yang lain terjalin karena adanya persamaan dalam sifat-sifat, akhlak, cara bergaul dan lain-lain. Begitu juga laki-laki yang baik-baik adalah untuk wanita-wanita yang baik-baik pula, ketentuan itu tidak akan berubah dari yang demikian itu. Oleh karena itu kalau sudah diyakini bahwa Rasulullah saw adalah laki-laki yang paling baik, dan orang pilihan di antara orang-orang dahulu dan orang kemudian, maka tentunya istri Rasulullah Siti Aisyah r.a. adalah wanita yang paling baik pula. Dan dengan demikian meleset dan bohonglah tuduhan yang dituduhkan kepada diri Siti Aisyah r.a.. Mereka yang baik-baik, baik laki-laki maupun wanita termasuk Sofwan bin Muattal dan Siti Aisyah r.a.. adalah bersih dari tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang yang keji, baik laki-laki maupun perempuan, mereka itu memperoleh ampunan dari Allah SWT dan rezeki yang mulia di sisi Allah di dalam surga Jannatunna'im.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.(QS. 24:27)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27) 
Pada ayat ini, Allah SWT mengajarkan kepada orang-orang mukmin tata cara bergaul yang berguna sekali untuk memelihara dan memupuk cinta dan kasih sayang serta pergaulan yang baik di antara mereka, yaitu janganlah hendaknya memasuki rumah orang lain kecuali sesudah diberi izin dan memberi salam, agar tidak sampai melihat aib orang lain, melihat hal-hal yang tidak pantas orang lain melihatnya, tidak menyaksikan hal-hal yang biasanya disembunyikan orang dan dijaga betul untuk tidak dilihat orang lain. Seseorang yang meminta izin untuk memasuki rumah orang, yang ditandai dengan memberi salam, dan jika tidak segera mendapat jawaban sebaiknya dilakukan sampai tiga kali. Kalau sudah ada izin, barulah masuk dan kalau belum, pulanglah kembali. 
Diriwayatkan dalam satu hadis sahih bahwa "Abu Musa Al Asy'ari' ketika minta izin kepada Umar untuk masuk ke dalam rumahnya sebanyak tiga kali tetapi belum juga ada izin, iapun pulang. Kemudian Umar berkata, "Seakan-akan saya mendengar suara Abdullah bin Qais (Abu Musa) minta izin, izinkanlah dia. Setelah mereka lihat ternyata Abu Musa telah pergi. Ketika Abu Musa datang lagi sesudah itu, Umar berkata, "Kenapa engkau kembali tempo hari?" Abu Musa menjawab, "Sesungguhnya saya telah minta izin tiga kali untuk masuk, tetapi belum juga ada izin, jadi saya kembali. Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Apabila telah minta izin salah seorang dari kamu tiga kali, dan belum juga diberi izin, hendaklah pergi pulang". 
Cara yang demikian itulah yang lebih baik, yaitu apabila akan memasuki rumah orang lain, harus lebih dahulu minta izin, memberi salam dan menunggu sampai ada izin, kalau tidak, lebih baik pulang saja dan tidak jadi masuk. Demikianlah supaya cara itu selalu diingat untuk diamalkan. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nuur 27 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27) 
(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin) maksudnya sebelum kalian meminta izin kepada empunya (dan memberi salam kepada penghuninya). Seseorang jika mau memasuki rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan, "Assalaamu Alaikum, bolehkah aku masuk?" demikianlah menurut tuntunan hadis. (Yang demikian itu lebih baik bagi kalian) daripada masuk tanpa izin (agar kalian selalu ingat) lafal Tadzakkaruuna dengan mengidgamkan huruf Ta kedua kepada huruf Dzal; maksudnya supaya kalian mengerti akan kebaikan meminta izin itu, kemudian kalian mengerjakannya.

Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:` Kembali (saja) lah `, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. 24:28)

فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (28) 
Pada ayat ini. Allah SWT menerangkan bahwa apabila hendak memasuki rumah orang lain dan tidak menemukan seorang di dalamnya yang berhak memberi izin, janganlah sekali-kali memasukinya, sebelum ada izin, kecuali ada hal yang mendesak seperti ada kebakaran di dalamnya, yang mengkhawatirkan akan menjalar ke tempat lain, atau untuk mencegah suatu perbuatan jahat yang akan terjadi di dalamnya maka bolehlah memasukinya sebelum ada izin. Tetapi kalau orang yang berhak memberi izin untuk masuk, menganjurkan supaya pulang dulu, karena ada hal-hal di dalam rumah yang oleh empunya rumah merasa malu dilihat orang lain, maka pulanglah karena yang demikian itulah yang lebih menjamin keselamatan bersama. Allah SWT. Maha Mengetahui isi hati dan niat yang terkandung di dalam hati sanubari.

Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.(QS. 24:29)

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ (29) 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa tempat-tempat yang tidak disediakan khusus untuk tempat tinggal, tetapi hanya untuk menginap sementara bagi orang yang memerlukannya, seperti Hotel, Losmen, tempat rekreasi, peristirahatan dan sebagainya, tidak ada halangan dan dosa memasukinya tanpa izin, karena ada sesuatu keperluan di dalamnya. Hal-hal yang biasanya kurang layak dan tidak sopan di lihat orang lain di suatu rumah tempat tinggal, tidak terdapat di tempat-tempat tersebut di atas. 
Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Sidik pernah berkata, "Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepada engkau ayat yang memerintahkan supaya meminta izin untuk memasuki suatu rumah. Di dalam melakukan perdagangan, kami adakalanya tinggal di penginapan. Apakah tidak boleh juga memasuki penginapan itu tanpa izin? Maka turunlah ayat ini Allah mengetahui apa yang dinyatakan dalam ucapan seseorang ketika meminta izin untuk memasuki rumah tempat tinggal, dan mengetahui apa yang disembunyikan di dalam hati untuk melihat aib dan hal-hal yang tidak wajar dan memalukan yang empunya rumah.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:` Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat `.(QS. 24:30)

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) 
Pada ayat ini, Allah SWT menyuruh Rasul-Nya menganjurkan kepada orang laki-laki yang beriman supaya mereka itu menahan pandangan mereka dari apa yang diharamkan kepada mereka melihatnya dan jangan melihat kecuali apa yang dibolehkan melihatnya. Kalau pandangan mereka terarah kepada sesuatu yang diharamkan dengan tidak sengaja, maka secepat mungkin pandangan itu dialihkan untuk menghindari melihat yang haram itu. Di dalam suatu hadis yang diriwayatkan Muslim dijelaskan bahwa sahabat Abdullah Al Bajalli bertanya kepada Nabi saw tentang penglihatannya kepada yang haram dengan tiba-tiba Maka Nabi saw menyuruh dia mengalihkan pandangannya. Sabda Nabi saw: 

يا علي لا تتبع النظرة النظرة فإن لك الأولى وليس لك الآخرة. 
Artinya: 
"Wahai Ali! Jangan engkau susulkan pandangan pertamamu dengan pandangan kedua, karena yang dibolehkan untukmu hanya pandangan pertama (yang tidak disengaja) sedang pandangan yang kedua tidak lagi dibolehkan." (H.R. Abu Daud) 
Juga Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya supaya menganjurkan kepada laki-laki yang beriman agar mereka itu memelihara kemaluannya, jangan sampai menggunakan berbuat yang keji, atau dilihat orang lain. Sabda Rasulullah saw.: 

احفظ عورتك إلا من زوجتك أو ما ملكت يمينك. 
Artinya: 
Jagalah auratmu (jangan sampai terlihat oleh orang lain) kecuali terhadap istrimu atau hamba sahayamu. 
Menjaga mata untuk tidak melihat yang haram, menjaga kemaluan untuk tidak berbuat keji, adalah lebih baik dan lebih suci, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa saja yang diperbuat segala sesuatu yang dikerjakan atau yang terlintas di dalam hati. Semuanya diketahui oleh Allah SWT dan tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nuur 30 
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) 
(Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya) dari apa-apa yang tidak dihalalkan bagi mereka melihatnya. Huruf Min di sini adalah Zaidah (dan memelihara kemaluannya) daripada hal-hal yang tidak dihalalkan untuknya (yang demikian itu adalah lebih suci) adalah lebih baik (bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat") melalui penglihatan dan kemaluan mereka, kelak Dia akan membalasnya kepada mereka.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AN-NUUR>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar