Senin, 03 September 2012

AL-MU'INUUN 61 - 80

SURAH 
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH MU'MINUUN>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=23
Tafsir / Indonesia/DEPAG / Surah Al Mu'minuun
 61.mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.(QS. 23:61)

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (61)
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, selalu bersegera berbuat kebaikan bila saja ada kesempatan untuk itu dan selalu berdaya upaya agar amal baiknya selalu bertambah-tambah, baru saja ia selesai melaksanakan amal yang baik ia ingin agar segera berbuat amal yang lain dan demikianlah seterusnya. Orang-orang yang demikian sifat-sifatnya akan diberi Allah pahala amalnya yang baik di dunia maupun di akhirat seperti tersebut dalam firman-Nya:



وآتيناه في الدنيا حسنة وإنه في الآخرة لمن الصالحين
Artinya:
Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Q.S. An Nahl: 122)
Dan firman-Nya:

فآتاهم الله ثواب الدنيا وحسن ثواب الآخرة والله يحب المحسنين
Artinya:
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Ali Imran: 148)


Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.(QS. 23:62)

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (62) 
Dengan ayat ini Allah menjelaskan bahwa sudah menjadi Sunah dan ketetapan-Nya, Dia tidak akan membebani seseorang dengan suatu kewajiban atau perintah kecuali perintah itu sanggup dilaksanakannya dan dalam batas-batas daya dan kekuatannya. Tidak ada suatu syariat yang diwajibkan-Nya yang berat dilaksanakan oleh hamba-Nya bila diukur dengan kemampuannya, hanya manusialah yang memandangnya berat karena keengganannya atau ia disibukkan oleh urusan dunianya atau menghalanginya dari melaksanakan keinginannya. 
Padahal perintah itu seperti salat umpamanya amat ringan dan enteng bagi orang yang telah biasa mengerjakannya bahkan salat itupun dapat meringankan beban dan tekanan hidup yang dideritanya bila ia benar-benar mengerjakannya dengan tekun dan khusyuk. Muqatil berkata, "Barangsiapa tidak sanggup mengerjakan salat dengan berdiri ia boleh mengerjakannya dalam keadaan duduk, dan kalaupun tidak sanggup duduk maka dengan isyarat sajapun sudah cukup. Karena itu tidak ada alasan sama sekali bagi orang mukmin untuk membebaskan dirinya dari kewajiban salat, demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya karena semua kewajiban itu adalah dalam batas-batas kemampuannya. Hanya nafsu dan keinginan manusialah yang menjadikan kewajiban-kewajiban itu berat baginya. Maka orang yang Seperti ini telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dan akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan atas keingkaran dan keengganannya. Tak ada suatu pelanggaranpun terhadap perintah Allah melainkan sudah dicatat dalam buku catatan amalnya, demikian pula amal perbuatan yang baik, baik kecil maupun besar semuanya tercatat dalam buku itu sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: 

هذا كتابنا ينطق عليكم بالحق إنا كنا نستنسخ ما كنتم تعملون 
Artinya: 
(Allah berfirman), "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Al Jasiah: 29) 
Dan firman-Nya: 

ووضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين مما فيه ويقولون يا ويلتنا مال هذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلا أحصاها ووجدوا ما عملوا حاضرا ولا يظلم ربك أحدا 
Artinya: 
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (Q.S. Al Kahfi: 49) 
Mereka akan diberi balasan sesaui dengan perbuatannya yang tertera dalam buku catatan itu dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun.

Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain daripada itu, mereka tetap mengerjakannya.(QS. 23:63)

بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِنْ هَذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ (63) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hati kaum musyrikin telah berpaling dan lalai dari memperhatikan petunjuk-petunjuk yang dibawa Alquran dan tidak mau mengambil manfaat dari padanya. Padahal petunjuk-petunjuk itulah yang dapat membawa mereka kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Seandainya mereka mau membaca dan memperhatikannya barang sedikit tentulah hati mereka akan terbuka dan melihat bahwa ajaran Alquran itu memang amat berguna dan semua yang terkandung di dalamnya adalah benar. Mereka akan mengakui bahwa semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah tanpa kecuali. Inilah kesalahan mereka yang pertama yang membawa kepada kesalahan-kesalahan lain dan menyebabkan mereka tidak memperdulikan lagi norma-norma akhlak yang mulia, berbuat sekehendak hati tanpa memperhatikan hak-hak orang-orang lain. Apa saja yang mereka ingini mereka rebut walaupun dengan merampas dan menganiaya kaum lemah. Karena itu pula mereka telah tenggelam dalam kemusyrikan dan mata hari mereka telah buta tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang sesat, telinga mereka telah tuli tidak dapat lagi mendengar mutiara-mutiara hikmah. 
Yang benar adalah paham mereka sendiri dan apa yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Semua yang bertentangan dengan itu harus dibasmi, dibuang jauh-jauh. Alquran itu hanya dongengan orang-orang yang dahulu yang dibawa oleh orang yang gila atau hanya gubahan seorang penyair atau ajaran yang diterima Muhammad dari Ahli kitab. Apabila diberikan kepada mereka keterangan yang nyata yang tak dapat dibantah sehingga mereka mengatakan, kami tak dapat menerimanya karena bertentangan dengan apa yang dianut dan dipercayai moyang kami seperti tersebut dalam ayat: 

بل قالوا إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مهتدون 
Artinya: 
Bahkan mereka berkata , "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka". (Q.S. Az Zukhruf: 22)

Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong.(QS. 23:64)

حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum musyrikin dan semua orang yang ingkar dan durhaka akan disiksa dengan siksan yang pedih. Dikala mereka telah dikepung oleh azab yang dahsyat dan mengerikan sebagai balasan atas keingkaran dan kedurhakaan mereka, mereka berteriak-teriak minta tolong dan sangat menyesali nasib mereka yang buruk itu, terutama pemimpin-pemimpin dan orang-orang kaya mereka yang pernah hidup di dunia dengan senang dan penuh kenikmatan. Tetapi siapa yang dapat menolong mereka di waktu itu karena semua urusan dan keputusan berada di tangan Allah (Tuhan Yang Maha Esa). Sesalan mereka tiada berguna lagi karena nasi sudah menjadi bubur, kesalahan dan kedurhakaan mereka tak dapat diampuni lagi.

Janganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami.(QS. 23:65)

لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ إِنَّكُمْ مِنَّا لَا تُنْصَرُونَ (65) 
Allah berfirman terhadap mereka , "Janganlah kamu berteriak-teriak meminta tolong pada hari ini, karena tak ada gunanya teriakkanmu itu. Hari ini adalah hari pembalasan terhadap apa yang kamu kerjakan di dunia dahulu". Inilah ketetapan yang sudah pasti dari Tuhanmu yang harus kamu terima, tak ada yang dapat menolong kamu atau membebaskan kamu dari azab ini dan kamu tak dapat menghindarkan diri daripada-Nya.

Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al quran) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang.(QS. 23:66)

قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ (66) 
Tatkala di dunia, telah dibacakan kepadamu ayat-ayat Kami oleh seorang Rasul yang Kami utus kepadamu, tetapi kamu mendustakannya, memperolok-olokkan dan menghinanya karena kesombongan dan kecongkakanmu padahal petunjuk dan ajaran yang dibawanya adalah benar dan sangat bermanfaat bagi kamu kalau kamu memperhatikan dan mendengarkannya.

Dengan menyombongkan diri terhadap Al quran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.(QS. 23:67)
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...

Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?(QS. 23:68)

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ (68) 
Pada ayat ini Allah mencerca perbuatan dan ucapan mereka yang tak sopan dan tak masuk akal itu. Apakah mereka tidak memperhatikan ayat-ayat Alquran bagaimana induk dan tinggi susunan kata-katanya, pada hal mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk memperhatikannya. Tak terdapat di dalam Alquran itu kelemahan, pertentangan atau sesuatu yang mengurangi nilai sastranya atau merendahkan pengertian yang terdapat di dalamnya. Bahkan di dalamnya terdapat dalil-dalil dan hujah-hujah yang nyata yang tak dapat dibantah, terdapat dasar-dasar akhlak yang mulia, syariat dan peraturan yang dapat membawa mereka ke tingkat yang paling atas bila mereka mau mengamalkan dan mematuhinya. Ataukah mereka menganggap kedatangan Muhammad sebagai rasul suatu hal yang mustahil yang belum pernah terjadi pada umat-umat yang terdahulu, pada hal mereka mengetahui adanya Rasul-rasul yang terdahulu itu bagaimana nasib umat-umat yang mengingkari mereka bahkan mereka melihat sendiri bekas-bekas yang ditinggalkan umat-umat yang durhaka itu.

Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?(QS. 23:69)

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (69) 
Ataukah mereka tidak kenal kepada Muhammad, Rasul mereka sehingga mereka mengingkarinya. Tidak! Mereka mengenal Muhammad sejak masa kecilnya, sebagai seorang yang baik budi pekerti, seorang yang paling terpercaya di kalangan mereka, seorang keturunan dari Bani Hasyim yang mereka hormati dan mereka segani, sehingga mereka sendiri memberikan julukan terhadapnya dengan Al Amin (seorang yang paling dipercaya) Abu Sofyan sebagai kepala perutusan mereka kepada Romawi, ketika ditanya bagaimana sifat-sifat Muhammad, dia menjawab Muhammad seorang dari keturunan keluarga yang mulia, terkenal dengan kebenaran ucapannya dan amanahnya.

Atau (apakah patut) mereka berkata:` Padanya (Muhammad) ada penyakit gila. `Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.(QS. 23:70)

أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ (70) 
Ataukah mereka menganggapnya sebagai seorang gila yang tidak sadar akan ucapan-ucapannya pada hal mereka tahu benar bahwa Muhammad tidak gila, mengakui bahwa dia adalah seorang yang paling cerdas diantara mereka seorang cendekiawan yang bijaksana sehingga mereka pernah mengangkatnya sebagai pemisah antara mereka, ketika mereka bertengkar siapa yang akan meletakkan hajar aswad di tempatnya setelah mereka merombak dan memperbaiki bangunan Kakbah. 
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Muhammad adalah pembawa kebenaran dari Tuhannya, bukan sebagai yang mereka tuduhkan itu. Dia mengajak mereka supaya meninggalkan sembahan-sembahan dan berhala-berhala dan kembali kepada agama tauhid yang murni agama nenek moyang mereka Nabi Ibrahim. Dia adalah pembawa agama yang mempunyai syariat dan peraturan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Tetapi kebanyakan mereka benci kepada kebenaran yang dibawanya, karena hati mereka telah tertutup oleh kegelapan syirik, dosa dan kedurhakaan sehingga mereka berpaling dari jalan yang benar dan selalu menempuh jalan yang sesat dan tak dapat lagi memahami kebenaran, bahkan mereka benci kepada kebenaran itu. Memang ada di antara mereka yang sadar dan insaf, mengakui dalam hatinya bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah agama yang benar dan baik, tetapi karena takut dicemooh kaumnya yang kafir mereka tidak mau beriman seperti halnya paman Nabi sendiri yaitu Abu Talib. Ia pernah mengatakan, "Kalau tidaklah karena takut akan dicerca oleh pemimpin-pemimpin kabilah kami, tentulah kami benar-benar telah menjadi pengikutnya dalam segala hal.

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.(QS. 23:71)

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ (71) 
Kemudian Allah menjelaskan bahwa kalau Alquran mengikuti kemauan mereka yang sesat itu seperti mempersekutukan Allah, mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, membenarkan perbuatan-perbuatan dosa dan munkar, tentulah dunia ini akan rusak binasa sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: 

لو كان فيهما آلهة إلا الله لفسدتا فسبحان الله رب العرش عما يصفون 
Artinya: 
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arasy dari apa yang mereka sifatkan. (Q.S. Al Anbiya: 22) 
Kalau Alquran membolehkan perbuatan aniaya dan meninggalkan keadilan tentulah akan terjadi kekacauan dan kegoncangan hebat dalam masyarakat. Kalau Alquran membolehkan pelanggaran hak, perampasan harta sehingga si lemah menjadi santapan yang empuk bagi si kuat tentulah dunia ini tidak akan aman dan tenteram selama-lamanya. Hal ini telah terbukti pada diri mereka sendiri. Hampir saja masyarakat Arab di masa Jahiliah rusak binasa, karena tak mempunyai norma-norma akhlak yang mulia, tak ada syariat dan +peraturan yang mereka patuhi. Mereka hanya membangga-banggakan kekayaan dan kekuatan sehingga untuk memperebutkannya mereka jatuh dalam jurang perselisihan dan peperangan yang tak habis-habisnya. Lalu Allah menerangkan lagi bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka sesuatu yang seharusnya menjadi kebanggaan mereka sendiri yaitu Alquran. Mengapa mereka berpaling dari padanya dan menolaknya, menganggap hina dan memperolok-olokkannya. Kalau mereka sadar dan insaf tentulah mereka tidak akan berbuat seperti itu. Memang terbukti kemudian bahwa Alquran itu menjadikan mereka bangsa yang mulia dan mereka berbangga dengan turunnya Alquran (pada mulanya) kepada mereka dan dalam bahasa mereka, sesuai dengan firman Allah: 

وإنه لذكر لك ولقومك وسوف تسألون 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban. (Q.S. Az Zukhruf: 44)

Atau kamu meminta upah kepada mereka?, Maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling Baik.(QS. 23:72)

أَمْ تَسْأَلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (72) 
Pada ayat ini Allah menanyakan suatu kemungkinan lagi mengapa mereka tidak mau menerima ajaran-ajaran Alquran karena Nabi Muhammad saw meminta kepada mereka imbalan jasa atas penyampaian ajaran-ajaran itu. Padahal Nabi Muhammad saw tidak pernah meminta apa-apa dari mereka karena dia menyadari bahwa penyampaian risalah itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya atas perintah Tuhannya. Kalau ada sesuatu yang diharapkannya maka harapan itu tiada lain hanyalah keridaan Allah yang dengan keridaan-Nya ia akan berbahagia dan dengan keridaan Allah itu ia akan mendapat balasan karunia yang tidak akan putus-putus sebagai tersebut dalam firman-Nya: 

قل ما سألتكم من أجر فهو لكم إن أجري إلا على الله وهو على كل شيء شهيد 
Artinya: 
Katakanlah, "Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (Q.S. Saba: 47) 
Karunia dari Allah itulah yang aku harapkan, karena Dia adalah sebaik-baik Yang memberi karunia.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.(QS. 23:73)

وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (73) 
Kemudian pada ayat ini Allah meyakinkan Nabi Muhammad saw bahwa dia benar-benar menyeru kaumnya kepada jalan yang lurus yang membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka janganlah engkau hai Muhammad terpengaruh dengan kata-kata orang-orang kafir itu yang menghina dan mencemoohkanmu. Semua ucapan-ucapan mereka itu adalah bohong belaka yang keluar dari mulut mereka karena dengki dan sakit hati.

Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus).(QS. 23:74)

وَإِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنَاكِبُونَ (74) 
Orang-orang yang tidak mau beriman itu dan tidak percaya kepada hari akhirat, benar-benar telah meyimpang dari jalan yang benar. Kepada mereka telah diberikan alasan-alasan dan perumpamaan-perumpamaan yang kalau sedikit saja mereka mau mendengarkan dan memikirkannya tentulah mereka akan sadar dan kembali kepada kebenaran. Tetapi hati dan pikiran mereka telah ditutupi oleh kesombongan, kedurhakaan dan perbuatan dosa yang selalu mereka lakukan. Mereka tidak berhak sama sekali atas rahmat dan kasih sayang Allah karena orang-orang yang demikian sifatnya tidak ada gunanya sama sekali berbuat baik kepada mereka.

Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka.(QS. 23:75)

وَلَوْ رَحِمْنَاهُمْ وَكَشَفْنَا مَا بِهِمْ مِنْ ضُرٍّ لَلَجُّوا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (75) 
Andai kata Kami memberi rahmat kepada mereka dan Kami singkirkan dari mereka bahaya yang mengancam mereka, maka mereka tidak akan mensyukuri rahmat itu, bahkan mereka akan bertambah durhaka dan tetap akan melakukan maksiat dan kelaliman. Tidak ada suatu kebaikanpun yang dapat diharapkan dari mereka. Bahkan andai kata mereka di akhirat nanti setelah melihat dahsyatnya siksaan yang akan ditimpakan ke atas diri mereka, kemudian diperkenankan permintaan mereka untuk dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki kesalahan mereka namun mereka akan tetap juga melakukan maksiat dan akan tetap juga menjadi orang-orang yang ingkar dan durhaka.

Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.(QS. 23:76)

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ (76) 
Kami telah menimpakan azab kepada mereka pada peperangan Badar sehingga banyak pemimpin dan pembesar mereka yang mati terbunuh tetapi mereka tak pernah tunduk kepada Allah dan tak pernah patuh mengikuti ajaran dan perintah-Nya. Tak pernah mereka merendahkan diri kepada-Nya bahkan tetap sombong dan takabur dan tak pernah berhenti melakukan kelaliman dan perbuatan dosa, bahkan mereka bertambah sesat dan bertambah giat memerangi agama Allah sehingga mereka menyiapkan tentara dan alat-alat perang yang lebih banyak dan lebih besar lagi.

Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.(QS. 23:77)

حَتَّى إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ (77) 
Sebenarnya mereka yang telah jauh sesat dari jalan yang benar itu tidak akan sadar dan insaf kecuali bila datang Hari Kiamat, dan dibukakan untuk mereka pintu siksaan yang berat, di waktu itulah baru mereka menyesal dan mengharapkan ampunan dari Allah, tetapi saat itu bukanlah saat untuk bertobat. Sesalan mereka tak ada gunanya lagi dan tobat merekapun tidak akan diterima. Pastilah mereka dijerumuskan ke dalam neraka sebagai balasan atas keingkaran dan kedurhakaan mereka di dunia sebagaimana tersebut dalam firman Allah: 

ذلكم بما كنتم تفرحون في الأرض بغير الحق وبما كنتم تمرحون ادخلوا أبواب جهنم خالدين فيها فبئس مثوى المتكبرين 
Artinya: 
Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan yang tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). (Dikatakan kepada mereka), "Masuklak kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong". (Q.S. Al Mu'min: 75-76)

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.(QS. 23:78)

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (78) 
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada manusia pendengaran, penglihatan dan hati. Sekiranya manusia mau memperhatikan dan memikirkan karunia Allah yang tiga macam itu saja yaitu mata, telinga dan hati, niscaya dia akan mengakui betapa besarnya nilai nikmat yang amat ajaib itu, betapa teliti dan halusnya ciptaan-Nya. Telinga menurut susunan yang amat sederhana kelihatannya itu dapat menangkap berbagai macam suara yang berbeda-beda. Suara binatang, burung-burung suara yang terjadi pada alam sekitar seperti suara angin yang menderu, suara petir yang mengguntur dan beraneka ragam suara yang ditimbulkan oleh peradaban manusia seperti surra kendaraan dan mesin-mesin, suara musik yang mengalun dan suara nyanyian yang merdu. Segala macam suara itu dapat dibedakannya satu persatu dan dapatlah dia menentukan sikap terhadap apa yang didengarnya. Mata dapat menangkap cahaya dan bentuk sesuatu, dapat membedakan berbagai macam warna, dapat melihat keindahan alam, dapat menyelidiki mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Kemudian hati yang dapat merasakan berbagai macam perasaan dan meneliti setiap kejadian serta mengambil kesimpulan darinya, seterusnya menentukan sikap terhadapnya. Kalau benar-benar manusia mempergunakan alat-alat itu sebaik-baiknya tentulah dia akan mendapat manfaat yang banyak sekali dan akhirnya sampailah kepada suatu kesimpulan bahwa pemberi nikmat dan karunia itu adalah Maha Luas ilmunya. Maha kuasa atas segala sesuatu, Dia patut dipuji dan disyukuri atas segala anugerah-Nya itu. Tetapi ternyata sedikit sekali manusia yang sampai kepada derajat itu. Seperti yang difirmankan Allah: 

وجعلنا لهم سمعا وأبصارا وأفئدة فما أغنى عنهم سمعهم ولا أبصارهم ولا أفئدتهم من شيء إذ كانوا يجحدون بآيات الله وحاق بهم ما كانوا به يستهزئون 
Artinya: 
Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. (Q.S. Al Ahqaf: 26)

Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.(QS. 23:79)

وَهُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (79) 
Di antara karunia Allah kepada manusia ialah menciptakan manusia dengan sempurna, dibekali dengan pendengaran, penglihatan dan mata hati dan lain-lain persiapan sehingga dia dapat memanfaatkan semua yang diciptakan Allah di bumi dan di langit yang memang diciptakan oleh Allah untuk manusia sebagai tersebut dalam firman-Nya: 

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا 
Artinya: 
Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (Q.S. Al Baqarah: 29) 
Dan firman-Nya: 

ألم تروا أن الله سخر لكم ما في السموات وما في الأرض وأسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة 
Artinya: 
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Q.S. Luqman: 20) 
Dia menciptakan manusia dengan persediaan-persediaan yang lengkap agar dia benar-benar menjadi Khalifah di muka bumi. Tak ada makhluk di bumi ini yang lebih sempurna ciptaannya dan pada manusia seperti tersebut dalam firman-Nya: 

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم 
Artinya: 
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. At Tin: 4) 
Dengan keistimewaan itu manusia harus bersyukur kepada Penciptanya dengan memanfaatkan karunianya itu dengan sebaik-baiknya, beramal dan bekerja untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Karena nanti Allah akan mengumpulkan manusia seluruhnya di padang mahsyar untuk menerima perhitungan amal perbuatannya selama hidup di dunia.

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?(QS. 23:80)

وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (80) 
Di antara karunia-Nya juga ialah menghidupkan dan mematikan, manusia tidak akan dapat menikmati kehidupan dunia kalau Allah tidak mengaruniakan roh kepadanya. Dengan adanya roh di dalam jasadnya barulah manusia dapat berusaha, berikhtiar dan berpikir untuk mencapai apa yang diingini dan dicita-citakannya. Tak ada yang mengetahui rahasia hidup mati ini kecuali Allah SWT. Telah berabad-abad bahkan beribu tahun manusia berusaha untuk mengetahui rahasia roh ini agar dia dapat hidup selamanya, tetapi sampai sekarang tak ada ilmuwanpun yang sanggup membukakan rahasia itu. Benarlah soal roh itu adalah suatu rahasia yang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah sebagai tersebut dalam firman-Nya: 

ويسألونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلا 
Artinya: 
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S. Al Isra': 85) 
Selanjutnya Dialah yang mempergilirkan malam dan siang. Malam dijadikan waktu untuk istirahat dan siang dijadikan waktu untuk berusaha dan bekerja. Dapat dibayangkan bagaimanakah jadinya dunia ini kalau yang ada siang saja, demikian pula sebaliknya. Mungkin dunia ini dan segala makhluk yang ada di atasnya akan mati terbakar karena selalu ditimpa terik matahari yang amat panas itu atau mungkin dunia ini akan mati dengan segala isinya kalau yang ada hanya malam saja sepanjang waktu, karena tak ada hangat dan panas yang menjadi sebab hidupnya makhluk duniawi ini. Allah sangat menyesalkan manusia, manusia yang tidak mengingat betapa besarnya karunia-Nya terhadap mereka. Mengapa mereka tidak memikirkan dan meperhatikannya, agar mereka bersyukur dan berterima kasih keqada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya itu?.


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH MU'MINUUN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar