Selasa, 29 Mei 2012

Al-Iraa' 41 - 60

Surah Al-Isra'
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Israa'
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=17#Top
41. Dan sesungguhnya dalam Al quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat.(QS. 17:41)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa' 41
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا (41)
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa di dalam Alquran, Dia telah berulang-ulang memberikan peringatan baik berupa bukti-bukti kebenaran, ataupun alasan-alasan yang menunjukkan kebenaran tauhid, dan telah memberikan beberapa tamsil ibarat tentang nasib umat yang mempersekutukan tuhan-tuhan yang lain terhadap Allah, dengan maksud agar kaum musyrikin Mekah itu dapat mengambil pelajaran dan suri teladan; dan menghentikan kemusyrikan mereka dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Semestinya keterangan yang berulang-ulang itu dapat melunakkan hati dan pikiran-pikiran mereka, agar mereka bisa mengikuti seruan Alquran, namun keterangan-keterangan kepada mereka itu hanya membuat mereka lari dari padanya. Mereka tidak mau mendengarkan Alquran itu, dan tidak mau menerima kebenarannya. Hal ini disebabkan karena jiwa mereka telah dikotori oleh kebiasaan-kebiasan yang buruk, sehingga mereka tidak lagi menilai kebenaran itu sebagai kebenaran, bahkan mereka lari dari kebenaran itu dan bergelimang dalam kebatilan.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 41
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا (41)
(Dan sesungguhnya telah Kami jelaskan) kami terangkan (di dalam Alquran ini) misal-misal, janji dan ancaman (agar mereka selalu ingat) maksudnya mengambil pelajaran darinya (Akan tetapi tidak menambahkan kepada mereka) hal tersebut (melainkan hanya menambah mereka lari) dari perkara yang hak
42. Katakanlah: `Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai Arsy`.(QS. 17:42)
Surah Al Israa' 42
قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا (42)
Kemudian Allah SWT membantah kepercayaan kaum musyrikin Mekah dengan memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada mereka bahwa; jika ada tuhan-tuhan di samping Dia, seperti apa yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan yang mereka persekutukan dengan Allah itu akan mencari jalan untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan kepada Allah Yang Mempunyai Arasy, Yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang meliputi langit dan bumi serta benda-benda penyusunnya Dan sudah tentu tuhan-tuhan yang mereka perserikatkan kepada Allah itu memohon dulu kepada Allah, dan menghambakan dirinya kepada-Nya. Maka apa yang mereka minta dengan perantaraan tuhan-tuhan mereka itu menempuh jalan yang berliku-liku. Mengapa mereka tidak langsung menyembah dan memohon kepada Allah Yang Maha Esa.
Ayat ini mengandung sindiran kepada kaum musyrikin Mekah agar mereka menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan melarang mereka mengada-adakan tuhan-tuhan yang lain, yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat melangsungkan keinginan mereka, dan menyampaikan kepada zat Yang Maha Esa Allah tidak menyukai adanya perantara-perantara seperti yang mereka duga, bahkan Allah telah melarang manusia mengadakan perantara-perantara seperti itu melalui wahyu yang telah disampaikan oleh para Rasul Nya.
43. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.(QS. 17:43)
Surah Al Israa' 43
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا (43)
Sesudah itu Allah SWT menyatakan ke Maha Sucian-Nya dan sifat yang diada-adakan oleh kaum musyrikin Mekah. Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat yang mereka ada-adakan itu yang mereka katakan hanyalah berdasarkan dugaan dan anggapan semata. Dia itu adalah Allah Yang Maha Esa yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tak ada seseorangpun yang setara dengan Dia.
Di dalam ayat itu terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa Allah SWT itu Maha Sempurna, baik zat atau sifat Nya, dan Maha Suci dari sifat kekurangan, dalam arti yang sebenar-benarnya.
44. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.(QS. 17:44)
Surah Al Israa' 44
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (44)
Kemudian Allah SWT menjelaskan betapa luasnya kerajaan-Nya dan betapa tinggi kekuasaan-Nya. Langit yang tujuh, bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya bertasbih dan mengagungkan asma-Nya, serta menyaksikan bukti-bukti keesaan-Nya. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Apabila seseorang suka memperhatikan semua makhluk yang ada, tentulah ia akan mengetahui bahwa baik makhluk hidup ataupun benda-benda mati seluruhnya tunduk dan takluk pada suatu ketetapan atau ketentuan yang mereka itu tidak bisa melepaskan diri daripadanya. Sebagai contoh hukum gaya tarik. Hukum ini berlaku umum dan mempengaruhi semua benda yang ada, apakah benda itu gas, barang cair, benda padat ataupun makhluk hidup, kesemuanya terpengaruh hukum dan gaya tarik itu. Hal ini menunjukkan bahwa hukum gaya tarik yang mempunyai kekuatan yang begitu besar pengaruhnya tidak mungkin terjadi secara kebetulan saja, melainkan ada yang menciptakannya dan mengaturnya setiap saat. Penciptanya tentu Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa, yaitu Allah SWT.
Hukum gaya tarik ini cukup menjadi bukti bahwa semua benda dan makhluk yang ada di muka bumi ini tunduk dan takluk pada hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah. Dan apabila seseorang ingin melepaskan diri dari pengaruh gaya tarik bumi itu, ia harus mempergunakan ilmu pengetahuan tentang tenaga yang dapat melepaskan diri dari gaya tarik bumi. Dan untuk menguasai tenaga itu ia harus menguasai hukum aksi dan reaksi, yaitu aksi yang dapat mengatasi gaya tarik bumi itu, sehingga ia bisa melepaskan dirinya dari pengaruh kekuatan gaya tarik bumi itu. Berhasilnya orang melepaskan dirinya, dari gaya tarik bumi itu bukanlah berarti bahwa ia tidak tunduk pada hukum Allah, melainkan ia dapat melepaskan dirinya itu lantaran tunduk pada hukum alam yang lain. Hal ini menunjukkan betapa luasnya kekuasaan Allah yang menciptakan hukum-hukum alam itu. Itupun baru hukum-hukum alam yang telah diketahui manusia, belum lagi hukum-hukum alam yang lain yang masih belum diketahui manusia.
Khusus makhluk yang berakal, oleh karena makhluk ini terdiri dan jasmani dan rohani, maka jasmaninya tunduk kepada hukum-hukum alam tersebut, baik, dikehendakinya atau tidak. Sedang rohaninya dituntut mengikuti bimbingan Allah yang disampaikan dengan wahyu-Nya kepada Rasul Nya.
Para ulama ahli ilmu kalam mengatakan bahwa Allah pencipta alam, adalah (wajib ada Nya), sedang makhluk-makhluk-Nya disebut "al mukminat" (yang mungkin adanya). Al mumkinat ini dibagi menjadi yang berakal dan yang tidak berakal. Makhluk yang berakal mengakui ke Esaan Allah karena mereka dapat memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit, di bumi dan di segala benda-benda penyusunnya. Oleh karena itu bibir mereka selalu bertasbih memuji Allah. Sedang makhluk yang tidak berakal mereka tunduk kepada "ahkam kauniyah" (yaitu hukum-hukum alam yang diciptakan Allah yang berlaku terhadap benda-benda alam itu). Maka mereka bertasbih memuji Allah dengan berperilaku, sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa kaum musyrikin Mekah tidak mengetahui tasbih benda-benda alam dan semua makhluk yang ada. Yang demikian itu, ialah karena mereka tidak mau mengakui keesaan Allah, dan karena perbuatan mereka yang mengadakan tuhan-tuhan yang lain yang mereka persekutukan dengan Allah. Kaum musyrikin itu tidak mau melihat dan memikirkan ketundukan alam semesta dan segala benda-benda serta makhluk di bumi kepada hukum-hukum alam itu, yang sebagai pencerminan bagi tasbih mereka memuji Allah SWT.
Di akhir ayat Allah SWT menegaskan bahwa sesungguhnya Dia Maha Penyantun. Karena Ke Maha Penyantunan Nyalah Dia tidak segera menurunkan azab atas kemusyrikan kaum musyrikin Mekah itu dan atas kelalaian mereka tidak mau memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, lagi Maha Pengampun. Di antara yang nampak dari sifat-sifat Ke Maha Pengampunan Allah itu ialah, Dia masih membuka pintu tobat selebar-lebarnya kepada siapa saja yang meminta ampunan-Nya. Dan tidak akan menghukum mereka karena dosa-dosa mereka lakukan, asalkan mereka menyesali perbuatan mereka dengan penyesalan yang sebenar-benarnya dan betul-betul menghentikan kemusyrikan dan kembali kepada agama tauhid serta mengikuti bimbingan wahyu yang diturunkan kepada Rasul Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 44
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (44)
(Bertasbih kepada-Nya) memahasucikan-Nya (langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya. Dan tak ada) tiada (suatu pun) di antara semua makhluk (melainkan bertasbih) seraya (memuji kepada-Nya) artinya mereka selalu mengucapkan kalimat subhaanallaah wa bihamdihi (tetapi kalian tidak mengerti) tidak memahami (tasbih mereka) karena hal itu dilakukan bukan memakai bahasa kalian. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun) karena itu Dia tidak menyegerakan azab-Nya kepada kalian, bila kalian berbuat durhaka.
45. Dan apabila kamu membaca Al quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,(QS. 17:45)
Surah Al Israa' 45
وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45)
Allah SWT menjelaskan bahwa apabila Rasulullah saw membacakan Alquran kepada kaum musyrikin dengan maksud agar mereka terbuka hatinya untuk menerima kebenaran yang terkandung di dalamnya, maka Allan SWT mengadakan dinding yang tidak nampak yang menutupi antara Rasulullah dan kaum musyrikin yang tidak beriman kepada hari akhirat.
Yang dimaksud dengan dinding yang menutupi dan tidak tampak itu, ialah sesuatu yang menghalangi hati kaum musyrikin untuk memahami kandungan Alquran, sehingga mereka tidak dapat mengambil manfaat dan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Alquran itu. Yang demikian itu adalah sebagai akibat dari keingkaran mereka kepada hari berbangkit dan kepada hari pemutusan, dan akibat dari noda-noda kemusyrikan yang telah menyelubungi jiwa mereka.
Sebagai penjelasan lebih jauh tentang penafsiran ayat tersebut, dapatlah dikemukakan sebuah hadis:

روي أنه عليه الصلاة والسلام كان إذا قرأ القرآن قام عن يمينه رجلان وعن يساره أخران من ولد قصي يصفقون ويصفرون ويخلطون عليه بالأشعار
Artinya:
Dinyatakan bahwa Rasulullah saw apabila membaca Alquran berdirilah di sebelah kanannya dua orang-orang laki-laki, dan di sebelah kirinya dua orang laki-laki yang lain dari keturunan Qusai, mereka bertepuk tangan dan bersiul-siul serta mengacaukannya dengan mengucapkan syair-syair.
Untuk mendapatkan keterangan sebagai latar belakang dari turunnya ayat tersebut, perlulah diperhatikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa Sofyan, Nadar bin Al Haris, Abu Jahal dan orang-orang musyrik yang lain, duduk-duduk di sekitar Nabi dengan mendengarkan pembicaraannya, kemudian An Nadar berkata pada suatu hari: "Saya tidak mengetahui apa yang dikatakan Muhammad, kecuali saya melihat kedua bibirnya berkomat-kamit mengucapkan sesuatu." Kemudian Abu Sofayn berkata: "sesungguhnya saya mengetahui bahwa sebagian dari apa yang dikatakannya itu adalah benar." Abu Jahalpun berkata: "Dia gila." Abu Lahab berkata: "Dia tukang tenung." Dan Huwaitib bin Abdul 'Uzza pun berkata: "Dia penyair." Maka turunlah ayat ini.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 45
وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45)
(Dan apabila kalian membaca Alquran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup rapat) artinya Kami menjadikan penutup yang rapat bagimu dari mereka sehingga mereka tidak dapat melihatmu. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang musyrik yang hendak membunuh Nabi saw.
46. dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut tuhanmu saja dalam Al quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.(QS. 17:46)
Surah Al Israa' 46
وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا (46)
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa pada saat Rasulullah membaca Alquran, Allah SWT memasang tutup yang menyelubungi hati kaum musyrikin, sehingga hati mereka tidak bisa memahami Alquran, dan Allah SWT memasang sumbat di telinga mereka, sehingga mereka tidak dapat mendengar Alquran itu. Kalau dalam ayat sebelum ayat yang ditafsirkan ini, Allah menyebutkan sebab-sebab yang menghalangi mereka memahami Alquran yang datang dari luar, maka dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan sebab-sebab yang terdapat pada diri mereka sendiri, yaitu mereka telah mengalami kerusakan mental yang berat. Sehingga mereka tidak dapat lagi mengendalikan jiwanya lagi, oleh karena itu terhalanglah mereka dari pengertian dari ayat-ayat Alquran yang benar-benar meminta perhatian dan pemusatan pikiran. Kerusakan mental ini disebabkan mereka terbiasa mengikuti jejak nenek moyang mereka, meskipun apa yang mereka ikut itu sebenarnya tidak benar. Mereka sendiri mengakui kerusakan mental mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain. Allah SWT berfirman:

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ (5)
Artinya:
Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu serukan kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding." (Q.S. Fussilat: 5)
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan, bahwa apabila Rasulullah menyebutkan Tuhannya, yaitu Allah Yang Maha Esa, tanpa menyebutkan tuhan-tuhan mereka di dalam Alquran, mereka berpaling ke belakang, menjauhi Rasul dengan sikap yang sombong dan takabur. Mereka merasa tersinggung sebab Rasulullah hanya menyebut nama Allah Yang Maha Esa saja dan tidak menyebutkan nama berhala-berhala mereka di dalam Alquran yang dibaca itu. Mereka benar-benar membenci Nabi, karena itu kebencian ini bukan hanya tampak dalam ucapan dan sikap mereka, akan tetapi diikuti dengan tindakan-tindakan penyiksaan kepada kaum Muslimin, dan merintangi kegiatan mereka dalam menyebarkan dakwah Islamiyah di kalangan penduduk Mekah dan sekitarnya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 46
وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا (46)
(Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka) yakni penutup-penutup (agar mereka tidak dapat memahaminya) yakni Alquran; oleh karenanya mereka tidak dapat mengerti tentang isinya (dan di telinga mereka sumbatan) menyumbat sehingga mereka tidak dapat mendengarkannya (Dan apabila kamu menyebut Rabbmu saja dalam Alquran niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya) kebencian mereka terhadap-Nya.
47. Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: `Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir`.(QS. 17:47)
Surah Al Israa' 47
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَى إِذْ يَقُولُ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا (47)
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan kepada Rasul-Nya bahwa Allahlah yang mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan, sewaktu mendengarkan Rasulullah. Mereka dalam keadaan memperolok-olokkan dan mendustakannya. Dan Allah-lah yang mengetahui sewaktu mereka berbisik-bisik satu sama lain. Di waktu itu ada di antara mereka yang mengatakan: "Muhammad itu orang gila", dan ada pula yang mengatakan.: "Dia tukang tenung," dan ada pula yang mengatakan: "Muhammad itu tiada lain kecuali orang yang kena sihir sebab pikirannya jadi berubah-ubah dan tidak seimbang lagi, apakah kita pantas mengikuti orang gila semacam Muhammad itu?"

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 47
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَى إِذْ يَقُولُ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا (47)
(Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan) karena mereka memperolok-olokkanmu (sewaktu mereka mendengarkan kamu) sewaktu mendengarkan bacaan Alquranmu (dan sewaktu berbisik-bisik) di antara sesama mereka (yaitu ketika) kata idz di sini menjadi badal daripada kata idz yang sebelumnya (orang-orang zalim itu berkata) di dalam bisikan-bisikan mereka ("Tiada lain) tidak lain (orang yang kalian ikuti ini hanyalah seorang laki-laki yang kena sihir.") orang yang tidak sadar dan hilang akal warasnya. Maka Allah berfirman:
48. Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).(QS. 17:48)
Surah Al Israa' 48
انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا (48)
Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah, agar memperhatikan bagaimana kaum musyrikin itu membuat perumpamaan terhadapnya, seperti perkataan mereka bahwa Muhammad itu gila, penyair, kena sihir dan sebagainya sebagai disebutkan di atas. Oleh karena itulah maka mereka itu telah menjadi sesat, dan tidak akan mendapat petunjuk, karena mereka telah terlalu menyimpang dari jalan yang benar. Perumpamaan-perumpamaan yang diberikan oleh orang-orang musyrikin Mekah kepada Nabi Muhammad saw ketika mendengarkan Rasulullah membacakan Alquran, adalah pernyataan yang lahir dari sikap mental mereka terhadap wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Mereka itu sebenarnya tidak mau mengakui kebenaran wahyu yang dibacakan Rasulullah, karena wahyu itu membawakan keterangan-keterangan yang bertentangan dengan kepercayaan yang mereka pusakai secara membabi buta dari nenek moyang mereka. Oleh sebab itu maka mereka tidak dapat diharapkan lagi untuk mendapat lain petunjuk dan bimbingan dari wahyu itu, karena hati mereka telah diselubungi oleh noda-noda kemusyrikan yang luar biasa.
49. Dan mereka berkata: `Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?`(QS. 17:49)
Surah Al Israa' 49
وَقَالُوا أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا (49)
Allah SWT menjelaskan kepada Rasul Nya apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin Mekah mengenai hari berbangkit. Mereka mengatakan bahwa apabila mereka telah mati dan telah menjadi tulang belulang, biarpun tulang belulang itu masih utuh dan baik, apakah benar mereka akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru. Dan perkataan mereka ini jelaslah, bahwa mereka tidak mau mempercayai adanya hari berbangkit.
Menurut kepercayaan mereka bahwa apabila mereka telah mati dan telah menjadi tulang-belulang, biarpun tulang-belulang itu masih utuh atau telah terpisah-pisah dari bagian-bagiannya, dan bahkan ada yang hancur luluh tidak mungkin akan tergabung kembali dan menjadi makhluk yang lain yang hidup seperti sediakala sebelum mati. Dan inilah yang menjadi sebab yang utama mengapa mereka tidak menolak kebenaran wahyu dan kerasulan Muhammad saw. Keingkaran mereka terhadap hari berbangkit ini ialah karena mereka menyamakan saja sesuatu yang berada di luar kemampuan pikiran mereka dengan kejadian yang biasa yang mereka alami sehari-hari. Padahal kekuasaan untuk, membangkitkan kembali semua makh1uk, berada di tangan Allah SWT Yang menciptakan segala makhluk yang ada. Dan kesemuanya itu berada di luar kemampuan pikiran mereka. Tetapi kalau mereka itu memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi dan di semua benda-benda, tentulah mereka akan membenarkan kejadian itu.
Allah SWT berfirman:

يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ (10) أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً (11) قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ (12)
Artinya:
(Orang-orang kafir) berkata: Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat". Mereka berkata: Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan". (Q.S. An Nazi'at: 10-12)
Dan firman Allah:

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79)
Artinya:
Dan dia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang yang telah hancur luluh?". Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan, yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk". (Q.S. Yasin: 78-79)
50. Katakanlah: `Jadilah kamu sekalian batu atau besi,(QS. 17:50)
Surah Al Israa' 50 - 51
قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا (50) أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا (51)
Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan Rasul Nya untuk menjawab kepada kaum musyrikin Mekah, dan menerangkan kepada mereka, bahwa Allah SWT berkuasa membangkitkan mereka kembali setelah mereka mati, seperti keadaan mereka pada saat diciptakan kali yang pertama, bagaimanapun juga keadaan mereka, apakah ia berupa tulang, bangkai, batu, besi atau apa saja menurut dugaan mereka. Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya untuk mengatakan kepada mereka: "Jadilah kamu sekalian batu atau besi". Maksudnya meskipun mereka telah menjadi batu atau besi, atau benda apapun juga menurut dugaan mereka itu jauh kemungkinannya akan hidup kembali, maka sebenarnya Allah SWT berkuasa menghidupkan mereka kembali. Dia berkuasa menghidupkan mereka kembali, meskipun menjadi apapun juga. Itulah sebabnya Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar menjawab dengan tegas. Yang akan menghidupkan mereka itu ialah Zat yang menciptakan mereka kembali kali yang pertama. Maka apabila Allah SWT berkuasa menciptakan mereka pada kali yang pertama dari tanah, Diapun berkuasa pula untuk menghidupkan mereka kembali setelah menjadi tanah.
Kemudian Allah SWT menjelaskan, bahwa mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka, sebagai pertanda bahwa mereka itu mendustakan kamu. Dan sebagai tanda bahwa mereka itu betul-betul tidak dapat menerima terjadinya hari berbangkit itu. Sebagai tanda juga bahwa Allah SWT menyatakan kepada Rasul Nya, bahwa mereka akan menanyakan kapan terjadinya hari berbangkit itu, dan kapan mereka itu akan dibangkitkan sebagai makhluk baru. Pertanyaan yang serupa dinyatakan pula dalam ayat-ayat yang lain:
Allah berfirman:

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (48)
Artinya:
Dan mereka berkata: "Bilakah (terjadinya) janji itu (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?". (Q.S. Yasin: 48)
Dan Firman Allah:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا
Artinya:
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan. (Q.S. As Syura: 18)
Di akhir ayat Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya, agar mengatakan kepada kaum musyrikin itu, bahwa mereka harus berhati-hati untuk menghadapi hari berbangkit itu karena boleh jadi waktunya dekat, dan memang pasti datang, tidak boleh tidak. Orang Arab biasanya mengatakan kepada sesuatu yang akan datang, dan kedatangan itu pasti terjadi, dikatakannya waktunya sudah dekat meskipun waktunya berselang lama. Dalam hal ini Allah SWT tidak memastikan waktunya kepada siapapun di antara makhluk Nya, baik kepada malaikat ataupun pada Rasul Nya, akan tetapi hanya memberitahukan hari berbangkit pasti datang dalam waktu dekat.
51. atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu`. Maka mereka akan bertanya: `Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? Katakanlah:` `Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama`. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: `Kapan itu (akan terjadi)? Katakanlah:` Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat,(QS. 17:51)
Surah Al Israa' 50 - 51
قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا (50) أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا (51)
Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan Rasul Nya untuk menjawab kepada kaum musyrikin Mekah, dan menerangkan kepada mereka, bahwa Allah SWT berkuasa membangkitkan mereka kembali setelah mereka mati, seperti keadaan mereka pada saat diciptakan kali yang pertama, bagaimanapun juga keadaan mereka, apakah ia berupa tulang, bangkai, batu, besi atau apa saja menurut dugaan mereka. Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya untuk mengatakan kepada mereka: "Jadilah kamu sekalian batu atau besi". Maksudnya meskipun mereka telah menjadi batu atau besi, atau benda apapun juga menurut dugaan mereka itu jauh kemungkinannya akan hidup kembali, maka sebenarnya Allah SWT berkuasa menghidupkan mereka kembali. Dia berkuasa menghidupkan mereka kembali, meskipun menjadi apapun juga. Itulah sebabnya Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar menjawab dengan tegas. Yang akan menghidupkan mereka itu ialah Zat yang menciptakan mereka kembali kali yang pertama. Maka apabila Allah SWT berkuasa menciptakan mereka pada kali yang pertama dari tanah, Diapun berkuasa pula untuk menghidupkan mereka kembali setelah menjadi tanah.
Kemudian Allah SWT menjelaskan, bahwa mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka, sebagai pertanda bahwa mereka itu mendustakan kamu. Dan sebagai tanda bahwa mereka itu betul-betul tidak dapat menerima terjadinya hari berbangkit itu. Sebagai tanda juga bahwa Allah SWT menyatakan kepada Rasul Nya, bahwa mereka akan menanyakan kapan terjadinya hari berbangkit itu, dan kapan mereka itu akan dibangkitkan sebagai makhluk baru. Pertanyaan yang serupa dinyatakan pula dalam ayat-ayat yang lain:
Allah berfirman:

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (48)
Artinya:
Dan mereka berkata: "Bilakah (terjadinya) janji itu (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?". (Q.S. Yasin: 48)
Dan Firman Allah:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا
Artinya:
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan. (Q.S. As Syura: 18)
Di akhir ayat Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya, agar mengatakan kepada kaum musyrikin itu, bahwa mereka harus berhati-hati untuk menghadapi hari berbangkit itu karena boleh jadi waktunya dekat, dan memang pasti datang, tidak boleh tidak. Orang Arab biasanya mengatakan kepada sesuatu yang akan datang, dan kedatangan itu pasti terjadi, dikatakannya waktunya sudah dekat meskipun waktunya berselang lama. Dalam hal ini Allah SWT tidak memastikan waktunya kepada siapapun di antara makhluk Nya, baik kepada malaikat ataupun pada Rasul Nya, akan tetapi hanya memberitahukan hari berbangkit pasti datang dalam waktu dekat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 51
أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا (51)
(Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin hidup menurut pikiran kalian.") artinya hal itu tidak mungkin dapat hidup lebih daripada tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, maka pasti roh akan kembali kepada kalian. (Maka mereka akan bertanya, "Siapakah yang akan mengembalikan kami?") untuk dapat hidup kembali (Katakanlah, "Yang telah menjadikan kalian) yakni yang telah menciptakan kalian (pada kali yang pertama.") sedangkan kalian pada waktu itu belum menjadi apa-apa; karena sesungguhnya Tuhan yang mampu menciptakan mampu pula untuk mengembalikannya lagi, bahkan untuk mengembalikan ciptaan jauh lebih mudah daripada memulainya. (Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan) menggerak-gerakkan (kepala mereka kepadamu) sebagai ungkapan rasa takjub mereka (dan berkatalah mereka) dengan nada mengejek ("Kapan itu?") hari berbangkit itu terjadi (Katakanlah, "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat").
52. yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.(QS. 17:52)
Surah Al Israa' 52
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا (52)
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa hari berbangkit itu adalah pada hari Allah SWT memanggil manusia seluruhnya, lalu mereka akan mematuhi panggilan itu sambil memuji Nya. Maksudnya ialah bahwa pada hari itu Allah dengan ke Maha Kuasaan Nya memanggil manusia seluruhnya, yaitu mereka bangkit dari kuburnya. Dengan teriakan yang keras memuji kekuasaan Allah yang telah membangkitkan mereka sesuai dengan janji yang telah ditetapkan.
Allah SWT berfirman:

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِي الْمُنَادِي مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ (41) يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ (42)
Artinya:
Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur)". (Q.S. Qaf: 41-42)
Diriwayatkan sebuah hadis marfu' dari Anas beliau berkata: "Orang-orang yang mengucapkan: "La illaha illalah", tidaklah gentar menghadapi mati, menghadapi alam kubur, dan menghadapi hari Mahsyar. Seolah-olah mereka telah keluar dari kuburnya dengan menyeka debu tanah dari kepala mereka, seraya berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan kesusahannya".
Mereka pada saat berbangkit dari kubur itu mengira, bahwa mereka di dunia tidak lama, melainkan hanya sebentar saja.
Allah SWT berfirman:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
Artinya:
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia ) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (Q.S. An Nazi'at: 46)
Al-Hasan memberi penjelasan, bahwa yang dimaksud dengan hari berbangkit itu dekat ialah: di hari berbangkit itu kamu merasa seolah-olah kamu pernah berada di dunia, (padahal kamu adalah sekian lama berada di dunia), dan tiba-tiba kamu sekarang telah berada di kampung akhirat dan dalam menjalani penyelesaian-penyelesaian.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 52
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا (52)
(Yaitu pada hari Dia memanggil kalian) memanggil kalian dari alam kubur melalui lisan malaikat Israfil (lalu kalian mematuhi-Nya) menaati seruan-Nya dari alam kubur (sambil memuji-Nya) dengan seizin-Nya; dan menurut suatu pendapat dikatakan bahwa yang diucapkan itu adalah kalimat walahul hamdu; artinya bagi-Nya segala puji (dan kalian mengira, bahwa tiada lain) tidak lain (kalian tinggal) di dunia (kecuali sebentar saja) karena kalian sangat ngeri dan kaget melihat pemandangan pada hari itu.
53. Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.(QS. 17:53)
Surah Al Israa' 53
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (53)
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah agar mengatakan kepada semua hamba-hamba Nya supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik, pada saat berbicara dengan orang-orang musyrik dan lainnya, ataupun pada saat berdebat dengan mereka, yaitu dengan mempergunakan kata-kata yang kasar dan maki-maki atau menimbulkan kebencian, tetapi menggunakan kata-kata yang benar dan mengandung pelajaran yang baik.
Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Q.S. An Nahl: 125)
Diriwayatkan bahwa ayat ini turun mengenai diri Umar Ibnu Khatab, bahwa seseorang laki-laki memakinya, sehingga Umar mencacinya dan hampir saja membunuhnya, sehingga kemudian hampir saja terjadi huru hara, lalu turunlah ayat ini.
Dalam pada itu Allah SWT memberikan alasan dari larangan Nya itu, bahwa setan itu bisa merusakkan suasana antara orang-orang yang Mukmin dun orang-orang musyrikin, dan menyebarkan bencana di antara mereka, sehingga perselisihan di kalangan mereka bisa menimbulkan pertentangan, bahkan perkelahian. Dalam hal ini Rasulullah saw pernah melarang seorang laki-laki muslim menudingnya dengan menggunakan sepotong besi, karena khawatir kalau-kalau setan melepaskan senjata dari tangannya lalu mengenai dan jatuhlah ke dalam lubang api neraka.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah, ia berkata:

ولا يشيرن أحدكم إلى أخيه بالسلاح. فإنه لا يدري لعل الشيطان ينزع في يده فيقع في حفرة من النار
Artinya:
Rasulullah saw bersabda: "Janganlah seorang di antara kamu mengacung-acungkan senjata kepada saudaranya, maka sesungguhnya ia tidak mengetahui, boleh jadi setan melepaskan senjata dari tangannya, sehingga dia akan masuk ke lembah siksaan neraka".
Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia, yang sudah berlangsung lama. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ
Artinya:
Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka". (Q.S. Al A'raf: 17)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 53
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (53)
(Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku) yang beriman ("Hendaklah mereka mengucapkan) kepada orang-orang kafir kalimat (yang lebih baik." Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan) yakni kerusakan (di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia) jelas permusuhannya. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat yang lebih baik itu ialah dijelaskan oleh firman selanjutnya, yaitu:
54. Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan mengazabmu, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.(QS. 17:54)
Surah Al Israa' 54
رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا (54)
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa Dialah yang lebih mengetahui tentang keadaan orang-orang musyrikin itu. Dia akan memberikan rahmat-Nya dengan jalan memberikan taufik dan hidayah Nya kepada mereka, sehingga beriman dengan iman yang benar, dan suka mengamalkan amal-amal yang saleh, apabila Dia menghendaki.
Di dalam ayat ini terdapat isyarat yang menunjukkan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh menghina kaum musyrikin, dan tidak boleh pula mengatakan kepada mereka bahwa mereka ahli neraka, karena kepastian seseorang masuk neraka atau tidak, adalah termasuk masalah gaib, yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Dan tidak boleh berbuat sesuatu yang mendatangkan malu kepada mereka, karena yang demikian itu hanya menyebabkan mereka dengki dan menimbulkan permusuhan, maka perbuatan-perbuatan itu tidak ada gunanya.
Di akhir ayat Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidaklah mengutus Rasul Nya untuk memaksa mereka melakukan apa yang diridai Allah, akan tetapi Allah mengutusnya sebagai pemberi berita gembira dan peringatan. Itulah sebabnya maka Allah SWT melarang Rasul Nya membuat sesuatu paksaan terhadap mereka, dan memerintahkan agar seluruh sahabatnya bersikap lapang dada pula.
55. Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.(QS. 17:55)
Surah Al Israa' 55
وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (55)
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa Dia lebih mengetahui keadaan hamba Nya yang di langit atau di bumi, yang tampak ataupun yang tidak tampak. Dan Dia memilih di antara hamba Nya itu siapa yang pantas menerima kenabian dan pengetahuan agama, Dia pula melebihkan hamba yang satu dari hamba yang lainnya, sesuai dengan ilmu dan kodrat Nya semata-mata.
Ayat ini juga merupakan sangkalan terhadap kaum musyrikin yang mengatakan bahwa: "Jauhlah kemungkinannya Muhammad yang yatim piatu itu yang diasuh oleh Abu Talib, menjadi Nabi". Kalau pengikut-pengikutnya hanyalah orang-orang yang kelaparan, dan berpakaian compang-camping, tidak mungkin orang-orang bangsawan dari pemuka-pemuka Quraisy akan mengikutinya.
Allah SWT menyebutkan pada ayat ini bahwa Dia lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi, adalah sebagai sangkaan terhadap dugaan mereka bahwa sepatutnya Allah mengirim malaikat atau orang besar dari Mekah atau Taif, untuk menjadi utusan Nya.
Allah SWT berfirman menceritakan perkataan orang musyrikin itu:

َوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَة
Artinya:
Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat. (Q.S. Al Furqan: 21)
Dengan firman Allah pula:

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
Artinya:
Dan mereka berkata: "Mengapa Alquran ini tidak di turunkan kepada seorang besar dari salah satu negeri (Mekah dan Taib) ini?". (Q.S. Az Zukhruf: 31)
Yang dipilih oleh Allah di antara hamba Nya menjadi utusan Nya ialah mereka yang mempunyai keutamaan rohaniyah, dan jiwa yang bersih. Dan Allah SWT melebihkan sebagian Nabi-nabi itu atas sebagian yang lain sesuai dengan pilihan Nya juga, seperti Nabi Ibrahim diberi keistimewaan sehingga digelari Khalilullah dan Nabi Musa diberi keistimewaan pula, sehingga digelari Kalimullah. Dan Nabi Muhammad diberi mukjizat yang tertinggi di antara semua mukjizat yaitu Alquran dan diberi kemuliaan menghadap ke hadirat Nya pada ketika Isra' dan Mikraj.
Allah SWT berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
Artinya:
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Roh Kudus". (Q.S. Al Baqarah: 253)
Di akhir ayat Allah menyebutkan bahwa Dia telah memberikan Zabur kepada Daud as.
Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa keutamaan Nabi Daud, bukan karena menjadi raja, akan karena ia memperoleh kitab dari Allah.
Adapun Zabur itu disebut secara tersendiri dalam ayat ini, karena di dalam kitab itu disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi penutup dan umatnya adalah umat yang baik pula.
Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105)
Artinya:
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba Ku yang saleh". (Q.S. Al Anbiya: 105)
Yang dimaksud dengan hamba-hamba Ku yang saleh ialah Nabi Muhammad dan umatnya.
56. Katakanlah:` Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya `.(QS. 17:56)
Surah Al Israa' 56
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56)
Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar mengatakan kepada kaum musyrikin Mekah: "Pada saat kamu ditimpa bahaya, seperti kemiskinan dan serangan penyakit, cobalah panggil mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah itu, apakah tuhan-tuhan itu mampu untuk menghilangkan bahaya yang menimpa kamu itu?. Di dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mereka anggap tuhan itu tidak akan mampu menolak bahaya itu atau memindahkan kepada orang lain, karena mereka memang tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan demikian. Akan tetapi yang mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghilangkan bahaya itu ialah Pencipta alam semesta ini dan Pencipta mereka, yaitu Allah Yang Maha Esa, oleh karena itu maka Allah itulah yang harus disembah.
Adapun latar belakang turunnya ayat ini disebut dalam sebuah riwayat pada saat orang-orang Quraisy ditimpa musim kering, mereka menghadap kepada Rasulullah. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini.
57. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.(QS. 17:57)
Surah Al Israa' 57
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57)
Di atas telah disebutkan bahwa kaum musyrikin menyembah para malaikat, jin, Nabi Isa dan 'Uzair. Mereka menganggapnya sebagai tuhan yang dapat menghilangkan bahaya dan kemudaratan mereka, maka Allah menyebutkan bahwa orang itu sendiri sebenarnya mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada Nya. Jalan itu tidak lain, ialah taat kepada Nya. Taat kepada Allah itulah yang menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Imam At Tirmizi dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, ia berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سلوا الله لي الوسيلة. وما الوسيلة؟ قال: القرب من الله ثم قرأ هذه الآية
Artinya:
Rasulullah saw bersabda: "Mohonkanlah wasilah untukku kepada Allah" Mereka bertanya: "Apakah wasilah itu? Nabi pun berkata: "Mendekatkan diri kepada Allah". Kemudian Nabi membaca ayat ini".
Lebih lanjut Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dekat sekalipun di antara para malaikat, jin, Nabi Isa dan `Uzair itu kepada Allah tetap mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada Nya, dengan menaati dan menghambakan diri kepada Nya. Oleh karena itu, adakah layak mereka di sembah? Kenapa kamu tidak langsung saja menyembah Allah?.
Pada bagian akhir ayat ini, Allah SWT menyebutkan bahwa sesungguhnya azab Tuhan, suatu yang (harus) ditakuti oleh siapapun juga, oleh para Malaikat, oleh para Rasul-rasul dan Nabi-nabi Nya, dan oleh manusia seluruhnya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 57
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57)
(Orang-orang yang mereka seru itu) sebagai tuhan-tuhan sesembahan mereka (mereka sendiri mencari)-cari (jalan kepada Rabb mereka) dengan mendekatkan diri melalui ketaatan kepada-Nya (siapakah di antara mereka) lafal ini menjadi badal daripada wawu yang terdapat dalam lafal yabtaghuuna; artinya mencari jalan itu (yang lebih dekat) kepada Allah; maka mengapa mencarinya kepada selain-Nya (dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya) sama dengan orang-orang selain mereka; maka mengapa kalian menganggap mereka sebagai tuhan-tuhan. (Sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang harus ditakuti).
58. Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).(QS. 17:58)
Surah Al Israa' 58
وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا (58)
Allah SWT memberikan peringatan kepada kaum musyrikin Mekah, yang mengingkari terjadinya hari berbangkit, hari pembalasan dan kerasulan Muhammad, bahwa tidak ada suatu negeri di antara beberapa negeri yang penduduknya durhaka, melainkan mereka itu dibinasakan secara menyeluruh, sebelum tibanya hari kiamat, atau ditimpa azab yang keras karena dosa dan keingkaran mereka kepada Nabi-nabi yang diutus kepada mereka.
Azab yang ditimpakan kepada mereka karena dosa dan keingkaran mereka itu dinyatakan Allah juga dalam ayat-ayat yang lain.
Allah SWT berfirman:

فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا (9)
Artinya:
Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. (Q.S. At Talaq: 9)
Dan firman Nya:

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا (8)
Artinya:
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. (Q.S. At Talaq: 8)
Dalam pada itu Allah SWT menjelaskan bahwa yang demikian itu telah tercantum dalam kitab Allah, yaitu tersimpan di Lohmahfuz.
Diriwayatkan oleh Imam At Tirmizi dari Ubadah bin Samit ia berkata: "Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم فقال له اكتب. فقال ما أكتب قال: أكتب المقدر وما هوكائن إلى يوم القيامة
Artinya:
Sebenarnya yang diciptakan pertama kali oleh Allah ialah Qalam, kemudian Allah SWT berfirman pada Qalam itu, catatlah, lalu Qalam itu berkata: "Apa yang akan saya catat?". Allah SWT berfirman: "Catatlah menurut kadarnya, dan apa yang telah terjadi hingga hari kiamat".
59. Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.(QS. 17:59)
Surah Al Israa' 59
وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا (59)
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa sekali-kali tidak ada yang mampu menghalang-halangi terlaksananya mukjizat yang diberikan kepada Rasul Nya, tetapi mukjizat itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Maksudnya bahwa orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kekuasaan Nya (mukjizat) seperti yang telah diberikan kepada Rasul-rasul Nya yang terdahulu, mereka itu akan dimusnahkan. Begitu pula orang-orang Quraisy yang meminta kepada Nabi Muhammad saw, supaya diturunkan pula tanda-tanda kekuasaan Allah kepada mereka. Akan tetapi Allah tidak akan menurunkannya kepada mereka, karena kalau-kalau tanda-tanda kekuasaan Allah itu diturunkan, pasti mereka mendustakannya juga dan tentulah mereka akan dibinasakan pula seperti umat-umat yang dahulu. Sedang Allah tidak akan membinasakan orang-orang Quraisy, karena di antara keturunan mereka ada yang masih diharapkan menjadi orang-orang yang beriman.
Di antara: hadis yang menjelaskan pengertian ayat tersebut adalah sebagai berikut:
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Penduduk Mekah meminta kepada Nabi saw agar Nabi membuat gunung Safa menjadi emas, dan menghilangkan bukit agar tanahnya digunakan untuk pertanian. Maka dikatakan kepada Nabi: "Jika engkau mau memenuhi permintaan mereka, penuhilah. Dan apabila mereka mengingkari bolehlah mereka dibinasakan seperti umat-umat terdahulu". Nabi bersabda: "Tetapi saya ingin menunda permintaan mereka". Kemudian Allah menurunkan ayat ini.
Dalam pada itu Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah memberikan tanda-tanda kekuasaan Nya (mukjizat Nya) kepada Nabi Saleh, apa yang diminta oleh kaumnya Samud yaitu unta betina yang dapat mereka saksikan sendiri, sebagai tanda bukti bagi kekuasaan Allah.
Imam Baihaqy meriwayatkan dalam kitab Ad Dalail, sebuah hadis dari Ar Rabi bin Anas, ia berkata: "Orang-orang yang berkata kepada Rasulullah saw: Saya mau beriman, seandainya didatangkan kepada saya tanda-tanda kekuasaan Allah, seperti yang didatangkan oleh Nabi Saleh dan para Nabi (kepada umat mereka)". Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Kalau engkau menginginkan agar saya berdoa kepada Allah, tentulah Allah akan menurunkan (tanda-tanda kekuasaan itu) kepadamu. Tetapi apabila engkau membangkang juga, tentulah engkau akan dibinasakan". Kemudian mereka berkata: "Kami tidak menginginkan".
Allah menjelaskan kesudahan kaum Samud itu, bahwa mereka bukanlah menjadi orang-orang yang beriman, akan tetapi mereka menganiaya unta betina itu dan menyembelihnya, maka Allah SWT membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan menyamaratakannya dengan tanah.
Di akhir ayat Allah SWT menjelaskan bahwa Dia memberikan tanda-tanda kekuasaan itu untuk menakut-nakuti manusia agar mereka itu akan mengambil pelajaran daripadanya sehingga mereka bertobat kembali pada bimbingan Allah SWT seperti diserukan kepada mereka oleh para Nabi dan Rasul Nya.
60. Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu:` Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia `. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al quran. Dan Kami menakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.(QS. 17:60)
Surah Al Israa' 60
وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا (60)
Kemudian Allah SWT mendorong Rasulullah agar supaya senantiasa melaksanakan tugas-tugas kerasulannya dan mengatakan kepadanya bahwa Allah akan melindunginya dari tipu daya orang-orang yang mengingkari risalahnya, dengan mengingatkan akan suatu keadaan, ketika Allah SWT mewahyukan kepadanya bahwa ilmu Tuhan meliputi segala hal ihwal manusia, yang maksudnya bahwa Allah SWT Maha Berkuasa terhadap seluruh hamba-Nya. Mereka itu berada di bawah genggamannya sehingga mereka tidak dapat bergerak terkecuali menurut kada dan kadar Nya, dan Dia berkuasa pula melindungi Rasul Nya dari orang-orang yang memusuhi Nya, sehingga tidal mungkin mereka itu secara semena-mena menyakiti hati mereka.
Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
Artinya:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Q.S. Al Maidah: 67)
Menurut keterangan Al Hasan, Allah SWT akan menghalangi setiap usaha mereka membunuh Nabi. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (30)
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Al Anfal: 30)
Dalam pada itu Allah menjelaskan pula pengingkaran orang-orang Quraisy terhadap penglihatan di waktu malam Isra' dan Mikraj serta pohon Zaqqun yang tumbuh di neraka. Hal ini sebagai ujian, manakah di antara umatnya yang benar-benar beriman dan mana yang ingkar. Mereka yang benar-benar imannya bertambah kuatlah imannya, akan tetapi mereka yang imannya hanya di mulut saja, bertambahlah keingkaran mereka. Pohon Zaqqun yang disebutkan dalam Alquran juga menjadi ujian kepada mereka, pada saat mereka mendengar kaum muslimin membacakan ayat:

إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الْأَثِيمِ (44)
Artinya:
Sesungguhnya pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. (Q.S. Ad Dukhan: 43-44)
Mereka memperselisihkannya; orang-orang yang imannya murni, bertambah kuatlah imannya, akan tetapi orang yang mengingkari kerasulan Muhammad saw bertambah-bertambahlah kekafirannya, Abu Jahal misalnya termasuk orang yang mengingkarinya. Ketika itu ia berkata: "Sebenarnya bahwa anak Abi Kabsyah (Muhammad saw) mengancam kamu dengan ancaman neraka, yang bahan bakarnya batu, kemudian ia mengira bahwa neraka itu ditumbuhi pohon, padahal kamu ketahui bahwa api itu membakar pohon. Dan Abdullah bin Az Ziba'ra berkata: "Sebenarnya Muhammad menakut-nakuti kami dengan pohon Zaqqun itu tiada lain kecuali kurma dan keju, maka telanlah. Mereka makan kurma dan keju itu.
Orang-orang musyrik Quraisy tidak mempercayai bahwa di neraka ada tumbuh-tumbuhan yang disebut pohon Zaqqun, karena mereka beranggapan bahwa api memusnahkan segala-galanya. Mereka tidak mengetahui bahwa di dunia ini terdapat keajaiban-keajaiban yang mencengangkan, terlebih-lebih lagi di akhirat. Misalnya dapat dikemukakan, bahwa di dunia ada semacam serat yang tak terbakar oleh api (asbes), bahkan bertambah daya tahannya apabila dibersihkan, bahan ini sering dipergunakan untuk bahan baju yang tahan api. Dan bumi kita di dalamnya mengandung api (yaitu magma) yang terlihat di kala gunung api meletus, tetapi di atasnya tumbuh pohon-pohon yang menghijau. Dan dari kayu atau batupun dapat mengeluarkan api pada saat digosok-gosokkan. Di dalam airpun terdapat unsur oksigen yang menyebabkan api menyala. Singkatnya orang-orang kafir Quraisy itu memang hatinya tidak mau menerima kebenaran Alquran. Keingkaran mereka kepada Alquran dan pohon Zaqqun tanda yang jelas akan keingkaran mereka.
Allah SWT berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ (63) إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64) طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65)
Artinya:
Sesungguhnya Kami menjadikan pohon Zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang lalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim, mayangnya seperti kepala setan-setan. (Q.S. As Saffat: 63-65)
Di akhir ayat Allah SWT menegaskan, bahwa Allah hendak menakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah mereka bergelimang dalam kedurhakaan dan kesesatan.

Surah Al-Isra'
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Israa'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar