Senin, 14 Mei 2012

Ar-Ra'd 31 - 40

Surah Ar-Ra'd
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Ar-Ra'd


31. Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.(QS. 13:31)
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 31 
وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (31) 
Ayat ini diturunkan ketika orang-orang kafir Mekah berkata kepada Nabi saw., "Jika engkau ini benar-benar seorang nabi, maka lenyapkanlah gunung-gunung Mekah ini daripada kami, kemudian jadikanlah pada tempatnya sungai-sungai dan mata air-mata air supaya kami dapat bercocok tanam, dan bangkitkanlah nenek moyang kami yang telah mati menjadi hidup kembali, untuk berbicara kepada kami." (Dan sekiranya ada suatu bacaan yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat dipindahkan) artinya dapat dipindahkan dari tempatnya yang semula (atau dapat dibelah) dapat dipotong (karenanya bumi, atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara) seumpamanya mereka dapat dihidupkan kembali karenanya, niscaya mereka tetap tidak akan beriman juga. (Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah) bukan kepunyaan yang lain-Nya. Oleh sebab itu maka tiada beriman melainkan orang-orang yang telah dikehendaki oleh Allah untuk beriman, bukannya orang-orang selain mereka sekali pun didatangkan kepada mereka apa yang dipintanya itu. Sedangkan ayat selanjutnya ini diturunkan ketika para sahabat berkehendak untuk menampakkan apa yang mereka minta, karena para sahabat sangat menginginkan mereka mau beriman, yaitu firman-Nya: (Maka tidakkah mengetahui) mengerti (orang-orang yang beriman itu, bahwasanya) huruf an di sini adalah bentuk takhfif daripada anna (seandainya Allah menghendaki tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya) kepada keimanan tanpa melalui mukjizat lagi. (Dan orang-orang yang kafir senantiasa) yakni penduduk Mekah yang kafir (ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri) yakni oleh sebab kekafiran mereka itu (yaitu berupa malapetaka) yang menimpa mereka dengan berbagai macam cobaan, seperti dibunuh, ditawan, diperangi dan paceklik (atau bencana itu terjadi) hai Muhammad terhadap pasukanmu (dekat tempat kediaman mereka) yaitu kota Mekah (sehingga datanglah janji Allah) yaitu memberikan pertolongan-Nya untuk mengalahkan mereka. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji) hal ini telah terjadi di Hudaibiah sehingga tibalah saatnya penaklukan kota Mekah.
32. Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu!(QS. 13:32)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 32 
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (32) 
Ayat ini pun berisi hiburan kepada Rasulullah dan umat Islam agar mereka tidak berkecil hati terhadap sikap dan keingkaran orang-orang kafir dan musyrikin Mekah itu. Di sini Allah swt. menerangkan bahwa bukan hanya Muhammad saja yang pernah diperolok-olok oleh kaum kafir dan musyrik, bahkan Rasul-rasul yang telah diutus Allah kepada mereka sebelumnya pun mengalami keadaan yang demikian itu. Hanya saja Allah memberi tenggang waktu dan menangguhkan datangnya azab dan malapetaka kepada orang-orang kafir tersebut, tetapi akhirnya Allah pasti membinasakan mereka dengan azab yang sangat dahsyat.

33. Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah:` Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu `. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorangpun baginya yang akan memberi petunjuk.(QS. 13:33)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 33 
أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (33) 
Oleh karena orang-orang kafir dan musyrik itu menyembah kepada selain Allah, yaitu benda-benda yang mereka anggap sebagai Tuhan mereka, padahal tidak dapat memberikan manfaat dan mudarat dan tidak mengetahui apa-apa yang dikerjakan manusia dan tidak pula dapat mengawasi serta memberikan pahala atau pun siksa kepada manusia berdasarkan amal dan perbuatan mereka. Maka dalam ayat ini Allah swt. mencela kebodohan mereka itu dengan mengatakan: "Apakah Allah Yang Maha Mengetahui dan mengawasi perbuatan mereka samakan Dia dengan apa-apa yang dipertuhankan oleh mereka itu yang tidak mempunyai sifat-sifat seperti itu?" 
Dan oleh karena kaum musyrik menjadikan beberapa sekutu bagi Allah swt., maka Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada mereka: "Sebutkanlah sifat-sifat yang dimiliki oleh apa-apa yang kamu anggap sebagai sekutu-sekutu Allah, sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti yang dimiliki Allah swt.; oleh sebab itu, tidaklah sepantasnya untuk menjadi sekutu-Nya." 
Ucapan dan tuntutan mereka kepada Nabi Muhammad saw. seperti tersebut di atas juga memberikan kesan adanya anggapan mereka bahwa Allah swt. seakan-akan tidak mengetahui apa-apa yang terjadi di bumi ini termasuk mukjizat-mukjizat yang dimiliki oleh Rasul-rasul terdahulu. Oleh sebab itu dalam ayat ini Allah swt. juga memerintahkan kepada mereka itu, apakah mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan maksud untuk memberitahukan kepada Allah swt. tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi yang tidak diketahui Allah sebagai anggapan mereka? Padahal Allah senantiasa mengetahui apa saja yang terjadi di alam ini. 
Oleh karena kaum musyrikin itu mempersekutukan Allah dengan yang lain, maka dalam ayat ini pun Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menanyakan kepada mereka, apakah mereka menyebut-nyebut "sekutu-sekutu" Allah hanya sekadar ucapan lahiriah saja, dan tidak mempunyai hakikat kebenaran sama sekali? Kalau demikian halnya maka ucapan mereka adalah kata-kata kosong yang tidak mempunyai hakikat kebenaran sama sekali. Padahal Allah sama sekali tidak mempunyai sekutu. Dia Maha Tinggi dan Maha Sempurna. 
Pada akhir ayat ini Allah swt. membuka tabir rahasia dari kesesatan orang-orang kafir dan musyrik itu ialah bahwa mereka telah terpukau oleh godaan setan yang menggambarkan kepada mereka bahwa tipu daya yang mereka lakukan itu adalah suatu kebaikan dan perbuatan yang terpuji. Oleh karena mereka telah menuruti rayuan setan tersebut, maka mereka telah dihalangi dan diselewengkan dari jalan Allah. Tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah, karena mereka telah menuruti kehendak setan. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 33 
أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (33) 
(Maka apakah Tuhan yang menjaga) yakni mengawasi (setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya) yaitu berupa amal kebaikan dan keburukan, sama keadaan-Nya dengan berhala-berhala yang tidak demikian keadaannya; tentu saja tidak. Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu (Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.") kepada-Nya, siapakah berhala-berhala itu (atau) bahkan apakah (kalian hendak memberitakan kepada Allah) menceritakan kepada-Nya (mengenai apa) yakni sekutu (yang tidak diketahui)-Nya (di bumi) istifham atau kata tanya di sini mengandung pengertian ingkar; artinya jelas tidak ada sekutu itu, sebab jika sekutu itu ada niscaya Dia akan mengetahuinya, Maha Tinggi Allah dari semua sekutu (atau) bahkan mereka menamakannya sebagai sekutu-sekutu Allah (kalian mengatakan sekadar perkataan pada lahirnya) dengan sangkaan yang batil, lagi hal itu tidak ada kenyataannya pada batinnya. (Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan memandang baik tipu daya mereka) yang dimaksud ialah kekafiran mereka (dan dihalanginya dari jalan yang benar) yaitu hidayah. (Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun baginya yang akan memberi petunjuk).

34. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.(QS. 13:34)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 34 
لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (34) 
Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan betapa malangnya nasib orang-orang yang sesat itu, dan bagaimana besarnya kerugian yang mereka derita, yaitu baik di dunia ini maupun di akhirat lebih berat. Dalam pada itu, mereka tidak mendapatkan seorang pelindung pun dari azab Allah.


35. Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.(QS. 13:35)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 35 
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ (35) 
Pada ayat ini disebutkan, bahwa perumpamaan surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa adalah seperti sebuah kebun yang indah, yang pohon-pohonnya berbuah tak henti-hentinya dan naungannya dapat dimanfaatkan setiap waktu, bagi orang-orang yang berteduh di bawahnya. Surga tersebut merupakan tempat tinggal terakhir dan kekal, serta penuh kenikmatan bagi orang-orang yang bertakwa. 
Pada akhir ayat tersebut diingatkan pula, bahwa jika surga adalah merupakan tempat tinggal yang sangat menyenangkan untuk orang-orang yang bertakwa, sebaliknya neraka adalah merupakan tempat kediaman yang penuh azab dan kesengsaraan bagi orang-orang yang kafir. 
Dengan adanya perbandingan antara kedua tempat tersebut, maka terserah kepada manusia yang hidup di dunia ini, apakah ia akan memilih dan menempuh jalan ke surga dengan beriman, beramal dan bertakwa, ataukah ia akan memilih dan menempuh jalan ke neraka, yaitu dengan kekafiran kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan jahat. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 35 
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ (35) 
(Perumpamaan) gambaran (surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa) kalimat ayat ini menjadi mubtada, sedangkan khabarnya tidak disebutkan, lengkapnya mengatakan: yaitu seperti apa yang akan Kami ceritakan kepada kalian (mengalir sungai-sungai di bawahnya; buah-buahannya) artinya apa-apa yang dimakan di dalam surga (tiada henti-hentinya) tidak pernah lenyap (sedang naungannya) tiada henti-hentinya pula, tidak pernah terhapus oleh matahari, karena di dalam surga tidak ada matahari. (Itulah) yakni surga itu (tempat kesudahan) akhir daripada kesudahan (orang-orang yang bertakwa) takut kepada perbuatan syirik (sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka).
36. Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah:` Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali `.(QS. 13:36)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 36 
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ (36) 
Setelah memberikan gambaran tentang surga pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah swt. menjelaskan sikap orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terhadap Alquran setelah mereka itu masuk agama Islam, misalnya Abdullah bin Salam dari kalangan Yahudi. Mereka ini sangat bergembira dengan turunnya Alquran dan menerima baik segala ajaran dan hukum-hukumnya. 
Akan tetapi di samping itu ada pula segolongan orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari sebagian dari Alquran itu, terutama mengenai ajaran Alquran tentang keesaan Allah swt. 
Maka Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyampaikan kepada golongan tersebut kemantapan imannya tentang keesaan Allah swt. dengan mengatakan: "Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah semata-mata dan aku tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Aku seru manusia untuk beriman kepada-Nya saja dan aku yakin bahwa hanya kepada-Nyalah aku akan kembali." 
Ucapan ini dengan tegas menolak kepercayaan syirik, yaitu mempersekutukan sesuatu dengan Allah yang dianut oleh kaum musyrikin. Kepercayaan itu sangat bertentangan dengan ajaran Alquran tentang keesaan Allah secara mutlak yang merupakan inti pokok dalam agama Islam. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 36 
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ (36) 
(Orang-orang yang Kami berikan kitab kepada mereka) seperti Abdullah bin Salam dan lain-lainnya dari kalangan orang-orang Yahudi yang beriman (mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu) karena Alquran yang diturunkan kepadanya tidak bertentangan dengan kitab Taurat yang ada pada mereka (dan di antara golongan-golongan) yang telah bersekutu untuk melawan kamu, yaitu mereka yang terdiri dari kalangan kaum musyrikin dan orang-orang Yahudi (ada yang menginginkan sebagiannya) yaitu yang menyangkut tentang penyebutan lafal Ar-Rahman dan hal-hal yang lain selain yang menyangkut kisah-kisah. (Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya diperintahkan) oleh apa yang diturunkan kepadaku (untuk) supaya (menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hanya kepada-Nya aku berseru dan hanya kepada-Nya aku kembali.") tempat kembaliku.
37. Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.(QS. 13:37)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 37 
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ (37) 
Pada ayat ini Allah menjelaskan beberapa ciri utama dari Alquran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw., yaitu bahwa Alquran tersebut adalah berisi peraturan-peraturan yang benar, yang patut ditaati manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keberuntungan mereka di dunia dan akhirat kelak. Di samping itu, Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu suatu bahasa yang mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. 
Di antara keistimewaan bahasa Arab ialah bahasa ini merupakan bahasa yang hidup sejak zaman dahulu sampai sekarang dan mempunyai bentuk-bentuk dan kata-kata serta kalimat yang sangat luas yang memungkinkan untuk dipakai dalam berbagai bidang, baik ilmu pengetahuan, kebudayaan, politik, keagamaan, hukum, budi pekerti dan sebagainya. Bahkan pada masa kita sekarang ini, bahasa Arab semakin luas pemakaiannya dalam hubungan-hubungan internasional bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu dari bahasa-bahasa resmi yang dipakai dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa. 
Perlu diingat, bahwa karena Alquran itu adalah diturunkan dalam bahasa Arab di dunia menjadi mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. dan mempunyai kehormatan sebagai Kitab Suci, maka terjemahan Alquran dalam suatu bahasa asing tidaklah bersifat sebagai Kitab Suci. Sebagaimana diketahui, di antara kehormatan yang dimiliki Alquran ialah bahwa membacanya saja adalah terhitung ibadah, dan tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci, yaitu orang-orang yang tidak berhadas dan tidak bernajis. 
Banyak ayat-ayat lain yang menyebutkan ciri-ciri Alquran itu, antara lain dalam firman Allah swt.: 

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ 
Artinya: 
Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. 
(Q.S. Fussilat: 42) 
Pada ayat ini selanjutnya Allah swt. memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslimin umumnya agar jangan sampai menuruti kehendak hawa nafsu dan keinginan dari orang-orang yang mengingkari Alquran baik sebagian maupun keseluruhannya karena Allah swt. telah memberikan ilmu yang benar kepada kita, yaitu Alquranul Karim. Juga diperingatkan, bahwa jika Nabi Muhammad dan kaum Muslimin sampai tergoda dan mengikuti kehendak orang-orang yang mengingkari Alquran itu, maka siksa Allah pasti akan menimpa dan tidak seorang pun dapat menjadi pelindung dan penjaga terhadap siksa Allah swt. Yang Maha Kuasa. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 37 
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ (37) 
(Dan demikianlah) penurunan itu (Kami telah menurunkannya) Alquran itu (sebagai peraturan dalam bahasa Arab) yaitu dengan memakai bahasa Arab, yang dengannya engkau putuskan hukum-hukum di antara manusia. (Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka) hawa nafsu orang-orang kafir, dalam hal apa yang mereka inginkan, supaya kamu melakukannya menurut peraturan agama mereka. Ini hanyalah merupakan perumpamaan (setelah datang pengetahuan kepadamu) tentang tauhid (maka sekali-kali tidak ada bagimu terhadap Allah) huruf min di sini adalah zaidah (seorang penolong pun) penolong yang mau membantu menyelamatkanmu (dan tidak pula seorang pemelihara) yang dapat mencegah azab Allah yang menimpa dirimu.
38. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).(QS. 13:38)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 38 
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ (38) 
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia telah mengutus Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. dan mereka telah dikaruniai istri dan keturunan. 
Hal ini wajar menunjukkan bahwa kehidupan keluarga dan berketurunan adalah hal yang wajar dan merupakan salah satu dari sunatulllah bagi makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini yang juga berlaku bagi para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Hidup berkeluarga tidak boleh dianggap sebagai penghalang dalam beragama dan dalam perjuangan bagi kemajuan pribadi, masyarakat dan bangsa. Bahkan pernikahan menurut ajaran Islam, selain berfaedah untuk melanjutkan keturunan juga adalah memberikan ketenangan dan ketenteraman serta kestabilan dalam kehidupan yang wajar. Di samping itu pernikahan pun mempererat silaturahim antara keluarga-keluarga yang bersangkutan dan dapat pula menjadi sarana bagi dakwah Islamiah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. 
Oleh karena hidup berkeluarga adalah suatu naluri yang wajar dan merupakan sunatullah, maka manusia tak boleh menantangnya. Oleh sebab itu adalah suatu pandangan yang amat keliru apabila ada pemimpin agama yang mempunyai sikap dan anggapan bahwa mereka harus menjauhi hidup berkeluarga agar tidak menganggu tugas-tugas mereka dalam menjalankan agama. Sikap hidup membujang atau tabattul dan peraturan-peraturan yang melarang pemimpin-pemimpin agama untuk hidup berkeluarga adalah hal-hal yang tidak dikenal dalam agama Islam dan sangat ditentangnya. Perkawinan dan anak merupakan suatu nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karenanya perlu dipelihara sebaik-baiknya. 
Dalam suatu riwayat disebutkan orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad saw. karena beliau mempunyai beberapa orang istri. Kata mereka, kalau benar-benar Muhammad adalah Nabi dan Rasul tentulah ia akan menyibukkan diri dengan tugas-tugas kenabiannya saja dan tidak akan mempedulikan wanita. Di samping itu mereka meminta bermacam-macam bukti tentang kenabiannya selain Alquran yang menjadi mukjizat-Nya. Maka Allah swt. telah membantah mereka itu dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah Rasul Allah yang pertama melainkan sebelum itu Allah swt. telah mengutus beberapa Rasul dan semuanya adalah manusia yang memerlukan makan dan minum, berkeluarga dan berketurunan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lainnya, berjalan di pasar dan sebagainya. Dalam hal ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menegaskan: 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ 
Artinya: 
Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku. 
(Q.S. Al-Kahfi: 110) 
Kemudian dalam ayat yang sedang dibacakan ini ditegaskan tentang kewajaran dan kebolehan para Rasul itu hidup berkeluarga dan berketurunan. Allah menegaskan bahwa Dia mengaruniai mereka istri dan keturunan. 
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: 

وأما أنا فأصوم وأفطر وأقوم وأنام وآكل اللحم وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني 
Artinya: 
Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku bersalat di waktu malam juga tidur, aku juga makan daging dan juga menikahi wanita; maka siapa yang tidak suka kepada sunahku tiadalah ia termasuk umatku. 
(H.R. Bukhari) 
Adapun ayat-ayat atau bukti-bukti kenabian dan kerasulan yang dituntut oleh orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad saw. berulang kali tegaskan dalam Alquran, bahwa masalah tersebut adalah di bawah wewenang Allah semata-mata. Para Rasul hanya mampu memperlihatkan suatu mukjizat dengan izin Allah. 
Mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw. adalah Alquran yang membawa ajaran-ajaran, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Alquran senantiasa terpelihara kemurniannya dan tak satu pun makhluk dapat menandinginya, baik isi maupun bahasanya. 
Ayat-ayat atau bukti-bukti dan mukjizat tidaklah muncul begitu saja melainkan haruslah sesuai dengan hikmah Allah dan selaras pula dengan masanya. Masing-masing masa tersebut mempunyai ciri tersendiri yang telah ditetapkan Allah. Setiap peristiwa yang terjadi di alam ini adalah menuruti ketentuan atau takdir-Nya baik mengenai waktunya, maupun mengenai tempat dan cara serta sebab-sebab terjadinya. Maka suatu mukjizat tidak akan timbul sebelum waktu yang telah ditetapkan Allah. Ajal seseorang serta umur, rezeki dan peristiwa-peristiwa yang dialami di dunia dan di akhirat adalah terjadi sesuai dengan ketentuan Allah. Manusia tak dapat meminta agar ajalnya datang lebih cepat atau pun lebih lambat dari apa yang telah ditetapkan Allah dalam takdir-Nya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 38 
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ (38) 
Ayat ini diturunkan ketika orang-orang kafir mencela Nabi saw. karena istrinya banyak, yaitu: (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan) yakni anak-anak, sedangkan engkau adalah salah satu di antara para rasul itu. (Dan tidak ada hak bagi seorang rasul) di antara para rasul itu (mendatangkan sesuatu ayat melainkan dengan izin Allah) karena para rasul itu tiada lain hanyalah hamba-hamba yang diasuh-Nya. (Bagi tiap-tiap masa) zaman (ada kitab) yang tertera di dalamnya tentang batas masa berlakunya.
39. Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).(QS. 13:39)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 39 
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (39) 
Pada ayat ini Allah swt. menerangkan suatu segi dari kekuasaan-Nya, yaitu bahwa Dia berkuasa untuk menghapuskan dan menetapkan apa-apa yang dikehendaki-Nya, baik mengenai peristiwa-peristiwa alamiah, maupun kejadian-kejadian yang dialami manusia. 
Gejala-gejala tentang adanya penghapusan dan penetapan Allah ialah adanya siang dan malam silih berganti, adanya gelap dan terang, hidup dan mati, kuat dan lemah, sehat dan sakit, bahagia dan sengsara, kaya dan miskin dan sebagainya. 
Selanjutnya pada akhir ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa di sisi-Nya ada Ummul Kitab, yaitu Lohmahfuz. Maka semua peristiwa dan kejadian yang terjadi di alam ini tidaklah lepas ada pada Lohmahfuz yang tidak akan mengalami perubahan dan penggantian apa pun. 
Berdasarkan pengertian tersebut maka ayat ini juga merupakan bantahan terhadap tuntutan kaum kafir dan musyrik yang meminta kepada Nabi Muhammad saw. untuk mendatangkan ayat-ayat atau bukti-bukti mengenai kenabian dan kerasulannya selain Alquran. Hal tersebut tidak akan terjadi kecuali jika termasuk dalam ketentuan yang ditetapkan Allah, yakni bahwa setiap peristiwa telah ditentukan Allah, yakni bahwa setiap peristiwa telah ditentukan waktunya sehingga tak mungkin akan terjadi lebih segera atau lebih lambat dari waktu yang telah ditetapkan-Nya dan segala sesuatunya telah ada dalam Lohmahfuz. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 39 
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (39) 
(Allah menghapuskan) daripada kitab itu (apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan) dapat dibaca yutsbitu atau yutsabbitu, artinya hukum-hukum dan masalah-masalah lainnya yang dikehendaki-Nya untuk dihapus atau ditetapkan (dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) asal kitab yang tidak berubah sedikit pun daripadanya, yaitu kitab-kitab-Nya di zaman azali.
40. Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.(QS. 13:40)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 40 
وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ (40) 
Pada ayat ini Allah swt. menerangkan segi yang lain dari kekuasaan-Nya, yaitu dalam memberikan usia yang panjang atau yang pendek kepada Rasulullah dan kekuasaan-Nya dalam memberikan ganjaran maupun balasan terhadap amalan hamba-Nya. Maka di sini diterangkan Allah, bahwa ada kemungkinan Dia memberikan umur yang panjang kepada Rasulullah sehingga beliau berkesempatan untuk melihat datangnya azab Allah kepada kaum kafir yang telah Dia janjikan atau pun Dia hanya memberikan usia yang pendek kepada Rasulullah sehingga beliau tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan azab yang diturunkan-Nya kepada mereka itu. Tetapi semuanya itu bukanlah urusan Rasulullah melainkan kekuasaan Allah semata-mata. Tugas Rasul-Nya hanya terbatas pada penyebaran agama Islam kepada manusia. Adapun mereka menerima atau menolaknya itu adalah urusan Allah. Dialah yang akan memberikan pahala kepada orang-orang beriman dan beramal saleh dan Dia pulalah yang akan menimpakan azab kepada mereka yang kafir dan berbuat kelaliman. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 40 
وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ (40) 
(Dan jika) asalnya lafal immaa ini terdiri daripada in syarthiyah dan maa zaidah, kemudian keduanya dijadikan satu sehingga jadilah immaa, artinya seandainya (Kami perlihatkan kepadamu sebagian apa yang Kami ancamkan kepada mereka) yaitu sebagian daripada azab-Ku sewaktu kamu masih hidup. Jawab dari in syarthiyah tidak disebutkan, lengkapnya ialah fadzaaka: itulah azab-Ku (atau Kami wafatkan kamu) sebelum orang-orang kafir itu diazab (karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja) hal itu tidak penting bagimu, tugasmu tiada lain hanya menyampaikan (sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka) jika mereka telah kembali kepada Kami, maka Kami akan membalas semua amal perbuatan mereka.

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Ar-Ra'd

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar