Senin, 14 Mei 2012

Ar-Ra'd 21-30

Surah Ar-Ra'd
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Ar-Ra'd 
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=13#Top
21. dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.(QS. 13:21)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 21
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (21)
Ciri kedua adalah bahwa mereka senantiasa memelihara hubungan silaturahmi yang kokoh sebagaimana yang diperintahkan Allah; termasuk pula hubungan yang harus mereka pelihara segala suatu yang menyangkut hak Allah dan hak sesama hamba-Nya.
Hubungan antara sesama manusia ialah menjalin hubungan tolong-menolong, menjalin cinta dan kasih sayang sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من سره أن يبسط له في رزقه وأن ينسأ له في أثره فليصل رحمه
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa gembira dilapangkan rezekinya dan selalu disebut-sebut kebaikannya, maka hendaklah pelihara hubungan silaturahim."
(H.R. Bukhari, Muslim, dan Turmuzi)
Dan Hadis Nabi saw.:

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن البر والصلة ليخففان سوء الحساب يوم القيامة ثم تلا هذه الآية
Artinya:
Dari Ibnu Abbas ia berkata: "Bersabda Rasulullah saw.: "Sesungguhnya kebajikan dan menghubungkan silaturahmi itu kedua-duanya benar-benar meringankan hisab yang buruk di hari kiamat." Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat ini.
(H.R. Al-Khatib dari Ibnu Asakir)
Termasuk hak Allah ialah melaksanakan rukun iman, rukun Islam dan sebagainya.
Ciri ketiga ialah bahwa mereka itu benar-benar takut kepada Allah swt. Sifat takut kepada Allah adalah sesuai dengan martabat para ulama dan ciri dari orang-orang "muqarrabin". Dalam hubungan ini Allah swt. telah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.
(Q.S. Fatir: 28)
Ciri keempat adalah bahwa mereka senantiasa takut kepada "hisab" yang sifatnya merugikan mereka pada hari kiamat, yaitu hasil yang buruk dari perhitungan amalan seseorang di hari kiamat nanti lantaran banyaknya kejahatan yang dilakukannya selagi hidup di dunia ini. Oleh sebab itu mereka senantiasa mawas diri sebelum mereka dihitung amalannya di akhirat kelak. Mereka selalu membandingkan antara amal-amal mereka yang baik dengan yang buruk, selalu berusaha agar amal yang baik lebih banyak dari perbuatan yang buruk agar neraca kebajikan mereka di akhirat kelak lebih berat daripada neraca keburukan. Dalam hal ini Allah telah berfirman:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
Artinya:
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
(Q.S. Al-Qari'ah: 6-9)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 21
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (21)
(Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan) yaitu iman, silaturahmi dan lain sebagainya (dan mereka takut kepada Rabb mereka) ancaman-Nya (dan takut kepada hisab yang buruk) penafsiran kalimat ini telah dijelaskan sebelumnya.

22. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),(QS. 13:22)
Surah Ar Ra'd 22
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (22)
Ciri kelima ialah mereka senantiasa bersifat sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan demi mengharapkan wajah dan rida Allah. Sabar berarti menahan diri terhadap segala hal yang tidak disenanginya, baik dengan cara melakukan ketaatan dan menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan agama maupun dengan jalan menjauhi hal-hal yang dilarang agama dan yang tidak disukainya, atau pun dengan bersikap rela atas segala ketentuan Allah yang telah berlaku berupa musibah dan lain sebagainya.
Kesabaran yang diminta dari setiap orang yang berakal dan beriman lantaran ia merupakan sesuatu yang terjadi di dalam hati sanubari ialah kesabaran yang dilakukan semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah dan ganjaran-Nya, bukan kesabaran yang dibuat-buat karena ingin dipuji dan disebut-sebut. Itulah kesabaran yang sejati yang menjadi sifat bagi orang-orang yang berakal dan beriman.
Ciri keenam ialah bahwa orang-orang yang berakal senantiasa mendirikan salat. Arti "mendirikan salat" ialah menunaikan dengan cara yang sebaik-baiknya dengan menyempurnakan rukun dan syaratnya, disertai rasa khusyuk dan tawaduk menghadapkan wajah dan hati kepada Allah semata-mata, serta memelihara waktu yang telah ditetapkan untuknya. Dan ini hanyalah dapat dilakukan, bila kita merasakan bahwa pada saat-saat melakukan salat itu kita sedang sendiri berdiri di hadapan Allah swt. Pencipta dan Penguasa semesta alam, Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dengan demikian, maka tak ada sesuatu pun yang dipikirkan pada saat itu kecuali bermunajat kepada Allah semata-mata.
Ciri ketujuh ialah bahwa di samping memiliki sifat-sifat yang tersebut di atas, mereka senantiasa menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan. Kenyataan dapat memberikan pengertian kepada kita tentang apa rahasianya, maka Alquran berulang kali menganjurkan kepada orang-orang mukmin untuk menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah mereka peroleh, karena apabila orang-orang mukmin mau menafkahkan sebagian hartanya kepada yang memerlukan pertolongan dan untuk menyokong kepentingan umum, niscaya kemiskinan dan kemelaratan dapat dilenyapkan dari kehidupan masyarakat.
Ciri kedelapan ialah bahwa orang-orang yang berakal senantiasa menolak kejahatan dengan kebajikan, karena kebajikan itu dapat menolak kejahatan. Kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa apabila seseorang dapat bergaul dengan orang lain dengan hubungan yang akrab dan kasih sayang serta menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, maka janganlah ia dimusuhi atau dibenci dalam masyarakatnya. Dan apabila ia menemui suatu musibah, maka orang-orang lain yang pernah mendapat pertolongannya akan segera pula mengulurkan tangan pertolongan kepadanya. Sebaliknya orang yang suka menyakiti orang lain, atau enggan memberikan bantuan dan pertolongan adalah orang yang tidak berakal karena sikap dan perbuatannya itu hanyalah mempersempit alam kehidupannya sendiri, serta menimbulkan kebencian dan kedengkian orang lain terhadap dirinya.
Berbuat kebaikan untuk menghindari kejahatan, atau membalas perbuatan jahat orang lain dengan berbuat kebajikan kepadanya adalah tanda orang yang berakal dan bijaksana. Dari sini dapatlah dipahami, betapa tingginya nilai ajaran agama Islam untuk membina hubungan baik antara sesama manusia, dan untuk menciptakan kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.
Setelah menyebutkan ciri-ciri orang yang berakal seperti tersebut di atas, maka pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut pasti akan memperoleh tempat kesudahan yang baik, yaitu surga Jannatun Naim di akhirat kelak di samping kebahagiaan, ketenangan dan kesejahteraan di dunia ini.
23. (yaitu) syurga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(QS. 13:23)
Surah Ar Ra'd 23
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23)
Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan, bahwa yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak bukan hanya semata-mata yang memiliki sifat tersebut itu, melainkan juga orang-orang yang saleh di antara ibu-ibu dan nenek moyang mereka, demikian pula istri dan keturunan mereka yang terdekat. Mereka ini pun akan turut pula merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan itu selama mereka tidak kehilangan hak untuk memperoleh rahmat Allah, misalnya karena kekafiran dan kemusyrikan kepada Allah, maka mereka tak akan dapat menikmati pula kebahagiaan dan kesejahteraan itu, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dalam hubungan ini Rasulullah saw. pernah bersabda kepada putrinya Fatimah Zahrah sebagai berikut:

يا فاطمة بنت محمد: سليني من مالي ما شئت لا أغني عنك من الله شيئا
Artinya:
Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah dari hartaku apa yang kau inginkan (maksudnya) karena aku sekali tidak akan dapat menolongmu dari kemurkaan Allah (bila engkau sendiri tak mempunyai amal kebajikan)
(H.R. Ad Darimi)
Di dalam Alquran Allah telah menegaskan pula sebagai berikut:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya:
(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
(Q.S. Asy Syu'ara: 88, 89)
Orang-orang berakal yang tersebut di atas akan ditempatkan Allah kelak dalam surga-Nya, dan mereka di sana duduk berhadap-hadapan di atas balai-balai yang indah disertai orang-orang yang mereka cintai, yaitu nenek moyang, kaum keluarga serta anak-anak mereka, yakni orang-orang yang patut masuk surga dari kalangan orang-orang yang saleh agar hati mereka menjadi senang dan bahagia.
Hal itu merupakan rahmat dan kebaikan Allah swt. kepada mereka. Selain itu pada malaikat datang kepada mereka dari segala penjuru untuk memberikan ucapan selamat atas keberuntungan yang telah mereka peroleh, yaitu masuk surga dan berdiam dalam rumah yang diliputi kesejahteraan, berdekatan dengan para Nabi dan Rasul dan orang-orang yang mengakui kebenaran agama Allah.
24. (sambil mengucapkan):` Salaamun alaikum bima shabartum `. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(QS. 13:24)
Surah Ar Ra'd 24
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa para malaikat itu datang kepada mereka yang berada di surga itu sambil mengucapkan salam: "Semoga kamu aman dari segala hal yang tidak diinginkan dan segala yang ditakuti yang senantiasa merusak orang-orang selain kamu. Keberuntungan ini kamu peroleh berkat kesabaran dan kesengsaraan yang kamu alami selama menjalani kehidupan di dunia."
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Nabi saw. dulunya sering datang ke makam para syuhada pada setiap permulaan tahun, di sana beliau membaca ayat tersebut. Hal semacam itu dilakukan pula oleh Abu Bakar, Umar dan Usman r.a.
25. Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).(QS. 13:25)
Surah Ar Ra'd 25
وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (25)
Ada beberapa perjanjian dengan Allah dan manusia, yaitu bahwa manusia wajib mengakui kemahaesaan Allah serta kodrat dan iradat-Nya, dan bahwa manusia wajib beriman kepada Nabi-nabi-Nya dan kepada wahyu yang diturunkan-Nya dan sebagainya. Untuk ini Allah swt. telah memberikan pula bukti-bukti dan dalil-dalil yang nyata atas semuanya itu.
Akan tetapi dalam kenyataannya ada sebagian manusia telah merusak perjanjian tersebut, dengan arti:
a. Bahwa mereka tidak memperhatikan janji-janji tersebut sehingga mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban yang merupakan efek atau keharusan yang timbul dari adanya perjanjian itu. Misalnya bila mereka benar-benar berpegang teguh kepada tauhid, maka mereka tentunya tidak akan beribadah kepada selain Allah. Dan Allah memberikan bukti-bukti yang nyata tentang kemahaesaan-Nya. Akan tetapi mereka tidak memperhatikan, sehingga mereka tetap melanggar dasar tauhid tersebut maka mereka senantiasa menganut kepercayaan syirik, yaitu mempercayai dan menyembah juga kepada selain Allah.
b. Dan adakalanya pula mereka mula-mula memperhatikan janji-janji yang telah mereka ikrarkan itu, serta dalil-dalil yang telah diberikan, dan mereka telah mengakui dan meyakini kebenarannya akan tetapi kemudian mereka menyangkal kebenaran itu, dan tidak lagi bersedia untuk meyakini dan mengamalkannya.
Orang-orang yang suka memungkiri dan menyalahi janji yang telah diikrarkannya dinamakan "munafik". Dalam hubungan ini Rasulullah saw. telah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda: "Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam, yaitu apabila ia bercerita ia selalu bohong, dan apabila ia berjanji ia selalu mungkir, dan apabila ia dipercayai ia khianat."
(H.R. Muslim, Turmuzi, dan Nasa'i)
Dalam menafsirkan ayat ini, Abu Al-Aliyah seorang mufassir menyebutkan bahwa ada enam macam sifat terdapat pada orang-orang munafik, apabila mereka merasa mempunyai kekuatan dalam masyarakat, maka mereka menampakkan sifat-sifat tersebut, yaitu:
1. Apabila berbicara mereka berbohong.
2. Apabila berjanji mereka mungkir.
3. Apabila diberi kepercayaan mereka khianat.
4. Mereka suka memungkiri janji Allah yang telah mereka ikrarkan sebelumnya.
5. Mereka suka memutuskan silaturahmi yang oleh Allah diperintahkan untuk dihubungkan dan dipelihara.
6. Mereka suka berbuat kerusakan di bumi ini.
Selain suka merusak janji yang telah diikrarkannya, orang-orang munafik itu suka memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah swt. untuk menghubungkannya, yaitu:
1. Keimanan kepada Allah dan kepada nabi-nabi-Nya yang telah datang membawa kebenaran, mereka hanya beriman kepada sebagian Nabi-nabi tersebut dan mereka kafir terhadap sebagian yang lainnya.
2. Allah menyuruh mereka menghubungkan silaturahmi antara sesama manusia, tetapi mereka memutuskannya; mereka bermusuhan terhadap orang-orang mukmin dan memberikan bantuan kepada orang-orang kafir.
3. Mereka menghalang-halangi setiap usaha yang menuju kepada pembinaan kehidupan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Mereka tidak sudi melihat terwujudnya persatuan dan kesatuan antara orang-orang mukmin, seperti yang dianjurkan Rasulullah:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
Artinya:
Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain haruslah seperti suatu bangunan, bagian yang satu menguatkan bagian yang lainnya.
(H.R. Bukhari, Muslim, dan Turmuzi dari Abu Musa Al-Asyari)
Dan sabda Rasulullah saw.:

المؤمن كالجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر
Artinya:
Orang-orang mukmin itu adalah seperti satu tubuh apabila salah satu anggotanya menderita sakit, maka anggota-anggota yang lain pun rela pula menderita karena berjaga dan merasa demam karenanya.
(H.R. Bukhari)
Sebab itu, umat Islam haruslah hati-hati dalam menjaga kesatuan dan persatuan antara mereka jangan sampai dimasuki hasutan dan usaha-usaha kaum munafik untuk memecah belah persatuan itu.
Selain orang-orang munafik itu suka melanggar janji dan memutuskan silaturahim, mereka juga suka berbuat kerusakan di muka bumi ini, baik dengan kelaliman yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri, maupun dengan kelaliman yang mereka lakukan terhadap hak milik orang lain dengan jalan yang tidak sah, atau pun dengan menimbulkan fitnah dan bencana dalam masyarakat Muslimin, dan mengobarkan permusuhan peperangan terhadap mereka.
Pada akhir ayat ini Allah menetapkan hukuman yang layak untuk ditimpakan kepada orang-orang munafik itu mengingat jahatnya kelakuan dan perbuatan-perbuatan mereka. Hukuman tersebut ialah berupa laknat Allah swt., yaitu menjauhkan mereka dari rahmat-Nya sehingga mereka tersingkir dari kebaikan dunia dan akhirat; dan mereka akan menemui kesudahan yang sangat buruk, yaitu azab neraka Jahanam sebagai balasan dari kejahatan dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat.
26. Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit).(QS. 13:26)
 Surah Ar Ra'd 26
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ (26)
Allah melapangkan dan memperbanyakkan rezeki bagi sebagian hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka ini memperoleh rezeki yang lebih dari keperluan mereka sehari-hari. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang rajin dan terampil dalam mencari harta, dan melakukan bermacam-macam usaha. Selain itu, mereka ini hemat dan cermat serta pandai mengelola dan mempergunakan harta bendanya itu.
Sebaliknya, Allah swt. juga menyempitkan rezeki dan membatasinya bagi sebagian hamba-Nya sehingga rezeki yang mereka peroleh tidak lebih dari apa yang diperlukan sehari-hari. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang pemalas dan tidak terampil dalam mencari harta atau tidak pandai mengelola dan mempergunakan harta tersebut.
Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya itu adalah berdasarkan hikmah-Nya serta pengetahuan-Nya tentang masing-masing hamba-Nya itu. Dan kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan dan kekafiran hamba-Nya. Sebab itu, ada kalanya Allah swt. menganugerahkan rezeki yang banyak kepada hamba-Nya yang kafir kepada-Nya. Dan sebaliknya kadang-kadang Allah menyempitkan rezeki bagi hamba yang beriman kepada-Nya untuk menambah pahala yang kelak akan mereka peroleh di akhirat. Maka kekayaan dan kemiskinan itu adalah dua hal yang dapat terjadi pada orang-orang beriman maupun yang kafir, yang saleh atau pun yang fasik.
Dalam ayat selanjutnya Allah menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-limpah, dan mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.
Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan Dia menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil artinya. Pendek waktunya dan cepat hilangnya, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan lama masanya. Oleh karenanya tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.
Dalam hubungan ini, suatu riwayat yang disampaikan oleh Imam Turmuzi dari Ibnu Masud menyebutkan sebagai berikut:

نام رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير وقد أثر في جنبه فقلنا يا رسول الله لو اتخذنا لك، فقال مالي وللدنيا ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها
Artinya:
Pernah Rasulullah saw. tidur di atas sehelai tikar kemudian beliau bangun dari tidurnya dan kelihatan bekas tikar itu pada samping tubuhnya, lalu kami berkata: "Ya Rasulullah, seandainya kami ambilkan tempat untukmu?" Rasulullah bersabda: "Saya dan dunia ini tak ada artinya. Saya hidup di dunia ini hanya laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah sepohon kayu kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu."
27. Orang-orang kafir berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya? `Katakanlah:` Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya`,(QS. 13:27)
Surah Ar Ra'd 27
وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ (27)
Setelah pada ayat yang lalu Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik itu terpukau oleh fatamorgana kehidupan duniawi dan gembira dengan kenikmatan yang kecil itu, lalu Allah menyebutkan akibat yang timbul dari sikap dan pandangan mereka yang keliru itu yaitu mereka mengajukan usul kepada Nabi Muhammad agar kepada beliau diturunkan suatu ayat dari Tuhan yang akan membuktikan kenabian dan kerasulannya. Di antara mereka kaum musyrikin kota Mekah, seperti Abu Sofyan bin Harb dan kawan-kawannya pernah mengatakan sebagai berikut: "Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad suatu bukti sebagaimana yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu, seperti jatuhnya langit berkeping-keping kepada mereka, atau bukit Safa menjadi emas atau menggeser gunung-gunung dari sekitar kota Mekah, sehingga tempat-tempat yang lowong itu dapat dijadikan kebun. Dan ucapan yang lain yang disebut dalam Alquran, antara lain yang terdapat dalam ayat berikut:

فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ
Artinya:
Maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat sebagaimana Rasul-rasul yang telah lalu diutus.
(Q.S. Al-Anbiya': 5)
Dengan adanya ucapan-ucapan mereka yang semacam itu karena keingkaran dan kesombongan mereka yang demikian rupa, maka seolah-olah mereka menganggap bahwa tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata yang telah dibawa Nabi Muhammad saw. seperti Alquran dan lain-lainnya, belumlah mereka anggap sebagai bukti yang nyata tentang kerasulan Nabi Muhammad saw. yang mendorong mereka untuk taat dan iman kepada-Nya, atau sebagai suatu kebenaran yang tak dapat diragukan lagi.
Selanjutnya pada ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik tersebut, bahwa turunnya ayat bukti tersebut tidaklah memegang peranan dalam menjadikan seseorang mendapat petunjuk atau ia jadi sesat, karena seluruhnya dalam kekuasaan Allah semata-mata. Hanya Allah swt. sajalah yang kuasa menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan menuntut orang-orang yang suka bertobat kepada-Nya.
Dengan demikian walaupun diturunkan kepada Nabi Muhammad suatu mukjizat yang akan membuktikan kerasulannya, namun hal itu tidak akan bermanfaat untuk menjadikan seseorang beriman. Jalan satu-satunya bagi mereka untuk beriman hanyalah merendahkan diri serta taat kepada Allah swt. dan memohon hidayah kepada-Nya untuk beroleh keberuntungan di dunia dan di akhirat, serta terhindar dari tipu daya dan godaan setan.
Bagi orang-orang yang beriman, Alquran itu sendiri sudah merupakan ayat atau mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad saw., sehingga tidak diperlukan lagi bukti-bukti yang lain. Sebaliknya orang-orang musyrik tersebut memang telah ditenggelamkan dalam kesesatan dan keingkaran, sehingga bukti-bukti atau mukjizat apa pun yang diperlihatkan kepada Rasulullah tidak akan mendatangkan faedah untuk menjadikan mereka sebagai orang-orang yang beriman.
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. 13:28)
Surah Ar Ra'd 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan siapakah orang yang mendapat tuntunan-Nya itu? Mereka ialah orang-orang beriman dan hati menjadi tenteram karena senantiasa mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan merasa takut atau pun khawatir, karena orang yang senantiasa mengingat Allah senantiasa melakukan hal-hal yang baik, dan ia merasa bahagia dengan kebajikan yang dilakukannya itu.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)
(Yaitu orang-orang yang beriman dan yang merasa tenang) tenteram (hati mereka dengan mengingat Allah) mengingat janji-Nya. (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram) yakni hati orang-orang yang beriman.
29. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.(QS. 13:29)
Surah Ar Ra'd 29
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29)
Dalam ayat ini dijelaskan selanjutnya, bahwa orang-orang yang beriman dan melakukan amal-amal yang saleh, niscaya akan memperoleh kebahagiaan dan tempat kembali yang baik di sisi Allah swt. pada hari kemudian.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 29
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29)
(Orang-orang yang beriman dan beramal saleh) kalimat ini menjadi mubtada sedangkan khabarnya ialah (alangkah bahagianya) lafal thuubaa mashdar daripada lafal ath-thiib, adalah nama sebuah pohon di surga, seseorang yang berkendaraan tidak akan dapat menempuh naungannya sekali pun berjalan seratus tahun (bagi mereka dan tempat kembali yang baik) tempat kembali di akhirat.
30. Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah:` Dialah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat `.(QS. 13:30)
Surah Ar Ra'd 30
كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (30)
Allah swt. menjelaskan, bahwa Dia telah mengutus Nabi Muhammad kepada suatu umat yang bukan merupakan umat yang pertama kali menerima kedatangan Rasul Allah. Karena sebelum itu telah ada umat-umat lainnya yang telah berlalu yang juga pernah didatangi oleh Rasul-rasul-Nya. Maka umat Muhammad adalah umat yang terakhir menerima nabi dan Rasul-Nya.
Allah swt. menjelaskan bahwa tugas Nabi Muhammad adalah untuk membacakan kepada umatnya Alquran yang telah diwahyukan-Nya kepada beliau yang di waktu itu mereka adalah kafir kepada Allah. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar ia mengatakan kepada umatnya bahwa Allahlah Tuhannya, dan tidak ada Tuhan selain Allah, dan hanya kepada Allahlah ia bertawakal, dan hanya kepada-Nyalah ia bertobat.
Ucapan ini terutama menunjukkan kekeliruan mereka itu karena kekafiran mereka kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah melimpahkan rahmat-Nya yang amat banyak kepada setiap makhluk-Nya. Di antara nikmat-Nya itu ialah bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad sebagai Rasul yang dipilih-Nya dari kalangan mereka sendiri yang sangat menginginkan agar mereka beriman kepada Allah swt. dan beroleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sehubungan dengan masalah ini, Allah swt. juga telah berfirman dalam ayat yang lain:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya:
Dialah yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(Q.S. Al-Jumu'ah: 2)
Selain itu ucapan yang di atas yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umatnya itu juga dimaksudkan untuk mengajarkan kepada mereka keutamaan bertobat kepada Allah swt. Nabi Muhammad saw. walaupun ia adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang tidak pernah berbuat dosa, namun Allah memerintahkan juga kepadanya untuk bertobat. Jika demikian halnya, maka apa lagi orang-orang yang berdosa, tentulah lebih patut untuk bertobat kepada Allah dari segala dosa yang telah mereka lakukan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 30
كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (30)
(Demikianlah) sebagaimana Kami mengutus nabi-nabi sebelummu (Kami mengutus kamu kepada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya supaya kamu membacakan) mengajarkan (kepada mereka apa yang Kami wahyukan kepadamu) yaitu Alquran (padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) karena mereka mengatakan sewaktu mereka disuruh sujud atau menyembah kepada-Nya siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah? (Katakanlah) kepada mereka hai Muhammad ("Dialah Rabbku, tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.")


Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Ar-Ra'd

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar