Senin, 14 Mei 2012

Ar-Ra'd 01- 10

Surah Ar-Ra'd
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Ar-Ra'd 
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=13#Top
1. Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).(QS. 13:1)
Surah Ar Ra'd 1
المر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (1)
Alquran semuanya yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah benar yang tidak ada keragu-raguan sedikit pun padanya. Dalam keterangan ini merupakan keterangan yang menyeluruh setelah diperinci sebelumnya dengan maksud mengemukakan kesempurnaan surah ini setelah menjelaskan bahwa Alquran semuanya adalah hak yang kebenarannya meliputi seluruh bagian-bagiannya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak membenarkan apa-apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu dan tidak pula mengakui kebenaran Alquran yang di dalamnya penuh berisi bermacam-macam perumpamaan, hikmah-hikmah, dan hukum-hukum yang sesuai untuk tiap-tiap masa dan zaman yang diikuti oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kaum Muslimin pada abad-abad pertama telah mengikuti ajaran-ajaran Alquran itu dengan penuh khidmat dan keyakinan sehingga mereka menjadi umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Mereka telah menguasai sebagian besar dari dunia yang makmur pada waktu itu, mengalahkan kerajaan Romawi dan Persia dengan menjalankan segala kebijaksanaan dalam pemerintahannya yang penuh dengan keadilan yang dapat disaksikan oleh musuh-musuhnya. Orang-orang yang teraniaya dapat dibela dalam rangka menegakkan keadilan, maka agama Islam telah diakui sebagai unsur mutlak dalam pembinaan karakter bangsa dan pembangunan negara. Setelah mereka mati dan diganti dengan generasi yang datang kemudian ternyata mereka banyak yang melalaikan unsur-unsur keadilan dan kebenaran itu sehingga berubahlah keadaan mereka menjadi bangsa yang hina setelah mereka dahulunya merupakan suatu bangsa yang berwibawa dan mulia dan disegani oleh kawan maupun lawan. Mereka menjadi bangsa yang diperbudak oleh kaum penjajah setelah dahulunya mereka menjadi kaum penguasa, mereka menjadi bangsa yang hina setelah dahulunya menjadi bangsa yang terhormat, mereka menjadi bangsa yang mengekor setelah dahulunya menjadi bangsa yang memimpin.
Hal yang demikian itu sesuai dengan firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Q.S. Ar Ra'd: 11)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 1
المر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (1)
(Alif laam raa) hanya Allahlah yang mengetahui maksudnya (Ini adalah) ayat-ayat ini (sebagian dari Alkitab) yakni Alquran; idhafat mengandung makna min, yaitu bermakna sebagian (Dan kitab yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu) maksudnya Alquran. Kalimat ayat ini berkedudukan menjadi mubtada sedangkan khabarnya ialah (adalah benar) tiada keraguan di dalamnya (akan tetapi kebanyakan manusia) yakni penduduk kota Mekah (tidak beriman) bahwasanya Alquran itu dari sisi Allah swt.
2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.(QS. 13:2)
Surah Ar Ra'd 2
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (2)
Secara terperinci Allah menerangkan keadaan langit yang ditinggikan tanpa tiang, tentang perjalanan matahari dan bulan yang masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan, tentang keadaan bumi yang penuh dengan gunung dan lembah dan mengalir sungai padanya dan adanya bermacam-macam kebun yang menghasilkan beraneka ragam buah-buahan yang kesemuanya menunjukkan bahwa hanya Allahlah yang dapat memberi manfaat dan mudarat, yang dapat menghidupkan dan mematikan dan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tanda-tanda kekuasaan itu sebagian ada yang di langit dan sebagian lagi ada di bumi:
a. Bagian yang pertama, seperti menciptakan langit di atas bumi tanpa adanya tiang sebagaimana yang biasa dilihat oleh sekalian makhluk, dan jarak yang sangat jauh di antara benda-benda di langit itu yang kesemuanya beredar menurut ketentuan dan peraturan dari Allah Taala sendiri seperti benda-benda yang terlihat melayang di angkasa.
b. Kemudian Allah bersemayam di atas Arasy-Nya yang dijadikan sebagai pusat dari mana diatur segala kebijaksanaan di alam semesta ini. Dan tentang kebijaksanaan-Nya setelah dibentangkan secara panjang lebar di dalam surah Al-A'raf dan surah Yunus.
c. Allah swt. telah menundukkan matahari dan bulan yang keduanya melakukan perjalanan untuk kemanfaatan sekalian makhluk-Nya, masing-masing berjalan melalui lintasannya menurut waktu yang ditentukan. Matahari menempuhnya dalam waktu satu tahun dan bulan menempuhnya dalam masa satu bulan. Tentang perjalanan matahari dan bulan itu telah dijelaskan dengan terperinci dalam surah Yunus dan surah Hud. Allah swt. mengemudikan segala kejadian dalam kerajaan-Nya secara sempurna dengan beraneka ragam keadaaan. Maka Dialah yang menghidupkan dan mematikan, mengadakan dan meniadakan, memberi kekayaan dan kemiskinan, menurunkan wahyu kepada siapa yang dikehendaki-Nya, yang kesemuanya itu menunjukkan bahwa Dialah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak dan rahmat kesayangan yang besar dan luas, karena suatu makhluk dengan keadaan yang tertentu dan sifat tabiat tertentu tidak dapat dilaksanakan kecuali oleh Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa. Dialah yang mengatur alam kebendaan dan alam kerohanian dan Dialah yang mengatur benda-benda yang amat besar dan amat kecil, bukan menghadapi suatu urusan saja tetapi menghadapi semuanya dengan penuh hikmah kebijaksanaan yang kesemuanya itu menjadi dalil atas kesempurnaan Allah dalam Zat-Nya, sifat-Nya, Ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun juga. Allah mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya dengan peraturan yang sangat rapi dan halus, mengadakan daya tarik-menarik antara benda-benda di langit sehingga berjalan menurut lintasan yang telah ditentukan secara rapi dan terpelihara seperti bentuk mata rantai yang sambung-menyambung sehingga tidak terjadi bentrokan di ruang angkasa yang dapat menimbulkan malapetaka dan bencana dan semuanya ini berlangsung demikian rapi sampai datang hari kiamat, di mana akan terjadi perubahan besar di alam angkasa yang menjadi permulaan hancurnya alam semesta, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ
Artinya:
Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.
(Q.S. Al-Infitar: 1, 2)
Demikian pula keadaan di bumi yang tunduk kepada aturan Allah mengenai hukum sebab akibat. Seorang petani bercocok tanam, menyebarkan benih-benih di tempat persemaiannya, kemudian menyirami dengan air yang diperlukan terutama di musim kemarau dan memeliharanya dari berbagai jenis hama sehingga dapat memetik hasil tanaman dengan baik dan jika ia melalaikan salah satu rentetan dari pekerjaannya itu, maka ia akan mengalami kerugian atau tidak mendapat hasil apa-apa. Kemudian Allah menerangkan bahwa tanda-tanda kesempurnaan kekuasaan Allah di langit dan di bumi itu supaya menjadi keyakinan bagi umat manusia akan adanya perjumpaan dengan Allan Taala pada hari kiamat, di mana Allah Taala akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebajikan dan menyiksa orang-orang yang berbuat kejahatan. Sebagaimana Allah kuasa mengatur benda-benda besar di langit seperti matahari bulan dan bintang-bintang, mengangkat langit tanpa ada tiang-tiangnya, mengatur isi alam cakrawala dengan halus dan tertib, maka kesemuanya itu menunjukkan bahwa Allah Taala kuasa untuk mengembalikan arwah-arwah kepada jasadnya dan merubah alam fana ini dengan alam yang kekal dan abadi dan tidak akan rusak untuk selama-lamanya. Jika manusia meyakini kebenaran ini, niscaya dia dapat berpaling dari menyembah berhala dan patung-patung dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Maha Esa, percaya kepada janji Allah dan ancaman-Nya, percaya kepada semua Rasul-rasul-Nya, bersegera di dalam mengikuti segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga menjadi manusia yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 2
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (2)
(Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kalian lihat) lafal `amad merupakan bentuk jamak dari kata tunggal `imaad, yang artinya ialah tiang penyanggah. Dan memang sebagaimana yang terlihat langit itu tidak mempunyai tiang penyanggah (kemudian Dia berkuasa di atas Arsy) dalam arti kata kekuasaan yang layak bagi keagungan-Nya (dan menundukkan) menjinakkan (matahari dan bulan. Masing-masing) daripada matahari dan bulan itu (beredar) pada garis edarnya (hingga waktu yang ditentukan) yaitu hari kiamat. (Allah mengatur semua urusan) yakni memutuskan semua perkara kerajaan-Nya (menjelaskan) menerangkan (tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya (supaya kalian) hai penduduk kota Mekah (terhadap hari pertemuan dengan Rabb kalian) melalui hari berbangkit (meyakininya).
3. Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.(QS. 13:3)
Surah Ar Ra'd 3
وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (3)
Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi menjadi luas dan lebar dan supaya mudah dijadikan tempat kediaman makhluk-Nya. Semua binatang dapat hidup di atasnya dengan sempurna dan leluasa, dan manusia dapat mengambil manfaat dari hasil buminya, hewan-hewannya dan benda-benda logam yang terpendam di dalamnya dan dapat berkeliaran di muka bumi untuk mencari rezeki dan segala kemanfaatannya. Tidak ragu-ragu lagi bahwa bumi ini yang karena sangat luas sekali kelihatannya seperti bidang datar, yang demikian itu tidak bertentangan dengan keadaannya yang sebenarnya yaitu berbentuk bola dunia sebagaimana diyakini oleh para ulama ahli falak. Allah telah mengadakan gunung-gunung di atas permukaan bumi ini sebagai tonggak yang menjaga kestabilan bumi supaya tidak bergerak dan tidak bergeser.
Demikian pula Allah telah menciptakan sungai-sungai di bumi untuk kepentingan manusia dan binatang-binatang, maka manusia dapat mengairi dengan air sungai itu kebun-kebun dan sawah ladangnya yang nantinya menghasilkan bermacam-macam hasil bumi dan buah-buahan. Dan buah-buah itu dijadikan Allah berpasang-pasangan di mana terdapat unsur jantan dan unsur betina. Ilmu pengetahuan telah menetapkan bahwa sebuah pohon itu tidak akan berbuah kecuali jika telah terjadi perkawinan antara unsur jantan dan betina yang biasanya berada pada sebagian besar jenis pohon-pohon. Ada pula pohon yang mempunyai unsur jantan dan betina itu pada pohon yang berlainan seperti pohon kurma, sehingga perlu dikawinkan supaya dapat berbuah, dan ada pula yang mempunyai unsur jantan dan betina itu dalam suatu bunga seperti pohon kapas. Allah menutupkan pula malam kepada siang sehingga jadilah suasana gelap seperti menutup sesuatu dengan kain hitam dan demikian pula menggunakan sinar siang kepada malam sehingga kelihatannya terang-benderang, dan semuanya itu dijadikan Allah untuk menyempurnakan kemanfaatan bagi manusia dengan memberikan kesempatan istirahat dan tidur di malam hari dan bekerja mencari nafkah pada siang hari sesuai dengan firman Allah:

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا
Artinya:
Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi?
(Q.S. An Naml: 86)
Setelah Allah menerangkan dalil-dalil kekuasaan-Nya yang dapat dilihat oleh mata tiap pagi dan petang, tiap-tiap waktu dan keadaan, maka Allah menerangkan bahwa tanda-tanda itu tidak diperhatikan kecuali oleh orang-orang yang suka bersyukur merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah sehingga dengan akal pikirannya dapat mencapai kebenaran dan pindah dari memandang sebab kepada yang menyebabkannya, sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan. Maka diketahuilah bahwa pencipta alam itu Dialah Tuhan yang mempunyai kehendak yang mutlak dan kekuasaan yang meliputi segala sesuatu, yang Kuasa untuk menghidupkan yang telah mati di antara makhluk-Nya, dan mengembalikan mereka dari alam fana. Karena itu tidak boleh beribadah kecuali kepada-Nya saja, dan tidak boleh tunduk dan menyerah diri kecuali kepada kekuasaan-Nya, dan tidak boleh beribadah itu ditujukan kepada patung-patung, berhala-berhala, batu-batu, pohon, malaikat, Nabi-nabi, atau sebangsanya bahkan benda-benda itu tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya sendiri sesuai dengan firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ
Artinya:
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.
(Q.S. Al-Hajj: 73)
Dan telah diriwayatkan pula dalam sebuah hadis yang artinya:
Pikirkanlah olehmu sekalian tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan memikirkan tentang Zat Allah.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 3
وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (3)
(Dan Dialah yang membentangkan) menghamparkan (bumi dan menjadikan) membuat (gunung-gunung padanya) gunung-gunung yang kokoh (dan sungai-sungai. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan) dari setiap jenis yang ada (Allah menutupkan) menutup (malam) dengan kegelapannya (kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu) dalam hal yang telah disebutkan itu (terdapat tanda-tanda) bukti-bukti yang menunjukkan akan keesaan Allah swt. (bagi kaum yang memikirkan) tentang ciptaan Allah.
4. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.(QS. 13:4)
Surah Ar Ra'd 4
وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (4)
Dan terdapat pula di bumi, bagian-bagian tanah yang berdekatan dan berdampingan tetapi berlainan kesuburannya. Ada tanah yang sangat subur untuk ditanami tanaman apa saja, ada pula tanah yang hanya dapat ditanami pohon-pohon besar saja, tetapi tidak baik untuk ditanami tanaman palawija atau sebaliknya, dan ada pula tanah yang lunak dan ada pula yang keras yang untuk memecahkannya memerlukan dinamit dan bahan peledak. Dan di bumi terdapat kebun-kebun anggur, tanaman palawija dan pohon yang bercabang dan tidak bercabang. Semuanya itu disiram dengan air yang sama tetapi menghasilkan buah yang beraneka warna rasanya, seperti pohon tebu yang rasanya manis, buah jeruk yang rasanya manis dan masam serta buah paria yang rasanya pahit, dan lain sebagainya. Allah melebihkan sebahagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang bentuknya, rasanya dan baunya. Pada semua tanda-tanda itu terdapat kekuasan Allah dan menjadi dalil yang membawa keyakinan bagi orang-orang yang suka berpikir.
5. Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka:` Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru? `Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(QS. 13:5)
Surah Ar Ra'd 5
وَإِنْ تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (5)
Dan jika sesuatu yang kamu herankan tentang penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang tidak memberi mudarat dan membawa kemanfaatan setelah dikemukakan dalil-dalil keesaan Allah, maka yang lebih patut mengherankan adalah ucapan mereka yang mendustakan hari kebangkitan pada hari kiamat sehingga mereka berkata: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami benar-benar akan dikembalikan lagi menjadi makhluk yang baru?"
Mereka mengucapkan kata-kata pengingkaran itu padahal mereka tidak mengingkari kekuasaan Allah untuk menciptakan mereka sejak mereka berada dalam kandungan ibunya. Pertanyaan yang mengandung keingkaran itu berulang-ulang tersebut dalam sebelas tempat di sembilan surah dalam Alquran, yaitu surah-surah Ar-Ra'd, Al-Isra, Al-Mu'minun, An-Nahl, An-Ankabut, As-Sajdah, As-Saffat, Al-Waqi`ah dan An-Naziat, semuanya mengandung keingkaran yang sangat keras yang mustahil akan terjadi. Kemudian Allah menerangkan sifat-sifat orang yang ingkar itu, bahwa mereka itulah orang-orang kafir terhadap Tuhannya. Karena mengingkari kekuasaan Allah sama dengan mengingkari Allah sebab Allah itu senantiasa berkuasa dan orang-orang itu akan dilekatkan belenggu-belenggu di lehernya sebagai akibat daripada keadaan mereka di dunia tidak melihat kebenaran dan mengikuti jalan petunjuk. Ada pula yang menafsirkan bahwa mereka itu pada hari kiamat ketika dihadapkan kepada hisab, mereka itu dilekatkan beberapa belenggu di lehernya seperti seorang tawanan dibelenggu menghadap pengadilan, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ
Artinya:
Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas kemudian mereka dibakar dalam api.
(Q.S. Al-Mu'min: 71, 72)
Dan mereka itu adalah penghuni neraka yang berada kekal di dalamnya dalam kehinaan sebagai akibat daripada keingkaran dan kejahatannya selama hidup di dunia.

6. Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.(QS. 13:6)
Surah Ar Ra'd 6
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلَاتُ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ (6)
Setelah mereka mendustakan Rasul dalam rangka mengingkari azab pada hari kiamat, maka mereka mengingkari pula azab di dunia yang telah diancamkan oleh Rasulullah kepada mereka. Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan datangnya siksa yang telah diancamkan kepada mereka sebagai suatu tantangan padahal mereka itu semestinya memohon keselamatan dari turunnya azab dan mengharapkan pahala yang dijanjikan oleh Rasulullah kepada mereka di akhirat. Dalam kenyataan mereka lebih senang meminta supaya disegerakan datangnya siksa daripada meminta kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh azab yang ditimpakan oleh Allah kepada umat-umat yang mendustakan Rasul-rasul-Nya sebelum mereka. Di antara mereka ada yang dirubah rupanya menjadi kera, ada pula yang dihancurkan dengan gempa bumi dan sebagainya. Tentang keadaan mereka lebih suka menantang turunnya azab daripada meminta kebaikan tersebut pula dalam firman Allah:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Alquran) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."
(Q.S. Al-Anfal: 32)
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan yang luas terhadap dosa-dosa yang bertobat di antara hamba-hamba-Nya dan menutupi kesalahan-kesalahannya pada hari kiamat. Seandainya Allah tidak bersifat Maha Penyantun, tentu akan menyiksa manusia karena kezalimannya seperti tersebut dalam firman-Nya:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ
Artinya:
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun.
(Q.S. Fatir: 45)
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksaan-Nya terhadap orang yang mengerjakan kejahatan dan terus bergelimang dalam kesesatannya dan dosa-dosanya. Kadang-kadang ada sebagian azab yang disegerakan turunnya di dunia sebagai akibat daripada dosa-dosanya seperti terganggunya kesehatan bagi orang-orang yang membiasakan meminum minuman keras, orang-orang yang suka berjudi dijadikan orang yang bangkrut setelah tadinya menjadi orang yang kaya, dan seperti seorang koruptor yang dicopot dari kedudukannya yang tinggi karena terlibat soal korupsi dan manipulasi. Sering sekali ampunan dari Allah itu disebut-sebut berdampingan dengan adanya siksaan agar supaya seorang hamba Allah selalu berada di tengah-tengah antara khauf dan raja' (ketakutan terhadap azab Allah dan harapan atas ampunan-Nya) seperti dalam firman Allah:

إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al-A'raf: 167)
7. Orang-orang yang kafir berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya? `Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.(QS. 13:7)
Surah Ar Ra'd 7
وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ (7)
Dan orang-orang kafir berkata secara ingkar: "Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad sesuatu tanda kebesaran dari Tuhannya seperti tongkat mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa dan unta kepada Nabi Saleh dan mengapa Muhammad tidak bisa menjadikan bukit Safa menjadi emas atau memindahkan bukit-bukit ini daripada kita dan diganti dengan lembah-lembah yang penuh dengan sungai-sungai yang mengalir." Mereka menuntut yang sedemikian itu karena menyangka bahwa Alquran sendiri tidak merupakan suatu mukjizat bahkan dipandangnya sebagai kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Allah swt. telah menolak tuntutan mereka itu dengan firman-Nya:

وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ
Artinya:
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.
(Q.S. Al-Isra': 59)
Sunnatullah telah berlaku bahwa jika tanda-tanda kekuasaan Allah telah diminta kemudian setelah tanda-tanda itu diturunkan mereka yang menuntutnya tetap membangkang dan tidak percaya, maka pasti mereka akan dimusnahkan dengan azab Allah. Allah tidak menghendaki untuk memusnahkan mereka oleh karena itu tidak menurunkan tanda-tanda mukjizat yang dituntut oleh mereka itu, karena Nabi Muhammad saw. telah diberi mukjizat yang lainnya yang menunjukkan kebenaran risalahnya. Tugas yang pokok daripada Nabi Muhammad saw. hanya sekadar menyampaikan risalahnya seperti tugas-tugas Nabi-nabi sebelumnya, dan bukanlah tugas Nabi Muhammad saw. memenuhi usul dan permintaan kaumnya agar mereka dapat petunjuk, sebab soal penciptaan petunjuk dalam hati seseorang itu adalah semata-mata di tangan Allah dan tidak menjadi wewenang Nabi Muhammad sendiri seperti diterangkan dalam firman Allah:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Artinya:
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(Q.S. Al-Baqarah: 272)
Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan bagi tiap-tiap umat ada pemimpin yang memberi petunjuk kepada kebaikan. Mereka itu yang berkedudukan sebagai nabi atau ahli hikmah atau orang mujtahidin yang menggali dan merintis jalan syariat secara lebih terperinci yang mengandung unsur-unsur akhlak dan pedoman hidup yang bahagia. Nabi Muhammad saw. menyatakan dalam sebuah hadis diambil dari kitab Tafsir juz 13, hal 73.

أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم
Artinya:
Sahabat-sahabatku laksana bintang kepada siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti, pasti kamu mendapat petunjuk.
8. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.(QS. 13:8)
Surah Ar Ra'd 8
اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَى وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ (8)
. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan baik bayi laki-laki maupun perempuan, baik satu atau kembar, akan lanjut usianya atau pendek, seperti tersebut dalam firman-Nya:

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
Artinya:
Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu.
(Q.S. An Najm: 32)
Allah mengetahui kandungan rahim yang kurang sempurna, yang bayinya mengandung cacat pada bagian anggotanya, atau yang masa mengandungnya kurang dari sembilan bulan, dan Allah mengetahui pula kandungan rahim yang kembar dua, kembar tiga, empat sampai lima, dan yang masa kandungannya rata-rata sembilan bulan. Menurut penyelidikan beberapa rumah sakit di London, bahwa janin tidak bersemayam hidup dalam kandungan ibunya lebih dari 305 hari, dan menurut rumah sakit di Berlin tidak lebih dari 308 hari. Oleh karena itu sekarang berlaku ketentuan dalam Mahkamah Syariah, bahwa idah seorang perempuan yang dicerai tidak lebih daripada setahun komariah, yaitu 354 hari sebagaimana pendapat sebagian mazhab Maliki. Bagi tiap-tiap sesuatu telah ada ukurannya pada sisi Allah swt. tidak ada kekurangan atau tambahannya seperti tersebut dalam firman-Nya:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya:
Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.
(Q.S. An Nahl: 61)
Dan tersebut dalam sebuah hadis, bahwa salah seorang putri Nabi saw. mengirimkan seorang utusan kepadanya, memberitahukan bahwa salah seorang putranya sedang menghadapi sakratulmaut, dan memohon supaya beliau (sebagai kakeknya) segera dapat menghadirinya. Beliau mengutus seorang utusan kepada putrinya itu dan berpesan: "Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mengambil dan memberikan sesuatu, dan setiap perkara ada ketentuan pada sisi-Nya. Oleh karena itu suruhlah putrinya berlaku sabar (atas musibah itu) dan mengharapkan pahala balasan dari Allah swt."
9. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.(QS. 13:9)
Surah Ar Ra'd 9
عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ (9)
Dialah Tuhan Yang Mengetahui yang gaib dan yang tampak. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa ada alam yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala, karena kecil sekali, dan baru dapat dilihat dengan mikroskop seperti alam bakteri yang dapat menjalarkan bermacam-macam penyakit yang sulit sekali untuk diberantasnya, atau sampai sekarang belum diketemukan obat pembasminya, dan bakteri-bakteri itu termasuk tentara Allah yang tidak mengetahui berapa jumlah banyaknya melainkan Allah Taala sendiri, seperti diterangkan dalam firman-Nya:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ
Artinya:
Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.
(Q.S. Al-Mudasir: 31)
Dialah Tuhan Yang Maha Besar, yang tidak dapat dikirakan sifat kebesaran-Nya oleh semua makhluk-Nya, lagi Maha Tinggi dalam kekuasaan-Nya untuk mengatur alam semesta, dan hal demikian itu menunjukkan, bahwa Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan kembali makhluk-makhluk-Nya pada hari kiamat, hal yang diingkari oleh kaum musyrikin itu Allah kuasa memenuhi tuntutan mereka, kuasa pula menyegerakan azab yang mereka usulkan, akan tetapi Dia mengakhirkan pelaksanaannya karena sesuatu kemaslahatan yang mereka tidak ketahui.
10. Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.(QS. 13:10)
Surah Ar Ra'd 10
سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ (10)
Sama saja bagi Allah di antaramu yang merahasiakan ucapannya, yang menyimpan saja dalam hatinya, atau yang berterus terang mengucapkannya. Semuanya itu tidak ada yang samar bagi Allah, seperti diterangkan dalam firman-Nya:

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى
Artinya:
Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
(Q.S. Taha: 7)
Dalam sebuah hadis diterangkan, Siti Aisyah berkata: "Maha Suci Allah Yang mendengar semua suara-suara. Demi Allah, pernah datanglah seorang wanita (mujadilah) yang mengajukan gugatan tentang suaminya kepada Rasulullah saw. Oleh beliau dijawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan Allah, lalu wanita itu menyampaikan pengaduannya di muka Baitullah. Saya sendiri, kata Aisyah berada di dekat Baitullah dan mendengar pengaduannya secara sayup-sayup tidak jelas, kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Artinya:
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Q.S. Al-Mujadilah: 1)
Allah mengetahui siapa yang bersembunyi di rumahnya di malam hari dan berjalan-jalan menampakkan dirinya di siang hari. Semuanya sama bagi Allah. Oleh Ibnu Abbas ayat ini ditafsirkan sebagai berikut: Allah mengetahui orang yang karena penuh keragu-raguan suka bersembunyi di rumahnya di malam hari dan berjalan menampakkan diri di siang hari, Seperti seorang wanita yang bersih daripada dosa.

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Ar-Ra'd

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar