Selasa, 29 Mei 2012

Al-Israa' 80 - 100

Surah Al-Isra'
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Israa'
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=17#Top
81. Dan katakanlah: `Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap`. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.(QS. 17:81)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa' 81
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (81)
Allah SWT memerintahkan agar Nabi Muhammad saw menyampaikan kepada orang-orang musyrikin; "Sesungguhnya telah datang yang hak tidak ada keraguan padanya, yaitu berupa Alquran, iman, ilmu yang bermanfaat dan hancur lenyap yang batil yaitu kepercayaan syirik dan segala macam bentuk yang berlawanan dengan kebenaran. Kebatilan itu tidak akan sanggup hidup bertahan lama, karena tidak mempunyai dasar-dasar dan sendi-sendi yang kuat.
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (18)
Artinya:
Sebenarnya Kami lontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu di sebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi Nya". (Q.S. Al Anbiya: 18)
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata: "Rasulullah saw telah memasuki kota Mekah di waktu penaklukan kota Mekah dan sekitar Baitullah. Ketika itu ada 360 buah patung, maka Rasulullah saw menusuk patung itu dengan sepotong kayu yang ada di tangannya, dan beliau berkata:

جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا. جاء الحق وما يبدئ الباطل وما يعيد
Artinya:
Telah datang yang hak dan telah lenyap yang batil, sesungguhnya yang batal itu pasti lenyap. Telah datang yang hak dan yang batil tidak akan memulai lagi dan tidak akan mengulangi. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 81
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (81)
(Dan katakanlah) sewaktu kamu memasuki kembali Mekah ("Yang benar telah datang) yakni agama Islam (dan yang batil telah lenyap.") batilnya kekafiran telah lenyap. (Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap) akan surut, lalu lenyap. Memang ketika Nabi saw. memasuki kota Mekah, beliau menemukan tiga ratus enam puluh berhala berada di sekitar Kakbah, kemudian Nabi saw. menusukinya dengan tongkat yang berada di tangannya sehingga semuanya runtuh, seraya mengucapkan kalimat tadi. Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.


82. Dan Kami turunkan dari Al quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(QS. 17:82)
Surah Al Israa' 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا (82)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT menurunkan Alquran kepada Muhammad, sebagai obat penyakit kejahilan, yaitu syirik dan kesesatan, penyakit ragu-ragu dan penyakit munafik, yaitu penyakit-penyakit jiwa dan merupakan rahmat bagi seluruh kaum muslimin baik bagi individu maupun bagi masyarakat, yang mau melaksanakan perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan yang tersebut di dalamnya, sehingga mereka masuk surga dan terlepas dari azab Allah.
Alquran telah membebaskan orang-orang Arab dari kebodohan dan kejahilan, menjadi orang yang terkemuka di dunia pada masa-masa ke khalifahan Umaiyah dan kekhalifahan Abbasiyah, tetapi mereka kembali menjadi terbelakang, setelah mereka mengabaikan ajaran-ajaran Alquran.
Dahulu mereka menjadi umat yang disegani, akhirnya mereka telah menjadi pion-pion yang dapat dijadikan umpan peluru bagi musuh dalam percaturan dunia. Karena mereka memperhatikan dan melaksanakan ajaran Alquran, negeri mereka pernah menjadi pusat dunia ilmu pengetahuan, menjadi pusat perdagangan dunia dan sebagainya, mereka pernah hidup makmur dan bahagia. Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin bahwa mereka akan dapat memegang peranan kembali di dunia, jika mereka mau kembali mengikuti Alquran dan berpegang teguh pada ajarannya yang murni, baik dalam masalah individu maupun dalam masalah masyarakat.
Sebaliknya jika mereka tidak mau melaksanakan ajaran Alquran yang sebenarnya, mengutamakan kepentingan pribadi atas kepentingan agama dan masyarakat hanya memperbincangkan masalah-masalah yang tidak berarti, yang dapat memecahkan umat, maka Allah akan menjadikan musuh-musuh untuk mereka sebagai penguasa atas diri mereka, sehingga menjadi tidak lebih dan tidak kurang akan menjadi orang asing atau menjadi budak dalam rumah tangga sendiri.
Cukup pahit pengalaman kaum Muslimin, karena mengabaikan ajaran Alquran . Alquran menyuruh mereka bersatu dan bermusyawarah, tetapi mereka menjadi pecah belah karena masalah-masalah khilifiah yang kecil-kecil, sedang masalah-masalah yang penting dan besar mereka abaikan.
Ayat ini juga mengingatkan kaum Muslimin bahwa orang-orang yang lalim, jiwanya penuh dengan kesombongan dan ketakaburan, penuh dengan rasa dengki dan rasa iri dan ingin jadi terkemuka serta haus kekuasaan, maka semuanya itu akan menambah kerugian bagi diri mereka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا (82)
(Dan Kami turunkan dari) huruf min di sini menunjukkan makna bayan atau penjelasan (Alquran suatu yang menjadi penawar) dari kesesatan (dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) kepadanya (dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim) yakni orang-orang yang kafir (selain kerugian) dikarenakan kekafiran mereka.
83. Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.(QS. 17:83)
Surah Al Israa' 83
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا (83)
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan watak dan sifat umum yang ada pada manusia, yaitu apabila diberikan kepada mereka nikmat harta, kekuasaan, kemenangan dan pertolongan, mereka tidak mau taat lagi, tunduk dan patuh kepada Nya, bahkan mereka menjauhkan diri dari pada Nya; sebaliknya apabila mereka ditimpa kesukaran, kesengsaraan, kemiskinan dan kekalahan, mereka berputus asa dan merasa tidak akan memperoleh keuntungan dan kebaikan lagi. Padahal seharusnya mereka tidak berputus asa, melainkan tetap beramal dan berusaha dengan mengharapkan pertolongan Allah, karena menurut ajaran Alquran bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Allah itu berarti ia mengingkari rahmat Nya.
Ayat-ayat lain yang menerangkan keadaan manusia waktu menerima rahmat Allah, ialah firman Allah:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ
Artinya:
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya itu. (Q.S. Yunus: 12)
84. Katakanlah: `Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing`. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.(QS. 17:84)
Surah Al Israa' 84
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا (84)
Allah memerintahkan agar Muhammad saw menyampaikan kepada umatnya bahwa tiap-tiap orang itu bekerja menurut kemauannya sendiri-sendiri. Ada orang yang suka bersyukur kepada Allah setiap ia memperoleh nikmat dari pada Nya, dan ada pula orang yang mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya; semuanya bekerja menurut tabiat, watak dan kecerdasan mereka masing-masing.
Dalam pada itu Allah SWT, Penguasa semesta alam mengetahui siapa di antara manusia yang mengikuti yang hak dan siapa di antara mereka yang mengikuti yang batil, semua akan diberi keputusan dengan adil; tidak ada seorangpun yang tidak memperoleh keputusan dengan adil dari Allah. Seandainya manusia ada yang tetap kafir, janganlah dipaksa beriman.
Allah berfirman

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (135)
Artinya:
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapat keberuntungan". (Q.S. Al An'am: 135).
85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: `Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit`.(QS. 17:85)
Surah Al Israa' 85
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا (85)
Manusia bertanya kepadamu hai Muhammad tentang roh yang dapat menghidupkan jasmani, apakah ia qadim (dahulu, tiada permulaan) atau ia baru, sebagaimana makhluk Allah yang lain.
Maka Allah SWT memerintahkan kepada. Muhammad untuk menjawab pertanyaan itu. Katakanlah kepada mereka itu bahwa masalah ruh adalah masalah Tuhanku, hanya Dialah yang mengetahui segala sesuatu, dan Dia sendirilah yang menciptakannya.
Kata "Ruh" di dalam Alquran mempunyai tiga arti, yaitu:
Pertama: Yang dimaksud dengan ruh dalam ayat ini adalah "Alquran". Pengertian ini sesuai dengan ayat sebelum ini. Dalam ayat ini diterangkan bahwa Alquran menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan sesuai pula dengan ayat yang sesudah ayat ini, yang menerangkan pula, jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melenyapkan Alquran yang telah diturunkan Nya kepada Nabi Muhammad itu. Dengan demikian Nabi tidak akan memperoleh pembelaan.
Kedua: Dengan arti malaikat Jibril. Dalam Alquran banyak perkataan "ruh" yang diartikan dengan Jibril as, seperti dalam firman Allah SWT.

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194)
Artinya:
dia itu dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (Q.S. Asy Syu'ara: 193-194)
Dan firman Allah SWT:

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
Artinya:
".....lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna" (Q.S. Maryam: 17)
Ketiga: Berarti ruh yang ada di dalam badan, yang merupakan sumber kehidupan dari makhluk-makhluk hidup menurut Jumhur Ulama kata "Ruh" dalam ayat ini berarti roh yang ada dalam badan.
Dengan demikian ayat-ayat yang tersebut di atas mengajak umat manusia supaya memahami isi Alquran dengan sebenar-benarnya, agar manusia itu jangan tersesat menuruti jalan yang tidak benar. Sebaliknya mereka yang tidak berusaha untuk memahami isi Alquran tidak akan bisa memanfaatkannya sebagai pedoman hidup, bahkan mereka melakukan tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan yang dapat menjauhi mereka dari pemahaman yang sebenarnya dari ayat-ayat Alquran itu. Mereka suka betul menanyakan kepada Nabi hal-hal yang sebetulnya tidak ada gunanya untuk diketahui, bahkan Alquran sendiri ingin menutup persoalannya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis Rasulullah tentang sebab turunnya ayat ini:
Dalam hadis diriwayatkan sbb:

روي عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: مر رسول الله صلى الله عليه وسلم بنفر من اليهود فقال بعضهم سلوه عن الروخ وقال بعضهم لا تسألوه يسمعكم ما تكرهون فقاموا إليه وقالوا يا أبا القاسم حدثنا عن الروح فقام ساعة ينظر فعرفت أنه يوحى إليه ثم قال: ويسألونك عن الروح-الأية
Artinya:
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: "Rasulullah saw, bertemu dengan serombongan orang-orang Yahudi. Sebagian mereka berkata "Tanyakanlah kepadanya tentang "ruh"". Sebagian mereka berkata "Jangan tanyakan kepadanya tentang ruh itu, karena kamu akan menerima jawaban yang tidak kamu ingini". Kemudian mereka datang kepada Rasulullah dan berkata: "hai, bapak Qasim, terangkanlah kepada kami tentang ruh". Maka Rasulullah berdiri sebentar melihat ke langit, maka tahulah aku (Ibnu Mas'ud) bahwa ayat Alquran sedang diwahyukan kepada beliau. Kemudian beliau berkata "wayas alunaka `aniruh". (H.R. Bukhari)
Dalam hadis yang lain diriwayatkan oleh At Tirmizi bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: "Ajarkanlah kepada kami sesuatu yang akan ditanyakan kepada orang ini (Muhammad)".
Berkatalah orang Yahudi itu: "Tanyakanlah kepadanya tentang "ruh". Mereka bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang ruh itu. Maka turunlah ayat ini sebagai jawabannya. Pendapat ketiga ini, yakni pendapat jumhur yang mengatakan bahwa kata "ruh" dalam ayat ini seperti dengan kata "nafs" (nyawa), adalah pendapat yang banyak dianut dan sesuai dengan sebab ayat ini diturunkan.
Sekalipun Allah SWT dalam ayat ini telah memperingatkan manusia agar jangan mempersoalkan ruh, karena masalah ruh itu hanya Allah saja yang mengetahuinya, namun banyak juga para ulama membicarakan dan menyelidiki hakikat ruh itu. Di antara pendapat-pendapat itu ialah:
1. Ruh itu ialah jisim (benda), nurani (yang berupa cahaya yang hidup), turun ke dunia dari alam tinggi, sifatnya berbeda dengan jisim (tubuh) jasmani yang dapat dilihat dan diraba ini.
2. Ruh itu dalam jasad (tubuh jasmani) seseorang, sebagaimana mengalirnya air dalam bunga mawar, atau sebagai mana mengalirnya api dalam bara. Ruh itu memberikan hidup ke dalam tubuh seseorang selama tubuh itu masih sanggup dan mampu menerimanya, dan tidak ada yang menghalangi alirannya dalam tubuh itu. Bila tubuh itu tidak sanggup dan tidak mampu lagi menerima ruh itu, sehingga terlarang alirannya dalam tubuh, maka tubuh itu menjadi mati. Pendapat ini adalah pendapat Ar-Razi dan Ibnul Qayyim. Sedang Al-Gazali dan Abu Qasim Ar-Ragib AI-Asfahani berpendapat bahwa ruh itu bukanlah badan dan bukan pula merupakan sesuatu yang berbentuk, tetapi ia hanyalah sesuatu yang bergantung di badan mengurus dan menyelesaikan kepentingan-kepentingan tubuh.
Pegangan yang paling baik bagi muslim tentang ruh itu, ialah mengikuti firman Allah ini, yaitu: masalah hakikat ruh itu bukanlah masalah yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia, maka tidak perlu dipersoalkan, karena hanya Allah sajalah yang mengetahui dengan pasti tentang hakikat yang sebenarnya. Bagi muslim yang perlu ialah percaya bahwa ruh itu ada, karena Allah SWT menyatakan dengan tegas adanya ruh dan manusia sendiri pun mengetahui adanya ruh itu, serta menghayati gejala-gejalanya. Maka yang ada faedah dan gunanya untuk diperkatakan, diteliti dan dipelajari dengan sungguh-sungguh ialah gejala-gejala ruh itu, yang dalam ilmu jiwa (psikologi) dikenal dengan sebutan "gejala-gejala jiwa". Mempelajari gejala-gejala jiwa ini termasuk hal-hal yang dianjurkan oleh Tuhan dalam firman Nya:

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (21)
Artinya:
Dan (juga) pada dirimu sendiri Maka apakah kamu tiada memperhatikan?. (Q.S. Az Zariyat: 21)
Pada ayat ini Allah SWT menegaskan kepada manusia, bahwa ilmu Allah itu Maha Luas, tidak dapat dikirakan, meliputi segala macam ilmu, baik ilmu tentang alam yang nyata, maupun ilmu tentang alam yang tidak nyata, baik yang dapat dicapai oleh pancaindera, maupun yang tidak dapat dicapai oleh pancaindera. Karena kasih sayang Allah kepada manusia, maka dianugerahkan Nya lah sebagian ilmu itu kepada manusia, tetapi yang diberikan Nya itu hanya sebagian kecil saja, tidak ada artinya sedikitpun bila dibanding dengan kadar ilmu Allah yang amat luas itu.
Diriwayatkan bahwa tatkala ayat ini diturunkan, berkatalah orang-orang Yahudi: "Telah diberikan kepada kami ilmu yang banyak. Kami telah diberi kitab Taurat. Barang siapa yang telah diberi kitab Taurat itu berarti dia telah diberi kebaikan yang banyak". Maka turunlah ayat 109 surah Al-Kahfi. Allah SWT berfirman:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109)
Artinya:
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (Q.S. Al Kahfi: 109)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 85
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا (85)
(Dan mereka bertanya kepadamu) yaitu orang-orang Yahudi (tentang roh,) yang karenanya jasad ini dapat hidup ("Katakanlah) kepada mereka! ('Roh itu termasuk urusan Rabbku) artinya termasuk ilmu-Nya oleh karenanya kalian tidak akan dapat mengetahuinya (dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.'") dibandingkan dengan ilmu Allah swt.
86. Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembelapun terhadap Kami,(QS. 17:86)
Surah Al Israa' 86
وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا (86)
Ayat ini menerangkan bahwa jika Allah SWT menghendaki untuk menarik kembali Alquran yang telah diturunkan itu dan menghapusnya dari hati Muhammad dan dari lembaran-lembaran yang telah ditulis, pastilah hal itu dengan mudah dapat dilaksanakan Nya, sedikitpun tidak akan ditinggalkan Nya, sehingga engkau Hai Muhammad akan kembali seperti keadaan Alquran belum diturunkan akan menjadi manusia yang bodoh dan tiada berpengetahuan.
Mudahnya bagi Allah SWT menghapus Alquran itu diterangkan dalam hadis Nabi saw:

عن ابن مسعود قال: إن هذا القرآن سيرفع، قيل كيف يرفع وقد أثبته الله قي قلوبنا وأثبتناه في المصاحف؟ قال يسري عليه في ليلة واحدة فلا تترك منه آية في قلب ولا مصحف إلا رفعت فتصبحون وليس فيكم منه شيئ ثم قرأ هذه الآية
Artinya:
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Alquran ini akan diangkat (dihapus)" Seseorang berkata: "Bagaimana mungkin, sesungguhnya Allah telah mengokohkannya di dalam hati kita, dan kita telah mengabadikan (menulisnya) di dalam lembar-lembar bertulis". Ia berkata: "Diangkat Alquran di waktu malam maka tidak ada yang tinggal seayatpun dan padanya dalam hati dan tidak ada pula di dalam mushaf, kecuali telah terangkat semua. Maka pada waktu paginya tidak sesuatu ayatpun lag yang tinggal padamu. Kemudian ia membaca ayat ini". (H.R. Said bin Mansyur dan Hakim dan dinyatakan sahih oleh Tabrani dan Baihaqi)
Setelah Alquran hapus dari hatimu dan hapus pula semua tulisan-tulisannya yang telah tertulis dalam mushaf itu, maka pada saat itu tidak ada lagi yang dapat engkau pegangi dan engkau jadikan petunjuk ke jalan yang benar, serta tidak seorangpun yang sanggup mengembalikan Alquran itu tertanam dalam hati sanubarimu dan tertulis kembali dalam mushaf-mushaf.
87. kecuali karena rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu adalah besar.(QS. 17:87)
Surah Al Israa' 87
إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّ فَضْلَهُ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيرًا (87)
Akan tetapi tidaklah demikian maksud Tuhanmu. Dia tiada sekali-kali bermaksud menghapuskan Alquran dalam hati engkau dan tidak pula dari mushaf-mushaf, karena Dia mempunyai rahmat yang besar yang akan dilimpahkan kepada hamba-hamba Nya. Itulah nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu Dia menetapkan Alquran di dalam hati manusia serta menjaganya dari campur tangan manusia.
Menurut Ar Razi: "Ada dua macam nikmat besar yang diberikan Allah kepada Ulama, pertama: memudahkan mereka memperoleh ilmu dan kedua: tetapnya ilmu dalam pikiran dan ingatan mereka.
Dengan kedua macam nikmat itu, maka manusia mudah mencerna kandungan ayat-ayat Alquran, kemudian mereka melaksanakan yang diperintahkan Nya dan menghentikan yang dilarang Nya. Dengan demikian terjagalah diri mereka dan kesulitan hidup di dunia dan azab neraka di akhirat nanti.
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan keutamaan Nabi Muhammad, yaitu Allah telah mengutusnya kepada seluruh alam untuk menyampaikan berita gembira dan memberi peringatan. Dan Dia telah menurunkan kepadanya Alquran dan menanamkan Alquran dalam hatinya dan memberikan kepadanya "maqaman mahmuda" (kedudukan yang terpuji).
88. Katakanlah: `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain`.(QS. 17:88)
Surah Al Israa' 88
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (88)
Pada ayat ini Allah SWT menegaskan mukjizat Alquran dan keutamaannya, bahwa Alquran itu benar-benar dari Allah dan diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Sebagai bukti bahwa Alquran itu dari Allah, bukan buatan Muhammad sebagaimana yang didakwakan oleh orang-orang kafir Mekah dan ahli kitab, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya menantang manusia membuat yang seperti Alquran itu. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada mereka yang mengabaikan dan memandang Alquran itu bukan wahyu Allah: "Demi Allah, seandainya seluruh manusia dan jin berkumpul, lalu mereka bermufakat dan berusaha membuat seperti Alquran itu, baik ditinjau dari segi ketinggian gaya bahasanya, makna dan pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya, mereka pasti tidak akan sanggup membuatnya sekalipun di antara mereka terdapat para ahli bahasa. Para ahli ilmu pengetahuan dan semua mereka itu dapat saling bantu-membantu dalam membuatnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dan Ibnu Jarir dari Said dan Ibnu Abbas, bahwa Salam bin Musirkam dan kawan-kawannya sesama orang Yahudi datang menghadap Rasulullah saw, ia berkata: "Bagaimana kami akan mengikuti engkau Muhammad, pada hal engkau telah meninggalkan kiblat kami dan Alquran yang engkau bawa itu tidak teratur seperti teraturnya Taurat. Karena itu turunkanlah kepada kami sebuah kitab yang dapat kami mengenalnya. Kalau kamu tidak sanggup mendatangkannya, maka kami akan mendatangkan kepada kamu seperti yang engkau bawa itu. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini yang menegaskan kepada mereka bahwa mereka semuanya tidak akan sanggup membuatnya.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin-pemimpin dan ahli sastra Arab yang mencoba-coba meniru-niru Alquran itu bahkan ada yang mendakwakan dirinya sebagai seorang Nabi, seperti Musailimah Al-Kazzab, Tulaihah, Habalah bin Kaab dan lain-lain. Tetapi semua mereka itu gagal dalam usahanya itu bahkan mendapat cemooh dan hinaan dari masyarakat. Sebagai contoh, ialah apa yang telah dibuat oleh Musailamah Al Kazzab yang dianggapnya dapat menandingi sebagai ayat-ayat Alquran:
أيها الضفدع بنات ضفدعين أعلاك في الماء وأسفلك في التراب
Artinya:
\ "Hai katak (kodok), anak-anak dari dua katak, bagian atas engkau di air dan bagian bawah engkau di tanah".
Para ahli menyatakan bahwa perkataan Musailimah itu tidak ada yang mengandung sesuatu pengertian. Di antara yang memberi komentar itu ialah Al Jahiz, seorang sastrawan Arab yang termasyhur, beliau berkata: "Saya tidak mengerti apakah gerangan yang menggerakkan jiwa Musailimah menyebutkan katak (kodok) dan sebagainya itu, alangkah buruknya gubahan yang dikatakannya sebagai ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 88
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (88)
(Katakanlah, "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini) dalam hal kefasihan dan ketinggian paramasasteranya (niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia sekali pun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.") saling bantu-membantu. Ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan mereka sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: "Kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini (Alquran)." (Q.S. Al-Anfal 31).
89. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak mau, kecuali mengingkari (nya).(QS. 17:89)
Surah Al Israa' 89
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا (89)
Allah SWT menerangkan cara-cara Dia menyampaikan sesuatu maksud dengan ayat-ayat Alquran sehingga dengan cara-cara demikian para pembaca dan pendengar mudah memahaminya, sehingga dengan mudah hati mereka tergerak melaksanakan ajaran-ajaran Alquran itu. Kadang-kadang Dia mengulang-ulangi suatu penjelasan dengan berbagai macam susunan kata; ada yang berbentuk perintah; ada yang berbentuk karangan ada yang berbentuk kalimat berita; ada pula yang menceritakan riwayat-riwayat orang-orang dahulu diutus para Rasul kepada mereka. Demikian pula isinya yang bermacam-macam pula, seperti akidah, hukum-hukum, budi pekerti, ibadat, kisah-kisah dan sebagainya. Semuanya itu disampaikan dengan cara-cara yang tepat pula.
Sekalipun Allah SWT telah menyampaikan dengan cara-cara yang demikian itu, dan isinya pun mengandung nilai-nilai yang tinggi untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti namun orang-orang kafir yang tidak ada kesediaannya untuk beriman itu tidak mau memahaminya, mereka mengingkarinya, dan terus menerus menantangnya dan berpaling dari kebenaran.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 89
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا (89)
(Dan sesungguhnya Kami telah jelaskan) telah Kami terangkan (kepada manusia dalam Alquran ini tiap-tiap macam perumpamaan) lafal min kulli matsalin menjadi sifat bagi lafal yang tidak disebutkan artinya, contoh dari setiap perumpamaan supaya mereka mengambil pelajaran darinya (tapi kebanyakan manusia tidak mau) yakni penduduk Mekah (kecuali mengingkarinya) mengingkari kebenaran yang dibawanya.
90. Dan mereka berkata: `Kami sekali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami,(QS. 17:90)
Surah Al Israa' 90 - 93
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا (90) أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا (91) أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا (92) أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (93)
Ayat-ayat ini menerangkan sikap para pemimpin Quraisy menghadapi seruan Nabi Muhammad saw, mereka itu di antaranya Utbah, Syaibah Abu Sufyan, Nadar dan lain-lain. Dan sikap mereka itu nampak tanda-tanda keingkaran yang sangat dan keengganan mereka menerima seruan itu. Dari sikap mereka itu pula diketahui bahwa apa sajapun bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka tidak akan beriman. Mereka meminta kepada Rasulullah yang bukan-bukan dan mustahil dapat dikerjakan oleh seorang manusia. Mereka percaya bahwa Rasulullah tidak akan sanggup mengerjakannya. Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti seruan Rasul itu.
Sebenarnya semua yang diminta oleh orang musyrikin itu amatlah mudah bagi Allah mengabulkannya, tidak ada suatupun yang sukar dan mustahil bagi Allah mengadakan dan melakukannya. Sikap orang-orang musyrik itu dijelaskan dalam firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ (96) وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (97)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu; tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Q.S. Yunus: 96-97)
Dan firman Allah:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ (111)
Artinya:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al An'am: 111)
Di antara yang diminta oleh orang-orang kafir itu ialah:
1. Agar Rasulullah saw memancarkan mata air di negeri mereka.
2. Atau Rasulullah mengadakan sebuah kebun kurma atau anggur yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sehingga dengan air yang tetap mengalir dan akan bertambah suburlah pohon kurma dan anggur itu berlipat ganda hasilnya.
3. Atau Rasulullah menjatuhkan langit berkeping-keping menimpa mereka. Permintaan mereka yang seperti ini diterangkan, pada ayat yang lain. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (32)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya, Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. Al Anfal: 32)
Permintaan mereka ini adalah seperti permintaan penduduk Aikah (Madyan) kepada Nabi Syuaib dahulu, sebagaimana Allah berfirman:

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (187)
Artinya:
Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar (Q.S. Asy Syu'ara: 187)
4. Atau Rasulullah saw mendatangkan Allah dan Malaikat kepada mereka, dan keduanya itu langsung menyatakan kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah seorang Rasul yang diutus Nya.
5. Atau Rasulullah saw mendirikan rumah yang terbuat dari emas. Orang-orang musyrik berpendapat bahwa seorang Rasul yang diutus Allah itu hendaklah seorang penguasa, seorang yang kaya raya lagi terhormat. Karena itu menurut pendapat mereka mustahil Muhammad sebagai anak yatim piatu lagi miskin diangkat menjadi Rasul.
6 Atau Rasulullah saw naik ke langit, melalui sebuah tangga yang dapat mereka lihat, kemudian ia turun ke dunia melalui tangga yang sama dengan membawa sebuah kitab yang dapat mereka baca, dengan bahasa mereka yang menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.
Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa ia merasa heran dengan permintaan mereka itu. Seakan-akan mereka tidak mengerti sifat-sifat seorang Rasul yang diutus Allah kepada manusia, Allah SWT menyuruh Rasul Nya agar mengatakan kepada mereka dengan tegas: "Aku tidak lain hanyalah seorang Rasul Allah yang ditugaskan menyampaikan agama Nya kepada mereka. Aku tidak sanggup berbuat selain dari yang telah diperintahkan Nya kepadaku, kecuali jika Dia menghendaki. Karena itu aku tidak dapat mengabulkan permintaan-permintaan itu, kecuali jika Dia mau mengabulkannya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 90
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا (90)
(Dan mereka berkata) diathafkan kepada lafal abaa ("Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu sebelum engkau memancarkan sumber air dari tanah buat kami) mata air yang berlimpah airnya.
91. atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya,(QS. 17:91)
Surah Al Israa' 90 - 93
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا (90) أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا (91) أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا (92) أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (93)
Ayat-ayat ini menerangkan sikap para pemimpin Quraisy menghadapi seruan Nabi Muhammad saw, mereka itu di antaranya Utbah, Syaibah Abu Sufyan, Nadar dan lain-lain. Dan sikap mereka itu nampak tanda-tanda keingkaran yang sangat dan keengganan mereka menerima seruan itu. Dari sikap mereka itu pula diketahui bahwa apa sajapun bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka tidak akan beriman. Mereka meminta kepada Rasulullah yang bukan-bukan dan mustahil dapat dikerjakan oleh seorang manusia. Mereka percaya bahwa Rasulullah tidak akan sanggup mengerjakannya. Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti seruan Rasul itu.
Sebenarnya semua yang diminta oleh orang musyrikin itu amatlah mudah bagi Allah mengabulkannya, tidak ada suatupun yang sukar dan mustahil bagi Allah mengadakan dan melakukannya. Sikap orang-orang musyrik itu dijelaskan dalam firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ (96) وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (97)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu; tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Q.S. Yunus: 96-97)
Dan firman Allah:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ (111)
Artinya:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al An'am: 111)
Di antara yang diminta oleh orang-orang kafir itu ialah:
1. Agar Rasulullah saw memancarkan mata air di negeri mereka.
2. Atau Rasulullah mengadakan sebuah kebun kurma atau anggur yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sehingga dengan air yang tetap mengalir dan akan bertambah suburlah pohon kurma dan anggur itu berlipat ganda hasilnya.
3. Atau Rasulullah menjatuhkan langit berkeping-keping menimpa mereka. Permintaan mereka yang seperti ini diterangkan, pada ayat yang lain. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (32)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya, Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. Al Anfal: 32)
Permintaan mereka ini adalah seperti permintaan penduduk Aikah (Madyan) kepada Nabi Syuaib dahulu, sebagaimana Allah berfirman:

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (187)
Artinya:
Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar (Q.S. Asy Syu'ara: 187)
4. Atau Rasulullah saw mendatangkan Allah dan Malaikat kepada mereka, dan keduanya itu langsung menyatakan kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah seorang Rasul yang diutus Nya.
5. Atau Rasulullah saw mendirikan rumah yang terbuat dari emas. Orang-orang musyrik berpendapat bahwa seorang Rasul yang diutus Allah itu hendaklah seorang penguasa, seorang yang kaya raya lagi terhormat. Karena itu menurut pendapat mereka mustahil Muhammad sebagai anak yatim piatu lagi miskin diangkat menjadi Rasul.
6 Atau Rasulullah saw naik ke langit, melalui sebuah tangga yang dapat mereka lihat, kemudian ia turun ke dunia melalui tangga yang sama dengan membawa sebuah kitab yang dapat mereka baca, dengan bahasa mereka yang menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.
Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa ia merasa heran dengan permintaan mereka itu. Seakan-akan mereka tidak mengerti sifat-sifat seorang Rasul yang diutus Allah kepada manusia, Allah SWT menyuruh Rasul Nya agar mengatakan kepada mereka dengan tegas: "Aku tidak lain hanyalah seorang Rasul Allah yang ditugaskan menyampaikan agama Nya kepada mereka. Aku tidak sanggup berbuat selain dari yang telah diperintahkan Nya kepadaku, kecuali jika Dia menghendaki. Karena itu aku tidak dapat mengabulkan permintaan-permintaan itu, kecuali jika Dia mau mengabulkannya.
92. atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.(QS. 17:92)
Surah Al Israa' 90 - 93
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا (90) أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا (91) أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا (92) أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (93)
Ayat-ayat ini menerangkan sikap para pemimpin Quraisy menghadapi seruan Nabi Muhammad saw, mereka itu di antaranya Utbah, Syaibah Abu Sufyan, Nadar dan lain-lain. Dan sikap mereka itu nampak tanda-tanda keingkaran yang sangat dan keengganan mereka menerima seruan itu. Dari sikap mereka itu pula diketahui bahwa apa sajapun bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka tidak akan beriman. Mereka meminta kepada Rasulullah yang bukan-bukan dan mustahil dapat dikerjakan oleh seorang manusia. Mereka percaya bahwa Rasulullah tidak akan sanggup mengerjakannya. Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti seruan Rasul itu.
Sebenarnya semua yang diminta oleh orang musyrikin itu amatlah mudah bagi Allah mengabulkannya, tidak ada suatupun yang sukar dan mustahil bagi Allah mengadakan dan melakukannya. Sikap orang-orang musyrik itu dijelaskan dalam firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ (96) وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (97)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu; tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Q.S. Yunus: 96-97)
Dan firman Allah:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ (111)
Artinya:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al An'am: 111)
Di antara yang diminta oleh orang-orang kafir itu ialah:
1. Agar Rasulullah saw memancarkan mata air di negeri mereka.
2. Atau Rasulullah mengadakan sebuah kebun kurma atau anggur yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sehingga dengan air yang tetap mengalir dan akan bertambah suburlah pohon kurma dan anggur itu berlipat ganda hasilnya.
3. Atau Rasulullah menjatuhkan langit berkeping-keping menimpa mereka. Permintaan mereka yang seperti ini diterangkan, pada ayat yang lain. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (32)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya, Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. Al Anfal: 32)
Permintaan mereka ini adalah seperti permintaan penduduk Aikah (Madyan) kepada Nabi Syuaib dahulu, sebagaimana Allah berfirman:

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (187)
Artinya:
Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar (Q.S. Asy Syu'ara: 187)
4. Atau Rasulullah saw mendatangkan Allah dan Malaikat kepada mereka, dan keduanya itu langsung menyatakan kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah seorang Rasul yang diutus Nya.
5. Atau Rasulullah saw mendirikan rumah yang terbuat dari emas. Orang-orang musyrik berpendapat bahwa seorang Rasul yang diutus Allah itu hendaklah seorang penguasa, seorang yang kaya raya lagi terhormat. Karena itu menurut pendapat mereka mustahil Muhammad sebagai anak yatim piatu lagi miskin diangkat menjadi Rasul.
6 Atau Rasulullah saw naik ke langit, melalui sebuah tangga yang dapat mereka lihat, kemudian ia turun ke dunia melalui tangga yang sama dengan membawa sebuah kitab yang dapat mereka baca, dengan bahasa mereka yang menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.
Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa ia merasa heran dengan permintaan mereka itu. Seakan-akan mereka tidak mengerti sifat-sifat seorang Rasul yang diutus Allah kepada manusia, Allah SWT menyuruh Rasul Nya agar mengatakan kepada mereka dengan tegas: "Aku tidak lain hanyalah seorang Rasul Allah yang ditugaskan menyampaikan agama Nya kepada mereka. Aku tidak sanggup berbuat selain dari yang telah diperintahkan Nya kepadaku, kecuali jika Dia menghendaki. Karena itu aku tidak dapat mengabulkan permintaan-permintaan itu, kecuali jika Dia mau mengabulkannya.
93. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca`. Katakanlah: `Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?`(QS. 17:93)
Surah Al Israa' 90 - 93
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا (90) أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا (91) أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا (92) أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (93)
Ayat-ayat ini menerangkan sikap para pemimpin Quraisy menghadapi seruan Nabi Muhammad saw, mereka itu di antaranya Utbah, Syaibah Abu Sufyan, Nadar dan lain-lain. Dan sikap mereka itu nampak tanda-tanda keingkaran yang sangat dan keengganan mereka menerima seruan itu. Dari sikap mereka itu pula diketahui bahwa apa sajapun bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka tidak akan beriman. Mereka meminta kepada Rasulullah yang bukan-bukan dan mustahil dapat dikerjakan oleh seorang manusia. Mereka percaya bahwa Rasulullah tidak akan sanggup mengerjakannya. Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti seruan Rasul itu.
Sebenarnya semua yang diminta oleh orang musyrikin itu amatlah mudah bagi Allah mengabulkannya, tidak ada suatupun yang sukar dan mustahil bagi Allah mengadakan dan melakukannya. Sikap orang-orang musyrik itu dijelaskan dalam firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ (96) وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (97)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu; tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Q.S. Yunus: 96-97)
Dan firman Allah:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ (111)
Artinya:
Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S. Al An'am: 111)
Di antara yang diminta oleh orang-orang kafir itu ialah:
1. Agar Rasulullah saw memancarkan mata air di negeri mereka.
2. Atau Rasulullah mengadakan sebuah kebun kurma atau anggur yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sehingga dengan air yang tetap mengalir dan akan bertambah suburlah pohon kurma dan anggur itu berlipat ganda hasilnya.
3. Atau Rasulullah menjatuhkan langit berkeping-keping menimpa mereka. Permintaan mereka yang seperti ini diterangkan, pada ayat yang lain. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (32)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya, Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. Al Anfal: 32)
Permintaan mereka ini adalah seperti permintaan penduduk Aikah (Madyan) kepada Nabi Syuaib dahulu, sebagaimana Allah berfirman:

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (187)
Artinya:
Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar (Q.S. Asy Syu'ara: 187)
4. Atau Rasulullah saw mendatangkan Allah dan Malaikat kepada mereka, dan keduanya itu langsung menyatakan kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah seorang Rasul yang diutus Nya.
5. Atau Rasulullah saw mendirikan rumah yang terbuat dari emas. Orang-orang musyrik berpendapat bahwa seorang Rasul yang diutus Allah itu hendaklah seorang penguasa, seorang yang kaya raya lagi terhormat. Karena itu menurut pendapat mereka mustahil Muhammad sebagai anak yatim piatu lagi miskin diangkat menjadi Rasul.
6 Atau Rasulullah saw naik ke langit, melalui sebuah tangga yang dapat mereka lihat, kemudian ia turun ke dunia melalui tangga yang sama dengan membawa sebuah kitab yang dapat mereka baca, dengan bahasa mereka yang menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.
Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa ia merasa heran dengan permintaan mereka itu. Seakan-akan mereka tidak mengerti sifat-sifat seorang Rasul yang diutus Allah kepada manusia, Allah SWT menyuruh Rasul Nya agar mengatakan kepada mereka dengan tegas: "Aku tidak lain hanyalah seorang Rasul Allah yang ditugaskan menyampaikan agama Nya kepada mereka. Aku tidak sanggup berbuat selain dari yang telah diperintahkan Nya kepadaku, kecuali jika Dia menghendaki. Karena itu aku tidak dapat mengabulkan permintaan-permintaan itu, kecuali jika Dia mau mengabulkannya.
94. Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: `Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?`(QS. 17:94)
Surah Al Israa' 94
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا (94)
Ayat ini menerangkan bahwa tidak ada yang menghalangi orang-orang musyrik Mekah beriman kepada Nabi Muhammad di waktu datang wahyu yang diturunkan Allah yang disertai dengan bermacam-macam mukjizat, kecuali orang-orang yang mendakwahkan bahwa jika. Allah SWT mengutus seorang rasul Nya kepada manusia, maka Rasul itu tentulah seorang malaikat, bukan seorang manusia biasa.
Orang-orang kafir Mekah khususnya dan orang-orang kafir pada umumnya heran dan tercengang, kenapa wahyu itu diturunkan kepada seorang manusia biasa seperti Muhammad, bahkan kepada seorang anak yatim, tidak diturunkan kepada yang terpandai di antara mereka atau kepada seorang yang bukan manusia yang mempunyai kekuatan gaib, seperti malaikat dan sebagainya. Sikap orang musyrik Mekah yang seperti itu adalah sama dengan sikap orang yang terdahulu terhadap para Rasul yang diutus kepada mereka.
Dan firman Allah SWT:

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (63)
Artinya:
Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al A'raf: 63)
95. Katakanlah: `Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul`.(QS. 17:95)
Surah Al Israa' 95
قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا (95)
Allah SWT menjawab sikap orang-orang musyrik Mekah itu dengan menyatakan bahwa sekiranya di bumi ini terdapat malaikat-malaikat yang berjalan, berpikir dan bertempat tinggal, hidup bermasyarakat, mempunyai hawa nafsu, kebudayaan, berorganisasi dan sebagainya, tentulah Allah SWT akan mengutus Malaikat, bukan seorang manusia.
Ayat ini seakan-akan mengingatkan orang-orang kafir, bahwa Rasul yang diutus Allah itu adalah seorang yang dianggap sanggup menyampaikan agama mereka, mengerti apa yang mereka inginkan, apa yang mereka rasakan, apa yang baik bagi mereka dan sebagainya, bukan seperti malaikat yang tidak mempunyai keinginan hidup seperti manusia, mereka hanya melaksanakan saja apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.
Allah SWT berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (164)
Artinya:
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah. membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Ali Imran: 164)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 95
قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا (95)
(Katakanlah) kepada mereka ("Seandainya di bumi ini ada) lafal fil ardhi menjadi badal daripada lafal basyaran (malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka malaikat menjadi rasul.") sebab tidak diutus seorang rasul terhadap suatu kaum melainkan ia berasal dari jenis mereka sendiri sehingga memungkinkan bagi mereka untuk berbicara kepadanya dan memahami darinya.
96. Katakanlah: `Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambanya`.(QS. 17:96)
Surah Al Israa' 96
قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا (96)
Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan ancaman Nya kepada orang-orang kafir itu, yaitu cukuplah Allah menjadi saksi dan menjadi hakim yang akan mengadili perkaramu dengan adil di akhirat nanti. Dia mengetahui semua yang kamu kerjakan, bahkan Dia mengetahui semua yang terkandung dalam hatimu.
 97. Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah bagi mereka nyalanya.(QS. 17:97)
Surah Al Israa' 97
وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا (97)
Allah SWT menerangkan dalam ayat ini bahwa, Dialah yang menguasai dan menentukan segala sesuatu. Katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang kafir itu, Allah memberi petunjuk dan taufik kepada siapa yang dikehendaki Nya. Orang yang tidak menerima petunjuk dan taufik Allah mereka itulah yang sesat tidak akan memperoleh penolong selain Allah.
Orang-orang sesat itu akan dikumpulkan Allah di hari kiamat di suatu tempat yang mereka dihisab di tempat itu. Mereka dibangkitkan dari kuburnya dan dalam keadaan buta, bisu dan pekak, sebagimana mereka dahulu di dunia tidak melihat dan mendengarkan kebenaran yang disampaikan kepada mereka.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan Anas bin Malik ia berkata: "Seorang bertanya kepada Rasulullah saw, Ya Rasulullah bagaimana manusia berjalan di atas muka mereka?" Rasulullah menjawab: "Dia yang menjalankan mereka di atas kaki mereka, tentu berkuasa pula menjalankan mereka di atas muka mereka"
Menurut At Tirmizi: "Bahwa manusia itu ada tiga macam pada hari berkumpul di padang Mahsyar ada yang berjalan, ada yang berkendaraan dan ada pula yang berjalan di atas mereka".
Setelah selesai dihisab, maka mereka di masukkan ke dalam neraka Jahanam. Mereka dibakar dengan api yang menyala-nyala. Setiap kulit dan tubuh menjadi hangus, dan daging-daging mereka, menjadi musnah, maka Allah menggantinya dengan kulit. daging dan tubuh yang baru, sehingga dengan demikian mereka dapat lagi merasakan azab yang tidak putus-putusnya.
98. Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: `Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?`(QS. 17:98)
Surah Al Israa' 98
ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا وَقَالُوا أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا (98)
Allah menerangkan bahwa azab yang ditimpakan kepada orang-orang kafir itu adalah karena mereka mengingkari ayat-ayat Nya dan karena mengingkari adanya hari berbangkit dengan mengatakan: "Apakah mungkin kita dibangkitkan kembali, setelah kita mati, kemudian tubuh kita hancur dan lumat bersama tanah, kemudian berserakan menjadi bahagian yang terpisah-pisah. Apakah bagian-bagian tubuh itu dapat dihidupkan atau dikumpulkan kembali?".
99. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.(QS. 17:99)
Surah Al Israa' 99
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلَّا كُفُورًا (99)
Allah SWT membantah pendapat orang-orang yang tidak mempercayai akan adanya hari berbangkit itu dengan mengatakan: "Apakah mereka tidak melihat dan memperhatikan, bahwa Allah telah menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada, telah diciptakan langit dan semua isinya, menciptakan bumi dengan segala benda dan makhluk yang ada di dalamnya, termasuk manusia sendiri. Apakah mereka tidak memperhatikan segala kejadian yang ada di langit dan di bumi? Semuanya diciptakan dari tiada menjadi ada. Semuanya Allah SWT sanggup menciptakan mereka pada kali yang pertama, tentu Dia akan sanggup pula menciptakan pada kali yang kedua. Menurut biasanya, mengulang membuat atau menciptakan sesudah itu adalah lebih mudah dari menciptakan pertama kalinya. Allah telah menciptakan bagi manusia suatu jangka waktu yang tidak ada keraguan padanya, menetapkan masa mereka di dalam kubur, dan menetapkan masa mereka dibangkitkan kembali. Hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui penentuan-penentuan masa itu.
Sekalipun kepada orang-orang kafir dan lalim itu telah dikemukakan bukti-bukti hari berbangkit serta bukti-bukti kebesaran dan kekuatan Allah, namun mereka tetap ingkar dan tidak percaya kepada bukti-bukti itu.
100. Katakanlah: `Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya`. Dan adalah manusia itu sangat kikir.(QS. 17:100)
Surah Al Israa' 100
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا (100)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan sebab-sebab kenapa Allah tidak memperkenankan permintaan-permintaan orang-orang lalim itu, yaitu kalau Allah memperkenankan permintaan mereka itu maka mereka tetap berlaku kikir, tidak mau memberikan sebagian kecil kepada orang lain yang memerlukannya, karena mereka takut akan lenyap dari mereka kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh itu. Padahal nikmat Allah itu tidak akan habis-habis walaupun betapa banyaknya diambil oleh manusia.
Sifat kikir itu adalah watak dan tabiat manusia. Dengan watak dan tabiat yang tidak baik itulah yang menyebabkan manusia mendurhakai perintah-perintah Allah dan enggan memperhatikan larangan-larangan Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa' 100
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا (100)
(Katakanlah) kepada mereka ("Seandainya kalian menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabbku) berupa perbendaharaan rezeki dan hujan (niscaya kalian tahan perbendaharaan itu) maksudnya niscaya kalian akan bersikap kikir (karena takut membelanjakannya.") karena takut harta menjadi habis dibelanjakan oleh karenanya kalian bersikap kikir. (Dan adalah manusia itu sangat kikir) maksudnya sangat bakhil.


Surah Al-Isra'
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Israa'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar