Rabu, 29 Agustus 2012

Al-Anbiyaa' 101 -112

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Anbiyaa' 
Sumber:http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=6&SuratKe=21#Top
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 101 
 Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka,(QS. 21:101)

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ (101) 
Setelah Allan SWT menerangkan azab yang dialami orang-orang musyrik disebabkan kekafiran mereka, maka pada ayat ini Allah SWT menerangkan keadaan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta orang-orang yang telah diberi Allah taufik untuk taat kepada-Nya, bahwa mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka bahkan mereka sedikitpun tidak didekatkan kepadanya. 
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa waktu Ayat 98 diturunkan orang-orang musyrik Quraisy merasa terpukul karenanya. Mereka berkata: "Muhammad telah memaki-maki tuhan-tuhan kita Lalu mereka pergi kepada Ibnu Za'bara dan menceritakan tentang ayat yang diturunkan itu, dia menjawab: "Kalau saya berhadapan dengan Muhammad tentulah saya dapat membantahnya". Orang-orang musyrik Quraisy itu berkata: "Apakah yang kamu katakan" Dia menjawab: "Aku mengatakan kepadanya: "Al Masih disembah orang-orang Nasrani, Uzair disembah orang Yahudi, apakah Al Masih dan Uzair itu akan menjadi bahan-bahan api neraka? Orang-orang Quraisy tertarik hatinya mendengar ucapan Ibnu Za'bara dan merasa telah dapat mengalahkan Muhammad. Maka turunlah ayat 99 sampai 101 surat ini, yang menegaskan ayat 98 di atas." 
Dengan turunnya ayat-ayat ini bungkamlah Ibnu Zabara dan bimbanglah kembali hati orang-orang musyrik. Tetapi karena kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, maka mereka tetap dalam kemusyrikan mereka.

mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.(QS. 21:102)
Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata):` Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.`(QS. 21:103)

لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ (102) لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (103) 
Allah SWT menerangkan keadaan penduduk surga, yaitu. 
1. Mereka tidak mendengar suara api neraka yang ditimbulkan oleh gejolak apinya dan bunyi menghanguskan barang-barang yang sedang dibakar. 
2. Mereka berada dalam kesenangan dan kegembiraan yang tidak putus-putusnya, menikmati segala yang mereka inginkan, mendengar segala yang menyenangkan hati dan melihat apa yang disenangi mata-mata mereka. 
3. Mereka tidak dirisaukan oleh bunyi sangkakala yang terakhir, yaitu bunyi sangkakala yang menandakan kebangkitan manusia dari kubur untuk dihisab, Allah SWT berfirman: 

ونفخ في الصور فصعق من في السموات ومن في الأرض إلا من شاء الله ثم نفخ فيه أخرى فإذا هم قيام ينظرون 
Artinya: 
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). (Q.S Az Zumar: 68) 
4. Mereka disambut para malaikat dengan menyampaikan kabar gembira atas kemenangan mereka. Seakan-akan malaikat menyampaikan kepada mereka "Inilah hari yang pernah dijanjikan Allah kepadamu hai orang-orang yang beriman sewaktu di dunia dahulu, pada saat ini Allah melimpahkan pahala yang besar dan kesenangan yang abadi sebagai balasan atas keimanan, ketaatan, dan kesucian dirimu dari perbuatan dosa dengan mengerjakan amal-amal yang saleh dan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menghentikan semua yang dilarang-Nya".

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.(QS. 21:104)

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (104) 
Orang-orang yang mendapat sambutan para malaikat itu tidak merasa gentar dan terkejut dengan datangnya hari kiamat, di waktu langit dilipat dan diganti dengan langit yang lain, seakan-akan langit yang lama dilipat untuk disimpan dan langit yang baru dikembangkan. Allah SWT berfirman: 

ويوم ينفخ في الصور ففزع من في السموات ومن في الأرض إلا من شاء الله 
Artinya: 
Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (Q.S An Naml: 87) 
Demikianlah Allah SWT membangkitkan manusia setelah mereka mati dan berada di dalam kubur, untuk dikumpulkan di padang mahsyar, agar dapat dihisab amal perbuatan mereka Membangkitkan manusia setelah mati dan hancur menjadi tanah adalah mudah bagi Allah. Jika Allah SWT menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, tentulah mengulangi kembali menciptakannya adalah lebih mudah dari menciptakan pertama kalinya. 
Membangkitkan manusia kembali untuk dihisab itu adalah suatu janji dari Allah yang pasti ditepati-Nya.

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.(QS. 21:105)

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) 
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab kepada para Rasul, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Alquran yang di dalam kitab-kitab itu diterangkan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah telah menetapkan juga dalam ayat ini, bahwa hamba-hamba yang mewarisi bumi itu ialah hamba-hamba yang sanggup mengolah bumi dan memakmurkannya, walaupun mereka tidak memeluk agama Islam. Ketetapan Allah yang demikian telah ditetapkan sejak dulu di Lohmahfuz. 
Jika diperhatikan sejarah dunia dan sejarah umat manusia, maka orang-orang yang dijadikan Allah SWT sebagai penguasa di bumi ini, ialah orang-orang yang sanggup mengatur dan memimpin masyarakat, mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, sanggup mempertahankan diri dari serangan luar dan dapat mengokohkan persatuan rakyat yang ada di negara-negaranya, apakah mereka orang Islam atau bukan orang Islam. Pemberian kekuasaan oleh Allah kepada orang-orang tersebut bukanlah berarti Allah telah meridai tindakan-tindakan mereka; karena kehidupan duniawi lain halnya dengan kehidupan ukhrawi. Ada orang yang berbahagia hidup di dunia, dan akhirat, dan orang yang berbahagia hidup di akhirat saja, dan ada pula yang berbahagia hidup di dunia saja. Yang dicita-citukan seorang muslim ialah berbahagia hidup di dunia dan di akhirat. 
Apabila orang-orang muslim ingin hidup berbahagia di dunia dan akhirat, mereka harus mengikuti Sunnatullah di atas, yaitu taat beribadat kepada Allah. sanggup memimpin umat manusia dengan pimpinan yang baik, sanggup mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, adanya persatuan dan kesatuan yang kuat di antara mereka sehingga tidak mudah dipecah-pecah oleh musuh. 
Sebagian ahli tafsir mengartikan "bumi" dalam ayat ini dengan "surga". Karena itu ayat ini berarti: "surga" itu diwariskan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. 
Ayat lain yang senada dengan ayat ini, ialah firman Allah SWT: 

إن الأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين 
Artinya: 
Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S Al A'raf: 128).

Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).(QS. 21:106)

إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ (106) 
Allah SWT menerangkan bahwa segala kisah yang diterangkan dalam surat ini, adalah pelajaran dan peringatan yang disampaikan sejak permulaan sampai akhir surat ini, cukup menjadi pelajaran dan cukup banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, sebagai bekal dan bahan bagi orang-orang yang ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Bahkan ayat-ayat dalam surat ini merupakan peringatan dan ancaman yang keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari seruan para Rasul, mereka akan ditimpa oleh malapetaka yang besar, sebagaimana telah ditimpakan kepada umat-umat dahulu. 
Karena itu wajiblah kaum Muslimin mengambil pelajaran dan mengamalkan ayat-ayat tersebut agar tidak dikenai ancaman Allah yang berupa azab dan malapetaka yang tidak terperikan kedahsyatannya.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS. 21:107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107) 
Tujuan Allah SWT mengutus Nabi Muhammad yang membawa agama-Nya itu, tidak lain hanyalah agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat. 
Orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk agama itu akan memperoleh rahmat dan Allah berupa rezeki dan karunia di dunia dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh rahmat berupa surga yang disediakan Allah bagi mereka. Sedang orang-orang yang tidak beriman akan memperoleh rahmat pula, karena dengan cara yang tidak langsung mereka mengikuti sebagian ajaran-ajaran agama itu, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia. 
Jika dilihat sejarah manusia dan kemanusiaan, maka agama Islam adalah agama yang berusaha sekuat tenaga menghapuskan perbudakan dan penindasan oleh manusia terhadap manusia yang lain. Seandainya dibuka pintu perbudakan hanyalah sekadar untuk mengimbangi perbuatan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin itu. Sedangkan jalan-jalan untuk menghapuskan perbudakan dibuat sebanyak-banyaknya. Demikian pula prinsip-prinsip musyawarah yang ditetapkan agama Islam lebih tinggi nilainya dari prinsip-prinsip demokrasi yang selalu diagung-agungkan. Perbaikan perbaikan tentang kedudukan wanita yang waktu itu hampir sama dengan binatang, dan pengakuan terhadap kedudukan anak yatim, perhatian terhadap fakir dan miskin, permtah melakukan jihad untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan, semuanya diajarkan oleh Alquran dan Hadis, kemudian dijadikan sebagai dasar perjuangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan demikian seluruh umat manusia memperoleh rahmat, baik yang langsung atau tidak langsung dari agama yang dibawa Muhammad. Tetapi kebanyakan manusia masih mengingkari padahal rahmat yang mereka peroleh itu adalah rahmat dan nikmat Allah SWT.

Katakanlah:` Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: `Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)`.(QS. 21:108)

قُلْ إِنَّمَا يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (108) 
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar menyampaikan kepada orang-orang kafir dan kepada orang-orang yang telah sampai seruan kepadanya, bahwa pokok wahyu yang disampaikan kepadanya ialah: tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah. Karena itu hendaklah manusia menyembah-Nya, jangan sekali-sekali mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun seperti mengakui adanya tuhan-tuhan yang lain selain daripada-Nya, atau mempercayai bahwa selain dari Allah ada lagi sesuatu yang mempunyai kekuatan gaib seperti kekuatan Allah. Dan serahkanlah dirimu kepada Allah dengan memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya saja dan ikutilah segala wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Jika mereka berpaling, maka katakanlah: `Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.(QS. 21:109)

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ آذَنْتُكُمْ عَلَى سَوَاءٍ وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَمْ بَعِيدٌ مَا تُوعَدُونَ (109) 
Kemudian Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad saw, akan tugasnya sebagai seorang Rasul, yaitu hanya menyampaikan agama Allah kepada manusia. Karena itu jika mereka tidak mengindahkan seruanmu, tidak mengikuti wahyu yang disampaikan kepada mereka, maka janganlah kamu berhati sedih, dan katakanlah kepada mereka bahwa kamu telah menunjukkan mereka jalan yang lurus yang dibentangkan Allah, menuju kebahagiaan yang sempurna. Jika mereka tidak mau mengikuti dan menempuh jalan yang telah dibentangkan itu berarti mereka ingin mendapat azab dan Allah. Pada ayat lain Allah SWT berfirman: 

وإن كذبوك فقل لي عملي ولكم عملكم أنتم بريئون مما أعمل وأنا بريء مما تعملون 
Artinya: 
Jika mereka mendustakan kamu. maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan". (Q.S Yunus: 41) 
Jika orang-orang kafir menanyakan kepada kamu hai Muhammad tentang kapan azab yang dijanjikan itu akan ditimpakan, maka katakanlah kepada mereka bahwa engkau tidak tahu menahu tentang waktu ditimpakan azab itu, karena wewenang menimpakan azab itu sepenuhnya berada di tangan Allah tidak seorangpun yang mengetahuinya.

Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan.(QS. 21:110)

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ (110) 
Allah Maha Mengetahui segala yang dikatakan oleh, orang-orang kafir tentang agama Islam, baik dikatakan secara terang-terangan ataupun dikatakan secara berbisik, dan Allah mengetahui tentang kebencian hati orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Karena itu Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang yang demikian.

Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.`(QS. 21:111)

وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (111) 
Allah memerintahkan pula agar Muhammad memberi tahukan kepada orang-orang kafir bahwa ia tidak mengetahui sedikitpun kenapa azab itu dilambaikan datangnya. Boleh jadi agar mereka menikmati segala kesenangan keduniaan sampai kepada waktu yang ditentukan Allah, maka Allah akan menimpakan azab secara tiba-tiba tanpa diketahui dari mana datangnya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anbiyaa' 111 
وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (111) 
(Dan tidaklah) (aku mengetahui, barangkali hal itu) apa yang telah aku beritahukan kepada kalian dan belum diketahui saatnya (sebagai cobaan) ujian (bagi kalian) supaya dapat dilihat, apakah yang diperbuat oleh kalian dan kesenangan) yakni bersenang-senang (sampai kepada suatu waktu) maksudnya sampai habisnya umur kalian. Pengertian ayat ini hanya bersifat kebalikan daripada hal yang diharapkan dengan memakai ungkapan La'alla, akan tetapi bukan subjek daripada harapan tersebut.

(Muhammad) berkata: `Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan`.(QS. 21:112)

قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (112) 
Karena orang-orang musyrik Mekah, semakin hari bertambah-tambah kelaliman mereka, maka Muhammad saw. berdoa kepada Tuhan agar Dia segera menimpakan azab kepada mereka. Permohonan Muhammad ini dikabulkan Allah dengan kekalahan orang-orang musyrik dalam Perang Badar. Berkata Qatadah: Para nabi dahulu berdoa": 

"ربنا افتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين" 
Artinya 
"Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya". (Q.S Al A'raf: 89) 
Maka Rasulullah saw. diperintahkan Allah pula mengucapkan doa yang demikian itu. 
Berdoa hanya kepada Allah saja, karena Dialah yang paling sempurma rahmat dan karunia-Nya hanya kepada-Nya sajalah diserahkan pembalasan kejahatan orang kafir yang mereka lakukan terhadap orang muslim. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anbiyaa' 112 
قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (112) 
(Muhammad berkata) qaala menurut suatu qiraat dibaca Qul, yakni katakanlah hai Muhammad, ("Ya Rabbku! Berilah keputusan) antara aku dan orang-orang yang mendustakan aku (dengan adil) yakni azab bagi mereka atau pertolongan-Mu di dalam menghadapi mereka. Maka akhirnya mereka diazab di dalam perang Badar, Uhud, Hunain, Ahzab dan Khandaq, Nabi saw. mendapat kemenangan atas mereka. (Dan Rabb kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian katakan itu") kedustaan perkataan kalian kepada Allah: kalian telah mengatakan-Nya, bahwa Allah mempunyai anak. Perkataan kalian kepadaku, bahwa aku ini adalah seorang penyihir. Perkataan kalian terhadap Alquran, bahwa ia adalah syair semata.

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Anbiyaa' 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar