Selasa, 28 Agustus 2012

Thaahaa 121 - 135

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Thaahaa
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=7&SuratKe=20#Top 30 agust 2012

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Thaahaa 121 
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) 
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) syurga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.(QS. 20:121)

Setelah menyadari bahwa ia dan istrinya telah melanggar perintah Allah dengan memakan buah khuldi ia pun menyesal atas keterlanjurannya itu, merasa kecewa karena membenarkan saja bujukan Iblis yang sudah dijelaskan Tuhan kepadanya bahwa Iblis itu adalah musuhnya dan musuh istrinya. Karena dia begitu cepat terpedaya dengan kata-kata manis dari musuhnya itu. Ia sangat khawatir terhadap nasibnya bersama istrinya karena telah mendurhakai Tuhannya. Ia berdosa dan minta ampun atas kesalahannya itu seperti tersebut pada ayat: 
قالا ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين 
Artinya: 
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi" (Q.S Al A'raf: 23)

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى (122) 
Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.(QS. 20:122)

Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang terhadap hambanya apalagi terhadap orang yang akan diangkat-Nya menjadi Khalifah di bumi tidaklah akan membalas keterlanjuran Adam memakan buah khuldi itu dengan menimpakan siksaan atas dirinya, dia di waktu itu dalam keadaan lupa dan terpedaya dengan bujukan musuhnya, memang dia telah melanggar perintah Tuhan-Nya dan Tuhan telah memerintahkan-Nya supaya dia jangan sampai terpedaya dengan musuhnya itu sehingga dia dikeluarkan dari surga. Apalagi Adam dan istrinya sudah menyesali perbuatannya dan telah bertobat meminta ampun kepada-Nya. Karena itu Allah mengampuni dosanya dan memilihnya menjadi orang yang dekat kepada-Nya. Tetapi sebagai akibat dari melanggar perintah Tuhan, Adam dipersilahkan keluar dari surga dan turun ke bumi dengan demikian terlaksanalah ketetapan Allah bahwa Adam akan dijadikan Khalifah di muka bumi, sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya: 

إني جاعلك في الأرض خليفة 
Artinya: 
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang Khalifah di muka bumi". (Q.S Al Baqarah: 30)

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) 
Allah berfirman: `Turunlah kamu berdua dari syurga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.(QS. 20:123)

Bukan saja Adam yang harus turun ke bumi tetapi Iblis yang memperdayakannya dan menjadi musuhnya itu harus turun pula. Kedua jenis makhluk ini akan menjadi musuh satu sama lain, tetapi permusuhan Iblis terhadap manusia adalah permusuhan aktif dan agresif dia akan selalu berusaha menyesatkan manusia dan jalan yang benar dengan berbagai macam tipu daya, karena dia telah mendapat izin dari Tuhan dalam usaha dan tindak tanduknya, sedang manusia hanya mempunyai sikap bertahan terhadap serangan-serangan Iblis itu. Oleh sebab itu Allah mengamanatkan kepada anak cucu Adam agar ia selalu waspada terhadap musuh utamanya itu. Apabila telah datang petunjuk duri Tuhan dengan perantaraan Nabi dan Rasul-Nya maka hendaklah manusia mengikuti petunjuk itu. Maka dengan demikian dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Ibnu Abbas berkata mengenai ayat ini Allah melindungi orang-orang yang mengikuti ajaran Alquran dari kesesatan di dunia dan dari kecelakaan dan malapetaka di akhirat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda mengenai ayat ini. Orang-orang yang mengikuti ajaran kitab Allah (Alquran) Allah akan selalu memimpin dan memberinya petunjuk di dunia sehingga dia tidak akan tersesat dan akan melindungi dan memeliharanya pada hari berhisab.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) 
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta`.(QS. 20:124)

Allah menerangkan pula bahwa orang-orang yang berpaling dari ajaran Alquran itu tidak mengindahkannya dan menentang petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya maka dia akan selalu dalam kesepian dan kesulitan dalam menempuh hidupnya. Dia akan selalu bimbang dan gelisah walaupun dia memiliki kekayaan, pangkat dan kedudukan karena selalu diganggu oleh pikiran dan khayalan yang bukan-bukan mengenai kekayaan dan kedudukannya itu. Dia akan dibayangi oleh momok kehilangan kesenangan yang telah dicapainya. Sehingga ia melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan kebencian dan kerugian di dalam masyarakatnya. Kemudian di akhirat nanti ia akan dikumpulkan Allah bersama makhluk-makhluk lainnya dalam keadaan buta mata hatinya Sebagaimana dia di dunia selalu menolak petunjuk-petunjuk Allah yang terang benderang dan memicingkan matanya agar petunjuk itu jangan terlihat olehnya sehingga ia berlarut-larut dalam kesesatan, demikian pula di akhirat ia tidak dapat melihat suatu alasan pun untuk membela dirinya dari ketetapan Allah Yang Maha Adil. Sebagian Ahli Tafsir mengatakan bahwa orang yang berpaling dari ajaran Allah itu memang menjadi buta pancaindera tidak melihat suatu apapun sebagai tambahan siksaan atasnya. Seorang yang buta di kala terjadi huru-hara dan malapetaka akan lebih kalang-kabut pikirannya karena tidak tahu apa yang akan dibuatnya dan tidak tentu arah yang akan ditujunya untuk menyelamatkan dirinya karena tidak melihat dari mana datangnya bahaya yang mengancamnya. Tetapi sesudah itu matanya akan menjadi terang kembali karena akan melihat sendiri buku catatan amalnya dan bagaimana hebat dan dahsyatnya siksaan neraka sebagaimana tersebut dalam ayat: 

ورأى المجرمون النار فظنوا أنهم مواقعوها ولم يجدوا عنها مصرفا 
Artinya: 
Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya. (Q.S Al Kahfi: 53)

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) 
Berkatalah ia: `Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?`(QS. 20:125)
Allah berfirman: `Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan`.(QS. 20:126)

Orang-orang yang kafir itu akan bertanya kepada Allah SWT mengapa Engkau jadikan aku buta sedang mataku dahulu terang dapat melihat. Allah menjawab: Memang demikian! waktu di dunia telah datang kepadamu Rasul-rasul Ku membawa petunjuk-petunjuk Ku tetapi engkau berpaling kepadanya seakan-akan mata hatimu telah buta dan seakan-akan kamu telah melupakannya karena tidak mengindahkan dan memperhatikannya. Oleh sebab itu Kami jadikan mata hatimu buta pada hari iri sehingga engkau tidak dapat mengemukakan suatu alasan untuk membela dirimu dari azab yang telah Ku sediakan bagimu sebagai balasan atas kebutaanmu selama di dunia.

وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127) 
Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.(QS. 20:127)

Demikianlah Allah membalasi orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada bukti-bukti kekuasaan-Nya. Di dunia dia menemui kesulitan yang bertumpuk-tumpuk selalu bimbang dan gelisah, karena tidak ada pegangan dalam hidupnya kecuali kekayaan pangkat dan kedudukannya saja. Bila ia ditimpa suatu kesulitan atau mara bahaya dia segera menjadi panik dan tidak tentu lagi yang akan diperbuatnya dan kadang-kadang tanpa disadarinya ia melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri. Dia tidak pernah merasakan ketenteraman dan ketenangan hati. Ini berarti dia tidak pernah merasakan kebahagiaan yang hakiki. 
Di akhirat dia akan disiksa dengan berbagai siksaan di antaranya siksaan hati karena mata hatinya telah buta tidak dapat memberikan alasan atau hujah-hujah untuk membebaskan dirinya dari hukuman Allah atau dia memang dijadikan benar-benar buta matanya agar dia lebih tersiksa lagi karena tidak berdaya sama sekali bertindak untuk mengatasi suasana yang penuh hura-hura dan kedahsyatan. Sesungguhnya azab di akhirat itu jauh lebih berat dan dahsyat lagi terutama azab di neraka yang bersifat kekal selama-lamanya.

أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَى (128) 
Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.(QS. 20:128)

Pada ayat-ayat ini Allah meminta perhatian orang-orang kafir agar mereka memikirkan dengan tenang bagaimana kesudahan umat-umat yang telah lalu yang karena kekafiran, mereka telah dibinasakan oleh Allah dengan menurunkan berbagai macam malapetaka, ada yang berujud angin topan, ada yang berujud gempa yang dahsyat dan ada pula yang berujud suara keras yang mengguntur. Mereka dapat melihat dengan mata kepala sendiri bekas-bekas yang ditinggalkan oleh umat-umat yang telah binasa itu. Bekas-bekas itu menunjukkan bahwa mereka adalah umat-umat yang kuat dan jaya pada masanya memiliki bangunan-bangunan yang besar dan kokoh, mempunyai kebudayaan yang tinggi lebih dan apa yang dimiliki orang-orang kafir Mekah itu. Tetapi karena keingkaran dan kedurhakaan, mereka dibinasakan Allah dengan sekejap mata tak seorangpun yang selamat dari malapetaka itu. Yang dapat dilihat sekarang hanya puing-puing bekas istana dan benteng-benteng pertahanan mereka. Kaum musyrikin Mekah selalu mondar-mandir dalam perjalanan mereka di musim panas dan di musim dingin melalui bekas-bekas kerajaan yang telah runtuh itu, tetapi mereka tidak memikirkan apakah sebabnya maka kerajaan-kerajaan itu hancur dan musnah, dan menganggap hal itu adalah bencana alam belaka. Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari umat-umat yang dahulu itu dan menginsafi bahwa bagaimanapun kuat dan jayanya sesuatu umat, tetapi bila Allah menghendaki kehancuran mereka, karena kedurhakaan dan kekafiran tak ada yang dapat mempertahankan atau membela mereka. Mengapa hal ini semua tidak menjadi perhatian mereka. Sebenarnya kalau mereka mau berpikir amat banyak pelajaran dan bukti-bukti kekuasaan Allah yang terdapat pada umat-umat yang telah hancur binasa itu. tetapi anehnya mereka tidak mengindahkannya walau sedikitpun.

وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى (129) 
Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.(QS. 20:129)

Kalau tidak karena rahmat dan kasih sayang Allah dan karena ketetapan yang telah diputuskan-Nya bahwa umat Muhammad saw. yang ingkar tidak akan dihancur binasakan seperti umat-umat dahulu itu, dan balasan atas kekafiran mereka ditangguhkan sampai Hari Kiamat tentulah mereka telah mengalami kehancuran pula. Hal ini tersebut dalam firman-Nya: 

بل الساعة موعدهم والساعة أدهى وأمر 
Artinya: 
Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan Hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (Q.S Al Qamar: 46) 
Para Ulama mengatakan bahwa hikmah penangguhan siksa umat Muhammad saw. yang durhaka sampai Hari Kiamat ialah agar ada kesempatan bagi mereka untuk tobat atau ada di antara keturunan mereka yang beriman. Hal itu adalah suatu kehormatan dan kemuliaan bagi Nabi Muhammad saw. dan rahmat serta kasih sayang Allah terhadap umatnya, dan dengan demikian pengikut-pengikut ajarannya akan bertambah banyak. Ini sesuai dengan harapan beliau sebagai ***tersebut dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah: 

وإنما كان الذي أوتيته وحيا أوحاه الله إليّ فأرجو أن أكون أكثرهم تابعا. (حديث رواه الشيخان). 
Artinya: 
Apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku oleh Allah SWT.. Maka aku berharap agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya di antara para Nabi.

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (130) 
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.(QS. 20:130)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar dia tetap bersabar menghadapi tindakan-tindakan kaumnya yang kafir itu serta cemoohan dan penghinaan mereka terhadapnya seperti menuduhnya sebagai tukang sihir, orang gila, penyair dan sebagainya. Di samping itu hendaklah dia senantiasa mengingat dan menyucikan Tuhan-Nya dengan bertasbih dan salat sebelum terbit matahari, sebelum terbenam matahari dan di tengah malam. Memang dengan mengingat Allah dan dengan salat seseorang dapat membebaskan dirinya dari kekalutan pikiran, kesedihan dan kebimbangan. Nabi Muhammad sendiri pernah berkata tentang faedah salat untuk menentramkan hatinya. 
وجعلت قرة عيني في الصلاة 
Artinya: 
Salat itu menjadi ketenangan hati bagi hatiku. 
Pada ayat lain Allah memerintahkan untuk menanggulangi suatu masalah yang pelik hendaklah kita bersikap sabar dan mendirikan salat. 

واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين 
Artinya: 
Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Q.S Al Baqarah: 45) 
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Rasulullah saw. bersabda: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤيته فإن استطعتم ألا تغلبوا عن صلاة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها فافعلوا. 
Artinya: 
Bersabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana kamu melihat bulan ini, tidak ada keragu-raguan kamu di waktu melihat-Nya. Jika kamu sanggup berusaha agar kamu jangan ketinggalan salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakanlah. (HR Bukhari dan Muslim) 
Kemudian Nabi membaca ayat 130 ini. Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah. Bersabda Nabi Muhammad saw. Allah SWT. berkata: Hai anak Adam luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada Ku. Bila engkau akan mengerjakannya Aku akan mengisi dadamu dengan kekayaan (batin) dan menghapus kekafiranmu. Tetapi bila kamu tidak mau mengerjakannya maka Aku akan mengisi dadamu dengan kebimbangan dan tidak akan menutupi kekafiranmu. Kemudian Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad saw. bila engkau telah mengerjakan apa yang telah Aku perintahkan kepadamu yaitu salat sebelum matahari terbit, sebelum terbenamnya, dan di tengah-tengah malam, niscaya engkau akan menjadi puas dan jiwamu tenteram dan engkau akan rida terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepadamu sebagaimana tersebut dalam ayat: 

ولسوف يعطيك ربك فترضى 
Artinya: 
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu lalu hati (kamu) menjadi puas. 
Mengenai rida dan kepuasan batin ini, sebuah hadis sahih mengungkapkan sebagai berikut: 

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يقول الله تعالى: يا أهل الجنة فيقولون: لبيك ربنا وسعديك, فيقول هل رضيتم فيقولون ربنا وما لنا لا نرضى وقد أعطيتنا ما لم تعط أحدا من خلقك, فيقول, إني أعطيكم أفضل من ذلك فيقولون وأي شيء أفضل من ذلك, فيقول أحل عليكم رضواني فلا أسخط عليكم بعده أبدا. 
Artinya: 
Rasulullah saw. bersabda, "Allah SWT. berkata kepada penghuni surga: Hai para penghuni surga. Mereka menjawab: Kami siap mendengarkan firman Engkau Ya Tuhan kami, selamat dan bahagia atas Engkau, lalu Allah berfirman apakah kamu telah rida dan puas?. Mereka menjawab: Bagaimana kami tidak akan rida dan puas Engkau telah menganugerahkan kepada kami nikmat-nikmat yang tidak Engkau berikan kepada selain kami di antara makhluk-makhluk Engkau. Maka Allah berfirman: Aku akan menganugerahkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari itu. Mereka bertanya: Apakah itu ya Tuhan kami, yang lebih baik dari anugerah yang telah kami terima? Allah berfirman: Aku akan menempatkan di kalangan kamu keridaan Ku, maka Aku tidak akan marah kepadamu setelah itu untuk selama-lamanya". (HR Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) 
Demikianlah halnya bila seseorang yang telah mencapai rida Allah berkat ketaatan dan kepatuhannya, terhadap Tuhannya.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (131) 
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.(QS. 20:131)
Kemudian untuk menguatkan hati Rasulullah dan meneguhkan pendiriannya dalam menghadapi perjuangan menegakkan kalimat Allah, Allah mengamanatkan kepadanya agar dia jangan menolehkan perhatiannya kepada kesenangan, kemewahan dan kekayaan yang dinikmati oleh sebagian orang-orang kafir karena hal itu akan melemahkan semangatnya bila matanya telah disilaukan oleh kilauan perhiasan dunia dan ingin mempunyai apa yang dimiliki orang-orang kaya itu. Semua nikmat yang diberikan kepada orang-orang kafir itu hanyalah sementara, ibarat bunga yang sedang berkembang, tetapi tak lama kemudian bunga yang harum semerbak itu akan layu dan berguguran daunnya satu persatu dan hilanglah segala keindahan dan daya tariknya. Nikmat kekayaan yang diberikan kepada orang-orang kafir itu hanyalah buat sementara saja sebagai ujian bagi mereka, apakah dengan nikmat Tuhan itu mereka akan bersyukur kepada-Nya dengan beriman dan mempergunakannya untuk mencapai keridaan-Nya ataukah mereka akan tetap kafir dan bertambah tenggelam dalam lumpur kesesatan, sehingga harta benda itu menjadi sebab kecelakaan mereka sendiri. Allah telah menganugerahkan kepada Nabi sebagai ganti nikmat lahiriyah itu nikmat yang lebih baik dari itu yaitu ketenangan nanti dan kebahagiaan yang berupa keridaan Ilahi.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (132) 
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.(QS. 20:132)
Amanat berikutnya yang tidak kurang pentingnya dari yang sebelumnya ialah Nabi saw. menyuruh keluarganya mengerjakan salat sebagaimana telah diperintahkannya sendiri dan tentu saja perintah itu harus dibarengi pula dengan perintah yang kedua yaitu agar keluarganya jangan terpengaruh atau menjadi silau matanya melihat kekayaan dan nikmat yang dimiliki oleh istri-istri orang-orang kafir itu. Demikianlah amanat Allah kepada Rasul-Nya sebagai bekal untuk menghadapi perjuangan berat, yang patut menjadi contoh teladan bagi setiap pejuang yang ingin menegakkan kebenaran di muka bumi. Mereka haruslah lebih dahulu menjalin hubungan yang erat dengan Khaliknya yaitu dengan tetap mengerjakan salat dan memperkokoh batinnya dengan sifat tabah dan sabar. Di samping itu haruslah seisi rumah tangganya mempunyai sifat seperti yang dimilikinya. Dengan demikian ia akan tabah berjuang tidak dapat diombang-ambingkan oleh bunga kehidupan dunia seperti kekayaan, pangkat dan kedudukan. Amanat-amanat inilah yang dipraktekkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya sehingga mereka benar-benar sukses dalam perjuangan mereka sehingga dalam masa kurang lebih 23 tahun saja Islam telah berkembang dengan jaya hampir seluruh jazirah Arab dan jadilah kalimat Allah kalimat yang paling tinggi dan mulia. Diriwayatkan oleh Rafi'i seorang tamu datang mengunjungi Rasulullah, sedang di rumahnya tidak ada yang patut disuguhkan kepada tamu itu. Rasulullah menyuruh saya meminjam sedikit tepung gandum kepada orang Yahudi dan akan dibayar nanti pada bulan Rajab. Orang Yahudi itu tidak mau meminjamkan kecuali dengan jaminan. Aku kembali kepada Rasulullah memberitakan hal itu. Rasulullah berkata: Demi Allah aku ini orang dipercaya di langit dan di bumi. Kalau orang Yahudi itu meminjamkan atau menjual sesuatu kepadaku pasti aku melunasi haknya. Bawalah baju besiku ini sebagai jaminan bagi pinjaman itu. Belum lagi aku keluar dari rumah Nabi turunlah ayat ini seakan-akan Allah menghibur Nabi atas kemiskinannya itu. 149) 
Diriwayatkan pula oleh Malik dan Baihaqi dari Aslam, di antara adat kebiasaan Umar bin Khattab ialah dia selalu melakukan salat malam sekuat tenaganya sampai hampir waktu fajar tiba. Kemudian beliau membangunkan keluarganya dan memerintahkan supaya mereka melakukan salat, dengan membaca ayat ini.

وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِنْ رَبِّهِ أَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَى (133) 
Dan mereka berkata: `Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?` Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?(QS. 20:133)
Orang-orang kafir Mekah mencemoohkan Nabi Muhammad saw. bahwa seruannya kepada agama yang dibawanya itu adalah omong kosong belaka dan dia tidak dapat membuktikan kebenarannya. Kalau agama yang dibawanya benar tentulah dia membuktikannya dengan mukjizat-mukjizat seperti yang diberikan kepada Nabi Saleh yaitu unta betina, yang diberikan kepada Nabi Musa seperti tongkat dan yang diberikan kepada Isa yaitu menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit sopak. Andai kata ada pada diri mereka sedikit kemauan untuk berpikir dan sedikit kecenderungan untuk menerima kebenaran tentulah mereka tidak akan mengucapkan kata-kata yang demikian, karena Alquran sendiri yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah mukjizat yang paling besar di antara mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Bukankah bukti-bukti telah menunjukkan bahwa mereka tidak dapat meniru keindahan susunan kata-katanya dan mereka tidak dapat mendatangkan satu surat ringkaspun yang setaraf balagah dan fasahah nya dengan surah-surah dalam Alquran. Bukankah di dalam Alquran terdapat kisah-kisah mengenai umat-umat yang terdahulu sedangkan Nabi Muhammad dan kaum musyrikin sendiri tidak mengenal kisah-kisah itu sebelumnya. Bukankah di dalam Alquran terdapat syariat-syariat dan peraturan-peraturan yang maksud dan tujuannya sama dengan syariat yang dibawa Nabi-nabi sebelumnya yaitu syariat-syariat untuk kepentingan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Sebenarnya Alquran itu saja sudah cukup menjadi bukti bagi kebenaran Muhammad saw. dan sudah cukup sebagai mukjizat besar yang kekal dan abadi. Allah sangat menyesalkan sikap mereka yang menolak asal menolak saja tanpa alasan yang benar dan tetap membangkang dan tidak mau memikirkannya walau sedikitpun. Pada ayat lain Allah berfirman pula: 

بل هو ءايات بينات في صدور الذين أوتوا العلم وما يجحد بآياتنا إلا الظالمون وقالوا لولا أنزل عليه ءايات من ربه قل إنما الآيات عند الله وإنما أنا نذير مبين أولم يكفهم أنا أنزلنا عليك الكتاب يتلى عليهم إن في ذلك لرحمة وذكرى لقوم يؤمنون 
Artinya: 
Sebenarnya Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. Dan orang-orang kafir Mekah berkata, "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?". Katakanlah, "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Alquran sedang dia dibacakan kepada mereka?. Sesungguhnya dalam (Alquran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (Q.S Al Ankabut: 49-51)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى (134) 
Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: `Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?`(QS. 20:134)
Kemudian Allah menerangkan bahwa andai kata Kami membinasakan mereka sebelum Kami mengutus Muhammad kepada mereka, mereka akan mengatakan pada Hari Kiamat, Engkau tidak mengutus kepada kami seorang Rasul yang akan kami ikuti ajaran-ajarannya sehingga kami menjadi orang-orang yang beriman sebelum menemui hari berhisab ini. Oleh sebab itu Kami tidak membinasakan mereka seperti umat-umat yang dahulu agar tidak ada alasan bagi mereka pada Hari Kiamat. Karena Kami telah mengutus kepada mereka Rasul Kami yang akan menerangkan kepada mereka ayat-ayat Kami. Kemudian terserahlah kepada mereka apakah mereka akan mengikuti petunjuk-petunjuk Kami ataukah mereka akan tetap dalam kekafiran dan selalu menghina dan memperolok-olokkan Rasul Kami Muhammad saw.

قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَى (135) 
Katakanlah: `Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk`.(QS. 20:135)
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar mengatakan kepada orang kafir Mekah itu sebagai jawaban atas omelan dan cemoohan mereka terhadapnya. Kalau kamu tidak juga mau menerima petunjuk Allah dan tetap ingkar dan durhaka, marilah kita sama-sama menunggu keputusan Allah pada Hari Kiamat nanti. Tentu kamu akan mengetahui siapa yang berada di jalan yang benar dan yang mendapat petunjuk. Kamu akan mengetahui di antara kita bahwa kamulah yang sesat dan akan dilemparkan ke neraka Jahanam. Hal ini tersebut dalam firman Allah: 

وسوف يعلمون حين يرون العذاب من أضل سبيلا 
Artinya: 
Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab siapa yang paling sesat jalannya. (Q.S Al Furqan: 42) 
Dan firman-Nya: 

سيعلمون غدا من الكذاب الأشر 
Artinya: 
Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (Q.S Al Qamar: 26) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Thaahaa 135 
قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَى (135) 
(Katakanlah:) kepada mereka, ("Masing-masing) di antara kami dan kalian (menanti) menunggu apa yang bakal terjadi padanya di hari kiamat itu (maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Kelak kalian akan mengetahui) di hari kiamat itu (siapa yang menempuh jalan) yakni tuntunan (yang lurus) yang tidak menyimpang (dan siapa yang telah mendapat petunjuk") sehingga selamat dari kesesatan, kami ataukah kalian?

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Thaahaa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar