Rabu, 29 Agustus 2012

Al-Anbiyaa' 61 - 80

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Anbiyaa' 
Sumber: http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=21#Top
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 61
Mereka berkata: ` (Kalau demikian) bawalah dia ke hadapan orang banyak agar mereka menyaksikan`.(QS. 21:61)
 
قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ (61) 
Ayat ini menjelaskan bahwa setelah mereka mendapat jawaban bahwa yang merusakkan patung-patung itu adalah seorang pemuda yang bernama Ibrahim, maka mereka menyuruh agar pemuda itu dihadapkan kepada orang banyak, dengan harapan kalau-kalau ada orang lain yang melihat pemuda tersebut melakukan perusakan itu, sehingga persaksian itu akan dapat dijadikan bukti. 
Hal ini memberikan bukti pengertian bahwa di kalangan mereka masa itu sudah berlaku suatu peraturan, bahwa mereka tidak akan menindak secara langsung seseorang yang dituduh sebelum ada bukti-bukti, baik berupa persaksian dari seseorang, maupun berupa pengakuan dari pihak yang bersangkutan.

Mereka bertanya: `Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?`(QS. 21:62)

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (62) 
Pada ayat ini dijelaskan bahwa setelah Ibrahim mereka hadapkan kepada orang banyak, maka mereka mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan terhadapnya dengan mengajukan pertanyaan: Apakah betul dia yang melakukan perusakan terhadap berhala-berhala itu. Mereka bertanya, "Hai Ibrahim, engkaukah yang telah merusak tuhan-tuhan kami? 
Pertanyaan mereka ajukan dengan harapan bahwa Ibrahim akan mengakui bahwa dialah yang melakukan pengrusakan itu. Pengakuan itu akan mereka jadikan alasan untuk menghukum Ibrahim.

Ibrahim menjawab: `Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara`.(QS. 21:63)

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (63) 
Diterangkan dalam ayat ini jawaban lbrahim atas tuduhan dan pertanyaan kaum itu. Jawaban Ibrahim ternyata sangat mengagetkan mereka, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka; karena Ibrahim tidak memberikan pengakuan, bahkan ia mengatakan bahwa yang melakukan pengrusakan terhadap patung patung itu justru adalah patung terbesar yang masih utuh. 
Jawaban semacam itu dimaksudkan Ibrahim untuk mencapai tujuannya, yaitu untuk menyadarkan kaumnya bahwa patung-patung itu tidak patut untuk disembah, karena ia tak dapat berbuat apa-apa. 
Sudah jelas bahwa kaumnya itu tidak akan percaya bahwa patung terbesar itulah yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung yang lain itu. Sebab, mereka akan menyadari bahwa hal itu mustahil akan terjadi, karena patung tidak dapat berbuat apapun, sebab dia adalah benda mati. 
Jika mereka telah menginsafi hal tersebut, sudah sepatutnya mereka berhenti menyembah patung. 
Kemudian, pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Ibrahim selanjutnya terhadap kaumnya, yang menyuruh mereka menanyakan kepada patung-patung itu sendiri, siapakah yang telah merusak mereka. 
Ucapan ini menyebabkan kaumnya semakin terpojok, karena seandainya mereka bertanya kepada patung-patung itu, niscaya mereka tidak akan memperoleh jawaban, sebab patung-patung tersebut tidak mendengar, tidak mengerti dan tidak dapat bicara. Kalau demikian keadaannya, patutkah disembah? Sudah tentu tidak patut. 
Jika masih ada orang yang menyembahnya, pastilah orang tersebut tidak mempergunakan pikiran yang sehat.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: `Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)`,(QS. 21:64)

فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ (64) 
Pada ayat ini diterangkan keadaan kaum penyembah patung itu setelah mendengar jawaban Ibrahim. Mereka Ialu menyesali diri, mereka menyembah patung-patung yang ternyata tidak mempertahankan diri terhadap orang yang ingin merusaknya, dan tidak mampu membinasakannya. Kalau demikian halnya bagaimana ia akan mampu menolong dan melindungi orang lain. Oleh sebab itu patung tersebut tak patut disembah. 
Penyesalan diri mereka itu tampak jelas pada ucapan mereka yang saling menyalahkan antara sesama mereka, "Sesungguhnya kamu termasuk orang orang yang zalim", yaitu karena menyembah sesuatu yang tak dapat berpikir dan berbicara. Itu merupakan suatu kebodohan diri mereka sendiri.

kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): `Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara`.(QS. 21:65)

ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ (65) 
Pada ayat ini diterangkan keadaan mereka itu selanjutnya setelah mereka menyesali kesalahan dan kebodohan diri mereka. Mereka lalu menekurkan kepala dan berdiam diri. Pada saat itulah setan kembali menggoda mereka. sehingga kesadaran mereka yang tadinya telah mulai bersemi lalu lenyap dan mereka kembali kepada kepercayaan semula, dan ingin membela patung-patung mereka serta kepercayaan mereka kepadanya. Oleh sebab itu lalu mereka berkata kepada Ibrahim, "Mengapa engkau menyuruh kami bertanya kepada patung-patung ini, padahal engkau sudah mengetahui bahwa mereka tidak dapat berbicara". 
Ucapan ini juga pengakuan dari mereka bahwa merekapun mengetahui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar berpikir dan berbicara, akan tetapi disembah juga sebagai tuhan. Dan mereka akan tetap menyembah dan mempertuhankannya.

Ibrahim berkata: `Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu?`(QS. 21:66)

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ (66) 
Allah SWT. menerangkan dalam ayat ini, bahwa setelah mereka itu mengakui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar, berpikir dan berbicara, maka Ibrahim segera menjawab: Kalau demikian halnya, mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun, dan tidak pula dapat mendatangkan mudarat kepada kamu, bahkan ia tidak dapat berbicara dan mempertahankan diri.

Ah (celakalah) kamu beserta apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?(QS. 21:67)

أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (67) 
Dalam ayat ini disebutkan lanjutan dari ucapan Ibrahim kepada mereka, "Ah, celakalah kamu bersama patung-patung yang kamu sembah selain Allah". Apakah kamu tidak memahami keburukan dan kesesatan perbuatan kamu?. 
Ucapan itu telah menyebabkan para penyembah patung itu sungguh-sungguh terpojok, dan mengobarkan kemarahan mereka yang amat sangat.

Mereka berkata: `Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak`.(QS. 21:68)

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) 
Pada ayat ini diterangkan, bahwa setelah mereka itu kehabisan akal dan hujah untuk menjawab ucapan Ibrahim, dan marah mereka sudah memuncak, maka mereka berkata kepada sesama mereka, "Bakarlah dia, dan belalah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar ingin bertindak". 
Dengan demikian mereka memutuskan untuk membinasakan Ibrahim, dan tindakan itu mereka pandang sebagai cara yang terbaik untuk membela kehormatan tuhan-tuhan mereka, dan untuk melenyapkan rintangan terhadap mereka dalam menyembah patung-patung. Dan mereka memilih cara yang paling kejam untuk membinasakan Ibrahim, yaitu dengan membakarnya dalam sebuah api unggun. Dengan demikianlah Ibrahim dapat dilenyapkan, agar mereka dapat mencapai kemenangan untuk diri dan tuhan-tuhan mereka.

Kami berfirman: `Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim`,(QS. 21:69)

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69) 
Dalam ayat ini dijelaskan tindakan Allah SWT untuk melindungi dan menolong Ibrahim dari kekejaman kaumnya, yaitu membakar Ibrahim dalam api unggun yang sedang berkobar-kobar. 
Sebagaimana diketahui bahwa Allah SWT telah memberikan sifat-sifat tertentu bagi setiap makhluk-Nya. Dan sifat itu tetap berlaku baginya sebagai Sunah Allah. Antara lain ialah api, yang bersifat panas dan membakar, sehingga logam-logam yang amat kuatpun dapat dicairkan dengan api, apalagi tubuh manusia. 
Maka Allah melindungi Ibrahim dari bakaran api tersebut dengan cara mencabut sifat panas dan membakar itu, dari api yang sedang membakar, Ibrahim tidak merasa panas, padahal ia berada dalam api unggun yang menyala-nyala. 
Allah berfirman, "Hai api, jadilah engkau dingin, dan memberi keselamatan bagi Ibrahim". 
Dengan adanya perintah Allah kepada api tersebut, maka sifatnya berubah dari panas menjadi dingin, dan tidak merusak terhadap Ibrahim sampai api itu padam. Ini menambah bukti tentang kekuasaan Allah SWT yang seharusnya disadari oleh kaum kafir. 
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan sebagai berikut: 
\85 لما ألقي إبراهيم في النار قال: اللهم إنك في السماء واحد وأنا في الأرض واحد أعبدك \85 
Artinya: 
Setelah Ibrahim dilemparkan (mereka) ke dalam api itu. maka ia berdoa, "Ya Allah, Engkau di langit hanya sendiri, dan akupun di bumi hanya sendiri menyembah Mu. 
Demikianlah pertolongan dan perlindungan yang biasa yang diberikan-Nya kepada para Nabi, wali-wali dan hamba-hamba-Nya yang saleh. Walaupun pada waktu itu Ibrahim belum menjadi Nabi dan Rasul, namun ia tetap merupakan seorang hamba Allah yang saleh. 
Patut pula kiranya diingat bahwa Nabi Muhammad ada juga mengalami makar dari kaum kafir Quraisy yang berusaha untuk membinasakannya. Akan tetapi walaupun mereka telah membuat rencana yang rapi untuk mencapai maksud tertentu, namun pelaksanaannya tidaklah membawa hasil seperti yang mereka harapkan, karena Allah SWT telah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada Rasul-Nya itu, sebagai pelaksanaan dari janji-Nya: 

والله يعصمك من الناس 
Artinya: 
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Q.S Al Ma'idah: 67) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anbiyaa' 69 
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69) 
(Kami berfirman, "Hai api! Menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim") maka api itu tidak membakarnya selain pada tali-tali pengikatnya saja dan lenyaplah panas api itu, yang tinggal hanyalah cahayanya saja, hal ini berkat perintah Allah, 'Salaaman' yakni menjadi keselamatan bagi Ibrahim, akhirnya Nabi Ibrahim selamat dari kematian karena api itu dingin.

mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.(QS. 21:70)

وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ (70) 
Allah SWT menegaskan dalam ayat ini bahwa makar yang dilaksanakan. kaum musyrik terhadap yang dimaksud untuk membinasakannya, telah menimbulkan akibat yang sebaliknya, yaitu menyebabkan mereka itu menjadi orang-orang yang paling merugi. 
Mereka itu dengan ucapan dan perbuatannya ingin memadamkan cahaya kebenaran yang disampaikan Ibrahim, dengan cara menyalakan api unggun untuk membinasakannya. Tetapi akhirnya api yang mereka nyalakan itulah yang padam tanpa menimbulkan bekas apapun terhadap Ibrahim as, berkat perlindungan Allah Yang Maha Kuasa. Dan hal ini menunjukkan dengan jelas batilnya kepercayaan yang mereka anut, dan jahatnya cara yang mereka tempuh untuk mencapai kemenangan. Sebaliknya lbrahimlah yang berada pada pihak yang benar, karena ia menyampaikan petunjuk Allah untuk membasmi kebatilan dan kelaliman.

Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.(QS. 21:71)

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ (71) 
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT melengkapkan rahmat-Nya kepada Ibrahim as. Allah SWT telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah SWT telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harram, kemudian ke Palestina di daerah Syam. 
Dalam ayat ini disebutkan bahwa negeri Syam itu adalah negeri yang telah diberi Allah keberkatan yang banyak untuk semua manusia. Maksudnya ialah negeri tersebut amat subur, banyak air dan tumbuh-tumbuhannya, sehingga memberikan banyak manfaat bagi penduduknya. Selain itu, negeri tersebut juga merupakan tempat lahir dari banyak Nabi-nabi yang membawa sinar petunjuk bagi umat manusia. Juga Baitulmakdis terletak di Palestina yang termasuk daerah Syam itu, adalah kiblat pertama bagi umat Islam. 
Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa Nabi Lut juga berhijrah bersama-sama ke negeri Syam itu. Menurut keterangan sejarah Nabi Lut adalah anak saudara lelaki Ibrahim as.

Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yaqub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.(QS. 21:72)

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ (72) 
Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada Ibrahim as sebagai tambahan atas nikmat-Nya yang telah lalu, yaitu bahwa Allah telah menganugerahkannya dua orang putra, yaitu Ishak dan Yakub, artinya Ishak, sebagai anak kandung Ibrahim, sedang Yakub adalah putra dari Ishak, jadi sebagai cucu Ibrahim. Di samping itu Ibrahim juga mempunyai seorang putra lainnya, yaitu Ismail, dari Siti Hajar. Dan Allah SWT telah menjadikan kesemuanya, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub sebagai orang-orang yang saleh.

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,(QS. 21:73)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 73 
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (73) 
Allah SWT menyebutkan dalam ayat ini tambahan karunia-Nya kepada Ibrahim, selain karunia yang telah diterangkan pada ayat yang lalu, yaitu bahwa keturunan Ibrahim itu tidak hanya merupakan orang-orang yang saleh, bahkan juga menjadi imam atau pemimpin umat yang mengajak orang untuk menerima dan melaksanakan agama Allah, dan mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, berdasarkan perintah dan izin Allah. 
Nabi Ibrahim as, yang diberi gelar "Khalilullah" (teman akrab Tuhan) juga merupakan bapak dari beberapa Nabi karena banyak di antara Nabi-nabi yang datang sesudahnya adalah dari keturunannya, sampai dengan Nabi dan Rasul yang terakhir, yaitu Muhammad termasuk cucu-cucu Ibrahim as melalui Nabi Ismail. 
Karena beberapa di antara keturunan Ibrahim itu dipilih Allah menjadi Nabi-Nya, maka mereka memperoleh wahyu Allah yang berisi ajaran-ajaran dan petunjuk ke arah bermacam-macam kebaikan, terutama menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. 
Di samping itu Allah SWT juga mewahyukan kepada mereka agar mendirikan salat dan membayarkan zakat. Kedua macam ibadah ini disebutkan Allah secara khusus, sebab ibadah salat memiliki keistimewaan sebagai ibadah jasmaniah yang amat mulia, sedang zakat mempunyai keistimewaan sebagai ibadah harta yang paling utama, lebih-lebih bila diingat bahwa harta benda sangat penting kedudukannya dalam kehidupan manusia. 
Kedua macam ibadah ini, walaupun harus dilengkapi dengan ibadah-ibadat lainnya, namun ia telah mencerminkan dua sifat utama pada diri manusia yaitu: taat kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama manusia. Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim itu adalah orang-orang yang beribadat kepada Allah semata-mata dengan penuh rasa khusyuk dan tawadu'.

dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 21:74)

وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ (74) 
Pada ayat ini Allah SWT. menerangkan tiga macam di antara rahmat yang dikaruniakan kepada Nabi Lut as. 
Pertama: Nabi Lut telah dikaruniai-Nya hukum, sehingga dengan itu ia dapat memberikan penyelesaian dan keputusan dengan baik dalam pemeriksaan perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya. 
Kedua: Ia juga dikaruniai-Nya ilmu pengetahuan yang sangat berguna, terutama tentang agamanya, sehingga ia dapat mengetahui dan melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk. Kedua syarat ini sangat penting bagi orang-orang yang akan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya. 
Ketiga: Ia telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom ditimpa azab Allah karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan. Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara jenis lelaki (homosex), mengganggu lalu lintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Lut, dan tidak mengindahkan ancaman Allah SWT. dan lain-lain. Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah SWT. Nabi Lut beserta keluarganya kecuali istrinya yang ikut mendurhakai Allah diselamatkan Tuhan. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menjelaskan apa sebabnya kaum Lut sampai melakukan perbuatan jahat dan keji semacam itu, ialah karena mereka telah menjadi orang-orang jahat dan fasik, sudah tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan suka melakukan hal-hal yang telah dilarangnya, sehingga mereka bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa dan ucapan-ucapan yang tidak senonoh yang semuanya itu dilakukan mereka dengan terang-terangan, tanpa rasa malu.

dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 21:75)

وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) 
Allah SWT. menjelaskan dalam ayat ini rahmat-Nya lagi kepada Nabi Lut a.s. yaitu bahwa Dia telah memasukkannya ke dalam lingkungan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa Nabi Lut termasuk orang-orang yang dikasihi dan disayangi Allah, sehingga ia menjadi salah seorang penghuni surga-Nya. 
Dalam suatu hadis sahih, disebutkan: 

قال الله عز وجل للجنة: أنت رحمتي أرحم بك من أشاء من عبادي 
Artinya: 
Allah SWT. berfirman kepada surga, "Kamu adalah rahmat Ku, dengan kaulah Aku rahmati orang-orang yang Aku kehendaki di antara hamba-hamba-Ku. (HR Bukhari) 
Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya dia mengaruniakan rahmat yang begitu besarnya kepada Nabi Lut yaitu karena dia termasuk bilangan hamba-hamba Allah yang saleh yang selalu menaati perintah dan larangan Allah SWT.

Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.(QS. 21:76)

وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76) 
Dengan ayat ini Allah SWT. mengingatkan Rasulullah dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Nuh a.s. yang disebut sebagai bapak yang ke 2 bagi umat manusia. 
Jauh sebelum Nabi Muhammad, bahkan sebelum Nabi Ibrahim dan Lut, Nabi Nuh telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya. 
Karena keingkaran kaumnya yang amat sangat, sehingga mereka tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah, akhirnya ia berdoa kepada Tuhan: 

رب لا تذر على الأرض من الكافرين ديارا 
Artinya: 
Nuh berkata, "Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seseorang di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi". (Q.S Nuh: 26) 
Dan doanya lagi: 

أني مغلوب فانتصر 
Artinya 
"Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh karena itu tolonglah (aku)". (Q.S Al Qamar: 10) 
Akan tetapi doa-doa tersebut diucapkannya setelah 950 tahun lamanya ia melakukan dakwahnya, namun kaumnya tetap juga ingkar dan tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah. 
Menurut riwayat, Nabi Nuh a.s. diutus Allah menjadi Rasul-Nya pada waktu itu ia berusia 40 tahun. pada waktu itulah doa itu diucapkannya. Dan sesudah terjadinya azab Allah berupa angin taufan dan banjir besar Nabi Nuh masih hidup selama 40 tahun. Dengan demikian, maka usianya berjumlah 1050 tahun. 
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah Nuh a.s. mengucapkan doa-doa tersebut maka Allah mengabulkannya, yaitu dengan menimpakan banjir yang amat dahsyat, sehingga air laut meluap tinggi dan membinasakan negeri tersebut bersama orang-orang yang tidak beriman. 
Adapun Nabi Nuh dan keluarganya, serta kaumnya yang beriman, telah diselamatkan Allah dari malapetaka yang dahsyat itu, yaitu dengan, sebuah perahu besar yang disediakan Nabi Nuh terlebih dahulu atas perintah dan petunjuk Allah.

Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.(QS. 21:77)

وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (77) 
Pada ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa Dia telah menurunkan pertolongan kepada Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman terhadap kejahatan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat-Nya, dan tidak menerima bukti-bukti dan keterangan yang disampaikan Rasul-Nya. 
Pada ahkhir ayat ini Allah menerangkan alasan mengapa Dia menolong Nabi Nuh sehingga kaum kafir itu dimusnahkan oleh azab yang dahsyat itu, ialah karena kaumnya itu adalah jahat, baik perkataan maupun perbuatan mereka Mendurhakai Allah, dan menyalahi perintah-perintah-Nya adalah perbuatan jahat kaumnya itu, keturunan demi keturunan. Maka sepantasnyalah mereka menerima balasan dari Allah. 
Kisah-kisah yang dikemukakan dalam Alquran ini haruslah menjadi pelajaran bagi umat manusia, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, baik dari kalangan kaum kafir Quraisy, maupun lain-lainnya. Allah berfirman 

فاعتبروا يا أولي الأبصار 
Artinya: 
Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (Q.S Al Hasyr: 2)

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,(QS. 21:78)

وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (78) 
Pada ayat ini Allah SWT. menerangkan keadaan Daud dan Sulaiman ketika mereka memberi keputusan dalam suatu perkara yang terjadi di antara rakyat mereka. 
Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa sekelompok domba telah merusak tanaman seorang petani pada waktu malam, lalu terjadilah sengketa antara pemilik tanaman dan pemilik domba, dan kemudian mereka datang kepada Daud a.s. untuk minta diadili. Setelah mengadakan pemeriksaan maka Daud a.s. memberi keputusan agar domba-domba itu diserahkan kepada pemilik tanaman, karena dinilainya adalah sama dengan nilai tanaman yang dirusaknya. Sulaiman a.s. yang juga mendengarkan putusan itu mempunyai pendapat yang lain, yang lebih tepat dan lebih adil. Lalu ia berkata dalam majelis tersebut; "Sebaiknya domba-domba itu diserahkan dulu kepada pemilik tanaman sehingga ia dapat mengambil manfaat dari susu, minyak dan bulunya, sementara kebun itu diserahkan kepada pemilik domba untuk diolahnya sendiri. Apabila nanti tanamannya sudah kembali kepada keadaannya seperti sebelum dirusak oleh domba-domba tersebut, maka kebun itu diserahkan kepada pemiliknya, domba-domba itu pun dikembalikan pula kepada pemiliknya. 
Pendapat Sulaiman jelas lebih tepat, karena akhirnya masing-masing dari kedua pihak yang berperkara akan mendapatkan kembali miliknya dalam keadaan utuh. 
Perbedaan pandangan antara mereka dalam mengambil keputusan atas perkara tersebut adalah bahwa Daud a.s. lebih menitik beratkan perhatiannya kepada nilai kerusakan tanaman itu, yang dilihatnya sama dengan nilai domba yang merusaknya lalu ia memutuskan agar domba-domba itu diserahkan sepenuhnya kepada pemilik tanaman. Sedang Sulaiman a.s. lebih menitik beratkan pandangannya kepada manfaat domba dan manfaat tanaman itu, maka ia mengambil keputusan yang demikian itu. Bagaimanapun juga, namun masing-masing mereka mendasarkan keputusannya kepada ijtihad, bukan kepada wahyu, sehingga lahirlah dua keputusan yang berbeda.
Selanjutnya Nabi Daud pun mengakui tepatnya pendapat anaknya itu, sehingga itulah yang ditetapkannya kemudian sebagai keputusannya, dan membatalkan pendapatnya yang semula. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menerangkan bahwa Dia menyaksikan dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Daud dan Sulaiman dalam memeriksa dan memutuskan perkara tersebut, sehingga tidak sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya.

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.(QS. 21:79)

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (79) 
Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada Sulaiman kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami berbagai masalah. 
Hal ini memang telah terbukti dalam keputusan yang mereka berikan kepada masing-masing pihak dalam perkara yang terjadi antara pemilik domba dan pemilik tanaman seperti tersebut di atas, di mana keputusan yang diberikan Sulaiman adalah di rasa lebih tepat, dan lebih memenuhi keadilan. 
Sesudah menyebutkan hal itu, maka Allah menerangkan selanjutnya rahmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka berdua, yaitu hukum-hukum dan ilmu pengetahuan, baik mengenai agama, ataupun masalah duniawi. 
Rahmat seperti itu juga diberikan Allah kepada Nabi-nabi-Nya yang lain karena merupakan syarat pokok untuk menjadi Nabi. 
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan nikmat yang khusus dikaruniakan-Nya kepada Nabi Daud a.s. yaitu: bahwa Allah telah menjadikan gunung-gunung dan burung-burung tunduk kepada Daud a.s. semuanya bertasbih bersamanya. 
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia kuasa untuk memberikan karunia semacam itu kepada hamba-Nya, karena Dialah Pencipta dan Pemilik seluruh alam ini.

Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).(QS. 21:80)

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ (80) 
Pada ayat ini Allah menyebutkan karunianya yang lain, yang diberikannya kepada Daud a.s. yaitu bahwa Daud telah diberi-Nya pengetahuan dan keterampilan dalam kepandaian membuat baju besi Yang dipergunakan orang-orang di zaman itu sebagai pelindung diri dalam peperangan. 
Kepandaian itu dimanfaatkan pula oleh umat-umat yang datang kemudian berabad-abad lamanya. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Daud a.s. itu telah tersebar luas dan bermanfaat bagi orang-orang dan bangsa lain. 
Sebab itu, pada akhir ayat ini Allah mengajukan pertanyaan kepada umat Nabi Muhammad, apakah turut bersyukur atas karunia tersebut? Sudah tentu, semua umat yang beriman kepada-Nya, senantiasa mensyukuri segala karunia yang dilimpahkan-Nya.

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Anbiyaa' 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar