Selasa, 28 Agustus 2012

Maryam 41 - 60

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Maryam
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Maryam 41 - 42 
41. Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.(QS. 19:41)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (41) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (42) 
Pada ayat-ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar ia menerangkan kepada kaum musyrikin Mekah kisah Nabi Ibrahim yang mereka anggap sebagai bapak bangsa Arab dan mereka sendiri adalah anak cucunya dan mendakwahkan bahwa mereka adalah pengikut-pengikut agamanya. Padahal Nabi Ibrahim adalah seorang mukmin seorang kekasih Allah dan seorang Nabi penyembah Tuhan Yang Maha Esa bukan seorang musyrik penyembah berhala. Allah memerintahkan kepada Muhammad agar dia menceritakan kepada mereka ketika Nabi Ibrahim melarang kaumnya menyembah berhala dan berkata kepada bapaknya sebagai berikut, "Mengapakah engkau menyembah berhala-berhala yang tidak dapat mendengar pujianmu ketika engkau menyembahnya, tidak dapat melihat bagaimana khusyuknya engkau menyembahnya, tidak dapat melihat bagaimana engkau dalam melakukan ibadah, tidak dapat menolongmu dan memberikan manfaat barang sedikitpun dan tidak dapat menolak bahaya bila engkau meminta tolong kepadanya". Dengan kata-kata yang lemah lembut dan dapat diterima akal Nabi Ibrahim menyeru bapaknya kepada tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala benda mati yang tidak berdaya. Sedangkan manusia mendengar dan melihat serta dapat memberikan pertolongan, tidaklah patut disembah, apalagi benda mati yang kita buat sendiri, bila kita hendak merusaknya atau menghancurkannya dia tidak berdaya apa-apa untuk mempertahankan dirinya. Benda yang demikian halnya yang tidak mungkin memberikan manfaat atau pertolongan kepada manusia, tidaklah patut menjadi sembahan manusia. Hal ini sesuai dengan perumpamaan yang dijelaskan Allah dalam firman Nya. 

يا أيها الناس ضرب مثل فاستمعوا له إن الذين تدعون من دون الله لن يخلقوا ذبابا ولو اجتمعوا له وإن يسلبهم الذباب شيئا لا يستفيدوه منه ضعف الطالب والمطلوب 
Artinya: 
"Hai manusia! Telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah". (Q.S. Al Hajj: 73)

42. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya:` Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?(QS. 19:42)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (41) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (42) 
Pada ayat-ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar ia menerangkan kepada kaum musyrikin Mekah kisah Nabi Ibrahim yang mereka anggap sebagai bapak bangsa Arab dan mereka sendiri adalah anak cucunya dan mendakwahkan bahwa mereka adalah pengikut-pengikut agamanya. Padahal Nabi Ibrahim adalah seorang mukmin seorang kekasih Allah dan seorang Nabi penyembah Tuhan Yang Maha Esa bukan seorang musyrik penyembah berhala. Allah memerintahkan kepada Muhammad agar dia menceritakan kepada mereka ketika Nabi Ibrahim melarang kaumnya menyembah berhala dan berkata kepada bapaknya sebagai berikut, "Mengapakah engkau menyembah berhala-berhala yang tidak dapat mendengar pujianmu ketika engkau menyembahnya, tidak dapat melihat bagaimana khusyuknya engkau menyembahnya, tidak dapat melihat bagaimana engkau dalam melakukan ibadah, tidak dapat menolongmu dan memberikan manfaat barang sedikitpun dan tidak dapat menolak bahaya bila engkau meminta tolong kepadanya". Dengan kata-kata yang lemah lembut dan dapat diterima akal Nabi Ibrahim menyeru bapaknya kepada tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala benda mati yang tidak berdaya. Sedangkan manusia mendengar dan melihat serta dapat memberikan pertolongan, tidaklah patut disembah, apalagi benda mati yang kita buat sendiri, bila kita hendak merusaknya atau menghancurkannya dia tidak berdaya apa-apa untuk mempertahankan dirinya. Benda yang demikian halnya yang tidak mungkin memberikan manfaat atau pertolongan kepada manusia, tidaklah patut menjadi sembahan manusia. Hal ini sesuai dengan perumpamaan yang dijelaskan Allah dalam firman Nya. 

يا أيها الناس ضرب مثل فاستمعوا له إن الذين تدعون من دون الله لن يخلقوا ذبابا ولو اجتمعوا له وإن يسلبهم الذباب شيئا لا يستفيدوه منه ضعف الطالب والمطلوب 
Artinya: 
"Hai manusia! Telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah". (Q.S. Al Hajj: 73)

43. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.(QS. 19:43)

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) 
Selanjutnya Nabi Ibrahim a.s. mengatakan kepada bapaknya bahwa dia telah diberi ilmu oleh Allah yang belum diketahui oleh bapaknya. Dengan ilmu itu Ibrahim dapat memimpin manusia kepada jalan yang lurus dan membebaskannya dari perbuatan yang merendahkan derajatnya seraya membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Meskipun aku adalah anakmu dan jauh lebih muda tetapi Allah telah menurunkan rahmat-Nya kepadaku dengan memberikan ilmu itu. Aku sangat ingin agar bapak mengikutiku dan dengan demikian aku dapat membawa ke-jalan yang lurus.

44. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.(QS. 19:44)
45. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan `.(QS. 19:45)

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45) 
Wahai bapakku! Janganlah engkau mengikuti ajaran setan yang membawamu kepada menyembah berhala, karena setan itu selalu memperdayakan manusia agar ia tersesat dari jalan yang benar. Sesungguhnya setan itu adalah makhluk yang durhaka kepada Tuhannya, makhluk yang sangat sombong dan takabur, karena itu Allah melaknatnya dan menjauhkannya dari rahmat-Nya. Dan karena setan itu telah dimurkai oleh Allah dia bertekad akan selalu berusaha menyesatkan manusia. Janganlah bapak termasuk golongan orang-orang yang terkena tipu daya setan dan masuk ke dalam perangkapnya. Aku khawatir sekiranya bapak tetap mengikuti ajarannya bapak akan ditimpa kemurkaan Allah seperti kemurkaan yang telah menimpa setan itu dan tentulah bapak akan termasuk golongannya.

46. Berkata bapaknya:` Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama `.(QS. 19:46)

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا (46) 
Bapak Nabi Ibrahim menolak ajakan anaknya yang diucapkan dengan nada lemah lembut itu dengan kata-kata yang keras dan tajam yang membayangkan keingkaran dan kemarahan yang amat sangat. Apakah engkau membenci berhala-berhala yang aku sembah, yang aku muliakan dan yang aku agungkan hai Ibrahim? Apakah engkau tidak menyadari kesalahan pengertianmu? Bukankah berhala-berhala yang aku sembah itu sembahan semua kaummu?. Bukankah tuhan-tuhan yang aku muliakan itu sembahan nenek moyangmu sejak dahulu kala? Apakah engkau telah gila atau kemasukan setan dengan dakwahmu bahwa engkau telah mendapat ilmu dari Tuhan sesungguhnya?. Jika engkau tidak menghentikan seruanmu itu, aku akan melemparmu dengan batu sampai mati atau engkau pergilah dari sisiku bahkan dari negeri ini dan tidak usah kembali lagi. Mendengar bantahan dan jawaban yang amat keras itu hancur luluhlah hati Ibrahim karena dia sangat sayang dan santun kepada bapaknya dan sangat menginginkan agar dia bebas dari kesesatan menyembah berhala dan menerima petunjuk ke jalan yang benar serta mau beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Dia ingin agar dengan beriman itu bapaknya akan mendapat karunia dan rahmat dari Tuhannya. Tetapi apa yang akan dilakukan dan dikatakannya, sedang bapaknya sudah kalap dan mengusirnya dari rumah dan kampung halamannya bahkan tidak menginginkan kembalinya seakan-akan dia bukan anaknya lagi.

47. Berkata Ibrahim:` Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku.(QS. 19:47)

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا (47) 
Tak ada jawaban Ibrahim terhadap bentakan-bentakan bapaknya yang kasar itu kecuali mengucapkan, "Selamat sejahtera atasmu". Aku berdoa agar bapak selalu berada dalam sehat dan afiat. Aku tidak akan membalas kata-kata yang kasar itu dengan kasar pula karena engkau adalah bapakku yang kucintai. Aku tidak akan melakukan sesuatupun yang merugikan atau mencelakakan bapak, biarlah aku pergi dari negeri ini meninggalkan bapak, meninggalkan rumah dan kampung halaman. Aku meminta kepada Tuhan agar bapak diampuni-Nya dan selalu berada dalam naungan rahmat-Nya, mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang membawa kebaikan dan kebahagiaan. Memang Nabi Ibrahim a.s. telah mendoakannya sebagaimana tersebut dalam firman Allah: 

واغفر لأبي إنه كان من الضالين 
Artinya: 
Dan ampunilah bapakku karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. (Q.S. Asy Syu'ara: 86) 
Nabi Ibrahim a.s. yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya karena biasanya di masa yang lalu doanya selalu dikabulkan. Nabi Ibrahim berdoa untuk bapaknya karena dia telah menjanjikan kepadanya akan beriman sebagaimana tersebut dalam firman Allah: 

وما كان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو الله تبرأ منه إن إبراهيم لأواه حليم 
Artinya: 
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya. tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Q.S. At Taubah: 114)

48. Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan daripada apa yang kamu seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku `.(QS. 19:48)

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا (48) 
Selanjutnya Ibrahim berkata kepada bapaknya, aku akan pergi meninggalkanmu, meninggalkan kaummu, meninggalkan berhala-berhala yang kamu sembah. Aku akan pergi dari sini agar aku bebas beribadat kepada Tuhanku yang akan menolongku dan melepaskan aku dari bahaya yang menimpaku, karena semua petunjuk dan nasihatku kamu tolak mentah-mentah bahkan mengancamku dengan ancaman yang mengerikan. Aku akan menyembah dan berdoa hanya kepada Tuhanku saja dan sekali-kali aku tidak akan menyembah selain Dia. 
Menurut riwayat, Ibrahim hijrah ke negeri Syam dan di sana dia menikah dengan Siti Sarah. Aku berharap dengan berdoa dan menyembah Tuhanku bahwa aku tidak akan menjadi orang yang kecewa seperti kamu yang selalu menyembah dan berdoa kepada berhala-berhala itu, tetapi ternyata berhala-berhala itu tidak dapat berbuat sesuatu apapun apalagi akan melaksanakan apa yang kamu minta kepadanya.

49. Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Yaqub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.(QS. 19:49)

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا (49) 
Setelah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan negerinya dan menetap di negeri Syam, dikaruniai Tuhan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Allah mengaruniakan kepadanya anak-anak dan cucu-cucu yang sebahagian dari mereka diangkat Allah menjadi Nabi di kalangan Bani Israel. Allah mengaruniakan kepada Ishak dan Ishak inipun mendapat anak bernama Yakub yang menggantikan kedudukannya sebagai Nabi. Adapun anaknya Ismail yang ditinggalkannya di sekitar Kakbah diangkat pula menjadi Nabi yang telah meninggikan dan menyemarakkan syiar agama di sana. Demikianlah ganjaran Tuhan kepada Nabi Ibrahim yang bersedia meninggalkan bapak, kaum dan tanah airnya demi untuk keselamatan akidahnya dan menyebarkan agama tauhid yang diperintahkan Allah kepadanya. Allah tidak mengabaikan dan tidak menyia-nyiakan bahkan mengganti kesedihan meninggalkan keluarga dan tanah airnya dengan kebahagiaan keluarga dan bertanah air yang baru dan menerima ajaran dan petunjuknya serta memberikan kepadanya anak cucu yang baik-baik yang sebahagiannya menjadi penegak agama Allah bahkan banyak pula yang menjadi Nabi.

50. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.(QS. 19:50)

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا (50) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hampir semua anak-anak dan cucu-cucunya diangkat-Nya menjadi Nabi dan melimpahkan kepada mereka rahmat dan karunia-Nya serta memberkahi hidup mereka dengan kesenangan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Mereka semuanya meninggalkan nama yang baik dan mengharumkan serta meninggikan nama Nabi Ibrahim sehingga diakui kemuliaan dan ketinggiannya oleh semua pihak baik dari kalangan umat Yahudi umat Nasrani maupun kaum musyrikin sendiri. Ini adalah fakta yang nyata bagi terkabulnya doa Nabi Ibrahim seperti tersebut pada ayat: 

واجعل لي لسان صدق في الآخرين 
Artinya: 
Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (Q.S. Asy syu'ara: 84) 
Wajarlah bila Allah mengangkat derajat dan menamakan dia "Khalilullaah' (kesayangan-Nya) seperti tersebut dalam ayat: 

واتخذ الله إبراهيم خليلا 
Artinya: 
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan Nya. (Q.S. An Nisa: 125) 
Dan menjadikan bekas telapak kakinya di waktu membangun Kakbah tempat yang diberkahi dan disunahkan salat di sana seperti tersebut dalam ayat: 

وإذ جعلنا البيت مثابة للناس وأمنا واتخذوا من مقام إبراهيم مصلى 
Artinya: 
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat". (Q.S. Al Baqarah: 125)

51. Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.(QS. 19:51)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (51) 
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar menerangkan kepada kaum musyrikin sedikit kisah mengenai Nabi Musa a.s. dan keutamaan sifat-sifatnya agar Nabi sendiri beserta kaumnya dapat mengetahui bagaimana Allah menghargai dan memuliakannya. Keistimewaan-keistimewaan Nabi Musa a.s. itu di antaranya dia adalah orang yang dipilih Allah dan diikhlaskan-Nya untuk semata-mata menyampaikan dakwah agama tauhid seperti dakwahnya kepada Firaun beserta kaumnya, sebagaimana tersebut pada ayat ini: 

قال يا موسى إني اصطفيتك على الناس برسالاتي وبكلامي فخذ ما آتيتك وكن من الشاكرين 
Artinya: 
Allah berfirman, "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu lebih dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa Risalah Ku dan untuk berbicara langsung dengan Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (Q.S. Al A'raf: 144) 
Allah mengangkatnya sebagai Rasul di samping menjadi Nabi. Perbedaan antara Rasul dan Nabi ialah: Rasul yang mempunyai risalah yang harus disampaikan kepada manusia dan diturunkan kepadanya kitab yang mengandung akidah, hukum-hukum dan sebagainya, sedang Nabi orang yang mendapat wahyu dari Allah tentang agama yang benar dan memberitahukan hal itu kepada manusia tetapi tidak mempunyai risalah yang harus disampaikan kepada manusia dan tidak pula diturunkan kitab kepadanya. Di kalangan Bani Israel banyak Nabi yang tugas mereka hanya memelihara syariat yang dibawa Nabi Musa yang tersebut dalam kitab Taurat, seperti Yusa', Ilyas dan lainnya.

52. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).(QS. 19:52)

وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا (52) 
Di samping itu Allah memanggil Musa a.s. dan berbicara langsung dengan dia di-sebelah kanan bukit Tur yaitu sebuah bukit yang di waktu Tuhan berbicara langsung dengan Musa a.s. bukit itu berada di sebelah kanannya. Di waktu itu Musa sedang menuju ke Mesir dari Madyan untuk menyampaikan dakwahnya kepada Firaun. Di bukit Tur itulah Musa diberitahukan oleh Allah bahwa dia telah diangkat-Nya menjadi Rasul dan menjanjikan kepadanya bahwa dia akan menang dalam menghadapi Firaun yang zalim yang mendakwahkan dirinya sebagai Tuhan; Tuhan juga menjanjikan kepadanya akan menurunkan rahmat kepada keluarga Bani Israel dengan menurunkan kitab Taurat. Allah menerangkan pula bahwa Dia telah mendekatkan Musa kepada-Nya di waktu berbicara itu dengan arti memuliakannya dan memilihnya sebagai Rasul-Nya seakan-akan Musa di waktu itu dekat kepada Tuhan sebagaimana dekatnya seorang raja di waktu berbicara dengan menterinya. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana caranya Tuhan berbicara langsung dengan Musa. Apakah Musa benar-benar mendengar suara ataukah Musa hanya merasa bahwa dia telah berada di alam rohani yang tinggi seakan-akan mendengar wahyu Ilahi. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya, semua itu harus kita serahkan kepada. Allah Yang Maha Kuasa. Kewajiban kita sebagai orang mukmin hanya mempercayai hal yang demikian, karena tidak dikisahkan di dalam Alquran.

53. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.(QS. 19:53)

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا (53) 
Di antara rahmat Allah kepada Musa ialah Allah telah mengabulkan permintaannya agar Harun saudara tuanya diangkat pula menjadi Nabi untuk membantunya dalam menyampaikan risalah Tuhan sebagai tersebut dalam ayat: 

واجعل لي وزيرا من أهلي هارون أخي اشدد به آزري واشركه في أمري 
Artinya: 
Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. (Q.S. Taha: 29-32) 
Dan dalam ayat: 

وأخي هارون هو أفصح مني لسانا فارسله معي ردءا يصدقني إني أخاف أن يكذبون 
Artinya: 
Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya dari padaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku. (Q.S. Al Qasas: 34) 
Sebagai karunia dan rahmat dari Allah kepada Musa Allah memperkenankan permintaan Musa itu seperti tersebut dalam ayat: 

قال قد أوتيت سؤلك يا موسى 
Artinya: 
Allah berfirman, "Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu hai Musa". (Q.S. Taha: 36) 
Mengenai syafaat (pertolongan) Nabi Musa a.s. untuk Nabi Harun ini sebagian Ulama salaf (terdahulu) mengatakan, "Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan syafaat kepada seorang yang lain lebih besar dari syafaat yang diberikan kepada Harun dengan perantaraan Nabi Musa. Menurut riwayat Ibnu Abbas, Harun di waktu itu lebih tua dari Musa sekitar 4 tahun.

54. Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.(QS. 19:54)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Maryam 54 
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) 
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. supaya menceritakan pula sedikit tentang Ismail nenek moyang bangsa Arab yang diangkat Allah menjadi Nabi dan Rasul agar dapat menjadi contoh teladan bagi mereka tentang sifat-sifatnya, kesetiaan dan kejujurannya, ketabahan dan kesabarannya dalam menjalankan perintah Tuhan dan ketaatan serta kepatuhannya. Salah satu di antara sifat yang sangat menonjol pada Ismail ialah menepati janji. Menepati janji adalah sifat yang dipunyai oleh setiap Rasul dan Nabi tetapi sifat ini pada diri Ismail sangat menonjol sehingga Allah menjadikan sifat ini sebagai keistimewaan Ismail. Di antara janji-janji yang ditepatinya walaupun janji itu membahayakan jiwanya ialah kesediaannya disembelih untuk melaksanakan perintah Allah kepada ayahnya Ibrahim yang diterimanya dengan perantaraan mimpi yang senilai dengan wahyu. Tatkala Ibrahim membicarakan dengan dia tentang perintah Allah untuk menyembelihnya, Ismail dengan tegas menyatakan bahwa dia bersedia disembelih demi untuk menaati perintah Allah dan dia akan tabah dan sabar menghadapi maut bagaimanapun perih dan sakitnya. Hal ini tersebut dalam ayat: 

فلما بلغ معه السعى قال يا بني إني أرى في المنام أني اذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين 
Artinya: 
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya-Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Q.S. As Saffat: 102) 
Itulah janji Ismail kepada bapaknya Ibrahim. Janji itu benar-benar ditepati oleh Ismail dan dia menyerahkan dirinya kepada. bapaknya yang telah siap dengan pisau yang tajam untuk menyembelihnya. Ibrahim-pun walau dengan perasaan sangat iba dan kasihan merebahkan Ismail untuk memudahkan penyembelihan dan pisaupun telah ditujukan ke lehernya. Ketika itu Allah memanggil Ibrahim dan mengganti Ismail dengan seekor biri-biri yang besar dan gemuk. Hal ini diceritakan Allah dalam firman-Nya: 

فلما أسلما وتله للجبين وناديناه أن يا إبراهيم قد صدقت الرؤيا إنا كذلك نجزي المحسنين إن هذا لهو البلاء المبين وفديناه بذبح عظيم 
Artinya: 
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (Q.S. As Saffat: 103-107) 
Di samping sifat yang menonjol itu diapun diangkat Allah menjadi Nabi dan Rasul kepada kabilah Jurhum yang menetap di Mekah bersama Ismail dan ibunya. Dia sebagai Rasul ditugaskan oleh Allah menyampaikan risalah yaitu risalah yang dibawa oleh ayahnya Nabi Ibrahim kepada kabilah Jurhum itu. Memang sebelum Nabi Muhammad diutus sebagai Rasul terdapat di-kalangan bangsa Arab orang-orang yang menganut paham tauhid dan besar kemungkinan paham tauhid yang dianut mereka adalah paham yang dibawa dan disampaikan oleh Ismail kepada kaumnya.

55. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.(QS. 19:55)

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) 
Pada ayat ini Allah SWT. menerangkan pula bahwa Ismail selalu menyuruh keluarganya tetap mengerjakan salat dan menunaikan zakat Jelaslah bahwa salat dan zakat itu telah disyariatkan semenjak Nabi Ibrahim karena risalah yang disampaikan oleh Nabi Ismail adalah risalah yang dibawa oleh bapaknya Ibrahim. Meskipun yang diterangkan di sini hanya mengenai keluarganya tetapi perintah itu mencakup seluruh kaumnya karena Rasul itu diutus bukan untuk keluarga semata tetapi diutus untuk semua umatnya. Nabi Muhammad sendiri pada mulanya hanya disuruh menyampaikan ajaran Islam kepada keluarganya dan kemudian baru diperintahkan mengajak seluruh manusia mengikuti ajaran yang dibawanya, Hal ini terdapat dalam firman Allah: 

وانذر عشيرتك الأقربين 
Artinya: 
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S. Asy syu'ara: 214) 
Dan firman-Nya: 

وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها 
Artinya: 
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (Q.S. Taha: 132) 
Kemudian Allah menerangkan bahwa Ismail itu adalah orang yang diridai Allah karena dia tidak pernah lalai menaati perintah Tuhannya, dan selalu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

56. Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.(QS. 19:56)
57. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.(QS. 19:57)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (56) وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (57) 
Pada kedua ayat ini Nabi Muhammad diperintahkan supaya menerangkan pula sekelumit berita tentang Nabi Idris. Para ahli ilmu keturunan mengatakan bahwa Nabi Idris adalah nenek Nabi Nuh as. Menurut riwayat yang termashur ia adalah nenek bapak Nabi Nuh. Ia adalah orang yang pertama-tama menyelidiki ilmu bintang-bintang dan ilmu hisab, sebagai salah satu mukjizat yang dibenarkan Allah kepadanya. Ia adalah Rasul pertama yang diutus Allah sesudah Adam a.s. dan diturunkan kepadanya kitab yang terdiri atas tiga puluh lembar. Ia dianggap pula sebagai orang yang mula-mula menciptakan timbangan dan takaran, pena untuk menulis, pakaian berjahit sebagai ganti pakaian kulit binatang dan senjata untuk berperang. Banyak sekali riwayat yang menceritakan dengan panjang lebar tentang Nabi Idris ini, kita cukupkan saja sedemikian. Allah menerangkan pada ayat ini bahwa Idris adalah seorang yang beriman membenarkan kekuasaan dan ke Esaan Allah SWT. dan diangkat-Nya menjadi Nabi dan meninggikan derajatnya ke tingkat yang paling tinggi, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun di dunia ialah dengan diterimanya risalah yang dibawanya oleh kaumnya dan keharuman namanya di kalangan umat manusia. Hal ini sama dengan karunia Allah kepada Nabi Muhammad seperti tersebut dalam firman Allah: 

ورفعنا لك ذكرك 
Artinya: 
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu (Q.S. Alam Nasrah: 4) 
Di akhirat nanti ia ditempatkan di surga pada tempat yang paling tinggi dan mulia, tempat para Nabi dan para Shiddiqin seperti tersebut dalam ayat: 

ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا 
Artinya: 
Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para Sadiqin orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S. An Nisa: 69)

58. Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.(QS. 19:58)

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا (58) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa para Nabi dan Rasul yang telah disebutkan namanya pada ayat-ayat yang lalu mereka itulah orang-orang yang telah diberi karunia dan nikmat oleh Allah dengan meninggikan derajat mereka dan mengharumkan nama mereka di kalangan umat manusia. Pada umumnya semua Nabi dan Rasul mendapat karunia seperti itu semenjak dari Nabi Adam bapak pertama sampai kepada Nabi Nuh bapak kedua, sampai kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya termasuk Ishak, Yakub, Ismail, Musa Harun, Zakaria, Isa dan semua orang pilihan-Nya, semua orang itu mempunyai suatu sifat yang jarang dipunyai oleh orang-orang lain yaitu apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah mereka tersungkur sujud dan menangis dan merendahkan diri karena mengingat kebesaran Allah. Mereka adalah manusia yang penuh takwa, sangat tajam pendengaran dan perasaan mereka bila mendengar nama Allah dan bergetar hati mereka bila dibacakan ayat-ayat-Nya tidak memiliki kata-kata yang akan mereka ucapkan untuk melukiskan apa yang terasa dalam hati sehingga meneteskan air mata di pipi mereka dan tersungkur bersujud ke hadirat Allah Yang Maha Besar Maha Kuasa dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikianlah sifat yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul itu dan wajarlah bila Allah memberikan kepada mereka karunia dan nikmat yang besar. Hal ini disebutkan pula dalam firman Allah: 

إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون 
Artinya: 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al Anfal: 2) 
Abbas berkata: 
إذا قرأتم سجدة سبحان فلا تعجلوا بالسجود حتى تبكوا فإن لم تبك عين أحدكم فليبك قلبه 
Artinya: 
Apabila kamu membaca "Sajdata Subhana" maka janganlah kamu cepat-cepat sujud sebelum kamu menangis lebih dahulu. Jika matamu tidak bisa menangis maka hendaklah hatinya menangis.

59. Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,(QS. 19:59)

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa banyak di-antara orang-orang datang kemudian sesudah meninggalnya para Nabi dan Rasul yang disebutkan pada ayat-ayat yang lalu, menyimpang dari jalan yang lurus, meninggalkan ajaran yang dibawa para Rasul sebelumnya sehingga mereka tidak lagi mengerjakan salat dan selalu memperturutkan kehendak hawa nafsu dan dengan terang-terangan melanggar larangan Allah seperti meminum minuman keras, berjudi, berzina, dan mengadakan persaksian palsu. Mereka ini diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras, kepada mereka akan ditimpakan kecelakaan dan kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Sehubungan dengan ayat ini Abu Said Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berkata: 

يكون خلف من بعد ستين سنة اضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غيا ثم يكون خلف يقرءون القرآن لا يعد وترا فيهم ويقرأ القرآن ثلاثة مؤمن ومنافق وفاجر 
Artinya: 
"Akan datang suatu generasi sesudah enam puluh tahun, mereka melalaikan salat dan memperturutkan hawa nafsu, maka orang-orang ini akan menemui kecelakaan dan kerugian. Kemudian datang lagi suatu generasi, mereka membaca Alquran tetapi hanya di kerongkongan (mulut) saja (tidak masuk ke hati) dan semua membaca Alquran, orang mukmin, orang munafik dan orang-orang jahat dan fasik (tidak dapat lagi dibedakan mana orang mukmin sejati dan mana orang yang berpura-pura beriman)". (H.R. Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim) 
Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (sebagai tersebut di atas). 
Uqbah bin `Amir meriwayatkan pula bahwa aku mendengar Rasulullah berkata: 

سيهلك أمتي أهل الكتاب وأهل اللبن قلت يا رسول الله ما أهل الكتاب قال قوم يتعلمون الكتاب يجادلون به الذين آمنوا قلت وما أهل اللبن قال قوم يتبعون الشهوات ويضيعون الصلوات. 
Artinya: 
"Akan rusak binasalah sebahagian dari umatku yaitu "Ahlul Kitab" dan "Ahlullaban" Aku bertanya siapakah "Ahlul Kitab" wahai Rasulullah? Mereka ialah orang-orang yang mempelajari Alquran untuk berdebat dengan orang-orang mukmin. Lalu siapa pula "Ahlullaban" itu? Rasulullah menjawab, mereka ialah orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu dan meninggalkan salat". (H.R. Ahmad dan Hakim) 
Demikian nasib orang-orang yang melalaikan salat dan memperturutkan hawa nafsu dan menyia-nyiakannya, mereka pasti merugi meskipun yang mereka derita tidak dapat dilihat dengan mata dan pasti akan menerima balasan yang setimpal di akhirat kelak. Di sini tampak dengan jelas bahwa salat yang telah menjadi syariat semenjak Nabi Ibrahim adalah amat penting sekali dan tidak boleh disia-siakan apalagi ditinggalkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: 

الصلاة عماد الدين فمن أقامها فقد أقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين. 
Artinya: 
"Salat itu adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya maka ia telah menegakkan agama dan siapa yang meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama". (H.R. Baihaki)

60. kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,(QS. 19:60)

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا (60) 
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang tersebut pada ayat 59 bila mereka bertobat dan kembali mengerjakan amal yang saleh maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan akan dimasukkan ke dalam surga dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Adil Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Meskipun seseorang telah berlarut-larut terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan karena tertipu dan terpedaya dengan kelezatan duniawi yang fana, tetapi bila mereka insaf dan kembali ke jalan yang benar dan bertobat kepada Allah sebenar-benar tobat Allah akan menerima tobat mereka dengan ketentuan dan syarat-syarat yang diterangkan pada ayat-ayat lain.


Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Maryam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar