Kamis, 30 Agustus 2012

Al-Hajj 41 - 60

SURAH AL-HAJJ
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -HAJJ>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=22
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(QS. 22:41)

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (41) 
Kemudian Allah SWT menerangkan sifat-sifat orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar itu. Mereka ialah para sahabat beserta Nabi Muhammad saw, yang kepada mereka Allah telah menjanjikan kemenangan. Jika kemenangan telah mereka peroleh, mereka tidak seperti orang-orang musyrik dan orang-orang yang gila kekuasaan itu tetapi mereka akan melaksanakan: 
1. Mereka tetap mendirikan salat pada setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Mereka benar-benar telah yakin, bahwa salat itu tiang agama, merupakan tali penghubung yang langsung antara Allah dengan hamba-Nya, menyucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar serta merupakan perwujudan takwa yang sebenarnya. 
2. Mereka menunaikan zakat Mereka meyakini bahwa di dalam harta si kaya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin. Karena itu mereka dalam menunaikan zakat itu bukanlah karena mereka mengasihi orang-orang fakir dan miskin, tetapi semata-mata untuk menyerahkan hak orang fakir dan miskin itu kepada mereka Jika mereka diangkat sebagai penguasa, mereka berusaha agar hak orang-orang fakir dan miskin itu benar-benar sampai kepada mereka. 
3. Menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar. Mereka mendorong manusia mengerjakan amal saleh, memimpin manusia malalui jalan lurus yang dibentangkan Allah. Mereka sangat benci kepada orang-orang yang biasa mengerjakan larangan-larangan Allah. 
Amat benarlah janji Allah. Mereka memperoleh kemenangan yang telah dijanjikan itu. Mereka ditetapkan Allah sebagai pengurus urusan duniawi dan pemimpin umat beragama dengan baik. Dalam waktu yang singkat kaum Muslimin telah dapat menguasai daerah-daerah di luar Jaziratul Arab. 
Tindakan mereka sesuai dengan firman Allah SWT: 

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو آمن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون 
Artinya: 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Ali Imran: 110).

Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, Aad dan Tsamud,(QS. 22:42)
dan kaum Ibrahim dan kaum Luth,(QS. 22:43)
dan penduduk Mad-yan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu).(QS. 22:44)

Surah Al Hajj 42 - 44 
وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَثَمُودُ (42) وَقَوْمُ إِبْرَاهِيمَ وَقَوْمُ لُوطٍ (43) وَأَصْحَابُ مَدْيَنَ وَكُذِّبَ مُوسَى فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ (44) 
Ayat-ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan hati para sahabat yang sedang susah dan gundah akibat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan orang-orang musyrik Mekah terhadap mereka. Seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada Nabi Muhammad saw Hai Muhammad, jika orang-orang musyrik Mekah mendustakan engkau, tidak mengindahkan bahkan menentang seruan Engkau, berusaha berbuat kerusakan di muka bumi, menyakiti dan menyiksa para sahabatmu dengan cara yang beraneka ragam, janganlah kamu bersedih hati janganlah putus asa dan kuatkanlah hatimu dalam menghadapi mereka, karena umat-umat dahulupun telah mendustakan para Rasul yang diutus kepada mereka, tetapi Aku memberikan pertolongan kepada mereka, sehingga kemenangan akhir berada pada mereka. 
Allah SWT berfirman: 

حتى إذا استيئس الرسل وظنوا أنهم قد كذبوا جاءهم نصرنا فنجي من نشاء ولا يرد بأسنا عن القوم المجرمين 
Artinya: 
Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa (Q.S. Yusuf: 110) 
Demikianlah Nuh as telah didustakan oleh kaumnya, mereka mengancam dan mendurhakainya, termasuk pula di dalamnya anaknya sendiri. Nabi Nuh as telah didustakan pula oleh kaumnya, yaitu kaum 'Ad, Nabi Saleh oleh kaumnya, yaitu kaum Samud, begitu pula Ibrahim, Lut, Syuaib. Semuanya didustakan oleh kaumnya, disakiti dan disiksa, tetapi mereka tetap tabah dan sabar. Semakin terasa siksa dan halangan dari kaumnya, semakin bertambah kuat pula iman mereka. Akhirnya kemenangan berada di pihak mereka. 
Musa as telah didustakan oleh Firaun dan kaumnya, mereka tidak mempercayai semua mukjizat yang diperlihatkan Musa, sekalipun mereka tidak dapat mengalahkan Musa as atau melakukan seperti mukjizat Nabi Musa itu. Karena mereka tetap ingkar, maka berlakulah Sunah Allah bagi mereka, yaitu Allah SWT menolong orang-orang yang beriman dan menghancurkan semua orang kafir yang durhaka kepada-Nya, pada saat yang telah ditentukan-Nya. 
Perhatikanlah sejarah umat-umat yang dahulu yang menentang para Rasul yang diutus kepada mereka, akhirnya semua ditimpa malapetaka yang dahsyat, sehingga kesombongan, kegembiraan dan kesenangan yang ada pada mereka beralih seketika menjadi kesedihan dan kesengsaraan yang tiada taranya Kemudian setelah mengalami malapetaka yang dahsyat itu, di akhirat nanti mereka akan ditimpa azab yang tiada terperikan. Mengubah suatu kemewahan dan kesenangan menjadi suatu kesengsaraan dan penderitaan, suatu kemenangan kepada suatu kekalahan dalam waktu yang sangat singkat amatlah mudah bagi Allah yang Maha Kuasa lagi Maha bijaksana melakukannya. 
Allah berfirman: 

إن بطش ربك لشديد 
Artinya: 
"Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras". (Q.S. Al Buruj: 12) 
Dan firman Allah SWT: 

وكذلك أخذ ربك إذا أخذ القرى وهي ظالمة إن أخذه أليم شديد 
Artinya: 
Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Q.S. Hud: 102) 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Hajj 42 
وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَثَمُودُ (42) 
(Dan jika mereka mendustakan kamu) ayat ini mengandung makna yang menghibur hati Nabi saw. (maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh) lafal Qaum dimuannatskan karena memandang dari segi maknanya (Ad) yakni kaum Nabi Hud (dan Tsamud) kaum Nabi Saleh.

Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi,(QS. 22:45)

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ (45) 
Ayat ini menerangkan bahwa banyak negeri yang telah dibinasakan Allah, karena penduduknya memperserikatkan Allah, membuat kerusakan di muka bumi dan berlaku zalim. Banyak negeri yang dihancur luluhkan, atap-atap rumahnya roboh, kemudian ditimpa oleh reruntuhan dinding-dindingnya. Banyak sumur-sumur yang tidak dipergunakan lagi oleh pemiliknya disebabkan para pemiliknya telah mati atau musnah bersama-sama dengan musnahnya negeri-negeri itu, karena kedurhakaan mereka kepada Allah. Demikian pula banyak istana-istana dan mahligai-mahligai menjulang tinggi yang telah kosong, tidak berpenghuni lagi, karena penghuni-penghuninya yang angkuh dan sewenang-wenang itu telah musnah. Semuanya itu bagi mereka merupakan imbalan dari kedurhakaan dan keganasan mereka dan menjadi pelajaran yang berharga, bagi manusia yang datang kemudian, yang ingin memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat.

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.(QS. 22:46)

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (46) 
Orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkari seruan Nabi Muhammad saw sebenarnya mereka sering melakukan perjalanan antara Mekah dan Syria, serta ke negeri-negeri yang berada di sekitar Jaziratul Arab membawa barang dagangan dalam perjalanan, mereka itu telah melihat bekas-bekas negeri umat-umat yang dahulu yang telah dihancurkan Allah, seperti bekas-bekas negeri kaum 'Ad dan kaum Samud, bekas negeri kaum Lut dan kaum Syuaib dan sebagainya. Orang-orang musyrik Mekah telah pula mendengar kisah negeri kaumnya yang durhaka itu. Apakah semua peristiwa dan kejadian itu tidak mereka pikirkan dan renungkan bahwa tindakan mereka mengingkari seruan Muhammad dan menyiksa para sahabat itu sama dengan tindakan-tindakan umat-umat dahulu terhadap para Rasul yang diutus kepada mereka?. jika tindakan itu sama, tentu akibatnya akan sama pula, yaitu mereka akan memperoleh malapetaka dan azab yang keras dari Allah. Allah SWT Maha Kuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tidak seorangpun yang sanggup menghalanginya. 
Melihat sikap orang-orang musyrik Mekah yang demikian itu ternyata bahwa mata mereka tiadalah buta, karena mereka dapat melihat bekas-bekas negeri kaum yang durhaka itu, tetapi sebenarnya hati merekalah yang telah buta, telah tertutup untuk menerima kebenaran. Yang menutup hati mereka itu ialah pengaruh adat kebiasaan dan kepercayaan yang mereka pusakai dari nenek moyang mereka dahulu, oleh karena itu mereka merasa dengki kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, sehingga mereka tidak dapat lagi memikirkan dan merenungkan segala macam peristiwa duka yang telah terjadi dan menimpa umat-umat yang dahulu itu.

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun yang kamu hitung.(QS. 22:47)

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (47) 
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah itu, mengingkari seruan Nabi Muhammad saw, tidak percaya kepada adanya hari kiamat, mereka meminta kepada Nabi Muhammad saw agar kepada mereka ditimpakan pula azab seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat yang dahulu. Permintaan itu mereka lakukan, karena yakin bahwa azab itu tidak akan datang. 
Permintaan mereka dijawab Allah bahwa azab yang mereka minta itu pasti datang, karena hal itu merupakan sunatullah. Allah sekali-kali tidak akan memungkiri janji-Nya. Hanya saja azab itu didatangkan kepada mereka menurut waktu yang telah ditentukan Allah, tidak menurut waktu yang mereka kehendaki. Waktu kedatangan azab itu hanya Allah sajalah yang mengetahuinya, sebagaimana waktu kedatangan azab kepada umat-umat yang dahulu, yang datang secara tiba-tiba, tanpa diketahui oleh seorangpun dari mana dan kapan akan datang azab itu. 
Sebagaimana firman Allah SWT: 

أفآمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون أو آمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون أفآمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون 
Artinya: 
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (Q.S. Al A'raf: 97-98) 
Jika orang-orang musyrik Mekah merasa bahwa telah lama masa berlalu, tetapi azab yang dijanjikan itu belum datang, sehingga mereka berpendapat bahwa azab itu tidak akan datang lagi, maka hendaklah mereka ingat bahwa seribu tahun menurut perasaan mereka adalah sama dengan sehari di sisi Allah. Karena itu hendaklah mereka ingat bahwa Allah SWT pasti menepati janji-Nya setelah berjalan waktu yang lama itu menurut perasaan mereka. Allah SWT melambatkan kedatangan azab itu bukanlah berarti bahwa Dia telah menyalahi janji yang telah dijanjikan-Nya itu.

Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku-lah kembalinya (segala sesuatu).(QS. 22:48)

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ (48) 
Allah SWT melakukan segala sesuatu itu sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Dalam pada itu manusia juga harus ingat akan salah satu dari sifat-sifat Allah, yaitu Dia tidak segera mengazab hamba-hamba-Nya yang berdosa, tetapi setelah memberi kesempatan bertobat kepada mereka dengan beriman dan beramal saleh. Apabila kesempatan bertobat itu tidak juga digunakan oleh hamba, barulah mereka ditimpa azab yang dijanjikan itu. Karena 1w berapalah banyaknya negeri yang penduduknya berlaku zalim, tetapi setelah beberapa lama. mereka tidak bertobat, bahkan bertambah zalim barulah Allah menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba dari arah yang tidak mereka ketahui. Hendaklah manusia ingat, bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah kepunyaan Allah, termasuk apa yang ada di dalamnya. semuanya akan kembali kepada Allah, Pemiliknya itu. Di waktu kembali kepada-Nya itu, ditimbanglah seluruh amal perbuatan mereka, amal baik dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang amal buruk dan perbuatan jahat akan dibalas dengan neraka yang menyala-nyala.

Katakanlah:` Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu `.(QS. 22:49)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (49) 
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada orang-orang yang minta disegerakan datangnya azab yang akan menimpa mereka itu bahwa menimpakan azab itu bukanlah tugas para Rasul. Tugas para Rasul hanyalah menyampaikan peringatan dan ancaman Allah kepada manusia, termasuk di dalamnya mereka sendiri. Dan juga menyampaikan bahwa tindakan-tindakan yang telah dilakukan orang-orang musyrik itu telah membawa mereka ke ambang pintu azab yang dijanjikan itu. 
Para Rasul tidak berwenang menilai perbuatan hamba dan memberi taufik itu hanyalah Allah sendiri. Allah berfirman: 

ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء 
Artinya: 
"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya". (Q.S. Al Baqarah: 272) 
Seandainya Allah SWT berkehendak menimpakan azab yang dijanjikan itu, tentu Dia telah melakukannya, dan melakukannnya itu adalah mudah bagi-Nya, karena itu janganlah sekali-kali meminta kepada Rasul agar azab itu disegerakan atau ditangguhkan, karena semuanya itu adalah wewenang Allah SWT. 
Dengan adanya penyampaian ancaman dan peringatan itu, tentulah manusia yang hatinya mungkin terbuka untuk menerima petunjuk Allah, mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri dari azab Allah yang diancamkan itu, yaitu dengan melakukan semua yang diperintahkan Allah, menghentikan semua yang dilarang dan berusaha menghapuskan segala dosanya dengan mengerjakan amal yang saleh. Jika mereka tetap dalam kekafiran, tentulah Allah akan melaksanakan ancaman-Nya itu kepada mereka dengan menimpakan azab yang pedih kepada mereka.

Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia.(QS. 22:50)

فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (50) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bentuk peringatan dan ancaman itu dengan menyebutkan balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman, dan ancaman siksa bagi orang-orang yang kafir, dengan mengatakan "orang-orang yang beriman dengan arti yang sebenarnya dan perwujudan imannya itu tampak dalam tindakannya mengerjakan amal-amal yang saleh, maka Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya, membalasi perbuatan baik mereka dengan pahala yang berlipat ganda dan rezeki yang mulia. Di akhirat nanti mereka akan dimasukkan ke dalam Surga. Dalam surga itu mereka akan memperoleh semua yang mereka inginkan, sebagaimana firman Allah SWT: 

ادخلوا الجنة أنتم وأزواجكم تحبرون يطاف عليهم بصحاف من ذهب وأكواب وفيها ما تشتهيه الأنفس وتلذ الأعين وأنتم فيها خالدون 
Artinya: 
Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya". (Q.S. Az Zukhruf: 70-71) 
Bahkan dalam hadis diterangkan bahwa di dalam surga itu terdapat kesnangan dan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan oleh manusia semasa hidup di dunia sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: 

فيها ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر. 
Artinya: 
Di dalam surga itu terdapat apa yang belum pernah dilihat mata, dan apa yang belum pernah di dengar telinga, dan apa yang belum pernah tergores di dalam hati. (H.R. Tabrani).

Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka.(QS. 22:51)

وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (51) 
Adapun orang-orang yang tetap berusaha menentang para Rasul, ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka, dan itulah tempat yang paling buruk yang disediakan Allah untuk mereka, Allah SWT berfirman: 

الذين كفروا وصدوا عن سبيل الله زدناهم عذابا فوق العذاب بما كانوا يفسدون 
Artinya: 
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (Q.S. An Nahl: 88)

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,(QS. 22:52)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) 
Dalam ayat ini Allah SWT seakan-akan memperingatkan orang-orang yang beriman akan usaha-usaha yang dilakukan oleh setan, baik setan dalam bentuk jin, maupun setan dalam bentuk manusia untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. 
Di antara usaha-usaha setan itu ialah apabila Rasul membicarakan ayat-ayat Allah, atau menjelaskan dan menyampaikan syariat yang dibawanya kepada para sahabatnya, maka bangunlah setan-setan itu dan berusahalah mereka memasukkan ke dalam hati para pendengar sesuatu tafsiran yang salah, sehingga mereka meyakini bahwa ayat-ayat atau syariat yang disampaikan Rasul itu, bukan berasal dari Allah, tetapi semata-mata ucapan Rasul saja, yang dibuat-buat untuk meyakinkan manusia akan kenabian dan kerasulannya. Ada pula di antara setan-setan itu menyisipkan tafsir yang salah terhadap ayat-ayat itu, sehingga tanpa disadari oleh para pendengar, mereka telah menyimpang dengan tafsir itu sendiri dari maksud ayat yang sebenarnya. 
Usaha setan itu tidak saja dilakukan terhadap Alquran dan hadis-hadis Nabi, tetapi juga telah dilakukannya terhadap agama dan kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para Rasul. Usaha-usaha setan itu ada yang berhasil. Hal ini akan ternyata bila dipelajari dengan sungguh-sungguh sejarah agama yang dibawa para Rasul dan sejarah kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada mereka. Telah banyak dimasukkan oleh setan ke dalam agama-agama itu sesuatu yang dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah. Yang disisipkan itu bukan saja hal yang ringan dan bukan prinsip, tetapi banyak pula yang telah berhasil disisipkan itu sesuatu yang dapat merubah azaz dan pokok agama itu, Allah SWT berfirman: 

يحرفون الكلم عن مواضعه ونسوا حظا مما ذكروا به ولا تزال تطلع على خائنة منهم إلا قليلا منهم 
Artinya: 
Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat). (Q.S. Al Maidah: 13) 
Agama yang diturunkan Allah kepada para Rasul dahulu yang telah banyak dicampuri oleh perbuatan setan, di antaranya ialah agama Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Isa a.s. 
Dalam sejarah kaum Muslimin setelah Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang terdekat meninggal dunia, nampak dengan jelas usaha-usaha untuk merusak dan merubah agama Islam itu. Sekalipun mereka tidak berhasil dalam usaha untuk merubah, menambah atau mengurangi ayat-ayat Alquran, karena Alquran itu dipelihara oleh Allah SWT, tetapi mereka hampir saja berhasil memasukkan hadis-hadis palsu ke dalam kumpulan hadis-hadis Nabi. Di samping itu juga mereka hampir berhasil menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan tafsir atau takwil yang jauh. 
Di samping usaha-usaha mereka untuk merusak ayat-ayat suci Alquran, hadis Nabi dan syariat Islam, mereka juga berusaha untuk merusak hidup dan kehidupan manusia, seperti jika seorang mencita-citakan adanya sesuatu kebaikan pada dirinya, maka ditimbulkanlah oleh setan di dalam diri dan pikiran orang itu pendapat atau keyakinan bahwa citacita yang ingin dicapai itu sulit memperolehnya, amat banyak halangan dan rintangannya, sehingga timbul pada diri dan kemauan orang itu rasa takut dan rasa tidak sanggup mencapai cita-cita yang baik itu. 
Mengenai Alquran banyak sekali usaha-usaha untuk meniru-nirunya, memasukkan tafsir dan takwilan yang salah ke dalamnya, memasukkan khurafat-khurafat dan sebagainya, namun semua usaha itu mengalami kegagalan. Hal ini sesuai dengan jaminan Allah terhadap pemeliharaan Alquran itu, Allah SWT berfirman: 

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون 
Artinya: 
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. Al Hijr: 9) 
Jika diperhatikan sejarah Alquran, amat banyaklah cara yang dilakukan Allah dalam pemeliharaan Alquran itu, di antaranya ialah: Di masa Rasulullah masih hidup, maka setiap ayat-ayat Alquran diturunkan beliau menyuruh menuliskan dan menghafalnya. 
1. Tidak lama setelah Rasulullah saw meninggal dunia, seluruh Alquran telah dapat dikumpulkan dan ditulis pada lembaran-lembaran yang kemudian diikat dan disimpan oleh Abu Bakar, kemudian oleh Umar, kemudian oleh Hafsah binti Umar. Di masa Usman Alquran yang ditulis pada lembaran-lembaran itu dibukukan. Buku atau kitab Alquran dinamai "Mushaf". Ada lima buah mushaf yang ditulis di masa Usman itu. Dari mushaf yang lima itulah kaum Muslimin di seluruh dunia Islam di masa itu menyalin Alquran. 
2. Mendorong dan menambah semangat orang-orang yang berilmu, agar mereka memperdalam ilmunya. Dengan kemampuan iimu yang ada padanya itu, ia dapat mempertahankan kemurnian Alquran dari segala macam subhat dan penafsiran yang salah yang ingin dimasukkan ke dalamnya. 
3. Sejak masa Nabi saw sampai saat ini, setiap masa selalu ada omng yang hafal seluruh Alquran, sehingga sukar dilakukan penyisipan-penyisipan ke dalamnya. Bahkan kesalahan tulisan yang sedikit saja pada ayat-ayat Alquran telah dapat menimbulkan reaksi yang kuat dari kalangan kaum Muslimin. 
Dalam setiap periode dalam sejarah Islam, selalu ada tokoh-tokoh ulama yang sanggup membela dan mempertahankan ajaran Islam dari serangan yang datang dari luar Islam yang beraneka ragam bentuknya. 
Pada saat-saat banyak timbul usaha-usaha pemalsuan hadis pada permulaan abad kedua hijriyah, tampillah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau berusaha mengumpulkan dan membukukan hadis-hadis Nabi saw yang masih berada dalam hafalan para tabiin, dan sebagian telan dituliskan oleh para sahabat. Beliau memerintah para pejabat di daerah-daerah, dan para ulama agar mengumpulkan hadis-hadis Nabi di daerah mereka masing-masing. Di antara para ulama itu ialah Imam Zuhri. Maka oleh Imam Zuhri ini dikumpulkan hadis-hadis Nabi itu. Sekalipun pada masa itu belum lagi dilakukan penelitian dan pemisahan hadis-hadis mana yang palsu dan mana yang benar-benar berasal dari Nabi, tetapi usaha ini merupakan landasan dan dasar bagi usaha-usaha yang akan dilakukan oleh para Imam hadis yang datang kemudian sesudah angkatan Zuhri ini, seperti Imam Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud dan lain-lain. Imam-imam inilah yang melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang telah dikumpulkan di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu. 
Demikian pula Imam Asy'ari telah berhasil mempertahankan kemurnian ajaran Islam dari pengaruh filsafat Yunani yang banyak dipelajari oleh ulama-ulama Islam waktu itu. Kemudian Al Gazali telah berhasil pula mempertahankan ajaran Islam dari pengajaran atau pengaruh yang kuat dari filsafat Neoplatonisme. Ibnu Taimiyah telah membersihkan ajaran Islam dari khurafat-khurafat yang dimasukkan oleh pengikut-pengikut yang fanatik kepada Imam-imam Mazhab pada masa-masa kemunduran pengetahuan Islam. Pada abad keduapuluh ini terkenal syeikh Muhammad Abduh yang telah berjasa memhersihkan ajaran Islam dari pengaruh kebudayaan dan imperialisme Barat. 
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Termasuk yang diketahui Allah, ialah segala macam bentuk usaha setan untuk merusak dan merubah ajaran Islam, semua yang tergores di dalam hati manusia, semua yang nampak dan semua yang tersembunyi. Dengan pengetahuan-Nya itu pula Dia melumpuhkan tipu daya setan yang ingin merusak agama-Nya, kemudian menimpakan pembalasan yang setimpal bagi mereka itu.

agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,(QS. 22:53)

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (53) 
Allah SWT memberikan kesempatan kepada setan-setan itu beserta pengikut-pengikutnya untuk memperdayakan manusia dengan menambah pengertian yang salah dalam ayat-ayat Alquran dan dalam agama Islam agar perbuatan mereka itu menjadi cobaan bagi manusia, terutama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang yang ingkar dan sesat hatinya serta orang-orang munafik, maka godaan setan itu menambahkan sesat dan menimbulkan penyakit dalam hatinya, sehingga kekafiran dan kemunafikan mereka bertambah. 
Sedang orang-orang yang kuat imannya, maka setiap godaan setan yang datang kepadanya itu menambah kuat imannya. Orang-orang yang sesat hatinya dan ada penyakit di dalamnya, benar-benar dalam keadaan bermusuhan dengan Allah dan telah amat jauh menyimpang dari jalan yang benar, karena itu sukar bagi mereka kembali ke jalan yang benar mereka tidak dapat lagi mengharapkan keridaan Allah dan tidak akan lepas dari siksaan Allah.

dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al quran itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.(QS. 22:54)
Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al quran, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.(QS. 22:55)
Surah Al Hajj 54 - 55 
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِي الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (54) وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ (55) 
Allah SWT melakukan yang demikian itu agar orang-orang yang berilmu pengetahuan mengetahui dan merenungkan segala macam hukum yang telah ditetapkan Allah, pokok-pokok Sunatullah, segala macam subhat dan penafsiran ayat-ayat dengan cara yang salah yang dibuat oleh setan dan pengikut-pengikutnya itu. Dengan pengetahuan dan pengalaman itu diharapkan iman mereka bertambah, meyakini bahwa Alquran itu benar-benar berasal dari Allah SWT. Dan mereka meyakini bahwa Allah SWT menjamin keaslian Alquran dari campur tangan manusia di dalamnya dan dari kemasukan subhat dan penafsiran yang salah itu. 
Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman yang telah dapat membedakan antara yang benar dan yang batal, antara iman dan kufur itu menundukkan dan menyerahkan diri kepada Allah. membaca ayat-ayat Alquran dengan sungguh-sungguh, melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya, menghentikan segala larangan-Nya, baik yang berhubungan dengan ibadat, muamalat, budi pekerti, hukum dan tata cara bergaul dalam kehidupan masyarakat. 
Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia benar-benar akan memberi petunjuk dan taufik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengikuti semua Rasul. Petunjuk dan taufik yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dilakukan dengan bermacam cara. Ada dengan cara yang langsung dan ada pula dengan cara yang tidak langsung, yang kadang-kadang manusia sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah menerima petunjuk itu. 
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. banyak didapati saat-saat Allah memberikan petunjuk yang langsung kepadanya. Di antaranya petunjuk-petunjuk Allah kepadanya baik berupa ayat-ayat yang diturunkan maupun berupa hadis-hadis yang diilhamkan kepada beliau. Di antara contoh-contohnya ialah sebagai berikut: 
Imam Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat Nabi yang buta lagi miskin, pada suatu hari ia datang menghadap Nabi dan ia berkata, "Yah Rasulullah, bacakan dan ajarkanlah kepadaku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu". Ia mengulang perkataan itu tiga kali. Waktu Ibnu Ummi Maktum bertanya itu Rasul saw sedang menerima pembesar Quraisy, yaitu Walid Ibaul Mugirah dan konon musuh umat Islam, sedang Ibnu Ummi Maktum tidak melihat dan mengetahui pula bahwa Rasulullah sedang sibuk menerima tamu-tamunya itu. karena itu Rasulullah saw merasa kurang senang dengan permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, maka beliau menjadi marah dan berpaling dari padanya. Sikap Rasulullah terhadap Ibnu Ummi Maktum itu ditegur Allah dengan berfirman: 

عبس وتولى أن جاءه الأعمى وما يدريك لعله يزكى أو يذكر فتنفعه الذكرى أما من استغنى فأنت له تصدى وما عليك ألا يزكى وأما من جاءك يسعى وهو يخشى فأنت عنه تلهى كلا إنها تذكرة 
Artinya: 
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapat pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah). maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. (Q.S. Abasa: 1-11) 
Dengan teguran Allah itu Rasulullah menjadi sadar akan kesalahannya, sejak waktu itu beliau tambah menghormati sahabat-sahabat beliau, termasuk menghormati lbnu Ummi Maktum sendiri. 
Allah SWT menerangkan bahwa apabila telah datang hari Kiamat, maka segalanya berada di tangan Allah. Dialah yang berkuasa pada waktu itu dan berkuasa menyelesaikan segala sesuatu dengan memberikan balasan yang layak kepada manusia, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.

Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam syurga yang penuh kenikmatan.(QS. 22:56)

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (56) 
Orang-orang yang beriman kepada Alquran, mengamalkan segala yang terkandung di dalamnya, beriman kepada Muhammad sebagai Rasul Allah, mengamalkan hadis-hadis-Nya melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan, akan diberi balasan surga yang penuh kenikmatan. Mereka memperoleh apa yang dikehendakinya, merasakan kebahagiaan, kesenangan yang belum pernah mereka rasakan selama hidup di dunia.

Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka azab yang menghinakan.(QS. 22:57)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (57) 
Orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Allah, memasukkan penafsiran yang salah dan subhat ke dalam ayat-ayat-Nya, mendakwakan bahwa Alquran adalah buatan Muhammad, maka mereka akan ditimpa azab yang sangat keras, tidak dapat dibandingkan keras dan beratnya itu dengan siksa atau malapetaka yang pernah terjadi selama mereka hidup di dunia.

Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (syurga). Dan sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baik pemberi rezki.(QS. 22:58)

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (58) 
Ayat ini menerangkan bahwa semua orang yang berhijrah di jalan Allah. meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarga dan harta bendanya, semata untuk mencari keridaan Allah, dengan tujuan menegakkan agama Islam bersama Nabi Muhammad saw. kemudian ia terbunuh dalam peperangan atau mati biasa dalam keadaan yang demikian itu, maka Allah akan membukakan rezeki yang mulia kepada mereka di akhirat nanti. 
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa pada hakikatnya orang yang terbunuh atau mati biasa dalam keadaan berhijrah untuk mempertahankan dan membela agama Allah adalah sama-sama akan diberi rezeki yang mulia di sisi Allah. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini, dan juga disebutkan dalam firman Allah SWT: 

ومن يهاجر في سبيل الله يجد في الأرض مراغما كثيرا وسعة ومن يخرج من بيته مهاجرا إلى الله ورسوله ثم يدركه الموت فقد وقع أجره على الله وكان الله غفورا رحيما 
Artinya: 
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dimaksud), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. An Nisa: 100) 
Dan dalam hadis Nabi saw: 

عن سلمان الفارسي قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من مات مرابطا أجري عليه الرزق وأمن من الفتانين واقرءوا إن شئتم. 
Artinya: 
Dari Salman Al-Farisi ia berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang mati dalam keadaan bertugas (siap bertempur pada jalan Allah), dia diberi. rezeki, dan aman dari segala yang memfitnahkan dia. Dan bacalah olehmu jika kamu menghendaki (ayat ini)". (H.R. Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Mardawaih) 
(Maksudnya ayat 58 ini dan ayat 59) 
Dari ayat ini dapat pula ditetapkan hukum, bahwa apabila ada perbuatan baik, sesuai dengan yang diperintahkan agama dikerjakan oleh beberapa orang, dalam pelaksanaan pekerjaan itu ada kaum Muslimin yang meninggal karena pekerjaan itu, dan ada yang mati biasa di waktu melaksanakan pekerjaan itu, maka orang-orang yang mati biasa itu diberi pahala yang sama oleh Allah. 
Dalam ayat ini terdapat perkataan "rezid" yang mulia, Allah SWT tidak menerangkan apa yang dimaksud dengan rezeki yang mulia itu, dan kapan rezeki itu diberikan. Hal ini akan diterangkan pada ayat berikutnya (ayat 59). 
Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa Dia adalah pemberi rezeki yang paling baik. Maksudnya ialah Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya itu, semata-mata karena kasih sayangnya kepada mereka, sehingga ia memberikannya tiada terhingga kepada siapa yang dikehendaki-Nya, tanpa mengharapkan sesuatu balasan dari hamba-Nya itu.

Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (syurga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.(QS. 22:59)

لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ (59) 
Allah SWT akan memasukkan semua orang yang terbunuh di jalan-Nya dan orang-orang yang meninggal dalam keadaan berhijrah itu ke dalam surga yang penuh kenikmatan di akhirat kelak, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka lakukan. 
Maka inilah yang dimaksud dengan rezeki pada ayat 58, dan kapan rezeki itu diberikan-Nya. Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui semua perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang berhijrah itu, mengetahui segala amal yang telah mereka perbuat, sejak dari yang kecil sampai kepada yang besar, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Sebagaimana Dia mengetahui pula perbuatan-perbuatan orang yang zalim. Sekalipun demikian Allah tidak segera menimpakan siksa kepada orang-orang yang zalim itu. karena Dia juga Maria Penyantun, Dia selalu memberi kesempatan kepada manusia yang berdosa untuk bertobat, menghapus perbuatan dosanya itu dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan diridai Allah.

Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.(QS. 22:60)

ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (60) 
Demikianlah, Allah SWT akan memberikan rezeki yang baik dan surga yang penuh kenikmatan kepada orang-orang yang meninggal dalam keadaan hijrah dan berhijrah di jalan Allah, dalam memerangi musuh-musuh mereka. 
Kemudian Allah SWT menegaskan lagi jaminan pertolongan-Nya kepada Orang-orang yang berhijrah dan berjihad, yaitu barang siapa di antara orang-orang yang beriman membalas siksaan orang-orang kafir, mereka telah diperangi, kemudian musuh-musuhnya itu memaksa mereka untuk berhijrah meninggalkan kampung halaman mereka, pastilah Allah akan menolong mereka dan akan membalaskan perbuatan itu kembali. 
Dalam pada itu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu janganlah orang-orang yang beriman memerangi musuh-musuh mereka yang telah menyerah kepada mereka, hendaklah melindungi orang-orang yang minta perlindungan kepada mereka. Jika orang-orang kafir membiarkan kaum Muslimin menjalankan agamanya, tidak mengganggu dan menyakiti mereka, Allah melarang memerangi orang-orang kafir itu. Maafkanlah kesalahan mereka, sebagaimana Allah telah memaafkan pula kesalahan orang-orang yang beriman. Allah SWT berfirman: 

والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون وجزاء سيئة سيئة مثلها فمن عفا وأصلح فأجره على الله إنه لا يحب الظالمين 
Artinya: 
Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Q.S. As Syura: 39-40)

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-HAJJ>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar