Rabu, 29 Agustus 2012

Al-Anbiyaa' 81 - 100

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Anbiyaa' 
Sumber:http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=21#Top pada 30 Agust 2012
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 81 
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. 21:81)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ (81) 
Pada ayat ini, Allah mulai menyebutkan nikmat-Nya yang khusus dilimpahkan-Nya kepada Nabi Sulaiman a.s. yaitu bahwa Dia telah menundukkan angin bagi Sulaiman a.s. sehingga angin tersebut dengan patuh melakukan apa yang diperintahkannya. Misalnya, angin tersebut berembus ke arah negeri tertentu, dengan hembusan yang keras dan kencang ataupun lunak dan lambat, sesuai dengan kehendak Nabi Sulaiman a.s. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menegaskan, bahwa Dia senantiasa mengetahui segala sesuatu, sehingga tidak sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya.


Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,(QS. 21:82)

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَلِكَ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ (82) 
Dalam ayat ini Allah SWT. menjelaskan rahmat-Nya yang dikaruniakan-Nya khusus kepada Nabi Sulaiman a.s. yaitu bahwa Allah juga menundukkan segolongan setan yang patuh melakukan apa yang diperintahkan Sulaiman a.s. kepada mereka, misalnya: menyelam ke dalam laut untuk mengambil segala sesuatu yang diperlukannya, atau melakukan hal-hal untuk keperluan Sulaiman a.s. seperti mengerjakan bangunan dan sebagainya. 
Pada ayat ini Allah menegaskan pula bahwa Dia senantiasa menjaganya sehingga setan tersebut tidak merusak dan tidak bermain-main dalam melakukan tugasnya.

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ` (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.`(QS. 21:83)

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) 
Dengan ayat ini Allah SWT. mengingatkan Rasul-Nya dan umat Muslimin kepada kisah Nabi Ayub a.s. yang ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah SWT. adalah yang amat penyayang. 
Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh tentang Nabi Ayub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya, yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang saleh, telah mendapat cobaan dari Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat. Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakal serta memohon pertolongan dari Allah SWT. dan sedikitpun tidak mengurangi keimanan dan ibadahnya kepada Allah SWT.

Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.(QS. 21:84)

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84) 
Oleh sebab itu, Allah mengabulkan doanya dari penyakit itu, serta mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi. 
Diriwayatkan bahwa setelah sembuhnya Nabi Ayub dari penyakitnya itu hidup bersama-sama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak pula dengan subur, sehingga jumlahnya dua kali lipat dari yang semula. Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya, atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan kesalehannya, Alquran mengungkapkan kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah SWT. bahwa: 
a. Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar. 
b. Orang-orang yang mukminpun tidak luput dari cobaan, berat ataupun ringan, sebagai ujian bagi mereka. 
c. Orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya. 
Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya. Dalam hubungan ini Rasulullah saw. bersabda: 

أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثال فالأمثال. 
Artinya: 
"Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para pemimpin tingkat berikut, dan berikutnya lagi. (HR Bukhari dari Said).

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.(QS. 21:85)
Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 21:86)

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ (85) وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ (86) 
Allah SWT. memperingatkan Rasulullah saw. dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ismail, Idris, dan Zulkifli, yang kesemuanya adalah orang-orang yang sabar pula dalam menghadapi musibah yang menimpa diri mereka masing-masing. Berkat kesabaran dan kesalehan mereka maka Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka. 
Nabi Ismail a.s. putra Nabi Ibrahim dari istrinya Siti Hajar, telah terbukti kesabarannya ketika ia hendak disembelih ayahnya sebagai korban atas perintah Allah. Juga ia sabar dan ulet untuk hidup di daerah tandus dan gersang, setelah ayahnya menempatkan dia bersama ibunya di Mekah, di tengah-tengah jazirah Arab yang gersang. Kemudian ia dengan sabar pula menunaikan tugasnya yang berat membangun Kakbah dan Baitullah bersama ayahnya. Maka Allah memberikan penghormatan dan kemuliaan yang tinggi kepada Nabi Ismail, yaitu dengan diangkatnya salah seorang keturunannya menjadi Nabi dan Rasul Allah terakhir, yaitu Muhammad saw. 
Adapun Nabi Idris, adalah juga seorang yang saleh dan sabar. Ia diutus menjadi Rasul sesudah Nabi Syis dan Nabi Adam a.s. Banyak orang mengatakan bahwa Nabi Idris ini yang mula-mula pandai menjahit pakaian, dan mula-mula memakai pakaian yang dijahit, sedang orang-orang yang sebelumnya hanya memakai pakaian dari kulit binatang dan tidak dijahit. Selain itu dia pulalah orang yang mula-mula membuat dan memakai senjata api sebagai alat perlengkapan. Kisah Nabi Idris ini terdapat dalam surat Maryam pada Alquranul Karim. 172) 
Mengenai Zulkifli, menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir, dia adalah seorang Nabi pula, dan putra dari Nabi Ayub a.s. Allah mengutusnya menjadi Nabi sesudah ayahnya. Ia menjalankan dakwahnya meng Esakan Allah, baik dalam akidah maupun dalam ibadah. Selama hidupnya ia berdiam di negeri Syam, dan merupakan Nabi yang saleh dan sabar. Dan dia adalah dari kalangan Bani Israel. 
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli telah dimasukkan-Nya dalam lingkungan rahmat-Nya, dan ditempatkan-Nya dalam surga Jannatunan'im, sebagai balasan atas kesabaran dan kesalehan mereka.

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam tempat yang sangat gelap: `Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.`(QS. 21:87)

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) 
Pada ayat ini Allah SWT. mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya, kepada kisah Nabi Yunus, yang pada permulaan ayat ini disebutkan dengan nama "Zun Nun". 
Zu berarti "yang mempunyai", sedang An Nun berarti "ikan paus". Maka Zun An Nun berarti "Yang empunya ikan paus". Ia dinamakan demikian, karena pada suatu ketika ia pernah dijatuhkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan paus. Kemudian, karena pertolongan Allah, maka ia dapat keluar dari perut ikan tersebut dengan selamat dan dalam keadaan utuh. 
Dalam ayat ini, mula-mula Allah berfirman, "Dan ingatlah kisah Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah. Yang dimaksudkan ialah bahwa pada suatu ketika Nabi Yunus sangat marah kepada kaumnya, karena mereka tidak juga beriman kepada Allah. Ia telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya untuk menyampaikan seruan kepada umatnya, untuk mengajak mereka kepada agama Allah. Tetapi sedemikian jauh, hanya sedikit saja di antara mereka itu yang beriman, sedang sebagian besar lainnya tetap saja ingkar dan durhaka. Keadaan yang demikian itu menjadikan ia marah, lalu ia pergi ke tepi laut, menjauhkan diri dari kaumnya 
Kisah ini memberi kesan bahwa Nabi Yunus tidak dapat berlapang hati dan sabar menghadapi umatnya. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya; ia termasuk Nabi-nabi yang sempit dada. Memang dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah, hanya lima orang saja yang disebut "Ulul Azmi", yaitu Rasul-rasul yang amat sabar dan ulet. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dam Muhammad saw. Sedang yang lain-lainnya, walaupun mereka maksum dari dosa besar dan sifat-sifat yang tercela, namun pada saat-saat tertentu sempit juga dada mereka menghadapi kaum yang ingkar dan durhaka kepada Allah SWT. 
Akan tetapi, walaupun Nabi Yunus pada suatu ketika marah kepada kaumnya, namun kemarahannya itu dapat dipahami, karena ia sangat ikhlas kepada mereka, dan sangat ingin agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia akhirat dengan menerima dan menjalankan agama Allah yang disampaikannya kepada mereka. Tetapi ternyata sebagian besar diri mereka itu tetap ingkar dan durhaka. Inilah yang menyakitkan hatinya, dan mengobarkan kemarahannya. 
Nabi Muhammad sendiri, walaupun sudah termasuk ulul azmi, namun Allah beberapa kali memberikan peringatan kepada beliau agar jangan sampai marah dan bersempit hati menghadapi kaumnya yang ingkar. Allah berfirman dalam ayat yang lain: 

فاصبر لحكم ربك ولا تكن كصاحب الحوت 
Artinya: 
Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan. (Q.S Al Qalam: 48) 
Firman-Nya lagi kepada Nabi Muhammad saw: 

فلعلك تارك بعض ما يوحى إليك وضائق به صدرك 
Artinya: 
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit karenanya dadamu. (Q.S Hud: 12) 
Ringkasnya sifat marah yang terdapat pada Nabi Yunus bukanlah timbul dari sifat yang jahat, melainkan karena kekesalan hatinya melihat keingkaran kaumnya yang semula diharapkannya untuk menerima dan melaksanakan agama Allah yang disampaikannya. 
Selanjutnya dalam ayat ini Allah berfirman, "Maka Yunus mengira bahwa Kami tidak akan membiarkan timbulnya kesulitan baginya". Ini merupakan kritikan Allah terhadap Nabi Yunus. Kemarahannya itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah dia mengira bahwa dia sebagai Nabi dan Rasul Allah tidak akan pernah dibiarkan-Nya menghadapi kesulitan, sehingga jalan yang dilaluinya akan selalu datar dan rata. 
Akan tetapi dalam kenyataan bukan demikian. Pada umumnya para Rasul dan Nabi Allah banyak menemui rintangan, bahkan siksaan dan ejekan terhadap dirinya dari orang-orang yang ingkar. Hanya saja dalam keadaan yang sangat gawat, baik dimohon atau tidak oleh yang bersangkutan, Allah SWT. mendatangkan pertolongan-Nya, sehingga Rasul-Nya selamat dan umatnya yang ingkar itu mengalami kebinasaan. 
Menurut riwayat, ketika Nabi Yunus dalam keadaan marah, ia lalu menjauhkan diri dari kaumnya pergi ke tepi pantai. Di sana ia menjumpai sebuah perahu, lalu ja ikut serta naik ke perahu itu dengan wajah yang muram. Di kala perahu itu hendak berlayar, datanglah gelombang besar yang menyebabkan perahu itu mungkin akan tenggelam apabila muatannya tidak segera dikurangi. Maka nahkoda perahu itu berkata, "Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua". Lalu diadakan undian untuk menentukan siapakah di antara mereka yang harus dikeluarkan dari perahu itu. Setelah diundi, ternyata bahwa Nabi Yunuslah yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, penumpang kapal itu merasa keberatan mengeluarkannya dari perahu itu. Maka undian dilakukan sekali lagi, tetapi hasilnya tetap demikian. Bahkan undian yang ketiga kalinyapun demikian pula. Akhirnya Yunus melepaskan pakaiannya, lalu ia terjun ke laut atas kemauannya sendiri. Allah mengirim seekor ikan paus yang berenang dengan cepat lalu menelan Yunus. 
Dalam ayat ini selanjutnya Allah menerangkan bahwa setelah Nabi Yunus berada dalam "kegelapan berganda", maka ia berdoa kepada Allah, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnyalah aku termasuk orang-orang yang zalim". 
Yang dimaksud dengan "kegelapan berganda" di sini ialah bahwa Nabi Yunus sedang berada di dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap pula 
Dan pengakuan Nabi Yunus bahwa dia "termasuk golongan orang-orang yang zalim", berarti kesadarannya atas kesalahannya yang telah dilakukannya sebagai Nabi dan Rasul, yaitu tidak sabar dan tidak berlapang dada menghadapi kaumnya Seharusnya ia bersabar sampai menunggu datangnya ketentuan Allah atas kaumnya yang ingkar itu. 
Karena kesadaran itu maka ia mohon ampun kepada Allah SWT., dan mohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.(QS. 21:88)

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88) 
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengabulkan doa Nabi Yunus, lalu diselamatkannya dari rasa duka yang amat sangat. Duka karena rasa bersalah, duka karena keingkaran umatnya, dan duka karena malapetaka yang menimpa dirinya. 
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa demikianlah Dia menyelamatkan mereka dari azab duniawi dan mengaruniakan mereka kebahagiaan ukhrawi. Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya pada ayat yang lain: 

فلولا كانت قرية ءامنت فنفعها إيمانها إلا قوم يونس لما ءامنوا كشفنا عنهم عذاب الخزي في الحياة الدنيا ومتعناهم إلى حين 
Artinya: 
Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya. selain kaum Yunus ? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (Q.S Yunus: 98)

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: `Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.(QS. 21:89)

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) 
Pada ayat ini mula-mula Allah SWT. mengarahkan perhatian Nabi Muhammad saw. dan umatnya kepada kisah Nabi Zakaria. Karena ia tidak mempunyai anak, maka ia merasa kesepian dan tidak mempunyai seorangpun keturunan yang akan menggantikan dan melanjutkan perjuangannya bila ia telah meninggal dunia. Sebab itu ia berdoa kepada Allah agar Dia tidak membiarkannya hidup tanpa keturunan. 
Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Nabi Zakaria setelah ia mengucapkan doanya itu. Lalu ia berkata: Dan Engkau adalah pewaris yang baik ? Maksudnya ialah bahwa apabila Allah menghendaki tidak akan menganugerahkan keturunan kepadanya, maka iapun rela dan tidak berkecil hati, karena ia yakin bahwa Allah akan tetap memelihara agamanya, dan tidak akan menyia-nyiakan agamanya dan Allah tentu akan memilih orang yang paling tepat sebagai pengganti Zakaria setelah wafatnya. 
Kisah ini telah dibentangkan lebih luas dalam surat Ali Imran dan Surat Maryam.

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.(QS. 21:90)

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (90) 
Pada ayat ini Allah SWT. menjelaskan bahwa Dia telah memperkenankan doa Nabi Zakaria itu, dan mengaruniakan kepadanya seorang putra bernama Yahya Untuk itu Allah SWT. telah mengaruniakan kesehatan yang baik kepada istri Zakaria, sehingga memungkinkan untuk mengandung, padahal sebelum itu ia adalah wanita yang mandul. 
Pada lanjutan ayat ini Allah menjelaskan apa alasan-Nya untuk mengabulkan permohonan Zakaria itu, ialah karena mereka semua senantiasa bersegera dalam berbuat kebaikan, terutama dalam memelihara keturunan dengan sebaik-baiknya Selain itu, juga karena senantiasa berdoa kepada Allah dengan hati yang harap-harap cemas, harap akan ampunan Tuhan dan cemas terhadap kemurkaan dan siksaan Allah SWT. Dan alasan ketiga ialah: karena mereka selalu khusyuk dan tawadu kepada-Nya, dan tidak pernah sombong atau takabur dan mengingkari karunia-Nya. 
Jadi, sifat-sifat yang mulia itulah yang menyebabkan mereka memperoleh karunia dari Allah SWT.

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.(QS. 21:91)

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (91) 
Pada ayat ini Allah menerangkan kisah Siti Maryam secara ringkas, yaitu bahwa dia adalah seorang perempuan yang memelihara kehormatan dirinya, maka suatu ketika Allah meniupkan ruh ke dalam tubuh Isa yang masih merupakan janin dalam perut ibunya, kemudian Maryam melahirkan Isa a.s. tanpa ayah. Oleh karena Isa lahir tanpa ayah, maka Maryam dan Isa lalu menjadi salah satu bukti bagi seluruh isi alam ini, tentang kekuasaan dan ke Maha Esaan Allah SWT. Maka kelahiran Isa yang mengandung bukti dan tanda kekuasaan Allah sebagaimana hal Nabi Adam yang lahir ke dunia ini tanpa ayah dan ibu, sedang Isa lahir tanpa ayah saja. 
Siti Maryam belum pernah mengadakan hubungan apapun dengan kaum lelaki, baik secara halal melalui perkawinan, apalagi secara tidak halal. Allah SWT. menyebutkan ucapan Maryam mengenai dirinya sendiri sebagai berikut: 

ولم يمسسني بشر ولم أك بغيا 
Artinya: 
Tidak pernah seorang manusiapun menyentuhkan, dan aku bukan (pula) seorang pezina. (Q.S Maryam: 20) 
Firman Allah dalam ayat lain: 

ومريم ابنة عمران التي أحصنت فرجها 
Artinya: 
Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya. (Q.S Tahrim: 12) 
Tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada diri Maryam ialah: 
1. Bahwa dia hamil tanpa melalui hubungan kelamin dengan siapapun. 
2. Bahwa malaikat senantiasa menyediakan makanan untuknya. 
Mengenai hal ini Alquran menceritakan pertanyaan Zakaria kepada Maryam dan jawaban Maryam kepadanya: 

يا مريم أنى لك هذا قالت هو من عند الله 
Artinya: 
"Hai Maryam dari mana kau memperoleh (makanan ini) ?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah SWT.". (Q.S Ali Imran: 37) 
Adapun tanda-tanda kebesaran dan kemahakuasaan Allah yang terlihat melalui diri Isa a.s. sudah diterangkan dengan panjang lebar dalam surah Ali Imran dan surat Maryam.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.(QS. 21:92)

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (92) 
Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa agama tauhid ini adalah agama untuk seluruh manusia dan merupakan agama yang satu, yaitu sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok syariatnya. 
Kemudian pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan. bahwa Dia adalah Tuhan bagi seluruh umat manusia. Oleh sebab itu kepada-Nya sajalah mereka harus menyembah.

Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali.(QS. 21:93)

وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ (93) 
Kemudian dalam ayat ini Allah memperingatkan kaum Muslimin atas perpecahan yang timbul antara umat manusia. Seluruh umat manusia itu seharusnya menganut agama tauhid, karena agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama tauhid (agama Islam). Akan tetapi mereka telah berpecah belah. Sehingga kesatuan mereka menjadi terpecah kepada kotak-kotak kecil yang dipisahkan dengan ketat oleh perbedaan pandangan, baik mengenai masalah-masalah yang tidak prinsipil dalam agama maupun masalah-masalah duniawi semata-mata Perbedaan-perbedaan paham itu pada umumnya disertai rasa taklid kepada iman atau pemimpin sehingga kelompok yang satu menutup diri terhadap kelompok yang lain. Dengan demikian mereka sudah melalaikan ajaran agama, yang menyuruh mereka bersatu dan memelihara kesatuan umat. Akan tetapi mereka berbuat sebaliknya, yaitu berpecah belah. 
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan, bahwa umat manusia yang sudah berpecah belah itu, seluruhnya akan kembali kepada-Nya jua. Maka Allah akan melakukan hisab dan memberikan balasan atas keimanan dan amal mereka masing-masing.

Maka barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.(QS. 21:94)

فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ (94) 
Dalam ayat ini Allah menjamin bahwa amal kebaikan, yang dilakukan oleh seseorang yang beriman, betapapun kecilnya, namun Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. Amal kebaikan itu tidak akan hilang percuma, dan tidak akan diingkari karena Allah telah menuliskannya untuk orang yang melakukannya. 
Jaminan Allah untuk memberikan balasan atas setiap kebaikan hamba-Nya terdapat dalam firman-Nya: 

ومن أراد الآخرة وسعى لها سعيها وهو مؤمن فأولئك كان سعيهم مشكورا 
Artinya: 
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Q.S Al Isra': 19) 
Firman-Nya lagi-pada ayat yang lain: 

إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات إنا لا نضيع أجر من أحسن عملا 
Artinya 
Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amal (nya) dengan baik. (Q.S Al Kahfi: 30).

Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami).(QS. 21:95)

وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (95) 
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak mungkinlah bagi penduduk suatu negeri yang telah dibinasakannya dengan azab-Nya, bahwa mereka tidak akan kembali kepada-Nya. 
Maksudnya, kaum yang ingkar dan kafir itu, walaupun sudah dibinasakan dengan azab yang berat di dunia ini, namun mereka akan kembali kepada Allah di akhirat kelak, lalu dihisab semua amalannya, dan diberi balasan yang setimpal.

Hingga apabila dibukakan (tembok) Yajuj dan Majuj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi.(QS. 21:96)

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ (96) 
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum kafir yang telah dibinasakan dengan azab yang berat di dunia ini, sehingga mereka menemui kemusnahan, mereka tidak akan kembali lagi ke dunia ini, mereka akan tetap dalam kemusnahan itu sampai hari kiamat kelak. Sebagai salah satu dan tanda-tanda akan datangnya hari kiamat itu terbukanya tembok Yakjuj dan Makjuj, sehingga Yakjuj dan Makjuj itu berdatangan, meluncur dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Mereka membuat keonaran dan kebinasaan di dunia ini.

Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata):` Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim `.(QS. 21:97)

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ (97) 
Pada ayat ini ditegaskan Allah, bahwa pada waktu keluarnya Yakjuj dan Makjuj itu, dan di waktu telah dekatnya saat kedatangan janji yang benar, yaitu hari berbangkit dan berhisab, maka dengan serta merta terbelalaklah mata kaum kafir karena terkejut, seraya berteriak dengan nada penyesalan. "Aduhai celakalah kami, benar-benar kami lalai tentang kedatangan hari berbangkit dan berhisab, sehingga kami tidak mempersiapkan diri kami dengan baik. Bahkan kami ini adalah orang-orang yang zalim atas dari kami dan terhadap orang lain, karena kami telah diberi peringatan bahwa hari berbangkit dan berhisab itu benar-benar akan datang, tetapi kami tidak mengindahkan peringatan itu, bahkan mendustakannya. 
Akan tetapi, betapapun mereka menyesali dirinya pada saat itu namun penyesalan itu sudah tak berguna lagi, karena saat berbangkit dan berhisab itu memang datang benar-benar, sedang mereka tidak percaya sedikitpun.

Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah makanan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.(QS. 21:98)

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (98) 
Ayat ini menegaskan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa mereka beserta apa. yang mereka sembah selain Allah, selama mereka hidup di dunia, seperti patung, binatang, benda-benda mati, pohon atau tempat keramat dan sebagainya akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Hal ini merupakan janji Allah kepada mereka, yang pasti ditetapkan-Nya. 
Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang musyrik beserta sembahan-sembahan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, padahal yang berdosa dan memperserikatkan Tuhan dalam hal ini ialah penyembah-penyembahnya. Adapun sembahan-sembahan itu mereka tidak tahu-menahu apa yang diperbuat oleh penyembah-penyembahnya Hikmah menyertakan sembahan-sembahan itu beserta penyembah-penyembahnya ialah untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa kepercayaan mereka terhadap sembahan-sembahan itu sewaktu. di dunia adalah tidak benar. Mereka waktu di dunia dahulu mempercayai bahwa patung-patung dan segala apa yang mereka sembah itu akan memberi syafaat kepada mereka di hari kiamat nanti, sehingga mereka terhindar dari azab Allah, dan dengan perantaraan sembahan-sembahan itu mereka akan dimasukkan ke dalam surga Setelah hari kiamat datang dan setelah mereka masuk. ke dalam neraka bersama-sama dengan sembahan-sembahan yang mereka sembah itu, ternyata sembahan-sembahan itu tidak dapat berbuat sesuatupun terhadap mereka. Dengan demikian terbuktilah kesalahan kepercayaan yang mereka anut dan kebenaran risalah yang pemah disampaikan Muhammad kepada mereka. Dalam keadaan demikian timbullah kejengkelan dan kemarahan mereka terhadap patung-patung itu, tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatupun terhadapnya, karena patung-patung itu tidak bersalah dan dia adalah benda-benda mati. Hanya merekalah yang bersalah, dan keinginan mereka sendirilah yang mendorong mereka menyembah patung itu.

Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.(QS. 21:99)

لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (99) 
Ayat ini menerangkan seandainya sembahan-sembahan yang disembah orang-orang musyrik itu benar tuhan di samping Allah sebagaimana kepercayaan mereka, tentulah sembahan itu akan selamat bersama-sama mereka, karena jika ia Tuhan tentulah ia Maha Kuasa lagi Perkasa, tidak ada sesuatupun yang dapat menyiksanya, bahkan ia sendirilah yang akan menyiksa orang-orang yang durhaka padanya. Akan tetapi yang terjadi ialah bahwa semuanya itu baik penyembah-penyembah berhala, maupun sembahan-sembahan yang disembah akan kekal di dalam neraka.

Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.(QS. 21:100)

لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ (100) 
Kemudian Allan SWT menerangkan keadaan penyembah-penyembah berhala-berhala itu beserta sembahan-sembahan mereka di dalam neraka nanti, yaitu: 
1. Mereka di dalam neraka itu mengeluh dan merintih dan nafas mereka menjadi sesak menanggung azab yang tiada terperikan dahsyatnya. 
2. Penyembah-penyembah berhala yang sedang di azab itu tidak dapat mengetahui keadaan temannya yang lain yang juga di azab, karena mereka tidak sempat memikirkannya, masing-masing mereka sibuk menghadapi azab yang selalu menimpa mereka.

Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Anbiyaa' 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar