Kamis, 30 Agustus 2012

Al-Hajj 61 - 78

SURAH AL-HAJJ
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -HAJJ>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=22
Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. 22:61)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (61) 
Memberikan pertolongan dan menjamin kemenangan bagi orang-orang yang beriman itu adalah suatu janji yang pasti dari Allah. Karena Dia Maha Menguasai segala sesuatu. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, Dia pada suatu musim memasukkan malam ke dalam siang, maka panjanglah siang, dan pada suatu musim memasukkan siang ke dalam malam, maka panjanglah malam. Di daerah khatulistiwa perbedaan waktu malam dan waktu siang ini tidak begitu dirasakan. Tetapi di daerah sub tropis dan daerah kutub Utara atau Selatan perbedaan ini sangat kelihatan. Pada musim dingin kelihatan malam amat panjang, sedang di musim panas waktu sianglah yang lebih panjang dari waktu malam. 
Memasukkan malam kepada siang, dan memasukkan siang kepada malam itu menurut ukuran manusia adalah lebih sulit melakukannya dari memberi kemenangan. Karena itu memberikan kemenangan kepada orang-orang teraniaya sangat mudah dilakukan Allah. 
Allah mendengarkan segala doa yang dimohonkan hamba-Nya kepada-Nya dan melihat semua perbuatan yang dilakukan hamba-Nya.

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.(QS. 22:62)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (62) 
Sifat-sifat yang demikian itu, yaitu kekuasaan yang sempurna, ilmu yang luas dan sempurna yang meliputi segala macam ilmu ada pada Allah SWT, karena Dialah yang wajibul wujud, pasti adanya, mempunyai segala macam sifat kesempurnaan, tidak mempunyai kekurangan sedikitpun. Dialah yang memiliki agama yang benar, yang disampaikan oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang diutus-Nya, yang paling akhir ialah Nabi Muhammad saw. Dialah Tuhan Yang Maha Esa, tiada seorangpun yang menjadi syarikat bagi-Nya. Karena itu beribadat kepada-Nya itu adalah suatu yang hak, sesuatu yang paling benar, demikian pula pertolongan-Nya, janji-Nya adalah suatu yang hak. Segala yang disembah selain Allah adalah sembahan yang batal, dan ibadah itu merupakan ibadat yang tak ada dasarnya. Dia berkuasa menciptakan segala yang dikehendaki-Nya. Jika Dia ingin menciptakan sesuatu, cukuplah Dia mengatakan, "Jadilah" Maka wujudlah barang itu. 
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, semua berada di bawah-Nya dan Dia di atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang menyamainya dalam kekuatan, ketinggian dan kebesaran.

Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(QS. 22:63)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (63) 
Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang juga merupakan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, yaitu apakah manusia tidak melihat dan memperhatikan bahwa Allah SWT mengedarkan awan ke bumi yang tandus, lalu dari awan itu turunlah hujan di atas bumi itu, air hujan itu menyuburkan bumi, maka timbullah beraneka macam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang indah bentuknya, seakan-akan bumi itu menghiasi dirinya dengan tumbuhnya tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka warna itu. Di antara yang tumbuh itu ada yang dapat dimakan manusia, sehingga terpelihara kelangsungan hidupnya, ada yang dapat dijadikan bahan-bahan pakaian, bahan kecantikan, dan beraneka keperluan manusia yang lain. 
Sesungguhnya Allah Maha Halus dalam ilmu-Nya, karena pengetahuan-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya, tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuannya itu, sejak dari yang kecil sampai kepada yang besar, sejak dari yang mudah sampai kepada yang sulit dan rumit yang kadang-kadang tidak diketahui oleh manusia. Karena itu Dia mengatur, menjaga kelangsungan hidup dan kelangsungan adanya makhluk-Nya itu. Maka ditetapkan-Nyalah hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan untuk mengatur makhluk-Nya. 
Tentang pengetahuan Allah SWT terhadap makhluk-Nya itu, diterangkan pula dengan firman-Nya: 

وما يعزب عن ربك من مثقال ذرة في الأرض ولا في السماء ولا أصغر من ذلك ولا أكبر إلا في كتاب مبين 
Artinya: 
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu, biarpun sebesar zarah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Q.S. Yunus: 61)

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(QS. 22:64)

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (64) 
Hanya Allah SWT sajalah yang memiliki segala apa yang di langit dan segala apa yang di bumi, tidak ada sesuatupun yang berserikat dengan-Nya dalam pemilikan itu. Karena itu hanya Dia pulalah yang menentukan apa yang dilakukan-Nya terhadap makhluk-Nya itu, tidak ada sesuatupun yang menghalangi kehendak-Nya itu. Hanya Dialah yang mengurus makhluk-Nya, tidak ada sesuatupun yang membantu-Nya dalam pengurusan itu. Dia tidak memerlukan sesuatupun. hanya makhluk-Nyalah yang memerlukan-Nya. Dia Maha Terpuji karena kebaikan dan nikmat yang tiada terhingga yang telah diberikan-Nya kepada makhluk-Nya.

Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.(QS. 22:65)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (65) 
Di antara nikmat yang telah diberikan-Nya pula kepada hamba-Nya ialah Dia menundukkan dan memudahkan bagi manusia segala yang terkandung di dalam bumi dan segala yang ada di permukaannya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia. Manusia diberi pengetahuan dan kemampunan menanamkan dan menyuburkan tanaman, menggali barang-barang tambang yang beraneka ragam macamnya. Kemudian Allah menunjukkan cara-cara memanfaatkan semuanya itu. Allah SWT berfirman: 

وسخر لكم ما في السماوات وما في الأرض جميعا منه 
Artinya: 
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya". (Q.S. Al Jasiah: 13)
Sekalipun manusia telah dianugerahi Allah ilmu yang banyak yang kadang-kadang sebagian mereka telah menjadi angkuh dan sombong dengan ilmu yang dimilikinya itu, tetapi hendaklah manusia ingat bahwa ilmu yang diberikan itu, hanyalah sedikit bila dibandingkan dengan ilmu Allah yang belum diketahui manusia, tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana firman Allah SWT: 

ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلا 
Artinya: 
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanmu. dan tiadalah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (Q.S. Al Isra': 85) 
Demikianlah Allah SWT menundukkan dan memudahkan penguasaan kapal dan laut kepada manusia. Dimudahkan-Nyalah kapal berlayar ke samudera, membawa manusia dan keperluan manusia ke segenap penjuru dunia. Dengan kapal itu pula manusia mencari rezeki di lautan berupa ikan, mutiara, barang tambang dan khazanah lautan berupa ikan yang tidak terhitung banyaknya. 
Allah menciptakan alam semesta, yang terdiri atas ruang angkasa dan planet-planetnya yang tidak terhitung banyaknya. Semua terapung dan beredar melalui garis edar yang telah ditentukan Allah. Masing-masing planet itu mempunyai daya tarik, sehingga ia tidak jatuh berantakan, kecuali jika Allah SWT menghendaki-Nya sebagaimana firman Allah SWT: 

إذا السماء انفطرت وإذا الكواكب انتثرت 
Artinya: 
Apabila langit terbelah. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan (Q.S. Al Infitar: 1-2) 
Semuanya itu tidak dijadikan Allah dengan cara kebetulan saja, tetapi dengan maksud tertentu, dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang rapi. Dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan itu manusia dapat mengambil manfaat dari padanya, mereka dapat terbang di jagat raya, naik ke planet lain, mereka dapat meramalkan keadaan cuaca, mereka dapat bepergian dari suatu negeri. ke negeri yang lain dalam waktu yang tidak lama dan banyak lagi manfaat yang lain yang dapat mereka ambil dengan menggunakan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum Allah itu. 
Semuanya itu menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada manusia dan jasa yang tidak mengharapkan balasan.

Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.(QS. 22:66)

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ (66) 
Di antara nikmat Allah yang paling besar yang dianugerahkan-Nya kepada manusia ialah menciptakan manusia yang hidup dari benda-benda mati, memberi roh, jiwa, akal pikiran dan perasaan, sehingga manusia dapat menikmati hidup dan kehidupan, dapat mengolah bumi untuk kesenangan mereka. Dengan jiwa, akal pikiran dan perasaan itu pula, manusia dapat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya sehingga di akhirat nanti, kepada mereka dilimpalikan lagi nikmat yang paling besar yang tiada taranya, yaitu berupa surga yang telah dijanjikan-Nya. 
Sekalipun demikian banyaknya nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada manusia, tetapi amat sedikit manusia yang mensyukuri-Nya. bahkan banyak di antara mereka yang mengingkarinya. bahkan ada yang mendurhakakan dan memperserikatkan-Nya dengan makhluk-Nya yang lain yang telah diciptakan-Nya. Allah SWT berfirman: 

كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ثم إليه ترجعون 
Artinya: 
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal tadinya kamu mati lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan, kemudian dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. (Q.S. Al Baqarah: 28) 
Dan firman Allah SWT: 

قل الله يحييكم ثم يميتكم ثم يجمعكم إلى يوم القيامة لا ريب فيه ولكن أكثر الناس لا يعلمون 
Artinya: 
Katakanlah "Allahlah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. Al Jasiah: 26)

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.(QS. 22:67)

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ (67) 
Allah SWT telah mengutus para Rasul kepada tiap-tiap umat sampai kepada masa Nabi Muhammad saw. Tiap-tiap Rasul membawa syariat yang berbeda dengan syariat Rasul yang lain, sesuai dengan keadaan, tempat dan masa adanya umat itu sehingga syariat itu dapat mereka lakukan dengan baik dan sesuai dengan kesanggupan. kemanfaatan dan kebutuhan hidup mereka. Kitab Taurat diturunkan kepada Musa as, yang akan disampaikan-Nya kepada Bani Israel. Pada Bani Israel di waktu itu sedang berjangkit paham materialisme dan kehidupan yang materialistis. Hidupnya didasarkan kepada kebendaan. Baginya hidup ini adalah serba benda. Bani Israel tatkala ditinggalkan Nabi Musa yaitu di kala beliau naik ke bukit Tursina ketika menerima Taurat. membuat patung anak sapi dari emas untuk disembah. Maka didapati isi Taurat banyak memberi petunjuk kepada manusia tentang cara-cara membina diri dan umat agar terhindar dari paham materialisme dan kehidupan yang materialistis itu. Demikian pula Injil diturunkan kepada Nabi Isa as, banyak memberi petunjuk cara-cara pembinaan kejiwaan, rohani, sesuai pula dengan keadaan orang Yahudi waktu itu. Pada akhirnya diturunkan Alquran kepada Nabi Muhammad saw. Syariat yang dibawa oleh Alquran itu adalah syariat untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Di dalam Alquran itu banyak ayat-ayat yang memberi petunjuk kepada manusia agar mereka di samping memikirkan kehidupan rohani juga memikirkan kehidupan duniawi, kehidupan duniawi merupakan persiapan kehidupan akhirat (ukhrawi) kelak. 
Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku bagi seluruh umat manusia sejak dahulu sampai sekarang. Maka seharusnya orang-orang kafir itu tidak menentang seruan Muhammad yang disampaikan kepada mereka Karena itu Allah SWT memperingatkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya agar jangan terpengaruh oleh tantangan dan pembangkangan orang-orang kafir itu. Tetaplah melakukan dakwah, serulah mereka dengan hikmat dan kebijaksanaan, ajaklah mereka kepada ketauhidan, yang menunjukkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah:` Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan `.(QS. 22:68)

وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ (68) 
Seandainya orang-orang kafir itu menentang dan mengingkari dakwah, padahal telah disampaikan kepada mereka bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang menunjukkan kebenaran agama yang disampaikan kepada mereka. maka ingatlah tugasmu adalah menyampaikan agama, bukan untuk menjadikan seseorang itu menjadi kafir atau beriman. Serahkanlah semuanya kepada Allah. 
Allah SWT berfirman: 

وإن كذبوك فقل لي عملي ولكم عملكم أنتم بريئون مما أعمل وأنا بريء ممت تعملون 
Artinya: 
Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan". (Q.S. Yunus: 41) 
Dan nyatakanlah kepada mereka bahwa Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan dan akan membalasi mereka terhadap pekerjaan-pekerjaan yang telah mereka kerjakan di dunia ini.

Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.(QS. 22:69)


اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (69) 
Setelah Allah SWT memerintahkan pada ayat-ayat yang lalu agar Rasulullah berpaling dari orang-orang yang kafir, maka pada ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Allah SWT akan memberikan keputusan dan hukum pada hari kiamat nanti antara mereka yang berselisih dalam persoalan agama itu, sehingga ternyata nanti mana yang hak dan mana yang batal. 
Orang-orang yang beriman mereka bersabar, dan menguatkan keimanan mereka, sebagaimana firman Allah: 

فلذلك فادع واستقم كما أمرت ولا تتبع أهواءهم وقل آمنت بما أنزل الله من كتاب وأمرت لأعدل بينكم 
Artinya: 
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah, "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu" (Q.S. Asy syura: 15)

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.(QS. 22:70)

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (70) 
Ayat ini menegaskan kepada Nabi Muhammad saw, tentang keluasan ilmu Allah. Sekalipun Nabi Muhammad yang dituju dalam ayat ini termasuk di dalamnya seluruh umatnya. Seakan-akan Allah mengatakan kepadanya, "Apakah engkau tidak mengetahui hai Muhammad, bahwa ilmu Allah itu amat luas, meliputi segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya itu, walaupun barang itu sebesar zarah (atom) atau lebih kecil lagi dari atom itu, bahkan Dia mengetahui segala yang tergores di dalam hati manusia. 
Semua ilmu Allah itu tertulis di Lohmahfuz, ialah suatu kitab yang di dalamnya disebutkan segala yang ada dan kitab itu telah ada dan lengkap mempunyai catatan sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Menurut Abu Muslim AlAsfihani: yang dimaksud dengan kitab dalam ayat ini ialah pemeliharaan sesuatu dan pencatatannya dengan sempurna. Tidak ada sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya. Hal inilah yang merupakan ilmu Allah. 
Pengetahuan yang amat sempurna dan pencatatan yang lengkap tentang segala sesuatu serta penetapan hukum yang akan dijadikan bahan pengadilan di akhirat kelak tidaklah sukar bagi Allah. Dia menetapkan sesuatu di akhirat nanti dengan seadil-adilnya, karena segala macam yang dijadikan bahan pertimbangan telah ada pada-Nya tidak ada yang kurang sedikitpun.

Dan mereka menyembah selain daripada Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun.(QS. 22:71)
Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah:` Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka? `Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.(QS. 22:72)
Surah Al Hajj 71 - 72 
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (71) وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكُمُ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (72) 
Allah SWT menerangkan kepercayaan orang-orang musyrik itu batal, baik ditinjau dari segi wahyu, akal pikiran, maupun dari sikap orang-orang musyrik itu sendiri di kala mereka mendengar ayat-ayat Allah. 
1. Orang-orang musyrik Mekah menyembah selain Allah, dengan menyembah berhala-berhala yang mereka sendiri membuatnya. Kepercayaan mereka itu tidak berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasulnya untuk disampaikan kepada umatnya, padahal suatu kepercayaan yang benar adalah kepercayaan yang berdasarkan wahyu dari 
Allah. Kepercayaan mereka itu hanyalah berdasarkan adat kebiasaan nenek moyang mereka dahulu, kemudian mereka mengikuti dan mempercayainya. 
2. Mereka menyembah selain Allah itu tidak berdasarkan pikiran yang benar, dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Mereka membuat sendiri berhala-berhala yang mereka sembah itu. Oleh karena itu mereka tidak akan mendapat seorang penolongpun yang akan menolong mereka untuk menegakkan pendapat dan pikiran mereka, atau yang akan menolakkan azab dari mereka di akhirat kelak. 
3. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka tampaklah pada air muka mereka tanda-tanda keangkuhan, kesombongan dan kebengisan serta ucapan marah yang timbul di hati mereka. Manakala dibacakan ayat ayat Alquran kepada mereka, mereka rasa-rasa mau atau hampir-hampir menyerang dan memukul orang-orang yang sedang membaca ayat itu Seandainya mereka ingin mencari kebenaran, tentulah mereka mendengarkan ayat-ayat yang dibacakan itu, kemudian mereka merenungkan dan memikirkannya, dan kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati mereka tentulah mereka menanyakan atau mencari alasan-alasan yang kuat untuk mematahkan ayat-ayat Allah itu. 
Kemudian Allah SWT mengancam mereka bahwa kebencian dan kemarahan mereka karena mendengar ayat-ayat Allah itu sebenarnya adalah lebih kecil daripada kesangatan azab yang akan mereka rasakan nanti di hari kiamat.
Allah menegaskan ancaman-Nya kepada orang-orang musyrik itu dengan memerintahkan Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada mereka, "Hai orang-orang musyrik, apakah kamu hendak mendengarkan berita yang lebih besar dan lebih jahat lagi dari kemarahan hatimu kepada orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah, sehingga hampir saja kamu menyerang dan memukul mereka?" 
Kemudian pertanyaan di atas langsung dijawab, bahwa berita besar dan lebih buruk dari kemarahanmu itu ialah azab neraka yang telah dijanjikan kepada orang-orang kafir sebagai balasan dari perbuatan mereka itu waktu hidup di dunia. Neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali yang disediakan bagi orang-orang musyrik.

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.(QS. 22:73)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ (73) 
Ayat ini menyeru manusia, terutama orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan menyembah patung yang terbuat dari benda mati dan dibuat oleh mereka sendiri, agar mereka memperhatikan perumpamaan yang dibuat Allah bagi mereka, kemudian merenungkan dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya. Apakah yang telah mereka lakukan itu sesuai dengan akal pikiran yang benar atau tidak. Jika tidak sesuai dengan akal pikiran yang benar, hendaklah direnungkan kembali ayat-ayat Allah yang dibacakan itu, agar mereka mendapat petunjuk. 
Perumpamaan itu ialah: segala berhala yang mereka sembah itu, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan mereka memohonkan sesuatu kepadanya, tidak sanggup menciptakan lalat yang kecil sekalipun patung-patung itu berkumpul untuk menciptakannya, padahal lalat itu adalah binatang kecil yang tidak ada artinya. Begitu pula sekiranya patung itu mempunyai sesuatu barang, kemudian barang itu disambar oleh seekor lalat kecil, lemah dan tidak ada arti kekuatannya, niscaya patung-patung yang mereka sembah itu tidak akan sanggup merebut barang itu kembali dari lalat yang kecil itu. 
Perumpamaan yang dikemukakan Allah dalam ayat ini, seakan-akan memperingatkan orang-orang yang menyembah patung atau benda mati itu, bahwa Tuhan yang berhak disembah ialah Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pencipta, tidak ada sesuatu kekuatanpun yang dapat mengatasi kekuatan-Nya. Jika orang-orang kafir menyembah patung. berarti mereka menyembah benda mati, yang tidak tahu sesuatu apapun, bahkan ia dapat mempertahankan apa yang dipunyainya, seandainya seekor lalat kecil yang tidak ada artinya merampas kepunyaannya itu dari padanya. Apakah patung yang demikian itu layak disembah? 
Tindakan orang-orang musyrik itu menunjukkan kebodohannya. Alangkah lemahnya orang-orang yang menyembah patung itu, demikian pula patung yang disembah itu. 
Sebagian ahli tafsir menafsirkan ayat ini ialah: berhala-berhala yang tidak sanggup merebut kembali barang yang diambil lalat daripadanya adalah benda yang amat lemah, tidak dapat berbuat sesuatu, sedang lalat yang menyambar barang itu sangat lemah pula, dijentik sedikit saja ia akan mati dan hancur. Patung dan lalat itu sama-sama lemahnya.

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(QS. 22:74)

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (74) 
Orang-orang musyrik mengaku bahwa mereka, menyembah berhala atau patung itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi pengakuan mereka itu dibantah Allah bahwa cara yang mereka lakukan itu, tidak saja menghina Allah, bahkan menganggap bahwa Allah SWT tidak kuasa langsung menerima permohonan dan doa hamba-hamba-Nya, karena itu perlu adanya sesuatu yang membantunya sebagai perantara. 
Sungguh Allah SWT yang berhak disembah itu Maha Kuat dan Kuasa, Maha Perkasa, tak ada sesuatupun yang dapat mengalahkannya. Dia berbuat menurut yang dikehendaki-Nya, tidak seperti patung yang disembah oleh orang-orang musyrik itu, yang tidak dapat merebut kembali. benda yang telah direbut lalat dari padanya. Allah SWT berfirman: 

إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين 
Artinya: 
Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Az Zariyat: 58)

Allah memilih utusan-utusan- (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. 22:75)

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (75) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah memilih beberapa orang di antara para malaikat, untuk menjadi perantara antara-Nya dengan para Rasul yang diutas-Nya, untuk menyampaikan wahyu seperti malaikat Jibril. Demikian pula Dia telah memilih beberapa orang Rasul yang akan menyampaikan agama-Nya kepada manusia. Hak memilih para Rasul adalah Hak Allah SWT, tidak seorangpun yang berwenang menetapkannya selain dari Dia. Dia Maha Mendengar semua yang diucapkan oleh hamba-hamba-Nya, melihat keadaan dan mengetahui kadar kemampuan mereka, sehingga Dia dapat menetapkan dan memilih siapa yang patut menjadi Rasul atau Nabi di antara mereka. 
Diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah pernah berkata, "Apakah pernah diturunkan wahyu atasnya di antara kita?", Maka Allah SWT menurunkan ayat ini. 
Dan hadis Nabi saw, beliau bersabda. 

إن الله اصطفى موسى بالكلام وإبراهيم الخلة 
Artinya: 
Sesungguhnya Allah telah memilih Musa sebagai kalim Allah dan Ibrahim sebagai Khalilullah.

Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.(QS. 22:76)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ (76) 
Allah Maha Mengetahui keadaan para malaikat dan keadaan manusia, baik sebelum mereka diciptakan maupun sesudah mereka diciptakan dan mengetahui pula keadaan mereka sesudah tiada nanti. Dia Maha Mengetahui apa yang akan terjadi, apa yang telah terjadi, dan mengetahui pula akhir segala sesuatu nanti, karena kepada-Nyalah kembalinya urusan segala sesuatu.

Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.(QS. 22:77)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (77) 
Pada ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar: 
1. Mengerjakan salat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, lengkap dengan syarat-sayarat dan rukun-rukunnya. Pada ayat ini salat disebut dengan "Ruka" dan "sujud", karena rukuk dan sujud itu merupakan ciri khas dari salat dan termasuk dari rukun-rukunnya. 
2. Menghambakan diri dan bertobat kepada Tuhan, beribadat kepada Tuhan, adalah merupakan perwujudan dari isi hati sanubari yang telah merasakan kebesaran, kekuasaan dan. keagungan Allah, karena dirinya sangat tergantung kepadanya, dan hanya Dialah yang menciptakan, memelihara kelangsungan hidup dan mengatur seluruh makhluk-Nya. Beribadat kepada Tuhan ada yang dilakukan secara langsung, seperti salat, puasa bulan Ramadan, menunaikan zakat dan menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadat yang dilakukan tidak secara langsung, seperti berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong, mengolah alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. 
3. Mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memperkuat hubungan silaturahmi, berbudi pekerti yang baik, hormat menghormati, kasih mengasihi sesama manusia. 
Jika manusia mengerjakan tiga macam perintah di atas, maka mereka akan berhasil dalam kehidupan memperoleh kebahagiaan ketenteraman hidup, dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh surga yang penuh kenikmatan.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.(QS. 22:78)

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ (78) 
Di samping perintah-perintah di atas, Allah SWT juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, semata-mata dilaksanakan karena Allah dan janganlah kaum Muslimin merasa khawatir dan takut kepada siapapun selain Allah dalam berjihad itu. 
Ada empat macam jihad di jalan Allah yaitu: 
1. Jihad dalam arti mempertahankan diri dari serangan musuh, sebagaimana firman Allah: 

وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا 
Artinya: 
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas (Q.S. Al Baqarah: 190) 
2. Jihad dalam arti menegakkan agama Allah dan untuk meninggikannya, sebagaimana firman Allah SWT: 

وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين كله لله فإن انتهوا فإن الله بما يعملون بصير 
Artinya: 
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan (Q.S. Al Anfal: 39) 
3. Jihad dengan arti berusaha melepaskan diri dari godaan setan, sebagaimana firman Allah: 

الذين ءامنوا يقاتلون في سبيل الله والذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت فقاتلوا أولياء الشيطان إن كيد الشيطان كان ضعيفا 
Artinya: 
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. (Q.S. An Nisa: 76) 
4. Jihad dengan arti memerangi hawa nafsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi: 

عن جابر قال: قدم على رسول الله صلى الله عليه وسلم قوم عزاة فقال: قدمتم خير مقدم قدمتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر قيل وما الجهاد الأكبر قال مجاهدة العبد هواه. 
Artinya: 
Dari Jabir ia berkata, "Telah datang kepada Rasulullah saw suatu kaum yang baru datang dari peperangan. Maka beliau bersabda, "Kamu datang dengan kedatangan yang baik, kamu telah datang dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang besar" Seorang berkata, "Apakah jihad yang besar itu? Rasulullah menjawab "Perjuangan hamba melawan hawa nafsunya". (H. Ditakhrijkan oleh Baihaqi ) 
Pada mulanya peperangan itu dibenci oleh kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah SWT: 

كتب عليكم القتال وهو كره لكم 
Artinya: 
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu suatu yang kamu benci (Q.S. Al Baqarah: 216) 
Sekalipun perang itu dibenci oleh kaum Muslimin, tetapi karena untuk mempertahankan diri dan menegakkan agama Allah, maka peperangan itu dibolehkan dan kaum Muslimin harus melakukannya. Dalam pada itu Allah SWT melarang kaum Muslimin melakukan perbuatan-perbuatan melampaui batas dalam peperangan. 
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah SWT telah memilih umat Muhammad untuk melakukan jihad itu. Pemilihan itu adalah karena agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang telah disempurnakan Allah, yang di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan tentang jihad. Hal ini merupakan penghormatan Allah SWT kepada Nabi Muhammad beserta umatnya. 
Allah SWT menerangkan bahwa agama yang telah diturunkan-Nya kepada Muhammad itu bukanlah agama yang sempit dan sulit, tetapi adalah agama yang lapang dan tidak menimbulkan kesulitan kepada hamba yang melakukannya. Semua perintah-perintah dan larangan-larangan yang terdapat dalam agama Islam itu tujuannya adalah untuk melapangkan dan memudahkan hidup manusia, agar mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat nanti. Hanya saja hawa nafsu manusialah yang mempengaruhi dan menimbulkan dalam pikiran mereka bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan Allah itu terasa berat dikerjakan. 
Rasulullah saw mengatakan bahwa agama Islam itu mudah, orang-orang yang memberat-beratkan beban dalam agama akan dikalahkan oleh agama sendiri, sebagaimana tersebut dalam hadis: 

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الدين يسر ولا يشاد الدين أحدا إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة. 
Artinya: 
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, beliau pernah bersabda, "Sesungguhnya agama itu mudah dan sekali-kali tidak akan ada seorangpun memberatkan agama. kecuali agama itu akan mengalahkannya. Karena itu bekerjalah kamu dengan betul sederhanakanlah, bergembiralah, dan jadikanlah berkarya di pagi dan di petang hari serta bepergian sebagai penolongmu". (H.R. Bukhari) 
Rasulullah saw pernah memberikan suatu peringatan yang keras kepada suatu golongan yang memberatkan beban dalam agama, sebagaimana tersebut dalam hadis: 

عن عائشة قالت صنع رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرا فترخص فيه فبلغ ذلك ناسا من أصحابه فكأنهم كرهوه وتنزهوا عنه فبلغه ذلك فقام خطيبا فقال ما بال رجال بلغهم عني أمر ترخصت فيه فكرهوه وتنزهوا عنه فوالله لأنا أعلمهم بالله وأشدهم له خشية 
Artinya: 
Dari 'Aisyah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw pernah membuat sesuatu, maka beliau meringankannya. lalu sampailah hal yang demikian kepada beberapa orang sahabat beliau. Seolah-olah mereka tidak menyukainya. Maka sampailah persoalan itu pada beliau. lalu beliau berdiri berpidato dan berkata: Apakah gerangan keadaan orang-orang yang telah sampai kepada mereka tentang sesuatu perbuatan yang aku meringankannya, lalu mereka tidak menyukainya?. Demi Allah (kata Rasulullah): Sesungguhnya aku orang yang paling tahu di antara mereka tentang Allah dan orang yang paling takut di antara mereka kepada-Nya. (H.R. Bukhari dan Muslim) 
Dari riwayat bahwa beberapa orang sahabat Rasul ingin menandingi ibadah beliau, sehingga ada yang berkata, "Aku akan puasa setiap hari". Dan yang lain lagi berkata, "Aku tidak akan mengawini wanita" Maka sampailah hal yang demikian kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda: 

ما بال أقوام قالوا كذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني. 
Artinya: 
Apakah gerangan keadaannya orang yang telah mengharamkan wanita?, makan dan tidur ? Ketahuilah, sesungguhnya aku salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang benci kepada sunahku, maka ia bukanlah termasuk umatku (H.R. Nasai) 
Dengan keterangan hadis-hadis di atas nyatalah bahwa agama Islam adalah agama yang lapang, meringankan beban, tidak picik dan tidak mempersulit. Seandainya ada praktek dan amal-amal agama Islam itu memberatkan, picik dan sempit, maka hal itu bukanlah berasal dari agama Islam, tetapi tidak mengetahui hakikat Islam itu. 
Dalam kehidupan sehari-hari terlihat masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami dengan baik tujuan Allah menurunkan syariat-Nya kepada Nabi saw. Seperti Allah SWT mensyariatkan salat dengan tujuan agar manusia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi sebagian kaum Muslimin merasa berat mengerjakan salat yang lima waktu itu, bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa salat itu mengganggu waktu berharga bagi mereka. Demikian pula pendapat mereka tentang ibadat-ibadat lainnya. 
Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah sesuai dengan agama Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan kedua agama itu sama-sama bersendikan ketauhidan. Seakan-akan Allah SWT memperingatkan kepada bangsa Arab waktu itu, "Hai bangsa Arab, kamu mengaku memeluk agama yang dibawa nenek moyangmu Ibrahim, karena itu ikutilah agama yang dibawa Muhammad, agama yang seasas dengan agama yang dibawa Ibrahim, agama tersebut yang berasaskan tauhid, tidak ada kesempitan dan kepicikan di dalamnya. Dan Allah SWT menamakan orang-orang yang memeluk agama tauhid dengan "muslim". 
Dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasulullah saw menjadi saksi di hari kiamat atas umatnya. Maksudnya ialah dia bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalah Allah kepada mereka, menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan agar mereka tetap berpegang teguh kepada agama Allah, serta beribadat kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dun menghentikan larangan-larangan-Nya. Sedangkan kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia di hari kiamat kelak, maksudnya ialah mereka telah melakukan seperti yang telah dilakukan Rasul atas mereka, yaitu mereka telah menyeru manusia agar beriman, menyampaikan agama Allah, melakukan tugas yang dibebankan Allah dan Rasul kepada mereka dengan sebaik-baikaya. Apabila manusia menerima atau menolak seruan mereka itu, maka yang demikian mereka serahkan kepada Allah. 
Sebagian Ahli tafsir menafsirkan ayat ini, kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia ialah termasuk di dalam persaksian mereka atas umat-umat yang terdahulu, yang telah diutus Allah Rasul-rasul kepada mereka. Mereka mengetahui hal itu dari Allah melalui Alquran yang menerangkan bahwa Rasul dahulu telah menyampaikan agama yang berasaskan tauhid kepada mereka. 
Agar semua perintah Allah yang disebutkan itu dapat dilaksanakan dengan baik, dan agar umat Muhammad yang ditugaskan menjadi saksi terhadap manusia pada hari Kiamat dapat melakukan persaksian itu dengan sebaik-baiknya, maka Allah memerintahkan kepada mereka: 
1. Selalu melaksanakan salat yang lima waktu, karena salat menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar dan merupakan penghubung yang kuat antara Tuhan yang disembah dengan hamba-Nya. 
2. Menunaikan zakat, agar dapat membersihkan jiwa dan harta, agar menghilangkan jurang yang terdapat antara si kaya dan si miskin. 
3. Berpegang teguh dengan tali Allah dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menghentikan segala larangan-Nya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL-HAJJ>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar