Jumat, 24 Januari 2014

As Shaffaat 111-120

[TAFSIR] : ASH-SHAFFAAT
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH AS SHAFFAT >>

111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.(QS. 37:111)

Ash Shaaffaat 108 - 111 
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) 
Dalam ayat-ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa umat manusia dari berbagai agama (samawi) dan golongan mencintai Nabi Ibrahim as, sepanjang masa. Penganut agama Yahudi, Nasrani dan Islam semuanya menghormatinya dan memuji namanya, bahkan kaum musyrikin Arab mengakui bahwa agama mereka juga mengikuti agama Islam (Ibrahim). 
Demikianlah Allah SWT memenuhi permohonan Ibrahim as ketika dia berdoa seperti difirmankan Allah SWT: 
واجعل لي لسان صدق في الآخرين واجعلني من ورثة جنة النعيم 
Artinya: 
dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, (Q.S. As Syu'ara: 84-85) 
Kemudian Allah SWT menyebutkan lagi penghargaan kepada Ibrahim as bahwa Dia memberikan salam kesejahteraan kepadanya dan salam kesejahteraan untuk Ibrahim as ini terus hidup di tengah-tengah umat manusia bahkan juga di kalangan malaikat. Dengan demikian ada tiga ganjaran yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, pertama seekor kambing besar yang didatangkan kepadanya, kedua pengabdian keharuman namanya sepanjang masa dan ucapan salam sejahtera dari Tuhan dan manusia. Begitulah Allah SWT memberikan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Semua ganjaran itu sebagai imbalan ketaatannya melaksanakan perintah Allah SWT. 
Ibrahim as mencapai prestasi yang tinggi itu adalah karena dorongan iman yang kuat dan keikhlasan ibadahnya kepada Tuhan sehingga dia termasuk hamba-hamba Allah yang beriman.

112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 37:112)
Ash Shaaffaat 112 
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) 
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa dia telah menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim tentang akan lahirnya seorang putra dari istrinya yang pertama "Sarah". Berita ini disampaikan oleh malaikat yang menyamar sebagai manusia. Ketika bertamu ke rumahnya dan waktu Sarah sudah tua sebagaimana diceritakan Allah dalam firman Nya: 

فأوجس منهم خيفة قالوا لا تخف وبشروه بغلام عليم فأقبلت امرأته في صرة فصكت وجهها وقالت عجوز عقيم قالوا كذلك قال ربك إنه هو العليم الحكيم 
Artinya: 
(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul". Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu menfirmankan". Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Az Zariyat: 28-30) 
Dan malaikat juga memberi tahukan bahwa Ishak ini adalah seorang Nabi dan dari padanya akan diturunkan Yakub juga seorang Nabi. Keduanya adalah termasuk hamba-hamba Allah yang saleh, orang yang suka berbuat kebaikan dan membawa kemaslahatan kepada umatnya. 
Mengenai berita kelahiran Ishak ini, diberitakan Tuhan juga di dalam surah-surah lain seperti dalam surah Hud (11): 69-73, surah Maryam (19): 49 dan surah Al-Anbiya (21): 27. 
Di kalangan mufassirin terdapat pendapat bahwa Ishaklah yang akan disembelih oleh Ibrahim untuk memenuhi perintah Tuhan. bukan kakaknya Ismail. Ibnu Kasir dalam tafsirnya mengutip keterangan AI-Bagawi menyatakan bahwa Umar, Ali Ibnu Mas'ud dan Al `Abbas berpendapat Ishaklah yang akan dijadikan korban itu. Sumber pendapat demikian ini adalah dari orang Yahudi yang masuk agama Islam. Menurut Ibnu Kasir pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa Ishaklah yang akan disembelih itu, semuanya bersumber dari Ka'bul-Akhbar. Dia seorang Yahudi yang masuk Islam pada zaman Khalifah Umar, dan mulailah ia membacakan isi kitab Taurat itu kepada Umar. Barang kali Umar tertarik kepadanya, karena masyarakat ikut mendengarkan ceritanya dan meriwayatkan cerita-cerita itu tanpa memperhatikan mana ampas dan mana patinya, sedangkan umat Islam sebenarnya tidak memerlukan satu kalimatpun dari padanya. 
Berbicara masalah perbedaan pendapat tentang sembelihan ini Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma'ad mengatakan: "Pendapat yang benar menurut ulama ulama sahabat, para tabi'in dan ulama-ulama kemudian, Ismaillah yang menjadi sembelihan Ibrahim as itu, dan pendapat yang mengatakan sembelihan itu Ishaq salah sekali dipandang dari pelbagi segi. Aku dengar kata Ibnul Qayyim Syaikhul Islam Taimiyah rahimahullah berkata: "Pendapat tersebut dilancarkan oleh Ahli Kitab, padahal ia bertentangan dengan isi kitab sendiri". 
Di dalam kitab Taurat itu dikatakan bahwasannya Allah memerintahkan Ibrahim as menyembelih anaknya yang pertama lahir. Baik orang Islam maupun Ahli Kitab sepakat bahwa putra yang pertama kali lahir adalah Ismail as. Tetapi kemudian mereka melakukan pemutarbalikan isi Taurat dengan mencantumkan ke dalam kata-kata: "Sembelihlah anakmu Ishak". Menurut Ibnu Taimiyah: "Itulah tambahan hasil pemutarbalikan orang Yahudi , karena tambahan itu bertentangan dengan kata-kata anak pertama, saw-satunya kedengkian mereka kepada keturunan Ismail as yang memperoleh kemuliaan, menyebabkan mereka melakukan pemalsuan isi kitab ini". 
Alasan kedua yang dikemukakan Ibnu Taimiyah di dasarkan Alquran sebagaimana firman Allah SWT: 

فبشرناه بإسحاق ومن وراء إسحاق يعقوب 
Artinya: 
Maka Kami sampaikan kepadanya, berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub. (Q.S. Hud: 71) 
Allah SWT mengabarkan kepada Sarah akan kelahiran Ishak, yang akan menurunkan anak namanya Yakub. Maka tidaklah mungkin Tuhan menyampaikan kelahiran Ishak lalu memerintahkan menyembelihnya padahal telah dinyatakan dari padanya akan diturunkan Yakub. Bagaimana bisa jadi Yakub lahir ke dunia kalau bapaknya dijadikan sembelihan, padahal dia dijanjikan akan lahir turun dari Ishak?. Jadi kalau demikian bukanlah Ishak yang dijadikan sembelihan tetapi Ismail. 
Alasan ketiga Ibnu Taimiyah menunjuk surah berita Ibrahim as dan anaknya dalam surah As Sattat ini. Dalam ayat 103-111 diceritakan ketika Ibrahin as akan menyembelih anaknya untuk melaksanakan perintah Tuhan, lalu datang suara menegurnya dari belakang, yang menyeru bahwa Ibrahim dengan tindakannya itu dipandang sudah melaksanakan perintah Tuhan. Atas ketaatannya yang tulus itu, Ibrahim as memperoleh pahala dan pujian dari Tuhan. 
Sesudah peristiwa itu, lalu Tuhan memberitahukan kepada Ibrahim as akan kelahiran Ishak, sebagai kesyukuran Tuhan atas kesabaran dan kataatannya. Dengan demikian tentulah bukan Ishak yang akan disembelih itu, karena dia belum lahir. 
Alasan keempat: bahwa peristiwa Ibrahim as akan menyembelih anak itu terjadi di +dekat Mekah tidak ada yang meragukan. Karena itulah ibadah korban diadakan pada hari raya haji. Juga sai antara Safa dan Marwah serta melempar jumrah dalam ibadah haji merupakan kenangan pada keadaan Ismail as dan ibunya. Seperti diketahui Ismail as dan ibunya tinggal di Mekah. Waktu dan tempat ibadah korban selalu dihubungkan dengan Baitulharam. Jika sekiranya Ishak yang akan dijadikan sembelihan, tentulah upacara ibadah korban diadakan di Syam tidak di Mekah. 
Demikianlah beberapa alasan yang dikemukakan Ibnu Taimiyah untuk membantah pendapat yang mengatakan bahwa Ishaklah yang menjadi sembelihan itu.

113. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.(QS. 37:113)

Ash Shaaffaat 113 
وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113) 
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwasannya keberkahan dan kesentosaan hidup dunia dan akhirat dilimpahkan-Nya kepada Ibrahim dan Ishak as. Dari keduanya lahir keturunan yang tersebar luas dan dari keturunan mereka banyak bangkit para Nabi dan Rasul. Orang Islam disuruh pula agar selalu memohonkan kepada Tuhan setiap kali salat kiranya Ibrahim as dan keluarganya diberi berkah dan kebahagiaan. 
Dari anak cucu mereka yang menyebar luas di muka bumi ada yang berbuat kebaikan dan ada pula yang zalim terhadap dirinya sendiri. Mereka yang berbuat demikian ialah mereka yang beriman kepada Tuhan, menjunjung tinggi perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Sesuai dengan petunjuk Rasul-rasul Nya. Adapun mereka yang berbuat zalim terhadap dirinya, ialah mereka yang mengingkari agama yang dibawa para Rasul serta berbuat fasik dan kemaksiatan. 
Dengan ayat ini Allah SWT memperingatkan manusia bahwa dari keluarganya yang mulia dan terhormat, kemungkinan lahir turunan yang baik atau jelek. Keturunan atau ras tidak memberikan jaminan untuk menjadi mulia bagi keturunan atau menjadi hina karena hal itu masih tergantung kepada usaha pendidikan dan pembinaan. Ibrahim, Ishak dan Yakub adalah orang-orang yang dinyatakan Tuhan telah mencapai tingkat kemuliaan seperti firman-Nya: 

واذكر عبادنا إبراهيم وإسحاق ويعقوب أولي الأيدي والأبصار 
Artinya: 
Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Q.S. Sad: 15) 
Tetapi keturunan Yakub yang disebut Bani Israel, baik dalam sejarah kuno maupun sejarah modern banyak sekali mengalami penderitaan dan penghinaan. Sebabnya karena mereka berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri, durhaka terhadap leluhur mereka dan meninggalkan petunjuk Tuhan dan para Nabi.

114. Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.(QS. 37:114)
115. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.(QS. 37:115)
116. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.(QS. 37:116)

Ash Shaaffaat 114 
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ (114) 
Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah menganugerahkan kepada Musa dan Harun kenikmatan yang besar yakni kenabian dan kerasulan serta kepercayaan yang diberikan kepada keduanya untuk memikul tugas yang mulia yaitu memimpin Bani Israel dan membebaskan mereka dari perbudakan Firaun dan membawa kembali ke bumi asal mereka. Tugas ini sangatlah berat. Sekiranya bukan karena pertolongan Tuhan tentulah mereka mengalami kebinasaan. 
Kisah Musa paling banyak disebutkan dalam Alquran. Sebagai seorang Rasul dia mempunyai banyak persamaan dengan Nabi Muhammad saw sebagaimana diterangkan Allah SWT dalam surah 73 (Al Muzzammil) ayat 15. 
Dalam ayat ini dua macam pemberian Tuhan yang merupakan kenikmatan bagi keduanya dan kaumnya. 
Pertama: 
(115) Dilepaskannya mereka dan kaumnya dari bencana yang besar. Sejak lama, orang Israel hidup di Mesir di bawah kekuasaan Firaun. Mereka disuruh melakukan pekerjaan yang berat-berat dengan paksa dan diperlakukan sebagai budak beliau. Bahkan anak laki-laki mereka banyak yang dibunuh dan anak-anak perempuan dibiarkan hidup atas perintah dan ramalan dukun-dukun yang mengelilingi Firaun. Hampir saja mereka mengalami kemusnahan, sekiranya Musa dan Harun tidak datang menyelamatkan mereka. 
Kedua: 
(116) Di samping tertolongnya mereka dari kejaran Firaun bahkan Firaun tenggelam di dasar laut, Bani Israel berhasil pula mengalahkan musuh-musuh lainnya, dan merebut kembali negeri-negeri mereka, mengumpulkan harta kekayaan yang mereka peroleh sepanjang hidup mereka, mereka akhirnya menjadi bangsa yang kuat, lagi memiliki kekuatan dan kekuasaan hingga memiliki negara yang besar seperti zaman raja Talut dan Daud as. Firman Allah SWT: 

فهزموهم بإذن الله وقتل داود جالوت وآتاه الله الملك والحكمة وعلمه مما يشاء 
Artinya: 
Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Talut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki Nya. (Q.S. Al Baqarah: 251)

117. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.(QS. 37:117)
118. Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.(QS. 37:118)

Ash Shaaffaat 117 - 118 
وَآتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ (117) وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (118) 
Dalam dua ayat ini, Allah SWT menjelaskan lagi nikmat yang diberikan Nya kepada Bani Israel. Dua macam nikmat selalu merupakan kenikmatan lahiriyah maka dua macam berikut ini kenikmatan batiniyah, yakni dua macam anugerah Tuhan yang menyelamatkan dan meningkatkan jiwa dan akhlak mereka. 
Pertama: 
Allah SWT memberikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat yang sangat jelas lagi memuat ketentuan-ketentuan dan petunjuk baik untuk kesentausaan kehidupan dunia maupun akhirat. Allah SWT berfirman: 

ولقد آتينا موسى وهارون الفرقان وضياء وذكرا للمتقين 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al Anbiya: 48) 
Kitab ini diwariskan kepada Bani Israel untuk dijadikan pegangan hidup mereka sebagai dijelaskan Allah dalam firman Nya: 

ولقد آتينا موسى الهدى وأورثنا بني إسرائيل الكتاب هدى وذكرى لأولي الألباب 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israel, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir. (Q.S. Al Mu'min: 53-54) 
Kedua: 
Allah SWT menunjukkan jalan kebenaran kepada keduanya untuk menuju kepada kebahagiaan yang hakiki. Dengan akal pikiran, maka keduanya menjalankan dan mengikuti petunjuk-petunjuk Ilahi baik dalam bidang iktikad maupun muamalah, dan Allah SWT masih menganugerahkan kepada mereka taufik dan perlindungan Nya.

119. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian;(QS. 37:119)
120. (yaitu):` Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun `.(QS. 37:120)

Ash Shaaffaat 119 - 120 
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الْآخِرِينَ (119) سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ (120) 
Kemudian Allah SWT menerangkan lagi kenikmatan lain yang berupa kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada keduanya, sebagaimana kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada Nuh dan Ibrahim as. Dan kemuliaan itu ialah: 
Pertama: 
Tuhan mengabdikan sebutan (keharuman) nama keduanya di kalangan para Nabi dan umat manusia sepanjang masa. Juga pujian dan doa terus diberikan kepadanya. 
Kedua: 
Allah SWT menyebutkan salam kesejahteraan bagi Musa dan Harun agar para malaikat, jin dan manusia menyebutkan juga dengan ucapan salam sejahtera yang serupa bagi keduanya. Dengan ucapan salam sejahtera itu maka nama mereka akan tetap harum selama-lamanya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AS SHAFFAT (182)>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar