Jumat, 24 Januari 2014

As Shaffaat 61 - 70

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AS SHAFFAT >>

61. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja`.(QS. 37:61)
Ash Shaaffaat 58 - 61 
أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ (58) إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (59) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (60) لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ (61) 
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan mereka di dalam surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab. Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian pertama, yaitu kematian yang meninggalkan kehidupan dunia. Berbeda halnya dengan orang-orang kafir di dalam neraka. Meskipun mereka sudah mengalami kematian pertama, namun mereka masih menginginkan kematian kedua kalinya untuk mengakhiri penderitaan yang bersangkutan di neraka Jahanam. 
Adapun penghuni surga tidak pernah meragukan keabadian hidup di surga, karena keraguan itu menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan adalah penderitaan. Penghuni surga menyatakan lagi dengan penuh kesungguhan bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh, kelezatan makanan dan minuman dan segala kepuasan rohaniah di dalam surga itu adalah kemenangan yang besar. Dan untuk mencapai kemenangan yang besar menurut mereka, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan pengabdian kepada Allah SWT di dunia.

61. (Makanan syurga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.(QS. 37:62)
62. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang zalim.(QS. 37:63)
Ash Shaaffaat 62 - 63 
أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ (62) إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ (63) 
Dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang kafir tentang azab yang mereka alami di neraka. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan tentang hidangan yang lebih baik apakah rezeki yang diberikan kepada penghuni surga sebagai telah disebutkan ataukah buah pohon zaqqum yang pahit lagi menjijikkan. 
Pertanyaan itu adalah sebagai ejekan kepada mereka. Namun kemudian mereka mempertanyakan tentang pohon zaqqum itu. Mungkinkah dia tumbuh dalam neraka, padahal neraka itu membakar segalanya. Bagi mereka pohon zaqqum itu merupakan ujian dan cobaan dan di akhirat akan dijadikan bahan siksaan. Allah SWT berfirman: 

وما جعلنا الرؤيا التي أريناك إلا فتنة للناس والشجرة الملعونة في القرآن ونخوفهم فما يزيدهم إلا طغيانا كبيرا 
Artinya: 
Dan kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Alquran. Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (Q.S. Al Isra': 60)

64. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka yang menyala,(QS. 37:64)
65. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.(QS. 37:65)
Ash Shaaffaat 64 - 65 
إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64) طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65) 
Allah SWT dalam ayat ini menegaskan bahwa pohon zaqqum itu tumbuh dari dasar neraka yang menyala-nyala. Dahan-dahannya menjulang tinggi setinggi nyala api neraka. Pohon itu tumbuh dari api dan dari api pula dia dijadikan. Mayangnya seperti kepala setan sangat buruk dan menjijikkan. Orang Arab dalam menggambarkan sesuatu yang sangat buruk dan menjijikkan mengumpamakannya dengan setan, misalnya seperti kepala setan. Tetapi wujud setan itu tidak ada yang mengetahui. 
Hanya saja khayalan manusia menggambarkannya sangat buruk. Sebaliknya dalam menggambarkan sesuatu yang indah, mereka mengumpamakannya dengan malaikat, Karena itu Tuhan mempergunakan kata malaikat dalam menggambarkan kebagusan Yusuf as dalam firman-Nya: 

ما هذا بشرا إن هذا إلا ملك كريم 
Artinya: 
Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. (Q.S. Yusuf: 31)

66. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.(QS. 37:66)
67. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.(QS. 37:67)
68. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.(QS. 37:68)

Ash Shaaffaat 66 - 68 
فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ (66) ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ (67) ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ (68) 
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa makanan penghuni neraka itu buah pohon zaqqum. Walaupun mereka mengetahui baunya yang busuk dan rasanya yang pahit tetapi karena sangat lapar dan makanan lain tidak ada terpaksalah mereka memakannya sampai penuh perut mereka. Allah berfirman: 

ليس لهم طعام إلا من ضريع لا يسمن ولا يغني من جوع 
Artinya: 
Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. (Q.S. Al Gasyiah: 6-7) 
Sehabis makan buah zaqqum itu tentulah mereka memerlukan minuman. Maka kepada mereka disediakan minuman yang bercampur dari air yang sangat panas yang menghanguskan muka mereka, sebagaimana dilukiskan Allah SWT dalam firman-Nya: 

إنا أعتدنا للظالمين نارا أحاط بهم سرادقها وإن يستغيثوا يغاثوا بماء كالمهل يشوي الوجوه 
Artinya: 
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. (Q.S. Al Kahfi: 29) 
Setelah mereka makan dan minum maka mereka dikembalikan ke neraka jahim, tempat asal mula mereka.

69. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat.(QS. 37:69)
70. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.(QS. 37:70)
Ash Shaaffaat 69 - 70 
إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ (69) فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ (70) 
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan sebabnya orang-orang kafir itu terjerumus ke dalam penderitaan azab yang sangat berat. Yaitu bahwa mereka sesudah mendengar seruan yang disampaikan Nabi Muhammad saw, benar-benar mengetahui dan menyadari kesesatan nenek moyang mereka tanpa mengindahkan peringatan Rasulullah saw. Mereka terlalu terburu-buru mengikut nenek moyang sehingga pikiran yang sehat dikesampingkan, seolah-olah mereka tidak sempat merenungkan peringatan-peringatan Rasul itu. 
Kelakuan demikian itu sangat tercela karena tidak saja merugikan bagi pelakunya tetapi juga angkatan-angkatan yang hidup berikutnya. Kemunduran dan kehancuran akan menimpa umat, bilamana daya berpikir dan berprakarsa tidak berkembang pada mereka. Kebahagiaan akan dapat dicapai bilamana umat itu terus menerus mengembangkan daya berpikir mereka dengan pengamatan dan penelitian kehidupan spiritual dan material.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH  AS SHAFFAT (182)>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar