Minggu, 26 Januari 2014

Shad 31-40

[TAFSIR] : SHAAD
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH SHAD >>

(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,(QS. 38:31)

Shaad 31 
إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ (31) 
Allah SWT menyebutkan salah satu di antara peristiwa yang dihadapi Sulaiman, yang menyebabkan dia pantas mendapat pujian. Peristiwa itu terjadi pada saat beliau memeriksa, latihan pasukan berkuda yang biasanya dilakukan pada sore hari. Kuda-kuda itu dilatih agar dapat diketahui ketangkasannya dan kemampuan geraknya sehingga memungkinkan untuk dibawa dalam medan pertempuran. Juga dilatih pula kemampuannya untuk mengurangi kecepatannya atau berhenti seketika, sewaktu-waktu diperlukan dan daya tahannya menghadapi serangan-serangan mendadak. Kuda-kuda itu dilatih sedemikian rupa agar dapat dikendalikan sesuai dengan taktik yang dikehendaki oleh pasukan yang mengendarainya. Ketangkasan kuda ikut menentukan berhasil tidaknya sesuatu pasukan dalam menguasai medan dan mematahkan serangan musuh.

maka ia berkata: `Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hidang dari pandangan.(QS. 38:32)

Shaad 32 
فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ (32) 
Kemudian Allah SWT menjelaskan keadaan Sulaiman pada mat menyaksikan latihan kuda itu. Ia mengatakan bahwa ia menyukai kuda karena kuda itu sangat berguna untuk digunakan sebagai alat menegakkan kebenaran dan membela agama Allah. Kesenangannya melatih kuda itu sedemikian mencekam dirinya, sehingga tiap sore hari ia mengunjungi hingga matahari terbenam di ufuk langit bagian barat yaitu hingga cahaya matahari mulai sirna, dan gelapnya malam menghalangi pemandangannya untuk menyaksikan latihan itu. Pada saat-saat itulah terjadi pergolakan dalam dirinya, kepentingan manakah yang harus didahulukan di antara kedua kepentingan. Kepentingan pertama ialah kesadaran jiwanya untuk beribadat kepada Allah. Sedangkan kepentingan kedua ialah melatih kuda untuk kepentingan menegakkan kebenaran dan membela kalimat Tauhid. Dalam keadaan seperti itu ia menyadari bahwa apabila ia menyaksikan latihan berkuda itu hingga larut, berarti ia mengabaikan ibadah yang harus ia lakukan. 
Di dalam ayat ini tidak dijelaskan secara terperinci apakah kesenangan Sulaiman memeriksa latihan kuda itu menyebabkan. ia kehilangan waktu sorenya untuk melakukan ibadah ataupun tidak. Begitu pula tidak diterangkan yang didahulukan oleh Sulaiman, memeriksa latihan kuda atau melaksanakan ibadah. Namun yang dapat dipahami dari ayat tersebut ialah pada saat dia asyik menyaksikan latihan kuda, terbetiklah dalam hatinya adanya kesadaran beribadat kepada Allah, yang apabila keasyikannya itu dituruti, niscaya berlarut-larut hingga kehilangan kesempatannya untuk bermunajat dengan Allah. Maka pengertian yang patut diambil dari ayat ini ialah, pergolakan yang terjadi pada diri Sulaiman itu ialah penyesalan karena tidak melakukan ibadah kepada Allah pada awal. waktunya, karena sibuk menyaksikan latihan kuda. Kemudian ia sadar dan melaksanakannya pada akhir waktu.

`Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku`. Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya.`(QS. 38:33)

Shaad 33 
رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ (33) 
Dalam pada itu Allah SWT menjelaskan apa yang diperintahkan Sulaiman kepada para pelatih kudanya. Ia menyuruh pelatihnya agar kuda-kuda itu dibawa kembali kepadanya. Dan setelah pelatih itu membawa kuda kepadanya, ia pun mendekati. Lalu ia mengusap kaki dan lehernya sebagai tanda kepuasan Sulaiman terhadap hasil gemilang yang dicapai kuda-kuda itu. Dengan demikian kuda itu telah dapat dipergunakan dalam peperangan untuk menggempur musuh atau untuk mengelakkan serangan-serangan musuh yang datang secara mendadak. 
Dari uraian tersebut dapatlah dikatakan bahwa Sulaiman as hamba Allah yang saleh, taat beribadah, teliti dan cermat merencanakan perjuangan untuk menegakkan kalimat Tauhid serta mempunyai kesadaran yang tinggi dalam saat-saat menentukan mana yang lebih penting dari yang penting.


Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh(yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.(QS. 38:34)

Shaad 34 
وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ (34) 
Kemudian Allah SWT menjelaskan keadaan Sulaiman pada saat mendapat cobaan dan keadaannya setelah selesai menghadapi cobaan itu. Allah SWT mencobanya dengan menimpakan sakit keras. Demikian hebatnya serangan penyakitnya itu hingga kehilangan kekuatan sama sekali. Badannya lemah lunglai tergeletak di atas kursinya seolah-olah tidak bernyawa lagi. 
Di saat-saat menerima cobaan seperti itu, ia selalu meluangkan harapannya kepada Allah serta menerima cobaan itu dengan ikhlas. Pada penghujung ayat, Allah SWT menegaskan bahwa Sulaiman lalu bertobat meminta ampun atas kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya serta berserah diri kepada Allah.

Ia berkata: `Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi`.(QS. 38:35)

Shaad 35 
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (35) 
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa setelah Sulaiman sembuh dari sakitnya, ia menyadari kelemahan yang ada pada dirinya. Ia telah memilih yang kurang penting. Dia telah kehilangan waktu yang utama untuk melakukan ibadah karena menyaksikan latihan kuda. 
Lalu Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar dianugerahi kerajaan yang tidak ada tandingannya, yang tak akan dimiliki oleh seorang jua pun sesudahnya. 
Nabi Sulaiman dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan kenabian. Sejak kecilnya ia terlatih sebagai seorang anak dari seorang raja dan Nabi. Maka ia pun mewarisi kemampuan sebagai raja dan sebagai Nabi. Maka Allah SWT menganugerahkan kepada Sulaiman kemampuan menjadi raja dan sekaligus menjadi Nabi. Itulah sebabnya maka Allah SWT menganugerahkan kepadanya kerajaan yang sangat kuat dan kekayaan yang berlimpah ruah, yang sukar dicari tandingannya. 
Di akhir ayat Allah SWT menyebutkan alasan yang dikemukakan Sulaiman dalam doanya yaitu karena Allah SWT benar-benar akan mengabulkan doa setiap orang yang disertai usaha dan syarat kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kehendak-Nya.

Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya,(QS. 38:36)
dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam,(QS. 38:37)
dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.(QS. 38:38)

Shaad 36 - 38 
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ (36) وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ (37) وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ (38) 
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan beberapa nikmat yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, sebagai jawaban dari pada doanya. Pertama: Allah SWT menganugerahkan kepada Sulaiman kekuasaan menundukkan angin, atas izin Allah angin berhembus dengan kencang atau gemulai menurut kehendaknya pula. 
Allah SWT berfirman: 

ولسليمان الريح عاصفة تجري بأمره إلى الأرض التي باركنا فيها وكنا بكل شيء عالمين 
Artinya: 
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupnya, yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Anbiya: 81) 
Kedua: Allah SWT menganugerahkan kepadanya menundukkan setan-setan yang ahli bangunan dan ahli selam, yang melakukan tugas sesuai dengan perintah Sulaiman. Apabila ia memerintahkan kepada mereka membangun sesuatu bangunan seperti gedung-gedung pertemuan istana, benteng pertahanan atau gedung-gedung tempat menyimpan harta kekayaan Sulaiman dan lain-lain, maka tugas itu dapat mereka selesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Juga apabila Sulaiman memerintahkan mereka untuk mengumpulkan mutiara dan merjan serta kekayaan laut lainnya, tugas itu dapat diselesaikan dengan cepat pula. 
Ketiga: Allah SWT menganugerahkan kepadanya kekuasaan menundukkan setan yang menentang perintahnya. Tangan dan kaki mereka terikat dalam belenggu, agar tidak berbahaya kepada yang lain, dan sebagai hukuman atas pembangkangannya itu. 
Mengenai kekuasaan yang diberikan Allah kepada Sulaiman untuk menundukkan setan, ialah kekuasaan yang menggerakkan mereka untuk melakukan tugas-tugas berat, yaitu tugas-tugas membangun gedung-gedung dan menyelam mengeluarkan kekayaan laut. Demikian pula tidak ada keterangan secara pasti mengenai bagaimana Sulaiman membelenggu setan itu. Sikap yang paling utama ialah kita menerima saja keterangan yang terdapat dalam Alquran dengan keterangan bahwa kita serahkan kepada ilmu pengetahuan hingga dapat mengungkapkan pengertiannya.

Inilah anugerah kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.(QS. 38:39)

Shaad 39 
هَذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (39) 
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan segala macam nikmat itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada Sulaiman secara khusus. Nikmat itu meliputi kerajaan yang besar, kekayaan yang berlimpah-limpah dan kekuasaan yang tak pernah akan diberikan kepada yang lain. Nikmat-nikmat itu dianugerahkan kepadanya agar dipergunakannya sebagaimana mestinya. 
Pada penghujung ayat, Allah menandaskan bahwa nikmat-nikmat itu diberikan kepada Sulaiman tanpa pertanggungjawaban, karena Sulaiman telah diberi kemampuan untuk mengendalikan segala macam nikmat itu.

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.(QS. 38:40)

Shaad 40 
وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ (40) 
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa di samping kemuliaan yang telah dicapainya di dunia, yang sangat menakjubkan itu, ia akan dilimpahi karunia yang lebih nikmat lagi dan kedudukannya yang lebih mulia, Allah menjanjikan kepadanya bahwa ia akan dimasukkan dalam deretan hamba-hamba-Nya yang mempunyai kedudukan yang sangat dekat kepada Allah, yaitu kedudukan yang diperoleh para Rasul dan para Nabi, tempat kembali yang baik yaitu surga na'im yang penuh dengan segala macam kenikmatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar