Minggu, 26 Januari 2014

Shad 1-10

[TAFSIR] : SHAD
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH SHAD >>

Shaad, demi Al quran yang mempunyai keagungan.(QS. 38:1)
Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.(QS. 38:2)

Shaad 1 
وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ (1) 
Shad, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini? 
Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu: 
1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat. 
2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu: 
a. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah. 
b. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu. 
c. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya. 
d. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. 
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya." 
Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri. 
Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut: 
1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata. 
2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah. 
3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab. 
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi). 
Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka. 
Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini: 
1. Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32) 
Alasan-alasan mereka ialah: 
a. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran: 

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) 
Artinya: 
Dengan bahasa Arab yang jelas. 
(Q.S. Asy Syu'ara': 195) 
Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. 
b. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah: 

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) 
Artinya: 
Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. 
(Q.S. Al-Baqarah: 2) 
Firman-Nya lagi: 

وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 
Artinya: 
....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. 
(Q.S. Al-Baqarah: 97) 
Firman-Nya lagi: 

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138) 
Artinya: 
(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. 
(Q.S. Ali Imran: 138) 
Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk. 
c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula: 

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (17) 
Artinya: 
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? 
(Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40) 
2. 
a. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. 
Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73) 
b. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang. 
Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73) 
c. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9) 
d. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303) 
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw." 
Kemudian Allah SWT bersumpah dengan Alquran yang mempunyai keagungan isinya, kemuliaan martabatnya serta kesempurnaan hukumnya yang mengagungkan dan menakjubkan. 
Alquran itu disifati dengan "yang mempunyai ke Agungan" agar manusia memahami bahwa Alquran yang diturunkan kepada Rasul-Nya itu benar-benar dari Allah, dan mengandung ajaran yang benar yang disampaikan oleh Rasulullah kepada seluruh manusia.

Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.(QS. 38:3)
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata:` Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta `.(QS. 38:4)

Shaad 3 
كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ (3) 
Kemudian Allah SWT mengecam kesombongan dan permusuhan mereka dengan menjelaskan bahwa betapa banyaknya umat sebelum mereka, yang menghina dan mengingkari Rasul-rasul Allah, dibinasakan Allah, lalu pada saat azab itu ditimpakan, mereka meminta pertolongan kepada Allah. Namun permintaan tolong mereka itu tidak berguna lagi, dan mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari siksa yang membinasakan. 
Allah SWT berfirman: 

فلما رأوا بأسنا قالوا ءامنا بالله وحده وكفرنا بما كنا به مشركين 
Artinya: 
Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. (Q.S. Al Mu'min: 84) 
Dan firman-Nya: 

لا تركضوا وارجعوا إلى ما أترفتم فيه ومساكنكم لعلكم تسألون 
Artinya: 
Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. (Q.S. Al Anbiya: 12-13)

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata:` Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta `.(QS. 38:4)
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.(QS. 38:5)
Shaad 5 
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) 
Allah SWT menjelaskan pula keheranan kaum musyrikin akan seruan-seruan Rasul. Mereka heran mengapa Muhammad saw menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja, yang bertentangan dengan kepercayaan nenek moyang mereka. Dan setelah Rasulullah mengajak mereka agar meninggalkan sembahan-sembahan mereka yang banyak itu dan menggantinya dengan menyembah Allah Yang Maha Esa maka pada saat itu mereka menganggap bahwa seruan Muhammad itu bukan masalah yang remeh, akan tetapi benar-benar suatu yang mengherankan. Mereka mengingkari seruan itu menurut mereka tidak mungkin nenek moyang mereka menganut keyakinan yang salah, tetapi Muhammad adalah seorang pendusta yang mengaku dirinya menjadi benar. 
Allah SWT berfirman: 

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ 
Artinya: 
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka. "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman, bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka". Orang-orang kafir berkata: "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata. (Q.S. Yunus: 2) 
Sehubungan dengan sebab nuzul ayat ini Ibnu Jarir At Tabari meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang menyatakan: 
"Setelah Abu Talib sakit masuklah serombongan orang-orang Quraisy". Di antara mereka Abu Jahal, mereka berkata : "Sebenarnyalah kemenakanmu mencaci maki tuhan-tuhan kami. Ia betul-betul berbuat dan betul-betul mengatakannya: alangkah baiknya kalau engkau mengutus seseorang untuk melarangnya, maka Abu Talib pun mengutus utusan kepadanya. LaIu Nabi pun datang dan masuk ke rumahnya, sedangkan jarak antara orang-orang Quraisy dengan Abu Talib adalah dekat sekali sekadar tempat duduk yang cukup untuk seorang. Ibnu Abbas berkata: Kemudian Abu Jahal khawatir kalau-kalau Nabi duduk di samping Abe Talib. Lalu ia menjadi bersikap lunak. Ia lalu melompat dan duduk di tempat yang belum diduduki di Abu Talib. Dengan demikian Rasulullah tidak mendapatkan tempat duduk di dekat pamannya. Beliau duduk di dekat pintu. Lalu Abu Talib berkata kepada beliau : "Hai kemenakanku, mengapa kaummu mengadukan engkau. Mereka menuduh engkau memaki tuhan-tuhan mereka, dan engkau pun mengatakan begini begitu". Ibnu Abbas berkata : Orang-orang Quraisy banyak sekali berbicara dengan Abu Talib. Kemudian Rasulullah saw berkata: Hai Pamanku. Sebenarnyalah saya ingin agar mereka itu menyatakan kalimat yang Satu saja, yang dengan kalimat itu orang-orang Arab tunduk kepada mereka, dan orang-orang Ajam (selain Arab) membayar jizyah (pajak kepala) kepada mereka. Maka mereka pun Senang akan kalimat (yang diusulkan itu) dan senang pula akan perkataan Rasul. Lalu kaum Quraisy itu bertanya "Apakah kalimat itu ? Demi Ayahmu, tentu kami memberi balasan kepadamu sepuluh kali lipat". Rasulullah pun bersabda: "La ilaha ilallah". Maka mereka pun bangkit dengan gemetar, sambil menyingsingkan lengan bajunya dan berkata: "Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan. Maka turunlah ayat ini hingga akhir ayat 8.

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata):` Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.(QS. 38:6)

Shaad 6 
وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) 
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa pemimpin-pemimpin Quraisy itu pergi dari rumah Abu Talib setelah terbungkam oleh jawaban Rasul. Mereka mengetahui-Muhammad berkeras hati membela agama. Itulah sebabnya mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk melunakkan hati Muhammad dengan perantaraan pamannya. Mereka berunding apa yang seharusnya dilakukan; dan memeras otak untuk mendapatkan penyelesaian. Akhirnya mereka memutuskan untuk memperkokoh keyakinan pengikut-pengikutnya tetap berjalan dengan keyakinan mereka dan tetap menyembah tuhan-tuhan mereka. 
Di akhir ayat Allah SWT mengungkapkan perkataan pemimpin-pemimpin Quraisy itu kepada pengikut-pengikutnya, bahwa menyembah berhala-berhala itulah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Shaad 6 
وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) 
(Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka) dari majelis tempat mereka berkumpul, yaitu tempat Abu Thalib; di tempat itulah mereka mendengar dari Nabi saw. yang mengatakan, "Katakanlah oleh kalian, 'Laa Ilaaha Illallaah', artinya tiada Tuhan selain Allah (seraya mengatakan, 'Pergilah kalian') maksudnya, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain 'pergilah kalian' (dan tetaplah menyembah tuhan-tuhan kalian) artinya bertahanlah kalian di dalam menyembah tuhan-tuhan kalian itu (sesungguhnya ini) ajaran tauhid yang disampaikan Nabi itu (benar-benar suatu hal yang dikehendaki") olehnya supaya kita melakukannya.

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,(QS. 38:7)
Shaad 7 
مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ (7) 
Allah SWT menjelaskan juga alasan lain yang dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin Quraisy kepada pengikut-pengikutnya, bahwa seruan Muhammad itu tidak benar. Mereka mengatakan kepada kaumnya bahwa mereka tidak pernah mendengar seruan seperti yang diserukan oleh Muhammad itu di dalam agama yang diturunkan terakhir. Mereka maksudkan dengan agama yang diturunkan terakhir, yaitu agama Nasrani yang men-tigakan tuhan. Seruan Muhammad agar manusia mengesakan Tuhan itu hanyalah dusta yang dibuat-buat oleh Muhammad dan bukan datang dari Allah.

mengapa Al quran itu diturunkan kepadanya di antara kita? `Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al quran-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku.(QS. 38:8)
Shaad 8 
أَؤُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ (8) 
Kemudian Allah SWT menjelaskan pengingkaran orang-orang kafir Quraisy bahwa Muhammad diberi wahyu, padahal dia manusia biasa; menurut anggapan mereka yang pantas diangkat menjadi utusan ialah orang yang mempunyai-kemuliaan dan kepemimpinan yang melebihi mereka, padahal Muhammad tidak mempunyai sifat-sifat istimewa yang melebihi mereka. Oleh karena itu tidak mungkin Alquran itu diturunkan kepadanya, sedangkan di antara mereka masih ada orang-orang yang lebih mulia. dan lebih pantas memegang kepemimpinan. 
Allah SWT berfirman: 

وقالوا لولا نزل هذا القرءان على رجل من القريتين عظيم 
Artinya: 
Dan mereka berkata "Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini". (Q.S. Az Zukhruf: 31) 
Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad saw, karena menurut jalan pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu seorang yang kaya raya dan berpengaruh. Mereka tidak menyadari bahwa Allah SWT berkuasa menentukan pilihan menurut kehendak-Nya yang di antaranya mengangkat hamba-Nya menjadi Nabi. Itulah sebabnya Allah SWT berkuasa mengangkat hamha-Nya menjadi Nabi di antara hamba-Nya menurut kehendak-Nya pula. 
Allah SWT berfirman: 

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ 
Artinya: 
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu ? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Q.S. Az Zukhruf: 32) 
Di akhir ayat ini Allah SWT menjelaskan sebab-sebab mereka itu jauh dari kebenaran, yaitu hati mereka diselubungi keraguan yang tidak tertembusi oleh cahaya kebenaran Alquran, dan karena belum merasakan siksa Allah yang pedih. Seandainya mereka mau memperhatikan tanda-tanda kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya, niscaya mereka mengakui kenabiannya, karena wahyu yang diterima itu telah cukup tanda kenabiannya, akan tetapi karena penyakit hasad dan dengki yang telah bersarang dalam dadanya maka mereka tidak mau menerima wahyu itu. Akhirnya mereka terjerumus dalam lembah keingkaran.

Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi?(QS. 38:9)

Shaad 9 
أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ (9) 
Dalam ayat ini Allah SWT mengecam orang-orang Quraisy yang menolak kenabian Muhammad karena beliau bukan dari orang besar dari kalangan mereka. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menanyakan kepada mereka, Apakah mereka memiliki kekuasaan ikut menentukan dan membagi-bagi khazanah rahmat Allah. Di akhir ayat Allah SWT menyebutkan sifat-Nya Yang Maha Perkasa dan Maha Pemberi. Ke Maha Perkasaan yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun juga dan ke Maha Pemberi yang tidak bisa dihalang-halangi oleh kekuasaan yang lain. 
Allah SWT berfirman: 

وربك يخلق ما يشاء ويختار ما كان لهم الخيرة 
Artinya: 
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. (Q.S. Al Qasas: 68) 
Dan firman-Nya: 

الله أعلم حيث يجعل رسالته 
Artinya: 
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (Q.S. Al An'am: 124)

Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? (Jika ada), maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit).(QS. 38:10)

Shaad 10 
أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَلْيَرْتَقُوا فِي الْأَسْبَابِ (10) 
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang Quraisy atas sikapnya yang ingkar dan sombong. Pertanyaan ini mengandung cemoohan kepada mereka, karena memang mereka tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun terhadap langit, bumi dan isi keduanya. Kalau mereka merasa tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun di jagat raya, mestinya mereka juga tidak ikut campur menangani pengangkatan Rasul, yang termasuk urusan gaib, yang kekuasaannya berada pada yang Maha Perkasa dan Maha Agung. 
Di akhir ayat Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya agar menantang mereka menaiki tangga-tangga ke langit, dan mencari daya upaya agar menghalang-halangi wahyu yang didatangkan kepada Rasul pilihan Allah. Maka sebenarnyalah mereka tidak akan mampu melakukannya. Dengan demikian maka jelaslah pengingkaran mereka kepada wahyu hanyalah karena sikap hasad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar