Jumat, 24 Januari 2014

As Shaffaat 81-90

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                          DAFTAR SURAH AS SHAFFAT >>

81. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.(QS. 37:81)
82. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.(QS. 37:82)

Ash Shaaffaat 80 - 82 
إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (80) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (81) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ (82) 
Pengabdian keharuman nama Nuh dengan sebutan salam sejahtera kepadanya itu merupakan penghormatan kepadanya, adalah sebagai pembalasan kepadanya atas kebaikan yang diperbuatnya dan perjuangannya dalam menegakkan kalimat tauhid yang tak henti-hentinya, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi selama ratusan tahun. Juga sebagai imbalan atas kesabarannya, dalam menahan derita lahir dan batin selama menyampaikan risalahnya di tengah-tengah kaumnya. 
Yang mendorong Nuh bekerja keras membimbing kaumnya adalah kemurnian dan keikhlasan pengabdiannya kepada Tuhan disertai keteguhan iman dalam jiwanya. Karena itu Allah SWT menyatakan bahwa dia benar-benar hamba-Nya yang penuh iman. Penonjolan iman pada pribadi Nuh sebagai Rasul yang mendapat pujian, adalah untuk menunjukkan arti yang besar terhadap iman itu sendiri karena dia merupakan modal dari segala amal perbuatan kebaikan. 
Adapun kaum Nuh yang lain, yang tidak mau beriman kepada agama tauhid yang disampaikan kepada mereka, maka mereka dibinasakan oleh tofan dan banjir besar hingga tak seorangpun di antara mereka yang tinggal dan tak ada pula bekas peninggalan mereka yang dikenang. Mereka lenyap dari sejarah manusia.

83. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).(QS. 37:83)
Ash Shaaffaat 83 
وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ (83) 
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Ibrahim termasuk golongan Nuh as. Beliau mengikuti jejak Nabi Nuh as. dalam memegangi ajaran tauhid, meyakini akan adanya Hari Kiamat memperjuangkan tersebarnya agama tauhid dan kepercayaan akan Hari Kiamat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar serta tabah dan sabar dalam menghadapi permusuhan kaum kafir.

84. (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.(QS. 37:84)
Ash Shaaffaat 84 
إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (84) 
Allah SWT dalam ayat ini mempertegas lagi kemurnian jiwa Nabi Ibrahim as. Dia menghadapkan jiwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan penuh keikhlasan, bersih dari kemusyrikan, terlepas dari kepentingan kehidupan duniawi, lagi jauh dari perasaan-perasaan buruk lainnya yang dapat mengganggu jiwanya.

85. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: `Apakah yang kamu sembah itu?(QS. 37:85)
86. Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?(QS. 37:86)
87. Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?`(QS. 37:87)
Ash Shaaffaat 85 - 87 
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ (85) أَئِفْكًا آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ (86) فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (87) 
Kemudian Allah SWT memperingatkan lagi kisah Ibrahim as. ketika dia dengan jiwanya yang bersih dan tulus ikhlas berkata kepada orang tuanya dan kaumnya mengapa sampai mereka menyembah patung-patung selain Allah. Seharusnya hal itu tidak patut terjadi jika mereka mau berpikir tentang patung-patung sembahan itu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepada mereka: 
Firman Allah SWT: 

إذ قال لأبيه يا أبت لم تعبد ما لا يسمع ولا يبصر ولا يغني عنك شيئا يا أبت إني قد جاءني من العلم ما لم يأتك فاتبعني أهدك صراطا سويا 
Artinya: 
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?, Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Q.S. Maryam: 42-43) 
Dan dengan keras pula Ibrahim menyatakan kepada mereka bahwa tidaklah benar sikap mereka yang menghendaki selain Allah untuk disembah dengan alasan-alasan yang tidak benar. Untuk menyembah Tuhan yang gaib itu diperlukan petunjuk maka penyembahan itu tentulah didasarkan atas khayalan-khayalan dan selera pikiran masing-masing orang. Dan hal demikian ini akan menimbulkan banyaknya bentuk-bentuk penyembahan kepada Tuhan sesuai dengan konsepsi-konsepsi masing-masing orang tentang Tuhan. 
Pada zaman Jahiliah, tiap-tiap kabilah bangsa Arab mempunyai berhala dan patung sendiri-sendiri sesuai dengan pikiran masing-masing kabilah itu. Demikian juga zaman Nabi Ibrahim terdapat banyak patung-patung sembahan mereka sebagai hasil imajinasi kaumnya pada waktu itu. Nabi Ibrahim yang diberi Allah SWT ilmu pengetahuan yang tidak diberikan kepada kaumnya, tentulah beliau berusaha untuk merubah keadaan demikian. Lalu beliau mengemukakan pertanyaan kepada kaumnya sehingga terpaksa mereka berpikir tentang diri mereka masing-masing apa dasar anggapan mereka tidak menyembah Tuhan Pencipta dan Penguasa semesta alam bahkan sebaliknya mereka mempersekutukan-Nya dengan patung-patung dan berhala-berhala. Sebenarnya mereka tidak dapat mengemukakan alasan untuk menolak menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

88. Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.(QS. 37:88)
89. Kemudian ia berkata: `Sesungguhnya aku sakit`.(QS. 37:89)
90. Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang.(QS. 37:90)

Ash Shaaffaat 88 - 90 
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ (88) فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ (89) فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِينَ (90) 
Kemudian Ibrahim as melayangkan pandangannya ke bintang-bintang dengan berpikir dalam-dalam bagaimana menghadapi kaumnya yang keras kepala tetap menyembah patung-patung, hanya dengan alasan "mempertahankan warisan nenek moyang", padahal beliau sudah memberikan peringatan-peringatan dan pengajaran-pengajaran kepada mereka. Sesudah berpikir dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh beliau memutuskan untuk mengambil tindakan yang penuh mengandung bahaya, yaitu menghancurkan patung-patung sembahan semuanya itu. Keadaan demikian dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya: 

إذ قال لأبيه وقومه ما هذه التماثيل التي أنتم لها عاكفون قالوا وجدنا آباءنا لها عابدين 
Artinya: 
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?". Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". (Q.S. Al Anbiya: 52-53) 
Pada suatu saat datanglah kaum Ibrahim mengundangnya untuk menghadiri hari besar mereka. LaIu beliau menolak ajakan mereka secara halus dengan alasan kesehatannya terganggu. Selain untuk menghindari hadir dalam hari besar mereka, Nabi Ibrahim bermaksud melaksanakan rencananya untuk menghancurkan patung-patung, dan menyatakan perlawanan secara terbuka terhadap pemuja patung-patung itu. Kaumnya tidak mengetahui rencana Nabi Ibrahim itu dan tidak pula mencurigainya. Juga tidak nampak pada sikapnya bahwa dia tidak jujur dalam perkataannya. Dengan itu upacara hari besar mereka berlangsung tanpa hadirnya Ibrahim as. Alasan terganggu kesehatannya untuk tidak menghadiri undangan kaumnya, padahal sebenarnya dia tidak sakit, tidaklah dia dipandang berdusta yang terlarang dalam agama, dan hal itu tidak sesuai dengan sifat kenabian. Bahwa Ibrahim as membohongi kaumnya itu memang benar. Rasulullah saw bersabda: 

لم يكذب إبراهيم عليه السلام غير ثلاث كذبات: ثنتين في ذات الله تعالى قوله إني سقيم وقوله بل فعله كبيرهم هذا وقوله في سارة هي أختي. 
Artinya: 
Tidaklah Ibrahim as membohongi kecuali tiga perkataan dua di antaranya untuk menyucikan zat Allah: yaitu kata-katanya "kesehatannya terganggu" dan "sebenarnya patung yang besar ini yang memecahkannya" dan kata-katanya mengenai istrinya Sarah "ini saudaraku". (H.R. Ibnu Jarir dari Abu Hurairah) 
Kata-kata Nabi Ibrahim "kesehatan terganggu" dan sebenarnya diucapkan di hadapan kaumnya untuk menghindari hadirnya pada upacara hari besar kaumnya itu. 
Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kami dan bapak-bapakku berada dalam kesesatan Yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main? Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah Dia ciptakan dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
Dalam perayaan hari besar itu, Nabi Ibrahim as mempergunakan kesempatan untuk menghancurkan patung-patung kaumnya. Sedang kata-katanya: "Patung yang paling besar ini yang memecahkannya", diucapkan sewaktu dia diperiksa oleh kaumnya tentang perkara penghancuran patung. Sebenarnya dia sendiri yang memecahkan patung itu tapi dikatakan patung yang paling besarlah, padahal kaumnya menyadari bahwa patung-patung itu tidak dapat berbuat apa-apa. 
Kedua kata-kata Ibrahim as diucapkan dalam rangka perjuangannya menegakkan kalimat tauhid. Adapun kata-kata yang ketiga ialah: "Sarah itu saudaraku" padahal sebenarnya istrinya, diucapkan di hadapan raja ketika raja menginginkan Sarah itu. 
Dengan demikian ketiga perkataan yang diucapkan Ibrahim, itu bukanlah kebohongan yang tercela dalam pandangan agama dan masyarakat. Rasulullah saw menjelaskan bahwa ketiga perkataan Nabi Ibrahim itu dibenarkan agama, seperti sabda Nabi saw: 

ما منها كلمة إلا ما حَلَّ بَهَاءً عن دين الله تعالى. 
Artinya: 
Tidak ada kata-kata dari ketiga perkataan itu kecuali mengungkapkan hal-hal yang dibenarkan agama Allah. (H.R. Ibnu Abu Hatim dari Abu Zaid)

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AS SHAFFAT (182)>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar