Jumat, 24 Januari 2014

AS SHAFFAT 71- 80

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AS Shaffat >>

71. Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,(QS. 37:71)
Ash Shaaffaat 71 
وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ (71) 
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa sebagian besar umat-umat zaman dahulu sebelum zaman Nabi Muhammad saw, telah sesat. Mereka menyembah berhala dan mempersekutukannya dengan Tuhan dan seringkali berbuat kerusakan di atas bumi dengan mengadakan peperangan-peperangan. Hidup mereka didasarkan atas hawa nafsu dan angkara murka. Pemimpin-pemimpin mereka dan pembesar-pembesar negara berlaku aniaya dan menindas rakyat dengan kerja paksa membangun istana-istana dan kuil-kuil tempat penyembahan berhala dan makam-makam raja. Bahkan ada di antara mereka yang mengaku Tuhan dan rakyat dipaksa menyembah mereka. Demikianlah kisah-kisah umat-umat zaman dahulu seperti kaum 'Ad, Samud, raja Namruz, Firaun dan lain-lainnya.


72. dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka.(QS. 37:72)
Ash Shaaffaat 72 
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ (72) 
Lalu Allah SWT mengutus kepada umat-umat dahulu itu Nabi-nabi dan Rasul-rasul untuk menegakkan agama tauhid, menjalankan amar makruf nahi mungkar. Nabi-nabi itu merupakan kekuatan moral yang berjuang untuk meluruskan jalan hidup manusia yang menyimpang dari fitrah kejadiannya. Mereka menunjukkan kepada kaumnya jalan yang hak dan yang batil, jalan yang baik dan yang buruk, serta mengingatkan kepada mereka azab yang akan menimpa mereka bila mereka tidak mau surut dari kesesatan dan tidak mau tunduk kepada kebenaran yang dibawa Rasul-rasul. 
Tetapi Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu ditentang, didustakan dan dimusuhi, bahkan ada di antara mereka yang dianiaya sampai dibunuh. Kehadiran para Rasul di tengah-tengah mereka itu dipandangnya sebagai gangguan bagi kemantapan kehidupan mereka, karena itu mereka tetap dalam kesesatan dan kegelapan. Kesudahannya datanglah azab Tuhan menimpa mereka sebagaimana diterangkan Allah SWT dalam firman-Nya: 

فأما ثمود فأهلكوا بالطاغية وأما عاد فأهلكوا بريح صرصر عاتية 
Artinya: 
Adapun kaum Samud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin, lagi amat kencang. (Q.S. Al Haqqah: 5-6)

73. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.(QS. 37:73)
74. Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa tidak akan diazab).(QS. 37:74)
Ash Shaaffaat 73 - 74 
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ (73) إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ (74) 
Dalam ayat ini Allah SWT menyerukan kepada Rasulullah saw dan umatnya untuk memperhatikan nasib kaum-kaum yang mendustakan Rasul-rasul itu. Bekas-bekas kehancuran mereka itu masih dapat disaksikan berupa peninggalan purbakala. Dengan memperhatikan sejarah umat dahulu itu, mereka akan memperoleh pelajaran untuk merenungkan peringatan-peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. 
Tidaklah semua orang yang berada dalam kaum itu mengingkari utusan Tuhan yang datang kepada mereka dan mengalami siksaan sebagai balasan terhadap keingkaran kaum itu. Tetapi di antara terdapat hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya dengan setulus-tulus hati beramal saleh, menaati segala perintah dan larangan-Nya. Mereka diselamatkan dari siksaan dan dianugerahi kebahagiaan dunia dan akhirat.

75. Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).(QS. 37:75)
Ash Shaaffaat 75 
وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ (75) 
Dalam ayat ini Allah SWT menceritakan bahwa Nabi Nuh as. memanjatkan doa kepada Tuhan supaya memberikan pertolongan kepadanya terhadap ancaman penganiayaan dari kaumnya. Bahkan mereka sudah bermaksud membunuhnya sewaktu dia menyeru mereka kepada agama tauhid. 
Meskipun cukup lama Nabi Nuh menyeru kaumnya siang dan malam, secara tersembunyi dan terang-terangan, namun hanya sedikit di antara mereka yang beriman. Setiap kali diberi peringatan dan pengajaran tambah jauh mereka dari agama dan tambah sengit permusuhannya kepada Nabi Nuh as. Hal itu menyebabkan Nabi Nuh sangat kecewa lalu dia berdoa kepada Tuhan agar orang-orang kafir itu segera dibinasakan seperti diceritakan Tuhan dalam Alquran: 

وقال نوح رب لا تذر على الأرض من الكافرين ديارا إنك إن تذرهم يضلوا عبادك ولا يلدوا إلا فاجرا كفارا 
Artinya: 
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Q.S. Nuh: 26-27) 
Allah SWT memperkenankan doa Nabi Nuh as itu. Allah SWT menyebutkan dirinya sebagai Zat yang paling baik dalam memperkenankan doa karena terkabulnya doa itu sangat diharapkan oleh Nabi Nuh as pada saat itu karena kaumnya mendustakan dan menentangnya.

76. Dan Kami telah menyelamatkannya dan keluarganya dari bencana yang besar.(QS. 37:76)
77. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.(QS. 37:77)
78. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian:(QS. 37:78)

Ash Shaaffaat 76 - 78 
وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76) وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ (77) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (78) 
Kemudian Allah SWT menjelaskan macam pengabulan doa Nabi-Nya itu: 
Pertama Allah SWT telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang beriman termasuk beberapa orang putra-putranya, dari bencana yang besar yakni angin tofan yang dahsyat dibarengi banjir yang besar. Seorang putranya ikut tenggelam. Mereka yang selamat dari banjir besar itu ialah mereka yang berada dalam kapal sebagaimana yang diceritakan Allah dalam Alquran: 

فأنجيناه ومن معه في الفلك المشحون ثم أغرقنا بعد الباقين 
Artinya: 
Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (Q.S. As Syu'ara: 119-120) 
Kedua Allah SWT menjadikan anak cucu Nabi Nuh orang yang akan melanjutkan keturunannya, sedang kaum yang kafir dibinasakan, sebagaimana yang dimohon Nabi Nuh dalam doanya. Menurut riwayat, dari penumpang kapal itu, tidak ada yang berumur panjang kecuali tiga orang putra Nabi Nuh, yaitu Sam, Ham, Yafis. Sam adalah nenek moyang bangsa Arab, Ham adalah nenek moyang bangsa Habsyi dan Yafis adalah nenek moyang bangsa Rum. Dalam tafsir Al Maragi jilid VIII halaman 67 diterangkan bahwa menurut ahli sejarah: Sam nenek moyang bangsa Arab, Ham nenek moyang bangsa Habsyi dan Yafis nenek moyang bangsa Rum. 
Sebenarnya tidak ada nas atau dalil-dalil yang tegas dari Alquran dan hadis sahih menerangkan mengenai anak-anak Nabi Nuh as. 
Ketiga: Allah SWT mengabadikan pujian dan nama yang harum bagi Nuh as ini di kalangan para Nabi yang datang kemudian dan umat manusia sampai akhir zaman. 
Beliau masyhur di kalangan kaum Muslimin termasuk salah seorang dari lima Rasul yang disebut Ulul 'Azmi yang artinya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati. Empat Rasul lainnya ialah: Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw.

79. `Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam`.(QS. 37:79)

Ash Shaaffaat 79 
سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ (79) 
Kemudian Allah SWT menyebutkan salam kesejahteraan bagi Nuh "Salamun 'ala Nuhin" sebagai pengajaran bagi para malaikat, jin dan manusia supaya mereka juga mengucapkan salam sejahtera kepada Nuh as, sampai Hari Kiamat. Allah SWT berfirman: 

قيل يا نوح اهبط بسلام منا وبركات عليك وعلى أمم ممن معك 
Artinya: 
Difirmankan: "Hai Nuh turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mungkin) dari orang-orang yang bersamamu". Dengan ucapan salam sejahtera untuk Nuh oleh umat manusia dari masa ke masa maka nama Nuh as akan tetap harum semerbak. (Q.S. Hud: 48)

80. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. 37:80)

Ash Shaaffaat 80 - 82 
إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (80) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (81) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ (82) 
Pengabdian keharuman nama Nuh dengan sebutan salam sejahtera kepadanya itu merupakan penghormatan kepadanya, adalah sebagai pembalasan kepadanya atas kebaikan yang diperbuatnya dan perjuangannya dalam menegakkan kalimat tauhid yang tak henti-hentinya, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi selama ratusan tahun. Juga sebagai imbalan atas kesabarannya, dalam menahan derita lahir dan batin selama menyampaikan risalahnya di tengah-tengah kaumnya. 
Yang mendorong Nuh bekerja keras membimbing kaumnya adalah kemurnian dan keikhlasan pengabdiannya kepada Tuhan disertai keteguhan iman dalam jiwanya. Karena itu Allah SWT menyatakan bahwa dia benar-benar hamba-Nya yang penuh iman. Penonjolan iman pada pribadi Nuh sebagai Rasul yang mendapat pujian, adalah untuk menunjukkan arti yang besar terhadap iman itu sendiri karena dia merupakan modal dari segala amal perbuatan kebaikan. 
Adapun kaum Nuh yang lain, yang tidak mau beriman kepada agama tauhid yang disampaikan kepada mereka, maka mereka dibinasakan oleh tofan dan banjir besar hingga tak seorangpun di antara mereka yang tinggal dan tak ada pula bekas peninggalan mereka yang dikenang. Mereka lenyap dari sejarah manusia.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH  AS SHAFFAT (182)>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar