Minggu, 14 Juli 2013

Surah al-Ahzab 21-30

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH  al-Ahzab>>
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. 33:21)
Al Ahzab 21 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) 
Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan orang-orang munafik. bahwa sebenarnya mereka dapat memperoleh teladan yang baik dari Nabi saw. Rasulullah saw adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah dan beliaupun mempunyai akhlak yang mulia. Jika mereka bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikuti Nabi. Tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan keridaan Allah dan segala macam bentuk kebahagiaan hakiki itu. 
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 21 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) 
(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya dengan orang-orang yang selain mereka.

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:` Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita `. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.(QS. 33:22)
Al Ahzab 22 
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan sikap dan tindakan kaum. Muslimin dalam menghadapi perang Ahzab Mereka bekerja dan berjuang semata-mata karena Allah mengikuti perintah Nabi, bukan karena kepentingan diri sendiri, seluruh harta bahkan jiwa raga mereka, mereka serahkan kepada Nabi untuk kepentingan perjuangan. Mereka berjuang dengan tabah dan sabar. Semakin besar bahaya mengancam, semakin kuat iman dan ketabahan mereka. Ketika mereka melihat keadaan tentara yang bersekutu jumlahnya sangat besar yang akan menyerbu mereka sedang jumlah mereka hanya berjumlah sedikit, mereka berkata: "Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul Nya kepada kita, berupa ujian dan cobaan, sebagai pendahuluan dari kemenangan yang akan datang, karena itu kita haruslah tabah dan sabar dalam menghadapinya. 
Pada ayat yang lain diterangkan syarat-syarat kebahagiaan dan kemenangan yang akan diperoleh orang-orang yang beriman. Allah SWT berfirman 

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم الباساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين ءامنوا معه متى نصر الله إلا أن نصر الله قريب 
Artinya: 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amal dekat. (Q.S. Al Baqarah: 214) 
Dan firman Nya lagi: 

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون 
Artinya: 
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji (lagi). (Q.S. Al Ankabut: 2) 
Diriwayatkan oleh Ibnu Kasir bahwa pada waktu menggali parit sebelum tentara yang bersekutu datang, Rasulullah saw pernah menyampaikan bahwa Jibril mengatakan kepadanya bahwa kerajaan Persia, Romawi akan takluk di bawah kekuasaan kaum Muslimin". Mendengar kabar berita itu, kaum Muslimin sangat senang, karena mereka percaya bahwa itu adalah janji Allah. Tatkala datang tentara yang bersekutu mengepung mereka maka mereka menganggap bahwa kedatangan tentara yang bersekutu itu adalah ujian dan cobaan bagi mereka sebelum memperoleh kemenangan dan sebelum mereka menaklukkan Persia dan Romawi, sehingga mereka mengucapkan: 
Sesungguhnya benarlah yang dijanjikan Allah itu dengan meluaskan agama Islam ke seluruh penjuru dunia di kemudian hari, dan benar pula apa yang diisyaratkan Allah untuk mencapai kemenangan dan kebahagiaan itu, yaitu bertawakkal dan sabar dalam menerima cobaan dan halangan.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya),(QS. 33:23)
Al Ahzab 23 
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا (23) 
Allah SWT menerangkan bahwa di antara kaum Muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul Nya, ada orang-orang yang menepati janjinya. Mereka telah berjuang dengan seluruh jiwa dan hartanya, sebagian mereka ada yang mati syahid di perang Badar, di perang Uhud, di perang Khandaq ini dan di peperangan-peperangan lainnya, sedang sebagian yang lain ada yang menunggu-nunggu dipanjangkan umurnya, menunggu ketetapan Allah Yang Maha Esa. Dan orang-orang yang masih hidup ini, sekali-kali tidak akan berubah janjinya kepada Allah, akan tetapi ditepatinya janjinya selama hayat dikandung badan. 
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, At Timizi, An Nasa'i dan imam-imam hadis yang lain dari sahabat Anas, ia berkata: "Pamanku Anas bin Nadar, tidak ikut perang Badar, maka ia merasa sedih dan kecewa. Ia berkata: "Aku tidak hadir pada peperangan yang pertama kali Rasulullah saw ada di dalamnya. Sesungguhnya jika Allah memberikan kesempatan kepadaku menghadiri peperangan bersama Rasululalh sesudah ini, tentulah Allah Ta'ala akan melihat apa yang akan aku lakukan". Maka pamanku kata Aus dapat ikut serta dalam perang Uhud. Dalam perjalanan menuju Uhud itu, pamanku itu bertemu dengan Saad bin Muaz, dan Saad bertanya kepadanya: "Hai Abu 'Amr, hendak kemanakah engkau?". Pamanku menjawab: "Mencari bau surga yang akan aku peroleh di perang Uhud nanti". Maka pamanku terus ke Uhud dan gugur sebagai syuhada' di sana. Pada tubuhnya terdapat kira-kira 80 bekas pukulan, tusukan tombak dan lubang anak panah". Maka turunlah ayat ini. 
Menurut Tafsir Al Kasysyaf bahwa beberapa orang sahabat ada yang bernazar; jika mereka ikut perang bersama Rasulullah, mereka tidak akan mundur dan tetap bertahan sampai gugur sebagai syuhada'. Di antara sahabat yang berjanji itu ialah Usman bin Affan, Talhan bin Ubaidillah, Saad bin Zaid, Hamzah, Mas'ub bin Umair dan sahabat-sahabat yang lain.

supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 33:24)
Al Ahzab 24 
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (24) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan apa sebab adanya ujian dan cobaan bagi orang-orang yang beriman. Sebabnya ialah untuk membedakan yang keji dengan yang baik, yang benar-benar beriman dan yang kafir dan untuk menyatakan dan menampakkan apa yang berada dalam hati mereka yang sebenarnya, sebagaimana tersebut dalam firman Nya pada ayat yang lain: 

ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلوا أخباركم 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Q.S. Muhammad: 31) 
Dan firman Allah SWT: 

ما كان الله ليذر المؤمنين على ما أنتم عليه حتى يميز الخبيث من الطيب 
Artinya: 
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin). (Q.S. Ali Imran: 179) 
Kemudian setelah jelas keadaan mereka, maka Allah memberi pahala kepada orang-orang yang benar-benar menepati janjinya, dan mengazab orang-orang munafik yang tidak menepati janjinya itu. Sekalipun demikian pintu tobat masih terbuka bagi orang-orang munafik itu, yaitu jika mereka beriman; menepati janjinya dan mengerjakan amal saleh. Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya dahulu. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan kepada hamba-hamba Nya bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, menghapus segala dosa orang-orang yang benar-benar bertobat, seakan-akan dosa itu tidak pernah diperbuatnya. Dari ayat ini dipahami bahwa pintu tobat itu selalu terbuka, bagi setiap hamba yang akan melakukannya. Karena itu hendaklah kaum Muslimin selalu melakukannya.

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(QS. 33:25)
Al Ahzab 25 
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا (25) 
Pada ayat ini kembali Allah SWT menerangkan tentang nikmat yang besar yang telah dilimpahkan Nya kepada kaum Muslimin di perang Ahzab, sehingga mereka lepas dari bahaya kehancuran. Nikmat itu ialah Allah SWT telah mengirimkan kepada mereka balabantuan berupa angin kencang yang sangat dingin dan bala tentara malaikat yang tidak kelihatan. Akibatnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul Nya, yaitu kaum Quraisy beserta pengikut-pengikutnya, Gatfan dan pengikut-pengikutnya, golongan Yahudi dan kaum munafik yang tidak memperoleh yang mereka ingini, bahkan mereka lari tunggang langgang mencari keselamatan dirinya, kembali ke kampung halamannya masing-masing. 
Diriwayatkan oleh Bukhari dun Muslim dari Abu Hurairah; bahwa Rasulullah saw bersabda: 

لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده فلا شيء بعده. 
Artinya: 
Tidak ada Tuhan selain Allah sendiri janji Nya ditepati Nya. Dia menolong hamba Nya, memenangkan tentara Nya, menghancurkan tentara yang bersekutu dengan sendinnya maka tidak ada lagi sesuatupun sesudahnya. 
Pada hadis yang lain Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: "Rasulullah saw berdoa kepada Allah atas tentara yang bersekutu: 

اللهم منزل الكتاب سريع الحساب اهزم الأحزاب اللهم اهزمهم وزلزلهم. 
Artinya: 
Wahai Tuhan yang telah menurunkan Alquran, amat cepat hisabnya, hancurkanlah tentara yang bersekutu itu, wahai Tuhan, hancurkanlah mereka dan guncangkanlah mereka. 
Menurut riwayat Muhammad bin Ishak, tatkala tentara yang bersekutu. telah lari dan meninggalkan parit itu, Rasulullah saw berkata: 

لن تغزوكم قريش بعد عامكم هذا ولكنكم تغزوهم 
Artinya: 
Orang-orang Quraisy sekali-kali tidak akan memerangi kamu sesudah tahun ini, tetapi kamulah yang akan memerangi mereka. 
Perkataan Rasulullah saw ini terbukti di kemudian hari, bahwa setelah perang Ahzab itu orang-orang musyrikin tidak pernah lagi memerangi kaum Muslimin, akan tetapi Nabi dan kaum Musliminlah yang memerangi mereka, sampai Mekah dapat ditaklukkan. Karena itu dapat dikatakan bahwa peperangan Ahzab itu merupakan titik puncak kesulitan yang dihadapi Nabi dan kaum Muslimin dalam menghadapi orang-orang musyrikin dan menyebarkan agama Islam Sekalipun kesulitan-kesulitan masih ada, tetapi tidaklah berarti bila dibanding dengan kesulitan-kesulitan sebelumnya. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa, tidak dapat ditandingi oleh sesuatupun. Karena itu dengan mudah Dia menghalau tentara yang bersekutu yang berjumlah banyak itu.

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.(QS. 33:26)
Al Ahzab 26 
وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا (26) 
Ayat ini menerangkan perang menghadapi Bani Quraizah salah satu dari suku-suku Yahudi Madinah yang telah membuat perjanjian damai dengan Nabi. Sebagaimana yang diterangkan terdahulu pada saat-saat krisis bagi kaum Muslimin dalam menghadapi tentara yang bersekutu di perang Ahzab itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizah yang menjadi warga kota Madinah. mengkhianati kaum Muslimin dari dalam. Pemimpin mereka Kaab bin Asad dihasut oleh pemimpin-pemimpin Bani Nadir, yaitu Huyai bin Akhtab agar membatalkan perjanjian damai yang telah mereka buat dengan Nabi, serta menggabungkan diri dengan tentara yang bersekutu di perang Ahzab yang mengepung kota Madinah. Ajakan itu mula-mula ditolak oleh Ka'ab bin Asad, akan tetapi akhirnya diterimanya maka dikhianatinyalah Nabi dan tergabunglah Bani Quraizah itu kepada Ahzab. 
Berita pengkhianatan Bani Quraizah ini menggemparkan kaum Muslimin, karena pengkhianatan itu berada dalam kota Madinah. Karena itu Rasulullah saw segera mengutus dua orang sahabatnya, yaitu Saad bin Muaz kepala suku Aus dan Saad bin Ubadah kepala suku Khazraj kepada suku Bani Quraizah untuk menasihati mereka agar jangan meneruskan pengkhianatan itu. Setiba kedua utusan itu ditempat Bani Quraizah, keduanya segera menyampaikan pesan-pesan Nabi saw. Akan tetapi permintaan Nabi itu ditolak mereka dengan sikap yang kasar dan penuh keangkuhan dan kesombongan, dan mereka meneruskan pengkhianatan mereka itu. 
Setelah Allah menghalau pasukan sekutu, maka Dia mewahyukan kepada Nabi Nya Muhammad saw, agar kaum Muslimin segera menumpas Bani Quraizah, yang telah berkhianat itu. Karena itu Nabi dan kaum Muslimin segera membuat perhitungan dengan para pengkhianat itu, Nabi dan kaum Muslimin segera mendatangi kampung mereka untuk mengepungnya. Setelah mereka mendengar kedatangan Nabi dan kaum Muslimin, mereka segera memasuki benteng-benteng mereka untuk mempertahankan diri. Tentara kaum Muslimin waktu itu dipimpin oleh Ali bin Abu Talib. Setelah dua puluh lima hari lamanya mereka dikepung dalam benteng-benteng itu dengan penuh ketakutan, maka mereka mau menyerah kepada Nabi dengan syarat bahwa yang akan menjadi hakim atas perbuatan mereka ialah Saad bin Muaz kepala suku Aus. Penyerahan dan syarat itu diterima Nabi, maka turunlah mereka dari benteng-benteng mereka itu dan menyerah kepada Nabi. Setelah mempertimbangkan dengan matang, maka Saad menjatuhkan hukuman mati laki-laki mereka dibunuh, sedang wanita-wanita dan anak-anak ditawan 
Hukuman yang demikian itu adalah wajar bagi pengkhianat-pengkhianat masyarakat yang sedang dalam keadaan perang, lebih-lebih pengkhianatan itu dilakukan ketika musuh sedang melancarkan serangannya. Masyarakat Islam di Madinah waktu itu ialah masyarakat yang baru tumbuh, masyarakat yang baru mulai melaksanakan hukum-hukum berdasarkan ketetapan Islam yana berbeda dengan hukum-hukum yang lama. Karena itu wajarlah kiranya hukuman yang telah diberikan kepada Bani Quraizah yang berkhianat di masa perang karena mereka yang berbuat semacam itu berlaku hukum perang. Dengan hukuman itu maka kota Madinah tetap kuat dan Nabi tetap berwibawa dan penduduk Madinah yang lain mengetahui dan menyadari bahwa. kepada setiap pengkhianat akan diberikan hukuman yang setimpal.

Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.(QS. 33:27)
Al Ahzab 27 
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan tentang harta benda Bani Quraizah yang telah dijatuhi hukuman mati itu. yaitu Allah telah memberikan kepada kaum Muslimin segala kebun-kebun, rumah-rumah, harta benda, binatang ternak yang mereka miliki, bahkan dalam ayat ini Allah menjanjikan kepada kaum Muslimin, bahwa dia akan mewariskan kepada kaum Muslimin tanah-tanah yang lain, yang waktu itu belum dimasuki oleh tentara Islam, tetapi pasti akan mereka masuki dan mereka taklukkan 
Pada akhir ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia berkuasa memberikan semuanya itu kepada kaum Muslimin untuk menolong kaum Muslimin dalam melaksanakan agama Nya dan untuk perluasan Islam itu sendiri adalah ketentuan yang pasti terlaksana. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 27 
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27) 
(Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka dan demikian pula tanah yang belum kalian injak) sebelumnya, yaitu tanah Khaibar, yang direbut sesudah Quraizhah. (Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.)

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu:` Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.(QS. 33:28)
Al Ahzab 28 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) 
Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw agar menyampaikan kepada istri-istrinya supaya mereka memilih apa yang mereka kehendaki dari dua hal. Pertama ialah; "Jika kamu hai istri-istriku menginginkan kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya. Maka aku tidak mempunyai yang demikian itu, dan aku tidak mempunyai sesuatupun yang akan kuberikan untuk memenuhi keinginanmu itu. Karena itu aku akan mentalakmu dan aku memberi mutah, sebagaimana yang telah disyariatkan agama, dan aku akan menceraikan kamu secara baik-baik pula". 
Menurut ketentuan Allah SWT seorang suami yang menceraikan istrinya memberi mutah yang berupa pakaian, uang, atau perhiasan secara sukarela kepada istrinya yang dicerainya itu, sesuai dengan kemampuannya; orang kaya sesuai dengan kekayaannya dan orang miskin sesuai dengan kemiskinannya, sebagaimana diterangkan dalam firman Nya: 

ومتعوهن على الموسع قدره وعلى المقتر قدره متاعا بالمعروف حقا على المحسنين 
Artinya: 
Dan hendaklah kamu berikan suatu mutah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya, dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Al Baqarah: 236) 
Dan Allah juga menetapkan bahwa jika seorang suami menalak istrinya, maka hendaklah ia melepaskan mereka secara baik-baik dan ditalak pada waktu suci sebelum dicampuri, agar mereka dapat melaksanakan idah dalam masa yang pendek. Allah SWT berfirman: 

يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن واحصوا العدة واتقوا الله ربكم 
Artinya: 
Hai Nabi apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. (Q.S. At Talaq: 1) 
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Jabir r.a. ia berkata: "Abu Bakar r.a. minta izin kepada Rasulullah saw menghadap beliau, sedang banyak orang di muka pintu duduk menunggu izin menghadap beliau, dan Rasulullah saw belum mengizinkan Abu Bakar menghadapnya. Kemudian datang pula Umar r.a. minta izin menghadap pula dan Rasulullah belum pula mengizinkannya. Kemudian Rasulullah saw mengizinkan Abu Bakar dan Umar menghadapnya, maka keduanyapun masuk, waktu itu Rasulullah sedang duduk di kelilingi istri-istrinya, dan beliau dalam keadaan diam. Umar berkata kepada Rasulullah dengan maksud agar Rasulullah ketawa, ia bertanya : "Bagaimana pendapat engkau jika putri si Zaid (maksudnya istri Umar), minta nafkah kepadaku, lalu aku pukul kuduknya dengan tanganku?". Mendengar itu Rasulullah saw ketawa, hingga kelihatan geraham-gerahamnya yang paling belakang, dan beliau berkata: "Istri-istriku ini duduk di sekelilingku meminta nafkah". Mendengar ucapan Rasulullah itu maka Abu Bakar pergi kepada `Aisyah hendak memukulnya, dan Umar pergi kepada Hafsyah seraya berkata: "Kamu meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak dimilikinya". Maka Rasulullah melarang keduanya. Para istri beliau itu menjawab: "Mulai saat ini kami tidak akan meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak dimilikinya. Menurut riwayat Rasulullah saw menjauhkan dirinya sesudah itu dari istri-istrinya selama 29 hari atau satu bulan. Maka turunlah ayat 28 dan 29 surat ini. Maka Rasulullah memanggil istri-istrinya dan menyuruh memilih salah satu dari dua hal itu. Pertama kali disuruh memilih ialah `Aisyah r.a. beliau berkata: "Sesungguhnya aku ingin menyampaikan sesuatu, tetapi aku tidak ingin segera dijawab sebelum engkau menanyakan kepada ibu bapakmu". 'Aisyah menjawab: "Apakah yang hendak Rasulullah sampaikan itu?". Maka Rasulullah membaca ayat 28 dan 29 surat ini. Berkata `Aisyah ra: Apakah aku akan menanyakan pendapat ibu bapakku tentang engkau, Ya Rasulullah? Aku memilih Allah dan Rasul Nya dan aku mohon agar engkau tidak menyampaikan kepada istri-istri engkau yang lain pilihanku ini". Maka Rasulullah saw berkata: 

إن الله تعالى لم يبعثني معنفا ولكن بعثني معلما ميسرا لا تسألني امرأة منهن عما اخترت إلا أخبرتها. 
Artinya: 
Sesungguhnya Allah Taala tidak mengutusku untuk mencerai, tetapi Dia mengutusku untuk memberi pelajaran dan kemudahan. Bila ada di antara istri-istriku yang lain itu menanyakan kepadaku tentang pilihanmu, maka akan kuceritakan kepadanya. 
Pada waktu ayat ini turun Rasulullah mempunyai istri 9 orang. yaitu `Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah Ummu Habibah Ramlah binti Sofyan, Saudah binti Zam'ah, Zainab binti Jahsy Maimunah binti Hart, Safiyah binti Huyai bin Akhtab dan Juwairiyah binti Al Hars. Dan istri beliau yang sembilan itu lima orang berasal dari suku Quraisy dan empat orang bukan dari suku Quraisy. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 28 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) 
(Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu) yang pada saat itu jumlah mereka ada sembilan orang; mereka meminta kepada Nabi saw. perhiasan duniawi yang tidak dipunyai oleh beliau: ("Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya diberikan kepada kalian mut`ah) yakni mut`ah talak (dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik) aku ceraikan kalian tanpa menimbulkan kemudaratan.

Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.(QS. 33:29)
Al Ahzab 29 
وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29) 
Pilihan yang kedua ialah: "Jika kamu, kata Rasulullah kepada istri-istrinya memilih keridaan Allah dan Rasul Nya dan pahala hari akhirat maka taatlah kepada Allah dan Rasul Nya. Allah SWT telah menyediakan pahala yang besar bagi para istri-istrinya yang baik dalam perkataan, perbuatan dan tingkah laku mereka. Mereka ditempatkan di dalam surga yang penuh kenikmatan.

Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.(QS. 33:30)
Al Ahzab 30 
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) 
Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan istri-istri Nabi agar selalu menjaga diri mereka. Karena mereka adalah ibu dari seluruh kaum Muslimin dan menjadi contoh teladan bagi mereka. Perintah Allah itu ialah: "Barangsiapa di antara istri Nabi yang mengerjakan perbuatan keji, perbuatan yang terlarang dan sebagainya, maka mereka akan memperoleh azab dua kali lipat dari azab yang diterima orang biasa. 
Pemberian azab dua kali lipat kepada istri-istri Nabi ini ialah karena para istri Nabi termasuk orang-orang yang telah mengetahui dengan sebenarnya perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, di samping mereka juga adalah penjaga rumah tangga Rasulullah dari segala perbuatan yang jahat yang mungkin terjadi di dalamnya. 
Sebagian ulama menetapkan hukum berdasarkan ayat ini, bahwa untuk tindakan kejahatan yang sama jenisnya, maka hukuman yang akan diterima oleh orang-orang yang tahu itu lebih berat dari hukuman yang akan diterima oleh orang yang tidak tahu. Orang yang tahu telah tahu akibat dari suatu perbuatan. Jika ia melakukan perbuatan itu berarti ia melakukan dengan penuh kesadaran, sedang yang tidak tahu ia mengerjakan tindakan kejahatan itu, tidak berdasarkan kesadaran dalam arti yang sebenarnya. Karena itu wajiblah orang-orang tahu itu memperoleh hukuman dua kali lipat dari hukuman yang diperoleh orang yang tidak tahu. 
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Zainal Abidin r.a. Sesungguhnya kamu adalah keluarga Nabi yang telah memperoleh ampunan". Maka Zainal Abidin marah kepada orang itu dan berkata: "Apa yang telah ditetapkan Allah SWT terhadap istri-istri Nabi, lebih pantas untuk ditetapkan bagi kami dari apa yang kamu katakan itu. Kami berpendapat bahwa balasan kebaikan kami dilipat gandakan sebagaimana balasan kesalahan kami dilipat gandakan pula". Kemudian beliau membaca ayat ini.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH   al-Ahzab >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar