Senin, 01 Juli 2013

SURAT AR-RUM 11 - 20

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AR-RUM>>
Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.(QS. 30:11)
Surah Ar Ruum 11 
اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (11) 
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk sejak dari permulaan, kemudian mematikannya kemudian menghidupkannya kembali, dan yang demikian itu merupakan peristiwa-peristiwa yang tak dapat dibantah kebenarannya. Ayat ini mengemukakan suatu perumpamaan yang mudah ditangkap manusia, dan sekaligus dapat dijadikan bukti adanya hari berbangkit nanti. Perumpamaan ini ialah, jika Allah dapat mengadakan sesuatu dari tidak ada sama sekali menjadi ada, tentu mengulangi penciptaan itu kembali atau membangkitkannya lebih mudah bagi-Nya dari pada menciptakan makhluk itu pada pertama kalinya. Kehidupan di dunia ini dan hari berbangkit adalah dua seri kejadian yang tak dapat dimungkiri kebenarannya. Keduanya saling berhubungan dalam saw seri kejadian. Pada akhirnya pada Allah Tuhan semesta alam, kembali semuanya. Tuhan yang mengadakan kehidupan di dunia, juga mengadakan kehidupan di akhirat itu, gunanya untuk mendidik hamba-hamba-Nya serta memberi ganjaran kepada mereka yang telah berbuat baik dengan ganjaran surga, dan yang berbuat jahat berupa siksaan neraka.

Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa.(QS. 30:12)
  • Surah Ar Ruum 12 - 13 
    وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ (12) وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ مِنْ شُرَكَائِهِمْ شُفَعَاءُ وَكَانُوا بِشُرَكَائِهِمْ كَافِرِينَ (13) 
    Kedua ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang musyrik yang mengingkari hari berbangkit. Mereka tidak mau menerima kebenaran adanya hari berbangkit seperti tersebut di atas. Dengan demikian mereka disebut orang-orang berdosa. Walaupun orang-orang berdosa itu merasa tenteram dengan kehidupan dunia, namun mereka pasti akan mendapatkan balasan di akhirat kelak. Di kala itu mereka tidak akan mendapatkan sesuatu alasan untuk membela nasib mereka itu, oleh karena itu mereka terdiam seribu bahasa. 
    Selanjutnya orang berdosa itu tak akan mendapat syafaat yang akan melindungi dan menyelamatkan mereka dari azab Allah SWT. Segala sesuatu yang mereka sembah selain Allah telah menyesatkan mereka. Sebelum mereka benar-benar yakin bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu akan mendekatkan diri mereka kepada Allah, seperti diterangkan dalam firman Allah SWT: 

    ويعبدون من دون الله ما لا يضرهم ولا ينفعهم ويقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله 
    Artinya: 
    Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". (Q.S. Yunus: 18) 
    Dan orang-orang musyrik itu di akhirat mengingkari berhala-berhala yang mereka sembah di dunia, padahal dengan berhala-berhala itulah mereka mempersekutukan Tuhan semesta alam di dunia itu.

Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafaat bagi mereka dari berhala-berhala mereka dan adalah mereka mengingkari berhala mereka itu(QS. 30:13) Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan.(QS. 30:14)
Surah Ar Ruum 12 - 13 
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ (12) وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ مِنْ شُرَكَائِهِمْ شُفَعَاءُ وَكَانُوا بِشُرَكَائِهِمْ كَافِرِينَ (13) 
Kedua ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang musyrik yang mengingkari hari berbangkit. Mereka tidak mau menerima kebenaran adanya hari berbangkit seperti tersebut di atas. Dengan demikian mereka disebut orang-orang berdosa. Walaupun orang-orang berdosa itu merasa tenteram dengan kehidupan dunia, namun mereka pasti akan mendapatkan balasan di akhirat kelak. Di kala itu mereka tidak akan mendapatkan sesuatu alasan untuk membela nasib mereka itu, oleh karena itu mereka terdiam seribu bahasa. 
Selanjutnya orang berdosa itu tak akan mendapat syafaat yang akan melindungi dan menyelamatkan mereka dari azab Allah SWT. Segala sesuatu yang mereka sembah selain Allah telah menyesatkan mereka. Sebelum mereka benar-benar yakin bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu akan mendekatkan diri mereka kepada Allah, seperti diterangkan dalam firman Allah SWT: 

ويعبدون من دون الله ما لا يضرهم ولا ينفعهم ويقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله 
Artinya: 
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". (Q.S. Yunus: 18) 
Dan orang-orang musyrik itu di akhirat mengingkari berhala-berhala yang mereka sembah di dunia, padahal dengan berhala-berhala itulah mereka mempersekutukan Tuhan semesta alam di dunia itu.

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (syurga) bergembira.(QS. 30:15)
Surah Ar Ruum 15 
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ (15) 
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh tidak akan bersedih pada hari kiamat itu. Perpisahan tidak akan merugikan mereka, sebab tiap orang muslim ditemani oleh amal saleh yang senantiasa menghiburnya dan menghilangkan kedahsyatan hari itu dan menenteramkan jiwanya. Orang-orang mukmin pada waktu itu dijamu di tempat yang paling mulia. Mereka berada di surga. Di sana mereka dihibur dengan segala macam hiburan yang telah di sediakan Allah SWT, seperti nyanyian yang belum pernah di dengar manusia. 
Dari sebuah hadis Nabi saw diriwayatkan oleh Abu Darda' bahwa Rasulullah pernah menerangkan tentang kesenangan di dalam surga. Kemudian seorang Badwi bertanya: "Hai Rasulullah, apakah dalam surga itu ada nyanyian?". 
Rasulullah menjawab: "Betul hai Badwi, sesungguhnya di surga itu ada sungai yang penuh dengan perawan. Mereka bernyanyi yang belum pernah didengar oleh para makhluk di dunia. Dan hal itu adalah sebaik-baik nikmat surga". 
Zamakhsyari juga meriwayatkan bahwa di dalam surga itu ada pohon-pohon kayu di atasnya, dan ada lonceng-lonceng terbikin dari perak. Apabila penduduk surga ingin mendengarkan nyanyiannya maka Allah mengutus angin dari bawah singgasana, lalu angin itu melewati pehon itu dan menggerakkan lonceng-loncengnya dengan demikian suara merdu terdengar, kalau suara itu didengar oleh penduduk dunia tentu mereka akan mati karena kegembiraan, disebabkan oleh bunyi-bunyian itu.

Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al quran) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada dalam siksaan (neraka).(QS. 30:16)
Surah Ar Ruum 16 
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ فَأُولَئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ (16) 
Golongan yang lain ialah golongan yang bersedih dan berduka cita. Merekalah yang mengingkari Tuhan dan mendustakan bukti-bukti kebenaran adanya Allah. Mereka tak percaya dengan hari berbangkit, hari perhitungan dan hari pembalasan. Karena itu mereka tak mempersiapkan sesuatu bagi hari itu. Maka bagi mereka tak lain dari pada neraka Jahanam. 
Pada hari itu mereka ingin lari dari azab neraka. Tetapi sayang mereka tak dapat menghindari dan melarikan diri dan azab neraka itu. Tiap-tiap mereka hendak keluar dari neraka itu mereka didorong dan digiring masuk ke dalamnya dengan kekuatan yang luar biasa yang tak dapat mereka lawan.

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,(QS. 30:17)
Surah Ar Ruum 17 - 18 
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (17) وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (18) 
Dalam kedua ayat ini Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin untuk melepaskan mereka dari azab neraka dan memasukkau mereka ke dalam surga, yaitu dengan mensucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak. bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seakan-akan Allah SWT berkata: Jika kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka sucikanlah Dia di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi. Puji dan sucikanlah Tuhanmu dalam setiap waktu itu dengan hal-hal yang sesuai bagi-Nya. 
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih (mensucikan Tuhan) di sini, ialah salat lima waktu diwajibkan kepada kaum Muslimin. Lalu orang bertanya: "Dan lafaz apakah dipahamkan salat yang lima waktu itu?. Jawabnya ialah perkataan: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari, maksudnya ialah salat Magrib dan Isyak". Perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Subuh", maksudnya salat subuh. Perkataan: "dan di waktu kamu berada pada petang hari", maksudnya ialah salat Asar. Dan perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur". yaitu salat Zuhur. 
Tetapi Pahhak, Said bin Jabir, Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa kedua ayat tersebut di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat mahrib, subuh. asar dan zuhur. Sedangkan salat isya' (yang terakhir) tersebut pada ayat yang lain, Allah berfirman: 

وزلفا من الليل 
Artinya: 
Dan pada bagian permulaan dari pada malam. (Q.S. Hud: 114) 
Dan waktu mendirikan salat Isya' ini juga terdapat dalam ayat lain, yang menyebutkan waktu-waktu terlarang (waktu-waktu salat), Allah SWT berfirman: 

ومن بعد صلاة العشاء 
Artinya: 
Dan sesudah salat Isya. (Q.S. An Nur: 58) 
An-Nahhas seorang ahli tafsir juga berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut di atas berkenaan dengan salat-salat yang lima. Beliau menunjang pendapat Ali bin Sulaiman yang berkata bahwa ayat itu ialah bertasbih kepada Allah SWT dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut. 
Marudi juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih ialah salat. Adapun mengenai penamaan salat dengan tasbih berasal dari dua segi. Pertama karena dalam salat disebutkan tasbih itu berasal dari kata "sabhah" yang berarti salat. 
Nabi bersabda: 
تكون لهم سبحة يوم القيامة 
Artinya: 
\ Bagi mereka ada salat pada hari kiamat. (Tafsir Qurtubi Jilid 14 hal. 15) 
Iman Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti "penyucian". Arti yang diberikan beliau ini adalah lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam penyucian itu termasuk salat. Penyucian yang disuruh ialah: 
1. Pensucian hati, yaitu iktikad yang teguh. 
2. Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik. 
3. Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah , yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh). 
Penyucian pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua. Sebab seorang manusia mempunyai iktikad yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur katanya. Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan jelas dalam tingkah laku dan segala perbuatannya. Lidah adalah terjemahan dari hati. dan perbuatan anggota tubuh terjemahan pula dari hati, dan perbuatan anggota tubuh merupakan terjemahan pula dari apa yang telah dikatakan lisan. Tetapi salat adalah perbuatan anggota tubuh yang paling baik, termasuk dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya. Apabila Tuhan berkata agar Dia disucikan (atau dibersihkan) maka wajib bagi kaum Muslimin untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk membersihkannya. 
Suruhan menyucikan Allah SWT itu tak lain dari pada suruhan melaksanakan salat. 
Pendapat ini sesuai dengan tafsir ayat 15 di atas. Sebab Allah SWT menerangkan bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh. 
Allah SWT berfirman: 

فأما الذين آمنوا وعملوا الصالحات فهم في روضة يحبرون 
Artinya: 
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. (Q.S. Ar Rum: 15) 
Dalam ayat ini Allah SWT berkata: Apabila telah diketahui bahwa surga itu suatu temapt bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Tuhan itu dengan iman yang baik dalam hati dan Esakanlah Dia dengan lisan dan beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh. Semuanya itu merupakan penyucian dan pemujian. Bertasbihlah kepada Allah SWT agar kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat tercapai. 
Ayat "Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di bumi", adalah kalimat sisipan. Sedangkan sambungan ayat ini merupakan kalanjutan ayat 17 tersebut di atas. Kalimat sisipan itu terletak di antara suruhan agar manusia bertasbih kepada Allah SWT pada waktu-waktu yang ditentukan itu adalah sebagai penegasan bagi manusia bahwa mereka bukan satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya. 
Hal ini jelas kelihatan dari ayat berikut ini: 

وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم 
Artinya: 
Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Q.S. Al Isra': 44) 
Lagi pula dengan adanya kalimat sisipan seakan-akan Tuhan berkata kepada manusia: "Terangkanlah kepada mereka bahwa tasbih mereka itu kepada Allah adalah untuk kemanfaatan mereka seadiri, bukan untuk Allah kemanfaatannya. Karena itu wajiblah atas mereka memuji Allah SWT di kala mereka bertasbih kepada-Nya". Hat ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam ayat berikut ini: 

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا عليّ إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان 
Artinya: 
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan". (Q.S. Al Hujurat: 17) 
Para ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud kalimat "Bagi-Nya segala puji "lahul hamd" ialah salat bagi-Nya Allah SWT. Dan ada pula yang berpendapat bahwa pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk meng Agungkan Allah SWT dan mendorong manusia untuk beribadat kepada-Nya, karena abadinya nikmat-Nya kepada manusia. 
Dalam kedua ayat ini, diutamakan menyebut waktu-waktu yang demikian ialah karena timbul tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan rahmat Allah pada waktu-waktu tersebut itu. Kemudian malam didahulukan menyebutnya dari pagi, karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih dahulu dari pagi. Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam matahari. Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariyah itu. 
Selanjutnya soal kebaikan dalam ayat-ayat tersebut di atas, ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung dalam kedua ayat tersebut. 
Pertama ialah: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا أخبركم لِمَ سَمَّى الله تعالى إبراهيم خليله وفيٌّ لأنه يقول كلما أصبح وأمسى فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون وله الحمد في السموات والأرض وعشيا وحين تظهرون. 
Artinya: 
Rasulullah saw telah bersabda. "Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: "Kenapa Allah SWT menamakan Ibrahim as sebagai Khalil-Nya (teman-NYa) yang setia?. Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh. Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur". (H.R. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir) 
Seterusnya Nabi bersabda: 

من قال حين يصبح: سبحان الله حين تمسون وحين تصبحون إلى قوله تعالى: وكذلك تخرجون. أدرك ما فاته في يومه. ومن قال حين يمسي أدرك ما فاته من ليلته. 
Artinya: 
Siapa yang mengatakan di waktu pagi: 
سبحان الله 
hingga firman Tuhan 
وكذلك تخرجون 
maka dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya pada siang hari itu. Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu malamnya. (H.R. Abu Daud dan Tabrani) 
Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya ayat-ayat 17 -18 di atas untuk dicamkan dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ruum 17 
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (17) 
(Maka bertasbihlah kepada Allah) maksudnya salatlah kalian (di waktu kalian berada di petang hari) di kala kalian memasuki petang hari; di dalam waktu ini terdapat dua salat, yaitu salat Magrib dan salat Isyak (dan di waktu kalian berada di waktu subuh) sewaktu kalian memasuki pagi hari di dalam waktu ini terdapat salat subuh.

dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.(QS. 30:18)
Surah Ar Ruum 17 - 18 
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (17) وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (18) 
Dalam kedua ayat ini Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin untuk melepaskan mereka dari azab neraka dan memasukkau mereka ke dalam surga, yaitu dengan mensucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak. bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seakan-akan Allah SWT berkata: Jika kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka sucikanlah Dia di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi. Puji dan sucikanlah Tuhanmu dalam setiap waktu itu dengan hal-hal yang sesuai bagi-Nya. 
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih (mensucikan Tuhan) di sini, ialah salat lima waktu diwajibkan kepada kaum Muslimin. Lalu orang bertanya: "Dan lafaz apakah dipahamkan salat yang lima waktu itu?. Jawabnya ialah perkataan: "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari, maksudnya ialah salat Magrib dan Isyak". Perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Subuh", maksudnya salat subuh. Perkataan: "dan di waktu kamu berada pada petang hari", maksudnya ialah salat Asar. Dan perkataan: "dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur". yaitu salat Zuhur. 
Tetapi Pahhak, Said bin Jabir, Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa kedua ayat tersebut di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat mahrib, subuh. asar dan zuhur. Sedangkan salat isya' (yang terakhir) tersebut pada ayat yang lain, Allah berfirman: 

وزلفا من الليل 
Artinya: 
Dan pada bagian permulaan dari pada malam. (Q.S. Hud: 114) 
Dan waktu mendirikan salat Isya' ini juga terdapat dalam ayat lain, yang menyebutkan waktu-waktu terlarang (waktu-waktu salat), Allah SWT berfirman: 

ومن بعد صلاة العشاء 
Artinya: 
Dan sesudah salat Isya. (Q.S. An Nur: 58) 
An-Nahhas seorang ahli tafsir juga berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut di atas berkenaan dengan salat-salat yang lima. Beliau menunjang pendapat Ali bin Sulaiman yang berkata bahwa ayat itu ialah bertasbih kepada Allah SWT dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut. 
Marudi juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih ialah salat. Adapun mengenai penamaan salat dengan tasbih berasal dari dua segi. Pertama karena dalam salat disebutkan tasbih itu berasal dari kata "sabhah" yang berarti salat. 
Nabi bersabda: 
تكون لهم سبحة يوم القيامة 
Artinya: 
\ Bagi mereka ada salat pada hari kiamat. (Tafsir Qurtubi Jilid 14 hal. 15) 
Iman Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti "penyucian". Arti yang diberikan beliau ini adalah lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam penyucian itu termasuk salat. Penyucian yang disuruh ialah: 
1. Pensucian hati, yaitu iktikad yang teguh. 
2. Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik. 
3. Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah , yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh). 
Penyucian pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua. Sebab seorang manusia mempunyai iktikad yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur katanya. Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan jelas dalam tingkah laku dan segala perbuatannya. Lidah adalah terjemahan dari hati. dan perbuatan anggota tubuh terjemahan pula dari hati, dan perbuatan anggota tubuh merupakan terjemahan pula dari apa yang telah dikatakan lisan. Tetapi salat adalah perbuatan anggota tubuh yang paling baik, termasuk dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya. Apabila Tuhan berkata agar Dia disucikan (atau dibersihkan) maka wajib bagi kaum Muslimin untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk membersihkannya. 
Suruhan menyucikan Allah SWT itu tak lain dari pada suruhan melaksanakan salat. 
Pendapat ini sesuai dengan tafsir ayat 15 di atas. Sebab Allah SWT menerangkan bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh. 
Allah SWT berfirman: 

فأما الذين آمنوا وعملوا الصالحات فهم في روضة يحبرون 
Artinya: 
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. (Q.S. Ar Rum: 15) 
Dalam ayat ini Allah SWT berkata: Apabila telah diketahui bahwa surga itu suatu temapt bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Tuhan itu dengan iman yang baik dalam hati dan Esakanlah Dia dengan lisan dan beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh. Semuanya itu merupakan penyucian dan pemujian. Bertasbihlah kepada Allah SWT agar kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat tercapai. 
Ayat "Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di bumi", adalah kalimat sisipan. Sedangkan sambungan ayat ini merupakan kalanjutan ayat 17 tersebut di atas. Kalimat sisipan itu terletak di antara suruhan agar manusia bertasbih kepada Allah SWT pada waktu-waktu yang ditentukan itu adalah sebagai penegasan bagi manusia bahwa mereka bukan satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya. 
Hal ini jelas kelihatan dari ayat berikut ini: 

وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم 
Artinya: 
Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Q.S. Al Isra': 44) 
Lagi pula dengan adanya kalimat sisipan seakan-akan Tuhan berkata kepada manusia: "Terangkanlah kepada mereka bahwa tasbih mereka itu kepada Allah adalah untuk kemanfaatan mereka seadiri, bukan untuk Allah kemanfaatannya. Karena itu wajiblah atas mereka memuji Allah SWT di kala mereka bertasbih kepada-Nya". Hat ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam ayat berikut ini: 

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا عليّ إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان 
Artinya: 
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan". (Q.S. Al Hujurat: 17) 
Para ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud kalimat "Bagi-Nya segala puji "lahul hamd" ialah salat bagi-Nya Allah SWT. Dan ada pula yang berpendapat bahwa pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk meng Agungkan Allah SWT dan mendorong manusia untuk beribadat kepada-Nya, karena abadinya nikmat-Nya kepada manusia. 
Dalam kedua ayat ini, diutamakan menyebut waktu-waktu yang demikian ialah karena timbul tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan rahmat Allah pada waktu-waktu tersebut itu. Kemudian malam didahulukan menyebutnya dari pagi, karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih dahulu dari pagi. Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam matahari. Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariyah itu. 
Selanjutnya soal kebaikan dalam ayat-ayat tersebut di atas, ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung dalam kedua ayat tersebut. 
Pertama ialah: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا أخبركم لِمَ سَمَّى الله تعالى إبراهيم خليله وفيٌّ لأنه يقول كلما أصبح وأمسى فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون وله الحمد في السموات والأرض وعشيا وحين تظهرون. 
Artinya: 
Rasulullah saw telah bersabda. "Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: "Kenapa Allah SWT menamakan Ibrahim as sebagai Khalil-Nya (teman-NYa) yang setia?. Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh. Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur". (H.R. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir) 
Seterusnya Nabi bersabda: 

من قال حين يصبح: سبحان الله حين تمسون وحين تصبحون إلى قوله تعالى: وكذلك تخرجون. أدرك ما فاته في يومه. ومن قال حين يمسي أدرك ما فاته من ليلته. 
Artinya: 
Siapa yang mengatakan di waktu pagi: 
سبحان الله 
hingga firman Tuhan 
وكذلك تخرجون 
maka dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya pada siang hari itu. Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu malamnya. (H.R. Abu Daud dan Tabrani) 
Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya ayat-ayat 17 -18 di atas untuk dicamkan dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ruum 18 
وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (18) 
(Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi) kalimat ayat ini merupakan jumlah i'tiradh, maksudnya Dia dipuji oleh penduduk langit dan bumi (dan di waktu kalian berada pada petang hari) diathafkan kepada lafal hiina yang ada pada ayat sebelumnya; di dalam waktu ini terdapat salat Isyak (dan sewaktu kalian berada di waktu Zuhur) yakni di waktu kalian memasuki tengah hari, yang pada waktu itu terdapat salat Zuhur.

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).(QS. 30:19)
Surah Ar Ruum 19 
يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ (19) 
Ayat ini merupakan pemandangan umum yang menyingkapkan sebagian kekuasaan Allah SWT, yang menyeru hamba-hamba-Nya agar bertasbih dan beribadat kepada-Nya. Orang yang bertasbih kepada Allah hanya sekadar bertasbih dan menyembah-Nya tanpa mengetahui hak-hak dan kekuasaan serta kebesaran Allah SWT dalam beribadah itu, maka tasbih dan ibadahnya itu tidak akan ada manfaatnya. Dia tidak akan menjumpai Tuhan dengan tasbih dan ibadat yang seperti itu, suatu perjumpaan yang akan melapangkan dada, membukakan hati dan menjernihkan jiwa, Ibadat yang disuruh ialah ibadat yang berbekas dalam jiwa manusia. 
Oleh karena itu maka ayat ini menyuruh kita memperhatikan keadaan alam ini. Di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Pada apa yang dilihat manusia pada kehidupan ini, dapat diperhatikan bahwa kehidupan ini berasal dari benda mati, dan benda mati itu berasal dari kehidupan. Hal ini dapat diperhatikan pada telur dan ayam. Telur adalah benda mati, tapi ia dapat mengeluarkan ayam yang hidup. Begitu pulalah ayam adalah benda hidup, tetapi dia dapat mengeluarkan telur yang merupakan benda mati. Atau pada diri manusia dapat dilihat dua kejadian itu. Manusia adalah makhluk yang mengeluarkan mani (sperma) sebagai benda mati (menurut kepercayaan Arab di waktu itu). Sebaliknya mani itu dapat menjadi manusia bila dia berjumpa dengan telur wanita di dalam rahim. 
Mujahid seorang ahli tafsir mengartikan "keluarnya yang hidup dari yang mati" dan "yang mati dari yang hidup" dengan mukmin dan kafir. Anak orang mukmin ada yang menjadi kafir, sebaliknya anak orang kafir ada yang menjadi mukmin, Ada pula yang menafsirkan bahwa kehidupan ini diakhiri dengan kematian dan kematian itu disudahi dengan kehidupan kembali di akhirat. 
Karena kedua hal itu, yakni mati dan hidup suatu keadaan yang rutin di dalam kehidupan di dunia ini, maka tidaklah mustahil bagi Allah untuk membangkitkan manusia dari kuburnya di hari kiamat kelak. Hal ini harus diperhatikan oleh manusia. Sebagai contoh lain yang lebih dekat bagi manusia ialah keadaan tanah yang sudah tandus dan gersang. Tanah ini biasa menumbuhkan tanam-tanaman, andaikata Allah menurunkan hujan dari langit. 
Setelah memperhatikan contoh-contoh di atas, maka apakah kekuasaan Allah yang tidak terhatas itu kelak tidak-sanggup untuk menghidupkan manusia kembali dari dalam tanah, di mana tulang-belulangnya telah hancur berserakan, dan dagingnya telah bersatu dengan tanah?. Tentu saja sanggup. Oleh karena itu, bila sangkakala ditiup malaikat, manusia akan bangkit semuanya kembali di padang Mahsyar menghadap Tuhan. 
Allah berfirman: 

والله أنبتكم من الأرض نباتا ثم يعيدكم فيها ويخرجكم إخراجا 
Artinya: 
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. (Q.S. Nuh: 17-18) 
Kenapa manusia mengingkari hari berbangkit itu?. Kenapa mereka memperdebatkannya?. Sebetulnya kekuasaan Allah tak perlu dan tak dapat diingkari. Siapa yang berakal tidak akan dapat mengingkari kekuasaan itu. Tetapi dia lari dari tanggung jawab. Manusia tak mau bertanggung jawab, untuk menghadapi perhitungan di hari kiamat. Dia ingin melepaskan jiwanya dari perasaan keimanan dengan hatinya, sesuai dengan nasibnya di dunia ini. Dia tidak mempersiapkan sesuatupun untuk akhirat. Demikianlah manusia ditipu oleh jiwa dan hawa nafsunya. Dia memperkenankan panggilan yang sebenarnya, kecuali apa yang sesuai dengan nafsunya itu.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.(QS. 30:20)
Surah Ar Ruum 20 
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ (20) 
Ayat ini menerangkan adanya tanda-tanda kebesaran Ilahi pada diri manusia itu sendiri. Manusia itu terjadi dari tanah, sedangkan tanah itu mati tak bergerak. Sehubungan dengan kejadian manusia dari tanah itu Rasulullah saw telah bersabda seperti berikut: 

إن الله خلق آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض, فجاء بنو آدم على قدر الأرض جاء منهم الأبيض والأحمر والأسود وبين ذلك والخبيث والطيب والسهل والحزن وبين ذلك.
Artinya: 
Sesungguhnya Allah telah menjadikan Adam dari segumpal tanah yang diambil-Nya dari segala macam tanah. Kemudian datanglah anak-anak Adam menurul tanah asal mereka. Mereka ada yang putih, merah, hitam dan sebagainya; ada pula yang jelek, baik, sederhana, bersedih dan sebagainya. (H.R. abu Daud dan Tirmizi) 
Mengenai asal kejadian manusia itu banyak diterangkan Alquran. Dalam surat Al Mu'minun umpamanya Allah SWT berfirman: 

ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين 
Artinya: 
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (Q.S. Al Mu'minun: 12) 
Dalam surat Al Mu'minun ini Allah menerangkan kejadian manusia itu berasal dari saripati tanah. Ini adalah suatu kejadian yang tak langsung dari manusia. Tetapi dalam ayat 20 ini disebutkan asal kejadian itu langsung dari tanah dan segera diikuti dengan gambaran manusia yang bergerak dan bertebaran. Hal ini untuk dibandingkan dengan proses dan arti antara tanah mati yang tak bergerak dengan manusia hidup yang bergerak, yaitu sesuai dengan firman Allah SWT dalam ayat sebelumnya: "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup". 
Hal itu adalah suatu kejadian yang luar biasa dan sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Hal itu juga mengisyaratkan adanya hubungan yang kuat antara manusia dan bumi ini tempat hidup mereka, dan tempat bertemu dengan asal kejadian itu. Manusia dan bumi dalam jagat raya ini tunduk pada hukum-hukum Tuhan yang berlaku padanya. 
Proses perpindahan dari bentuk tanah tak bergerak dan tak berarti kepada bentuk manusia yang bergerak dan mulia, ialah suatu perpindahan yang membangkitkan pada ciptaan Allah, menggerakkan perasaan untuk mengucapkan syukur dan tasbih kepada-Nya, dan menggerakkan hati untuk mengagungkan Pencipta Yang Maha Mulia itu. 
Alquran menetapkan kenyataan itu, agar manusia mengingat ciptaan Allah itu, dan memikirkan proses perpindahan dari tanah menjadi manusia dalam kejadian itu. Alquran tak memperinci proses pertumbuhan dan perkembangan manusia dari tanah sampai menjadi manusia, karena hal itu tidak perlu dalam tujuan yang lebih besar yang ada dalam Alquran. Adapun ilmu pengetahuan, mereka telah mencoba menetapkan teori-teori sebagai jenjang tertentu bagi pertumbuhannya, untuk menghubungkan mata-mata rantai proses kejadian manusia itu. Teori-teori itu adakalanya salah dan adakalanya benar. Dan kaum Muslimin tak mencampur adukkan kebenaran yang pasti itu, yang telah ditetapkan Alquran, yaitu bahwa manusia berasal dari tanah, dengan teori-teori ilmiah yang timbul dalam rangka menyelidiki proses kejadian manusia. Teori-teori itu mungkin benar dan mungkin pula salah, dan apa yang benar sekarang mungkin dibatalkan hari esok, sesuai dengan kemajuan teknologi modern untuk menyelidiki sesuatu masalah. Tetapi ada persimpangan jalan antara pandangan Alquran terhadap manusia dan pandangan teori-teori ilmiah tersebut. Alquran memuliakan manusia dan menetapkan bahwa padanya ada hembusan roh ciptaan Allah. Tuhan menciptakannya dari tanah menjadi manusia, dan memberikan kepada mereka keistimewaan-keistimewaan yang membedakan mereka dengan binatang. Pandangan yang seperti ini tak ada sama sekali dalam teori-teori ilmiah, yang berdasarkan materi semata-mata, dan tak ada hubungannya dengan Allah sama sekali. 
Dalam ayat berikut ini pembicaraan berpindah dari kejadian pertama jenis manusia kepada kehidupan bersama antara laki-laki dan perempuan.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AR-RUM>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar