Minggu, 14 Juli 2013

Surah Luqman 21-34

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH LUQMAN>>
Dan apabila dikatakan kepada mereka:` Ikutilah apa yang diturunkan Allah `. Mereka menjawab:` (Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya `. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?(QS. 31:21)
Luqman 21 
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ (21) 
Ayat ini menerangkan bahwa orang kafir seperti yang disebutkan ayat di atas tidak dapat diharapkan lagi iman mereka, karena sang at ingkar dan pikiran mereka telah ditutupi oleh taklid buta kepada nenek moyang mereka, karena itu mereka tidak lagi menghiraukan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka. Sifat dan sikap mereka digambarkan Allah dalam ayat ini, dengan mengatakan Apabila dikatakan kepada orang-orang yang membantah keesaan Allah itu: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya". Mereka menjawab: "Kami mengikuti apa yang telah diajarkan kepada kami oleh bapak-bapak kami, dan mereka telah mengajarkan agama yang benar dan ketentuan-ketentuan yang baik bagi kami". 
Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa orang-orang musyrik itu tetap mengikuti agama nenek moyang mereka, walaupun orang-orang tua mereka itu tidak berpengetahuan dan tidak pernah mendapat petunjuk. Hal itu menunjukkan bahwa dalam hal kepercayaan mereka tidak lagi menggunakan akal pikiran mereka, tetapi mereka telah diperbudak oleh hawa nafsu. Hawa nafsu yang demikian itu dihembuskan dan ditanamkan oleh setan ke dalam hati orang-orang kafir, sehingga mereka tidak akan dapat melihat kebenaran. Akibat dari tindakan mereka itu, ialah mereka akan terjerumus ke dalam azab neraka Jahanam di akhirat nanti.

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.(QS. 31:22)
Luqman 22 
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (22) 
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menyembah Allah SWT, tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, menjalankan ihsan dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, meninggalkan semua perbuatan maksiat dan mungkar. berarti dia telah berpegang dengan buhul tali yang kokoh. 
Yang dimaksud dengan "ihsan" dalam ayat ini ialah beribadat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, sehingga merasakan seolah-olah berhadapan langsung dengan-Nya, sebagaimana yang diterangkan oleh hadis, bahwa Nabi saw ditanya Jibril: 

قال جبريل: يا محمد فأخبرني عن الإحسان. قال: أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك 
Artinya: 
Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad saw: "Ya Muhammad terangkanlah kepadaku tentang ihsan, Nabi saw menjawab "Bahwa engkau menyembah Ayah. seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat engkau". (H.R. Muslim dari Umar) 
Demikianlah Allah SWT mengibaratkan orang yang melakukan "ihsan" yang benar-benar beriman kepada-Nya, taat melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menghentikan larangan-larangan-Nya adalah pendaki gunung, yang menggunakan tali yang memakai buhul-buhul tempat berpegang, maka orang yang memanjat gunung itu tak usah khawatir, karena ia memanjat dengan menggunakan tali dengan buhul-buhulnya yang kuat dan kokoh tempat berpegang, tidak ada kekhawatiran sedikitpun dalam hatinya akan jatuh. 
Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa semua makhluk kembali kepada Allah saja. Karena itu, Dialah sendiri yang memberikan penghargaan yang baik kepada orang yang bertawakal itu dengan memberikan pembalasan yang baik pula.

Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.(QS. 31:23)
Luqman 23 
وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) 
Ayat ini merupakan hiburan kepada Nabi saw dan para sahabat yang telah disedihkan oleh sikap dan tingkah laku orang-orang musyrik kepada mereka, seakan-akan ia mengatakan: "Hal Nabi, janganlah engkau bersedih hati lantaran kekafiran mereka. Karena tugasmu hanya menyampaikan agama Allah kepada mereka, bukan untuk menjadikan mereka beriman. Mereka semua akan kembali kepada Allah pada hart kiamat, lalu dikabarkan kepada mereka segala yang pernah mereka perbuat selama hidup di dunia, Kami akan mengadakan penilaian terhadapnya dan memberikan penilaian yang adil, karena Allah mengetahui semua yang terkandung di dalam hati manusia".

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.(QS. 31:24)
Luqman 24 
نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24) 
Ayat ini menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa mereka hanya diberi kesenangan hidup yang sedikit dan bersifat sementara. Selama waktu yang sedikit itu mereka dapat mempergunakan nikmat-nikmat yang disediakan Allah dan mengecap kesenangan hidup. Tetapi kesenangan sementara itu tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan kesenangan ukhrawi, dan kesenangan sementara itu akan hilang, seakan-akan tidak pernah mereka alami di saat mereka menemui azab yang pedih di alam neraka nanti. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah yang lain: 

قل إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون متاع في الدنيا ثم إلينا مرجعهم ثم نذيقهم العذاب الشديد بما كانوا يكفرون 
Artinya: 
Katakanlah : "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka". (Q.S. Yunus: 69-70)

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:` Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? `Tentu mereka akan menjawab:` Allah `. Katakanlah: Segala puji bagi Allah`; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(QS. 31:25)
Luqman 25 
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (25) 
Ayat ini menyatakan kebodohan dan kefanatikan orang-orang musyrik terhadap agama nenek moyang mereka. Bukti kebodohan mereka itu dinyatakan Allah: "Dan jika engkau tanyakan kepada orang-orang musyrik itu, hai Muhammad, tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka akan menjawab: "Yang menciptakan keduanya itu dan apa yang terdapat di dalamnya adalah Allah". 
Pengakuan mereka ini adalah pengakuan yang benar, dan mereka akan terpaksa menjawab demikian, karena memang sudah amat jelas bahwa yang menjadikan alam ini adalah Allah. Berdasarkan pengakuan itu seharusnya mereka menyembah dan menghambakan diri kepada Allah saja, karena Dialah Tuhan yang berhak disembah. Tetapi perbuatan dan sikap mereka itu berlawanan dengan pengakuan mereka, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat. 
Kemudian Allah SWT mengajarkan kepada Rasul-Nya, bahwa di kala mereka menjawab demikian, maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah". Karena dengan jawaban mereka yang semacam itu mereka telah mengakui kesalahan mereka menyembah apa yang sepatutnya tidak disembah. Dalam pada itu Allah memperingatkan pula bahwa jika mereka berbuat dan bersikap yang berlawanan dengan pengakuan mereka sendiri, maka hal itu adalah disebabkan karena kebanyakan dari orang-orang musyrik itu tidak mengetahui siapa yang berhak mendapat pujian, dan yang berhak menerima syukurnya manusia. Dalam pada itu, pada pengakuan kaum musyrikin itu terdapat suatu kenyataan, biarpun mereka mendustakan Nabi Muhammad, tetapi karena mereka percaya bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, maka pada hakikatnya mereka mengakui kerasulan. Karena menurut logika dan pikiran, Allah SWT telah menciptakan alam ini, termasuk manusia, tentu tidak akan melepaskan begitu saja. Tuhan tentu mengirim Rasul-rasul untuk memberi taufik dan hidayah-Nya kepada manusia.

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(QS. 31:26)
Luqman 26 
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (26) 
Hanya Allah sajalah yang memiliki langit dan bumi, beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak ada yang lain karena Dia-lah yang menciptakannya dan seluruh apa yang terdapat di dalamnya, Dia-lah Yang mengatur, menjaga dan memeliharanya, menentukan akhir kejadiannya. Dia berbuat menurut apa yang dikehendaki-Nya. Karena itu pantaslah ia dipuji dan disanjung dan pantas pula dipanjatkan syukur kepada-Nya, dan Dia tidak memerlukan sesuatu apapun dari makhluk-Nya. 
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa menurut agama Islam, harta ini adalah milik Allah, manusia hanya meminjam dan boleh memanfaatkannya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama. Jika pada suatu saat harta itu diperlukan untuk jalan Allah, maka menurut ajaran Islam yang berkuasa (pemerintah) boleh mengambil harta itu kalau diperlukan boleh diambil secara paksa.

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 31:27)
Luqman 27 
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (27) 
Diriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah saw masih menetap di Mekah turunlah ayat: 

ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلا 
Artinya: 
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S. Al Isra': 85) 
Maka tatkala Rasulullah berhijrah ke Madinah, datanglah dia kepada rahib-rahib Yahudi, mereka berkata: "Ya Muhammad, telah sampai kepada kami bahwa engkau berkata: "dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". Apakah kami yang kamu maksudkan dengan perkataan itu, atau kaum engkau?". Rasulullah saw menjawab: "Semuanya yang aku maksudkan". Mereka berkata: "Bukankah telah engkau baca dalam kitab yang diturunkan kepada engkau bahwa kepada kami telah diturunkan Taurat dan di dalamnya terdapat ilmu tentang segala sesuatu". Rasulullah berkata: "Ilmu dalam Taurat itu sedikit, jika dibandingkan dengan ilmu Allah, dan sesungguhnya Allah menurunkan kepadaku sesuatu, yang jika kamu amalkan, niscaya akan memberi manfaat kepadamu". Mereka berkata: "Ya Muhammad, kenapa kamu mengatakan demikian, sedang engkau mengatakan: "Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberikan kebaikan yang banyak". Bagaimana mungkin berkumpul pada sesuatu, ilmu yang sedikit dan kebaikan yang banyak?". Maka Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai jawaban. 
Ayat ini menerangkan tentang luasnya ilmu Allah. Hal ini diibaratkan: "Seandainya seluruh pohon-pohon yang di muka bumi dijadikan pena, untuk mencatat ilmu Allah itu, dan seluruh air laut dijadikan tintanya, kemudian ditambah dengan tujuh kali sebanyak itu, maka kalimat Allah itu belum juga habis tertulis. 
Ayat lain yang sesuai dengan ayat ini, ialah firman Allah SWT: 

قل لو كان البحر مدادا لكلمات ربي لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات ربي ولو جئنا بمثله مددا 
Artinya: 
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku. meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (Q.S. Al Kahfi: 109) 
Arti kalimat "Allah" dalam ayat ini banyak sekali, termasuk di dalamnya kekuasaan Allah hakikat segala sesuatu, ketentuan dan perkataan Allah, ilmu dan segala macam ciptaan Allah SWT. Allah SWT menciptakan langit dan bumi dengan segala macam yang ada di dalamnya, sejak dari yang besar sampai kepada yang halus, sejak dari binatang yang paling besar sampai kepada ribuan bakteri yang paling halus, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, binatang-binatang yang ada di cakrawala dengan segala aturan-aturan dan banyak lagi yang lain yang tidak terhitung jumlahnya, semuanya termasuk dalam kalimat Allah SWT. 
Pada ayat ini ditegaskan bahwa Allah Maha Keras tuntutan-Nya, segala kehendak dan keputusan-Nya pasti terlaksana dan Dia Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya.

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. 31:28)
Luqman 28 
مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (28) 
Ayat ini menerangkan bahwa menjadikan segala sesuatu, adalah mudah bagi Allah, apakah menjadikan sesuatu yang besar, yang kecil, yang ruwet, atau menjadikan sesuatu dalam jumlah yang sedikit, semuanya sama saja bagi Allah. Begitu pula membangkitkan manusia dari dalam kuburnya di hari kiamat adalah mudah bagi Allah. Membangkitkan seluruh manusia bagi Tuhan hanyalah sebagai membangkitkan orang seorang. Tidak ada sesuatupun yang sukar bagi-Nya, jika Allah SWT berkehendak terjadilah sesuatu cukuplah Dia mengucapkan "Kun" (jadilah). Maka jadilah yang dikehendaki-Nya itu. Allah SWT berfirman: 

إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون 
Artinya: 
Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepada-Nya: "Jadilah!". Maka terjadilah ia. (Q.S. Yasin: 82) 
Dan firman Allah SWT: 

وما امرنا إلا واحدة كلمح البصر 
Artinya: 
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (Q.S. Al Qamar: 50) 
Pada akhir ayat ini Allah. SWT menyatakan bahwa Dia mendengar segala perkataan hamba-Nya dan Maha Melihat segala perbuatan mereka.

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. 31:29)
Luqman 29 
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (29) 
Dalam ayat ini Allah SWT menyuruh manusia memperhatikan dan memikirkan kekuasaan Allah, yaitu Dia memasukkan malam kepada siang, dan memasukkan siang kepada malam. Maksudnya ialah bahwa Allah mengambil sebagian dari waktu malam, lalu ditambahkannya kepada waktu siang, maka terjadilah perpanjangan waktu siang itu, sebaliknya malam menjadi pendek, akan tetapi sehari semalam tetap 24 jam. Hal ini terjadi pada musim panas. Dalam pada itu Allah SWT juga mengambil sebagian dari waktu siang, lalu dimasukkan-Nya kepada waktu malam, maka menjadi panjanglah waktu malam itu, dan sebaliknya waktu siang menjadi pendek. Hal ini terjadi di musim dingin. 
Kejadian sebagai disebut di atas itu amat jelas kelihatannya dan dialami oleh penduduk negeri-negeri yang terletak di daerah-daerah yang mempunyai empat macam musim dalam setahun, yaitu musim panas, musim rontok, musim dingin dan musim semi, yaitu daerah Sedang Utara, dan Daerah Sedang Selatan. Adapun di negeri-negeri yang berada di daerah khatulistiwa, maka dalam setahun hanya ada dua musim, yaitu musim kemarau dan musin hujan, sedang pada saat-saat malam lebih panjang dari siang, atau siang lebih panjang dari malam, perbedaan itu tidak terasa betul, karena perbedaan panjang pendeknya malam atau siang itu tidak seberapa. 
Terjadinya empat macam musim dalam setahun di daerah Sedang Utara dan daerah Sedang Selatan dan selanjutnya terjadi siang. lebih panjang dari malam itu atau sebaliknya, di daerah-daerah tersebut itu adalah karena Allah SWT, berhubungan dengan hikmah-hikmah yang amat besar, memiringkan letak bumi di cakrawala 22 1\2 derajat, sebagian yang dikenal dalam ilmu Bumi Falak. 
Demikian pula Allah SWT menundukkan matahari dan bulan untuk kepentingan manusia, sinar matahari merupakan lampu yang menerangi manusia di siang itu, sehingga mereka dapat bekerja dan berusaha. Sinar matahari juga menyuburkan tumbuh-tumbuhan, menimbulkan angin dan awan Serta banyak lagi yang lain kegunaannya. Demikianlah pula bahwa bulan dan cahayanya serta berlainan bentuknya, amat banyak kegunaannya bagi manusia, tetapi sebagian kecil saja dari kegunaan itu yang diketahuinya. 
Masing-masing dari bulan dan matahari itu beredar di garis orbitnya, sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan Allah, sampai kepada waktu yang telah ditentukan pula oleh Allah, dan apabila waktu yang telah ditentukan itu datang, maka langit dan bumi akan digulung, sebagaimana firman Allah SWT: 

يوم نطوي السماء كطي السجل للكتب 
Artinya: 
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. (Q.S. Al Anbiya: 104) 
Pada akhir ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa Dia mengetahui segala perbuatan hamba-Nya yang telah dikerjakannya, baik perbuatan baik, maupun perbuatan buruk. Tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya, karena itu Dia akan memberinya pembalasan yang adil.

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.(QS. 31:30)
Luqman 30 
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (30) 
Ayat ini menerangkan bahwa tujuan Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada manusia adalah untuk menjadi dalil dan bukti yang kuat bagi mereka, bahwa manusia wajib beribadat kepada-Nya dan hanyalah Dia yang berhak disembah, sedang menyembah atau beribadah kepada yang lain selain Dia adalah tindakan yang batil, karena semua yang selain Allah itu adalah fana, tidak kekal. Dia Maha Kaya, tidak memerlukan yang lain, sedangkan semua makhluk sangat tergantung kepada nikmat-Nya. 
Akhirnya ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi, mengatasi segala sesuatu, Maha Besar yang menguasai segala sesuatu. Semua tunduk dan patuh kepada-Nya.

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat lagi banyak bersyukur.(QS. 31:31)
Luqman 31 
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَةِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (31) 
Pada ayat ini Allah memerintahkan agar manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya yang ada di bumi dengan mengatakan: "Apakah tidak engkau perhatikan, hai Muhammad, bahtera yang berlayar di lautan yang menghubungkan negeri-negeri yang berjauhan letaknya. Dengan adanya hubungan itu, manusia suatu negeri akan mengenal manusia negeri lain, keperluan dan kebutuhan rakyat suatu negeri, sedang keperluan itu tidak ada di negerinya dapat diambil dan diangkut oleh kapal-kapal dari negeri-negeri yang lain, seperti bahan makanan, pakaian, obat-obatan, permata-permata, mesin-mesin dan sebagainya. Dengan adanya kapal-kapal itu seakan-akan hubungan antara bangsa-bangsa dan negara-negara dewasa ini semakin dekat. 
Dan semua yang diterangkan Allah itu terdapat bukti-bukti atas kekuasaan dan kebesaran Allah yang nyata bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan kesukaran, serta bagi orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Tanda seorang bersyakur kepada Allah itu ialah ia menyatakan syukurnya baik dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan di saat-saat ia menerima nikmat itu. 
Berkata Asy Sya'bi: "Sabar itu adalah sebagian dari iman dan syukur itu adalah sebagian iman dari yakin adalah iman seluruhnya. Tidakkah engkau perhatikan firman Allah yang terdapat pada akhir ayat ini dan firman Allah: "Wa fil Ardi ayatun lil muqinin" (dan pada bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin) dan sabda Rasulullah saw: 
Artinya: 
Iman itu ada dua bagian, yaitu sabar dan syukur.

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.(QS. 31:32)
Luqman 32 
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ (32) 
Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang-orang musyrik dengan melukiskan mereka: "Apabila orang-orang musyrik penyembah patung dan pemuji dewa itu berlayar ke tengah lautan, kemudian tiba-tiba datang gelombang besar dan menghempaskan bahtera mereka ke kiri dan ke kanan, dan mereka merasa bahwa mereka tidak akan selamat, bahkan akan mati ditelan gelombang, maka di saat itulah mereka kembali kepada fitrahnya, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan setulus-tulusnya. Pada saat serupa itu mereka berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan mereka kecuali Allah semata, seperti yang pernah dilakukan Firaun di saat-saat ia akan tenggelam ke dasar laut. 
Setelah Allah SWT menerima doa mereka, menyelamatkan mereka dari amukan gelombang itu dan mereka telah selamat sampai ke darat, maka di antara mereka hanya sebagian saja yang tetap mengakui keesaan Allah, adapun yang lain mereka kembali memperserikatkan Tuhan. 
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa yang mengingkari ayat-ayat Kami itu dan kembali mempersekutukan Tuhan ialah orang-orang yang dalam hidupnya penuh dengan tipu daya dan kebusukan, lagi mengingkari nikmat Allah.

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.(QS. 31:33)
Luqman 33 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (33) 
Pada ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada manusia, laksanakanlah perintah-perintah dan hentikanlah larangan-larangan Tuhanmu yang telah menciptakan kamu, dan menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya untuk kepentinganmu. Takut lah akan hari yang diwaktu itu terjadi malapetaka yang dahsyat, tidak seorangpun yang dapat menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu. Waktu itu seorang ayah tidak kuasa menolong anaknya demikian pula seorang anak tidak dapat menolong bapaknya, karena segala urusan waktu itu berada di tangan Allah, tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang telah dilakukannya, mereka memikul dosanya masing-masing dan tidak seorangpun yang dapat menghentikannya memikul dosa itu, yang dapat menolong manusia dari malapetaka itu hanyalah ibedat dan perbuatan yang baik yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. 
Allah memperingatkan bahwa janji-Nya membangkitkan manusia dari kuburnya itu adalah suatu yang benar-benar akan terjadi dan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan sedikitpun, karena itu janganlah sekali-kali manusia tertipu oleh kesenangan hidup di dunia dan segala kenikmatan yang ada padanya, sehingga mereka berusaha dan menghabiskan seluruh waktu yang ada untuk mengejarnya, sampai-sampai tidak ada waktu lagi untuk beribadat kepada Allah dan mengerjakan amal-amalan saleh. Padahal kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang kekal dan lebih baik. 
Demikian pula Allah SWT memperingatkan manusia akan tipu daya Setan, yang selalu mencari-cari kesempatan untuk memperdayakan manusia. Setan itu menjadikan kehidupan dunia itu indah dalam pandangan matanya, sehingga mereka lupa kepada tugas yang dipikulkan Allah kepada mereka sebagai khalifatullah fil ard (makhluk yang diberi-Nya tugas memakmurkan bumi).

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. 31:34)
Luqman 34 
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (34) 
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan lima perkara gaib yang hanya Allah sendirilah yang mengetahui perkara itu yaitu: 
1. Hanya Allah sajalah yang mengetahui kapan datangnya Hari Kiamat, tidak seorangpun yang mengetahui selain Dia, kendatipun malaikat, sedang malaikat itu adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya, dan tidak pula diketahui oleh para Nabi yang diutus. 
Allah SWT berfirman: 

لا يجليها لوقتها إلا هو 
Artinya: 
Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Q.S. Al A'raf: 187) 
2. Allah sendirilah yang menurunkan hujan, Dialah yang menetapkan kapan, di mana dan berapa banyak yang akan dicurahkan-Nya, maka ketetapan-Nya itu tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya. Para ahli astronomi dan ahli meteorologi (ilmu cuaca), dapat meramalkan terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan, dan kapan serta di mana hujan akan turun, berdasarkan ilmu hisab dan tanda-tanda. Akan tetapi itu adalah perhitungan dan perkiraan manusia yang tidak mengakibatkan pengertian yang meyakinkan, hanyalah bersifat ramalan, mereka tidak dapat memastikan. 
3. Hanya Allah saja yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam suatu kandungan, apakah cacat atau sempurna, dan kapan ia akan dilahirkan. 
4. Hanya Dia pula yang mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakan oleh seseorang esok harinya. Sekalipun manusia dapat merencanakan apa yang akan dikerjakannya itu, namun semuanya itu hanyalah bersifat rencana saja. Jika Allah menghendaki terlaksananya, terlaksanalah dia, dalam pada itu tidak sukar bagi Allah untuk menghalangi terlaksananya. 
5. Seseorang tidak mengetahui di mana ia akan meninggal dunia nanti. Apakah di daratan atau di lautan ataupun di udara, apakah di negeri ini, atau di negeri itu. Hanya Allah saja yang dapat mengetahuinya dengan pasti. 
Diriwayatkan dari Ibnu Munzir dari Ikrimah, bahwa seorang laki-laki bernama Al Waris bin `Amri bin Harisah datang kepada Nabi saw, ia bertanya "Ya Muhammad, kapan akan datang hari kiamat? Bumi kita telah kering, kapan akan menjadi subur? Sesungguhnya aku meninggalkan isteriku dalam keadaan hamil, kapan ia akan melahirkan? Aku mengetahui apa yang aku kerjakan sekarang, maka apakah yang akan aku kerjakan esok harinya? Aku mengetahui tempat aku dilahirkan, maka di tempat manakah aku akan meninggal ? Sebagai jawaban turunlah ayat ini. 
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda: 

مفاتيح الغيب خمس: إن الله عنده علم الساعة, وينزل الغيث ويعلم ما في الأرحام, وما تدري نفس ماذا تكسب غدا وما تدري نفس بأي أرض تموت إن الله عليم خبير 
Artinya: 
Kunci yang gaib itu ada lima perkara: "Sesungguhnya hanya pada Allah sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dialah yang menurunkan hujan, Dia mengetahui apa yang dalam rahim, seseorang tidak mengetahui apa yang akan dikerjakannya esok harinya, dan ia juga tidak mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Luqman 34 
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (34) 
(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat) yakni kapan kiamat itu akan terjadi (dan Dialah yang menurunkan) dapat dibaca wa yunzilu dan wa yunazzilu (hujan) dalam waktu-waktu yang Dia ketahui (dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim) apakah laki-laki atau perempuan; tidak ada seorang pun yang mengetahui salah satu dari tiga perkara itu melainkan hanya Allah swt. (Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok) apakah kebaikan ataukah keburukan, tetapi Allah swt. mengetahuinya. (Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati) hanya Allah swt. sajalah yang mengetahui hal ini. (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) segala sesuatu (lagi Maha Mengenal) pada yang tersembunyi sebagaimana mengenal-Nya pada yang tampak. Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Umar r.a. bahwasanya kunci-kunci kegaiban itu ada lima perkara, antara lain sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan seterusnya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH LUQMAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar