Senin, 01 Juli 2013

SURAT AR-RUM 1 - 10

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AR-RUM>>
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ruum 1 
الم (1) 
Lihat tafsir "Alif Lam Mim" pada Jilid I, tentang "Fawatihus suwar".
  • Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ruum 2 - 4 
    غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) 
    Telah dikalahkan bangsa Rumawi,(QS. 30:2)  di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang,(QS. 30:3) dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,(QS. 30:4)
  • Ayat ini menerangkan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan oleh bangsa Persia di negeri yang dekat dengan kota Mekah, yaitu negeri Syiria. Beberapa tahun kemudian setelah mereka dikalahkan, maka bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia sebagai balasan atas kekalahan itu. 
    Yang dimaksud dengan bangsa Romawi dalam ayat ini ialah Kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, bukan kerajaan Romawi Barat yang berpusat di Roma. Kerajaan Romawi Barat, jauh sebelum peristiwa yang diceritakan dalam ayat ini terjadi, sudah roboh, yaitu pada tahun 476 Masehi. Bangsa Romawi beragama Nasrani (Ahli Kitab), sedang bangsa Persia beragama Majusi (musyrik). 
    Ayat ini merupakan sebagian dari ayat-ayat yang memberitakan hal-hal yang gaib yang menunjukkan kemukjizatan Alquran. Dalam ayat ini diterangkan sesuatu peristiwa yang terjadi pada bangsa Romawi. Pada saat ketika bangsa Romawi dikalahkan bangsa Persia, maka turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa pada saat ini bangsa Romawi dikalahkan, tetapi kekalahan itu tidak akan lama dideritanya. Tidak lama lagi, hanya dalam beberapa tahun saja, orang-orang Persia pasti dikalahkan oleh orang Romawi. Kekalahan bangsa Romawi ini terjadi sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah. Mendengar berita kekalahan bangsa Romawi ini orang-orang musyrik Mekah bergembira, sedang orang-orang yang beriman beserta Nabi bersedih hati. Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Persia beragama Majusi, menyembah api, jadi mereka memperserikatkan Tuhan. Orang-orang Mekah juga mempersekutukan Tuhan (musyrik) dengan menyembah berhala. Oleh karena itu mereka merasa agama mereka dekat dengan agama bangsa Persia, karena sama-sama mempersekutukan Tuhan. Kaum Muslimin merasa agama mereka dekat dengan agama Nasrani, karena mereka sama-sama menganut agama Samawi. Karena itu kaum musyrik Mekah bergembira atas kemenangan itu, sebagai kemenangan agama politheisme yang mempercayai "banyak Tuhan", atas agama Samawi yang menganut agama Tauhid. Sebaliknya kaum Muslimin waktu itu bersedih hati karena sikap menentang dari kaum musyrik Mekah semakin bertambah, mereka mencemoohkan kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka akan hancur pula, sebagaimana hancurnya bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani itu. Kemudian turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa bangsa Romawi yang kalah itu, akan mengalahkan bangsa Persia yang baru saja menang itu dalam waktu yang tidak lama, hanya dalam beberapa tahun lagi. 
    Diriwayatkan bahwa tatkala sampai berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia itu kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya di Mekah, maka merekapun merasa sedih, karena kekalahan itu berarti kekalahan bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani yang termasuk agama Samawi dan kemenangan bangsa Persia yang beragama Majusi yang termasuk agama syirik. Orang-orang musyrik Mekah yang dalam keadaan bergembira itu menemui para sahabat Nabi dan berkata: "Sesungguhnya kamu adalah ahli kitab dan orang Nasrani juga ahli kitab, sesungguhnya saudara kami bangsa Persia yang bersama-sama menyembah berhala dengan kami telah mengalahkan saudara kamu itu. Sesungguhnya jika kamu memerangi kami tentu kami akan mengalahkan kamu juga. Maka turunlah ayat. Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang musyrik, ia berkata: "Bergembirakah kamu karena kemenangan saudara-saudara kamu atas saudara saudara kami? Janganlah kamu terlalu bergembira, demi Allah bangsa Romawi benar-benar akan mengalahkan bangsa Persia, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi kami". Maka berdirilah Ubay bin Khalaf menghadap Abu Bakar dan ia berkata: "Engkau berdusta". Abu Bakar menjawab: "Engkaulah yang paling berdusta hai musuh Allah. Maukah kamu bertaruh (Bertaruh semacam judi. Waktu Abu Bakar mengajak Ubay bin Khalaf bertaruh itu, judi belum diharamkan, judi diharamkan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah) denganku sepuluh ekor unta muda. Jika bangsa Romawi menang dalam waktu tiga tahun yang akan datang, engkau berutang kepadaku sepuluh ekor unta muda, sebaliknya jika bangsa Romawi kalah, maka aku berutang kepadamu sebanyak itu pula". Tantangan bertaruh itu diterima oleh Ubay. Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab : "Tambahlah jumlah taruhan itu dan perpanjanglah waktu menunggu". Maka Abu Bakarpun pergi, lalu bertemu dengan Ubay. Maka Ubay berkata kepadanya: "Barangkali engkau menyesal dengan taruhan itu". Abu Bakar menjawab: "Aku tidak menyesal sedikitpun, marilah kita tambah jumlahnya dan diperpanjang waktunya sehingga menjadi seratus ekor unta muda, dan waktunya sampai sembilan tahun". Ubay menerima tantangan Abu Bakar, sesuai dengan anjuran Rasulullah kepada Abu Bakar. Tatkala Abu Bakar akan hijrah ke Madinah, Ubay minta jaminan atas taruhan itu, seandainya bangsa Romawi dikalahkan nanti. Maka Abdurrahman putra Abu Bakar menjaminnya. Tatkala Ubay akan berangkat ke perang Uhud, Abdurrahman minta jaminan kepadanya, seandainya bangsa Persia dikalahkan nanti, maka Abdullah putra Ubay menjaminnya. Tujuh tahun setelah pertaruhan itu bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia dan Abu Bakar menerima kemenangan taruhannya dari ahli warisnya Ubay karena dia mati dalam peperangan Uhud tersebut. Kemudian beliau pergi menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw". (H.R. Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi) 
    Sejarah mencatat bahwa tahun 622 Masehi, yaitu setelah tujuh atau delapan tahun kekalahan bangsa Romawi dari bangsa Persia itu, mulailah peperangan baru antara kedua bangsa itu untuk kedua kalinya. Pada permulaan terjadinya peperangan itu telah nampak tanda-tamda kemenangan bangsa Romawi. Sekalipun demikian, ketika sampai kepada kaum musyrik Mekah berita peperangan itu, mereka masih mengharapkan kemenangan berada di pihak Persia. Karena itu Ubay bin Khalaf ketika mengetahui hijrahnya Abu Bakar ke Madinah, ia minta agar putra Abu Bakar, yaitu Abdurrahman menjamin taruhan ayahnya, jika Persia pasti menang. Hal ini diterima oleh Abdurrahman. 
    Pada tahun 624 Masehi, terjadilah perang Uhud. Ketika Ubay bin Khalaf hendak pergi berperang memerangi kaum Muslimin. Abdurrahman melarangnya, kecuali jika putranya menjamin membayar taruhannya, jika bangsa Romawi menang, maka Abdullah bin Ubay putranya menerima untuk menjaminnya. 
    Jika melihat berita di atas, maka ada kemungkinannya sebagai berikut Kemungkinan pertama ialah pada tahun 622 Masehi perang antara Romawi dan Persia itu telah berakhir dengan kemenangan Romawi, karena hubungan yang sukar waktu itu, maka berita itu baru sampai ke Mekah setahun kemudian, sehingga Ubay minta jaminan waktu Abu Bakar hijrah, sebaliknya Abdurrahman minta jaminan pula waktu Ubay akan pergi ke peperangan Uhud. Kemungkinan yang kedua ialah peperangan itu berlangsung dari tahun 622-624 Masehi, dan berakhir dengan kemenangan bangsa Romawi. 
    Dari peristiwa di atas dapat dikemukakan beberapa hal dan pelajaran yang perlu direnungkan dan diamalkan. 
    Pertama: Ada hubungan antara kemusyrikan dan kekafiran terhadap dakwah dan iman kepada Allah SWT, sebagai sumber agama yang benar di segala tempat dan waktu. Sekalipun negara-negara dahulu belum mempunyai sistem komunikasi yang rapi dan bangsanyapun belum mempunyai hubungan yang kuat seperti sekarang ini, namun antar bangsa-bangsa itu telah mempunyai hubungan batin antara bangsa-bangsa yang menganut agama yang bersumber dari Tuhan di satu pihak dengan bangsa-bangsa yang menganut agama yang tidak bersumber dari Tuhan pada pihak yang lain. Orang-orang musyrik Mekah politheisme menganggap kemenangan bangsa Persia (politheisme) atas bangsa Romawi (Nasrani), sebagai kemenangan mereka juga, sedang kaum Muslimin merasakan kekalahan bangsa Romawi yang beragama Nasrani (samawi) sebagai kekalahan mereka pula, karena mereka masih merasakan agama mereka berasal dari sumber yang satu. Hal ini merupakan suatu faktor yang nyata yang perlu diperhatikan kaum Muslimin dalam menyusun taktik dan strategi dalam berdakwah. 
    Kedua: Kepercayaan yang mutlak kepada janji dan ketetapan Allah. Hal ini nampak pada ucapan-ucapan Abu Bakar yang penuh keyakinan tanpa ragu-ragu di waktu menetapkan jumlah taruhan dengan Ubay bin Khalaf. Harga unta seratus ekor adalah sangat tinggi waktu itu, kalau tidak karena keyakinan akan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Alquran yang ada di dalam hati Abu Bakar, tentulah beliau tidak akan berani mengadakan taruhan sebanyak itu, apalagi jika dibaca sejarah bangsa Romawi, mereka di saat kekalahannya itu dalam keadaan kucar-kacir. Amat sukar diramalkan mereka sanggup mengalahkan bangsa Persia yang dalam keadaan kuat, hanya dalam tiga sampai sembilan tahun mendatang. Keyakinan yang kuat seperti keyakinan Abu Bakar itu merupakan keyakinan kaum Muslimin, yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun, sekalipun dalam bentuk siksaan, ujian, penderitaan, pemboikotan dan sebagainya. Hal ini merupakan modal utama bagi kaum Muslimin menghadapi jihad yang memerlukan waktu yang lama di masa yang akan datang. Jika kaum Muslimin mempunyai keyakinan berusaha seperti kaum Muslimin di masa Rasulullah, pasti pula Allah mendatangkan kemenangan kepada mereka. 
    Ketiga: Urusan sebelum dan sesudah terjadinya suatu peristiwa adalah urusan Allah, tidak seorangpun yang dapat mencampurinya. Allah-lah yang menentukan segalanya sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Hal ini berarti bahwa kaum Muslimin harus mengembalikan segala urusan kepada Allah saja, baik dalam kejadian seperti di atas, maupun pada kejadian dan peristiwa yang merupakan keseimbangan antara situasi dan keadaan. Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, demikian pula kelemahan dan kekuatannya yang terjadi di bumi ini, semuanya kembali kepada Allah. Dia berbuat menurut kehendak-Nya. Semua yang terjadi bertitik tolak kepada kehendak Zat yang mutlak itu. Jadi berserah diri dan menerima semua yang telah ditentukan Allah adalah sifat yang harus dipunyai oleh seorang mukmin. Hal ini bukanlah berarti bahwa usaha manusia, tidak ada harganya sedikitpun, tetapi usaha manusia merupakan syarat berhasilnya suatu pekerjaan. Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui melepaskan untanya di muka pintu mesjid Rasulullah, kemudian ia masuk ke mesjid, sambil berkata: "Aku bertawakkal kepada Allah, lalu Nabi bersabda: 

    أعقلها وتوكل 
    Artinya: 
    Ikatkanlah unta itu sesudah itu baru engkau bertawakkal.(H.R. Tirmizi dari Anas bin Malik) 
    Berdasarkan hadis ini, seorang muslim disuruh berusaha sekuat tenaga, kemudian ia berserah diri kepada Allah tentang hasil usahanya itu. 
    Akhir ayat ini menerangkan bahwa kaum Muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu. Mereka bergembira itu adalah karena: 
    1. Mereka telah dapat membuktikan kepada kaum musyrikin Mekah atas kebenaran berita-berita yang ada dalam ayat Alquran. 
    2. Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu, merupakan kemenangan agama Samawi atas agama ciptaan manusia (agama yang dianut oleh kaum Muslimin termasuk bangsa Romawi). 
    3. Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia ini mengisyaratkan kemenangan kaum Muslimin atas orang-orang kafir Mekah dalam waktu yang tidak lama lagi.
  • Surah Ar Ruum 5
    بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5) karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,(QS. 30:5)
    Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT menolong dan memenangkan siapa yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan Sunah yang telah diciptakan-Nya di alam ini, yaitu mengazab orang-orang yang seharusnya diazab dengan menghancurkannya, menolong orang-orang yang menegakkan agama-Nya, melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya, tidak membiarkan orang yang kuat berlaku sesuka hatinya, sehingga menindas orang yang lemah. Dalam pada itu Allah SWT tidak segera mengazab manusia yang berbuat dosa itu. Dia berfirman:

    ولو يؤاخذ الله الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة ولكن يؤخرهم إلى أجل مسمى
    Artinya:
    Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu tertentu. (Q.S. Fatir: 45)
    Dalam pada itu kemenangan yang diperoleh bangsa Romawi itu merupakan perwujudan dari kekuasaan Allah dalam alam nyata ini dan merupakan rahmat bagi yang menang, maupun bagi yang kalah. Allah SWT berfirman:

    ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لفسدت الأرض
    Artinya:
    Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Q.S. Al Baqarah: 251)

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ruum 5
    بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)
    (Karena pertolongan Allah) kepada mereka atas pasukan Persia; orang-orang Mukmin merasa gembira mendengar berita ini, dan mereka mengetahui berita ini melalui malaikat Jibril yang turun memberitahukannya ketika mereka sedang dalam perang Badar. Kegembiraan mereka menjadi bertambah setelah mereka mendapat kemenangan atas orang-orang musyrik di dalam perang Badar (Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa) Maha Menang (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang Mukmin.
Surah Ar Ruum 6 
وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(QS. 30:6)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menjanjikan dan menepati janji-Nya itu dengan memenangkan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Allah SWT sekali-kali tidak memungkiri janji-Nya. Janji-Nya itu berasal dari kehendak-Nya dan dari hikmah dan kebijaksanaan-Nya, tidak seorangpun yang dapat merubah dan menghalangi terlaksananya janji-Nya itu dan tidak ada sesuatu kejadianpun dalam alam ini, yang terlaksana di luar kehendak-Nya. 
Pelaksanaan janji itu merupakan suatu segi dari Sunah-Nya yang rapi dan tidak pernah berubah sedikitpun, kecuali jika Dia menghendaki, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui hal ini karena mereka tidak memikirkannya. Atau mereka mengetahui kebenaran janji itu, tetapi karena pengaruh hawa nafsu mereka, mereka seakan-akan tidak mempercayainya. 
Sesuai pula dengan Sunah-Nya, maka sebelum janji itu terlaksana, harus mengalami proses-proses tertentu, ada pendahuluan dan cara-cara untuk mencapainya. Cara-cara ini diberitahukan oleh Allah kepada manusia. Berbahagialah manusia yang mau mengerti dan memanfaatkannya. Sebagai contoh ialah suatu umat atau pribadi-pribadi tidak akan menang kecuali jika mereka telah mempunyai persiapan-persiapan untuk menang itu. Di antara persiapan itu ada yang berhubungan dengan mental, umpamanya mau mengorbankan harta, jiwa dan segala sesuatu yang diperlukan, serta adanya keyakinan akan kebenaran yang diperjuangkan itu. Di antaranya ada yang berhubungan dengan benda, umpama peralatan yang cukup dan sebagainya. Dalam pada itu jangan dilupakan adanya persatu paduan antara umat atau bangsa itu, dan inilah syarat yang lebih penting. 
Demikian pula hukum pribadi, untuk mencapai keberhasilan dalam hidup haruslah berusaha giat, tidak mudah patah hati, sabar serta sanggup mengatasi kesukaran apapun. Demikianlah Sunatullah. 
Yang dimaksud dengan perkataan "kebanyakan manusia" dalam kalimat dan "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", ialah kaum musyrik dan orang-orang yang sesat yang lain yang tidak percaya kepada Sunatullah itu. Jumlah mereka lebih banyak dari yang mengetahuinya. Mereka tidak mau percaya kepada ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepada mereka dan tidak percaya kepada sifat-sifat kesempurnaan dan kekuasaan Allah.

Surah Ar Ruum 7 
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (7) Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang tentang kehidupan akhirat adalah lalai.(QS. 30:7)
Ayat ini merupakan penegasan sifat-sifat orang-orang kafir di atas, yaitu mereka yang tidak mengetahui hukum-hukum alam dengan luasnya dan hubungan yang kuat antara satu hukum dengan hukum yang lain. Mereka hanya memandang persoalan hidup ini secara pragmatis, yakni memandangnya menurut kegunaan dan manfaat yang lahir saja. Mereka mengetahui tentang hidup ini hanyalah yang nampak saja, seperti bercocok tanam, berdagang, bekerja dan yang lain yang berhubungan dengan urusan dunia. Ilmu mereka itupun tidak sampai kepada inti persoalan. Karena itu mereka tertipu dengan ilmunya itu. Mereka hanya memperoleh sinar yang sedikit menerangi secara samar-samar jalan yang mereka tempuh, lalu mereka terjerumus ke jurang kehancuran, seperti si pungguk merindukan cahaya bulan, tetapi ia tidak menyadari bahwa syaraf matanya yang lemah itu tidak akan mampu mencapai maksud itu. 
Karena orang yang musyrik, orang-orang sesat dan pendusta itu tidak menghayati dan mengetahui ilmu yang hakiki, maka mereka lalai akan kehidupan akhirat dan kehidupan yang sebenarnya. 
Kelalaian mereka akan hari akhirat menyebabkan mereka tidak akan dapat lagi menilai sesuatu dengan benar, baik terhadap kehidupan mereka, maupun terhadap kejadian dan peristiwa yang mereka alami. 
Adanya perhitungan kehidupan akhirat di dalam hati manusia, akan merubah pandangan dan penilaiannya terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Mereka telah yakin bahwa hidup di dunia ini merupakan sebuah perjalanan singkat dari perjalanan hidup yang panjang itu, tetapi perjalanan yang pendek ini sangat menentukan cara kehidupan yang panjang nanti di akhirat. Apakah manusia mau merusak kehidupan yang panjang di akhirat dengan kehidupannya yang pendek di dunia ini. 
Karena itu manusia yang percaya kepada adanya kehidupan akhirat dengan perhitungan yang tepat dan kritis sukar mencari titik pertemuan mereka dengan orang yang hanya hidup untuk dunia ini saja. Antara satu dengan yang lain akan terdapat perbedaan dalam menilai sesuatu persoalan. Masing-masing mereka mempunyai pertimbangan-pertimbangan sendiri dan kacamata sendiri pula dalam melihat benda-benda alam, situasi dan peristiwa yang sedang dihadapi, persoalan mati dan hidup, masa lampau dan masa sekarang, alam manusia dan alam binatang, hal yang gaib dan yang nyata, lahir dan batin dan sebagainya.

Surah Ar Ruum 8 
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ (8) Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.(QS. 30:8)
Ayat ini ditujukan kepada orang musyrik Mekah, orang-orang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Jika dilihat dari sikap mereka terhadap seruan Nabi saw, kelihatan seakan-akan mereka tidak mau menggunakan akal pikiran mereka, untuk memikirkan segala sesuatu yang mereka lihat, agar mereka percaya kepada yang disampaikan terhadap mereka. 
Ayat ini menyuruh agar mereka memperhatikan diri mereka sendiri. Mereka dijadikan dari tanah, kemudian menjadi setetes mani, kemudian menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan. Kemudian mereka mengadakan perkawinan dan berkembang biak, seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada mereka: "Cobalah perhatikan dirimu yang paling dekat dengan kamu, sebelum membayangkan pandanganmu kepada yang lain. Allah SWT berfirman pada ayat yang lain: 

وفي أنفسكم أفلا تبصرون 
Artinya: 
Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?. (Q.S. Az Zariyat: 21) 
Jika manusia memperhatikan dirinya sendiri dengan baik dan sadar seperti susunan urat syaraf, pembuluh darah, paru-paru, hati, jiwa dan sebagainya, kemudian dengan susunan yang rapi itu manusia dapat berjalan, berbicara, berpikir dan sebagainya, tentulah mereka sampai kepada kesimpulan bahwa yang menciptakan manusia itu adalah Tuhan yang berhak di sembah, Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi Pengetahuannya. 
Allah SWT menegaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya adalah dengan penuh kebijaksanaan, ada maksud dan tujuannya. Semuanya itu diciptakan atas dasar kebenaran, dengan hukum-hukum yang rapi dan tertentu, tidak bertentangan antara hukum yang satu dengan hukum yang lain. Alam semesta ini tidak dijadikan dengan sia-sia dan cuma-cuma, tidak ada maksud dan tujuannya, tetapi ada maksud dan tujuannya yang seterusnya hanya Dialah Yang Mengetahuinya. 
Demikianlah alam diciptakan dan berlangsung untuk waktu yang ditentukan. Setelah waktu yang ditentukan itu akan ada alam akhirat, disana akan disempurnakan keadilan Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya. 
Dalam pada itu sebagai sesuatu yang ada di alam ini; ada pula masa permulaan kejadiannya dan ada pula masa berakhirnya. Tiap-tiap sesuatu pasti ada awal waktunya dan pasti pula ada akhir waktunya. Walau permulaan dan akhir segala sesuatu hanya Dia yang menciptakan tidak seorangpun yang sanggup merubahnya, walaupun sesaat, kecuali jika Dia menghendaki-Nya. 
Demikianlah Sunatullah pada diri manusia dan alam semesta ini, tetapi kebanyakan manusia tidak mau merenungkannya, sehingga kebanyakan manusia tidak percaya kepada adanya hari akhirat itu. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ruum 8 
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ (8) 
(Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang diri mereka sendiri?) supaya mereka sadar dari kelalaiannya. (Allah tidak menjadikan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan) artinya akan lenyap setelah waktunya habis, sesudah itu tibalah saatnya hari berbangkit. (Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia) yaitu orang-orang kafir Mekah (benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya) yakni mereka tidak percaya kepada adanya hari berbangkit sesudah mati.

 Surah Ar Ruum 9 
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (9) Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang di derita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.(QS. 30:9)
Pada ayat ini Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang musyrik dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka sebenarnya selalu bepergian melakukan perdagangan dari Mekah ke Syiria dan Arab selatan dan negeri-negeri yang lain yang berada di sekitar Jaziratul Arab. Dalam perjalanan itu orang melalui negeri-negeri yang dihancurkan oleh Allah SWT, karena mendustakan Rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka, seperti negeri-negeri kaum 'Ad, Samud, Madyan dan sebagainya. Umat-umat dahulu kala itu telah tinggi tingkat peradabannya, lebih perkasa dan kuat dari kaum musyrikin Quraisy itu. Umat-umat dahulu itu telah sanggup mengolah dan memakmurkan bumi, lebih baik dari yang mereka lakukan. Tetapi umat-umat itu mengingkari dan mendustakan Rasul-rasul yang diutus Allah kepada mereka, karena itu Dia menghancurkan mereka dengan bermacam-macam malapetaka yang ditimpakan kepada mereka seperti sambaran petir, gempa yang dahsyat, angin kencang dan sebagainya. Demikianlah Sunah Allah yang berlaku bagi orang-orang yang mengingkari agama-Nya dan Sunah itu akan berlaku pula bagi setiap orang yang mendustakan para Rasul, termasuk orang-orang Quraisy sendiri yang mengingkari kerasulan Muhammad saw. Sekalipun Allah SWT telah menetapkan yang demikian, namun orang-orang musyrik tidak mengindahkan dan memikirkannya. 
Ayat ini merupakan peringatan kepada seluruh manusia di mana dan kapanpun mereka berada, agar mereka mengetahui dan menghayati hakikat hidup dan kehidupan, agar mereka mengetahui tujuan Allah SWT menciptakan manusia. Manusia diciptakan Allah adalah sama tujuannya, sejak dahulu kala sampai saat ini juga pada masa yang akan datang, yaitu sebagai khalifah Allah di bumi dan beribadat kepada-Nya. Barangsiapa yang tujuan hidupnya tidak sesuai dengan yang digariskan Allah, berarti mereka telah menyimpang dari tujuan itu dan hidupnya tidak akan diridai Allah. Karena itu bagi mereka berlaku pula Sunah Allah di atas. 
Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT sekali-kali tidak bermaksud menganiaya orang-orang kafir itu dengan menimpakan azab kepada mereka, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya diri mereka sendiri, dengan mendustakan Rasul dan mendurhakai Allah. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ruum 9 
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (9) 
(Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat orang-orang yang sebelum mereka?) maksudnya umat-umat sebelum mereka, mereka dibinasakan karena mendustakan rasul-rasulnya. (Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka sendiri) seperti kaum Ad dan kaum Tsamud (dan telah mengolah bumi) mereka telah mencangkul dan membajaknya untuk lahan pertanian dan perkebunan (serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan) artinya lebih banyak dari apa yang telah dimakmurkan oleh orang-orang kafir Mekah (dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata) hujah-hujah yang jelas. (Maka Allah sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka) dengan membinasakan mereka tanpa dosa (akan tetapi merekalah yang berlaku lalim kepada diri sendiri) karena mereka mendustakan rasul-rasul mereka.

Surah Ar Ruum 10 
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوءَى أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ (10) Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.(QS. 30:11)
Ayat ini menegaskan bahwa azab itu adalah akibat perbuatan kafir dan jahat. Akibat itu akan dialami oleh siapapun, di mana dan kapanpun ia berada. Di dunia mereka mendapat kebinasaan dan di akhirat nanti mereka akan dibenamkan ke dalam neraka Jahanam, sebagai akibat mereka mengingkari seruan para Rasul, mendustakan ayat-ayat Allah dan memperolok-olokkannya. 

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ruum 10 
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوءَى أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ (10) 
(Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang lebih buruk) lafal as-suu-a adalah bentuk muannats dari lafal al-aswa' artinya yang paling buruk, berkedudukan sebagai khabar dari lafal kaana bila lafal 'aqibah dibaca rafa', tapi bila dibaca nashab berarti menjadi isim kaana. Makna yang dimaksud berupa azab neraka Jahanam dan mereka dijelek-jelekkan di dalamnya (disebabkan) (mereka mendustakan ayat-ayat Allah) yakni Alquran (dan mereka selalu memperolok-oloknya) .


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AR-RUM>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar