Senin, 02 April 2012

Al-Anfal 60 - 69

Surah AL-ANFAL
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -ANFAL>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=8&start=61#Top

61 Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 8:61)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 61
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (61)
Bila musuh musuh Islam itu, baik orang Yahudi maupun orang-orang musyrikin condong kepada perdamaian, mungkin karena mereka benar-benar ingin damai atau karena melihat kekuatan dan kekompakan kaum muslimin atau karena belum mengkonsolidasikan diri untuk berperang atau karena sebab-sebab lain, maka hendaklah dijajaki kemungkinan damai itu. Sesudah ternyata bahwa berdamai itu tidak akan merugikan siasat perjuangan Islam, hendaklah diterima perdamaian itu tentu saja dengan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang dapat menjamin kepentingan bersama dan tidak merugikan masing-masing pihak karena dasar perjuangan Islam adalah perdamaian. Hal ini telah dipraktekkan Rasulullah saw. di waktu beliau menerima perdamaian "Hudaibiah" antara kaum Muslimin dan kaum Musyrikin pada tahun keenam hijrah. Meskipun syarat-syarat perdamaian Hudaibiah itu jika dilihat sepintas merugikan kaum Muslimin sehingga banyak para sahabat yang merasa keberatan tetapi Rasulullah saw. yang mempunyai pandangan jauh dan taktik serta siasat yang bijaksana dapat menerima. Ternyata kemudian sebagaimana diutarakan para ahli sejarah bahwa perdamaian Hudaibiah itu adalah merupakan landasan bagi kemenangan kaum Muslimin selanjutnya.
Setelah perjanjian damai diterima hendaklah Nabi bersama kaum Muslimin bertawakal sepenuhnya kepada Allah karena Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui hakikat yang sebenarnya dari perdamaian itu apakah orang-orang Yahudi dan kaum Musyrikin itu benar-benar jujur dan menginginkan terlaksananya perdamaian atau hanya karena taktik dan siasat atau karena hendak menipu atau menunggu lengahnya kaum Muslimin saja.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anfaal 61
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (61)
(Dan jika mereka condong) cenderung (kepada perdamaian) boleh dibaca lissilmi dan boleh pula dibaca lissalmi, artinya perdamaian (maka condonglah kepadanya) adakanlah perjanjian dengan mereka untuk itu. Akan tetapi menurut Ibnu Abbas r.a. bahwa ayat ini dimansukh hukumnya oleh ayat perintah untuk berperang. Mujahid mengatakan, bahwa hukum yang terkandung di dalam ayat ini khusus hanya menyangkut ahli kitab sebab ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah (dan bertawakallah kepada Allah) percayalah kepada-Nya. (Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar) perkataan (lagi Maha Mengetahui) perbuatan.

62 Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin,(QS. 8:62)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 62 - 63
وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ (62) وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (63)
Bila kaum Yahudi dan kaum Musyrikin itu hanya hendak menipu atau hendak menunggu-nunggu kesempatan untuk menyerang dengan adanya perdamaian, maka Allah memberikan jaminan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa hal itu tidak akan membahayakan kaum Muslimin. Cukuplah Allah (sebagai pelindung), Allah senantiasa melindungi Rasul-Nya dan melindungi Umat Islam dan akan memberikan kemenangan kepada mereka bila musuh-musuh itu menyerang lagi. Allah telah memperkuat kedudukan Rasul-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada kaum Muslimin di masa-masa yang lalu seperti yang terjadi pada perang Badar di mana kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan sedikit jumlahnya. Mereka dapat mengalahkan kaum Musyrikin yang berlipat ganda dan lengkap persenjataannya. Allah telah mempersatukan hati kaum Muslimin sehingga mereka hidup rukun dan damai sehingga cinta-mencintai dan saling tolong-menolong merupakan satu kesatuan yang tak terpecahkan padahal mereka sebelumnya adalah hidup bergolong-golongan dan bermusuhan antara satu golongan dengan golongan yang lain. Mereka pada mulanya terdiri dari kaum Muslimin yang datang ke Madinah dan kaum Ansar penduduk Madinah yang menyambut kedatangan kaum Muslimin itu. Kaum Ansar sendiri dahulunya terpecah belah terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Antara kedua suku ini senantiasa terjadi permusuhan dan peperangan. Tetapi dengan kehendak Allah mereka semuanya menjadi umat yang bersatu di bawah panji-panji iman, bersedia mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkan kalimat Allah. Ini adalah satu karunia dari Allah yang tidak ternilai harganya yang tidak dapat dicapai walaupun dengan mengorbankan semua harta dan kekayaan. Kesatuan hati, kesatuan tekad dan kesatuan cita-cita dan ideologi adalah hal yang amat penting dan berharga untuk mencapai satu cita-cita. Inilah karunia Allah yang telah dimiliki oleh kaum Muslimin di masa itu. Karena pentingnya karunia itu dan amat tinggi nilainya Allah mengingatkan mereka supaya selalu mengingat-Nya dengan firman-Nya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ
Artinya:
Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu lalu jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.
(Q.S Ali Imran: 103)
Maka dengan pertolongan Allah dan persatuan kaum Muslimin serta rasa cinta, kasih sayang yang terjalin antara sesama mereka, betapa pun kesulitan dan bagaimana pun besar bahaya yang akan menimpa tentu akan dapat ditanggulangi dan diatasi. Allah memperingatkan pula dalam ayat ini bagaimana tingginya nilai persatuan itu sehingga bila Nabi Muhammad sendiri menghabiskan semua kekayaan yang ada di bumi untuk mencapainya pasti dia tidak akan berhasil. Tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka dengan iman yang kuat dan rasa kasih sayang yang tinggi. Ini adalah satu tanda bahwa Dia meridai kaum Muslimin dan merestui perjuangan mereka dan tak usahlah mereka merasa khawatir sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

63 dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 8:63)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 62 - 63
وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ (62) وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (63)
Bila kaum Yahudi dan kaum Musyrikin itu hanya hendak menipu atau hendak menunggu-nunggu kesempatan untuk menyerang dengan adanya perdamaian, maka Allah memberikan jaminan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa hal itu tidak akan membahayakan kaum Muslimin. Cukuplah Allah (sebagai pelindung), Allah senantiasa melindungi Rasul-Nya dan melindungi Umat Islam dan akan memberikan kemenangan kepada mereka bila musuh-musuh itu menyerang lagi. Allah telah memperkuat kedudukan Rasul-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada kaum Muslimin di masa-masa yang lalu seperti yang terjadi pada perang Badar di mana kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan sedikit jumlahnya. Mereka dapat mengalahkan kaum Musyrikin yang berlipat ganda dan lengkap persenjataannya. Allah telah mempersatukan hati kaum Muslimin sehingga mereka hidup rukun dan damai sehingga cinta-mencintai dan saling tolong-menolong merupakan satu kesatuan yang tak terpecahkan padahal mereka sebelumnya adalah hidup bergolong-golongan dan bermusuhan antara satu golongan dengan golongan yang lain. Mereka pada mulanya terdiri dari kaum Muslimin yang datang ke Madinah dan kaum Ansar penduduk Madinah yang menyambut kedatangan kaum Muslimin itu. Kaum Ansar sendiri dahulunya terpecah belah terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Antara kedua suku ini senantiasa terjadi permusuhan dan peperangan. Tetapi dengan kehendak Allah mereka semuanya menjadi umat yang bersatu di bawah panji-panji iman, bersedia mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkan kalimat Allah. Ini adalah satu karunia dari Allah yang tidak ternilai harganya yang tidak dapat dicapai walaupun dengan mengorbankan semua harta dan kekayaan. Kesatuan hati, kesatuan tekad dan kesatuan cita-cita dan ideologi adalah hal yang amat penting dan berharga untuk mencapai satu cita-cita. Inilah karunia Allah yang telah dimiliki oleh kaum Muslimin di masa itu. Karena pentingnya karunia itu dan amat tinggi nilainya Allah mengingatkan mereka supaya selalu mengingat-Nya dengan firman-Nya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ
Artinya:
Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu lalu jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.
(Q.S Ali Imran: 103)
Maka dengan pertolongan Allah dan persatuan kaum Muslimin serta rasa cinta, kasih sayang yang terjalin antara sesama mereka, betapa pun kesulitan dan bagaimana pun besar bahaya yang akan menimpa tentu akan dapat ditanggulangi dan diatasi. Allah memperingatkan pula dalam ayat ini bagaimana tingginya nilai persatuan itu sehingga bila Nabi Muhammad sendiri menghabiskan semua kekayaan yang ada di bumi untuk mencapainya pasti dia tidak akan berhasil. Tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka dengan iman yang kuat dan rasa kasih sayang yang tinggi. Ini adalah satu tanda bahwa Dia meridai kaum Muslimin dan merestui perjuangan mereka dan tak usahlah mereka merasa khawatir sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

64 Hai Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang mukmin yang mengikutimu (menjadi penolongmu).(QS. 8:64)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 64
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (64)
Pada ayat ini Allah mengulangi lagi jaminan-Nya kepada Nabi Muhammad saw. bahwa Dia akan menolongnya dengan bantuan kaum muslimin yang benar-benar beriman dan yakin sepenuhnya bahwa Allah bersama mereka. Dengan keimanan dan keyakinan itu tekad mereka tak akan digoyahkan oleh kejadian atau ancaman apa pun. Keimanan dan keyakinan itu digambarkan Allah dalam firman-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173)
Artinya:
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka." Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung."
(Q.S Ali Imran: 173)
Maka dengan keyakinan dan tekad yang bulat yang ditimbulkan oleh keimanan dan jaminan Allah itu, kaum muslimin telah siap untuk menerima perintah Allah, bagaimanapun berat dan sulitnya, meskipun dengan perintah itu mereka akan menghadapi musuh yang banyak atau bahaya yang besar.

65 Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.(QS. 8:65)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 65
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (65)
Kemudian pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya mengobarkan semangat kaum muslimin untuk berperang menghadapi musuh dan menegaskan bahwa kekuatan pasukan Islam yang benar-benar beriman dan penuh tawakal kepada Allah itu akan dapat mengalahkan kekuatan musuh meskipun sepuluh kali lipat banyaknya. Andaikata suatu pasukan dari mereka hanya terdiri dari dua puluh orang prajurit, mereka dapat mengalahkan pasukan musuh yang terdiri dari dua ratus orang. Dan jika sebuah pasukan mereka terdiri dari seratus orang mereka apat mengalahkan pasukan yang terdiri dari seribu orang dan demikinalah seterusnya. Setiap prajurit Islam dapat mengalahkan sepuluh musuh. Ini adalah satu perbandingan kekuatan yang tidak ada taranya dalam sejarah karena cara peperangan di masa itu bukan seperti peperangan di masa kini.
Peperangan di masa sekarang sangat tergantung kepada kekuatan persenjataan dan kesempurnaannya. Sepasukan yang kecil jumlah orangnya yang diperlengkapi dengan senjata modern yang ampuh dapat aja dengan mudah mengalahkan pasukan besar tetapi hanya mempunyai senjata biasa saja.
Peperangan di masa itu benar-benar mengadu kekuatan dan kecakapan karena alat-alat perang yang dipergunakan boleh dikatakan sama macam dan mutunya. Tidaklah mungkin rasanya suatu pasukan kecil akan dapat menang atas pasukan besar yang jumlahnya sepuluh kali lipat. Tetapi inilah yang ditegaskan Allah atau diperintahkan-Nya kepada kaum Muslimin. Mereka tidak boleh merasa gentar dan takut menghadapi lawan yang berlipat ganda karena mereka adalah orang-orang beriman yang berjuang bukan untuk kepentingan diri sendiri atau untuk mencari harta benda dan kemegahan duniawi tetapi mereka adalah tentara Allah yang berjuang untuk membela kebenaran untuk meninggikan kalimat Allah dan untuk kejayaan agama yang telah diridai-Nya. Bila mereka gugur dalam pertempuran, mereka akan mati syahid yang balasannya di sisi Allah tidak ternilai besarnya. Lawan-lawan mereka adalah orang-orang kafir yang hanya ingin mempertahankan kedudukan, pangkat dan harta benda. Mereka tidak mempunyai tujuan hidup yang tinggi dan mulia karena mereka tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak percaya kepada hari berbangkit. Hidup mereka adalah untuk berbangga-bangga dan mengutamakan harta benda belaka. Adapun orang Yahudi di Madinah meskipun percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi mereka tidak dapat lagi melihat kebenaran karena mata mereka telah disilaukan oleh kesenangan dunia. Mereka ingin hidup kalau dapat seribu tahun, mereka telah karam dalam dunia kebendaan, tak dapat luput dari sifat loba dan serakah. Kedua golongan ini benar-benar telah sesat dari jalan yang hak tidak dapat lagi membedakan mana yang hak, mana yang batil, mereka tidak tahu lagi jalan yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Orang-orang yang demikian sifatnya bila dihadapkan kepada pertempuran yang dahsyat mereka akan lari tunggang-langgang karena lebih mengutamakan hidup daripada mati. Hal ini dijelaskan Allah dengan firman-Nya:

لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (13)
Artinya:
Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti.
(Q.S Al Hasyr: 13)
Jadi kalau Allah memerintahkan supaya kaum muslimin harus berani menghadapi musuh Islam yang berjumlah sepuluh kali jumlah mereka dan menyatakan bahwa mereka akan menang, maka kemenangan itu adalah suatu yang pasti meskipun tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Karena itu mereka tidak boleh melarikan diri atau mundur dalam pertempuran dan harus bertempur mati-matian sampai tercapai kemenangan. Inilah suatu derajat yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh kaum muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anfaal 65
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (65)
(Hai Nabi, kobarkanlah semangat) berilah semangat (para mukmin itu untuk berperang) melawan orang-orang kafir. (Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh) di antara orang-orang kafir. (Dan jika ada) boleh dibaca yakun dan boleh pula takun (seratus orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir disebabkan orang-orang kafir itu) mereka yang kafir itu (kaum yang tidak mengerti). Ayat ini merupakan ungkapan kalimat berita akan tetapi maknanya adalah sama seperti kalimat perintah; yakni hendaknya dua puluh orang di antara kalian mampu memerangi dua ratus orang kafir dan seratus orang mukmin mampu memerangi seribu orang kafir dan hendaknya mereka (kaum mukmin) bersabar di dalam menghadapi orang-orang kafir. Kemudian ayat ini dinasakh manakala bilangan pasukan kaum mukminin telah banyak jumlahnya, yaitu oleh firman-Nya berikut ini:

66 Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. 8:66)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 66
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (66)
Pada ayat ini Allah memberikan keringanan bagi kaum Muslimin dalam menghadapi musuh yang menyerang mereka. Kalau pada ayat 65 Allah memerintahkan supaya mereka harus berani menghadapi musuh yang berjumlah sepuluh kali lebih besar dari jumlah mereka, maka pada ayat ini dijelaskan bahwa mereka diberi keringanan karena mereka telah berada dalam keadaan lemah, baik dalam semangat maupun dalam persiapan perang. Dalam keadaan seperti ini mereka diharuskan menghadapi musuh yang jumlahnya dua kali jumlah mereka. Ini adalah suatu tingkat minimal yang harus mereka pertahankan, karena keringanan yang diberikan ini sudah banyak sekali dibanding dengan perintah semula dan tak ada alasan lagi untuk meminta keringanan lebih dari itu. Dengan keimanan yang kuat dan ketabahan serta keyakinan penuh akan mencapai kemenangan yang dimiliki orang mukmin mereka sekurang-kurangnya harus sanggup menghadapi musuh yang dua kali lipat banyaknya. Kemudian tergantung kepada kekuatan iman dan ketabahan inilah yang dapat dinilai, kesanggupan kaum muslimin melawan musuh-musuhnya. Bila iman dan ketabahan mereka sampai pada taraf yang paling tinggi maka mereka dapat menghadapi musuh yang sepuluh kali lipat jumlah mereka, tetapi sekurang-kurangnya mereka harus sanggup menghadapi musuh yang jumlahnya dua kali lipat jumlah mereka. Hal ini terbukti ketika mereka menghadapi kaum musyrikin pada perang Badar. Kekuatan mereka kurang sepertiga kekuatan musuh. Tetapi mereka dapat menghancurkan kaum musyrikin itu.
Pada perang Yarmuk jumlah tentara yang dikumpulkan oleh kaisar Heraklius kerajaan Rum bagian timur untuk menghadapi tentara Islam tidak kurang dari 200.000 (dua ratus ribu) orang sedang tentara Islam yang dikirim para sahabat hanya 24.000 (dua puluh empat ribu) orang saja. Berkat keimanan yang kokoh, kuat dan semangat yang tinggi kaum muslimin dapat mengalahkan musuh yang banyak itu. Diriwayatkan bahwa tentara Rum yang mati pada pertempuran itu berjumlah 70.000 (tujuh puluh ribu">orang. Semua kemenangan yang diperoleh kaum muslimin itu adalah sesuai dengan kehendak dan seizin Allah. Sebagai bukti bagi kebenaran ini Allah berfirman:

أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (249)
Artinya:
Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang sabar.
(Q.S Al Baqarah: 249)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anfaal 66
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (66)
(Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan Dia telah mengetahui bahwa pada diri kalian ada kelemahan) lafal dha`fan boleh dibaca dhu`fan. Artinya kalian tidak mampu lagi untuk memerangi orang-orang yang jumlahnya sepuluh kali lipat jumlah kalian. (Maka jika ada) boleh dibaca yakun boleh dibaca takun (di antara kalian seratus orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang) daripada orang-orang kafir (dan jika di antara kalian ada seribu orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah) dengan kehendak-Nya. Maka kalimat ini sekalipun bentuknya kalimat berita akan tetapi maknanya adalah perintah, yakni hendaknya kalian memerangi orang-orang kafir yang jumlahnya dua kali lipat kalian dan hendaknya kalian bersabar di dalam menghadapi mereka itu (Dan Allah beserta orang-orang yang sabar) pertolongan-Nya selalu menyertai mereka.

67 Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 8:67)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 67
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (67)
Sebab turunnya ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Masud adalah sebagai berikut: "Setelah selesai perang Badar dibawalah para tawanan (ke hadapan Rasulullah saw. dan para sahabat), Abu Bakar r.a. berkata: "Hai Rasul, mereka adalah kaum engkau dan famili engkau. Biarkanlah mereka semoga Allah akan memberi mereka taubat." Umar berkata pula: "Hai Rasulullah, mereka telah mendustakan engkau, mengusir dan memerangi engkau. Karena itu bunuhlah mereka dengan memancung mereka." Lalu Abdullah bin Rawahan berkata pula: "Kini engkau berada di lembah yang banyak kayu bakarnya, maka nyalahkanlah api yang besar dan lemparkanlah mereka ke dalamnya." Mendengar ucapan-ucapan ini berkatalah Abbas paman Nabi (yang berada di antara para tawanan itu): "Sampai hatikah engkau hai Muhammad memutuskan tali silaturahmi?" Maka masuklah Rasulullah ke rumahnya tanpa mengatakan sesuatu apa pun. Di antara orang-orang yang hadir ada yang berkata: "Tentu beliau akan melaksanakan usul Abdullah bin Rawahah." Akhirnya Rasulullah keluar dan berkata: "Sesungguhnya Allah melunakkan hati sebagian orang sampai hatinya menjadi cair seperti air susu, dan Dia menjadikan hati sebagian orang keras sehingga lebih keras dari batu. Engkau hai Abu Bakar adalah seperti Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (36)
Artinya:
Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Ibrahim: 36)
Dan seperti Nabi Isa a.s. seperti yang tersebut dalam firman Allah:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118)
Artinya:
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Al Ma'idah: 118)
Dan engkau hai Umar seperti Nabi Musa a.s. sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (88)
Artinya:
Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tiada akan beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.
(Q.S Yunus: 88)
Dan seperti Nabi Nuh a.s. sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (26)
Artinya:
Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
(Q.S Nuh: 26)
Selanjutnya Rasulullah saw. berkata kepada para sahabat: "Kamu semua bertanggung jawab atas mereka, tidak seorang pun yang dapat bebas, kecuali dengan tebusan atau potong leher." Lalu Abdullah berkata: "Kecuali Suhail bin bin Baida' ya Rasulullah, aku pernah mendengarnya menyebut Islam." Rasulullah diam saja tanpa jawaban, dan aku diliputi oleh ketakutan yang amat sangat, lebih takut rasanya daripada akan ditimpa batu besar sampai Rasulullah bersabda: "Kecuali Suhail bin Baida." Kemudian turunlah ayat ini.
Mengenai turunnya ayat ini ada lagi sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: Tatkala kaum Muslimin menawan beberapa orang (pada perang Badar) Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar: "Bagaimana pendapatmu tentang tawanan ini?" Abu Bakar menjawab: "Hai Rasulullah, mereka ini adalah anak-anak paman kita dan kaum kita. Aku berpendapat terima sajalah tebusan dari mereka, tebusan ini dapat dipergunakan untuk menambah kekuatan kita dalam menghadapi orang-orang kafir, semoga Allah memberi mereka petunjuk." Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar lalu dijawab oleh Umar: "Demi Allah saya tidak sependapat dengan Abu Bakar. Pendapat saya ialah agar engkau memberi kesempatan kepada kami untuk memotong leher mereka. Berilah kesempatan kepada Ali untuk memancung saudaranya Aqil, beri pula kesempatan kepada saya untuk membunuh Si anu (maksudnya kerabatnya), seterusnya berilah kepada Si anu dan Si anu agar masing-masing mereka dapat membunuh kerabatnya. Semua tawanan itu adalah pemimpin-pemimpin dan orang-orang kafir." Tetapi kata Umar, Rasulullah lebih condong kepada pendapat Abu Bakar dan tidak menerima pendapatku. Esoknya aku datang kepada Rasulullah dan aku dapati beliau bersama Abu Bakar sedang duduk menangis. Lalu aku berkata: "Ya Rasulullah, beritahulah aku kenapa engkau dan Abu Bakar menangis? Jika ada suatu sebab yang menyedihkan hatimu aku akan menangis bersamamu berdua, jika tidak aku turut menangis karena kamu berdua menangis." Jawab Rasulullah saw.: "Aku menangis karena usul yang dikemukakan oleh sahabat-sahabatmu supaya aku menerima tebusan dari para tawanan itu. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku siksaan yang akan menimpa mereka di dekat pohon ini (karena usul ini)." Dan Allah telah menurunkan ayat ini.

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ
Artinya:
Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.
(Q.S Al Anfal: 67)
Ayat ini sebagai teguran terhadap tindakan Rasulullah menerima tebusan dari kaum musyrikin untuk membebaskan orang-orang mereka yang ditawan kaum Muslimin. Beliau condong kepada pendapat kebanyakan para sahabat yang menganjurkan supaya para tawanan itu jangan dibunuh dan sebaiknya diterima saja uang tebusan dari mereka dan hasil tebusan itu dapat dipergunakan untuk kepentingan perjuangan dan persiapan perang bila musuh menyerang kembali. Karena itu Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa tidak patut bagi seorang Nabi dalam suatu peperangan menahan para tawanan dan menunggu putusan, apakah mereka akan dibebaskan begitu saja atau dengan menerima tebusan dari keluarga mereka kecuali bila keadaan pengikut-pengikutnya sudah kuat, kedudukannya sudah kokoh dan musuhnya tidak berdaya lagi. Keadaan kaum Muslimin sebelum perang Badar masih lemah dan kekuatan mereka masih terlalu kecil dibanding dengan kekuatan kaum musyrikin. Bila para tawanan itu tidak dibunuh, malah dibebaskan kembali meskipun dengan membayar tebusan, sedang mereka adalah pemuka dan pemimpin kaumnya, tentulah mereka akan untuk berperang lagi, dan mengumpulkan kekuatan yang besar untuk menyerang kaum Muslimin. Hal ini sangat berbahaya bagi kedudukan kaum Muslimin yang masih lemah. Seharusnya mereka tidak ditawan langsung dibunuh di medan peperangan, sehingga dengan tewasnya para pembesar dan pemimpin itu kaum musyrikin akan merasa takut dan tidak berani lagi menyerang kaum Muslimin.
Siasat ini dapat kita temui dalam sejarah peperangan, baik di masa dahulu maupun di masa sekarang. Dalam perang dunia kedua telah dijatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menelan ratusan ribu korban manusia. Sepintas lalu tampaknya tindakan ini bertentangan dengan perikemanusiaan. Tetapi ternyata setelah pemboman kedua kota itu Jepang merasa takut dan gentar dan menyerah kepada pasukan sekutu. Dengan penyerahan itu berhentilah perang dan berhenti pula pembunuhan manusia.
Ayat ini bukan saja merupakan teguran kepada Nabi Muhammad, tetapi juga merupakan teguran kepada para sahabat dan kebanyakan kaum Muslimin yang menganjurkan supaya para tawanan itu jangan dibunuh, karena mereka itu adalah kaum kerabat dan famili dan mungkin kelak akan menjadi orang yang beriman, apalagi uang tebusan mereka dapat dipergunakan untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan anjuran ini mereka telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan siasat perang. Apa pun alasan yang mereka kemukakan, bahwa mereka telah dipengaruhi atau tertarik kepada harta benda duniawi dan dengan tidak disadari mereka telah lupa dan tidak memikirkan lagi akibat dari pelaksanaan anjuran itu. Oleh sebab itu Allah dengan tegas menyatakan bahwa mereka menginginkan harta benda dan kehidupan duniawi, sedang Dia menghendaki supaya mereka mencari pahala untuk di akhirat nanti dengan berjuang di jalan-Nya, meninggikan kalimat-Nya sampai terlaksana kemuliaan dan ketinggian agama-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ
Artinya:
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.
(Q.S Al Munafiqun: 8)
Inilah yang dikehendaki Allah bagi orang-orang yang beriman dan seharusnyalah mereka berjuang dengan harta, dengan segala kemampuan yang ada pada mereka bahkan dengan jiwa untuk mencapainya. Allah senantiasa akan menolong mereka. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anfaal 67
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (67)
Ayat ini diturunkan ketika kaum muslimin memilih untuk mengambil tebusan terhadap para tawanan perang Badar. (Tidak patut bagi seorang nabi) boleh dibaca yakuuna boleh pula takuuna (mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi) lafal yutskhina fil ardhi menunjukkan makna sangat di dalam memerangi orang-orang kafir. (Kalian menghendaki) hai orang-orang mukmin (harta benda duniawi) yakni kebendaannya dengan mengambil tebusan (sedangkan Allah menghendaki) untuk kalian (pahala akhirat) sebagai pahala oleh sebab memerangi orang-orang kafir (Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) ayat ini telah dinasakh oleh firman-Nya, "Dan sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan." (Muhammad 4)

68 Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.(QS. 8:68)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 68
لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (68)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa tindakan kaum muslimin menerima tebusan itu adalah tindakan yang salah. Kalau tidaklah karena ketetapan Allah yang telah ada sebelumnya bahwa Dia tidak akan menimpakan siksa kepada mereka karena kesalahan itu, tentulah mereka akan mendapat azab yang berat. Ada beberapa hadis yang diriwayatkan mengenai sebab turunnya ayat ini, di antaranya yang diriwayatkan oleh Ibnul Munzir, Abusysyaikh dan Ibnu Mardawaih dari Nafi', dari Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata: "Terjadilah perbedaan pendapat antara manusia (kaum muslimin) tentang tindakan yang akan diambil terhadap tawanan perang Badar. Nabi meminta pendapat Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar menganjurkan kepada Nabi supaya diambil saja tebusan mereka. Umar menganjurkan supaya membunuh mereka semuanya. Kemudian ada orang berkata: "Para tawanan itu telah bertekad untuk membunuh Rasulullah dan meruntuhkan Islam. Kenapa Abu Bakar menganjurkan supaya mereka dibebaskan dengan membayar tebusan?" Ada pula yang berkata: "Kalau sekiranya ada di antara para tawanan itu ayah Umar atau saudaranya, tentulah dia tidak akan menganjurkan supaya para tawanan itu dibunuh." Akhirnya Rasulullah menerima pendapat Abu Bakar dan dilaksanakanlah pembebasan mereka dengan membayar tebusan, maka turunlah ayat ini.
Mengenai yang dimaksud dengan "ketetapan Allah yang telah ada untuk menyelamatkan kaum muslimin dari siksaan karena kekhilafan itu" para mufassirin mengemukakan beberapa ayat di antaranya firman Allah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (33)
Artinya:
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang mereka meminta ampun.
(Q.S Al Anfal: 33)
Meskipun ayat ini mengenai kaum musyrikin, tetapi kaum muslimin lebih berhak atas ketetapan itu. Sedang kaum musyrikin yang sesat dan durhaka dapat selamat dari siksaan Allah dengan beradanya Nabi di kalangan mereka, apalagi kaum muslimin yang taat dan setia selalu membantu Nabi dan selalu meminta ampun kepada Allah, tentu mereka lebih pantas bahwa mereka tidak akan ditimpa siksa yang berat itu. Dan firman Allah:

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (54)
Artinya:
Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (yaitu), bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu akibat kejahilan kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Al An'am: 54)
Rahmat dan kasih sayang Allah ditetapkan-Nya atas dirinya inilah yang membebaskan mereka dari siksaan berat, karena mereka bertaubat sesudah membuat kesalahan apalagi kesalahan itu hanya disebabkan kekhilafan pendapat saja.

69 Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 8:69)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 69
فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (69)
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya, maka dengan sifat mulia ini Allah mengampuni dan tidak menimpakan siksaan kepada kaum Muslimin, bahkan memberikan hak kepada mereka untuk memakan dan memiliki harta rampasan yang didapat dalam peperangan termasuk uang tebusan itu sebagaimana tersebut dalam ayat berikut ini. Diriwayatkan bahwa: "Pada mulanya kaum Muslimin tidak mau mempergunakan harta tebusan yang dibayar oleh kaum musyrikin, karena takut akan tersalah lagi apabila belum ada wahyu yang mengizinkan mereka memanfaatkannya, maka turunlah ayat ini." Ini adalah suatu bukti lagi bagi mereka atas rahmat dan kasih sayang Allah kepada mereka. Sesudah mereka melakukan kesalahan, mereka diampuni dan dibebaskan dari siksaan atas kesalahan itu, kemudian diizinkan pula memakan dan memiliki hasil dari tindakan salah itu, yaitu uang tebusan yang mereka terima dari para tawanan itu adalah halal dan baik bukan seperti daging babi dan bangkai. Kemudian Allah menyuruh mereka agar selalu bertakwa kepada-Nya dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, karena Dialan Yang Maha Pengampun dan Penyayang.

Surah AL-ANFAL
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -ANFAL>>

1 komentar:

  1. Assalamualaikum wbth...

    Salam perkenalan dan Ramadhan al-Kareem... terima kasih tak terhjngga kerana tulisan saudara sangat membuka mata dan memberi saya ilmu unuk lebih memahami ayat2 ini sewaktu sewaktu sedang usaha bertadarus. Semoga Allah merahmati dan mengganjari saudara dgn sebaik2 ganjaran dunia dan akhirat..amin...

    Hannani Ruwaidiyah Mustafar
    012.314.7529 Malaysia
    Blog: For peace of my mind

    http://forpeaceofmymind.blogspot.com/?m=1

    BalasHapus