Selasa, 03 April 2012

At-Taubah 111 - 120

Surah AT-TAUBAH
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AT-TAUBAH>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=6&SuratKe=9#Top

111 Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(QS. 9:111)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah swt. membeli diri dan harta benda kaum mukmin dari mereka sendiri yang dibayar-Nya dengan surga Jannatunna'im. Artinya: "Allah membalas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan kaum mukmin itu, baik jiwa raga maupun harta benda, dengan balasan yang sebaik-baiknya, yaitu kenikmatan dan kebahagiaan di surga di akhirat kelak. Ini merupakan ungkapan yang sangat indah dalam menimbulkan kegairahan bagi umat manusia untuk berjihad, karena menggambarkan suatu ikatan jual beli yang sangat menguntungkan manusia, sebab pengorbanan yang telah mereka berikan berupa harta benda dan jiwa raga akan ditukar dengan sesuatu yang sangat berharga, yang tak pernah dilihat oleh mata manusia, dan tak pernah didengar oleh telinga, dan nilainya jauh lebih tinggi daripada harta benda dan apa saja yang telah dikurbankan. Di samping itu jual beli yang terjadi antara Allah dan kaum Muslimin ini tak akan pernah dibatalkan. Tidaklah seperti ikatan jual beli yang terjadi antara sesama manusia yang kadang-kadang dapat dibatalkan. Lagi pula jual beli antar sesama manusia adalah berupa pertukaran antara barang dan uang yang sama nilainya. Sedang balasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman jauh lebih tinggi nilainya daripada pengorbanan yang telah diberikan atau perjuangan yang telah dilakukannya.
Balasan yang berlipat ganda yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya itu adalah semata-mata karena kasih sayang-Nya dan merupakan kehormatan yang diberi kepada hamba-Nya yang beriman, sebab pada hakikatnya diri manusia itu adalah milik-Nya, karena Dialah Penciptanya dan harta benda mereka itu pun adalah milik-Nya, karena Dialah yang menganugerahkan kepada mereka. Namun demikian, bila manusia berjihad dengan mengorbankan harta benda dan jiwa raga mereka yang dianugerahkan-Nya kepada mereka, maka Allah tetap memberikan balasan yang berlipat ganda nilainya padahal Allah sendiri pada hakikatnya tidak memerlukan harta benda dan jiwa raga itu.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah swt. menerangkan bagaimana caranya orang-orang mukmin menyerahkan diri dan harta mereka yang dibeli oleh Allah swt. dengan surga Jannatunna'im itu, yaitu dengan berperang pada jalan Allah untuk membela kebenaran dan keadilan yang akan menyampaikan mereka kepada keridaan-Nya; adakalanya mereka dapat menumpas musuh-musuh Allah yang selalu menghambat jalannya dakwah Islam, dan adakalanva mereka gugur dalam peperangan sebagai syuhada dalam membela agama Allah. Namun tak ada perbedaan antara keduanya dalam menerima pahala dan balasan dari Allah swt.
Kemudian Allah swt. menegaskan, bahwa janji-Nya untuk memberikan balasan pahala yang disebutkan itu adalah merupakan janji yang akan ditepati-Nya, dan telah ditetapkan-Nya sedemikian rupa dalam kitab Taurat dan Injil. Dan walaupun janji itu telah dihapuskan dari kedua kitab suci itu oleh kaum Yahudi dan Nasrani namun masih tetap ada dalam Alquran, dan tak akan dapat dihapuskan oleh siapa pun juga, karena Allah telah menjamin keselamatan Alquran itu dari tangan-tangan yang jahil.
Selanjutnya Allah swt. menegaskan, bahwa tidak ada seorang pun yang melebihi Allah dalam hal menepati janji, karena Dia Maha Kuasa untuk menepati janji-Nya, dan tidak pernah lupa atau pun ragu pada hamba-Nya. Oleh sebab itu, Allah menyuruh mereka untuk menampakkan kegembiraan atau keberuntungan yang pasti akan mereka peroleh dari jual beli yang terjadi antara mereka dan Allah swt.
Pada akhir ayat ini Allah swt. kembali memberikan penegasan bahwa keberuntungan yang akan diperoleh mereka itu benar-benar suatu keberuntungan yang amat besar tidak ada yang melebihinya. Sedang keberuntungan yang telah mereka peroleh sebelumnya yang berupa kemenangan terhadap musuh-musuh Islam, serta kepemimpinan, kekuasaan dan kerajaan, hanyalah keberuntungan yang merupakan jalan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
Jakfar As-Sadiq, seorang yang mempunyai pengetahuan luas tentang Alquran, dalam menafsirkan ayat ini mengatakan: "Badan manusia ini nilai tukarnya adalah surga, oleh sebab itu kita tidak boleh menjualnya kecuali jika mendapatkan surga. Orang yang mati dalam membela agama Allah hanyalah berarti mengorbankan tubuh kasarnya yang bersifat fana, bukan mengorbankan jiwanya yang bersifat kekal. Bila tubuh kasarnya mati, maka rohnya kembali ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa."


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 111
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)
(Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka) lantaran mereka menginfakkannya di jalan ketaatan kepada-Nya, seperti untuk berjuang di jalan-Nya (dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau dibunuh) ayat ini merupakan kalimat baru yang menjadi penafsir bagi makna yang terkandung di dalam lafal fa yuqtaluuna wa yaqtuluuna, artinya sebagian dari mereka ada yang gugur dan sebagian yang lain meneruskan pertempurannya (sebagai janji yang benar) lafal wa`dan dan haqqan keduanya berbentuk mashdar yang dinashabkan fi`ilnya masing-masing yang tidak disebutkan (di dalam Taurat, Injil dan Alquran?) artinya tiada seorang pun yang lebih menepati janjinya selain dari Allah. (Maka bergembiralah) dalam ayat ini terkandung pengertian iltifat/perpindahan pembicaraan dari gaib kepada mukhathab/dari orang ketiga kepada orang kedua (dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu dan yang demikian itu) yaitu jual-beli itu (adalah kemenangan yang besar) yang dapat mengantarkan kepada tujuan yang paling didambakan.

112 Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.(QS. 9:112)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 112

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (112)

Dalam ayat ini Allah swt. menyebutkan beberapa sifat dari orang-orang mukmin yang telah mencapai puncak kesempurnaan iman, yang telah mengorbankan harta benda dan diri mereka dalam berjihad untuk menjunjung tinggi agama Allah.
Sifat-sifat tersebut ialah:
1. Bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yaitu kembali kepada Allah dengan cara meninggalkan setiap perbuatan yang akan menjauhkan diri dari keridaan-Nya. Maka tobat orang-orang yang pernah menjadi kafir adalah kembalinya mereka kepada Allah dari kekafiran itu, serta melaksanakan perintah-perintah syarak.
Dalam hal ini Allah telah berfirman:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ
Artinya:
Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.
(Q.S. At Taubah: 11)
Sedang tobat orang yang pernah membuatnya menjadi munafik ialah dengan cara meninggalkan kemunafikannya itu. Dan tobat orang-orang yang durhaka ialah dengan cara meninggalkan kedurhakaannya dengan menyesali apa yang telah diperbuatnya, serta bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi sebagaimana tobat yang telah dilakukan oleh sementara orang-orang mukmin (Abu Lubabah dengan kawan-kawannya) yang telah mangkir dari peperangan Tabuk. Adapun tobat orang yang telah lalai dari melakukan kebajikan ialah dengan cara berbuat kebajikan lain yang lebih banyak sedang tobat orang yang lalai dari mengingat Allah swt. ialah dengan cara berzikir dan bersyukur lebih banyak setelah menyadari kelalaiannya.
2. Orang-orang mukmin yang mencapai puncak kesempurnaan itu juga mempunyai sifat sebagai orang-orang yang beribadat kepada Allah swt. semata-mata dengan ikhlas, tanpa adanya riya maupun syirik. Semua ibadah doa dan harapannya hanya ditujukan kepada Allah semata-mata. Mereka menjauhi segala macam perbuatan yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah atau mengharapkan pertolongan dari selain Allah, baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi.
3. Selain itu orang-orang mukmin tersebut juga mempunyai sifat sebagai orang-orang yang senantiasa menyampaikan pujian kepada Allah, baik dalam waktu suka maupun pada saat-saat duka. Dalam hal ini Aisyah r.a. menerangkan, bahwa Nabi Muhammad saw. apabila menemukan suatu hal yang menggembirakan maka beliau mengucapkan kata-kata pujian yang berbunyi:

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
Artinya:
Segala pujian hanyalah untuk Allah yang dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan dapat disempurnakan.
Dan apabila beliau menghadapi suatu hal yang tidak diingininya, maka beliau mengucapkan kata pujian yang berbunyi:

الحمد لله على كل حال
Artinya:
Segala puji hanyalah untuk Allah semata-mata dalam segala hal.
4. Orang-orang mukmin yang mencapai puncak kesempurnaan juga memiliki sifat sebagai orang-orang yang suka mengembara untuk tujuan-tujuan yang baik dan benar, misalnya pengembaraan yang dilakukan untuk menuntut ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan untuk kemajuan duniawi, atau untuk sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan tanah air. Atau melakukan pengembaraan untuk melihat dan memperhatikan keadaan bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain agar dari semuanya itu dapat diambil pelajaran yang berguna, serta meningkatkan keimanan dan ibadah kita kepada Allah, Pencipta alam semesta. Di dalam Alquran terdapat banyak firman Allah yang mendorong manusia agar mengadakan perjalanan di muka bumi ini untuk mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang akan menambah kuatnya keimanan. Antara lain firman Allah swt.:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Artinya:
Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."
(Q.S. Al-An'am: 11)
Dan firman-Nya dalam ayat yang lain:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ
Artinya:
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu.
(Q.S. Al-An'am: 6)
Masih banyak ayat-ayat lainnya yang sejiwa dengan ayat-ayat di atas, yang menyuruh manusia untuk memperhatikan lebih banyak makhluk Tuhan di dunia ini. Semakin jauh berjalan, semakin banyak yang dilihat, dan memberikan banyak pengetahuan, pengalaman dan pelajaran yang akhirnya menambah keimanan dan ketaatan kepada Allah swt.
5. Sifat lainnya yang dimiliki orang-orang mukmin yang sebenarnya ialah sebagai orang-orang yang senantiasa melakukan rukuk dan sujud kepada Allah swt., yakni orang-orang yang mendirikan salat. Sengaja Allah menyebutkan masalah rukuk dan sujud dalam ayat ini, karena kedua hal tersebut adalah menunjukkan sifat tunduk tawaduk serta penghambaan diri kepada Allah swt., dan juga untuk menggambarkan pekerjaan salat itu.
6. Dua buah sifat lainnya dari orang-orang mukmin sejati ialah suka mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan, dan mencegahnya dari perbuatan yang mungkar, yaitu dengan jalan mengajaknya kepada keimanan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan buah dari keimanan itu, yaitu hal-hal yang baik dan bermanfaat di samping itu.
7. Sifat lainnya yang disebutkan paling akhir dalam ayat ini ialah sebagai orang-orang yang senantiasa menjaga diri untuk tidak melampaui batas dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah, yaitu berupa syariat dan hukum-hukum-Nya yang harus diikuti oleh kaum mukmin untuk kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat, dan apa-apa yang harus mereka jauhi karena bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkannya. Demikian pula dalam hukum dan syariat tersebut telah dijelaskan pula apa-apa yang harus dilakukan oleh umat Islam dan para pemimpin mereka, baik untuk kepentingan setiap pribadi muslim maupun untuk kejayaan masyarakat Islam umumnya.
Setelah menyebut sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang mukmin yang mencapai puncak kesempurnaan, maka pada akhir ayat ini Allah swt. menjelaskan balasan apa yang akan diperoleh mereka kelak, dari Allah swt. Untuk ini Allah swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang memiliki sifat-sifat seperti yang disebutkan itu, bahwa mereka pasti akan memperoleh keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disebabkan karena setiap orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, pasti akan bersikap hati-hati dalam perbuatan dan tindak-tanduknya agar ia tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah dalam syariat dan hukum-hukumnya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 112
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (112)
(Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat) lafal at-taa'ibuuna dirafa'kan untuk tujuan memuji, yaitu dengan memperkirakan adanya mubtada sebelumnya; artinya mereka itu adalah orang-orang yang bertobat dari kemusyrikan dan kemunafikan (yang beribadah) orang-orang yang ikhlas karena Allah dalam beribadah (yang memuji) kepada Allah dalam semua kondisi (yang melawat) makna yang dimaksud adalah mereka selalu mengerjakan shaum/puasa (yang rukuk, yang sujud) artinya mereka adalah orang-orang yang salat (yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara batasan-batasan Allah) yakni hukum-hukum-Nya dengan cara mengamalkannya. (Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu) dengan surga.

113 Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.(QS. 9:113)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 113

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)

Allah swt. menjelaskan dalam ayat ini, bahwa tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang mukmin untuk mengajukan permohonan kepada Allah agar Dia memberikan ampun kepada orang yang musyrik walaupun mereka adalah kerabat Nabi atau kerabat dari orang-orang mukmin. Lebih-lebih apabila Nabi dan orang-orang mukmin telah mendapatkan bukti yang jelas, bahwa mereka yang dimohonkan ampunan itu adalah calon-calon penghuni neraka karena perbuatan dan tindak-tanduk mereka telah menunjukkan keingkaran mereka kepada Allah swt.
Pada ayat ke 80 surat At-Taubah ini juga, Allah swt. telah menerangkan bahwa Dia tidak akan memberikan ampunan bagi orang-orang munafik, karena mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga sama saja halnya, apakah Rasulullah memintakan ampun untuk mereka atau pun tidak. Dan dalam ayat ke 48 dan 116 surat An-Nisa Allah telah menegaskan pula, bahwa Dia tidak akan memberikan ampun kepada siapa saja yang menjadi musyrik, yaitu mempersekutukan Allah dengan yang lain.
Orang-orang yang mempersekutukan Allah walaupun mereka mengaku beriman dan menyembah kepada Allah, namun di samping itu mereka beriman dan menyembah selain Allah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai iman tentang kesempurnaan dan kekuasaan Allah swt. Oleh sebab itu dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa kemusyrikan itu adalah suatu kelaliman yang besar, dan merupakan dosa yang tak diampuni. Itulah sebabnya, maka Lukman Al-Hakim memberikan pelajaran kepada putranya, beliau berkata:

لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya:
Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar.
(Q.S. Lukman: 13)
Dalam riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan lain-lain dari Said Ibnu Musayyab, dari ayahnya, diterangkan bahwa ketika paman Nabi Muhammad, Abu Talib, akan meninggal dunia maka Nabi datang mengunjunginya, dan ketika itu Abu Jahal dan Abdullah Ibnu Abu Umayyah berada pula di sampingnya, Nabi lalu berkata kepada pamannya: "Hai Paman, ucapkanlah kalimat "la ilaha illallah" dengan kalimat itu kelak di hari kiamat aku akan mempunyai alasan untuk memintakan ampunan bagimu kepada Allah swt." Mendengar ucapan Nabi kepada pamannya itu, maka Abu Jahal dan Abdullah segera pula berkata kepada Abu Talib: "Apakah engkau tidak senang kepada agama Abdul Muttalib?" Kemudian Nabi senantiasa mengulangi permintaannya itu kepada Abu Talib, tetapi kedua pemuka kaum kafir Quraisy itu segera pula mengulangi ucapan mereka seperti tersebut di atas, sehingga akhirnya Abu Talib mengucapkan kata-katanya yang terakhir kepada mereka: "Aku tetap dalam agama Abdul Muttalib." Ia enggan mengucapkan kalimat "la ilaha illallah". Maka Rasulullah saw. bersabda: "Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu kepada Allah selama aku tidak dilarang untuk berbuat demikian." Maka turunlah ayat ini yang dengan tegas melarang Nabi dan kaum muslimin untuk memohonkan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka termasuk keluarga terdekat.
Dan khusus mengenai Abu Talib, maka Allah swt. telah berfirman kepada Rasulullah sebagai berikut:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Artinya:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
(Q.S. Al-Qasas: 56)
Abu Talib ini meninggal dunia di kota Mekah kira-kira tiga tahun sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Oleh sebab itu sebagian ulama menganggap tidak benar turunnya ayat ini mengenai Abu Talib sebab ayat ini terdapat dalam surat At-Taubah yang termasuk kelompok surat-surat Madaniah. Akan tetapi ulama-ulama lain mengatakan bahwa mengenai turunnya ayat ini ada dua macam kemungkinan, yaitu:
Pertama: ayat ini turun tak lama sesudah meninggalnya Abu Talib, kemudian ayat tersebut digabungkan kepada surat Bara`ah (At-Taubah), akibat ada kesamaannya mengenai hukum-hukum yang khusus tentang ketidakbolehan orang-orang mukmin mendoakan ampunan bagi orang-orang kafir, di samping persamaan mengenai celaan terhadap orang-orang musyrik.
Kedua: Mungkin juga ayat tersebut turun bersamaan ayat-ayat lainnya dalam surat Bara'ah (At-Taubah) ini yang menjelaskan bahwa tentang permintaan ampunan oleh Rasulullah saw. untuk Abu Talib semenjak wafatnya Abu Talib sampai pada saat turunnya ayat tersebut Rasulullah senantiasa memohonkan ampun kepada Allah untuk pamannya itu, sebab sikap yang keras terhadap orang-orang kafir, dan melepaskan hubungan dari mereka hanyalah terdapat dalam ayat-ayat surat At-Taubah ini.
Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa mendoakan orang-orang yang telah mati dalam kekafirannya agar mereka memperoleh ampunan dan rahmat Allah adalah terlarang. Dan larangan ini mencakup segala macam dan cara berdoa, baik doa-doa yang biasa dilakukan sesudah salat dan dalam upacara tertentu maupun doa yang hanya berupa sebutan "almarhum" atau "almagfur lahu" di samping nama seseorang. Yang sebenarnya kata-kata tersebut hanya boleh dihubungkan kepada orang-orang mukmin, dan tidak boleh dihubungkan kepada orang-orang yang telah mati dalam kekafiran. Tetapi ini sering kali kurang disadari oleh sebagian kaum muslim, baik di kalangan orang-orang awam maupun kalangan terpelajar.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah, ia mengatakan: Bahwa Rasulullah saw. pernah mengunjungi makam lalu beliau menangis sehingga menyebabkan orang-orang yang berada di sekitarnya pun menangis pula, kemudian beliau bersabda: "Aku telah meminta izin kepada Allah untuk memohonkan ampun untuk ibuku tetapi Allah tidak mengizinkan, dan aku meminta izin untuk mengunjungi makam ibuku, maka Allah telah mengizinkan. Oleh sebab itu kamu boleh mengunjungi makam, karena hal itu akan mengingatkan kamu kepada kematian."
Dengan adanya larangan Allah dalam ayat ini kepada Nabi dan orang-orang mukmin untuk memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, dapatlah diambil kesimpulan bahwa kenabian dan keimanan yang sejati tidak membolehkan seseorang untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah swt. untuk mengampuni orang-orang musyrik itu dalam keadaan bagaimana juga walaupun mereka adalah termasuk kaum kerabat yang dicintai. Hal itu disebabkan karena bagi Nabi dan orang-orang mukmin sudah cukup jelas dari berbagai bukti kenyataan, bahwa orang-orang musyrik itu telah mati dalam kekafiran sehingga dengan demikian mereka adalah merupakan calon-calon penghuni neraka, maka tidaklah selayaknya untuk dimintakan ampun kepada Allah, karena perbuatan mereka tidak diridai-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 113
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan permohonan ampunan Nabi saw. buat pamannya, yaitu Abu Thalib dan sekaligus berkenaan pula dengan permohonan ampunan sebagian para sahabat terhadap kedua orang-orang tua mereka masing-masing yang musyrik. (Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat)nya, yakni familinya sendiri (sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang yang musyrik itu adalah penghuni-penghuni Jahim) yakni neraka, lantaran mereka mati dalam keadaan kafir.

114 Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(QS. 9:114)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 114

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ (114)

Dari keterangan-keterangan yang terdapat dalam ayat di atas mungkin terlintas pertanyaan dalam pikiran kita, apakah sebabnya Allah melarang Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin untuk memohon ampun bagi orang-orang yang telah mati dalam kemusyrikan dan kekafiran itu, walaupun kaum kerabat dan ibu bapaknya sendiri padahal Nabi Ibrahim pernah memohonkan ampun bagi bapaknya yang juga seorang musyrik yang mati dalam kemusyrikan dan kekafiran.
Maka dalam ayat ini Allah swt. memberikan jawaban-Nya bahwa benar Nabi Ibrahim pernah memohonkan ampun kepada Allah bagi bapaknya yang bernama Azar dengan mengucapkan doa sebagai berikut:

وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ
Artinya:
Dan ampunilah bapakku karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat.
(Q.S. Asy Syura: 86)
Akan tetapi Nabi Ibrahim berbuat demikian itu adalah karena ia pernah menjanjikan ke bapaknya untuk mendoakannya dengan harapan agar Allah swt. memberikan taufik kepadanya untuk beriman, dan memberikan petunjuk kepadanya jalan yang benar yang telah dibentangkannya. Janjinya itu menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim sudah meyakini bahwa kemampuannya hanyalah sekadar mendoakan kepada Allah sedang ia sendiri tidak berwenang memberikan petunjuk atau pun keselamatan, apalagi mengampuni dosanya.
Dengan demikian, Ibrahim telah memenuhi janjinya akan tetapi hanya sekadar pemenuhan janji. Hal ini juga disebutkan Allah dalam firman-Nya:

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى
Artinya:
Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.
(Q.S. An Najm: 37)
Dalam ayat ini selanjutnya, Allah swt. menjelaskan bahwa walaupun Ibrahim telah memohonkan ampunan bagi ayahnya sebagai pemenuhan janjinya namun kemudian setelah nyata baginya bahwa bapaknya benar-benar memusuhi Allah dan mati dalam kemusyrikan, maka Ibrahim tidak lagi mendoakan bapaknya itu setelah matinya, dan ia telah berlepas tangan. Jadi Nabi Ibrahim mendoakan bapaknya itu adalah di kala bapaknya itu masih hidup dengan harapan semoga bapaknya mendapat hidayah dan taufik dari Allah dan meninggalkan kemusyrikannya dan bertobat kepada Allah dan doa yang semacam ini tidaklah terlarang.
Keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir tidak akan membiarkannya mengasihi orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Hal ini telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya pada ayat-ayat lain:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
Artinya:
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.
(Q.S. Al-Mujadalah: 22)
Pada masa bapaknya masih hidup, Nabi Ibrahim sudah tahu juga tentang tingkah lakunya yang tidak diridai Allah, sehingga ia sendiri pernah diancamnya dengan kata-kata yang kasar yang tersebut dalam ayat sebagai berikut:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Artinya:
Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama."
(Q.S. Maryam: 46)
Namun demikian Ibrahim juga berjanji kepada bapaknya untuk mendoakannya kepada Allah agar memberi ampun dan rahmat serta petunjuk. Akan tetapi, setelah bapaknya ini meninggal, nyatalah bagi Ibrahim bahwa dia benar-benar memusuhi Allah pada masa hidupnya. Dan setelah meyakini hal itu, maka Ibrahim segera berlepas diri dari dia, dan tidak lagi berdoa untuknya. Apakah gerangan sebab yang demikian?
Maka dalam akhir ayat ini Allah swt. menerangkan jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu karena Ibrahim adalah manusia yang amat takut kepada Allah, serta taat dan patuh kepada-Nya, ia juga terkenal sebagai seorang penyantun dan kokoh pendiriannya dalam segala hal.
Itulah sebabnya ia segera menghentikan doanya untuk bapaknya setelah ia mengetahui bahwa dia benar-benar seorang musyrik yang dalam hatinya telah tertanam dengan kuat kepercayaan syirik dan permusuhan terhadap Allah swt. Nabi Ibrahim berhati lembut karena sangat takutnya kepada Allah, dan di samping itu ia sangat menyesalkan sikap orang-orang musyrik di kalangan kaumnya termasuk bapaknya sendiri.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 114
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ (114)
(Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya (pamannya) tidak lain hanya karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu) melalui perkataan Nabi Ibrahim sendiri, seperti apa yang diungkapkan oleh firman-Nya, "Aku akan mintakan ampun bagimu kepada Rabbku." (Q.S. Maryam 47) Nabi Ibrahim menjanjikan demikian dengan harapan semoga bapak (paman)nya itu mau masuk Islam. (Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya/pamannya itu adalah musuh Allah) lantaran ia mati dalam keadaan kafir (maka Ibrahim berlepas diri daripadanya) kemudian Nabi Ibrahim berhenti dari memintakan ampunannya. (Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut) banyak merendahkan diri dan berdoa kepada Allah (lagi penyantun) sangat sabar di dalam menahan derita.

 115 Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. 9:115)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 115

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (115)

Dalam ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa apabila satu kaum benar-benar telah diberinya petunjuk, dan telah dilapangkan-Nya dada mereka untuk menerima agama Islam, maka Dia sekali-kali tidak akan menganggap kaum tersebut sebagai orang-orang yang sesat, lalu Dia memperlakukan mereka sama dengan orang-orang yang benar-benar sesat, yang patut dicela dan disiksa. Allah swt. tidak akan berbuat demikian apabila mereka hanya semata-mata berbuat suatu kesalahan, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan yang disebabkan kesalahan ijtihad mereka. Allah swt. tidak akan mencela dan menyiksa mereka karena kesalahan semacam itu sampai jelas benar bagi mereka hal-hal apa yang harus mereka hindari, baik ucapan maupun perbuatan.
Pada Akhir ayat ini Allah swt. kembali menegaskan, bahwa Dia amat mengetahui segala sesuatu, antara lain kebutuhan manusia terhadap keterangan dan penjelasan. Oleh sebab itu Allah telah menjelaskan masalah-masalah yang penting dalam agama dengan nas yang pasti dalam firman-Nya sehingga kaum Muslimin akan dapat mencapai kebenaran dalam ijtihad mereka dan tidak akan tergoda oleh hawa nafsu mereka.
Itulah sebabnya Allah tidak menyalahkan Nabi Ibrahim ketika ia memohon ampun untuk bapaknya sebab hal itu dilakukan sebelum ia mendapat bukti dan keterangan yang jelas tentang keadaan ayahnya itu. Lagi pula setelah ia mendapat keterangan dan bukti-bukti yang jelas, maka ia segera menghentikan doanya itu.
Demikian pula Allah swt. tidak akan menimpakan hukuman terhadap Nabi Muhammad saw. dan orang-orang mukmin yang telah memohonkan ampun kepada Allah untuk ibu bapak, kaum kerabat mereka yang telah mati dalam kekafiran apabila hal itu dilakukan akibat belum memperoleh keterangan yang jelas mengenai ketentuan Allah dalam masalah tersebut.

116 Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.(QS. 9:116)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 116

إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (116)

Allah swt. menjelaskan bahwa Dialah yang memiliki kekuasaan, baik di langit maupun di bumi. Dialah yang menguasai semua yang ada di alam ini. Dia pulalah yang mematikan hamba-Nya bila ajalnya sudah sampai. Dan sunah-Nyalah yang berlaku di alam semesta ini. Tidak ada yang mengurus dan menguasai kepentingan orang-orang mukmin, dan tidak ada pula yang akan menolong mereka terhadap musuh, kecuali Allah swt.
Sebab itu, tidaklah selayaknya bagi orang-orang mukmin menyimpang dari ketentuan Allah, terutama mengenai larangan-Nya untuk memohonkan ampun bagi orang musyrik, walaupun ia termasuk kaum kerabat yang patut diurus dan ditolong. Demikian pulalah dalam ketentuan-ketentuan yang lain, baik berupa larangan maupun perintah-perintah-Nya.

117 Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,(QS. 9:117)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 117

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (117)

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat yang terdahulu, mengenai masalah tobat dari orang-orang yang mangkir dari perang Tabuk. Adalah menjadi suatu kebiasaan dalam Alquran untuk menghentikan suatu pembicaraan, lalu mengemukakan pembicaraan yang lain, tetapi kemudian kembali lagi membicarakan masalah yang semula. Cara semacam ini akan memberikan pengertian yang lebih mantap dan kesan lebih kuat dalam hati dan pikiran orang-orang yang mendengar atau membacanya, dan tidak membosankan. Selain itu juga ada hubungan dengan larangan tentang memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik yang tersebut dalam ayat yang lalu, karena dalam kedua masalah ini terdapat kesalahan yang perlu ditebus dengan bertobat, dan kekeliruan yang perlu dimintakan maaf dan ampunan dari Allah swt.
Dalam ayat ini, Allah swt. menegaskan bahwa Dia telah menerima tobat Nabi Muhammad saw. dan kaum Muhajirin serta Ansar dan orang-orang mukmin lainnya yang telah mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, yaitu saat perang Tabuk itu, karena perang Tabuk itu terjadi dalam saat kesukaran. Kesukaran tentang makanan karena saat itu musim paceklik, sehingga sebutir kurma dimakan oleh satu atau dua orang. Kesukaran tentang air, sehingga ada yang menyembelih untanya agar dapat mengambil air dari lambungnya untuk diminum, padahal unta itu amat mereka perlukan untuk pengangkutan yang di saat itu pun amat sukar, sehingga seekor unta dipakai untuk keperluan sepuluh orang. Ditambah lagi udara di waktu itu (waktu terjadi perang Tabuk) amat panas. Penerimaan tobat tersebut terjadi setelah hampir berpalingnya hati segolongan dari kaum Ansar dan Muhajirin tersebut, sehingga mereka pergi berperang itu dengan perasaan yang enggan dan berat, bahkan ada yang dengan sengaja telah mangkir dari peperangan. Tetapi kemudian Allah menerima tobat mereka setelah mereka menyadari kesalahan mereka lalu bertobat kepada Allah swt.
Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan pula, bahwa Dia Maha Pengasih dan Penyayang kepada Nabi dan para pengikutnya. Oleh sebab itu Dia senantiasa menerima tobat orang-orang yang benar-benar bertobat kepada-Nya.
Menurut penafsiran Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan menerima tobat Nabi oleh Allah ialah tobat yang dilakukan Nabi atas kesalahan beliau lantaran mengizinkan beberapa orang tidak ikut berperang, padahal mereka tidak mempunyai uzur yang dapat dibenarkan. Dan yang dimaksud dengan penerimaan tobat kaum Muhajirin dan Ansar ialah tobat yang mereka lakukan dari kesalahan mereka ketika mereka merasa berkeberatan untuk keluar ke medan perang, padahal mereka adalah orang-orang yang dipandang paling kuat imannya. Sebagian dari mereka mempunyai kesalahan lantaran mereka suka mendengarkan pembicaraan orang-orang munafik padahal pembicaraan itu dimaksud untuk menimbulkan fitnah di kalangan kaum Muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 117
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (117)
(Sesungguhnya Allah telah menerima tobat) artinya Dia menerima tobat untuk selamanya (Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan) yakni sewaktu keadaan sedang sulit-sulitnya. Hal ini terjadi sewaktu perang Tabuk; sebiji buah kurma dimakan oleh dua orang, dan sepuluh orang pasukan saling bergantian menaiki satu hewan kendaraan di antara sesama mereka, dan panas pada saat itu terik sekali sehingga mereka meminum air yang ada dalam perut unta karena persediaan air habis (setelah hampir berpaling) dapat dibaca yaziighu atau taziighu, artinya cenderung (hati segolongan dari mereka) dari mengikuti Nabi kemudian mereka bermaksud untuk kembali dan tidak ikut berperang lantaran kesulitan yang sedang mereka alami pada saat itu (kemudian Allah menerima tobat mereka itu) dengan memberikan keteguhan dan kesabaran kepada mereka. (Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

118 dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. 9:118)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 118

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (118)

Dalam ayat ini kembali diungkapkan hal-ihwal tiga orang di antara orang-orang mukmin yang mangkir dari perang Tabuk, yaitu Ka'ab Ibnu Malik, Hilal Ibnu Umayyah dan Murarah Ibnu Rabi'. Mereka ini semula dengan sengaja tidak ikut berperang bersama Rasulullah saw., tetapi kemudian mereka mengalami tekanan jiwa, dan merasa alam bagi mereka menjadi sempit, karena orang-orang mukmin lainnya memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak terhormat. Dan mereka merasa yakin, bahwa hanya Allahlah tempat berlindung dari segala siksaan-Nya. Setelah datang kesadaran dan rasa penyesalan, maka tobatlah mereka kepada Allah. Maka Allah pun menerima tobat itu agar mereka tetap berada dalam keinsafan kembali kepada agama Allah dan bimbingan Rasul-Nya. Setelah telanjur melakukan pelanggaran terhadap perintah-Nya.
Pada akhir ayat ini, Allah swt. menegaskan kembali bahwa Dialah yang Maha Penerima Tobat serta Maha Pengasih kepada hamba-Nya. Dia senantiasa menerima tobat hamba-Nya yang benar-benar bertobat kepada-Nya dan mengampuni dosa serta melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada mereka, walaupun mereka itu telah telanjur melakukan kesalahan yang menyebabkan mereka berhak untuk dijatuhi azab dan siksa.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 118
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (118)
(Dan) Allah menerima tobat pula (terhadap tiga orang yang ditangguhkan) penerimaan tobat mereka melalui bukti yang menunjukkan hal itu (sehingga apabila bumi terasa sempit oleh mereka padahal bumi itu luas) sekalipun kenyataannya bumi itu luas lantaran mereka tidak dapat menemukan tempat yang dapat mengganti hati mereka (dan jika hati mereka pun terasa sempit pula) yakni hati mereka menjadi sempit lantaran susah dan asing disebabkan tobat mereka ditangguhkan penerimaannya sehingga hati mereka tidak gembira dan selalu tidak tenteram (serta mereka menduga) dan merasa yakin (bahwasanya) dibaca dengan takhfif, yaitu an (tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka) Allah memberikan taufik dan kekuatan kepada mereka untuk bertobat (agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang).

119.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.(QS. 9:119)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (119)

Dalam ayat ini, Allah swt. menunjukkan seruan-Nya dan memberikan bimbingan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, agar mereka tetap dalam ketakwaan serta mengharapkan rida-Nya, dengan cara menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan-Nya, dan menjauhi segala larangan yang telah ditentukan-Nya, dan hendaklah senantiasa bersama orang-orang yang benar dan jujur, mengikuti ketakwaan, kebenaran dan kejujuran mereka. Dan jangan bergabung kepada kaum munafik, yang selalu menutupi kemunafikan mereka dengan kata-kata dan perbuatan bohong serta ditambah pula dengan sumpah palsu dan alasan-alasan yang tidak benar.
Al-Baihaqi meriwayatkan suatu hadis yang langsung diterima dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda:

إن الصدق ليهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار، إنه يقال للصادق: صدق وبر، ويقال للكاذب: كذب وفجور، وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا ويكذب حتى عند الله كذابا
Artinya:
Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun kepada surga, dan sebenarnya kebohongan itu menuntun kepada kefasikan, dan kefasikan membawa kepada neraka. Terhadap orang yang jujur dikatakan: "Ia berlaku benar dan berbuat baik." Sedang kepada orang yang bohong dikatakan: "Ia berbohong dan berlaku fasik." Dan seorang yang jujur segera dituliskan di sisi Allah sebagai seseorang yang sangat jujur; sedang orang yang berbohong segera pula dituliskan di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong.
Berdusta selamanya terlarang kecuali bila terpaksa sebagai tipu muslihat dalam peperangan, atau untuk mendamaikan antara pihak-pihak yang bersengketa, atau kebohongan seorang lelaki kepada istrinya yang dimaksudkan untuk menyenangkan hatinya, misalnya dalam memuji kecantikannya; akan tetapi bukan kebohongan dalam masalah keuangan dan kepentingan kehidupan rumah tangga atau lainnya. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:

كل الكذب يكتب على ابن آدم إلا رجل كذب في خديعة حرب أو إصلاح بين اثنين أو رجل يحدث امرأته ليرضيها
Artinya:
Setiap kebohongan yang dilakukan oleh seseorang selalu dituliskan sebagai dosanya kecuali bagi seorang lelaki yang berbohong sebagai tipu muslihat dalam peperangan, atau kebohongan untuk mendamaikan dua orang yang bersengketa atau kebohongan yang dilakukan seseorang terhadap istrinya dengan maksud untuk menyenangkan hatinya.
(H.R. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad dari Asmak binti Yazid, dari Nabi saw.)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 119
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (119)
(Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah) dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat (dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar) dalam hal iman dan menepati janji untuk itu kalian harus menetapi kebenaran.

120.Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,(QS. 9:120)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 120

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (120)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa kaum Muslimin yang berdiam di kota Madinah, dan kaum Muslimin Badui yang berdiam di sekitar kota Madinah tidaklah sepantasnya mereka untuk tidak menyertai Rasulullah saw. ke medan perang dan tidak pula patut bagi mereka untuk tidak mencintai Rasulullah saw. karena lebih mencintai diri sendiri. Bila mereka tidak ikut ke medan perang dan hanya tinggal di rumah, ini berarti mereka tidak bersedia menahan bermacam-macam penderitaan untuk membela agama Allah, mereka tidak merasakan haus, payah dan lapar, dan tidak pula menginjak daerah yang dipertahankan oleh orang-orang kafir, dan tidak pula ikut menimpakan suatu bencana kepada musuh sebagai yang dirasakan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang ikut berperang. Padahal jika mereka mengalami dan melaksanakan hal-hal tersebut niscaya akan dituliskan bagi mereka di sisi Allah sebagai amal saleh setiap kali mereka mengalami dan melaksanakannya, dan akan diberi ganjaran yang amat besar sebagai yang dilakukan terhadap orang-orang yang ikut berperang bersama Rasulullah. Setiap kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang mukmin baik yang berupa pengorbanan lahir maupun batin tidak akan disia-siakan Allah, apalagi kebajikan untuk membela agama-Nya.
Orang-orang yang tinggal di rumah tanpa alasan-alasan yang dibenarkan Allah, sesungguhnya hanya orang-orang yang mementingkan diri sendiri, tidak bersedia memberikan pengorbanan dan penderitaan untuk kepentingan bersama, dan untuk membela agama Allah. Padahal kenikmatan yang mereka peroleh dalam rumah tangga mereka adalah semata-mata karunia dan rahmat dari Allah swt.
Kesetiaan dan ketaatan Rasulullah haruslah dilakukan dalam segala situasi dan keadaan, baik pada waktu suka maupun pada saat duka dan bahaya, yang memerlukan pengorbanan atas kesenangan diri, kenikmatan hidup, harta benda dan jiwa raga. Sebab itu bila datang suatu bahaya yang mengancam kepentingan bersama, kehormatan bangsa dan agama, maka setiap orang mukmin harus bangkit berjuang bersama-sama, tanpa memperhitungkan laba rugi bagi diri sendiri. Ini adalah lebih mulia daripada yang hidup dalam kemewahan, tetapi kehilangan kehormatan diri, agama bangsa dan tanah airnya.
Allah swt. tidak menyia-nyiakan setiap amal kebajikan dan pengorbanan yang diberikan oleh setiap orang mukmin. Ganjaran pahala yang amat besar disediakan-Nya untuk orang-orang mukmin yang telah berjuang bersama Rasulullah, dan selanjutnya untuk orang-orang mukmin yang berjuang di jalan Allah sesudah Rasulullah hingga hari kiamat kelak. Balasan setiap kebajikan adalah kebajikan pula. Inilah ketentuan dari Allah swt.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 120
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (120)
(Tidaklah patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab badui yang berdiam di sekitarnya tidak turut menyertai Rasulullah) bilamana beliau pergi berperang (dan tidak patut pula bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul) yaitu dengan cara mendahulukan kepentingan apa yang menjadi keridaannya daripada kemaslahatan diri sendiri di dalam menghadapi saat-saat yang sulit. Ungkapan ayat ini merupakan nahi atau larangan, akan tetapi diungkapkan dalam bentuk kalimat khabar atau kalimat berita. (Yang demikian itu) yaitu larangan untuk tidak pergi bersama Rasulullah ke medan perang (ialah karena mereka) disebabkan (tidak ditimpa kehausan) rasa dahaga (kepayahan) keletihan (dan kelaparan) yakni rasa lapar (pada jalan Allah dan tidak pula menginjak suatu tempat) lafal mauthi'an adalah mashdar akan tetapi maknanya sama dengan lafal wath'an (yang membangkitkan amarah) artinya yang membuat marah (orang-orang kafir dan tidak menimpakan kepada musuh) Allah (sesuatu bencana) membunuh, menawan atau membegal musuh (melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh) dimaksud supaya mereka mau melaksanakan hal tersebut. (Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik) pahala mereka tidak akan disia-siakan-Nya, bahkan Dia akan memberi mereka pahala.

Surah AT-TAUBAH
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AT-TAUBAH>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar