Senin, 23 April 2012

Huud 31 - 40

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=11#Top
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 31

وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (31)

31. Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): `Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan:` Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat `, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu:` Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka `. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.(QS. 11:31)
 Dan walaupun aku mengaku menjadi Nabi, akan tetapi aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, yang diperlukan oleh setiap hamba-Nya, yang aku mampu mengeluarkannya untuk menutup kebutuhanku dan seluruh pengikutku. Tidak! Aku sama saja seperti orang lain, memerlukan usaha dan perusahaan yang wajar, karena soal jaminan rezeki itu tidak termasuk dalam urusan kenabianku. Sekiranya itu dijadikan urusan kerasulan tentu banyak orang-orang yang mengikuti Nabi karena ingin jaminan rezeki dan harta saja. Padahal gagasan yang pokok dari tugas kerasulan itu ialah menyucikan jiwa seseorang dari pengaruh kebendaan dengan ibadah dan makrifat kepada Allah swt., menyiapkan seorang hamba Allah untuk masuk surga-Nya dan memperoleh keridaan-Nya pada hari kiamat, di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat lagi kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Dan aku tidak mengetahui yang gaib, aku tidak melebihi orang lain dengan ilmu gaib yang dapat mengungkapkan benda-benda yang tersembunyi untuk menambah kekayaan, atau memperoleh kemanfaatan dan menolak kemudaratan yang dapat disampaikan kepada semua pengikut-pengikutku, agar menjadi orang-orang yang kaya dan sebagainya. Tersebut pula dalam firman Allah:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya:
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman."
(Q.S. Al-A'raf: 188)
Dan tidak pula aku mengatakan, bahwa aku ini adalah malaikat yang diutus kepada kamu, bahkan aku ini seorang manusia seperti kamu yang ditugaskan untuk menyeru manusia kepada ketauhidan. Dalam ucapan Nabi Nuh itu ada bantahan terhadap anggapan orang-orang kafir yang menyatakan, bahwa seorang Rasul itu harus seperti malaikat, tidak makan, tidak minum, tidak mondar-mandir keluar masuk pasar, dan harus mengetahui semua yang gaib dan mempunyai banyak kelebihan daripada manusia biasa.
Dan juga aku tidak mengatakan kepada orang yang beriman yang kamu hinakan itu, bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka di akhirat. Pandangan Allah berbeda sekali dengan pandangan manusia. Sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadis sahih:

إن الله لا ينظر إلى صوركم وأجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم
Artinya:
Allah tidak memandang rupa atau tubuh kamu, akan tetapi memandang kepada hati kamu.
(H.R. Muslim dari Abu Hurairah)
Allah lebih mengetahui apa yang terkandung dalam hati mereka, bagaimana murninya keimanan mereka, dan bagaimana pula keikhlasan mereka dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak seperti pandangan kamu yang menuduh mereka, bahwa mereka mempunyai pandangan yang picik yang mempercayai apa saja. Sesungguhnya jika berbeda penilaianku dengan penilaianmu terhadap mereka adalah karena aku bukan memandang apa yang nampak dari luar saja, bahkan melihat kepada keimanan dan keikhlasan mereka; jika aku menilai seperti penilaianmu niscaya aku termasuk orang-orang yang lalim.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Huud 31
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (31)
(Dan aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa, 'Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah dan tiada pula) aku (mengetahui yang gaib dan tidak pula aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat.') akan tetapi sesungguhnya aku adalah manusia biasa sama dengan kalian (dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina) dipandang remeh (oleh penglihatan kalian, "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka." Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka) yang terpendam di dalam kalbu mereka (sesungguhnya aku kalau begitu) maksudnya jika aku mengatakan demikian (benar-benar termasuk orang-orang yang lalim).

32. Mereka berkata:` Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar `.(QS. 11:32)

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (32)

Pada ayat-ayat ini Allah menerangkan ucapan-ucapan orang-orang kafir dari kaum Nuh a.s. yang menolak kebenarannya sebagai utusan Allah untuk menunjuki mereka kepada jalan yang benar, demi keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Ucapan-ucapan mereka yang menentang itu pada hakikatnya hanya pembangkangan, karena mereka sudah kehabisan alasan. Mereka tidak dapat lagi memberikan bantahan-bantahan dengan alasan yang wajar yang dapat diterima oleh akal pikiran yang sehat, kecuali mengatakan: "Hai Nuh, kamu telah demikian banyaknya berdebat dengan kami, tidak ada suatu alasan dari kami yang tidak kamu bantah sehingga kami merasa jemu dan bosan, dan tidak ada yang kami katakan lagi kecuali suatu hal, yaitu kalau memang benar apa yang kamu katakan itu semua, datangkanlah segera azab yang kamu peringatkan itu di dunia ini sebelum azab akhirat." Tantangan ini adalah sebagai jawaban mereka terhadap perkataan Nuh a.s. kepada mereka seperti yang telah diterangkan pada permulaan kisah ini yaitu:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan."
(Q.S. Hud: 25, 26)
Nabi Nuh a.s. menjawab tantangan kaumnya itu sebagaimana diterangkan pada ayat berikut ini:

33. Nuh menjawab:` Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.(QS. 11:33)

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ (33)

Pada ayat ini Allah menerangkan jawaban Nabi Nuh a.s. terhadap tantangan kaumnya yang kafir itu dengan memberikan penjelasan bahwa urusan mendatangkan azab itu bukanlah berada dalam kekuasaannya, melainkan berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa Yang Menciptakan alam semesta ini dan berbuat segala sesuatu menurut ketentuan iradah-Nya. Mereka semestinya tidak perlu tergesa-gesa bahkan tidak wajar meminta dipercepat datangnya azab Allah itu, sebab apabila azab itu datang sebagaimana yang mereka minta, niscaya mereka tidak akan mampu menolak dan mencegahnya. Tetapi yang wajar bagi mereka ialah supaya azab Allah itu tidak datang. Untuk itu, hendaklah mereka beriman kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya sebagaimana yang disampaikan kepada mereka.

34. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan `.(QS. 11:34)

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (34)

Pada ayat ini Allah menerangkan lanjutan jawaban dan penjelasan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya yang membangkang itu, bahwa apa pun yang disampaikan kepada mereka yang berupa nasihat-nasihat dalam rangka mengajak kepada jalan yang benar dan memperingatkan mereka supaya terhindar dari azab Allah di dunia dan di akhirat, akan tetapi semua itu tidaklah akan ada gunanya dan manfaatnya, jika mereka masih tetap disesatkan oleh panggilan dan bujukan hawa nafsu mereka yang sudah menjadi kehendak Allah untuk menjadi sebab kebinasaan mereka di dunia ini dan azab yang abadi di akhirat. Selanjutnya Nabi Nuh a.s. menjelaskan kepada mereka, bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan mereka yang memiliki dan mengatur sunah-Nya di dalam dunia ini sehingga segala sesuatu menurut ketentuan, ukuran dan masanya. Dan akhirnya semua akan kembali kepada-Nya di akhirat untuk menerima balasan amalnya dengan balasan yang baik atau buruk sesuai dengan amal perbuatannya di dunia ini.

35. Malahan kaum Nuh itu berkata:` Dia cuma membuat-buat nasehatnya saja `. Katakanlah:` Jika aku membuat-buat nasehat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat `.(QS. 11:35)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ (35)

Ayat ini menurut pendapat sebagian mufassirin adalah lanjutan dari kisah kaum Nuh a.s. yang menerangkan bahwa mereka menuduh Nuh a.s. memberikan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan yang tidak benar dan hanya dibuat-buat saja. Maka Allah mengajari Nuh a.s. supaya mengatakan kepada mereka bahwa andaikata ia membuat-buat tentu dia sendirilah yang memikul dosanya, tetapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar maka ia bebas dari perbuatan dosa yang mereka tuduhkan itu.
Akan tetapi menurut pendapat sebagian mufassirin yang lain ayat ini bukanlah lanjutan dari kisah kaum Nuh a.s. tetapi kalimat sisipan (jumlah mu`taridah). Maka maksud ayat ini ialah bahwa setelah orang-orang kafir Mekah mendengar kisah kaum Nuh a.s. ini dari Muhammad saw. lalu mereka menuduhnya mengada-adakan kisah itu, maka Allah mengajari Nabi Muhammad saw. supaya mengatakan kepada mereka bahwa andaikata ia mengadakannya, maka dia sendirilah yang akan memikul dosanya tetapi yang mereka tuduhkan itu sama sekali tidak benar dan ia bebas dari perbuatan yang mereka tuduhkan itu.

36. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.(QS. 11:36)

وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36)
Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (37) Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (38) Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (39) Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (40) Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (41) Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir
Pada ayat-ayat yang lalu Allah menerangkan bahwa Nabi Nuh a.s. telah demikian banyak mengadakan perdebatan dan memberikan bantahan terhadap setiap alasan yang dikemukakan oleh kaumnya yang kafir itu. Hal itu tidaklah membuat mereka beriman seperti yang diharapkan oleh Nabi Nuh a.s. malah membuat mereka lebih keras membangkang sehingga mereka berani meminta disegerakan datangnya azab Allah kepada mereka yang pernah diancamkan Nuh itu. Maka pada ayat-ayat ini Allah menerangkan kepada Nabi Nuh a.s. hal-hal yang perlu diketahuinya yaitu tugas selanjutnya yang harus dilaksanakannya sebagai akibat dari keadaan itu.

37. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.(QS. 11:37)

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ (37)

Menurut riwayat Ibnu Abbas panjang bahtera itu seribu dua ratus hasta. Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah memerintahkan kepada Nuh a.s. supaya membuat bahtera yang akan dipergunakan untuk menyelamatkannya dan pengikutnya yang beriman dari topan (air bah) yang akan melanda dan menenggelamkan permukaan bumi sebagai azab di dunia ini kepada orang-orang kafir dari kaumnya yang sangat membangkang dan durhaka itu. Nabi Nuh a.s. diperintahkan membuat bahtera penyelamat itu dengan petunjuk-petunjuk dan pengawasan dari Allah.
Dan masih banyak riwayat dan pendapat yang berbeda-beda, tetapi menurut Qatadah bahwa panjangnya tiga ratus hasta dan lebarnya lima puluh hasta dan ia tidak menyebutkan keterangan-keterangan lain.
Pendapat yang berbeda-beda itu adalah disebabkan tidak ada keterangan dalam perincian Alquran dan di dalam hadis-hadis yang sahih, tetapi kebanyakan pendapat-pendapat itu diambilkan dari sahabat Nabi dan Tabiin.
Selanjutnya pada ayat ini Allah memperingatkan Nuh a.s. agar tidak lagi berbicara dengan kaumnya yang lalim (kafir) dan tidak lagi memohon supaya dosa mereka diampuni atau dihindarkan dari azab-Nya, karena sudah menjadi ketetapan Allah bahwa mereka akan ditenggelamkan dengan topan.
Larangan serupa ini telah terjadi pula terhadap Nabi Ibrahim a.s. sewaktu dia memohonkan kepada Allah agar azab-Nya tidak ditimpakan kepada kaum Lut sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ
Artinya:
Hai Ibrahim tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.
(Q.S. Hud: 76)

38. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh:` Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).(QS. 11:38)

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (38)

Pada ayat ini diterangkan bahwa Nuh a.s. membuat bahtera penyelamat itu sesuai dengan perintah dan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan oleh Allah kepadanya. Banyak riwayat-riwayat atau pendapat-pendapat yang bermacam-macam yang dinukil oleh para mufassirin tentang hal-hal yang bertalian dengan bahtera itu, seperti terbuat dari kayu apa dibuat, di tempat mana, bentuknya bagaimana, panjang dan lebarnya berapa dan perincian-perincian lainnya yang sebagian telah diterangkan sewaktu menerangkan ayat 37 sebelum ini. Pendapat yang terbaik dalam soal ini dari segi kepercayaan ialah seperti yang diterangkan oleh Syihabuddin Mahmud Al-Alusi sebagai berikut:
"Orang yang teliti dalam hal ini tidak akan condong kepada perincian yang berlebih-lebihan hanya percaya bahwa Nuh a.s. telah membuat bahtera itu sebagaimana yang dikisahkan Allah dalam Kitab-Nya, dan tidak mencari-cari tentang panjang lebar dan tingginya, dibuat dari kayu apa berapa lama dan lain-lain sebagainya yang tidak diterangkan oleh kitab Allah dan sunah Rasul-Nya yang sahih itu." (Al-Alusi, Ruhul Ma'ani, jilid XII, hal. 50)
Selanjutnya pada ayat ini diterangkan bahwa setiap kali kaum Nuh lewat dan melihatnya membuat bahtera itu, mereka mengejeknya dengan bermacam-macam pertanyaan yang mencemoohkannya. Ejekan dan cemoohan itu timbul karena mereka semua belum mengenal bahtera dan cara memakainya termasuk Nabi Nuh a.s. sendiri.
Sikap Nuh a.s. dalam menghadapi ejekan dan cemoohan kaumnya dinyatakan dalam jawabannya: "Kalau kamu mengejek kami membuat bahtera ini karena mematuhi perintah Allah dalam rangka usaha untuk menyelamatkan kami dan umat kami, maka kami pun akan mengejek kamu."
Sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ejekan balasan dari Nuh a.s. itu ialah azab dunia yang akan menimpa kaumnya sehingga ia tidak akan mempedulikan mereka lagi. Jadi Nuh sendiri tidak mengadakan ejekan karena dianggap kurang wajar bagi seorang Nabi. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak ada salahnya bahwa ejekan balasan itu benar-benar datang dari Nuh a.s. sesuai dengan firman Allah swt.:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
Artinya:
Barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu.
(Q.S. Al-Baqarah: 194)
Dan firman Allah:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ
Artinya:
Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.
(Q.S. An Nahl: 126)
Dan firman Allah:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
Artinya:
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.
(Q.S. Asy Syura: 40)
Al-Alusi berpendapat bahwa kedua ejekan itu (ejekan kaumnya Nuh, ejekan Nabi Nuh a.s. sebagai balasan) memang terjadi. (

39. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. `(QS. 11:39)

فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ (39)

Pada ayat ini diterangkan lanjutan perkataan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya yang mengejek itu dengan mengatakan apabila mereka belum tahu hari ini apa gunanya bahtera yang sedang dibuatnya itu, maka pasti mereka akan mengetahuinya kelak setelah bahtera itu selesai dibuat, dan mereka ditenggelamkan.
Sebenarnya perkataan Nabi Nuh a.s. itu bukanlah sekadar jawaban atas ejekan mereka saja akan tetapi sebagai ancaman akan datangnya azab kepada mereka. Sebab apabila mereka sadar niscaya mereka akan dapat menilai dan merasakan bahwa perkataan Nabi Nuh a.s. itu tidak lagi sebagai biasa yang selalu mereka anggap sekadar menakut-nakuti saja yang tidak akan ada kenyataannya. Tetapi kali ini sudah dalam tahap persiapan untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman dari bahaya azab yang akan memusnahkan orang-orang yang sangat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya itu.

40. Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman:` Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. `Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.(QS. 11:40)

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ (40)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa Nabi Nuh a.s. dalam melaksanakan pembuatan bahtera itu dengan segala macam persiapannya sangat bersungguh-sungguh dan banyak menerima ejekan dan cemoohan dari kaumnya sehingga datanglah saatnya perintah Allah untuk membinasakan kaumnya yang kafir itu lalu bumi pun memancarkan air meluap-luap seperti meluapnya air yang mendidih dari kuali di dapur tempat memasak sehingga menenggelamkan segala apa yang ada di permukaan bumi.
Maka Allah memerintahkan kepada Nuh a.s. agar membawa ke dalam bahtera itu sepasang (jantan dan betina) dari tiap jenis binatang agar keturunannya dapat berkembang biak sesudah air bah yang dinamakan topan itu reda. Selain dari itu Allah memerintahkan Nuh a.s. membawa ke dalam bahtera itu semua keluarganya yang laki-laki dan perempuan kecuali yang tidak beriman karena mereka akan turut tenggelam. Begitu juga Allah memerintahkan Nuh a.s. membawa ke dalam bahtera itu semua orang-orang yang beriman yang jumlahnya hanya sedikit. Sebagian mufassirin ada yang mengatakan bahwa yang dibawa oleh Nuh ke dalam bahtera itu dari keluarganya ialah seorang istrinya yang beriman dan tiga putranya dari istri yang beriman itu, yaitu Syam, Ham dan Yafis.
Adapun jumlah orang-orang yang beriman yang dibawa Nuh a.s. ke dalam bahtera itu tidak terdapat keterangannya dalam Alquran atau pun dalam hadis. Tetapi di dalam ayat ini hanya diterangkan bahwa jumlah mereka hanyalah sedikit. Pada permulaan ayat ini dan permulaan ayat 42 yang akan datang dilukiskan sebagian dari kisah topan itu dan pada ayat-ayat lain dilukiskan lebih banyak seperti dalam firman Allah swt.:
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ "
Artinya:
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).
(Q.S. Al-Qamar: 11-14)

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=11#Top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar