Senin, 23 April 2012

Huud 61 - 70

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=11#Top
DEPAG / Surah Huud 61

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (61)

61. Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: `Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).`(QS. 11:61)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengutus seorang utusan kepada kaum Samud namanya Saleh. Ia menyeru mereka supaya hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan sembahan-sembahan yang telah membawa mereka kepada jalan yang salah dan menyesatkan. Allahlah yang menciptakan mereka dari tanah. Dari tanah itulah diciptakan-Nya Adam a.s. dan dari itu pulalah asal mula semua manusia karena manusia dalam rahim ibunya berasal dari air mani. Setetes air mani itu setelah membuahi telur dalam rahim berkembang menjadi segumpal daging lalu membentuk kerangka tubuh berupa tulang-tulang, dan tulang-tulang ini dibalut dengan daging sehingga menjadi janin dalam rahim. Kemudian setelah sempurna semua anggota badannya ia keluar sebagai bayi. Mani itu berasal dari makanan yang dimakan manusia sedangkan makanan itu baik yang berupa tumbuh-tumbuhan maupun berupa daging binatang semua berasal dari tanah juga. Setelah manusia berkembang biak di atas bumi mereka diserahi Allah tugas memakmurkannya sebagai anugerah dan karunia daripada-Nya. Dengan karunia itu kaum Samud telah hidup senang bahkan mereka telah dapat pula membuat rumah tempat berlindung seperti tersebut dalam firman Allah:
وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ
Artinya:
Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman.
(Q.S. Al-Hijr: 82)
Demikian besarnya karunia dan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Maka wajiblah mereka mensyukuri nikmat itu dengan mengagungkan dan memuliakan-Nya dan tidak menyembah selain-Nya dan seharusnyalah mereka bertobat kepada-Nya, karena ketelanjuran mereka berbuat kesesatan menyembah sembahan-sembahan selain Dia. Bila mereka menyadari hal ini dan dengan sungguh-sungguh bertobat kepada-Nya tentulah Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha menerima tobat mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Inilah yang diserukan dan dianjurkan Nabi Saleh a.s. kepada kaumnya itu.


62. Kaum Tsamud berkata: `Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.`(QS. 11:62)

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ (62)

Seruan yang demikian baiknya dan disertai dengan alasan-alasan yang dapat diterima serta dikuatkan dengan janji, bahwa mereka akan mendapat ampunan dari Allah Yang Maha Pemurah, ditolak mentah-mentah oleh kaumnya. Mereka menjawab: "Hai Saleh, engkau adalah tumpuan harapan kami karena engkau adalah orang yang terpandang, orang yang arif bijaksana, keturunan orang-orang mulia di antara kami dan kami percaya bahwa engkau akan dapat memimpin kami ke jalan yang benar. Tetapi semua harapan kami itu telah engkau kecewakan dengan seruanmu. Kami merasa heran kenapa kamu larang kami menyembah tuhan-tuhan kami yang telah menjadi sembahan kami dan nenek moyang kami sejak dahulu kala? Selama ini tidak seorang pun di antara kami yang menyalahkan kami atau menjelek-jelekkan tuhan-tuhan kami. Kami tetap hidup rukun dan damai penuh kebahagiaan dan terjauh dari silang sengketa. Kalau begitu engkau bukanlah orang yang kami harapkan kepemimpinannya, engkau adalah pemecah belah di antara kami, engkau adalah seorang yang sangat kami ragukan kebenaran dan kesehatan akalnya. Janganlah engkau mencoba-coba untuk menyesatkan kami karena akibatnya akan merugikan dirimu sendiri."

63. Shaleh berkata: `Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat daripada-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.(QS. 11:63)

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ (63)

Nabi Saleh a.s. menjawab sangkaan dan tantangan kaumnya itu bahwa seruannya itu adalah seruan yang benar untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka sendiri, jika mau memikirkan dan mempertimbangkannya. Hai kaumku cobalah kamu pertimbangkan dengan sebaik-baiknya, jika ternyata akulah yang benar dan aku dapat mengemukakan bukti-bukti dari Tuhanku atas kebenaran seruanku itu kemudian Dia memberikan rahmat dan karunia-Nya kepadaku, apakah mungkin aku mendurhakainya dan enggan menyampaikan seruan ini kepadamu? Siapakah yang dapat menolongku jika Dia membinasakanku karena kedurhakaan itu? Aku harus menyampaikan kebenaranku ini dan menjelaskan kepadamu bahwa sembahan-sembahanmu itu dan berhala-berhalamu itu tidak dapat menolong kamu sedikit pun. Oleh karena itu sembahlah Tuhan Allah yang menciptakan kamu dan memberi nikmat dan karunia kepadamu sehingga kamu dapat hidup senang di muka bumi ini. Aku tidak akan mempedulikan celaan dan cercaanmu itu karena aku lebih mengutamakan keridaan Tuhanku dari keridaanmu. Kamu dengan purbasangkamu dan anjuranmu supaya aku meninggalkan seruanku dan kembali menyembah berhala-berhalamu itu akan menjerumuskan aku ke lembah kehinaan dan kerugian.

64. Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.`(QS. 11:64)

وَيَا قَوْمِ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ (64)

Nabi Saleh a.s. mengatakan kepada kaumnya yang ingkar itu, bahwa kalau kamu tidak percaya akan seruanku ini, maka Allah telah mengirimkan seekor unta yang istimewa sebagai bukti atas kebenaran seruanku. Unta ini jauh berbeda sifat dan tingkah lakunya dari unta biasa, baik mengenai makan minumnya, maupun mengenai tabiat dan sifatnya. Maka janganlah kamu ganggu dia dan biarlah dia makan dan minum di tempat yang disukainya. Jika kamu berani mengganggu atau menganiayanya pasti kamu akan ditimpa siksaan dari Allah.

65. Mereka membunuh untuk itu, maka berkata Shaleh: `Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari; itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.`(QS. 11:65)

فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ (65)

Tetapi kaum Samud tetap tidak mempercayainya dan tetap menentang dan memperolok-olokannya bahkan membunuh unta yang dikirimkan Allah sebagai mukjizat itu. Nabi Saleh a.s. sangat bersedih hati atas tindakan kaumnya, karena dia yakin mereka akan dibinasakan Allah lantaran perbuatan mereka membunuh unta itu. Lalu beliau berkata: "Kamu diberi kesempatan oleh Allah bersenang-senang hidup di negeri ini selama tiga hari, dan sesudah itu kamu akan dibinasakan karena keingkaran dan kedurhakaan kamu. Ini adalah suatu janji dari Allah, yang pasti terlaksana dan kamu akan melihat sendiri.

66. Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(QS. 11:66)

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (66)

Tatkala datang malapetaka yang diancamkan Allah kepada kaum Samud sebagai siksaan dan balasan atas kedurhakaan mereka, Allah swt. menyelamatkan Nabi Saleh a.s. dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan karunia dan rahmat-Nya dari azab dan siksaan itu dari kehinaan yang menimpa kaum Samud, pada hari tersebut mereka yang durhaka dimusnahkan semuanya dan terputuslah dari rahmat Allah. Mereka mendapat nama buruk dalam sejarah manusia yang tentu saja akan dianggap sebagai lembaran hitam yang menodai kemurnian dan ketinggian martabat manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sungguh amat berat siksaan yang ditimpakan Allah kepada mereka, tetapi tindakan itu adalah adil dan sesuai dengan dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Allahlah yang berhak melakukannya dan Dialah yang dapat melaksanakannya karena Dia adalah Maha Perkasa dan Maha Kuasa.

67. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka,(QS. 11:67)

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (67)

Kaum Samud dibinasakan Allah dengan suara keras yang mengguntur, mengguncangkan hati setiap pendengarnya dan menimbulkan gempa yang amat dahsyat sehingga orang yang berdosa dan durhaka itu jatuh tersungkur tidak sadarkan diri lalu ditelan oleh bumi yang telah rengkah dan pecah belah dan tidak seorang pun di antara mereka yang dapat menyelamatkan diri dari malapetaka itu.

68. seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.(QS. 11:68)

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ (68)

Memang hebat dan dahsyat malapetaka yang ditimpakan kepada mereka sehingga dalam sesaat saja mereka sudah musnah semuanya, seakan-akan mereka tidak pernah ada di muka bumi, seakan-akan kampung halaman mereka tidak pernah didiami oleh manusia, hilang lenyap dan musnah ditelan bencana. Semua ini adalah lantaran kedurhakaan mereka terhadap Allah dan keingkaran mereka terhadap mukjizat dan bukti-bukti yang diturunkan-Nya. Sepantasnyalah mereka mendapat kutukan dan siksaan yang dahsyat itu.


69. Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: `Selamat.` Ibrahim menjawab: `Selamatlah,` maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.(QS. 11:69)

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (69)

Beberapa malaikat datang mengunjungi Nabi Ibrahim a.s. di rumahnya untuk menyampaikan suatu berita gembira kepadanya. Diriwayatkan dari Ata' bahwa malaikat-malaikat itu terdiri dari Jibril, Mikail dan Israel a.s. Ada pula riwayat yang mengatakan mereka terdiri dari Jibril bersama tujuh malaikat lainnya. Mereka disambut oleh Nabi Ibrahim a.s. dengan sambutan yang baik sekali karena dia yakin bahwa tamunya yang penuh sopan santun mengucapkan salam sebelum memasuki rumahnya adalah tamu-tamu terhormat dari kalangan orang-orang yang baik. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang Arab Badui bila kedatangan tamu, mereka harus disuguhi hidangan yang istimewa sesuai dengan kesanggupan tuan rumah. Nabi Ibrahim a.s. pun menghidangkan untuk tamu-tamunya itu makanan yang lezat yaitu seekor domba yang dibakar di atas batu yang dipanaskan dan mempersilakan mereka menikmati makanan yang istimewa itu. Tetapi tamu-tamu itu tidak mau menyentuh makanan itu, karena mereka adalah malaikat yang menyamar seperti manusia, sedang malaikat tidak membutuhkan makanan dan minuman.

70. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: `Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.`(QS. 11:70)

فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ (70)

Karena para tamu tidak mau menyentuh makanan lezat yang dihidangkan itu, maka Nabi Ibrahim a.s. merasa curiga atas niat baik mereka. Biasa di kalangan orang Arab bila tamu tidak makan makanan yang dihidangkan itu adalah suatu tanda tamunya bermaksud jahat terhadapnya. Berbagai macam perasaan seperti curiga, takut dan lain sebagainya telah timbul dari hati Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya, melihat sikap tamu-tamunya itu. Hal ini jelas tampak pada air mukanya yang tadinya berseri-seri, lantas berubah menjadi pucat pasti. Akhirnya para malaikat itu menjelaskan bahwa mereka adalah malaikat yang diutus Allah kepada kaum Lut untuk membinasakan mereka karena mereka adalah kaum yang terkutuk yang tidak mengindahkan peringatan Allah supaya mereka meninggalkan perbuatan maksiat dan terkutuk dan beriman kepada Allah swt. serta kepada risalah yang dibawa Nabi Luth a.s.

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=11#Top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar