Minggu, 08 April 2012

Yunus 71 - 80

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=10#Top

71. Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya:` Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.(QS. 10:71)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 71

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ (71)

Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menceritakan kepada kaum musyrikin Mekah dan lainnya tentang kejadian yang penting dalam riwayat Nabi Nuh a.s. dan kaumnya. Nabi Nuh a.s. menyatakan kepada kaumnya tentang kebulatan tekadnya untuk terus menyebarkan agama Allah seraya menyerahkan sepenuhnya segala keputusan kepada Allah.
Tidaklah dia mempedulikan apakah kaumnya itu keberatan akan kehadirannya di tengah-tengah mereka untuk menyeru mereka menyembah Allah, ataukah pula mereka keberatan akan peringatan yang disampaikannya tentang bukti-bukti keesaan Allah swt. Berkat kebulatan tekad dan ketawakalannya itu, Nabi Nuh a.s. tidak pula ragu-ragu menentang kaumnya supaya mereka membulatkan keputusan mereka dengan mengikutsertakan sembahan-sembahan mereka untuk membinasakan beliau. Bahkan dia menganjurkan kepada mereka agar dalam menetapkan rencana itu terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyian. Kemudian bilamana rencana itu sudah matang dengan permufakatan yang terbuka, Nabi Nuh menyerukan supaya mereka segera melaksanakan rencana pembunuhan terhadap dirinya itu dan tidak menunda-nundanya.

72. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya) `.(QS. 10:72)

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (72)

Kemudian dalam ayat ini Nabi Nuh a.s. mengatakan lagi kepada kaumnya bahwa dia tidak akan minta apa-apa kepada mereka dan tidak memperoleh keuntungan duniawi dari tugas dakwah itu, kecuali pahala dan ganjaran dari Allah swt. Karena itu tidak ada alasan bagi mereka untuk berpaling dari seruannya itu. Sekiranya mereka berpaling dari peringatan-peringatan dan seruan-seruan itu sedikit pun Nabi Nuh tidak dirugikan atau hal itu tidaklah menyusahkan beliau. Dia diperintahkan untuk menjadi orang yang menjunjung tinggi segala perintah Allah swt. dan berserah diri kepada-Nya.

73. Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.(QS. 10:73)

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ (73)

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan meskipun Nabi Nuh a.s. sudah mengemukakan kebenaran seruan dan ajakannya dengan alasan-alasan yang kuat, namun kaumnya terus mengingkarinya dan mendustakan kerasulannya. Manakala kemungkinan mereka beriman telah tertutup, turunlah hukuman Tuhan kepada mereka berupa angin topan yang dahsyat serta banjir yang besar yang menimpa dan menenggelamkan mereka. Nabi Nuh dan orang-orang beriman bersamanya diselamatkan Allah dari bencana taufan itu. Mereka naik ke sebuah bahtera yang mereka buat sebelum kejadian taufan itu atas petunjuk Allah swt. Mereka inilah yang menjadi penghuni bumi dan menggantikan kaum yang telah binasa itu yaitu mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah.
Allah swt. kemudian mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyampaikan berita ini kepada mereka yang terus-menerus ingkar kepada Rasul. Apa yang dialami umat Nabi Nuh itu tentulah akan dialami pula oleh kaumnya bilamana mereka terus-menerus mengingkari kerasulannya.

74. Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.(QS. 10:74)

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ نَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِ الْمُعْتَدِينَ (74)

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan tentang pengutusan Rasul-rasul sesudah peristiwa taufan Nabi Nuh a.s. itu. Nabi-nabi yang diutus itu antara lain Nabi Hud, Saleh, Ibrahim, Lut dan Syuaib a.s. Mereka diutus kepada kaum mereka masing-masing. Nabi Lut kepada kaum `Ad, Nabi Saleh kepada kaum Samud dan Syu'aib diutus kepada kaumnya penduduk Madyan, juga diutus kepada kaum Mu'tarikah, tetangganya. Kedua kaum ini sebenarnya satu rumpun, mereka mempunyai bahasa yang sama dan tanah air yang sama. Tiap-tiap nabi itu datang kepada kaumnya dengan membawa bukti-bukti kebenaran kerasulannya dan memberikan petunjuk kepada kaum itu. Mereka memberikan penjelasan-penjelasan mengenai ketuhanan menurut kemampuan dan tingkatan perkembangan pikiran dan pengamatan kaum itu. Tiap Nabi itu menggariskan pedoman-pedoman hidup bagi kaumnya sesuai pula dengan masa, suasana dan keadaan lingkungan mereka. Kebanyakan kaum Nabi-nabi itu tidak beriman, bahkan mereka mendustakannya sebagaimana kaum Nuh sebelum mereka dalam usaha menentang Nabi-nabi itu. Kebiasaan taklid buta kepada pemuka-pemuka itu selalu diikuti oleh generasi berikutnya. Maka oleh karena itu seperti halnya hati nenek moyang mereka, hati mereka terkunci mati, maka hati nurani generasi berikutnya pun ikut terkunci. Hal demikian itu adalah akibat dari tindakan mereka yang melampaui batas.
Kaum musyrikin Arab yang menentang Nabi Muhammad saw. mengalami kegelapan hati nurani seperti halnya umat-umat yang lampau. Hati mereka tertutup untuk menerima kebenaran. Mereka mendustakan Rasul dan berbuat durhaka yang melampaui batas. Sunah Allah tetap berlaku bagi mereka yang menantang dan mengingkari agama. Jika kaum musyrikin Arab itu tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab Tuhan seperti halnya umat yang lampau itu.
Firman Allah:

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
Artinya:
Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang terdahulu sebelum(mu). Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunah Allah.
(Q.S. Al-Ahzab: 62)  

75. Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.(QS. 10:75)

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى وَهَارُونَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (75)

Sesudah menerangkan pengutusan Rasul-rasul tersebut kepada kaum mereka masing-masing, maka Allah dalam ayat ini menerangkan secara tersendiri pengutusan Musa dan Harun a.s. kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya. Kisah Musa a.s. berulang kali terdapat di dalam Alquran, karena kisah ini mengandung pelajaran yang penting. Musa a.s. adalah seorang utusan Allah yang dihadapkan kepada seorang raja Firaun yang memiliki kekuasaan besar dan raja dari suatu negara yang sudah tinggi peradaban dan kebudayaannya. Karena kebesarannya itulah dia menjadi sombong dan aniaya terhadap rakyatnya. Dia dikelilingi oleh pemuka kaumnya (bangsa Qibty) yang sangat besar pengaruhnya padanya dan banyak menyesatkan pikirannya. Demikian pula rakyat kaum Qibty, penduduk bumi Mesir amat dipengaruhi oleh pemuka-pemuka ini. Kalau pemimpin-pemimpin mereka itu ingkar, maka mereka pun ingkar, kalau mereka beriman, maka mereka turut pula beriman. Segala urusan dan kepentingan mereka senantiasa tergantung kepada pemuka-pemuka ini.
Ketika Nabi Musa membuktikan kebenaran kerasulannya dengan beberapa macam mukjizat, mereka tetap tidak mau beriman dikarenakan keangkuhan yang bersarang dalam kalbu mereka. Akal pikiran mereka sebenarnya, mengakui kebenaran kerasulan Musa a.s. itu. Mereka dapat membedakan antara sihir dengan yang bukan sihir (mukjizat) karena mereka mengetahui apa sebenarnya itu. Namun mereka tetap ingkar karena mereka adalah orang-orang yang penuh dosa.
Firman Allah swt.:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:
Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikan betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
(Q.S. An Naml: 14)

76. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata:` Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata `.(QS. 10:76)

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا إِنَّ هَذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ (76)

Kemudian Allah swt. menerangkan dalam ayat ini anggapan pemuka kaum Firaun itu bahwa mukjizat dan bukti-bukti (kebenaran itu) adalah sihir yang nyata bagi orang-orang yang menyaksikan dan memperhatikannya. Tuduhan mereka itu sangatlah buruk, karena yang melontarkan tuduhan itu menyadari sepenuhnya bahwa tuduhan itu palsu. Keajaiban yang luar biasa yang dilahirkan Musa a.s. itu bukanlah perbuatan dia sendiri, tetapi peristiwa itu adalah mukjizat yang terjadi atas kuasa Allah swt.

77. Musa berkata:` Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?, Padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan `.(QS. 10:77)

قَالَ مُوسَى أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ أَسِحْرٌ هَذَا وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ (77)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bantahan Musa a.s. bahwa tidaklah patut mereka mengucapkan tuduhan sihir terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berupa mukjizat itu ketika ia datang kepada mereka. Mata mereka menyaksikan sendiri kejadian-kejadian yang luar biasa lagi menggentarkan perasaan. Jika peristiwa-peristiwa itu hanyalah sihir tentu pada suatu waktu akan dapat dikalahkan oleh sihir pula. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa ahli sihir mereka tidak berhasil mengalahkan mukjizat Nabi Musa itu. Ahli-ahli sihir tidak akan berhasil memperoleh kemenangan dengan sihirnya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, atau pun perkara-perkara besar pada umumnya. Sihir merupakan sulapan, cepat atau lambat dia akan tersingkap kepalsuannya atau lenyap. 

78. Mereka berkata:` Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua. `(QS. 10:78)

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الْأَرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ (78)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan pemuka-pemuka bangsa Qibty itu. Setelah mereka gagal untuk mengemukakan alasan yang kuat untuk mematahkan alasan Musa a.s., maka mereka mencari-cari alasan untuk membela dan mempertahankan tradisi atau adat-istiadat mereka. Mereka menuduh bahwa kedatangan Musa kepada mereka ialah untuk memaksa mereka meninggalkan kebiasaan adat-istiadat yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, kemudian sesudah itu memaksa mereka mengikuti agama Nabi Musa. Menurut mereka, usaha Nabi Musa demikian itu bertujuan untuk menjadi pemimpin agama dan negara di Mesir bersama saudaranya Harun. Oleh karena mereka memandang Musa a.s. itu akan merubah tradisi dan agama mereka dengan agama yang dibawanya serta keinginannya untuk menjadi raja di Mesir, maka mereka bertekad untuk tidak beriman kepadanya serta tidak menjadi pengikutnya.

79. Firaun berkata (kepada pemuka kaumnya):` Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai! `(QS. 10:79)

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ (79)

Kemudian dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan sikap Firaun sesudah pikirannya dipengaruhi dan diisi dengan tuduhan dan pandangan-pandangan pemuka kaumnya terhadap Musa. Dia lalu memerintahkan mereka untuk memanggil ahli-ahli sihir yang pandai supaya dapat menandingi dan menghancurkan mukjizat-mukjizat Nabi Musa itu. Tindakan Firaun yang demikian untuk memelihara martabat kemuliaannya dan menghambat perkembangan kekuatan Musa dan Bani Israel di kerajaannya.

80. Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka:` Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan. `(QS. 10:80)

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (80)

Kemudian sesudah ahli-ahli sihir dipanggil, datanglah mereka menemui Musa. Mereka menawarkan kepada Musa apakah Musa yang lebih dahulu melontarkan tongkatnya ataukah mereka yang memulai. Maka mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Dengan kekuatan sihir mereka mempesona penglihatan manusia sehingga menakutkan hati mereka yang menyaksikannya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 80
فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (80)
(Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka,) sesudah mereka mengatakan kepadanya, "Kamukah yang akan melemparkan terlebih dahulu ataukah kami yang akan melemparkan?" (Al-A`raf 115) ("Lemparkanlah apa yang hendak kalian lemparkan.")

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar