Senin, 23 April 2012

Huud 91 - 100

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=11#Top
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 91

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ (91)

91. Mereka berkata:` Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. `(QS. 11:91)

Sesudah penduduk Madyan (kaum Syuaib a.s.) merasa muak dan jengkel terhadap Nabi Syuaib a.s. karena semua alasan yang mereka kemukakan untuk menolak seruannya agar mereka meninggalkan sembahan-sembahan yang menyesatkan dan beriman kepada Allah serta mengamalkan ajaran-ajaran-Nya, mereka akhirnya berkata: "Hai Syuaib, kami tidak dapat memahami apa yang engkau kemukakan kepada kami mengenai tuhan-tuhan, sembahan kami dan peraturan-peraturan yang mengekang kebebasan kami untuk bertindak dan mengendalikan harta kekayaan kami, begitu pula tentang azab yang akan menimpa kami jika kami tidak mengikuti kemauanmu. Seakan-akan engkaulah yang menetapkan segala sesuatu dan di tangan engkaulah kebahagiaan dan kecelakaan kami, padahal semua itu adalah semata-mata utusan Tuhan. Kami melihat dan meyakini bahwa engkau adalah seorang lemah yang tak berdaya, tidak mungkin akan dapat membawa manfaat atau mudarat kepada kami, dan bila kami ingin hendak membinasakan engkau, engkau tidak akan membela diri. Kalau tidaklah pandangan dan rasa kasihan terhadap keluarga dan karib kerabatmu, tentulah kami sudah melemparimu dengan batu sampai mati.
Engkau sendiri tidak ada harapan dan tidak ada harganya bagi kami karena engkau bukanlah seorang yang gagah berani dan perkasa yang dapat mempertahankan diri dari serangan orang lain. Hanya semata-mata karena kasihan kepada keluarga dan karib kerabatmulah, kami belum membunuhmu disebabkan mereka masih tetap berada di pihak kami dalam golongan kami dan tidak mau meninggalkan agama kami dan agama nenek moyang kami.

92. Syuaib menjawab:` Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. `(QS. 11:92)

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (92)

Mendengar ucapan kaumnya yang sangat menusuk hati dan menganggapnya sebagai orang yang hina dan tidak berdaya, Nabi Syuaib a.s. berkata: "Sungguh sangat menyedihkan kepicikan pikiranmu dan sangat mengherankan sekali pendapatmu itu. Apakah kamu menganggap kaum kerabatku itu lebih mulia dan lebih perkasa dari Allah Yang Menciptakan mereka; menciptakan kamu semua bahkan menciptakan langit dan bumi? Apakah hanya karena aku berasal dari mereka, sehingga tidak berani melaksanakan ancamanmu itu, bukan karena aku beriman kepada Allah yang akan menyeru kamu supaya kamu menyembah-Nya, tidak mempersekutukan-Nya. Karena Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Pemurah yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadamu sekalian. Patutkah kamu melupakan-Nya dan menganggap enteng kekuasaan dan rahmat-Nya. Dialah yang patut kamu takuti. Dialah yang sewajarnya kamu muliakan, bahkan kaum kerabatku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kehendak Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu lakukan, tak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Dia akan memberi balasan yang setimpal atas keingkaran dan kedurhakaanmu itu.

93. Dan (dia berkata):` Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu. `(QS. 11:93)

وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ (93)

Kemudian Nabi Syuaib a.s. dengan tegas menentang mereka dan mengatakan kepada mereka berbuatlah sekehendak hatimu, lakukanlah apa yang dapat kamu lakukan, dan kumpulkanlah segala kekuatan yang ada pada kamu, aku akan tetap berpegang teguh kepada akidahku, dan aku tetap beriman kepada-Nya dan aku percaya dan yakin bahwa Dia akan melindungiku dan memeliharaku dari segala marabahaya. Kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang akan ditimpa azab dan malapetaka, siapa di antara kita yang bohong dan berdusta, tunggulah nasib yang akan menimpamu, aku pun menunggu bersamamu.
Ini adalah suatu tantangan yang berani dari seorang yang tak berdaya, tak mempunyai penolong dan pembela dari kalangan kaumnya dan tak mempunyai kekuatan yang dapat diandalkan tetapi penuh keyakinan dan kepercayaan bahwa Allah selalu menyertainya dan tidak akan mengabaikan atau menyia-nyiakannya. Inilah tantangan terhadap orang-orang yang sombong dan takabur, selalu membanggakan materiil tetapi lupa bahwa di atas kekuatan materiil ada kekuatan gaib yang dapat menghancurleburkan mereka yaitu kekuatan dan kekuasaan Allah swt.

94. Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggalnya.(QS. 11:94)

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (94)

Sudah menjadi ketetapan dan sunah Allah bagi umat-umat yang dahulu bahwa setiap umat yang durhaka dan menolak seruan Rasul-Nya akan ditimpa malapetaka dan dibinasakan kecuali orang-orang yang beriman dan patuh serta taat kepada Allah. Akhirnya siksaan dan malapetaka itu ditimpakan pula kepada penduduk Madyan dan dengan rahmat dan kasih sayang Allah, Nabi Syuaib a.s. beserta orang-orang yang beriman diselamatkan dari malapetaka itu. Malapetaka itu berupa suara yang keras mengguntur yang mengguncangkan hati setiap orang dan menimbulkan goncangan dan gempa bumi yang maha hebat sehingga penduduk negeri itu dengan sekejap mata hilang ditelan bumi, persis seperti malapetaka yang menimpa kaum Samud, kaum Nabi Saleh a.s. yang ingkar dan durhaka pula.

95. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.(QS. 11:95)

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ (95)

Jadilah negeri Madyan sesudah malapetaka itu sunyi sepi seakan-akan belum pernah didiami manusia. Sungguh celaka nasib mereka dan terjauhlah mereka dari rahmat dan kasih sayang Allah karena keingkaran dan kedurhakaan mereka sama halnya dengan nasib kaum Samud.

96. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata,(QS. 11:96)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (96)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa Dia telah mengutus Musa a.s. dan dilengkapinya dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya dan mukjizat yang nyata dan kesemuanya itu menunjukkan keesaan Allah swt., tidak ada Tuhan melainkan Dia. Ulama tafsir mufakat bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah yang memperkuat kenabian Nabi Musa a.s. ada sembilan macam, yaitu tongkat, tangan putih bercahaya, angin topan, belalang, kutu, darah, kekurangan buah-buahan dan jiwa. Kesembilan tanda-tanda kekuasaan Allah itu telah dicantumkan antara lain dalam firman-Nya:

فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ
Artinya:
Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang yang melihatnya.
(Q.S. Al-A'raf: 107, 108)
Dan firman-Nya:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
Artinya:
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
(Q.S. Al-A'raf: 133)
Dan firman-Nya:

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran.
(Q.S. Al-A'raf: 130)
Di samping kelengkapan mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa a.s. itu Allah swt. juga telah memberikan kefasihan dan kepandaian berhujah, terutama di dalam berdialog dengan Firaun beserta pemimpin-pemimpin kaumnya. Inilah yang dimaksud dengan "sultanan mubina" (mukjizat yang nyata). Sebagian ulama Tafsir berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan "sultanan mubina" pada ayat ini ialah tongkat Nabi Musa a.s. Sekali pun itu termasuk salah satu dari sembilan tanda-tanda kekuasaan Allah swt. sebagaimana tersebut di atas, tetapi dialah yang paling menonjol dibandingkan dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang lain yang diberikan kepada Musa a.s. Dengan mukjizat tongkat itulah, maka ahli-ahli sihir Firaun berbalik, lalu beramai-ramai beriman meninggalkan Firaun dan kepercayaannya yang sesat sebagaimana dalam firman Allah swt.:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ
Artinya:
Dan Kami wahyukan kepada Musa a.s.: "Lemparkanlah tongkatmu." Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta-merta meniarapkan diri dengan bersujud mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam (yaitu) Tuhan Musa dan Harun."
(Q.S. Al-A'raf: 117-122)

97. kepada Firaun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Firaun, padahal perintah Firaun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar.(QS. 11:97)

إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ (97)

Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Nabi Musa a.s. yang diperlengkapi dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mukjizat yang nyata telah diutus kepada Firaun dan pemimpin-pemimpin kaumnya agar mereka menyembah hanya kepada Allah swt., Tuhan seru sekalian alam, karena tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Dia. Meskipun mereka telah melihat dan menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan mukjizat yang nyata yang diperlihatkan oleh Nabi Musa a.s. yang kesemuanya itu menunjukkan atas kekuasaan Allah swt. namun mereka tidak mau sadar bahkan mereka tetap menaati perintah Firaun supaya mereka itu bertuhan dan menyembah kepada Firaun sekali pun Firaun itu tidak benar dan tidak mendatangkan kebaikan bahkan yang demikian itu hanya merusak dan menyesatkan.

98. Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.(QS. 11:98)

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ (98)

Firaun selain ia telah merusak di muka bumi dan menyesatkan kaumnya di dunia pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa di akhirat nanti dia pula akan mengantar kaumnya ke tempat yang telah disediakan untuknya. Ia berjalan di depan dan kaumnya mengiringnya dari belakang sehingga mereka sampai ke neraka lalu mereka dijebloskan ke dalamnya bersama-sama. Alangkah celaka dan meruginya Firaun dan kaumnya karena neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi bahkan sejak mereka meninggalkan dunia itu tiap hari, pagi dan petang selalu ditampakkan kepadanya neraka dan segala siksa yang ada di dalamnya sebagaimana firman Allah swt.:

وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Artinya:
Dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras."
(Q.S. Al-Mu'min: 45, 46)

99. Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.(QS. 11:99)

وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ (99)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa Firaun beserta kaumnya sejak di dunia telah mendapat laknat dari umatnya sesudahnya terus-menerus sampai di akhirat nanti dilaknat lagi oleh orang-orang yang sedang berada di padang Mahsyar menunggu keputusan dari Kadi Rabbul Jalil tentang di mana ia akan ditempatkan nanti. Laknat atau kutukan yang diperoleh mereka adalah satu hal yang paling buruk. Ayat ini sejalan dengan firman Allah swt.:

وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ
Artinya:
Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).
(Q.S. Al-Qasas: 42)

100. Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.(QS. 11:100)


ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَى نَقُصُّهُ عَلَيْكَ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ (100)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada umat terdahulu dan kejadian-kejadian penting baik di kota-kota maupun di desa-desa sejak dari kaum Nabi Nuh a.s. begitu pun hingga kaum Nabi-nabi sesudahnya sengaja dicantumkan di dalam Alquran supaya Muhammad dapat membacakan kepada manusia dan dapat pula dibaca oleh orang-orang mukmin baik di waktu malam maupun di waktu siang untuk dapat dijadikan pelajaran dan peringatan.
Di antara negeri-negeri yang telah dibinasakan itu ada yang masih kelihatan bekas-bekasnya ibarat tanaman yang masih tegak berdiri di muka bumi seperti halnya negeri kaum Nabi Saleh a.s. Ada pula yang tidak mempunyai bekas sama sekali laksana tanaman yang telah dituai yang tidak mempunyai bekas-bekas sedikit pun seperti halnya negeri kaum Nabi Lut a.s. yang telah dijungkirbalikkan itu.

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=11#Top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar