Minggu, 22 April 2012

Huud 111 - 120

Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=6&SuratKe=11#Top

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Huud 111

وَإِنَّ كُلًّا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (111)

111. Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Tuhanmu akan menyempurnakan dengan cukup, (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. 11:111)
Pada ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa orang-orang yang memperselisihkan tentang kebenaran Alquran dan meragukan kedatangannya dari Allah swt., maka Allah akan menyempurnakan dengan cukup balasan amal perbuatan mereka baik di dunia maupun di akhirat karena Allah Maha Mengetahui apa yang telah mereka kerjakan. Perhatikan firman Allah swt.:

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Artinya:
(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.
(Q.S. Ali Imran: 182)
Dan firman-Nya:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Artinya:
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.
(Q.S. Fussilat: 46)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Huud 111
وَإِنَّ كُلًّا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (111)
(Dan sesungguhnya) dapat dibaca wain dan wainna (kepada masing-masing) artinya kepada setiap makhluk (pasti) huruf maa adalah zaidah, sedangkan huruf lam adalah mauthiah atau pendahuluan bagi qasam atau sumpah, atau lam fariqah. Menurut qiraat yang lain lamaa dibaca tasydid sehingga menjadi lammaa yang maknanya sama dengan illaa sedangkan huruf in sebelumnya bermakna nafi (Rabbmu akan menyempurnakan dengan cukup amal perbuatan mereka) yakni pembalasannya. (Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan) Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan yang terlahirkan daripadanya.

112. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. 11:112)

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (112)

Pada ayat ini Allah swt. memberikan tuntutan kepada Nabi Muhammad saw. terhadap apa yang semestinya ia perbuat di kala umatnya melancarkan tantangan dan meragukan Alquran yang dibawanya, yaitu supaya Nabi Muhammad saw. tetap pada pendiriannya berjalan di atas jalan yang lurus dan benar menyampaikan syariat yang diamanatkan kepadanya, melaksanakan risalahnya dan jangan sampai terlintas di dalam hatinya akan meninggalkan sebahagian dari apa yang telah diwahyukan kepadanya, karena kekejaman fitnahan umatnya sebagaimana firman Allah swt.:

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ
Artinya:
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu.
(Q.S. Hud: 12)
Begitu pula orang-orang yang telah sadar dan insaf serta bertobat dari kemusyrikan dan kekafirannya dan telah beriman bersama Muhammad saw. supaya tetap dalam pendiriannya mempertahankan akidah tauhidnya dan jangan sekali-kali bergeser dari jalan yang lurus dan benar yang telah diimani dan diyakininya, karena Allah swt. melihat dan mengetahui semuanya itu. Sejalan dengan ayat ini firman Allah swt.:

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Artinya:
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu; Allahlah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).
(Q.S. Asy Syura: 15)

113. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(QS. 11:113)

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113)

Pada ayat ini Allah swt. menandaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw. dan menganut agamanya supaya jangan sekali-kali cenderung kepada orang-orang lalim, yaitu musuh-musuh kaum muslimin yang selalu menyakitinya dan orang-orang musyrik yang selalu berusaha mengembalikannya kepada kemusyrikan. Jangan sekali-kali minta bantuan dan pertolongan dari mereka, seakan-akan mereka telah dijadikan pemimpinnya, karena bila hal itu sudah sampai kepada derajat yang demikian, maka termasuklah orang-orang mukmin itu seperti mereka juga yang tidak akan mendapat petunjuk sebagaimana firman Allah swt.:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.
(Q.S. Al-Ma'idah: 51)
Satu-satunya yang dapat dijadikan pemimpin dan diminta bantuan dan pertolongannya hanya kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat selain dari itu, maka ia termasuk orang yang lalim yang tak mempunyai penolong sebagaimana firman Allah swt.:

وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Artinya:
Tidaklah ada bagi orang-orang yang lalim itu seorang penolong pun.
(Q.S. Al-Ma'idah: 72)

114. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(QS. 11:114)

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (114)

Pada ayat ini Allah swt. memerintahkan agar kaum Muslimin mendirikan salat lengkap dengan rukun dan syaratnya, tetap dikerjakan lima kali dalam sehari semalam menurut waktu yang telah ditentukan, yaitu salat subuh, Zuhur dan asar, Magrib dan Isyak. Sejalan dengan ayat ini firman Allah swt.:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ
Artinya:
Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit, dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.
(Q.S. Ar Rum: 17, 18)
Arti tasbih dalam ayat 117 surat Ar-Rum ini mencakup ibadah salat. Salat yang didirikan dengan sempurna, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya penuh khusyuk dan keikhlasan adalah puncak ibadah, penghubung antara hamba dengan Tuhan, pembersih tubuh dan penyuci jiwa, penyebab tercapainya rida Allah swt. Pada ayat ini Allah swt. menerangkan juga bahwa perbuatan-perbuatan yang baik yang garis besarnya ialah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangannya akan menghapuskan dosa-dosa kecil dan perbuatan-perbuatan buruk. Ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw.:

أتبعوا السيئات بالحسنات فإن الحسنات يذهبن السيئات
Artinya:
Iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan yang baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk itu.
(H.R. At Tirmizi dari Abu Zar Al-Giffari)
Dan firman Allah swt.:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
Artinya:
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).
(Q.S. An Nisa': 31)
Pesan-pesan terdahulu seperti perintah istikamah, larangan berbuat aniaya dan memihak kepada orang-orang lalim serta perintah mendirikan salat adalah merupakan pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang sadar dan insaf yang selalu ingat kepada Allah swt.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Huud 114
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (114)
(Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang) yaitu di waktu pagi dan sore; yang dimaksud adalah salat subuh, zuhur dan asar (dan pada bagian permulaan) lafal zulafan adalah bentuk jamak dari kata tunggal zulfatan, artinya beberapa bagian (dari malam hari) yaitu salat isyak dan magrib. (Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu) seperti menjalankan salat lima waktu (menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk) yakni dosa-dosa yang kecil. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang sahabat yang mencium perempuan bukan muhrimnya. Kemudian sahabat itu menceritakannya kepada Nabi saw. Maka Nabi saw. bersabda sampai dengan perkataannya berikut ini, "...hal ini berlaku bagi umatku seluruhnya." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. (Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat) sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

115. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.(QS. 11:115)

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (115)

Pada ayat ini Allah swt. memerintahkan supaya berlaku sabar. Yang dimaksud dengan sabar dalam ayat ini ialah tabah dan tahan menghadapi segala kesulitan di dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sabar dan salat adalah dua amal yang kembar yang dapat dijadikan penolong untuk dapat mengatasi segala kesulitan yang dihadapi sehingga dengan mudah dapat sampai kepada yang dicita-citakan dan menggembirakan. Tidak sedikit ayat yang menganjurkan supaya sabar dan salat itu dijadikan penolong. Antara lain firman Allah swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu.
(Q.S. Al-Baqarah: 153)
Dan firman-Nya:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى
Artinya:
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari supaya kamu merasa senang.
(Q.S. Taha: 130)
Ayat ini disudahi dengan suatu penegasan bahwa Allah swt. tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan seperti sabar, tetapi Allah swt. akan menyempurnakan pahalanya sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
(Q.S. Az Zumar: 10)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Huud 115
وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (115)
(Dan bersabarlah) hai Muhammad, di dalam menghadapi perlakuan kaummu yang menyakitkan itu; atau bersabarlah kamu di dalam menjalankan salat (karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan) bersabar di dalam menjalankan ketaatan.

116. Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.(QS. 11:116)

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (116)

Pada ayat ini Allah swt. menyatakan celaan-Nya kepada orang-orang pintar, cerdik pandai yang tidak melarang orang-orang sesamanya berbuat kerusakan di muka bumi, padahal akal yang sehat, pikiran yang cerdas yang dimiliki mereka itu cukup untuk dapat mengerti dan memahami kebaikan yang diserukan oleh para Rasul itu. Hanya sedikit saja di antara mereka yang mempergunakan akal sihatnya, pikiran dan kecerdasannya untuk melarang berbuat yang mungkar, menyuruh berbuat yang baik, maka mereka yang sedikit itulah yang diselamatkan oleh Allah swt. Orang-orang yang cerdik pandai yang lalim dahulu itu, lebih mementingkan kemewahan dan kesenangan yang berlebih-lebihan yang menyebabkan mereka itu menjadi sombong, takabur dan fasik. Ajakan Rasul kepada kebaikan ditentangnya, bahkan mereka berbuat sebaliknya. Kejahatan diperkembang, tidak ada seorangpun di antara mereka yang melarang orang lain berbuat yang mungkar. Oleh karena dosa yang diperbuat mereka itu sudah terlalu berat, maka binasa dan hancur-leburlah mereka itu. Sesuai dengan firman Allah swt.:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Artinya:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku kepadanya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
(Q.S. Al-Isra': 16)

117. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.(QS. 11:117)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (117)

Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa, Dia tidak akan membinasakan suatu negeri jika penduduk negeri itu masih suka berbuat kebaikan, tidak mengadakan kelaliman seperti mengurangi timbangan sebagaimana halnya kaum Nabi Syuaib a.s., tidak melakukan perbuatan liwat (homoseksual) seperti halnya kaum Nabi Lut a.s., tidak patuh kepada pimpinannya yang kejam dan bengis seperti halnya kaum Firaun, dan kejahatan lain, karena yang demikian adalah suatu kelaliman. Allah swt. mustahil menyuruh melakukan yang demikian itu. Firman Allah swt.:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Artinya:
Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-(Nya).
(Q.S. Fussilat: 46)
Dan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak berbuat lalim kepada manusia sedikit pun.
(Q.S. Yunus: 44)

118. Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,(QS. 11:118)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118)

Pada ayat ini, Allah swt. menjelaskan bahwa kalau Dia menghendaki, maka manusia menjadi umat yang satu dalam beragama sesuai dengan fitrah asal kejadiannya, tidak mempunyai ikhtiar sehingga samalah mereka itu seperti semut dan lebah di dalam hidup bermasyarakat dan seperti malaikat di dalam hidup kerohanian yang diciptakan hanya untuk taat kepada Allah, berakidah yang benar, dan tidak akan berbuat curang dan khianat. Tetapi Allah swt. menjadikan manusia itu mempunyai usaha berbuat dengan ikhtiar tanpa ada paksaan dan dijadikan berbeda-beda tentang kemampuan dan pengetahuannya. Sekalipun pada mulanya manusia itu merupakan umat yang satu tidak terdapat perselisihan di antara mereka, tetapi setelah mereka berkembang biak, timbullah keperluan dan keinginan yang berbeda-beda maka timbul pulalah perbedaan dan perselisihan yang tak habis-habisnya sebagaimana firman Allah swt.:

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا
Artinya:
Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih.
(Q.S. Yunus: 19)

119. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.(QS. 11:119)

إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119)

Di samping manusia yang asyik berselisih, tidak saja berselisih tentang agama yang dianut oleh masing-masing kaum seperti agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrik, dan Islam, tetapi juga penganut dari satu agama senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang mendapat rahmat dari Allah, diberi taufik dan hidayah. Mereka itu bersatu dan selalu mengusahakan persatuan agar manusia taat kepada peraturan dan ketentuan Allah swt., mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Demikian kehendak Allah swt. mengenai kejadian manusia. Ada yang mendapat rahmat, taufik dan hidayah dari Allah swt., maka tetaplah mereka bersatu dan menggalang persatuan dan mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang bahagia yang akan menjadi penghuni surga. Ada pula yang tak putus-putusnya dan termasuklah mereka dalam golongan orang-orang yang celaka yang menjadi penghuni neraka. Anas bin Malik pernah berkata: "Manusia itu diciptakan sebagiannya berada di surga dan sebagian yang lain berada di neraka Sa'ir. Oleh karena itu Allah swt. mengakhiri ayat ini dengan satu ketegasan bahwa telah menjadi ketentuan-Nya akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia yang selalu berbuat jahat dan dosa di muka bumi ini.

120. Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.(QS. 11:120)

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (120)

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa kisah-kisah Rasul yang terdahulu bersama umatnya, seperti peristiwa perbantahan dan permusuhan di antara mereka, keluhan para Nabi karena kaumnya mendustakan dan menyakitinya dan sebagainya, semuanya itu berguna untuk meneguhkan hati Rasulullah saw., laksana gunung yang tak tergoyahkan oleh apa pun untuk mengemban tugas kerasulan dan menyiarkan dakwahnya karena telah mencontoh kepada Rasul-rasul sebelumnya yang telah mendapat tantangan hebat sekali dari kaumnya. Selain dari itu, kisah-kisah tersebut juga menanamkan kebenaran yang mantap, keyakinan yang mendalam tentang apa yang diserukan para Rasul, seperti akidah bahwa Allah swt. adalah Esa, bertobat dan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas, meninggalkan kejahatan baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Kesemuanya itu merupakan pengajaran dan peringatan yang bermanfaat bagi orang-orang yang percaya bahwa umat terdahulu itu ditimpakan azab kepadanya adalah karena mereka telah berbuat aniaya dan kerusakan di muka bumi.


Surah HUUD
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah HUUD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar