Senin, 09 April 2012

Al Baqarah 41 - 50

 Surah Al-Baqarah
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Baqarah
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=2#Top

41. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.(QS. 2:41)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 41

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41)

Dalam ayat ini terdapat empat macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israel, yaitu:
1.Agar mereka beriman kepada Alquran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw, yaitu Rasul terakhir yang diutus Allah kepada seluruh umat manusia.
Walaupun keharusan ini pada hakikatnya telah termasuk dalam perintah Allah yang disebutkan pada ayat yang lalu, yaitu agar mereka memenuhi janji yang antara lain beriman kepada setiap rasul dan kitab yang dibawanya, namun Allah menegaskan lagi perintah ini secara khusus, untuk menunjukkan bahwa beriman kepada Alquran itu adalah sangat penting, sebab Alquran itu membenarkan 75) apa-apa yang telah tercantum dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat. Dan juga membenarkan kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah kepada Nabi nabi yang sebelumnya. Perintah-perintah yang dibawa Alquran, antara lain perintah agar melakukan dakwah, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun tidak, suruhan untuk berbuat kebaikan, larangan berbuat yang mungkar, mempercayai adanya hari akhirat, sebagai hati pembalasan. Hal itu sama dengan apa yang telah diserukan oleh Nabi Musa a.s. kepada mereka dan juga oleh nabi-nabi tersebut adalah sama, yaitu: mengokohkan yang hak, memberikan bimbingan kepada semua makhluk serta membasmi kesesatan yang telah mengotori akidah yang benar.

2.Agar mereka jangan tergesa-gesa mengingkari Alquran itu sehingga mereka menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, padahal seharusnya merekalah orang yang mula-mula beriman dengannya, sebab mereka telah lebih dahulu mengetahui hakikat karena telah diberitakan dalam kitab suci mereka.
Dalam sejarah Nabi Muhammad saw, disebutkan bahwa ketika beliau datang ke Madinah, maka orang-orang Yahudi yang ada di sana mendustakan beliau. Kemudian diikuti pula oleh orang-orang Yahudi lainnya dari Bani Quraizah, Bani Nadir dan selanjutnya oleh semua orang orang Yahudi.
3.Agar mereka jangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Maksudnya, mereka jangan berpaling dengan meninggalkan petunjuk-petunjuk Alquran itu untuk mengejar keuntungan yang sedikit, berupa harta ataupun pangkat. Keuntungan-keuntungan yang diharapkan itu adalah kecil sekali karena dengan demikian mereka tidak akan memperoleh rida Allah, bahkan sebaliknya mereka akan ditimpa azab-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak.
4.Agar mereka bertakwa hanya kepada Allah semata-mata, yaitu dengan beriman kepada-Nya serta mengikuti yang benar dan meninggalkan kelezatan duniawi ini apabila ternyata kelezatan duniawi itu menghalangi pekerjaan-pekerjaan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.

42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.(QS. 2:42)

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (42)

Dalam ayat ini terdapat dua macam perintah Allah. yang ditujukan kepada Bani Israel, yaitu:
1.Agar mereka jangan mencampur adukkan yang hak dengan yang batil Maksudnya, pemimpin-pemimpin Bani Israel itu suka memasukkan pendapat-pendapat pribadi mereka ke dalam kitab Taurat, sehingga sukar untuk membedakan mana yang benar, terutama dalam penolakan mereka untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw. mereka membuat-buat alasan-alasan untuk menjelek-jelekkannya dan menyalah tafsirkan ucapan ucapan nenek moyang mereka, sehingga mereka lebih berpegang kepada ucapan para pemimpin dan tradisi mereka dari pada menerima ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Walaupun perintah itu ditujukan kepada Bani Israel, namun isinya dapat pula dihadapkan kepada kaum muslimin dari segala lapisan, terutama para pemimpin dan orang-orang yang memegang kekuasaan, sehingga ayat ini seakan-akan mengatakan:
Hai orang-orang yang memegang kekuasaan! Janganlah kamu campur adukkan antara keadilan dengan kelaliman. Hai para hakim! Janganlah kamu campur adukkan antara hukum dan suap. Hai para pejabat! Janganlah kamu campur adukkan antara tugas dan korupsi. Hai para sarjana! Janganlah kamu campur adukkan antara ilmu dan harta dan sebagainya.
2.Agar mereka jangan menyembunyikan kebenaran, pada hal mereka mengetahuinya. Maksudnya Bani Israel itu telah menyembunyikan kebenaran-kebenaran yang telah mereka ketahui dari kitab-kitab suci mereka, antara lain ialah berita dari Allah swt. tentang Nabi Muhammad saw. yang akan diutus sebagai penutup dari semua rasul-rasul Allah untuk seluruh umat manusia. Hal ini sengaja mereka tutupi terhadap rakyat umum, bahkan mereka berusaha menjelekkan Nabi Muhammad saw. untuk menghalangi manusia beriman kepadanya. Ayat ini mencela perbuatan mereka yang demikian itu dan setiap orang yang dengan sengaja menyembunyikan sesuatu yang benar.
Sesudah Allah menyampaikan seruan kepada mereka untuk beriman kepada Alquran, lalu pada ayat berikut ini Allah memerintahkan agar mereka senantiasa melaksanakan apa-apa yang telah ditentukan oleh syarak terutama mendirikan salat, menunaikan zakat dan tunduk serta taat kepada perintah-perintah Allah swt.

43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku.(QS. 2:43)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43)

Pada ayat ini terdapat pula tiga macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israel, ialah:
1.Agar mereka mendirikan salat, yaitu melaksanakan salat dengan cara yang sebaik-baiknya dengan melengkapi segala syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta menjaga waktu-waktunya yang telah ditentukan dan menghadapkan seluruh hati kepada-Nya dengan tulus dan khusuk. Inilah jiwa dari ibadah salat. Adapun bentuk lahir dari pada ibadah salat ini adalah formalitas yang dapat berbeda-beda caranya menurut perbedaan agama, namun isi dan jiwanya tetap sama.
2.Agar mereka menunaikan zakat, karena zakat itu merupakan salah satu dari pernyataan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya dan menumbuhkan hubungan yang erat antar sesama manusia dan karena zakat itu merupakan pengorbanan harta benda untuk membantu fakir miskin. Dengan zakat itu pula dapat dilakukan kerja sama dan saling membantu dalam masyarakat, di mana orang-orang yang miskin memerlukan bantuan dari yang kaya dan sebaliknya, yang kaya pun memerlukan pertolongan orang-orang yang miskin. Dalam hubungan ini Rasulullah saw. telah bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
Artinya:
Orang Mukmin terhadap mukmin yang lain tak obahnya seperti sebuah bangunan, masing-masing bagiannya saling menguatkan (HR Bukhari dan Muslim)
3.Agar mereka rukuk bersama orang-orang yang rukuk. Maksudnya ialah agar mereka masuk dalam jemaah kaum muslimin dan agar mendirikan salat sebagaimana mereka mengerjakannya. Jadi ayat ini menganjurkan untuk mendirikan salat dengan berjemaah yang merupakan perpaduan jiwa dalam bermunajat kepada Allah dan menumbuhkan hubungan yang erat antara sesama mukmin dan karena dalam kesempatan berjemaah itu mereka dapat pula mengadakan musyawarah sesudah beribadah, untuk merundingkan usaha-usaha yang akan mereka lakukan, baik untuk memperoleh sesuatu kebaikan, maupun untuk membendung malapetaka yang akan menimpa. Dalam hubungan ini Rasulullah pun telah bersabda:

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
Artinya:
Salat berjemaah itu lebih utama daripada salat sendirian dengan beda 27 derajat lebih tinggi daripada salat seorang diri". (HR Bukhari dan Muslim)
Kita telah mengetahui, bahwa salat menurut agama Islam terdiri dari bermacam-macam gerakan jasmaniyah, seperti rukuk, sujud, iktidal dan sebagainya. Tetapi pada akhir ayat ini salat tersebut hanya diungkapkan dengan kata-kata "rukuk ini adalah untuk menekankan agar mereka menunaikan salat itu benar-benar seperti yang dikehendaki syariat Islam, seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw bukan salat menurut cara mereka dahulunya, yaitu salat tanpa rukuk.

44. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?(QS. 2:44)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (44)

Firman Allah swt, dalam ayat ini juga ditujukan kepada Pendeta pendeta Yahudi. Allah telah mencela tingkah laku dan perbuatan mereka yang tidak baik dan ditunjukkan-Nya kepada mereka jalan keluar dari kesesatan-kesesatan itu. Di antara kesesatan-kesesatan yang telah mereka lakukan ialah bahwa bangsa Yahudi mengatakan bahwa mereka beriman kepada kitab-kitab suci mereka, yaitu Taurat dan mereka melaksanakan petunjuk-petunjuknya dan akan tetap memelihara dan membacanya. Akan tetapi ternyata mereka tidak membacanya dengan baik karena membaca dengan baik berarti mengimaninya menurut cara yang diridai Allah. Pendeta-pendeta mereka yang bertugas untuk menyuruh dan melarang, hanya mau menyebutkan yang hak yang terdapat dalam ajaran kitab suci itu, apabila sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka dan mereka tidak mengerjakan hukum-hukum yang terdapat dalam kitab itu apabila berlawanan dengan hawa nafsu mereka. Pendeta-pendeta Yahudi yang berada di kota Madinah secara rahasia menasihatkan kepada orang orang lain untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw, akan tetapi mereka sendiri tak mau beriman kepadanya. Mereka menyuruh orang lain untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari perbuatan maksiat tetapi mereka sendiri melakukan per buatan-perbuatan maksiat itu.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka "melupakan" diri mereka. Maksudnya ialah "membiarkan" diri mereka merugi, sebab sudah tentu bahwa biasanya manusia tidak pernah melupakan dirinya untuk memperoleh keuntungan dan ia tak rela apabila wing lain mendahuluinya mendapat kebahagiaan. Maka ungkapan "melupakan" itu menunjukkan betapa mereka melalaikan dan tidak memuliakan apa-apa yang sepatutnya mereka lakukan.
Maka seakan-akan Allah berfirman, "Jika benar-benar kamu yakin kepada janji Allah bahwa Dia akan memberikan pahala atas perbuatan yang baik dan Dia mengancam akan mengazab orang-orang yang meninggalkan perbuatan perbuatan yang baik itu, maka mengapakah kamu melupakan kepentingan dirimu sendiri".
Cukup jelas bahwa susunan kalimat ini mengandung celaan yang tak ada taranya karena barang siapa menyuruh orang-orang lain untuk melakukan sesuatu perbuatan kebaikan padahal ia sendiri tidak melakukannya, berarti ia telah menyalahi ucapannya sendiri.
Para pendeta yang selalu membacakan kitab suci itu kepada orang-orang lain lebih mengetahui isi kitab itu dari orang yang mereka suruh untuk mengikutinya. Dan adalah besar sekali perbedaan antara orang yang melakukan suatu perbuatan, padahal ia belum mengetahui benar-benar faedah dari perbuatan itu, dengan orang yang meninggalkan perbuatan itu padahal ia mengetahui benar-benar faedah dari perbuatan yang ditinggalkannya itu.
Oleh sebab itu Allah swt, memandang bahwa mereka seolah-olah tidak berakal, sebab orang yang berakal, betapa pun lemahnya, tentu akan mengamalkan ilmu pengetahuannya itu.
Firman Allah swt. ini, walaupun ditujukan kepada bangsa Yahudi, namun ia menjadi pelajaran pula bagi yang lain. Sebab itu, setiap bangsa, baik perseorangan maupun keseluruhannya, hendaklah memperhatikan keadaan dirinya dan berusaha untuk menjauhkan diri dari keadaan dan sifat-sifat seperti yang terdapat pada bangsa Yahudi itu yang dikritik dalam ayat tersebut di atas, supaya tidak menemui akibat seperti yang mereka alami.

45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu,(QS. 2:45)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45)

Setelah menjelaskan betapa jeleknya keadaan dan sifat-sifat bangsa Yahudi, sehingga akal mereka tidak bermanfaat bagi din mereka dan kitab suci yang ada di tangan mereka pun tidak mendatangkan faedah apapun bagi mereka, maka Allah swt. memberikan bimbingan kepada mereka menuju jalan yang paling baik, yaitu agar mereka menjadikan kesabaran dan salatnya sebagai penolong mereka.
Yang dimaksud dengan "sabar" di sini ialah tabah dalam melaksanakan hal hal berikut:
1.Menahan diri dari kehendak hawa nafsu yang menyimpang dan ajaran agama.
2.Menaati kewajiban-kewajiban yang biasanya dirasakan berat oleh jiwa
3.Menerima dengan sabar, tawakal dan rendah hati semua musibah yang ditakdirkan Allah, setelah berserah diri kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya.
Menjadikan kesabaran itu sebagai penolong, berarti mengikuti perintah perintah Allah swt. dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya, dengan cara mengekang syahwat dan hawa nafsu dari semua perbuatan yang terlarang. Juga melakukan salat, itu mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan dengan salat itu pula kita selalu ingat kepada Allah swt, sehingga hal itu akan menghalangi kita dari perbuatan-perbuatan yang jelek, baik diketahui orang lain, maupun tidak. Salat adalah ibadah yang sangat utama di mana kita dapat bermunajat dengan Allah swt. lima kali setiap hari. Menurut riwayat Imam Ahmad, Rasulullah saw segera melakukan salat, setiap kali beliau menghadapi kesulitan, kalau ditimpa sesuatu musibah. Demikian pula dilakukan oleh para sahabat beliau.
Melakukan salat dirasakan berat dan sukar, kecuali oleh orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang benar-benar beriman dan taat kepada Allah swt. dan melakukan perintah-perintah-Nya dengan ikhlas karena mengharapkan rida-Nya semata-mata serta memelihara diri dari azab-Nya. Bagi mereka ini, mendirikan salat tiadalah dirasakan berat, sebab pada saat-saat tersebut mereka tekun dan tenggelam dalam bermunajat dengan Allah swt. sehingga mereka tidak lagi merasakan dan mengingat sesuatu pun yang lain, berupa kesukaran-kesukaran dan penderitaan yang telah mereka alami sebelumnya. Mengenai hal ini Rasulullah saw telah bersabda:

قرة عيني فى الصلاة
Artinya:
Ketenangan hatiku adalah dalam salat
Ini disebabkan karena ketekunannya dalam melakukan salat itu merupakan sesuatu yang amat menyenangkan baginya, sedang urusan-urusan lainnya untuk duniawi adalah memayahkan dan melelahkan.
Di samping itu mereka penuh pengharapan menanti-nanti pahala dari Allah swt. atas ibadah tersebut sehingga terasa ringan bagi mereka untuk melalui kesukaran-kesukaran dalam melaksanakan. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab barangsiapa mengetahui hakikat dari pada yang dicarinya, niscaya ringan baginya untuk mengorbankan apa saja untuk memperolehnya. Dan barangsiapa yakin bahwa Allah swt. akan memberikan ganti yang lebih besar dari apa yang telah diberikannya niscaya terasa ringan baginya untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang ada.

46. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(QS. 2:46)

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)

Di antara sifat-sifat tersebut ialah bahwa mereka benar-benar yakin bahwa mereka pasti akan kembali kepada Allah swt. dan menemui-Nya pada hari akhirat nanti, di mana semua amalan manusia akan diteliti dan setiap orang akan menerima balasan atas semua perbuatan yang telah dilakukannya selama di dunia ini.
Berdasarkan keyakinan semacam itu, maka dia akan selalu taat kepada peraturan-peraturan Allah swt. serta khusyuk dalam menjalankan ibadah dan amal-amal kebaikan.
Orang-orang yang hanya suka menyuruh orang lain untuk berbuat kebaikan padahal mereka sendiri melupakan kebaikan-kebaikan itu, maka iman mereka sangat lemah, jauh di bawah tingkat "keyakinan", terutama keimanan kepada Kitab Suci yang selalu mereka bacakan dan mereka ajarkan kepada orang lain yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan agama.

47. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.(QS. 2:47)

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47)

Allah swt. telah melebihkan mereka itu dahulunya terhadap bangsa lain yang pada masa itu telah mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, misalnya bangsa Mesir dan penduduk tanah suci Palestina. Allah swt, memanggil mereka lagi pada permulaan ayat ini dengan menyebut nama nenek moyang mereka "Israel", ialah Nabi Yakub karena dialah yang menjadi asal kebangsaan dan sumber kemuliaan mereka. Dan nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya dapat dinikmati oleh mereka semuanya.
Kelebihan yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka itu dahulunya adalah karena nenek moyang mereka itu sangat berpegang teguh kepada sifat-sifat yang mulia dan menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan jelek karena setiap orang yang dirinya mulia dan dilebihkan dari orang-orang lain tentu ingin menjaga kehormatan itu, sehingga ia menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan rendah.
Karena Bani Israel yang ada pada masa turunnya ayat ini telah jauh menyimpang dari sifat-sifat yang mulia yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka dulunya, maka Allah swt, memperingatkan mereka kepada nikmat-Nya dan kelebihan yang telah diberikan kepada mereka itu dulunya, menyadarkan mereka bahwa karena Allah swt, telah memberikan kelebihan itu kepada mereka tentu Dia berhak pula untuk suatu ketika memberikannya kepada orang lain, misalnya kepada Nabi Muhammad saw dan umatnya dan bahwa Bani Israel itu sepatutnya lebih memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Seseorang yang diberi kelebihan itu tentunya sepatutnya lebih dahulu dari orang-orang lain berbuat keutamaan. Apabila keutamaan yang diberikan kepada Bani Israel itu disebabkan karena banyaknya para nabi dipilih dari kalangan mereka, maka hal itu tidaklah menjamin bahwa setiap pribadi dari Bani Israel itu lebih utama dari setiap orang yang berada di luar lingkungan mereka. Dan bahkan ada kemungkinan bahwa orang lain itu lebih mulia dari mereka apabila mereka sendiri telah meninggalkan sunah dan ajaran-ajaran nabi-nabi mereka itu. Sementara orang-orang lain bahkan menjadikannya petunjuk dan pedoman hidup mereka dengan sebaik-baiknya.
Dan apabila keutamaan mereka itu, disebabkan dekatnya mereka kepada Allah swt, sehingga mereka pernah disebutkan "sya'bullah", lantaran mereka dulunya mengikuti syariat-syariat-Nya, maka hal itu hanya berlaku pada diri nabi-nabi tersebut bersama orang-orang yang menjalankan syariat-syariat mereka itu selama mereka tidak menyimpang dari ajaran-ajaran tersebut dan selama mereka tetap berjalan pada jalan yang benar yang disebabkan mereka berhak menerima kelebihan dan keutamaan itu. Akan tetapi mereka yang sudah meninggalkan ajaran-ajaran para Nabi, tidaklah dapat dipandang sebagai "orang-orang yang dekat" kepada Allah swt.

48. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan akan ditolong.(QS. 2:48)

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (48)

Allah memperingatkan kepada Bani Israel yang ada pada waktu turunnya ayat-ayat ini, agar mereka kembali ke jalan yang benar, yaitu mengikuti agama Allah, yang telah disempurnakan dengan wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dengan jalan itulah mereka dapat menjaga diri mereka dari azab Hari Kiamat yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun juga, tak seorang pun dapat menyelamatkan diri dari pada-Nya kecuali orang-orang yang beriman dan bertakwa serta mengikuti syariat dan petunjuk-petunjuk-Nya.
Allah swt, menjelaskan bahwa pada Han Kiamat itu nanti tak seorang pun dapat memberikan pertolongan kepada orang lain dari azab-Nya dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Orang tak dapat pula turut memikul dosa orang lain, walaupun ia bersedia.
Dalam hubungan ini Allah swt. berfirman.

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ
Artinya:
Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain . (Q.S Al An'am: 164)
Dan Firman-Nya yang lain:

وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُربَى
Artinya:
Jika seorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya sendiri. (Q.S Fatir: 18)
\P Dalam firman-Nya juga:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)
Artinya:
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (Q.S 'Abasa: 34-37)
Walau peringatan ini ditujukan kepada Bani Israel, namun berlaku juga bagi umat Islam, agar kita selama hidup di dunia ini berusaha mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya, agar kelak terhindar dari azab Allah pada hari kiamat kelak. Jalannya ialah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah swt. dan melaksanakan syariat-syariat-Nya

49. Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka meyembelih anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.(QS. 2:49)

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (49)

Dalam ayat ini, Allah swt. mengingatkan lagi kepada mereka tentang nikmat-nikmat-Nya yang lain, yaitu bahwa mereka telah diselamatkan-Nya dari kesengsaraan yang mereka alami, yang timbul dari kekejaman Firaun 81) raja negeri Mesir, di waktu Bani Israel itu bertempat tinggal di sana.
Orang yang pertama-tama dari kalangan Bani Israel itu yang masuk ke Negeri Mesir, ialah Nabi Yusuf a.s. Kemudian saudara-saudaranya datang pula ke sana dan tinggal bersamanya. Selanjutnya, keturunan mereka itulah yang berkembang biak di sana, sehingga dalam masa 400 tahun saja jumlah mereka telah mencapai 600.000 orang. Penduduk asli telah terdesak karena Bani Israel itu giat bekerja dan memiliki pikiran yang lebih cerdas. Di samping itu mereka sangat mementingkan diri sendiri karena mereka masih tetap menganggap diri mereka sebagai sya`bullah. Sebab itu, mereka tidak mau bersatu padu dengan penduduk asli di sana dan tidak mau bekerja sama dan membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat keadaan yang demikian, maka penduduk ash negeri itu semakin merasa khawatir, sebab apabila Bani Israel itu semakin banyak jumlahnya maka mereka akan menguasai keadaan dan penduduk asli sendiri akan semakin terdesak. Oleh sebab itu mereka berusaha untuk melemahkan kekuatan Bani Israel itu. Mula-mula dengan mewajibkan kerja paksa kepada mereka. Kemudian semakin meningkat dengan pembunuhan anak-anak lelaki mereka dan hanya anak-anak perempuan mereka yang dibiarkan hidup. Raja Firaun memerintahkan kepada setiap suku-suku rakyatnya untuk membunuh setiap lelaki Bani Israel itu walaupun anak-anak kecil mereka.
Penderitaan yang dialami Bani Israel itu merupakan ujian bagi mereka karena mereka telah melupakan nikmat-nikmat dan mereka telah melakukan bermacam-macam dosa. Kemudian Allah swt. mengampuni dan menerima tobat mereka dan dikaruniakan-Nya pula nikmat yang besar, yaitu mereka diselamatkan-Nya dari kesengsaraan yang mereka alami dari kekejaman Firaun itu. Tetapi rahmat inipun merupakan ujian bagi mereka, apakah nantinya mereka akan mensyukuri nikmat itu atau tidak.
Kita Umat Islam dapat pelajaran yang berharga dari kisah Bani Israel itu. Allah swt. mula-mula telah melimpahkan bermacam-macam nikmat-Nya kepada umat Islam, sehingga umat ini telah bersatu di bawah panji-panji Islam dan hidup dalam persaudaraan yang kokoh, sehingga berhasil membangun negara Islam yang kuat, Akan tetapi kemudian terjadilah perpecahan di antara umat Islam, sehingga Allah swt. mendatangkan malapetaka kepada mereka.
Kerajaan Bani Abbas di Bagdad diruntuhkan oleh bangsa Tartar. Kemudian terjadi perang Salib dalam waktu yang panjang. Sementara itu bangsa-bangsa barat menyusup ke negeri-negeri Islam, menguasai sumber-sumber kekayaan sehingga umat Islam di mana-mana menjadi lemah, takluk di bawah kekuasaan kaum penjajah. Barulah akhir-akhir ini negara Islam dapat bangkit kembali dan berhasil memerdekakan negeri mereka dari kekuasaan penjajah.
50. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.(QS. 2:50)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 50

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (50)

Maka dalam ayat-ayat ini Allah swt. menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada mereka, yaitu bahwa Dia telah menyelamatkan mereka dulunya ketika mereka meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa a.s. dikejar oleh Firaun bersama tentaranya.
Setelah Allah swt. mengangkat Musa a.s. menjadi Rasul-Nya, Dia memerintahkan supaya menyeru Firaun dan kaumnya untuk beriman kepada-Nya dan agar menuntut kepada Firaun supaya membebaskan Bani Israel yang berada di negeri itu dan untuk menghentikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan terhadap mereka. Sebagai jawabannya, Firaun memperhebat siksaan dan kekejaman mereka terhadap Bani Israel itu dan diperintahkannya kepada rakyatnya untuk meningkatkan kerja paksa yang ditimpakan kepada mereka itu.
Allah swt. lalu memberikan mukjizat-mukjizat kepada Musa a.s. dan saudaranya, yaitu Nabi Harun, antara lain ialah. tongkat Nabi Musa a.s. dapat berubah menjadi ular dan dapat menelan ular-ular yang dijelmakan oleh ahli ahli sihir yang dikerahkan Firaun untuk melawan mukjizat Nabi Musa a.s.
Melihat kenyataan-kenyataan itu, para ahli sihir itu pun mengakui kekalahan mereka, lalu menyatakan beriman kepada Tuhan. Akhirnya Firaun mengusir dan mengejar-ngejar mereka.
Maka berangkatlah mereka meninggalkan negeri itu di bawah pimpinan Musa a.s., sedangkan Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka.
Ketika mereka itu sampai di tepi laut Qulzum, yaitu laut Merah yang membatasi negeri Mesir dengan semenanjung Sinai, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa a.s. supaya memukulkan tongkatnya ke laut itu. Lalu Musa a.s. melakukannya, maka terbelahlah air laut itu dan terbentanglah dua belas jalur jalan raya yang akan dilalui Nabi Musa a.s. bersama pengikut-pengikutnya yang terdiri dari dua belas rombongan, sehingga selamatlah mereka sampai ke seberang.
Sementara itu Firaun bersama tentaranya terus mengejar mereka tetapi ketika mereka sampai di tengah-tengah laut itu, maka air laut kembali bertaut, sehingga mereka semuanya tenggelam ditelan air laut. Kejadian itu disaksikan oleh Bani Israel yang telah selamat ke seberang.
Terbelahnya laut merupakan salah satu dari mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s. untuk membuktikan kepada manusia bahwa Allah adalah Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan alam ini dan Dia pula yang menetapkan undang-undang alam yang berlaku sepanjang masa dan Dia berkuasa pula merubah atau membatalkan undang-undang alam tersebut apabila dikehendaki-Nya. Hukum-hukum alam yang berlaku pada air ialah bahwa air sebagai salah satu benda cair tidaklah dapat terpisah tanpa adanya benda lain yang memisahkannya. Undang-undang inilah yang dirubah dan dibatalkan-Nya ketika terbelahnya air laut itu. Air laut bersibak dan berdiri seperti dinding-dinding yang tegak lurus tanpa adanya sesuatu yang menahannya, sehingga terbentanglah jalan raya di antara dinding-dinding tersebut.
Demikianlah besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Bani Israel itu. Mereka telah dibebaskan dari kekejaman Firaun dan rakyatnya. Kemudian mereka diselamatkan pula ketika menyeberang laut. Sesudah itu mereka dapat pula menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya musuh-musuh mereka di tengah laut yang tentu saja menggembirakan hati mereka. Sepatutnyalah mereka mensyukuri mikmat-nikmat tersebut.

 Surah Al-Baqarah
Kembali ke Daftar Surah                               Kembali ke Surah Al-Baqarah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar