Minggu, 08 April 2012

Yunus 61 - 70

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=10#Top

61. Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS. 10:61)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 61

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (61)

Allah swt. menyeru Rasul-Nya dan umat manusia yang menaatinya, bahwa pada saat Rasulullah melaksanakan urusan yang penting yang menyangkut masyarakat pada saat membacakan ayat-ayat Alquran yang mengatur semua urusan itu dan pada saat manusia melaksanakan amal perbuatannya tidak ada yang terlepas dari pengawasan Allah. Dia menyaksikan semua amal perbuatan itu pada saat dilakukannya.
Yang termasuk urusan penting dalam ayat ini ialah segala macam urusan yang menyangkut kepentingan umat seperti urusan dakwah Islamiah, yaitu mengajak umat agar mengikuti jalan yang lurus dengan cara yang bijaksana dan suri teladan yang baik, membangunkan kesadaran umat agar tertarik untuk melakukan perintah agama dan menjauhi larangan-larangan-Nya termasuk pula urusan pendidikan umat dan cara-cara merealisir pendidikan itu hingga menjadi kenyataan yang berfaedah bagi kesejahteraan umat. Disebutkan pula bahwa ayat-ayat Alquran yang dibaca itu mencakup semua urusan berdasarkan pola-pola pelaksanaannya, tidak boleh menyimpang daripadanya karena urusan segala umat secara prinsip telah diatur dalam kitab itu.
Kemudian disebutkan semua amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya agar kaum muslimin tergugah hatinya untuk melakukan perbuatan yang telah digariskan oleh wahyu yang diturunkan pada Rasul-Nya, dan mempedomani fungsi isi dari wahyu itu dalam urusannya sehari-hari, serta menaati Rasul karena apa yang diucapkan dan dikerjakan Rasul itu menjadi suri teladan yang baik bagi seluruh umat.
Dalam ayat itu Allah swt. menandaskan, bahwa segala macam amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tidak ada satu pun yang terlepas dari ilmu Allah meskipun amalan itu lebih kecil dari benda yang terkecil, atau pun urusan itu maha penting sehingga tak terkendalikan oleh manusia. Disebutkannya urusan yang kecil dari yang terkecil dan urusan yang maha penting agar tergambar dalam hati para hamba-Nya, bahwa ilmu Allah itu begitu sempurna sehingga tidak ada satu urusan pun yang terlepas dari ilmu-Nya, bagaimanapun remehnya urusan itu dan bagaimana pentingnya urusan itu, walaupun urusan itu di luar kemampuan manusia.
Ilmu Allah tidak hanya meliputi segala macam urusan yang ada di bumi yang kebiasaannya urusan ini dapat dibayangkan oleh mereka secara mudah. Juga meliputi segala macam urusan di langit yang urusannya lebih rumit dan lebih sukar tergambar dalam pikiran mereka. Hal ini untuk menguatkan arti dari keluasan ilmu Allah sehingga terasalah keagungan dan kekuasaan-Nya.
Di akhir ayat ini Allah swt. menyatakan dengan tandas bahwa tidak ada satu urusan pun melainkan tercatat dalam kitab yang nyata yaitu Lohmahfuz, maksudnya segala macam urusan itu semuanya terkontrol dan terkendali serta terkuasai oleh ilmu Allah Yang Maha Luas itu dan tercatat dalam kitab-Nya yang bernilai tinggi dan sempurna uraiannya.
Allah swt. berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
Artinya:
Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.
(Q.S. Al-An'am: 59)

62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. 10:62)

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)

Allah swt. menghadapkan perhatian kaum Muslimin agar mereka mempunyai kesadaran yang penuh, bahwa sesungguhnya wali-wali Allah tidak akan merasakan kekhawatiran dan gundah hati.
Dimaksudkan dengan wali-wali Allah dalam ayat ini ialah orang-orang yang takwa sebagai sebutan bagi orang-orang yang membela agama Allah dan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum-Nya di tengah-tengah masyarakat, dan sebagai lawan kata dari orang-orang yang memusuhi agama-Nya seperti orang-orang musyrikin dan orang kafir. (Perhatikan tafsir surah Al-An'am: 51-55)
Dikatakan tidak ada kekhawatiran bagi mereka karena mereka yakin bahwa janji Allah pasti akan datang, dan pertolongan-Nya tentu akan tiba, serta petunjuk-Nya tentu membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan apabila ada bencana menimpa mereka, mereka tetap bersabar menghadapi dan mengatasinya dengan penuh ketabahan dan tawakal kepada Allah. (Perhatikan tafsir surah Al-Baqarah: 249)
Dan tidak pula gundah hati mereka karena mereka telah meyakini dan rela bahwa segala sesuatu yang bersangkut paut di bawah hukum-hukum Allah berada dalam genggaman-Nya. Mereka tidak gundah hati lantaran berpisah dengan dunia, karena kenikmatan yang akan diterima di akhirat adalah kenikmatan yang besar. Dan mereka takut akan menerima azab Allah di hari pembalasan karena mereka dan seluruh hatinya telah dibaktikan kepada agama yang menurut petunjuk-Nya. Mereka tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, karena telah mendapatkan petunjuk yang tak ternilai besarnya. (Perhatikan tafsir surah Al-Baqarah: 2 dan surah Al-Anfal: 29)

63. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.(QS. 10:63)

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)
Kemudian daripada itu Allah swt. menjelaskan siapa yang dimaksud dengan wali-wali Allah yang berbahagia itu dan apakah sebabnya maka mereka itu demikian. Penjelasan yang didapat dalam ayat ini wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhir dan segala kejadian yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertakwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah yang mengatur tata alam semesta, atau pun hukum syarak yang mengatur tata hidup manusia di dunia. (Perhatikan tafsir surah Al-Anfal: 10)

64. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.(QS. 10:64)
 

لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)

Sesudah itu Allah swt. menjelaskan bahwa mereka mendapat kabar gembira yang mereka dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan kehidupan mereka di akhirat. Kabar gembira yang mereka dapati ini ialah kabar gembira yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya. Kabar gembira yang mereka dapati di dunia, seperti kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan kalimat Allah, kesuksesan hidup karena menempuh jalan yang benar, harapan yang diperoleh sebagai khalifah di dunia selama mereka tetap berpegang kepada hukum Allah dan membela kebenaran agama Allah akan mendapat husnul khatimah. Adapun kabar gembira yang akan mereka dapati di akhirat yaitu selamat dari kubur, dari sentuhan api neraka dan kekalnya mereka di dalam surga Aden. (Perhatikan tafsir surah Al-Anfal: 10)
Kemudian Allah swt. menegaskan bahwa tidak ada perubahan dari janji-janji Allah. Maksudnya bahwa kabar gembira yang telah dijanjikan Allah di dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh sabda Rasul-Nya baik janji Allah yang mereka dapati di dunia dan yang akan mereka dapati di akhirat itu, tidak akan ada perubahannya lagi karena hal itu adalah hasil dari iman yang benar yang mereka pegangi dan buah dari takwa yang mereka lakukan.
Di akhir ayat ini Allah swt. menyatakan bahwa segala apa yang mereka dapati adalah kemenangan yang gilang-gemilang yang tak ada tandingannya di dunia, yaitu kebahagiaan hidup di surga dan terlepas dari siksa neraka.

65. Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 10:65)

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (65)

Dalam pada itu Allah swt. melarang kaum Muslimin merasa risau dan gundah lantaran perkataan orang-orang musyrikin yang memusuhi agama Allah dan mendustakan wahyu Allah itu karena sesungguhnya kemenangan, kekuatan, dan perlindungan itu tidaklah mereka miliki tetapi Allahlah yang berkuasa untuk memberikan kesemuanya itu kepada makhluk-Nya menurut kehendak-Nya. Kaum Muslimin dilarang takut menghadapi orang-orang musyrikin lantaran jumlahnya yang besar. (Perhatikan tafsir surah Al-Anfal: 10)
Di akhir ayat Allah swt. menegaskan bahwa Dialah Yang Maha Mendengar terhadap perkataan orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul dan mendustakan kebenaran wahyu. Lagi Yang Maha Mengetahui tindakan-tindakan mereka yang dilakukan terhadap Nabi dan pengikutnya, seperti tipu daya mereka untuk mengalahkan agama tauhid dan penganiayaan mereka terhadap Nabi dan pengikut-pengikutnya.

66. Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.(QS. 10:66)

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (66)

Allah swt. mengingatkan kaum Muslimin bahwa semua yang ada di langit dan di bumi serta seluruh benda penyusunannya berada di bawah kekuasaan Allah termasuk pula patung-patung yang mereka sembah dan mereka perserikatkan dengan berada di dalam kekuasaan-Nya pula. Orang-orang musyrik mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain itu bukanlah berdasarkan pada keyakinan yang benar, akan tetapi hanyalah berdasarkan pada persangkaan belaka. Mereka menyembah patung-patung karena adanya suatu anggapan, bahwa patung-patung yang mereka sembah itu dapat menolong mereka, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah dan dapat melancarkan jalan agar doa-doa mereka dikabulkan Allah. Anggapan serupa itu timbul dalam pikiran mereka, karena mereka menganggap bahwa Allah itu sama dengan pemimpin-pemimpin serta pembesar-pembesar mereka yang bengis dan lalim. Apabila mereka ingin berhubungan dengan pembesar-pembesar mereka atau ingin menyampaikan permohonan kepada mereka, permohonan itu tidaklah akan diterima atau mendapat pelayanan sebagaimana mestinya apabila tidak terlebih dahulu melalui tangan-tangan kanan pemimpin mereka.
Di akhir ayat Allah swt. menegaskan, bahwa orang-orang musyrikin mengikuti dugaan-dugaan seperti itu adalah karena mengikuti kebodohan yang tidak akan membawa kepada kebenaran sedikit pun.

67. Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.(QS. 10:67)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (67)

Kemudian daripada itu Allah swt. menegaskan kepada kaum Muslimin Allahlah yang menciptakan malam bagi manusia agar supaya manusia itu dapat beristirahat pada waktu itu. Dan Dia pula menciptakan siang terang-benderang oleh cahaya matahari agar manusia pada waktu itu dapat mencari karunia-Nya. Pergantian siang dan malam itu diatur oleh Allah dengan hukum-hukum-Nya. Dengan hukum-hukum-Nyalah maka benda-benda langit beredar dalam orbitnya yang telah ditentukan. Dalam mengatur peredaran benda-benda langit Allah tidak memerlukan tuhan-tuhan yang lain untuk membantu, tetapi cukup dengan hikmah-Nya yang tinggi, Allah berkuasa untuk mengatur peredaran benda-benda itu. Karena peredaran benda-benda langit itu timbullah perbedaan waktu dan perubahan suasana, sehingga manusia dapat mencari waktu yang sesuai guna mencukupi keperluan hidupnya, dan memenuhi kewajibannya terhadap Penciptanya.
Di akhir ayat Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar memperhatikan ayat-ayat yang dibacakan oleh Rasulullah saw. dan memikirkan baik-baik kandungan isinya, serta memperhatikan hukum-hukum Allah yang berlaku terhadap alam semesta dan seisinya, tentu akan mengakui keesaan dan kekuasaan Allah.

68. Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata:` Allah mempunyai anak `. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan apa yang ada di langit dan di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?(QS. 10:68)

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَذَا أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (68)

Allah swt. menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani termasuk pula orang-orang musyrik mengatakan bahwa Allah mempunyai anak seperti misalnya kepercayaan orang-orang Yahudi bahwa Uzair anak Allah, kepercayaan orang-orang Nasrani bahwa Isa Al-Masih putra Allah, dan orang-orang musyrik menduga bahwa para malaikat itu anak perempuan Allah. Allah swt. menyangkal anggapan-anggapan dan tuduhan-tuduhan mereka. Bagaimana mungkin tuduhan-tuduhan itu dapat dibenarkan sebab Dialah Yang Maha Kaya bahkan langit, bumi dan benda-benda yang ada di antaranya adalah ciptaan-Nya; Dialah Yang Menguasai. Allah tidak memerlukan kepada semua benda yang ada itu, malahan sebaliknya mereka itulah yang memerlukan Allah. Apabila manusia memerlukan anak, memang sudah sepantasnya sebab anak itulah yang melanjutkan keturunan dan menjadi kebanggaannya. Akan tetapi Allah tidak memerlukan anak sebab Dialah yang menciptakan manusia dan keturunannya.
Allah swt. menandaskan bahwa orang-orang Ahli Kitab dan orang-orang musyrikin yang beranggapan demikian itu, tidak mempunyai alasan sedikit pun untuk menyatakan kebenaran kepercayaannya, bahkan kepercayaan itu hanyalah menunjukkan kepada kebodohan mereka sendiri. Itulah sebabnya maka Allah swt. menyatakan di akhir ayat, bahwa mereka menyatakan sesuatu yang mereka tidak ketahui kebenarannya, dan itulah suatu kebodohan besar. Apalagi setelah mereka mendapat keterangan-keterangan dari wahyu yang dibacakan, dan mereka masih tetap mempertahankannya, hal ini menunjukkan kebebalan mereka. Dari ayat ini dapatlah diambil pelajaran bahwa orang yang mengatakan sesuatu yang tidak didasarkan pada sumber-sumber yang benar dan tidak mempunyai alasan adalah menunjukkan kepada kebodohan sendiri.

69. Katakanlah:` Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung `.(QS. 10:69)

مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ (70)

Kemudian dari itu Allah swt. memberikan penjelasan bahwa mereka itu memperoleh kesenangan yang sementara di dunia, tertipu oleh kenikmatan dunia yang sementara itu. Kenikmatan dunia itu apabila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat tidak ada artinya sama sekali. Kemudian pada hari kebangkitan mereka akan dikembalikan kepada Allah. Pada masa itulah mereka akan dikumpulkan di padang Mahsyar, dan dimintai pertanggungjawabannya atas semua perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Kemudian Allah swt. akan memberikan siksaan-Nya yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu siksaan yang pedih yang tak teperikan, disebabkan oleh keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan mendustakan Muhammad saw.

71. Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya:` Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.(QS. 10:71)

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ (71)

Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menceritakan kepada kaum musyrikin Mekah dan lainnya tentang kejadian yang penting dalam riwayat Nabi Nuh a.s. dan kaumnya. Nabi Nuh a.s. menyatakan kepada kaumnya tentang kebulatan tekadnya untuk terus menyebarkan agama Allah seraya menyerahkan sepenuhnya segala keputusan kepada Allah.
Tidaklah dia mempedulikan apakah kaumnya itu keberatan akan kehadirannya di tengah-tengah mereka untuk menyeru mereka menyembah Allah, ataukah pula mereka keberatan akan peringatan yang disampaikannya tentang bukti-bukti keesaan Allah swt. Berkat kebulatan tekad dan ketawakalannya itu, Nabi Nuh a.s. tidak pula ragu-ragu menentang kaumnya supaya mereka membulatkan keputusan mereka dengan mengikutsertakan sembahan-sembahan mereka untuk membinasakan beliau. Bahkan dia menganjurkan kepada mereka agar dalam menetapkan rencana itu terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyian. Kemudian bilamana rencana itu sudah matang dengan permufakatan yang terbuka, Nabi Nuh menyerukan supaya mereka segera melaksanakan rencana pembunuhan terhadap dirinya itu dan tidak menunda-nundanya.



SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar