Minggu, 08 April 2012

Yunus 31 - 40

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=10#Top

31. Katakanlah:` Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? `Maka mereka akan menjawab:` Allah `. Maka katakanlah:` Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)? `(QS. 10:31)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 31
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (31)
Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar mengatakan kepada penduduk Mekah yang menentang: "Siapakah yang menurunkan rezeki dari langit dan siapa pula yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi yang beraneka macam untuk manusia atau pun binatang ternak mereka?"
Pertanyaan ini dimaksudkan agar supaya orang-orang musyrikin Mekah itu menyadari diri mereka sendiri dan ingat bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak sanggup menurunkan hujan dan menyadari bahwa yang menurunkan hujan itu ialah Allah swt.
Dan Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan mereka, sehingga dengan kedua indra itu mereka dapat mengenal alam semesta." Dengan demikian manusia dapat mendengar tutur kata orang yang dengan perantaraannya pula dapat menerima ilmu pengetahuan dan pengalaman. Demikian pula dengan penglihatannya manusia dapat melihat keindahan alam dan dapat menerima isyarat-isyarat yang dapat menuntun pikirannya untuk mengetahui penciptaan alam semesta.
Tanpa kedua indra ini, manusia tidak dapat mengetahui dengan sempurna keadaan alam dunia. Dua indra ini disebutkan dalam dua ayat ini karena kedua indra itulah yang menjadi alat untuk menerima ilmu pengetahuan, sehingga manusia mempunyai derajat lebih tinggi daripada hewan, karena meskipun hewan itu mempunyai pendengaran dan penglihatan, tetapi hewan itu tidak diberi akal oleh Allah swt. hingga binatang itu tidak dapat menerima ilmu pengetahuan.
Apabila manusia suka merenungkan siapa yang menciptakan kedua indra itu tentulah ia tidak ragu-ragu lagi bahwa tanpa berpikir panjang mereka dapat menemukan jawabnya. Dan apabila mereka menemukan jawabnya tentulah mereka akan mensyukuri nikmat Allah serta akan beriman dengan iman yang sebenar-benarnya dengan mengakui bahwa tiada Tuhan yang lain kecuali Zat Yang Berkuasa Yang menciptakan pancaindra itu.
Sesudah itu Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah untuk menanyakan kepada orang-orang musyrik: "Siapakah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan, dan siapa yang menciptakan benda hidup dari benda mati dan menciptakan benda mati dari benda hidup?" Pertanyaan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran mereka, bahwa hanya Allahlah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dari bumi yang mati setelah bumi itu diberi kehidupan oleh Allah dengan perantaraan air hujan. Firman Allah swt.:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ
Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya.
(Q.S. Az Zumar: 21)
Tanda-tanda kehidupan pada setiap makhluk berbeda-beda. Sebagai tanda kehidupan pada tumbuh-tumbuhan ialah bahwa tumbuh-tumbuhan itu dapat tumbuh, sedang tanda kehidupan bagi binatang ialah bergerak dan bernafas. Kemudian tanda kehidupan serupa itu mudah dipahami dan diterima oleh akal manusia seimbang serta universal.
Tetapi bagaimanakah tanda-tanda kehidupan dari biji-bijian, baik biji-bijian tunggal atau pun berkeping dua, atau tumbuh-tumbuhan spora, dan bagaimana pula kehidupan dari ovum dan sperma, baik dari binatang atau manusia. Hal ini adalah suatu tanda yang sukar dibayangkan oleh manusia.
Oleh sebab itulah Allah swt. memberikan tamsil ibarat yang mudah dipahami yaitu mengeluarkan benda hidup dari benda mati dan sebaliknya bagaimana mengeluarkan benda mati dari benda hidup untuk menyatakan kekuasaan Allah menciptakan segala benda mati atau pun benda hidup dengan kekuasaan-Nya.
Apabila seseorang meneliti asal mula kejadian biji-bijian, spora, ovum dan sperma serta segala macam asal kehidupan, maka mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa asal mula kehidupan makhluk yang ada di bumi, kesemuanya berasal dari benda mati. Sudah tentu pendapat ini berlawanan
dengan pendapat para ahli biologi yang mengatakan bahwa segala jenis yang hidup tidak akan timbul kecuali dari yang hidup. Memang pendapat ini kelihatannya benar apabila kita tinjau dari siklus peredaran kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan, akan tetapi apabila ditinjau dari asal mula kejadiannya tentulah pendapat tadi tidak benar. Dan selanjutnya Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. untuk menanyakan siapakah yang mengendalikan segala macam urusan makhluk di muka bumi ini? Pengendaliannya sangat mengagumkan. Segala macam kehidupan diatur dengan hukum-hukum yang serasi dan seimbang. Maka bagi orang yang mau merenungkan hukum-hukum-Nya, ia akan memberikan jawaban dari semua pertanyaan bahwa yang menciptakan segala-galanya ialah Allah, Tuhan seru sekalian alam dan Dia pula yang menguasainya.
Di akhir ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi saw. agar mengatakan kepada kaum musyrikin, mengapa mereka itu tidak memelihara diri mereka agar terlepas dari kesesatan? Apabila mereka suka memelihara diri mereka tentulah mereka tidak akan terjerumus kepada kemusyrikan dan menjadi penyembah-penyembah berhala. Sembahan-sembahan selain Allah itu sedikit pun tidak mempunyai kekuasaan untuk mendatangkan kemudaratan atau kemanfaatan kepada mereka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 31
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (31)
(Katakanlah,) kepada mereka ("Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit) yaitu melalui hujan (dan bumi) yaitu melalui tumbuh-tumbuhan (atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran) lafal as-sam`u di sini bermakna al-asma`; artinya yang menciptakan pendengaran (dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?") di antara makhluk semuanya. (Maka mereka katakan,) bahwa Dia ("Allah." Maka katakanlah,) kepada mereka ("Mengapa kalian tidak bertakwa.") kepada-Nya, oleh sebab itu berimanlah kalian.

32. Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?(QS. 10:32)

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (32)
Kemudian Allah swt. mengisyaratkan kepada orang-orang musyrikin Mekah bahwa Zat yang mempunyai sifat-sifat yang telah disebutkan terdahulu ialah Allah Yang memelihara mereka, Dialah Tuhan Yang Hak, Yang Hidup dan menghidupkan. Dan Dialah Yang berhak untuk disembah. Dan Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar menyatakan kepada mereka bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah Yang mempunyai hak untuk mengatur segala urusan di dunia ini. Maka sikap orang yang menghambakan dirinya kepada Allah swt. berarti mereka telah menempuh jalan yang benar dan mendapat petunjuk-Nya, karena mereka menyembah Tuhan yang benar. Tetapi orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah, mereka itulah orang-orang yang sesat, karena mereka menyembah tuhan yang tidak berhak disembah yang mereka anggap sebagai perantara-perantara. Maka setiap orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah mereka adalah orang-orang musyrik dan bergelimang dalam kebatilan serta terjerumus dalam lembah kesesatan.
Di akhir ayat Allah swt. menyalahkan perbuatan mereka mengapa mereka itu menyeleweng dari agama yang benar yaitu agama tauhid kepada agama yang batil seolah-olah mereka itu lari dari petunjuk Allah dan mencari jalan yang sesat, padahal mereka itu mengetahui bukti-bukti kebenaran adanya Allah Tuhan Yang sebenarnya. Dan apabila mereka telah mengetahui bukti-bukti adanya Allah Pencipta alam, maka seharusnyalah mereka tidak mau menyembah tuhan-tuhan yang lain. Sebab apabila terjadi demikian, berarti pengakuan mereka berbeda dengan perbuatan, dan apa yang tergambar dalam hati mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

33. Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.(QS. 10:33)
DEPAG / Surah Yunus 33
كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (33)
Sesudah itu Allah swt. memberikan ancaman kepada orang-orang yang fasik itu dengan ancaman yang tidak dapat diubah lagi karena mereka tidak mau beriman kepada agama yang diserukan oleh Rasul, yaitu agama tauhid dan meninggalkan pemujaan berhala-berhala.
Mereka itu tidak mau percaya kepada agama tauhid bukan karena terpaksa, akan tetapi atas dasar kemauan dan ikhtiar mereka sendiri karena mereka tidak mempunyai pandangan yang benar yang dapat melepaskan diri mereka dari belenggu kemusyrikan. Itulah sebabnya maka jiwa mereka tidak bisa diarahkan kepada pegangan yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang batil. Mereka telah jauh tenggelam dalam kekafiran, sedang mereka sendiri terlalu fanatik kepada kepercayaan nenek moyang mereka.
Firman Allah swt.:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu tidaklah akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Q.S. Yunus: 96, 97)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 33
كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (33)
(Demikianlah) sebagaimana mereka berpaling daripada iman (telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik) yakni orang-orang kafir, seperti yang diungkapkan oleh firman Allah yang lain, yaitu: "Benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam..." (Q.S. Al-A`raf 18, Hud 119, As-Sajdah 32, Shad 85), atau hukuman Allah itu disebabkan (karena mereka tidak beriman.)

34. Katakanlah:` Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali? `Katakanlah:` Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)? `(QS. 10:34)

قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ قُلِ اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (34)
Sesudah itu Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menanyakan kepada mereka, adakah suatu di antara tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu baik berhala atau roh nenek moyang atau binatang-binatang atau planet-planet atau malaikat dan jin, ada yang berkuasa menciptakan makhluk, kemudian menghidupkan kembali sesudah makhluk-makhluk itu mati, sudah tentu mereka tidak akan dapat menjawab. Hal ini disebabkan mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan, hari mereka dihidupkan kembali dari alam kubur. Sesudah itu Allah swt. memberikan jawaban dengan perantaraan Rasul-Nya, bahwa yang berkuasa untuk memulai kehidupan hanyalah Allah dan Dia Yang berkuasa untuk memulai kehidupan atau mengembalikannya seperti keadaannya semula. Mereka tidak mau menerima agama yang benar, yaitu agama tauhid, mereka menyembah berhala dan patung-patung yang mereka lakukan karena kecenderungan jiwa mereka sendiri bukan karena terpaksa.

35. Katakanlah:` Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran? `Katakanlah:` Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran `. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?(QS. 10:35)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 35
قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (35)
Sesudah itu Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. untuk mengemukakan pertanyaan kepada mereka, adakah di antara tuhan-tuhan yang mereka sekutukan dengan Allah itu dapat memberikan petunjuk kepada jalan yang benar seperti yang diterima oleh hamba-hamba-Nya yang beriman.
Firman Allah swt.:

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى
Artinya:
Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya kemudian memberinya petunjuk.
(Q.S. Taha: 50)
Hidayah yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya bermacam-macam:
1. Hidayah yang diperoleh dengan naluri dan insting yang telah diciptakan oleh Allah pada diri manusia dan hewan.
2. Hidayah yang dapat dicapai dengan pancaindra, seperti hidayah yang melalui pendengaran dan penglihatan.
3. Hidayah yang dicapai dengan jalan berpikir dan mengambil petunjuk dari segala macam alat tersebut di atas.
4. Hidayah yang diberikan Allah dengan melalui agama yang diperuntukkan bagi manusia secara keseluruhan yang kedudukannya sama dengan akal untuk masing-masing individu.
5. Hidayah taufik yang dapat dicapai dengan kemauan untuk mencapai kebenaran.
Setelah orang-orang musyrikin tidak mampu memberikan jawaban bahwa tidak ada seorang pun di antara orang-orang musyrikin itu yang merasa dirinya mendapat petunjuk dari tuhan-tuhan yang mereka persekutukan dengan Allah, baik petunjuk yang harus diterima sebagai seorang makhluk atau pun agama yang mereka terima sebagai bimbingan hukum, maka Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. untuk menjawab bahwa Allahlah Yang memberikan petunjuk kepada kebenaran. Baik petunjuk yang diberikan melalui utusan, petunjuk yang diberikan melalui kitab-kitab-Nya, petunjuk yang didapat oleh manusia karena diperintahkan oleh Allah untuk merenungi yang demikian dan memikirkan kejadian alam maupun petunjuk yang diberikan Allah melalui pancaindra.
Sesudah itu Allah swt. memerintahkan kepada Nabi saw. agar menanyakan kepada mereka: "Manakah yang lebih berhak untuk diikuti apakah Zat Yang memberikan petunjuk kepada kebenaran ataukah berhala-berhala yang tidak dapat memberikan petunjuk sedikit pun kepada mereka bahkan tidak dapat mengetahui dirinya sendiri. Mengapa mereka menerima pilihan serupa itu. Kalau mereka mempergunakan akal dan pikiran tentulah mereka akan memilih Zat Yang memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka, yaitu Allah swt. Karena tuhan-tuhan yang lain itu tidak dapat memberikan petunjuk apa-apa.
Di akhir ayat Allah swt. mencela perbuatan mereka apakah gerangan yang menimpa mereka, maka mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai perantara yang dapat menyampaikan ibadah mereka kepada Allah, padahal berhala-berhala itu bukanlah tuhan yang menciptakan, dan bukan yang memberi rezeki serta bukan pula tuhan yang memberi petunjuk. Maka mengapa mereka mengambil keputusan yang tidak adil yaitu menganggap tuhan-tuhan yang mereka persekutukan itu sebagai Tuhan Yang berhak disembah, berhak dimintai pertolongan tanpa izin dari Zat Yang menciptakan. Dari segi ini tampaklah kesesatan orang-orang musyrikin itu dan kejelekan tindakan mereka.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 35
قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (35)
(Katakanlah, "Apakah di antara sekutu-sekutu kalian ada yang dapat menunjuki kepada kebenaran?") dengan menegakkan hujah-hujah dan memberikan petunjuk (Katakanlah, "Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran." Maka apakah Zat yang menunjuki kepada kebenaran itu) yang dimaksud adalah Allah (lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk) lafal yahiddiy asalnya yahtadii; artinya mendapat petunjuk (kecuali bila diberi petunjuk?) lebih berhak untuk diikuti? Kata tanya di sini mengandung makna mengukuhkan dan sekaligus sebagai celaan, makna yang dimaksud ialah bahwa yang pertamalah yang lebih berhak untuk diikuti (Mengapa kalian berbuat demikian? Bagaimanakah kalian mengambil keputusan) dengan keputusan yang rusak ini, yaitu mengikuti orang-orang yang tidak berhak untuk diikuti.

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. 10:36)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 36
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ (36)
Kemudian daripada itu Allah swt. mengemukakan beberapa alasan yang menunjukkan kebenaran agama tauhid dan kesalahan iktikad orang-orang musyrikin, yaitu kebanyakan dari mereka yang mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, memusuhi Rasulullah saw. dan mendustakan hari kebangkitan. Anggapan serupa itu bukanlah keyakinan yang benar, akan tetapi dugaan yang bertaklid buta begitu saja kepada nenek moyang mereka karena mereka menduga bahwa apa yang baik menurut nenek moyang mereka adalah baik buat mereka padahal yang dilakukan oleh nenek moyang mereka itu adalah sesat. Dalam pada itu ada segolongan kecil dari mereka yang mengetahui bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. itulah agama yang benar, dan berhala-berhala yang mereka sembah tidak dapat memberi pengaruh apa-apa kepada mereka. Akan tetapi karena hati mereka dikotori oleh kemusyrikan, dan sikap mereka yang sombong dan ingkar terhadap kerasulan Muhammad serta perasaan mereka yang takut apabila kepemimpinan mereka hilang, maka mereka tetap bertaklid buta kepada nenek moyang mereka, bergelimang dalam kemusyrikan.
Kemudian Allah swt. menerangkan bagaimana keadaan yang sebenarnya dari orang-orang yang mendasarkan keyakinannya kepada dugaan-dugaan itu, bahwa sesungguhnya persangkaan itu sedikit pun tidak berguna untuk mencapai kebenaran. Dugaan-dugaan itu tidak dapat disamakan dengan keyakinan, dan keyakinan tidak bisa terjadi kecuali apabila didasarkan kepada sesuatu yang benar, yaitu kepada yang telah mantap, yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Di akhir ayat Allah swt. menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa saja yang mereka lakukan, baik perbuatan yang didasarkan kepada kepercayaan yang belum pasti kebenarannya, atau pun amal perbuatan yang didasarkan kepada yang telah pasti kebenarannya. Dialah yang mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, dan memberikan balasan sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 36
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ (36)
(Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti) di dalam penyembahan mereka terhadap berhala-berhala (kecuali persangkaan saja) dalam hal ini mereka hanya menirukan apa yang telah diperbuat oleh nenek-moyang mereka (Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran) yang membutuhkan ilmu pengetahuan tentangnya (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan) oleh sebab itu maka Dia membalas semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan itu.

37. Tidaklah mungkin Al quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.(QS. 10:37)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 37
وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (37)
Allah swt. menjelaskan bahwa tidaklah pantas dan tidak masuk akal apabila Alquran itu diciptakan oleh selain Allah. Dan tidak mungkin manusia mampu membuat Alquran itu. Sebagai alasan ketidakmungkinan itu ialah karena siapa pun juga selain Allah swt. tidak akan mampu membuat yang semacam Alquran, dan apabila ada yang merasa mampu membuatnya, maka anggapan serupa itu hanyalah impian belaka yang tidak mungkin terjelma dalam dunia kenyataan. Hal ini pernah diucapkan oleh orang yang paling kafir dan paling memusuhi Nabi Muhammad saw. yaitu Abu Jahal, pada saat mengomentari kejujuran Muhammad: "Bahwa Muhammad tidak pernah berdusta kepada seseorang pun, apakah mungkin ia berdusta kepada Allah."
Jadi apabila tidak mungkin Alquran itu diciptakan oleh selain Allah, maka yang dapat diyakini ialah bahwa Alquran itu hanyalah kalam Allah semata. Alquran itu berfungsi sebagai "pembenar" terhadap kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu kitab yang diturunkan kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa a.s. Alquran itu menjadi pokok-pokok agama yang membimbing umat yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mengamalkan isinya dengan sebaik-baiknya.
Alquran diturunkan kepada Muhammad saw. bukanlah karena wahyu yang telah diturunkan kepada para Nabi-nabi sebelumnya itu tidak benar, akan tetapi karena umat manusia telah melupakan sebagian besar dari pokok-pokok agama mereka, bahkan ada pula yang sengaja memutarbalikkan agama mereka itu dan mencampurinya dengan tradisi-tradisi baru yang diciptakan oleh pemimpin mereka yang merusak pokok ajaran agama mereka itu.
Pokok-pokok ajaran agama mereka itu belum pernah diketahui oleh Nabi Muhammad saw. sebelum ia menjadi utusan yaitu sebelum ia menerima wahyu dari Allah.
Dikatakan bahwa Alquran itu sebagai pembenar terhadap kitab yang sebelumnya, karena Alquran itu membawa pokok-pokok ajaran yang bersesuaian dengan pokok-pokok akidah yang dibawa oleh Ibrahim a.s. Dan karena kedatangan Nabi Muhammad saw. yang menerima wahyu dari Allah itu sesuai dengan isyarat yang terdapat dalam kitab-kitab yang sebelumnya seperti firman Allah swt.:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ
Artinya:
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.
(Q.S. Al-A'raf: 157)
Dan Alquran itu berfungsi sebagai "pemerinci" kandungan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah atau sejenisnya, yaitu kitab-kitab yang mengandung hukum dari Allah, dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia yang berisi akidah, syariat, contoh teladan, nasihat-nasihat dan urusan masyarakat. Alquran itu mengandung petunjuk dan tidak ada bahagian yang dapat diragukan, Alquran itu datang dari Zat Yang menciptakan, dan seandainya Alquran itu bukan kalam Allah sudah tentu akan didapati di dalamnya kesimpang-siuran dan kesalahan yang banyak.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 37
وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (37)
(Tidaklah mungkin Alquran ini dibuat) artinya dibuat-buat (oleh selain Allah) hanya Dialah yang membuatnya bukan selainnya (akan tetapi) Alquran itu diturunkan (membenarkan apa-apa yang sebelumnya) yaitu berupa kitab-kitab sebelumnya (dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya) artinya Alquran itu menjelaskan hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah dan masalah-masalah lainnya (tidak ada keraguan) tidak ada syakwasangka lagi (di dalamnya, diturunkan dari Rabb semesta alam) lafal min rabbil `aalamiina berkaitan dengan lafal tashdiiqan, atau berkaitan dengan lafal unzila yang tidak disebutkan. Lafal tashdiiqan dan lafal tafshiilan dapat pula dibaca rafa' sehingga menjadi tashdiiqun dan tafshiilun akan tetapi berdasarkan perkiraan adanya lafal huwa sebelumnya.

38. Atau (patutkah) mereka mengatakan:` Muhammad membuat-buatnya. `Katakanlah:` (Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. `(QS. 10:38)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 38
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38)
Sesudah itu Allah swt. mengalihkan pembicaraan kepada dugaan orang-orang jahiliah yang mengingkari kerasulan Muhammad saw. dan bahwa Alquran itu ciptaan Muhammad. Menghadapi tuduhan orang-orang jahiliah itu Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. agar menangkis tuduhan mereka bahwa apabila perkataan mereka itu benar, hendaklah mereka membuat sebuah surat yang seumpamanya, daya tariknya, petunjuk ilmunya, gaya bahasanya, susunannya. Sebagai tantangan kepada mereka, Allah swt. menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk mengatakan kepada mereka agar mereka mengajak siapa saja yang dipandang mampu selain Allah untuk membuktikan apa yang mereka ucapkan itu.

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Artinya:
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.
(Q.S. Al-Isra': 88)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 38
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38)
(Atau) patutkah (mereka mengatakan, "Muhammad membuat-buatnya.") yakni Nabi Muhammad saw. telah membuatnya sendiri. (Katakanlah, "Kalau benar yang kalian katakan itu, maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya) dalam hal kefasihan dan keparamasastraannya yang kalian buat sendiri, bukankah kalian itu adalah orang-orang Arab yang fasih dalam berbahasa sama denganku (dan panggillah) untuk membantu dalam hal ini (siapa-siapa yang dapat kalian panggil selain Allah) selain daripada Allah (jika kalian orang-orang yang benar") bahwasanya Alquran itu adalah buatan belaka, niscaya kalian tidak akan mampu melakukannya. Selanjutnya Allah berfirman:

39. Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.(QS. 10:39)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 39
بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (39)
Sesudah Allah swt. mengungkapkan adanya kenyataan bahwa orang-orang musyrikin tidak mampu menjawab pertanyaan Allah swt. untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Alquran. Allah swt. menjelaskan keadaan orang-orang musyrikin yang sebenarnya, bahwa mereka setelah mendengar ayat-ayat yang dibacakan oleh Muhammad, mereka secara serta-merta mendustakannya padahal belum mereka pikirkan terlebih dahulu kandungan isinya, dan belum mengetahui duduk persoalannya. Sikap yang demikian itu adalah karena mereka memusuhi Muhammad yang membawa persoalan baru yang berbeda dengan keyakinan nenek moyang mereka.
Kemudian Allah swt. membandingkan sikap orang-orang musyrikin itu dengan sikap orang-orang musyrik yang hidup di masa-masa sebelum mereka. Karena adanya suatu persamaan di antara mereka yaitu orang-orang musyrikin Mekah mendustakan ayat-ayat yang diterima oleh Muhammad saw., sedang orang-orang musyrik dari umat-umat yang lalu mendustakan Rasul-rasul mereka, sama-sama mendustakan wahyu yang diterima Nabi-nabi sebelum mereka menyelidiki kebenarannya secara seksama dan sebelum memahami penjelasannya.
Yang dimaksud dengan penjelasan di sini ialah kenyataan apa yang harus dihadapi oleh mereka akibat mendustakan ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad saw. seperti kenyataan yang telah diterima mereka atau oleh umat-umat di masa-masa lalu sebagai akibat dari kelancangan mereka terhadap wahyu yang mereka terima. Kenyataan yang mereka alami ialah siksaan Allah yang mereka rasakan di dunia sebelum mereka merasakan siksaan yang lebih berat di akhirat.
Di akhir ayat Allah swt. menjelaskan bahwa memang demikian itulah nasib orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul dan Nabi-nabi yang sebenarnya. Nasib ini tentu akan menimpa pula kaum musyrikin Mekah, apabila mereka tetap bersikap keras dalam mendustakan wahyu-wahyu Allah. Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan pengikut-pengikutnya agar memperhatikan bagaimana akhir kehidupan umat yang menganiaya diri mereka sendiri karena mereka berani memusuhi dan mendustakan rasul-rasul Allah.
Allah swt. berfirman:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara yang keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
(Q.S. Al-Ankabut: 40)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 39
بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (39)
(Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna) subjek yang dimaksud adalah Alquran; mereka sama sekali tidak mau memikirkan tentangnya (dan belum pernah) tidak pernah (datang kepada mereka penjelasannya) akibat dari apa yang terkandung di dalamnya, yaitu berupa ancaman. (Demikianlah) yakni kedustaan itu (orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan) rasul-rasul mereka (Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang lalim itu) yaitu mereka yang mendustakan para rasul, makna yang dimaksud ialah kebinasaan yang telah menimpa mereka, demikian pula Kami akan membinasakan mereka yang mendustakannya.

40. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. 10:40)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 40
وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ (40)
Allah swt. menjelaskan kepada Rasulullah dan pengikut-pengikutnya bahwa keadaan orang-orang musyrikin yang mendustakan ayat-ayat Alquran akan terbagi menjadi dua golongan. Segolongan yang benar-benar mempercayai dengan iktikad yang kuat terhadap Alquran dan segolongan lagi yang tidak mempercayainya dan terus-menerus di dalam kekafiran. Mereka ini tidak akan diberi azab secara langsung di dunia seperti nasib yang telah dialami oleh orang-orang sebelum Nabi Muhammad saw.
Di akhir ayat Allah swt. menjelaskan bahwa Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang membuat kerusakan di bumi, karena mereka mempersekutukan Allah, menganiaya diri mereka sendiri dan menentang hukum Allah. Hal itu disebabkan karena fitrah mereka telah rusak dan bakat-bakat untuk menerima iman yang benar telah tiada lagi. Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat siksaan yang pedih.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 40
وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ (40)
(Di antara mereka) penduduk Mekah (ada arang-orang yang beriman kepada Alquran) hal ini diketahui oleh Allah (dan di antara mereka ada pula orang-orang yang tidak beriman kepadanya) untuk selama-lamanya. (Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan) hal ini merupakan ancaman yang ditujukan kepada mereka yang tidak beriman kepadanya,

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar