Minggu, 08 April 2012

Yunus 11 - 20

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=10#Top

11. Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.(QS. 10:11)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 11
وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (11)
Ayat ini menerangkan salah satu sifat dan watak manusia ialah ingin disegerakan terjadi atas dirinya sesuatu keburukan, kemudaratan dan siksa sebagaimana keinginannya disegerakan datangnya kebaikan, kemanfaatan atau pahala. Padahal mereka telah mengetahui bahwa semuanya itu terjadi atas kehendak Allah sesuai dengan hukum-hukum-Nya dan sesuai pula dengan ketetapan dan aturannya. Allah swt. berfirman:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Artinya:
Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunah (Allah yang berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunah Allah dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.
(Q.S. Fatir: 43)
Dan firman Allah swt.:

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
Artinya:
Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.
(Q.S. Al-Fath: 23)
Pada ayat-ayat Alquran yang lain dijelaskan sifat tergesa-gesa yang ada pada manusia sebagaimana firman Allah swt.:

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
Artinya:
Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.
(Q.S. Al-Isra': 11)
Dan firman Allah swt.:

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ
Artinya:
Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.
(Q.S. Al-Anbiya': 37)
Sifat tergesa-gesa ingin memperoleh kebaikan dan kesenangan pada manusia itu adalah karena keinginan mereka memperoleh sesuatu dengan segera manfaat dari sesuatu dalam waktu dekat, padahal mereka mengetahui bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Untuk mengikuti proses satu usaha itu memerlukan keimanan yang kuat, kesabaran dan keuletan. Mustahil mereka akan mencapai suatu kesenangan, tetapi mereka tidak berusaha mencapainya dengan mengikuti jalan-jalannya.
Lain halnya dengan keinginan manusia mengalami suatu siksaan, bahaya atau malapetaka. Keinginan ini timbul karena kebodohan, kedurhakaan dan keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad saw. atau karena mereka ingin memperolok-olokan sesuatu yang tidak mereka inginkan itu, atau karena kemarahan dan kebencian mereka terhadap sesuatu dan sebagainya, seperti yang terjadi atas orang-orang yang putus asa dalam kehidupannya, maka ia memohon kematian atas dirinya. Demikian pula orang-orang kafir yang tidak menginginkan sesuatu yang disampaikan Rasul Allah, lalu minta bukti dengan segera mendatangkan azab kepada mereka itu.
Keinginan dan permintaan mereka itu dijawab oleh Allah dengan tegas. Seandainya Allah mau memperkenankan doa dan permintaan manusia supaya ditimpakan azab kepada mereka atau suatu malapetaka yang permintaan itu mereka ajukan semata-mata karena kebodohan atau ingin melemahkan bukti-bukti kenabian yang disampaikan kepada mereka, seperti yang pernah diminta oleh orang-orang musyrik Mekah, tentulah Allah swt. akan segera memperkenankannya, dan memperkenankan itu amat mudah bagi Allah.
Permintaan ini sering diajukan orang-orang musyrik Mekah kepada Nabi Muhammad saw. yang menyampaikan agama Allah kepada mereka. Mereka meminta yang bukan-bukan kepada Nabi, seperti meminta datangnya azab kepada mereka sebagaimana yang pernah didatangkan kepada bangsa-bangsa dahulu kala, minta datangnya kiamat dan sebagainya sebagaimana firman Allah:

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلَاتُ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya:
Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa sebelum (mereka meminta) kebaikan padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka lalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.
(Q.S. Ar Ra'd: 6)
Dan firman Allah swt.:

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَوْلَا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Artinya:
"Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.
(Q.S. Al-Ankabut: 53)
Bahkan orang-orang musyrik itu karena keingkarannya yang sangat kepada Alquran berani berdoa agar disegerakan azab atas mereka seandainya yang disampaikan Muhammad itu adalah benar.
Allah swt. berfirman:

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Alquran) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."
(Q.S. Al-Anfal: 32)
Orang-orang musyrik yang mengingkari adanya hari kiamat menantang Rasulullah agar disegerakan datangnya hari kiamat itu sebagaimana firman Allah swt.:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
Artinya:
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.
(Q.S. Asy Syura: 18)
Tujuan orang-orang musyrik meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar didatangkan yang bukan-bukan itu, bukanlah karena mereka tidak percaya kepadanya tetapi semata-mata untuk membantah dan melemahkan hujah Nabi, memperolok-olokan ayat-ayat Alquran yang disampaikan kepada mereka dan untuk mengatakan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa mereka sangat mengingkari segala macam yang disampaikan beliau kepada mereka. Adakalanya di antara mereka telah yakin dan percaya kepada Nabi saw. tetapi rasa dengki kepada Muhammad dan fanatik kepada agama nenek moyang mereka menyebabkan mereka tetap mengingkarinya.
Dari ayat ini dipahami pula jawaban Allah swt. kepada mereka bahwa Allah tidak akan memperkenankan doa dan permintaan mereka, dan tidak menghendaki kehancuran mereka seperti yang telah dialami oleh umat yang telah lalu, tetapi Allah swt. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Muhammad diutus sebagai nabi dan rasul terakhir kepada seluruh manusia, dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu Allah swt. selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat walaupun mereka tetap dalam keingkaran dan kekafirannya, biarlah mereka bergelimang dalam kesesatan mereka sampai nanti Allah swt. mengazab mereka dengan azab yang pedih.
Selain dari itu Allah tidak akan mendatangkan azab kepada mereka di dunia sebagaimana yang telah ditimpakan kepada umat-umat yang dahulu, karena seandainya Allah menimpakan azab kepada mereka, tentu mereka akan musnah semuanya, dan kemusnahan itu akan menimpa pula orang-orang yang beriman yang hidup dan berdiam di antara mereka sebagaimana firman Allah swt.:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya:
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan, maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.
(Q.S. An Nahl: 61)

12. Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.(QS. 10:12)
 Yunus 12
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (12)
Pada ayat-ayat ini Allah swt. menerangkan tabiat dan watak manusia yang lain, yaitu apabila mereka ditimpa kemudaratan, musibah atau kesulitan, mereka ingat kepada Allah swt. dan berdoa kepada-Nya dalam keadaan berbaring duduk dan berdiri agar semuanya itu dihindarkan dan dihilangkan dari mereka. Sebaliknya jika bahaya kesengsaraan dan kesulitan itu telah lenyap dan mereka telah menikmati rahmat, nikmat dan karunia Allah, mereka berangsur-angsur lupa kepada Pemberi rahmat dan karunia itu, maka mereka mulai kafir kepada Allah.
Ayat ini menunjukkan kelemahan-kelemahan manusia di kala ia menerima cobaan dari Allah swt. dan menunjukkan pula ketergantungan manusia kepada rahmat dan karunia Tuhan Pencipta dan Yang Mengatur kehidupannya. Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman mengingat-ingatnya dan jangan lupa kepada Pencipta dan Pengawasnya, baik dalam keadaan kesulitan dan bahaya maupun dalam keadaan lapang dan senang. Semuanya itu merupakan cobaan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya untuk menguji kekuatan iman mereka. Orang-orang yang berhasil mengatasi segala cobaan yang dialaminya baik berupa kesulitan maupun berupa kesenangan, mereka itulah yang berhak memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akhirat.
Orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang sesat seperti orang-orang musyrik Mekah adalah orang-orang yang telah dipalingkan hatinya oleh setan. Setan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan buruk yang telah mereka kerjakan, sehingga apabila bahaya telah lenyap mereka akan kembali sesat dan mendurhakai Tuhan.

13. Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal Rasul-Rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.(QS. 10:13)
DEPAG / Surah Yunus 13
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (13)
Ayat ini menurut lahirnya ditujukan kepada orang kafir Mekah yang selalu memperolok-olokan Nabi Muhammad saw., tetapi termasuk juga di dalamnya seluruh manusia yang bersikap dan bertindak seperti yang telah dilakukan orang-orang kafir Mekah itu.
Allah menegaskan dalam sumpah-Nya dalam ayat ini kepada orang kafir Mekah, bahwa umat-umat dahulu pernah dihancurkan Allah swt. seluruhnya karena kelaliman, kekafiran dan keingkaran kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi yang telah diutus Allah kepada mereka. Padahal Rasul-rasul dan Nabi-nabi itu telah membentangkan jalan kebenaran, yang bila mereka tempuh akan menyampaikan mereka ke tempat yang penuh bahagia.
Orang-orang dahulu pernah dibinasakan Allah, karena kelaliman mereka sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا
Artinya:
Dan (penduduk) negeri itu telah kami binasakan ketika mereka berbuat lalim dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.
(Q.S. Al-Kahfi: 59)
Allah menegaskan bahwa orang-orang lalim dan ingkar itu pasti ditimpa azab yang sangat pedih. Allah swt. berfirman:

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
Artinya:
Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lohmahfuz).
(Q.S. Al-Isra': 58)
Ada dua macam azab yang pernah ditimpakan Allah swt. kepada orang-orang dahulu karena keingkaran dan kelaliman mereka yaitu:
1. Dengan memusnahkan seluruh mereka yang mendustakan Rasul dan yang berbuat lalim itu, seperti yang pernah ditimpakan-Nya kepada kaum `Ad, Samud, kaum Nuh dan sebagainya.
2. Mendatangkan azab berupa kerusakan, kekacauan dalam masyarakat dan sebagainya sebagaimana firman Allah swt.:

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آخَرِينَ
Artinya:
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang lalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).
(Q.S. Al-Anbiya': 11)
Kerusakan dan kekacauan dalam masyarakat itu terjadi ialah karena banyaknya pribadi-pribadi yang telah rusak, kemewahan yang berlebihan, suka hidup berfoya-foya memperturutkan syahwat dan hawa nafsu, kerusakan akhlak dan sebagainya yang mengakibatkan golongan yang lemah di antara mereka berada di bawah kekuasaan golongan yang kuat. Akan tetapi jika mereka mendustakan Rasul yang membawa keterangan dan petunjuk dan mereka tidak mempunyai kesediaan lagi dalam diri mereka untuk menerima ajaran yang dibawa Rasul-rasul itu karena telah terbiasa berlaku lalim, kafir dan hidup mementingkan kesenangan duniawi itu, sehingga iman mereka tidak dapat diharapkan sedikit pun lagi, maka Allah menghancurkan dan memusnahkan mereka.
Demikianlah Allah swt. memberikan balasan kepada orang-orang yang lalim dan mengerjakan perbuatan dosa, yaitu ada kalanya menghancurkannya sekaligus, atau mendatangkan azab berupa kerusakan dan kehancuran dalam masyarakat mereka. Hal ini merupakan peringatan-peringatan keras dari Allah kepada orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan Rasulullah saw.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 13
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (13)
(Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat) generasi-generasi (yang sebelum kalian) hai penduduk Mekah (ketika mereka berbuat kelaliman) yaitu dengan melakukan kemusyrikan (padahal) sungguh (telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata) bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran risalah mereka (tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman) kalimat ayat ini di'athafkan pada lafal lammaa zhalamuu. (Demikianlah) seperti yang telah Kami binasakan mereka (Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa) yaitu orang-orang kafir.

14. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.(QS. 10:14)
 DEPAG / Surah Yunus 14

ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (14)

Setelah umat-umat yang terdahulu hancur, maka Allah mengganti dengan umat Muhammad saw., umat yang mengikuti agama Islam, agama yang membawa manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Ayat ini merupakan berita gembira bagi pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw. yang sedang mendapat tekanan dan siksaan orang-orang musyrik Mekah waktu itu. Dengan ayat ini mereka bertambah yakin akan kebenaran agama Islam dan bertambah yakin pula bahwa perjuangan mereka berhasil dengan kemenangan.
Janji Allah swt. ini sesuai pula dengan firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya:
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
(Q.S. An Nur: 55)
Ayat ini merupakan peringatan pula bagi kaum Muslimin agar selalu meneliti dan berhati-hati tentang apa yang akan mereka lakukan dan mengingatkan akan tugas-tugas yang diberikan Allah swt. kepada manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Di antara tugas khalifatullah fil ardi ialah menegakkan hak dan keadilan di muka bumi, membersihkan alam ini dari perbuatan najis, syirik, fasik serta meninggikan kalimat Allah. Allah akan memperhatikan dan mencatat semua perbuatan manusia dalam melaksanakan tugasnya itu, apakah sesuai dengan yang diperintahkan-Nya atau tidak sebagaimana firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Artinya:
Dan Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah Arasy-Nya di atas air agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.
(Q.S. Hud: 7)
Sehubungan dengan ayat ini Qatadah berkata: "Tuhan kita telah berbuat yang benar. Dia menjadikan kita sebagai khalifah di muka bumi, tidak lain hanyalah untuk melihat amal-amal kita, maka perlihatkanlah kepada Allah amalan-amalan kamu yang baik di malam dan di siang hari." (Tafsir Al-Maragi, juz XI, hal. 77) 

15. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata:` Datangkanlah Al quran yang lain dari ini atau gantilah dia `. Katakanlah:` Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat) `.(QS. 10:15)
DEPAG / Surah Yunus 15
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (15)
Maksud ayat ini ialah apabila kamu (Muhammad) membacakan kepada orang musyrik ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepadamu yang mempunyai keindahan bahasa dan isi yang tinggi, yang menunjukkan segala macam kebenaran berdasar alasan-alasan dan bukti-bukti yang kuat, maka mereka akan mengatakan: "Datangkanlah kitab yang lain selain Alquran ini untuk kami yang berisi hal-hal yang tidak bertentangan dengan kepercayaan yang telah kami anut yang tidak mencela tuhan dan sembahan-sembahan kami yang bertentangan dengan adat kebiasaan kami dan tidak mengharamkan apa yang telah kami halalkan.
Dengan permintaan itu mereka bermaksud untuk mematahkan hujah yang dikemukakan Nabi Muhammad saw. Mereka mengharapkan agar Muhammad saw. bersedia mengabulkan permintaan mereka. Jika Muhammad mengabulkan permintaan mereka berarti mereka telah dapat melemahkan alasan-alasan yang dibenarkan oleh Muhammad sendiri. Maka Allah swt. mengajarkan kepada Muhammad saw. agar dia mengatakan kepada mereka bahwa Alquran itu dari Allah, bukan dari dia sendiri. Jika ia merubah dan menukarkannya, berarti Alquran itu buatannya sendiri bukan dari Allah. Tetapi jawaban yang mereka terima adalah berlawanan dengan harapan mereka, bahkan bernada ancaman dan peringatan yang keras yang menyatakan bahwa karena keingkaran mereka yang sangat itu, maka mereka tidak layak lagi menerima ajaran-ajaran Allah melainkan azab Allahlah yang mereka terima. Nabi saw. menyatakan bahwa tidak layak menukar atau mengganti ayat-ayat Alquran. Ayat-ayat Alquran itu adalah firman Allah bukan perkataannya karena itu yang berhak mengganti atau merubahnya hanyalah Allah sendiri. Dia hanya seorang rasul utusan Allah karena itu yang ia ikuti hanyalah wahyu yang telah diturunkan Allah kepadanya. Ia tidak akan mengikuti yang selain dari itu. Ia yakin dan percaya bahwa jika ia memperturutkan hawa nafsu dan permintaan orang-orang musyrik itu, berarti ia telah durhaka kepada Allah, yaitu telah mendustakan kalam Allah, mengingkari adanya hari kebangkitan dan sebagainya. Perbuatan yang demikian itu diancam Allah swt. dengan azab yang pedih.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 15
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (15)
(Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami) yakni Alquran (yang nyata) yang jelas; lafal bayyinaatin kedudukannya menjadi hal atau kata keterangan keadaan (orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata) mereka adalah orang-orang yang tidak takut akan adanya hari pembalasan ("Datangkanlah Alquran yang lain dari ini) yang isinya tidak mengandung celaan kepada tuhan-tuhan kami (atau gantilah dia.") dengan buatanmu sendiri (Katakanlah,) kepada mereka ("Tidaklah pantas) tidak layak (bagiku menggantinya dari pihak) berdasarkan kemauan (diriku sendiri. Aku tidak) tiada lain (hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku) oleh sebab menggantikan Alquran (kepada siksa hari yang besar.") yaitu hari kiamat.

16. Katakanlah:` Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya? `(QS. 10:16)
DEPAG / Surah Yunus 16
قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (16)
Pada ayat ini Allah swt. mengajarkan jawaban yang akan disampaikan Nabi Muhammad saw. kepada orang-orang musyrik yang mengingkari Alquran itu, yaitu katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang yang musyrik: "Jika Allah berkehendak aku tidak akan membacakannya. Aku membacakan Alquran itu kepadamu semata-mata atas perintah Allah dan kehendak-Nya. Seandainya Allah tidak berkehendak menyampaikan Alquran itu kepadamu tentunya Dia tidak akan mengutusku kepadamu, sehingga Alquran yang mengandung petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat ini tidak akan sampai kepadamu. Allah swt. berfirman:

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Alquran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(Q.S. Al-A'raf: 52)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah swt. telah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad saw. yang berisi petunjuk bagi kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat, serta menegaskan bahwa Muhammad saw. adalah utusan Allah yang menyampaikan petunjuk itu kepada manusia.
Sebagai bukti kebenaran wahyu yang telah disampaikan itu, maka Allah swt. memerintahkan kepada Nabi saw. agar mengatakan kepada orang musyrik itu: "Aku telah berdiam dan bergaul bersama kamu sekalian lebih dari 40 tahun. Kamu semua telah mengetahui pula sifat-sifat, watak dan kepribandianku, telah mengetahui pula akhlak dan tingkah lakuku, sikap dan keadilanku terhadap kamu semua. Selama itu pula kamu semua mengetahui bahwa aku tidak pernah membaca suatu kitab pun karena aku tidak pandai membaca, aku tidak pernah belajar kepada seorang pun dan tidak pula menyampaikan perkataan yang sama nilainya dengan ayat-ayat Alquran itu. Karena itu pikirkanlah benar-benar, apakah aku mungkin mengadakan kebohongan sebagaimana dugaanmu itu. Kenapa kamu semua meminta kepadaku untuk mengganti ayat-ayat Alquran dengan yang lain?"
Sebagaimana diketahui bahwa tiap-tiap rasul yang diutus Allah swt. kepada kaumnya diberi keistimewaan-keistimewaan oleh Allah swt. sebelum diangkat menjadi rasul, seperti Musa a.s. diberi hikmah dan ilmu di saat-saat ia berumur antara 30 dan 40 tahun, di waktu akalnya telah sempurna sebagaimana firman Allah swt.:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
(Q.S. Al-Qasas: 14)
Demikian pula Yusuf a.s. telah diberi oleh Allah swt. hikmah dan pengetahuan di saat ia mencapai umur dewasa sebelum diangkat menjadi rasul (lihat surah Yunus: 22) seperti ilmu menakbirkan mimpi dan sebagainya.
Nabi Isa a.s. sebelum diangkat menjadi rasul di waktu kecil dalam buaian telah pandai berbicara, dilahirkan tanpa bapak, diberi Al-Kitab dan Al-Hikmah. (Lihat surah Ali Imran: 46, 47, dan 48)
Mengenai Nabi Muhammad saw., beliau telah diberi Allah keistimewaan sebagaimana keistimewaan yang telah diberikan-Nya kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu, tetapi beliau diberi keistimewaan yang lain, yaitu keistimewaan yang langsung dirasakan, diyakini dan diketahui oleh seluruh anggota masyarakat Mekah pada waktu itu. Seluruh penduduk Mekah menganggap beliau sebagai seorang kepercayaan yang benar-benar dapat dipercayai, ia dipandang sebagai seorang yang adil dalam menetapkan keputusan, tidak berat sebelah.
Sebagai contoh ialah kebijaksanaan beliau memberi keputusan kepada kabilah-kabilah Quraisy yang meminta beliau memberikan keputusan tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajarul Aswad ke tempatnya semula. Diceritakan bahwa pemuka-pemuka Quraisy membersihkan dan memperbaiki Kakbah karena itu mereka mengeluarkan Hajarul Aswad dari tempatnya. Setelah Kakbah itu selesai dibersihkan dan diperbaiki, mereka ingin meletakkan kembali Hajarul Aswad ke tempatnya. Para kepala suku kabilah berbeda pendapat dalam menetapkan siapa yang paling berhak meletakkan kembali ke tempatnya itu. Masing-masing kepala kabilah merasa berhak sehingga terjadilah perdebatan dan perselisihan yang hampir menimbulkan pertumpahan darah di antara mereka. Maka salah seorang di antara mereka meminta Muhammad memberikan keputusannya tentang siapa yang lebih berhak meletakkan Hajarul Aswad itu kembali. Apa saja keputusannya akan diikuti. Permintaan orang itu disetujui oleh kepala-kepala kabilah, dan Muhammad bersedia pula memenuhi permintaan mereka. Beliau mengambil sehelai kain dan meletakkan Hajarul Aswad di atasnya, kemudian disuruhnya masing-masing kepala kabilah memegang tepi kain itu dan bersama-sama mengangkatnya, lalu beliau meletakkan Hajarul Aswad di tempatnya semula. Keputusan beliau ini diakui oleh kepala-kepala kabilah sebagai suatu keputusan yang adil dan tepat.
Orang-orang Mekah sangat percaya kepada beliau, karena kepercayaan itu beliau digelari "Al-Amin" (orang kepercayaan). Karena kepercayaan itu pula Khadijah mempercayakan dagangannya kepada beliau yang akhirnya Khadijah menjadi istri beliau. Beliau diakui oleh orang-orang Mekah sebagai orang yang berakhlak mulia, kuat kepribadiannya, disegani dan sebagainya. Setelah beliau diangkat menjadi rasul beliau menyampaikan ayat-ayat Alquran kepada mereka serta mengajak mereka untuk masuk agama Islam, tiba-tiba mereka menuduh Muhammad sebagai seorang pembohong, seorang yang mengganggu ketenteraman umum dan orang yang merubah dan merusak kepercayaan serta adat-istiadat yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka sejak dahulu. Karena kebencian mereka kepada Muhammad, mereka tidak ingat lagi akan sikap dan kepercayaan mereka terhadapnya. Inilah yang dimaksud Allah dengan firman-Nya di atas yang artinya: "Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya."

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 16
قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (16)
(Katakanlah, "Jika Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepada kalian dan aku tidak pula memberitahukan kepada kalian) mengajarkan kepada kalian (mengenainya) huruf laa di sini bermakna nafi atau meniadakan, kemudian diathafkan kepada nafi yang sebelumnya. Menurut qiraat yang lain dianggap sebagai lam yang menjadi jawab daripada huruf lau, dengan demikian berarti niscaya aku akan mengajarkannya kepada kalian dengan bahasa yang bukan bahasaku (Sesungguhnya aku telah tinggal) diam (bersama dengan kalian beberapa lama) yaitu empat puluh tahun (sebelumnya.") selama itu aku belum pernah menceritakan sesuatu kepada kalian (Maka apakah kalian tidak memikirkannya?) bahwasanya Alquran itu bukanlah buatanku sendiri.

17. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.(QS. 10:17)
DEPAG / Surah Yunus 17
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ (17)
Ayat ini menerangkan orang yang paling lalim di sisi Allah ialah:
1. Orang-orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah, seperti yang telah dilakukan orang-orang musyrik karena keingkaran mereka, yaitu meminta Rasulullah menukar ayat-ayat Alquran dengan perkataan yang lain yang tidak bertentangan dengan kepercayaan mereka.
2. Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Ayat ini memberi peringatan bahwa orang-orang yang melakukan salah satu dari perbuatan yang paling lalim itu adalah orang yang pantas mendapat kemurkaan Allah dan siksa-Nya, mereka telah berbuat dosa, mereka tidak akan memperoleh keberuntungan dengan perbuatan-perbuatan itu. Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman menjaga dirinya agar jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 17
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ (17)
(Maka siapakah) artinya, tiada seorang pun (yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah) yaitu dengan melakukan kemusyrikan terhadap Allah (atau mendustakan ayat-ayat-Nya?) yakni Alquran. (Sesungguhnya) pada kenyataannya (tiadalah beruntung) tiadalah berbahagia (orang-orang yang berbuat dosa) yaitu orang-orang musyrik.

18. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata:` Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah `. Katakanlah:` Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi? `Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).(QS. 10:18)
DEPAG / Surah Yunus 18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (18)
Pada ayat terdahulu Allah swt. menerangkan permintaan orang-orang musyrikin kepada Nabi Muhammad saw. agar menukar atau mengganti ayat-ayat Alquran yang bertentangan dengan kepercayaan mereka dan yang mencela sembahan-sembahan mereka dengan ayat yang tidak menentang dan mencelanya, maka pada ayat ini Allah menerangkan kebodohan orang-orang musyrik yang menyembah patung dan berhala yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat sedikit pun bahkan mereka menyatakan bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat kepada mereka. Ayat ini menerangkan bentuk kepercayaan orang-orang Arab Jahiliah. Mereka menyembah berhala di samping menyembah Allah, karena mereka percaya bahwa patung-patung dan berhala-berhala itu dapat memberi manfaat kepada mereka sebagaimana pula ia dapat memberi mudarat, jika mereka melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kemarahannya. Padahal jika mereka pikirkan benar-benar bahwa patung itu adalah benda mati yang dibuat oleh tangan mereka sendiri, karena itu berhala-berhala itu tidak akan dapat menimbulkan mudarat atau manfaat kepada sesuatu pun tentulah mereka tidak akan menyembahnya. Yang berhak disembah itu ialah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta.
Orang-orang Arab pada masa jahiliah menganut bermacam-macam agama dan kepercayaan serta mempunyai beberapa cara dalam melakukan ibadat kepada sembahan-sembahan mereka itu. Tetapi semua kepercayaan itu mempercayai bahwa Tuhan itu banyak bukan Esa atau dengan perkataan lain mereka mempersekutukan Allah dengan yang lain. Di antara mereka ada pula yang memeluk agama Yahudi seperti sebagian penduduk Madinah dan sebagian penduduk Yaman, dan ada pula yang memeluk agama Nasrani seperti penduduk Gassan dan penduduk Najran, demikian pula segolongan suku Aus dan Khazraj yang tinggal di daerah yang berbatasan dengan Khaibar, Kuraizah dan Bani Nadir.
Di antara mereka ada pula yang beragama Sabiin, yaitu mereka yang telah keluar dari agama yang mereka anut dan ada pula di antara mereka yang tidak percaya kepada adanya hari kebangkitan.
Kemudian Allah menerangkan sikap orang-orang Arab terhadap berhala-berhala, di antaranya ada yang mengatakan: "Kami percaya bahwa berhala itu tidak dapat mendatangkan kemudaratan dan manfaat tetapi kami percaya bahwa sembahan-sembahan itulah yang akan menjadi perantara bagi kami untuk memohonkan syafaat bagi kami di sisi Allah, dan itulah jalan yang terdekat."
Karena itulah kami bernazar, menyembelih kurban dan berdoa kepada sembahan-sembahan itu dan menyebut nama-namanya. Dengan melakukan yang demikian kami merasa bertambah dekat kepada Allah.
Diriwayatkan oleh Ikrimah bahwa Nadar bin Haris pernah berkata: "Apabila hari telah kiamat, maka Lata dan Uzza akan memberi syafaat kepadaku."
Dari keterangan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa pokok dari kepercayaan Arab jahiliah ialah bahwa sekali pun mereka mempercayai bahwa Tuhan Maha Pencipta itu ada, tetapi dalam hubungan antara Tuhan dan manusia itu memerlukan perantara (wasilah) yang akan menyampaikan permohonan manusia kepada Tuhannya. Kemudian Allah swt. memerintahkan agar Nabi Muhammad saw. menyampaikan kepada orang-orang musyrik itu sesuatu yang dapat membuktikan kebohongan mereka itu dan sesuatu yang dapat membantah perkataan mereka, yaitu: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya, yaitu bahwa ada pemberi syafaat di langit dan di bumi yang dapat memberikan syafaat itu sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya padahal seandainya ada tentu Allah mengetahuinya. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang tidak diketahui Allah, ada dan tidak adanya sesuatu semata-mata menurut kehendak Allah, apalagi syafaat itu hanya diberikan semata-mata dengan izin Allah dan hanya diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Bahkan Rasulullah saw. tidak sanggup menarik kemanfaatan untuk dirinya, begitu pula menolak kemudaratan kecuali dengan izin Allah sebagai firman Allah swt.:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ
Artinya:
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan."
(Q.S. Al-A'raf: 188)
Akhir ayat ini menerangkan kemahasucian Allah, Tuhan semesta alam dari persekutuan sebagai yang dikatakan orang-orang musyrik itu.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan hanyalah diterangkan dengan perantaraan wahyu yang disampaikan kepada Rasul-Nya, demikian pula segala sesuatu itu diketahui Allah baik yang tersembunyi maupun yang nyata.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (18)
(Dan mereka menyembah selain daripada Allah) (apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan) jika mereka tidak menyembahnya (dan tidak pula kemanfaatan) jika mereka menyembahnya, yang dimaksud adalah berhala-berhala yang mereka sembah itu (dan mereka berkata,) tentang berhala-berhala itu ("Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah." Katakanlah) kepada mereka ("Apakah kalian mengabarkan kepada Allah) menceritakan kepada-Nya (apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula di bumi?") Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna ingkar, karena seandainya Dia mempunyai sekutu niscaya Dia akan mengetahui sekutunya itu karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya. (Maha Suci Allah) dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya (dan Maha Tinggi daripada apa yang mereka persekutukan itu) bersama Allah.

 19. Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.(QS. 10:19)
DEPAG / Surah Yunus 19
وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (19)
Yang dimaksud satu agama di sini ialah satu kepercayaan, yaitu percaya kepada Allah Yang Maha Esa, karena manusia waktu dilahirkan ke dunia telah menganut kepercayaan tauhid sebagai fitrah kejadiannya, seperti sabda Nabi Muhammad saw.:

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه
Artinya:
Tiap anak yang lahir itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (murni), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi.
(H.R. Abu Ya'la, Tabrani, dan Baihaqi dari Aswad bin Sari)
Mereka hidup sederhana dalam satu kesatuan, seakan-akan mereka satu keluarga akan tetapi setelah mereka berkembang biak, maka terjadilah suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda-beda kepentingan dan kemaslahatannya. Karena hawa nafsu, mereka pun berselisih. Oleh karena itu Allah swt. mengutus kepada mereka para rasul yang menyampaikan petunjuk Allah untuk menghilangkan perselisihan dan perbedaan pendapat di antara mereka. Para Rasul itu membawa kitab yang berisi wahyu Allah. Kemudian berselisih pula tentang kitab yang telah diturunkan Allah itu, sehingga terjadilah permusuhan dan pertarungan di antara mereka.
Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "manusia" dalam ayat ini ialah orang Arab. Mereka dahulu adalah pengikut-pengikut agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, agama yang mengakui keesaan Allah. Kemudian masuklah unsur syirik kepada kepercayaan mereka itu, sehingga sebagian mereka menyembah berhala di samping mereka menyembah Allah dan sebagian masih tetap menganut agama Nabi Ibrahim. Terjadilah perselisihan antara kedua golongan itu.
Jika diperhatikan antara kedua pendapat ini tidak ada perbedaan pokok. Karena pendapat pertama adalah sifatnya umum meliputi seluruh manusia yang ada di dunia, sedangkan pendapat kedua adalah khusus untuk orang Arab saja, tetapi tidak menutup kemungkinan berlakunya untuk semua manusia.
Selanjutnya Allah mengancam dengan ancaman yang sangat keras dengan menyatakan bahwa seandainya belum ditetapkan oleh Allah dahulu untuk memberikan pembalasan yang setimpal dan adil di akhirat nanti, maka Allah akan segera membinasakan di dunia ini orang-orang yang berselisih itu yang membawa perpecahan dan permusuhan, apalagi perselisihan mereka itu tentang Kitab Allah yang diturunkan-Nya untuk menghilangkan perselisihan.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 19
وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (19)
(Manusia dahulunya hanyalah satu umat) satu agama yaitu agama Islam, sejak dari zaman Nabi Adam sampai dengan zaman Nabi Nuh. Menurut pendapat yang lain dikatakan mulai dari zaman Nabi Ibrahim sampai dengan zamannya Amr bin Luhay (kemudian mereka berselisih) disebabkan sebagian daripada mereka tetap iman sedangkan sebagian yang lainnya kafir. (Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu) dengan menangguhkan pembalasan hingga hari kiamat (pastilah diberi keputusan di antara mereka) yaitu di antara manusia di dunia (tentang apa yang mereka perselisihkan itu) dalam masalah agama, yaitu dengan mengazab orang-orang kafir.

20. Dan mereka berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Tuhannya? `Maka katakanlah:` Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah; sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu.(QS. 10:20)
DEPAG / Surah Yunus 20

وَيَقُولُونَ لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (20)

Setelah Allah swt. mengisahkan keingkaran orang-orang musyrik terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad seorang manusia biasa tidak kepada malaikat, dan Allah mematahkan alasan yang mereka kemukakan untuk menguatkan kemusyrikannya, mereka meminta agar Rasulullah saw. mengganti ayat-ayat Alquran dengan ayat-ayat yang tidak menyinggung dan membatalkan kepercayaan mereka, maka pada ayat ini Allah mengisahkan macam yang lain dari tuntutan orang-orang musyrik kepada Nabi, yaitu mereka minta bukti atas kerasulan Muhammad saw. dengan mendatangkan tanda-tanda alam selain dari Alquran.
Orang-orang musyrik mengatakan, kenapa tidak diturunkan kepada Muhammad tanda-tanda kerasulannya yang berhubungan dengan alam ini, seperti yang pernah diturunkan kepada Nabi-nabi sebelumnya, seperti angin topan Nabi Nuh, membelah laut untuk Nabi Musa a.s. dan sebagainya. Permintaan dan keheranan mereka itu dilukiskan dalam firman Allah swt. sebagai berikut:
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا
Artinya:
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari (hasil)nya?" Dan orang-orang yang lalim itu berkata: "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir."
(Q.S. Al-Furqan: 7, 8)
Bahkan mereka meminta kebun-kebun yang indah-indah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, atau azab dengan menjatuhkan langit, atau rumah dari emas sebagai bukti kenabian Muhammad sebagaimana firman Allah swt.:
وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ
Artinya:
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu, hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca."
(Q.S. Al-Isra': 90-93)
Maka Allah swt. mengajarkan kepada Nabi Muhammad jawaban dari permintaan orang-orang musyrik itu sebagai tersebut dalam firman-Nya:
وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Artinya:
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami) melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Samud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.
(Q.S. Al-Isra': 59)
Dalam pada itu, tiap-tiap rasul yang diutus Allah diberi-Nya mukjizat untuk menguatkan risalahnya, tetapi mukjizat yang diberikan itu berbeda-beda disesuaikan dengan keadaan dan tempat umat yang akan menerima risalah itu. Khusus Nabi Muhammad saw. diberikan mukjizat berupa Alquranul Karim, dan mukjizat itu sesuai dengan tingkat pengetahuan orang-orang Arab dan manusia yang hidup sesudahnya. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

ما من نبي إلا وقد أعطي من الآيات ما مثله آمن عليه البشر، وإنما كان الذي أوتيته وحيا أوحاه الله إلي فأرجو أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة
Artinya:
Tidak ada seorang nabi (yang diutus Allah), kecuali Dia memberinya mukjizat-mukjizat yang telah beriman kepadanya manusia. Yang diberikan kepadaku tidak lain adalah wahyu yang telah diwahyukan Allah kepadaku. Maka aku mengharapkan agar akulah di antara mereka yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.
(H.R. Bukhari, Muslim, Tirmizi dari Abu Hurairah)
Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar memberi peringatan yang keras kepada orang-orang musyrik itu: Katakanlah kepada mereka hai Muhammad, barang yang gaib itu hanyalah Allah yang menguasainya, hanya Dialah yang memilikinya, termasuk di dalamnya mukjizat-mukjizat yang kamu minta itu. Jika Allah berkehendak menurunkannya kepadamu, maka Dia sendirilah yang mengetahui waktu turunnya. Aku hanyalah seorang rasul yang bertugas menyampaikan agama tidak mengetahui selain yang diwahyukan kepadaku. Karena itu tunggulah ketetapan Allah atas dirimu sebagaimana aku pun termasuk orang-orang yang menunggu pula datangnya ketetapan itu."
Hal ini diikutkan oleh firman Allah swt.:
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Artinya:
Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan."
(Q.S. Al-Ahqaf: 9)
Apa yang dinantikan Muhammad saw. dan apa pula yang mereka nantikan diterangkan Allah pada ayat 102 surah ini.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 20
وَيَقُولُونَ لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (20)
(Dan mereka berkata,) yakni penduduk Mekah ("Mengapa tidak) kenapa tidak (diturunkan kepadanya) dimaksud kepada Nabi Muhammad saw. (suatu keterangan dari Rabbnya?") sebagaimana yang telah diberikan kepada para nabi lainnya, seperti mukjizat unta, mukjizat tongkat dan mukjizat tangan (Maka katakanlah,) kepada mereka ("Sesungguhnya yang gaib itu) hal-hal yang gaib dari mata hamba-hamba Allah (kepunyaan Allah) antara lain ialah mukjizat-mukjizat, maka mukjizat-mukjizat itu tidak ada yang dapat mendatangkannya melainkan hanya seizin Allah. Sesungguhnya tugasku hanyalah menyampaikan (sebab itu tunggu sajalah oleh kalian) datangnya azab jika kalian tidak mau beriman (sesungguhnya aku bersama kalian termasuk orang-orang yang menunggu.")

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar