Minggu, 08 April 2012

Yunus 21 - 30

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=10#Top

21. Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah: `Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu)`. Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu.(QS. 10:21)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 21
وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ إِذَا لَهُمْ مَكْرٌ فِي آيَاتِنَا قُلِ اللَّهُ أَسْرَعُ مَكْرًا إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ (21)
Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang-orang kafir pada umumnya dan sifat-sifat orang musyrik pada khususnya, bahwa bila Allah memberikan suatu kelapangan kepada mereka setelah menderita suatu kesukaran, kebahagiaan sesudah mereka sengsara, mereka tidak mengakui bahwa kelapangan dan kebahagiaan itu datangnya dari Allah, mereka tidak mensyukuri-Nya.
Apabila datang rahmat Allah kepadanya berupa hujan yang diturunkan dari langit, menumbuhkan tanam-tanaman, menghidupkan binatang ternak, mereka menyatakan bahwa itu adalah berkat berhala dan sembahan-sembahan mereka atau mereka mengatakan bahwa hujan itu turunnya secara kebetulan saja, karena musim hujan telah tiba. Jika mereka ditimpa kesukaran, kemudian kesukaran itu hilang maka mereka mengatakan bahwa kesukaran itu hilang semata-mata karena mereka sendiri adalah orang-orang yang pandai menghilangkan kesukaran dan termasuk orang-orang yang bernasib baik. Hal yang seperti ini telah dilakukan oleh Firaun dan kaumnya pada setiap mereka menerima azab Tuhan dan pada setiap mereka terlepas dari azab itu. Demikian pula telah dilakukan oleh orang-orang musyrik Mekah terhadap Nabi Muhammad saw. dan pengikut-pengikutnya.
Diriwayatkan bahwa tatkala orang-orang Quraisy telah menyakiti Rasul sampai melampaui batas, Rasulullah saw. mendoakan kepada Allah agar orang musyrik ditimpakan azab berupa tahun kemarau seperti tahun kemarau yang terjadi pada Nabi Yusuf a.s. Maka mereka pun ditimpa musim kemarau yang sangat hingga mereka terpaksa memakan tulang dan bangkai sehingga penglihatan mereka berkunang-kunang dan berasap sebagai dilukiskan Allah dalam surat Dukhan ayat 10. Maka datanglah Abu Sufyan, pemimpin Quraisy kepada Muhammad saw., ia berkata: "Ya Muhammad, sesungguhnya engkau memerintahkan kepada kami mengadakan hubungan silaturahmi, dan sesungguhnya kaummu telah binasa, maka mohonkanlah kepada Allah agar mereka dilepaskan dari kesulitan itu." Maka Rasulullah berdoa kepada Allah, lalu hilanglah kesulitan dan malapetaka itu dan turunlah hujan. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibnu Mas'ud) Maka kemudian mereka pun kembali mengingkari Rasulullah dan memusuhinya.
Karena sikap mereka yang demikian itu, maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw. menyampaikan peringatan kepada orang-orang musyrik itu: "Katakanlah kepada mereka hai Muhammad, bahwasanya Allah lebih cepat siksa-Nya dari tipu daya mereka, Allah telah menyiapkan azab-Nya yang akan ditimpakan kepada mereka sebelum mereka sempat mengatur siasat tipu daya untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Semua amalan manusia baik dan buruk akan dicatat oleh malaikat Hafazah yang telah ditugaskan Allah. Tidak ada satu pun yang tidak dituliskannya dan perbuatan manusia baik yang kecil maupun yang besar. Kemudian di akhirat nanti, tiap-tiap manusia akan memperoleh balasan segala perbuatannya itu. Perbuatan buruk dibalas dengan siksa neraka, sedang perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa semua pembicaraan manusia dicatat oleh malaikat Hafazah, dan adanya malaikat Hafazah itu ditegaskan oleh ayat ini.

22. Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): `Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur`.(QS. 10:22)

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (22)
Dialah Allah yang telah memberikan kepadamu kesanggupan berjalan di darat, berlayar di lautan, terbang di udara dengan memberikan kepadamu kesempatan untuk mempergunakan beraneka macam kendaraan seperti binatang, kapal dan sebagainya. Dengan alat angkutan tersebut kamu dapat mencapai keinginan-keinginanmu dan untuk bersenang-senang.
Dengan kesanggupan dan kemampuan yang diberikan-Nya itu pulalah manusia diuji dan dicoba oleh Allah, sehingga jelaslah watak dan tabiatnya sebagai yang diibaratkan Allah sebagai berikut: Dengan kesanggupan yang diberikannya itu, maka manusia membuat sebuah bahtera yang dapat mengarungi samudra luas. Tatkala mereka telah berada dalam bahtera itu dan berlayar membawa mereka dengan hembusan angin yang baik dan ombak yang tenang, mereka pun bergembira karenanya. Tiba-tiba datanglah angin badai yang kencang dan ombak yang mengempas dari segenap penjuru, sehingga timbullah kecemasan dan ketakutan dalam hati mereka. Mereka merasa tidak akan dapat lagi melihat matahari yang akan terbit di hari esoknya karena hempasan ombaknya yang dahsyat. Karena itu mereka pun berdoa kepada Allah seraya merendahkan diri dengan penuh keikhlasan, sambil menyesali perbuatan yang pernah mereka lakukan agar Allah swt. melepaskan mereka dari gulungan ombak yang maha dahsyat itu dengan mengucapkan: "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya jika engkau lepaskan kami dari malapetaka yang akan menimpa kami, tentulah kami menjadi orang-orang yang mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan."

23. Maka setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. 10:23)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 23
فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (23)
Setelah Allah swt. melepaskan mereka dari malapetaka itu dan mereka telah merasa senang dan hilang segala kekhawatirannya, mereka lupa kepada Yang Maha Penyelamat dan Pemberi Karunia, bahkan mereka durhaka kepada-Nya dan berbuat kebinasaan di muka bumi dengan melakukan kelaliman dan kekacauan di antara manusia.
Demikianlah Allah swt. melukiskan watak dan tabiat manusia. Mereka ingat dan merendahkan diri kepada Allah bila mendapat kesengsaraan dan bila malapetaka itu telah lenyap, mereka lupa bahkan mendurhakai Allah swt.
Watak dan tabiat yang dilukiskan di atas menunjukkan kelemahan manusia, karena itu hendaklah manusia insaf dan sadar atas kelemahan itu. Janganlah kelemahan itu membawa mereka kepada terjadinya malapetaka yang lebih besar. Sikap congkak dan perbuatan lalim itu, seandainya merupakan suatu kesenangan baginya, maka itu adalah kesenangan sementara selama hidup di dunia, sedang kesenangan dan kebahagiaan yang kekal ialah kesenangan dan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah dalam keadaan bagaimana pun, baik dalam keadaan senang dan sengsara, suka dan duka, dalam keadaan rugi dan beruntung dan sebagainya. Kesenangan dan kebahagiaan yang demikian akan dirasakan selama hidup di dunia, lebih-lebih di akhirat nanti.
Ingatlah wahai manusia, kamu adalah makhluk Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Di waktu kamu kembali kepada-Nya nanti akan diperlihatkan-Nya kepadamu segala perbuatan yang pernah kamu kerjakan, baik perbuatan-perbuatan yang diridai-Nya maupun perbuatan yang dimurkai-Nya.

24. Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang., Lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.(QS. 10:24)
DEPAG / Surah Yunus 24
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (24)
Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan sebab-sebab manusia berbuat aniaya dan kebinasaan di muka bumi ialah karena terlalu mencintai apa yang disenanginya, terlalu memperturutkan keinginan hatinya untuk memiliki segala macam perhiasan dan kesenangan duniawi. Pada ayat ini Allah memberikan perumpamaan hidup duniawi dengan perumpamaan yang mudah ditangkap oleh akal pikiran yang sehat yang tidak dipenuhi hawa nafsu, bahwa kesenangan duniawi itu adalah fana, sementara dan akan lenyap dan hilang dalam sekejap mata bila dikehendaki Allah.
Ayat ini menerangkan sifat hidup di dunia dan perumpamaan yang tepat ditinjau dari segi cepat dan lekas hilangnya, seperti lenyapnya segera suatu harapan yang mulai timbul pada diri seseorang, yaitu dengan menyerupakan hidup itu dengan air hujan yang diturunkan Allah dari langit. Dengan air itu tumbuhlah beraneka macam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka rupa dan berlainan rasa yang menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Lalu permukaan bumi ditutupi oleh kerindangan yang menghijau, yang dihiasi oleh bunga dan buah-buahan yang beraneka warna. Pada saat itu timbullah harapan dan cita-cita manusia yang mempunyai kebun itu, seandainya tumbuh-tumbuhan itu telah dapat dipetik. Dalam keadaan demikian, yaitu dalam keadaan yang penuh harapan dan cita-cita itu karena beberapa hari lagi akan tiba waktu memetiknya, datanglah malapetaka yang memusnahkan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan itu, sehingga bumi yang berhias beraneka warna itu tiba-tiba menjadi datar dan rata seakan-akan belum pernah ditanami dengan sesuatu apa pun. Dan di saat itu sirnalah harapan dan cita-cita itu sebagaimana kehidupan dan kesenangan duniawi itu dapat pula sirna seketika.
Kefanaan hidup di dunia itu ditegaskan oleh firman Allah swt.:

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
Artinya:
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
(Q.S. Al-A'raf: 97, 98)
Sebagaimana Allah telah memberikan perumpamaan yang tepat dan jelas dalam melukiskan keadaan kehidupan dunia dan tertipunya manusia oleh kehidupan itu karena pengaruh setan dan memperturutkan hawa nafsu, maka seperti itu pulalah jelas dan terangnya Allah menerangkan hakikat tauhid, pokok-pokok agama, budi pekerti yang baik dan amal-amal yang saleh yang harus dikerjakan. Hanya orang-orang yang mau menggunakan akal pikiran yang sehatlah yang dapat memahami perumpamaan dan penjelasan itu. Banyak manusia yang lalai dan ingkar karena merasa dirinya telah merasa cukup, merasa sanggup dan merasa berkuasa, sehingga lupa akan tujuan hidup dan kehidupan yang sebenarnya.

25. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (syurga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).(QS. 10:25)
Surah Yunus 25
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (25)
Allah swt. menyeru kaum Muslimin agar mereka menempuh jalan yang mengantarkan diri mereka ke Darussalam yaitu pada kebahagiaan yang abadi yang akan mereka rasakan di surga nanti. Sebagai bimbingan kepada kehidupan yang bahagia itu, Allah swt. telah memberikan pimpinan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya agar mereka menempuh jalan yang lurus yaitu jalan yang mengantarkan mereka kepada kehidupan bahagia itu. Dan dilarang mereka meniru perbuatan orang-orang musyrik yang mengutamakan kehidupan dunia. Mereka terpesona sedemikian rupa kepada kehidupan dunia; mereka tidak akan mengharapkan kebahagiaan lain dari yang telah mereka rasakan. Mereka telah memilih jalan yang sesat sebab kehidupan dunia ini sangat terbatas, kebahagiaannya tidak kekal. Itulah sebabnya maka Allah swt. mengajak kaum Muslimin agar supaya mengikuti akidah, hukum dan petunjuk yang dibawa Rasul agar mereka itu dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia adalah merupakan tanda-tanda yang sangat halus yang dapat dicapai oleh seseorang dengan menggunakan akalnya dengan jalan memperhatikan alam semesta dan isinya, serta hukum-hukum yang berlaku di dalamnya, sehingga dengan demikian manusia akan dapat mencapai kebenaran.
Selain itu Allah swt. memberikan penjelasan tentang hukum yang bersifat umum atau pun yang bersifat khusus yaitu hukum syarak yang mengatur hubungan antara makhluk dengan Khalik serta hubungan antara sesama makhluk. Baik hukum-hukum Allah yang berlaku bagi manusia yang ditunjukkan oleh Allah swt. dengan taufik-Nya. Dan orang yang mencapai hidayah-Nya itu ialah orang-orang yang diberi kemampuan untuk memahami dan melaksanakannya. hidayah ini diberikan Allah kepada manusia sesuai dengan iradah-Nya.

26. Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (syurga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.(QS. 10:26)
DEPAG / Surah Yunus 26
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (26)
Sesudah itu Allah swt. menerangkan bahwa orang-orang yang dapat memahami petunjuk dan mengambil manfaat dari petunjuk itu serta mengamalkannya, Allah akan memberikan pahala sesuai dengan amal perbuatan mereka, bahkan untuk menggalakkan mereka agar lebih giat, Allah menjanjikan pahala sepuluh kali lipat atau lebih banyak daripada itu.
Firman Allah swt.:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
Artinya:
Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).
(Q.S. An Najm: 31)
Orang-orang yang melakukan amal yang baik akan mendapat imbalan pahala melebihi pahala yang seharusnya diterima. Mereka itu akan menerima pahala yang berlipat ganda.
Dan mereka akan mendapat tambahan pahala lagi yang tidak ternilai harganya yaitu mereka akan mengetahui dengan sebenarnya bahwa Allahlah Yang Maha Mulia. Pengetahuan ini adalah pengetahuan yang paling tinggi karena mereka mengetahui dengan sebenarnya Pencipta alam semesta ini, dan membenarkan terjadinya hari akhir. Mereka akan mendapat pahala yang berlipat ganda dan mendapat pengetahuan yang tinggi, mereka hidup bahagia, dari wajah mereka tampak cahaya yang berseri-seri, sedikit pun tidak terlihat kemurungan dan kemuraman lantaran mereka itu tidak merasa kecewa atas keyakinannya yang telah dipegang kuat-kuat, dan tidak merasa bersusah hati.
Di akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa mereka inilah orang-orang yang berhak menjadi penghuni surga. Mereka akan bertempat tinggal di dalamnya selama-lamanya. Di situlah mereka mengalami kebahagiaan yang abadi, karena tidak akan merasa bosan dan jemu akan kenikmatan yang mereka rasakan dan tidak pula mereka takut akan berkurangnya kenikmatan atau dikeluarkan dari sana.

27. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang perlindunganpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS. 10:27)

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (27)
Dalam pada itu Allah swt. memberikan penjelasan bahwa orang-orang yang menyebarkan kejahatan dan mengerjakan keonaran di muka bumi serta membangkang dan mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka itu akan mendapat pembalasan yang seimbang, yaitu mereka akan menerima hukuman dari Allah yang setimpal dengan amal perbuatan mereka, sedang wajah mereka tampak kusut disebabkan mereka menderita akibat dari perbuatan syirik yang merasuk ke tulang sumsum mereka, kejahatan yang telah meracuni diri mereka serta penganiayaan mereka terhadap diri mereka sendiri. Pada saat itu mereka tidak dapat membela dirinya, karena memang tidak dapat melindungi diri mereka atau mencegah bencana yang akan ditimpakan kepada mereka. Demikianlah azab yang menimpa yang mereka rasakan dengan penuh penyesalan, akibat mereka menyembah berhala yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat menyampaikan doa-doa mereka. Itulah hari pembalasan yang tidak ada seorang pun yang menolong mereka kecuali amal-amal baik mereka.
Firman Allah swt.:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
Artinya:
(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
(Q.S. Al-Infitar: 19)
Sebagai penyesalan mereka, wajah-wajah mereka terlihat hitam-kelam laksana gelapnya malam yang tak terlihat sedikit pun sepercik kilatan bintang dan seberkas sinar rembulan. Mereka benar-benar menyesali perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Harapan mereka hampa karena berpegang kepada keyakinan yang salah dan mengingkari petunjuk Allah swt.
Di akhir ayat Allah swt. menegaskan bahwa mereka itu akan menjadi penghuni neraka dan kekal selama-lamanya dan tidak ada kemungkinan lagi bagi mereka untuk dapat melepaskan diri karena tempat itulah yang layak bagi mereka. Allah swt. berfirman:

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
Artinya:
Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.
(Q.S. Al-Qiyamah: 24, 25)
Dan firman Allah swt.:

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ
Artinya:
Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
(Q.S. 'Abasa: 40, 41, 42)

28. (Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan): `Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu`. Lalu Kami pisahkan mereka dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: `Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.`(QS. 10:28)

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا مَكَانَكُمْ أَنْتُمْ وَشُرَكَاؤُكُمْ فَزَيَّلْنَا بَيْنَهُمْ وَقَالَ شُرَكَاؤُهُمْ مَا كُنْتُمْ إِيَّانَا تَعْبُدُونَ (28)
Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar memperingatkan kepada orang-orang musyrik bahwa pada suatu saat yang telah ditentukan Allah swt. akan mengumpulkan penyembah-penyembah berhala itu semuanya tanpa ada seorang pun yang ketinggalan, yaitu pada saat seluruh manusia akan diperiksa perkaranya. Dan Allah swt. pada waktu itu berkata kepada mereka yang mempersekutukan Tuhan sedang mereka terbungkam tidak bisa mengeluarkan sepatah perkataan karena kebingungan dan ketakutan: "Mengapa mereka tidak tetap saja bersama-sama dengan sekutu-sekutu mereka di tempat mereka itu. Sehingga sampai saatnya nanti mereka menyaksikan apa yang akan diperlakukan kepada mereka serta keputusan apa yang pantas diberikan kepada mereka sebagai imbalan dari perbuatan mereka yang benar-benar melanggar larangan Allah serta bertentangan dengan fitrah mereka sendiri, yaitu mereka telah menyembah berhala. Mereka tidak dapat lagi memungkiri perbuatannya, karena bukti-bukti telah nyata bahkan memberatkan mereka."
Pada waktu itu sekutu-sekutu mereka itu memberikan keterangannya, bahwa mereka sebenarnya tidaklah semata-mata menyembah sekutu-sekutu, akan tetapi mereka itu hanyalah mempertuhankan hawa nafsu dan setan-setan mereka. Mereka itu menjadikan berhala-berhala sebagai alat untuk kepentingan mereka sendiri. Kemudian Allah memberikan penjelasan bahwa mereka dan sekutu-sekutunya akan dipisahkan sebagai pihak-pihak yang akan diperiksa sebagai tertuduh sedang sekutu-sekutu mereka menjadi saksi.

29. Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami) `.(QS. 10:29)
Surah Yunus 29
فَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ إِنْ كُنَّا عَنْ عِبَادَتِكُمْ لَغَافِلِينَ (29)
Sesudah itu Allah swt. menjelaskan bahwa berhala-berhala itu memberi pernyataan, sebenarnya Allah swt. cukuplah menjadi saksi antara berhala-berhala itu dengan penyembah-penyembahnya. Pada saat itu berhala-berhala itu berlepas diri dari mereka dan mengatakan tidak tahu-menu akan perbuatan mereka. Pada prinsipnya mereka itu akan disiksa, karena mereka telah melakukan kesalahan besar. Mereka telah menyembah sesuatu yang tidak berhak disembah padahal mereka telah mengerti bahwa mereka dan berhala-berhala yang mereka sembah itu diciptakan Allah. Maka seharusnya Allahlah yang patut disembah karena Dia (Allah) Zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi terhadap seluruh makhluk-Nya dan Dia berkuasa pula untuk mendatangkan manfaat dan kemudaratan apabila Dia menghendaki.

30. Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan.(QS. 10:30)

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (30)
Sesudah itu Allah swt. menjelaskan bahwa di padang Mahsyar nanti seluruh manusia akan dikumpulkan untuk menerima pembalasan terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan. Tak ada seorang pun yang terlepas dari hukuman-Nya. Mereka yang berbuat kebajikan akan mendapat balasannya dan sebaliknya mereka yang berbuat kejahatan akan mendapat pula siksaannya. Kemudian urusan mereka akan dikembalikan kepada Allah karena Dialah yang paling berhak menentukan keputusan untuk mereka. Pada saat itu apa yang mereka harapkan agar memberikan syafaat, serta segala sesuatu yang dianggap dapat memberikan pertolongan, sia-sia belaka tidak suatu pun yang dapat memenuhi harapan mereka, apalagi akan menyelamatkan mereka dari siksaan yang akan menimpa. Allah swt. berfirman:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
Artinya:
(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
(Q.S. Al-Infitar: 19) 

SURAH YUNUS
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH YUNUS >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar