Jumat, 30 Maret 2012

Al-An'aam 121 - 140

Surah Al An'AM

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=7&SuratKe=6#Top
121 Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.(QS. 6:121)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 121
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ (121)
Setelah Allah menyuruh memakan sembelihan-sembelihan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, maka dalam ayat ini Allah melarang kaum Muslimin agar jangan memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, karena perbuatan itu termasuk perbuatan yang fasik.
Tentang memakan binatang yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, ada beberapa pendapat di kalangan ulama-ulama Islam. Menurut Imam Malik, semua yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya haram dimakan. Menurut Imam Abu Hanifah, jika nama Allah tidak disebut dengan sengaja, maka haramlah memakan daging sembelihan itu, dan jika tidak sebut karena lupa, maka halal memakannya. Dan menurut Imam Syafi'i, semua binatang yang ketika menyembelihnya tidak disebut nama Allah, baik disengaja maupun karena lupa, maka dagingnya boleh dimakan, asalkan orang yang menyembelihnya adalah orang Islam. Dan sesungguhnya setan-setan, jin dan manusia itu membisikkan kepada kawan kawannya agar membantah kaum Muslimin. Ikrimah berkata "Setan dari golongan Majusi setelah mendengar bahwa Nabi Muhammad saw, mengharamkan bangkai, mereka menulis kepada orang Quraisy yang pada waktu itu sering mengadakan surat-menyurat dengan orang-orang Majusi. Dalam surat itu mereka menyatakan "Muhammad mengaku dirinya telah mengikuti perintah Allah, tetapi mengapa mereka beranggapan bahwa yang disembelih oleh manusia itu halal tapi yang disembelih oleh Allah (bangkai) adalah haram? Lalu Allah menurunkan ayat ini. Demikianlah jika kaum Muslimin mengikuti kehendak kaum musyrikin tentang menghalalkan bangkai maka mereka pasti termasuk golongan musyrikin. Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang musyrikin, karena dengan demikian mereka telah menetapkan adanya orang yang berhak membuat syariat selain Allah Taala sendiri.


122 Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 6:122)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 122
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (122)
Dalam rangka membedakan antara kaum Muslimin dengan orang orang kafir, Allah SWT mengemukakan dalam bentuk pertanyaan, yaitu: Apakah orang-orang yang mati hatinya karena kekafiran dan kebodohan kemudian Kami hidupkan dia dengan keimanan dan Kami berikan pula kepadanya cahaya, yaitu Alquran yang terang benderang sehingga ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, sama halnya dengan keadaan orang yang berada dalam gelap gulita yang berlapis-lapis, yaitu kegelapan malam, dan kegelapan hujan?.
Ia tidak dapat keluar lagi dari pada kegelapan itu yang meliputi dirinya dengan ketakutan, kelemahan dan kebingungan. Maka demikian pula seorang yang berada dalam kebodohan yang gelap, taklid buta dan kerusakan pikiran yang tidak dapat keluar lagi dari hal yang demikian itu.
Ia sendiri merasa takut keluar dari gua kesesatannya dan merasa tidak perlu untuk keluar kepada petunjuk yang terang benderang karena matanya merasa sakit kena cahaya petunjuk itu. Seperti sakitnya seekor kelelawar yang biasa hidup dalam kegelapan, karena melihat sinar matahari.
Maka patutlah bagi setiap muslim untuk selalu hidup disertai ilmu pengetahuan. Ia wajib mengetahui kebenaran agamanya dengan penuh keyakinan disertai dengan amal-amal kebaikan, sehingga menjadi suri teladan bagi orang-orang di sekitarnya.
Dan demikian, ia akan menjadi mercusuar yang mencerminkan keyakinan yang kuat dan hujah yang nyata, memperlihatkan keutamaan agamanya yang melebihi agama-agama yang lain. Sebagaimana Allah telah menjadikan orang beriman memandang baik kepada cahaya petunjuk dan agama yang telah menghidupkan hatinya, maka demikian pula Allah SWT telah menjadikan orang-orang kafir memandang baik apa saja yang mereka kerjakan, seperti berbuat dosa dan pelanggaran memusuhi Rasul, menyembelih kurban untuk selain Allah dan mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Nya dan sebagainya, karena semuanya itu mereka lakukan disebabkan tipu daya dari pada setan-setan yang membisikkan godaan-godaan ke dalam hati mereka.


123 Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.(QS. 6:123)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 123
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (123)
Sebagaimana Allah SWT telah menyesatkan sebagian penduduk Mekah karena bujukan pembesar-pembesarnya yang mengadakan bermacam-macam pelanggaran dan tipu daya, maka demikian pula Allah mengadakan di tiap-tiap negeri dan kota-kota besar beberapa pembesar-pembesar yang jahat yang mengadakan tipu daya. Telah menjadi Sunnatullah di dalam masyarakat bahwa bila mana Allah mengutus seorang Rasul di negeri itu untuk memberi bimbingan kepada rakyatnya, maka selalu ada pembesar-pembesar yang memusuhi Rasul itu serta pengikut-pengikutnya yang bermaksud untuk mengadakan perbaikan, sering muncul di beberapa negara dan kota besar, beberapa pemimpin yang sangat ingin merebut kekuasaan dan menimbun kekayaan dengan berbagai macam tipu daya. Orang-orang bawahan, mereka merasa bingung dalam melaksanakan tugasnya. Mereka tidak sanggup mengikuti pemimpin-pemimpinnya yang korup dan menyeleweng, tetapi bilamana hidup menyendiri, merekapun tidak mendapat pembagian rezeki. Dalam suasana muram seperti itu, diperlukan adanya kebijaksanaan, keimanan yang kuat, mental yang tinggi, sehingga tidak mudah dibawa-bawa arus gelombang kesesatan yang menyebabkan kemurkaan Allah.
Yang dimaksud dengan pembesar-pembesar durhaka itu ialah mereka yang menentang seruan agama untuk perbaikan akhlak, dan memusuhi Rasul-rasul serta pengikut-pengikutnya. Demikianlah keadaan di negeri Mekah ketika diutusnya Nabi Muhammad saw dan keadaan seperti ini akan berulang pula di negeri-negeri lain. Para pembesar yang korup itu memusuhi Rasul-rasul dan pengikut-pengikutnya yang mengembangkan ajaran agama. Pada hakikatnya mereka itu adalah penipu belaka, menipu dirinya sendiri, akan tetapi mereka tidak sadar.
Telah menjadi Sunnatullah, bahwa sesuatu kejahatan tentu menimbulkan yang buruk. Tiap-tiap tipu muslihat yang direncanakan mereka terhadap hamba-hamba Allah yang Saleh akhirnya mesti menimpa diri mereka sendiri dan kesudahan yang baik pasti berada di tangan kaum Muslimin. Banyak contoh-contoh yang diperlihatkan oleh sejarah bahwa umat-umat yang menentang Rasul-rasul Nya dan pengikut-pengikutnya akhirnya dihancurkan oleh Allah Taala dengan bermacam-macam azab, seperti bencana alam, dan lain-lain. Mereka mengadakan tipu daya untuk menentang perbaikan akhlak dan moral agama, karena terdorong oleh keinginan untuk menduduki jabatan jabatan yang tinggi dan menuruti kepuasan hawa nafsunya. Mereka tidak sadar bahwa akibat perbuatannya yang buruk itu akan menimpa dirinya sendiri, karena mereka tidak memahami Sunnatullah tersebut.
Pada ayat-ayat ini Allah memberikan ancaman kepada semua pembesar-pembesar yang durhaka itu, dan sekaligus pula menyuruh sadar pada Nabi Muhammad saw dan pengikut-pengikutnya dalam rangka melaksanakan tugasnya yang suci, supaya berjalan terus tanpa menghiraukan godaan dan rintangan yang timbul dari manapun juga.


124 Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: `Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah`. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.(QS. 6:124)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 124
وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ (124)
Ayat ini diturunkan karena ada seorang pembesar Mekah bernama Al Walid Ibnul Mugirah yang berkata sebagai berikut: "Demi Allah seandainya kenabian Muhammad itu benar, tentulah aku lebih berhak untuk diangkat sebagai Nabi, dari pada Muhammad, sebab aku lebih banyak mempunyai harta benda dan keturunan".
Apabila datang ayat yang jelas dari pada Alquran yang berisi tentang kebenaran Muhammad saw, berisi pengetahuan dan petunjuk yang dibawa oleh beliau dari Tuhannya, mereka berkata: Kami tidak mau percaya kepada Muhammad, kecuali bila dia membawa mukjizat seperti yang diberikan Allah kepada Nabi Musa atau tongkatnya yang dapat membelah lautan, atau seperti mukjizat Nabi `Isa yang dapat menyembuhkan penyakit sopak dan menghidupkan orang mati.
Tuntutan mereka itu disebutkan pula dalam firman Allah:

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا(21)
Artinya:
Berkata orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya dengan Kami: Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kelaliman".
(Q.S Al Furqan: 21)
Pada garis besarnya mereka itu tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad saw kecuali jika dia menerima wahyu seperti Rasul-rasul yang lain. Allah membantah tuntutan-tuntutan mereka itu dan menyatakan bahwa hanya Allahlah yang lebih mengetahui kepada siapa Dia menempatkan tugas kerasulan. Tuntutan mereka seperti itu dijelaskan pula oleh Allah SWT dalam firman Nya:

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْءانُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ(31)أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Artinya:
Dan mereka berkata: "Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia".
(Q.S Az Zukhruf: 31-32)
Tuntutan seperti itu dikemukakan oleh mereka dalam kehidupan dunia kepada Nabi Muhammad saw karena terdorong oleh kedengkian dan kesombongan dan dimaksudkan untuk mencemoohkan beliau.
Hal itu dijelaskan dalam firman Allah:

وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ ءَالِهَتَكُمْ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ(36)
Artinya:
Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok (mereka mengatakan): "Apakah ini orang-orang yang mencela tuhan-tuhanmu, padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar untuk mengingat Allah Yang Maha Pemurah".
(Q.S Al Anbiya':36)
Pembesar pembesar Quraisy yang menghina Nabi Muhammad saw itu, dalam hati kecilnya mereka mengakui kemuliaan keturunannya dan kebaikan akhlaknya, sehingga mereka di zaman jahiliah memberikan julukan kepada beliau dengan Al Amin (orang yang terpercaya).
Mereka itu mengakui dengan terus terang kejujuran Nabi Muhammad saw dan keutamaannya untuk dijadikan utusan Allah tidak lain yang menghalang-halangi mereka dan keimanan itu hanyalah karena kedengkian, kesombongan, dan taklid buta saja.
Pangkat kerasulan itu adalah semata-mata karunia Allah SWT yang dianugerahkan Nya kepada siapa yang dikehendaki Nya. Pangkat kenabian tidak mungkin dicapai dengan jalan usaha atau dengan meningkatkan taraf pendidikan dan tidak pula mungkin dicapai nasab atau keturunan; dan hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang dipilih Nya. Kemudian Allah mengancam pembesar-pembesar yang sombong itu bahwa mereka akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang pedih karena perbuatan mereka yang jahat dan tipu muslihat mereka terhadap Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan dalam firman.

فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(26)
Artinya:
"Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar, seandainya mereka mengetahui".
(Q.S Az Zumar: 26)
Azab dari Allah ditimpakan kepada umat-umat yang durhaka itu, disebabkan dosa-dosa dan pelanggaran mereka. Sayang sekali, bahwa azab itu dipandang oleh sebagian manusia hanya sebagai bencana alam dan tidak menimbulkan kesadaran dalam hati mereka. Pembesar-pembesar yang durhaka itu kemudian ada di antara mereka yang mati terbunuh pada waktu perang Badar dan ada pula yang mengalami nasib hina dina.


125 Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.(QS. 6:125)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 125
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (125)
Barang siapa yang terbuka hatinya untuk menerima kebenaran agama Islam, sebenarnya yang demikian itu adalah disebabkan karena Allah hendak memberikan petunjuk kepadanya, sehingga menjadi lapanglah dadanya untuk menerima semua ajaran-ajaran Islam.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya tentang "kelapangan dada" yang dimaksud dalam ayat ini, lalu beliau menjawab. "itulah gambaran cahaya Ilahi yang menyinari hati orang mukmin, sehingga menjadi lapanglah dadanya". Para sahabat bertanya lagi: "Apakah yang demikian itu ada tanda-tandanya?" Nabi saw menjawab: "Ada tanda-tandanya, yaitu jiwanya selalu condong kepada akhirat, selalu menjauhkan diri dari tipu daya keduniawian dan selalu bersiap-siap untuk menghadapi kematian".
Jika demikian halnya sifat-sifat orang-orang mukmin yang berlapang dada karena kemasukan cahaya iman ke dalam hatinya, maka sebaliknya orang yang dikehendaki Allah untuk hidup dalam kesesatan, dadanya dijadikan sesak dan sempit seolah-olah ia sedang mendaki langit Apabila ia diajak untuk berpikir tentang kebenaran dan tafakur tentang tanda-tanda keesaan Allah, maka disebabkan adanya kesombongan dalam hatinya, ia tidak menyukai perbuatan perbuatan yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Maka menjadi lemahlah kemauannya untuk mengikuti kebenaran dan setiap anjuran kepada agama yang dirasakannya sebagai suatu beban yang-berat yang tidak dapat dipikulnya, Maka; dan gambarannya adalah seperti seseorang yang disuruh mendaki ke langit, Semakin tinggi ia naik ke langit, semakin sesak nafasnya, sehingga ia terpaksa turun kembali untuk menghindarkan diri dari kebinasaan.
Dalam ayat ini Allah memberikan sebuah perumpamaan, supaya diresapkan benar-benar dengan perasaan yang murni. Demikianlah Allah menjadikan kesempitan di dalam hati orang-orang yang tidak beriman dan jadilah kekafiran itu seperti kotoran yang menutup hati mereka, sehingga ia tidak menerima kebenaran. Keadaan ini dapat disaksikan pada tingkah laku mereka dalam perbuatan sehari-hari, yang selalu menjurus kepada kejahatan.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 125
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (125)
(Siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam) dengan cara menyinarkan nur hidayah ke dalam dadanya sehingga dengan sadar ia mau menerima Islam dan mau membuka dadanya lebar-lebar untuk menerimanya. Demikianlah sebagaimana yang telah disebutkan dalam suatu hadis. (Dan siapa yang dikehendaki) Allah (kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak) dengan dibaca takhfif dan tasydid yakni merasa sempit untuk menerimanya (lagi sempit) terasa amat sempit; dengan dibaca kasrah huruf ra-nya menjadi sifat dan dibaca fathah sebagai mashdar yang diberi sifat dengan makna mubalaghah (seolah-olah ia sedang mendaki) menurut suatu qiraat dibaca yashsha`adu di dalam kedua bacaan tersebut berarti mengidgamkan ta asal ke dalam huruf shad. Menurut qiraat lainnya dengan dibaca sukun huruf shad-nya (ke langit) apabila iman dipaksakan kepadanya karena hal itu terasa berat sekali baginya. (Begitulah) sebagaimana kejadian itu (Allah menimpakan siksa) yakni azab atau setan, dengan pengertian azab atau setan itu menguasainya (kepada orang-orang yang tidak beriman).


126 Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.(QS. 6:126)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 126
وَهَذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ (126)
Hati seorang mukmin dalam agama Islam selalu menjadi lapang dan bahagia disebabkan jalan agama Allah yang lurus yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Agama Islam yang benar akidahnya, jelas karena disertai dalil yang nyata dan keterangan yang meyakinkan. Satu-satunya jalan yang lurus yang sesuai dengan akal fitrah dan bersandar kepada firman Allah yang kekal abadi, itulah jalan yang menuju kepada firman Allah yang kekal abadi, itulah jalan yang I menuju kepada keridaan Allah, tali Allah yang kokoh. Allah telah menjelaskan ayat-ayat Nya bagi kaum yang suka memperhatikan.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 126
وَهَذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ (126)
(Dan inilah) apa yang engkau berada di dalamnya hai Muhammad! (jalan) titian (Tuhanmu yang lurus) tidak ada liku-likunya; Lafal mustaqiiman dibaca nashab menjadi hal yang mengukuhkan jumlah, sedangkan yang menjadi `amilnya adalah makna isyarah. (Sesungguhnya Kami telah menjelaskan) Kami telah menerangkan (ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang mengambil pelajaran) Lafal yadzdzakkaruun dengan mengidgamkan huruf ta tambahan ke dalam huruf dzal asal; maknanya orang-orang yang mau mengambil sebagai pelajaran. Mereka disebutkan secara khusus sebab merekalah orang-orang yang mengambil manfaat darinya.


127 Bagi mereka (disediakan) darussalam (syurga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.(QS. 6:127)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 127
لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (127)
Bagi mereka yang menempuh jalan yang lurus itu disediakan Darussalam (surga) di sisi Tuhannya. Mereka hidup melalui jalan-jalan yang lurus itu dan mengikuti pedoman para Nabi yang memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka terhindar dari jalan-jalan yang bengkok dan akhirnya sampailah mereka ke Darussalam. Allah memimpin mereka dan mencukupkan balasan bagi apa yang mereka kerjakan di dunia. Allah memberi petunjuk kepada mereka selama di dunia dan memberi taufik untuk berbuat amal kebaikan, sehingga mereka memperoleh pahalanya, dan di izinkan untuk memasuki surga Nya semata-mata atas karunia Nya.


128 Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): `Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia`, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: `Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami`. Allah berfirman: `Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)`. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:128)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 128
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (128)
Pada hari kebangkitan nanti, seluruh umat manusia dan jin akan dihimpun semuanya di padang Mahsyar lalu Allah berfirman kepada mereka yang maksudnya mencela perbuatan jin yang telah mempengaruhi manusia dan mengajak mereka kepada kesesatan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(60)وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ(61)وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ(62)
Artinya:
"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah Ku; inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu, maka apakah kamu tidak memikirkan?".
(Q.S Yasin: 60, 61, 62)
Semua orang yang mengikuti ajaran jin dan setan itu akan dikumpulkan bersama-sama mereka. Semua orang yang mukallaf akan dihimpunkan bersama para pengikutnya, baik dalam segi kebenaran atau kejahatan. Lalu berkatalah orang-orang yang menjadi pengikut jin itu sebagai jawaban mereka kepada Allah Taala: "Ya Tuhan kami, masing-masing di antara kami telah merasakan kenikmatan dari pihak lainnya. Jin-jin itu mendapatkan kenikmatan karena mereka telah berhasil menyesatkan kami dengan bujukan-bujukan dan mengikuti kehendak hawa nafsunya sebaliknya kamipun telah merasa senang mengikuti mereka itu dan mendengarkan bisikan-bisikannya. Kami merasa leluasa berkecimpung dalam kelezatan di dunia.
Dalam ayat ini Allah memberikan penjelasan, bahwa setiap manusia senantiasa didampingi setan yang berusaha untuk membujuknya dengan bisikan yang mengajaknya kepada kefasikan dan kedurhakaan kepada Allah, sehingga ia tidak menyadari, bahwa hal itu adalah tipu muslihat dari pada setan tersebut. Makhluk halus itu selalu berusaha untuk menyesatkan orang-orang kepada lembah kebatilan dan kejahatan, sebagaimana kuman-kuman bakteri yang selalu berusaha untuk menimbulkan bermacam-macam penyakit dalam tubuh manusia atau hewan. Kuman-kuman bakteri itu mengetahui jalannya untuk memasuki tubuh manusia atau binatang dari lubang-lubang yang halus. Demikian pula setanpun mengetahui jalannya untuk memasuki hati manusia, sehingga manusia jatuh ke lembah kesesatan tanpa disadarinya.
Apabila ada pengaruh kuman-kuman bakteri itu di dalam tubuh manusia, maka hal itu mudah dimengerti karena roh-roh manusia pun yang lebih halus sifatnya dari tubuh kasarnya, dapat dimasuki pengaruh-pengaruh makhluk makhluk halus, yaitu jin dan setan, yang menjerumuskan kepada penyakit penyakit rohani.
Orang-orang yang menjadi pengikut jin dan setan itu berkata; dengan penuh kesedihan dan penyesalan: "Ya Tuhan, kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami, setelah kami menerima kelezatan karena mengikuti ajakan jin dan setan itu dan kami telah mengakui dosa-dosa kami, maka kami berserah diri kepada Mu untuk menerima hukuman Mu yang seadil-adilnya.
Yang mereka maksudkan dengan ucapannya itu tidak lain hanyalah memperlihatkan penyesalan dan keterlaluan mereka dalam mengikuti hawa nafsu dan sekarang mereka berserah diri pada Allah Taala Yang mengetahui segala perbuatan mereka. Dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana jawaban jin dan setan yang membawa mereka kepada kesesatan itu, tetapi dijelaskan dalam firman Allah pada ayat yang lain:
ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ(25)
Artinya:
"Nanti di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian yang lain dan sebagian kamu melaknati sebagian yang lain, dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolongpun".
(Q.S Al Ankabut: 25)
Dan tersebut pula dalam surah Al Baqarah, bagaimana mereka masing-masing berlepas diri dari kawan-kawannya. Sebagai jawaban atas kepatuhan mereka itu Allah berfirman: Neraka itulah tempat kamu berdiam sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali Tuhan menghendaki yang lainnya. Segala sesuatu berada di bawah kehendak dan pilihan Nya, dan tidak ada yang mengetahui kehendak Nya itu melainkan Dia sendiri dan Dialah Tuhan Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Ibnu `Abbas memahami dari ayat di atas, bahwa siapapun tidak patut turut campur dalam menentukan nasib seorang hamba Allah, apakah dia akan dimasukkan ke surga atau ke neraka. Semuanya berada sepenuhnya di bawah kekuasaan dan kehendak Allah SWT".


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 128
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (128)
(Dan) ingatlah (hari di waktu Kami menghimpun mereka semuanya) dengan memakai nun dan ya; artinya Allahlah yang menghimpun semua makhluk kemudian diserukan kepada mereka ("Hai golongan jin/setan! Sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia,") dengan cara kamu menyesatkan mereka (lalu berkatalah kawan-kawan mereka) yaitu mereka yang mau menaatinya (dari kalangan manusia, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian yang lainnya) manusia telah mengambil manfaat melalui jin yang menghiasi keinginan-keinginan nafsu syahwat mereka, dan demikian pula jin pun mengambil manfaat dari manusia melalui ketaatan manusia kepada mereka (dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami") yakni hari kiamat; hal ini adalah merupakan ungkapan kekecewaan mereka (Allah berfirman) Maha Tinggi Allah, kepada mereka melalui lisan para malaikat-Nya ("Neraka itulah tempat kamu) tempat diam kamu (sedangkan kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki yang lain.") batas-batas waktu tertentu di mana mereka dapat dikeluarkan dari neraka, untuk meminum hamim/keringat ahli neraka yang berada di luar neraka, demikianlah seperti apa yang dikatakan dalam firman-Nya, "Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim," surah Ash-Shaffaat. Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang telah diketahui Allah bahwa mereka orang-orang yang beriman. Dengan demikian berarti Lafal maa bermakna man. (Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana) di dalam mengatur ciptaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-makhluk-Nya.


129 Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.(QS. 6:129)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 129
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (129)
Dengan ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa hidup berkelompok dan bergolong-golongan antara orang yang sama tujuan, cita-cita dan kepentingannya terutama dalam hal yang jahat dan menyesatkan telah menjadi kebiasaan dari sebagian mereka, tidak ada bedanya antara jin dan manusia. Mereka selalu tolong menolong dan bantu membantu dalam berbagai usaha dan daya upaya agar apa yang mereka cita-citakan dan apa yang mereka perjuangkan dapat terlaksana dengan sempurna. Mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan, kelaliman dan penganiayaan dan tidak menghiraukan lagi norma-norma kemanusiaan, keadilan, dan sifat kasih sayang, asal saja mereka selalu dapat berkuasa dan menikmati kehidupan dunia ini dengan sepuas-puasnya. Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan oleh sejarah semenjak zaman dahulu kala sampai kepada zaman sekarang ini. Betapa banyak Nabi-nabi dan Rasul-rasul membawa kebenaran, penyeru kepada akidah tauhid, mendapat tantangan yang hebat dan keras dari penyembah berhala dan penyeru kepada kebatilan dan kesesatan. Para Nabi dan Rasul itu tetap dalam pendiriannya, tetap dalam dakwahnya sehingga Allah memberi keputusan antara mereka dan kaumnya yang sesat dan durhaka itu seperti kaum Ad dan Samud. Betapa banyak bangsa bangsa yang merasa dirinya kuat dan perkasa dengan terang-terangan merampas hak bangsa-bangsa yang lemah tanpa memperdulikan rasa keadilan dan perikemanusiaan. Tetapi bangsa-bangsa yang tertindas dan terjajah itu tidak tinggal diam dan selalu berjuang dengan berbagai cara untuk mencapai dan memperoleh serta mengambil kembali kemerdekaannya. Memang telah menjadi Sunah Allah bahwa kebenaran pasti menang selama kebenaran itu tetap dibela dan diperjuangkan.
Allah berfirman:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا(81)
Artinya:
"Dan katakanlah! Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap".
(Q.S Al Isra': 81)
Allah tidak menyuruh manusia atau jin agar mereka bersatu dan berkelompok untuk berbuat kejahatan, melakukan yang batil dan berbuat yang mungkar tetapi demikianlah tabiat manusia dan masyarakatnya, mereka lebih tertarik untuk bergabung dan bertolong-tolongan dengan kelompok yang sama arah dan tujuan hidupnya, walaupun hal itu ditujukan untuk melakukan kelaliman dan bertindak sewenang wenang terhadap masyarakat yang lain Allah berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(67)
Artinya:
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah juga melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.
(Q.S At Taubah: 67)
Diriwayatkan dari Qatadah bahwa dalam menafsirkan ayat ini dia berkata: "Sesungguhnya Allah menjadikan manusia berteman akrab sesamanya dengan sebab persamaan perbuatannya; seorang mukmin adalah wali (teman akrab) bagi orang mukmin, kapan dan di mana dia berada. Seorang kafir adalah wali orang kafir lainnya, kapan dan di manapun ia berada. Iman itu bukanlah dengan angan-angan dan bukan pula dengan tanda atau pakaian. Demi umur Ku! Bila engkau taat kepada Allah, sedang engkau tidak mengenal seorangpun di antara orang yang taat kepada Nya, maka hal itu tidak membahayakan kepadamu. Dan bila engkau berbuat durhaka dan maksiat yang dilarang Allah sedang engkau berteman akrab dengan orang yang taat dan takwa kepada Nya, maka hal itu tidak akan berguna sedikit pun bagimu.
Abe Syaikhi meriwayatkan bahwa Masykur bin Abil Aswad berkata: "Aku bertanya kepada Al A'masy tentang maksud ayat 129 ini: "Apakah yang engkau dengar dari para sahabat dan ulama tabiin? Al A'masy menjawab: "Aku dengar mereka berkata: "Apabila akhlak manusia telah rusak, maka mereka akan diperintah oleh manusia-manusia yang jahat. Allah berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا(16)
Artinya:
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya".
(Q.S Al Isra': 16)
Sebaliknya orang-orang mukmin mereka bersatu dan memiliki pemimpin dan orang kepercayaan yang terdiri dari orang-orang yang baik, jujur dan bertakwa kepada Allah SWT.
Firman Allah

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(71)
Artinya:
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya, Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Q.S At Taubah: 71)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 129
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (129)
(Dan demikianlah) sebagaimana yang telah Kami berikan nikmat kepada orang-orang yang maksiat dari golongan manusia dan jin sebagian mereka melalui sebagian lainnya (Kami jadikan berteman) saling bantu-membantu (sebagian orang-orang yang lalim itu dengan sebagian lainnya) atas sebagian lainnya (disebabkan apa yang mereka usahakan) berupa perbuatan-perbuatan maksiat.


130 Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: `Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri`, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir.(QS. 6:130)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 130
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ (130)
Di akhirat nanti, kepada semua jin dan manusia yang durhaka, yang tidak mengikuti ajaran Rasul dan tidak mengindahkan larangan Allah yang disampaikan Rasul kepada mereka sehingga mereka berbuat sewenang-wenang di muka bumi, akan dikemukakan kepadanya pertanyaan: "Apakah tidak datang kepadamu Rasul-rasul Kami, memperingatkan kamu dan memberi petunjuk yang benar agar kamu jangan tersesat dan jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Kami? Karena itu mereka tidak berdaya lagi, dan mereka menyesali segala yang mereka perbuat semasa di dunia, dan dengan tunduk mereka mengakui kesalahan-kesalahan mereka serta menjawab: "Kami mengakui bahwa Rasul-rasul Mu telah datang kepada kami dan telah memberikan peringatan dan ajaran-ajaran yang baik yang seharusnya kami perhatikan dan kami amalkan dengan patuh dan taat, tetapi kami tidak mengindahkannya, bahkan kami mendustakan mereka dan memperolok-olok seruan mereka.
Allah berfirman:
قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ(9)
Artinya
Mereka menjawab: "Benar ada", sesungguhnya telah datang kepada kami mendustakan (nya) dan kami sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar".
(Q.S Al Mulk: 9)
Mereka telah ditipu dan diperdayakan oleh kehidupan dunia dan disilaukan oleh harta, wanita, pangkat dan kedudukan, sehingga hati mereka telah menjadi beku, mata mereka telah menjadi buta, dan tidak dapat lagi membedakan mana yang baik, mana yang buruk dan tidak dapat lagi melihat cahaya ajaran Ilahi yang akan membawa mereka ke dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Para Rasul itu telah membacakan kepada mereka ayat-ayat yang diturunkan Allah dan telah memperingatkan mereka bahwa di akhirat nanti akan ada hari pembalasan di mana orang-orang yang berbuat baik akan masuk surga dan orang-orang yang kafir akan di siksa dalam neraka. Di kala itulah mereka mengaku terus terang bahwa mereka dahulu (di dunia) memang ingkar dan kafir, mendustakan rasul-rasul dan tidak percaya dengan adanya hari akhirat.
Mengenai Rasul-rasul yang diutus itu apakah mereka terdiri dari manusia saja ataukah ada pula Rasul-rasul dari jin yang diutus kepada umatnya? Jumhur ulama berpendapat bahwa Rasul-rasul itu semuanya terdiri dari manusia saja, dan tidak ada rasul-rasul dari kalangan jin. Alquran dan hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw juga diutus kepada jin seperti tersebut dalam ayat berikut:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ(29)قَالُوا يَاقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ(30)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus".
(Q.S Al Ahqaf: 29-30)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 130
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ (130)
(Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri) kalangan kamu sendiri; artinya sebagian kamu yang percaya kepada manusia atau utusan-utusan jin yang sengaja Kami biarkan mereka mendengar ucapan-ucapan para rasul Kami kemudian mereka menyampaikannya kepada kaumnya (yang menceritakan kepada kamu tentang ayat-ayat-Ku dan memperingatkan kamu tentang pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.") bahwa sesungguhnya kami telah menerimanya. Allah swt. berfirman: (Kehidupan dunia telah menipu mereka) sehingga mereka tidak mau beriman (dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.)


131 Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.(QS. 6:131)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 131
ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ (131)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa telah terjadi sunah dan ketetapan Nya sesuai dengan hikmah kebijaksanaan dan keadilan Nya, apabila Dia hendak membinasakan suatu umat karena kedurhakaan dan kezalimannya. Terlebih dahulu Dia mengutus seorang Rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka. Dia tidak akan menurunkan azab dan siksa Nya kepada suatu umat padahal umat itu dalam keadaan lalai dan terlena karena tidak datang kepada mereka seorang Rasul yang memberi tuntunan dan petunjuk yang akan memperingatkan dan menimbulkan kesadaran dalam hati mereka bahwa mereka benar-benar telah sesat dari jalan yang lurus dan telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan keadilan dan perikemanusiaan.
Siksaan yang diturunkan Allah kepada hamba Nya yang durhaka yang amat keras, misalnya siksaan yang memusnahkan mereka seperti yang pernah terjadi pada kaum `Ad dan Samud; dan ada pula siksaan yang menghina mereka dengan cara mengusir dan mencerai beraikan mereka, seperti yang diderita oleh Bani Israel; dan ada pula siksaan yang menghancurkan kekuatan mereka, seperti yang diderita oleh kaum musyrikin Mekah. Sesudah Nabi Muhammad diutus Allah kepada manusia untuk segala tempat dan zaman, siksaan yang menghancurkan dan memusnahkan itu tidak ada lagi. Adapun malapetaka yang terjadi, seperti gempa, topan, banjir dan sebagainya, adalah cobaan dan ujian bagi umat manusia agar mereka insaf dan sadar akan kekuasaan Allah dan agar mereka selalu ingat kepada Nya, dan tidak berpaling dari petunjuk dan ajaran yang diturunkan Nya dengan perantaraan Rasul Nya.
Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hambanya, bahkan merekalah yang menganiaya dirinya sendiri dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sunah dan ketetapan Nya dan melanggar norma-norma yang telah diberikan Nya untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Mungkin dilihat ada beberapa umat yang tampaknya kuat dan jaya padahal umat itu telah melemparkan norma-norma keadilan dan-perikemanusiaan, bahkan ada yang mengingkari kekuasaan Allah dan menganggap agama Nya sebagai racun yang membunuh manusia, tetapi hal itu adalah istidraj dari Allah yang membiarkan mereka tenggelam dalam paham kebendaan, sombong dan takabur atas hasil yang mereka capai. Namun akhirnya mereka akan mengalami nasib seperti orang yang sombong dan takabur. Terserahlah kepada manusia itu sendiri apakah ia akan menjadi orang yang beriman, mematuhi dan menjalankan semua aturan dan ajaran yang diturunkan Nya dengan perantaraan Rasul Nya, dan dengan demikian dia akan hidup berbahagia jasmani dan rohaninya, ataukah dia akan menganggap dirinya lebih berkuasa atau lebih pintar serta menganggap ajaran-ajaran agama itu sudah ketinggalan zaman. Dia bebas berpikir berbuat dan menetapkan sesuatu menurut kehendaknya dan akhirnya akan terombang ambing antara teori-teori yang tidak tentu ujung pangkalnya serta terjerumus ke jurang kehancuran, keonaran dan kerusakan. Allah telah membentangkan di hadapan manusia jalan yang baik dan jalan yang buruk; terserah kepadanya jalan mana yang akan ditempuhnya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 131
ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ (131)
(Yang demikian itu) dengan mengutus para utusan (supaya) huruf lam dimuqaddarahkan sedangkan an berasal dari anna yang ditakhfifkan; yaitu berasal dari liannahu (Tuhanmu tidak membinasakan kota-kota secara aniaya) sebagian dari kota-kota itu (sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah) dan belum pernah diutus kepada mereka seorang rasul pun yang memberikan penjelasan kepada mereka.


132 Dan masing-masing orang memperoleh derjat-derjat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(QS. 6:132)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 132
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (132)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa masing-masing jin dan manusia yang telah sampai kepadanya seruan Rasul, akan mendapat derajat dan tingkatan yang sesuai dengan amal perbuatannya. Yang beriman, yang bertakwa dan mengerjakan amalan yang saleh, akan mendapat derajat dan tingkatnya sesuai dengan tebalnya iman, kuatnya takwa dan banyaknya amal saleh yang dikerjakan seperti derajat yang dicapai oleh Nabi-nabi, siddiqin, syuhada dan salihin, seperti yang tersebut dalam firman Allah:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا(69)
Artinya:
Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi; para siddiqin, orang-orang yang mati syahid dan Orang orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".
(Q.S An Nisa': 69)
Sebaliknya orang-orang kafir munafik dan ingkar yang banyak melakukan kejahatan akan menempati tingkat yang rendah yang paling bawah, sesuai dengan usaha dan pekerjaan mereka masing-masing: seperti orang munafik yang tempatnya adalah di dalam neraka tingkat yang paling bawah, sebagai tersebut dalam firman Allah:

\إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا(145)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
(Q.S An Nisa': 145)
Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang dikerjakan oleh jin dan manusia. Semua pekerjaannya, baik yang kecil maupun yang besar yang buruk atau yang baik, akan dicatat dan mereka akan mendapat balasannya. Kejahatan akan dibalas dengan siksaan yang setimpal dan kebaikan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.


133 Dan Tuhanmu Maha Kaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siap yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.(QS. 6:133)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 133
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ (133)
Permulaan ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Besar kekayaan-Nya dan Maha Luas rahmat-Nya; tidak berkehendak kepada apa dan siapa pun; semua yang selain Allah berkehendak kepada-Nya dalam wujudnya dan kelanjutan hidupnya. Bagaimanapun kekayaan seseorang manusia namun dia masih memerlukan pertolongan orang lain, misalnya pertolongan dari pembantu-pembantunya, buruhnya, dokternya, dan sebagainya. Ia pasti berkehendak kepada pertolongan Allah swt., Penciptanya dan Pencipta semua keperluan dan kebutuhan hidupnya, Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ(15)
Artinya:
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
(Q.S Fatir: 15)
Hal ini dijelaskan oleh sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Zar dari Nabi saw. Beliau menerima wahyu dari Tuhan sebagai berikut:

يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسى وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا، ياعبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم، ياعبادي كلكم جائع إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم، ياعبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم، يا عبادي إنكم تخطؤون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني اغفر لكم، يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني، يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقي قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك فى ملكي شيئا، ياعبادي لو أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أفجر قلب رجل واحد منكم ما نقص ذلك من ملكى شيئا، يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد فاسئلوني فأعطيت كل واحد مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلا كما يتقص المخيط إذا أدخل البحر، يا عبادي إنما هي أعمالكم أحصيها لكم ثم أوفيكم إياها فمن وجد خيرا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه
Artinya:
Hai hamba-hamba-Ku, Aku mengharamkan terhadap diri-Ku berbuat lalim dan Aku jadikan perbuatan lalim itu haram pula di antara kamu, maka janganlah kamu melakukan kelaliman terhadap sesamamu. Hai hamba-hamba-Ku, semua kamu berada dalam kesesatan kecuali orang-orang yang telah Aku beri petunjuk, maka mintalah selalu petunjuk-Ku tentu Aku akan menunjukimu. Hai hamba-hamba-Ku, semua kamu lapar kecuali orang-orang yang Aku beri makanan, maka mintalah kepada-Ku makanan niscaya Aku akan memberimu makanan. Hai hamba-hamba-Ku, semua kamu dalam keadaan telanjang kecuali orang-orang yang telah Aku beri pakaian, maka mintalah kepada-Ku niscaya akan Aku beri kamu pakaian. Hai hamba-hamba-Ku, kamu senantiasa melakukan kesalahan pada siang dan malam sedang Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni. Hai hamba-hamba-Ku, kamu sekali-kali tidak akan memberi mudarat kepada-Ku sehingga Aku mendapat mudarat karenamu dan kamu sekali-kali tidak akan memberikan manfaat kepada-Ku sehingga Aku mendapat manfaat karenamu. Hai hamba-hamba-Ku, andaikata orang-orang dahulu, orang-orang yang kemudian, manusia dan jin semuanya sangat bertakwa kepada-Ku, maka hal itu tidak akan menambah apa-apa kepada kerajaan-Ku. Hai hamba-hamba-Ku, sekiranya orang-orang dahulu, orang-orang yang kemudian, manusia dan jin semuanya bersifat jahat maka hal itu tidak akan mengurangi sesuatu apa pun dari kerajaan-Ku. Andaikata orang-orang dahulu, orang-orang kemudian, jin dan manusia berada pada suatu tempat, lalu mereka meminta kepada-Ku dan Aku kabulkan semua permintaan itu, maka hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun perbendaharaan yang ada pada-Ku kecuali seperti jarum licin mengurangi air lautan bila dimasukkan ke dalamnya (dan diangkat kembali). Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya aku mencatat semua amalan kamu dan akan Kubalas dengan sempurna, maka barang siapa mendapat balasan yang baik, hendaklah ia memuji Allah, dan barang siapa mendapat balasan yang buruk, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.
(H.R Ahmad, Muslim, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Abu Zar)
Demikianlah kekayaan Allah secara terperinci. Adapun rahmat dan karunia-Nya yang amat luas dan tidak terhingga dapat dilihat pada kenyataan alam semesta, ciptaan-Nya dan seorang pun dapat mengingkarinya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah diterangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

جعل الله الرحمة في مائة جزء فامسك عنده تسعة وتسعين جزءا، وأنزل في الأرض جزءا واحدا فمن ذلك الجزء يتراحم الخلق حتى ترفع الفرس حافرها عن والدها خشية أن تصيبه
Artinya:
Allah membagi rahmat-Nya menjadi seratus bagian. Maka yang sembilan puluh sembilan bagian ditahan-Nya di sisi-Nya dan yang satu bagian diturunkan-Nya ke bumi. Dengan rahmat yang satu bagian itulah semua makhluk sayang-menyayangi sehingga seekor kuda akan mengangkat telapak kakinya karena takut anaknya terinjak olehnya.
(H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Allah Yang Maha Kaya, Maha Luas rahmat-Nya dan mengharamkan bagi diri-Nya sifat aniaya bila Dia bertindak menimpakan siksa kepada hamba-Nya yang durhaka maka tindakan-Nya itu tidaklah bertentangan dengan sifat-sifat tersebut. Maka dengan ayat ini Allah menegaskan kepada musuh-musuh Nabi Muhammad saw. bahwa jika Dia menghendaki Dia pastilah dapat membinasakan mereka dan mengganti mereka dengan kaum yang lain yang diciptakan-Nya sebagaimana Dia menciptakan mereka dari turunan yang lain. Memang telah terlaksana janji Allah dengan binasanya musuh-musuh Nabi Muhammad dalam peperangan Badar sehingga tidak ada lagi penganut syirik di tanah Arab dan mereka digantikan oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa, berjuang meninggikan kalimat Allah dengan jiwa raga dan harta benda mereka dan mereka benar-benar merupakan rahmat yang besar bagi umat manusia. Meskipun dalam mempertahankan kebenaran mereka terpaksa mengangkat senjata dan memasuki medan pertempuran tetapi dalam setiap pertempuran itu mereka menjadi suri teladan dalam sikap santun mereka dalam memperlakukan musuh-musuh mereka, sehingga para ahli sejarah barat mengakui bahwa tidak ada suatu bangsa yang menaklukkan bangsa lain dengan penuh rasa keadilan dan kasih sayang kecuali bangsa Arab (kaum Muslimin).


134 Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.(QS. 6:134)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 134
إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ (134)
Pada ayat ini Allah memberikan ancaman-Nya kepada musuh-musuh Nabi. Mereka di dunia ini telah mendapat siksaan dan di akhirat kelak demikian pula. Siksaan akhirat yang diancamkan kepada mereka ialah api neraka yang menyala-nyala pasti akan menimpa mereka, tidak ada satu kekuasaan pun yang dapat menolaknya dan mereka sendiri tidak dapat menghalangi atau lari daripadanya. Hari pembalasan itu pasti datang dan semua makhluk akan dikumpulkan kembali. Hal ini tidaklah sulit bagi Allah Yang Maha Kuasa. Sebagaimana Dia Kuasa menciptakan makhluk-Nya dari tiada, tentulah Dia kuasa pula menghidupkan kembali walaupun makhluk tersebut sudah mati dan menjadi tulang-belulang yang hancur-luluh. Dalil ini berulang kali disebutkan dalam Alquran di antaranya firman Allah:
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ(78)قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ(79)
Artinya:
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh? Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk."
(Q.S Yasin: 78-79)


135 Katakanlah: `Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.(QS. 6:135)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 135
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (135)
Ancaman Allah terhadap kaum musyrikin yang memusuhi Nabi Muhammad saw. yang terdapat pada ayat 133 dan 134 yang telah lalu, diiringi-Nya dengan tantangan terhadap mereka dengan menyuruh Nabi Muhammad mengatakan kepada mereka, "Berbuatlah apa yang hendak kamu lakukan sesuai dengan kesanggupan kamu. Aku pun akan berbuat demikian pula. Nanti kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang akan mendapat kejayaan dan kemenangan. Ketahuilah bahwa orang-orang lalim tidak akan mendapat kemenangan." Tantangan itu walaupun mengandung pengertian yang agak keras, namun bahasanya tetap halus karena Nabi Muhammad saw. masih disuruh menyebut musuh-musuh Islam itu dengan kata "kaumku."
Pengertian "kaum" dalam kalangan orang-orang Arab adalah sangat dalam hampir sama dengan pengertian "bangsa" di zaman sekarang. Seorang dipenuhi rasa cinta kepada kaumnya dan merasa berkewajiban untuk membelanya bila mereka tergelincir dari rel kebenaran. Terbayanglah dalam ucapan ini bahwa Nabi Muhammad saw. sangat mengharapkan kesadaran mereka dan agar kembali kepada jalan yang benar.
Dalam tantangan ini terdapat pula janji Allah kepada kaum muslimin, bahwa mereka akan mendapat kemenangan besar terhadap kaum musyrikin yang sesat dan yang lalim itu.
Demikianlah yang terjadi kemudian sesuai dengan janji Allah, kaum musyrikin terus-menerus ditimpa kekalahan sehingga tegaklah kalimat Allah dengan kokohnya dan hancurnya kalimat syirik. Ini adalah suatu bukti bahwa janji Allah di akhirat nanti akan terlaksana pula karena janji di dunia itu juga diucapkan sebelum terlaksananya, keduanya sama-sama mengenai hal yang akan datang. Adapun janji Allah bahwa kaum mukmin ini sepanjang masa sampai akhir zaman selama mereka benar-benar beriman dan bertakwa, benar-benar menjalankan ajaran-ajaran agamanya secara keseluruhan dan benar-benar berjuang dengan ikhlas untuk menegakkan kalimat Allah. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ(7)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(Q.S Muhammad: 7)


136 Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:` Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami `. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.(QS. 6:136)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 136
وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (136)
Mereka membagi apa yang mereka dapati dari hasil tanaman dan binatang ternak kepada dua bagian. Satu bagian untuk Allah swt. dan satu bagian lagi untuk berhala-berhala yang mereka puja-puja dan agungkan. Mereka berkata: "Bagian yang pertama adalah untuk Allah selaku bakti kami untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bagian yang kedua adalah untuk berhala sesembahan kami untuk mendekatkan diri pula kepada-Nya."
Dengan pembagian seperti itu mereka telah menjadi sesat karena kebaktian itu adalah suatu ibadah dan pendekatan diri kepada yang disembah. Berbakti kepada berhala-berhala dan patung-patung adalah suatu perbuatan yang tak dapat diterima oleh akal yang waras karena patung itu adalah benda-benda mati yang tak dapat berbuat sesuatu apapun, bahkan mereka sendirilah yang membuatnya.
Ini adalah suatu agama yang dibikin-bikin oleh para pemimpin dan pemuka-pemuka bangsa Arab di kala itu untuk mempengaruhi orang-orang awam agar mereka tetap mengagungkan dan memuliakan pemimpin itu sebagai pengawal dan pemelihara berhala-berhala itu dan sebagai orang-orang yang terdekat kepadanya. Dengan demikian mereka dapat berkuasa atas orang-orang awam itu dan memeras mereka dengan menyuruh berbakti dengan korbankan harta benda kepada berhala-berhala yang mereka anggap berkuasa atas kehidupan mereka dan dapat mendatangkan nikmat atau bencana kepada siapa yang dikehendakinya.
Bagian pertama yang mereka peruntukkan bagi Allah, mereka pergunakan untuk memberi makanan tamu-tamu, anak-anak dan orang-orang miskin; sedang bagian kedua yang mereka peruntukkan bagi berhala-berhala dikuasai sepenuhnya oleh penjaga-penjaga dan pemelihara-pemeliharanya. Tetapi karena mereka telah dikuasai oleh sifat tamak dan serakah, maka bagian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala itu tidak boleh diambil sedikit pun untuk digabungkan kepada bagian yang diperuntukkan bagi Allah.
Sebaliknya bagian yang diperuntukkan bagi Allah boleh diambil untuk digabungkan kepada bagian berhala-berhala karena bagian Allah itu adalah hak fakir miskin dan orang-orang yang sangat membutuhkan makanan sedang bagian berhala adalah sepenuhnya menjadi hak mereka. Demikianlah ketentuan yang mereka tetapkan dan alangkah jahatnya ketentuan itu. Selain ketetapan itu ketetapan yang sesat dan menyesatkan, ia pun merupakan perkosaan atas hak fakir miskin dan orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan. Segi-segi keburukan ketetapan mereka antara lain adalah sebagai berikut:
a. Mereka telah melanggar hak Allah karena hanya Dialah yang berhak membuat ketentuan dalam masalah-masalah ibadat.
b. Mereka telah mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala padahal hanya Allahlah yang berhak disembah dan kepada-Nyalah segala kebaktian harus dipersembahkan.
c. Mereka lebih mengutamakan hak berhala daripada hak Allah .
d. Ketetapan itu tidak berdasarkan akal yang waras dan tidak pula berdasarkan petunjuk atau syariat-syariat yang ada sebelumnya hanya berdasarkan keinginan hawa nafsu belaka.
Diriwayatkan oleh Ali bin Abu Talib dan Al-`Auf bahwa Abbas berkata tentang tafsir ayat ini yang maksudnya sebagai berikut: "Sesungguhnya musuh-musuh Allah, apabila mereka bercocok tanam atau memetik hasil tanaman, mereka membaginya dua bagian, yaitu sebagian untuk Allah dan sebagian lagi untuk berhala. Apabila bagian yang disediakan untuk Allah tercecer kemudian bercampur atau tidak dengan bagian yang diperuntukkan untuk berhala, maka yang tercecer itu mereka gabungkan pada bagian berhala. Selanjutnya jika air yang diperuntukkan bagi tanaman bagian berhala mengalir ke tanaman bagian Allah, maka tanaman bagian Allah itu mereka jadikan tanaman bagian berhala. Demikian juga apabila air tanaman bagian untuk Allah mengalir ke tanaman bagian berhala, maka tanaman itu dijadikan bagian berhala."


137 Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(QS. 6:137)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 137
وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ (137)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan pula bagaimana pula sewenang-wenangnya pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka agama kaum musyrikin Mekah dengan menganjurkan kepada pengikut-pengikutnya agar tidak berkeberatan membunuh anak-anak perempuan mereka sendiri dengan alasan yang tidak pasti dan tidak berarti. Padahal membunuh anak perempuan sendiri itu bertentangan dengan naluri manusia, dan bertentangan pula dengan cita-cita pembinaan keluarga yang harmonis dan dengan sendirinya bertentangan dengan pembinaan umat yang amat kokoh dan kuat karena kokoh dan kuatnya sesuatu tergantung kepada kuat dan kokohnya keluarga-keluarga yang membentuk umat tersebut. Anjuran mereka itu hanya berdasarkan tiga hal:
Pertama: Karena kemiskinan atau takut akan ditimpa kemiskinan. Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
Artinya:
Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.
(Q.S Al An'am: 151)
Dan dalam firman-Nya lagi:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا(31)
Artinya:
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
(Q.S Al Isra': 31)
Kedua: Karena takut akan mendapat malu di belakang hari. Mereka membunuh anak-anak mereka yang perempuan dengan menguburkannya hidup-hidup karena anak-anak itu apabila besar nanti mungkin melakukan perbuatan tercela, dirampas menjadi tawanan dan diperbudak, atau kawin dengan laki-laki yang tidak sekufu atau lebih rendah derajatnya dari derajat bapaknya.
Dalam hal ini Allah berfirman:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ(58)يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ(59)
Artinya:
Apabila dari seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padam) mukanya, ia sangat marah, ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan atau menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.
(Q.S An Nahl: 58-59)
Ketiga: Karena mereka bernazar kepada berhala, bahwa mereka akan mengorbankan anak mereka untuk mendekatkan diri kepada berhala-berhala itu. Atau karena alasan yang bukan nazar, misalnya kebiasaan mereka bahwa mereka telah mendapat sejumlah anak seperti yang pernah dilakukan Abdul Mutalib kakek Nabi Muhammad saw. ketika dia bersumpah akan mengorbankan anaknya apabila ia diberi sepuluh orang anak. Demikianlah anjuran kaum musyrikin itu kepada pengikutnya sehingga mereka memandang baik membunuh anak mereka sendiri dan merusak tabiat dan naluri mereka sebagai manusia yang mempunyai rasa cinta dan kasih sayang kepada anak dan akhirnya sifat yang mulia ini berbalik menjadi sifat ganas dan kejam dan tidak segan-segan membunuh anaknya jantung hati sendiri. Demikianlah mereka mengelabui mata dan hati kaumnya sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan mana peraturan agama yang sebenarnya yang harus diikuti dan dilaksanakan. Jika Allah menghendaki, tentulah Dia dapat menahan mereka dari perbuatan-perbuatan merusak itu dan mereka tidak akan melakukannya. Oleh sebab itu Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar membiarkan mereka membuat-buat peraturan yang merusak dan sekehendak hati mereka, karena dengan demikian mereka akan menjadi lemah dan kehilangan kepercayaan terhadap diri mereka sendiri.


138 Dan mereka mengatakan:` Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki `--menurut anggapan mereka--dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya, dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.(QS. 6:138)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 138
وَقَالُوا هَذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لَا يَطْعَمُهَا إِلَّا مَنْ نَشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لَا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ سَيَجْزِيهِمْ بِمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (138)
Pada ayat ini Allah menjelaskan lagi ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang dibuat-buat oleh pemimpin mereka, dan mereka tetapkan tanpa berdasarkan pikiran yang waras, petunjuk Allah atau agama Allah atau agama yaitu:
1. Mereka mengambil sebagian dari hasil tanaman dan binatang-binatang yang mereka miliki untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala dan sembahan-sembahan mereka sebagai korban. Bagian tertentu itu tidak boleh disinggung-singgung kecuali untuk kepentingan berhala itu tidak boleh diberikan kepada siapa pun dan tidak boleh dimakan oleh orang lelaki.
2. Mereka mengharamkan beberapa macam binatang-binatang bahirah, saibah, wasilah dan ham. Tindakan mereka ini telah dibantah kebenarannya oleh Allah dalam firman-Nya:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ(103)
Artinya:
Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, wasilah, dan ham. Akan tetapi orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.
(Q.S Al Ma'idah: 103)
3. Bila mereka melakukan ibadah haji atau mengucapkan talbiah, mereka tidak boleh mengendarai binatang-binatang itu atau membebaninya.
4. Mereka di waktu menyembelih binatang tidak menyebut nama Allah, tetapi menyebut nama berhala dan sembahan mereka.
Demikianlah sebagian dari ketetapan-ketetapan yang mereka buat sendiri menurut kemauan mereka mengenai hasil tanaman dan binatang ternak, tetapi mereka mendakwakan bahwa peraturan-peraturan itu adalah dari Allah. Ini adalah suatu kebohongan terhadap Allah dan pasti mereka akan mendapatkan siksaan daripada-Nya. Nabi Muhammad saw. diperintahkan Allah swt. untuk mengecam mereka karena mereka mengharamkan dan menghalalkan sesuatu sesuka hati dan mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Firman-Nya:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ(59)
Artinya:
Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah, "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"
(Q.S Yunus: 59)


139 Dan mereka mengatakan:` Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami, `dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:139)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 139
وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَذِهِ الْأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَى أَزْوَاجِنَا وَإِنْ يَكُنْ مَيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (139)
Pada ayat ini Allah menyebutkan pula kesewenang-wenangan mereka dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu menurut kemauan dan keinginan hawa nafsu mereka, yaitu tentang binatang-binatang bahirah dan saibah. Mereka membolehkan laki-laki meminum air susunya dan mengharamkan bagi perempuan. Apabila binatang itu melahirkan anak jantan maka anaknya itu boleh dimakan oleh laki-laki dan haram bagi perempuan. Bila anak itu lahir mati, barulah anak itu dihalalkan untuk laki-laki dan perempuan. Jikalau binatang itu melahirkan anak betina, maka anak ini dibiarkan saja sampai beranak. Oleh karena mereka berbuat demikian dengan sekehendak hati mereka saja dan mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, maka Allah mengancam mereka dengan balasan yang setimpal dan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-Nya dan Dia Maha Bijaksana.


140 Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.(QS. 6:140)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 140
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (140)
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang membunuh anak mereka karena alasan-alasan yang tidak pasti dan tidak benar seperti tersebut pada ayat 137 dan orang-orang yang mengharamkan rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka seperti tersebut pada ayat 138 dan ayat 139, mereka ini adalah orang-orang yang merugi dan orang-orang yang sesat dan tidak mengikuti petunjuk yang diberikan kepada mereka.
Membunuh anak adalah tindakan seorang yang bodoh dan amat merugikan, dan merupakan tindakan seorang yang tidak tahu lagi mana yang buruk dan mana yang baik, tidak tahu laba dan rugi karena anak adalah suatu nikmat dan karunia dari Allah yang tidak ternilai harganya. Anak itu nanti yang akan memelihara kelanjutan hidup yang akan menjadi kekuatan dan kebanggaan bagi ibu, ayah dan keluarganya, bahkan akan menjadi kekuatan bagi masyarakat dan umatnya. Bila ia diasuh dan dididik dengan baik pasti akan menjadi anggota keluarga yang baik pula, akan menjadi anggota masyarakat yang berguna berjasa kepada masyarakatnya. Oleh sebab itu setiap ibu dan bapak diberi oleh Allah naluri untuk menyayanginya, mencintainya, memelihara dan menjaganya. Seorang ibu dan bapak, tidak segan-segan mengorbankan kepentingan dirinya untuk membela dan mempertahankan keselamatan anaknya, bahkan kadang-kadang ia bersedia mati untuk menyelamatkannya bila ia dalam bahaya. Apabila seseorang telah menganggap bahwa membunuh anaknya lebih baik daripada membiarkan hidup, karena takut kepada hal-hal yang belum tentu akan terjadi, seperti takut akan kemiskinan atau takut akan mendapat malu, berarti ia telah mengingkari nikmat dan karunia Allah yang besar itu dan menentang naluri dan tabiatnya sendiri. Orang yang seperti ini tentu telah diperdayakan oleh setan dan dikelabui matanya oleh pemimpin-pemimpin yang tidak bertanggung jawab dan pemuka-pemuka agama yang hanya mementingkan kedudukan dan martabatnya saja. Orang-orang yang menerima saja ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan yang dibikin-bikin oleh pemimpin-pemimpin yang telah sesat tanpa memikirkan apakah peraturan-peraturan itu berdasarkan kebenaran, dapat diterima oleh pikiran yang sehat, atau apakah peraturan itu memang telah ada dasarnya menurut agama apalagi bila peraturan-peraturan itu hanya membawa kepada kerugian atau mengingkari nikmat Allah, maka orang-orang yang seperti itu pantaslah dikatakan orang yang sesat, orang-orang yang tidak akan mendapat petunjuk dari Allah.
Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Ibnu Abbas berkata: Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana bodohnya kaum musyrikin Arab, bacalah ayat-ayat 130 dan seterusnya dari surat Al-An'am.


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar