Jumat, 30 Maret 2012

AL-A'RAAF 151 - 160

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=8&SuratKe=7#Top
151 Musa berdoa:` Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang `.(QS. 7:151)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 151
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (151)
Mendengar jawaban Harun itu lembutlah hati Musa, dan beliau pun berkata sambil berdoa: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku terhadap perbuatanku yang terlalu kasar terhadap saudaraku, baik berupa perkataan maupun berupa perbuatan, dan ampunilah segala kelemahan-kelemanan saudaraku sebagai wakil dan penggantiku dalam bertindak terhadap orang-orang yang sesat itu. Wahai Tuhanku, masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu yang luas dan Engkaulah Tuhan Yang Maha Pengasih."

Dengan doa Nabi Musa itu hilanglah harapan-harapan orang yang menginginkan terjadinya perpecahan antara Musa dan Harun, dan orang-orang yang menginginkan agar Musa bertindak keras terhadap saudaranya Harun itu.
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa Harun tidak terlibat sedikit pun dalam perbuatan kaumnya yang menyembah anak sapi sesuai dengan pernyataannya kepada saudaranya Musa itu.

152 Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat kebohongan.(QS. 7:152)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 152
إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ (152)
Pada ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa semua orang dari Bani Israil yang telah menyembah patung anak sapi, seperti Samiri dan pengikut-pengikutnya, dan yang tidak mau bertaubat kepada Allah swt. kelak akan mendapatkan kemarahan Allah swt. dan taubat mereka tidak akan diterima lagi kecuali dengan membunuh diri mereka sebab akan hidup terhina di dunia ini.
Menurut sebagian ahli tafsir bahwa kalimat "Demikian kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat kebohongan" dalam ayat ini dihadapkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai peringatan bagi orang-orang Yahudi yang berada di sekitar Madinah waktu itu. Akibat sikap dan tindak-tanduk mereka (kaum Yahudi) kepada Nabi Musa dahulu. Seandainya orang Yahudi di sekitar Madinah tetap bersikap demikian, tidak mau mengikuti Rasulullah saw. dengan seruannya, maka mereka akan mendapat kebinasaan dan kehinaan di dunia dan di akhirat dan tentu saja mereka akan mendapat azab yang pedih.
Menganut salah satu dari kedua pendapat ini tidaklah menyalahi jiwa ayat karena salah satu tujuan pendapat ini adalah untuk menyebutkan kisah umat-umat yang dahulu sebagai tamsil dan ibarat bagi generasi yang akan datang kemudian semoga kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang-orang dahulu itu tidak terulang oleh generasi yang akan datang kemudian.
Dalam ayat ini juga Allah memperingatkan bahwa seperti pembalasan yang tersebut dalam ayat ini, Allah memberikan pembalasan kepada mereka yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah. Diriwayatkan dari Abu Qatadah, ia berkata: Ayat ini tidak hanya mengenai Bani Israil pada waktu Nabi Musa saja. tetapi mengenai segala orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah swt.

153 Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 7:153)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 153
وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (153)
Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Pengampun kepada hamba-Nya menyatakan bahwa orang-orang yang mengerjakan kejahatan dan kemaksiatan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakan kejahatan itu dengan taubat yang sebenar-benarnya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, serta berusaha mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya, maka taubat mereka akan diterima Allah dan Allah akan memberikan ampunan kepada orang-orang yang benar-benar bertaubat dengan hati yang ikhlas.
Dalam ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa berapa pun besar dosa yang telah dikerjakan oleh seseorang hamba pasti akan diampuni Allah asal saja ia mau bertaubat dengan sebenar-benarnya dan mau melaksanakan semua syarat-syarat taubat yang diterima Allah. Sesungguhnya Allah swt. tidak segera mengazab hamba-Nya yang bersalah, tetapi selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan menyesali kejahatan yang telah dikerjakannya itu dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridai oleh Allah swt.

154 Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.(QS. 7:154)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 154
وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ (154)
Setelah Musa tenang kembali dan hilang amarahnya lantaran salah sangka kepada saudaranya Harun dan setelah memohon rahmat dan keampunan dari Tuhannya, maka ia mengumpulkan kembali lauh-lauh yang berserakan karena dilemparkannya itu. Musa mengumpulkan lauh-lauh yang berserakan tersebut dan daripadanyalah disalin Taurat yang mengandung petunjuk, rahmat bagi kaumnya.

155 Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata:` Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya `.(QS. 7:155)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 155
وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ (155)
Musa a.s. memilih tujuh puluh orang pilihan dari kaumnya untuk pergi bersama-sama dengannya ke suatu tempat di bukit Sinai untuk bermunajat dengan Tuhannya. Menurut ahli tafsir, siapa orang yang dipilih dan di mana tempatnya yang ditentukan itu telah diwahyukan Allah sebelumnya kepada Musa a.s. Dalam pada itu para ahli tafsir berbeda pendapat: kepada Musa a.s. diperintahkan oleh Allah pergi ke bukit Sinai bersama tujuh puluh orang pilihan dari Bani Israil itu apakah setelah mereka menyembah patung anak sapi dengan maksud menyatakan taubat kepada Allah atau sama waktunya dengan waktu memohon kepada Allah agar Dia memperlihatkan diri-Nya dengan jelas. Jika dilihat susunan ayat dan urutan kisah Musa a.s. dalam surah Al-A`raf ini dapat diambil kesimpulan bahwa kepergian Musa bersama tujuh puluh orang pilihan ini adalah setelah Bani Israil menyembah patung anak sapi, yakni sesudah kepergian Musa menemui Tuhannya ke bukit Sinai selama empat puluh hari dan empat puluh malam.
Maka berangkatlah Musa a.s. bersama tujuh puluh orang pilihan menuju tempat yang telah ditentukan. Maka tatkala mereka digoncang gempa bumi yang disebabkan petir (halilintar) yang amat dahsyat, Musa pun berdoa kepada Tuhannya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kalau memang telah ada maksud Engkau hendak membinasakan mereka, maka aku mengharap agar Engkau membinasakan mereka sebelum mereka pergi bersamaku ke tempat ini, dan supaya Engkau membinasakan aku pula sehingga aku tidak menghadapi kesulitan yang seperti ini yang memberi kesempatan bagi mereka untuk mencela dan menuduhku bahwa aku telah membawa orang-orang pilihan ke tempat ini untuk dibinasakan. Maka oleh karena Engkau tidak membinasakan mereka sebelum mereka aku bawa bersamaku ke sini, maka janganlah mereka Engkau binasakan sekarang sesudah aku bawa ke mari."
Dalam ayat ini diterangkan mengapa pemuka Bani Israil pilihan itu diazab Allah swt. dengan petir yang dahsyat. Pada firman Allah yang lain dijelaskan sebab-sebabnya mereka disambar petir dan akibat yang mereka alami sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(55)ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(56)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang." Karena itu kamu disambar halilintar sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati supaya kamu bersyukur."
(Q.S Al Baqarah: 55-56)
Tetapi dalam Perjanjian Lama diterangkan bahwa Bani Israil yang menyembah berhala itu ialah Bani Israil tujuh puluh orang pilihan bersama-sama dengan Harun. Perbuatan menyembah berhala itu mereka lakukan sewaktu berada di bukit Tursina di waktu Nabi Musa menghadap Tuhannya sendiri.
Dalam kitab bilangan 16:20-25, disebutkan tentang keingkaran dan kedurhakaan Bani Israil terhadap Musa, lalu mereka diazab Allah dengan membelah bumi, mereka masuk ke dalam belahan bumi itu dan terkubur. Sedangkan Bani Israil yang sempat lari mereka dibakar oleh sambaran api.
Selanjutnya Musa memohon kepada Allah swt.: "Janganlah Engkau ya Tuhan membinasakan kami disebabkan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang akal yang meminta agar dapat melihat Engkau."
Allah swt. menerangkan bahwa semuanya itu merupakan cobaan dari Allah terhadap mereka. Tetapi mereka tidak tahan dan kuat menghadapi cobaan itu sehingga mereka tetap mendesak Musa agar Tuhan memperlihatkan zat-Nya kepada mereka. Karena tindakan mereka itulah mereka diazab dengan petir (halilintar) sehingga mereka mati semua. Kemudian Allah menghidupkan mereka kembali agar mereka bertaubat dan bersyukur terhadap nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka. Cobaan itu merupakan ujian Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, dengan cobaan itu akan sesat orang-orang yang tidak kuat imannya, dan dengan cobaan itu pula Dia memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang kuat imannya.
Selanjutnya Musa berdoa: "Wahai Tuhan kami, Engkaulah yang mengurus segala urusan kami, mengawasi segala apa yang kami kerjakan, maka ampunilah kami terhadap segala perbuatan dan tindakan kami yang mengakibatkan azab bagi kami. Beri rahmatlah kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pemberi rahmat dan Pemberi ampun. Hanya Engkaulah yang mengampuni segala dosa dan memaafkan segala kesalahan kami. Mengampuni dan memaafkan itu bukanlah karena sesuatu maksud tertentu, tetapi semata-mata karena sifat-Mu Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf."


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al A'raaf 155
وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ (155)
(Dan Musa memilih dari kaumnya) dimaksud sebagian dari kaumnya (sebanyak tujuh puluh orang lelaki) dari kalangan orang-orang yang tidak ikut menyembah anak sapi, ia lakukan hal itu berdasarkan perintah dari Allah swt. (untuk memenuhi waktu yang telah Kami tentukan) waktu yang telah Kami janjikan, agar mereka datang tepat pada waktunya, untuk memohon ampunan dari penyembahan terhadap anak sapi yang telah dilakukan oleh teman-teman mereka. Kemudian Musa keluar bersama mereka. (Maka ketika mereka diguncang gempa bumi) yaitu gempa yang dahsyat. Ibnu Abbas mengatakan, "Sebab mereka tidak melarang kaumnya tatkala menyembah anak sapi itu," selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan lagi, "Mereka adalah selain dari orang-orang yang meminta agar dapat melihat Tuhan yang kemudian ditimpa azab berupa sha`iqah" (Ia berkata,) yakni Musa ("Ya Tuhanku! Kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau membinasakan sebelum ini) sebelum aku keluar bersama mereka; maksud Musa untuk menentukan nasib kaum Bani Israel sehubungan dengan peristiwa penyembahan anak sapi itu, agar jika mereka terkena azab tidak menuduhku sebagai penyebabnya (dan aku. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?) Istifham bermakna isti`thaf, memohon belas kasihan, yakni janganlah Engkau menyiksa kami oleh sebab dosa yang dilakukan oleh selain kami. (Tidak lain) (itu) fitnah yang dilakukan oleh orang-orang yang akalnya kurang (kecuali hanyalah fitnah dari Engkau) dimaksud cobaan dari Engkau (Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki) kesesatannya (dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki) kehidayahannya. (Engkaulah yang memimpin kami) yang menguasai perkara-perkara kami (maka ampunilah kami, dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.")

156 Dan tetaplah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman:` Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami`.(QS. 7:156)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 156
وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (156)
Selanjutnya Musa berdoa: "Berilah kami kebajikan di dunia, yaitu sehat jasmani dan rohani, diberi keturunan yang dapat merupakan sambungan hidup dan penyambung cita-cita, diberi kehidupan dalam keluarga yang diliputi oleh rasa kasih sayang, dianugerahi rezeki yang halal, serta taufik dan hidayah sehingga bahagia pula hidup di akhirat. Sesungguhnya kami berdoa dan bertaubat kepada Engkau, kami berjanji tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan terlarang dan kami kembali kepada iman yang sebenar-benarnya, serta mengamalkan amal yang saleh yang Engkau Ridai."
Allah berfirman: "Rahmat-Ku lebih cepat datangnya kepada hamba-hamba-Ku daripada amarah-Ku, dan azab-Ku khusus Aku timpakan kepada hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki, yaitu orang-orang yang berbuat kejahatan, ingkar dan durhaka. Tentang rahmat, nikmat dan keutamaan-Ku, semuanya itu meliputi alam semesta tidak satu pun dari hamba-Ku yang tidak memperoleh-Nya termasuk orang-orang kafir, orang-orang yang durhaka, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang muslim, penyembah patung anak sapi dan sebagainya. Sesungguhnya jika bukanlah karena rahmat, nikmat dan keutamaan-Ku, niscaya telah aku binasakan seluruh alam ini karena kebanyakan orang kafir, durhaka yang selalu mengerjakan kemaksiatan." Seperti firman Allah:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
Artinya:
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan telapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu.
(Q.S Fatir: 45)
Dalam pada itu Allah swt. menegaskan bahwa rahmat, nikmat dan keutamaan Allah yang diberikannya kepada orang-orang kafir hanya sementara tidak abadi dan tidak sempurna sedangkan yang sempurna dan abadi akan dianugerahkan-Nya kepada orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menunaikan zakat.
Dalam ayat ini disebut zakat, tidak disebut perbuatan-perbuatan lain yang tidak kalah nilainya dari zakat. Hal ini ada hubungannya dengan banyaknya orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat dibanding banyaknya orang orang-orang enggan mengerjakan perbuatan-perbuatan lain yang diperintahkan Allah. Juga merupakan isyarat-isyarat kepada sifat orang Yahudi yang sangat cinta kepada harta enggan menyerahkan sebagian hartanya di jalan Allah.
Penetapan rahmat, nikmat dan keutamaan secara istimewa kepada orang-orang yang takwa dan menunaikan zakat itu adalah seperti Allah telah menetapkan pula secara istimewa kepada orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan mengakui keesaan Allah dan kebenaran rasul-rasul-Nya yang telah diutus-Nya dengan pengakuan yang didasarkan atas pengetahuan yang yakin, bukan berdasarkan taklid dan pengaruh adat kebiasaan nenek moyang mereka.  

157 (Yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. 7:157)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 157
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157)

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan sifat-sifat Muhammad rasul dan nabi Allah yang wajib diikuti itu ialah:
1. Nabi yang ummi (buta huruf) Dalam ayat ini diterangkan bahwa salah satu sifat Muhammad saw. ialah tidak pandai menulis dan membaca. Sifat ini memberi pengertian bahwa seorang yang ummi tidak mungkin membaca Taurat dan Injil yang ada pada orang-orang Yahudi dan Nasrani, demikian pula cerita-cerita kuno yang berhubungan dengan umat-umat dahulu. Hal ini membuktikan bahwa risalah yang dibawa oleh Muhammad saw. itu benar-benar berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Mustahil seseorang yang tidak tahu tulis baca dapat membuat dan membaca Alquran dan hadis yang memuat hukum-hukum, ketentuan-ketentuan ilmu pengetahuan yang demikian tinggi nilainya. Seandainya Alquran itu buatan Muhammad, bukan berasal dari Tuhan semesta alam tentulah manusia dapat membuat atau menirunya tetapi sampai saat ini belum ada seorang manusia pun yang sanggup menandinginya.
2. Kedatangannya jelas diisyaratkan di dalam kitab Taurat dan Injil. Kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul penutup telah diisyaratkan di dalam kitab Taurat dan Injil, bahkan Allah swt. menegaskan dalam firman-Nya:
الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Artinya:
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui.
(Q.S Al Baqarah: 146)
Menurut ayat ini, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menyembunyikan pemberitaan tentang akan diutusnya Muhammad saw. dengan menghapus pemberitaan ini dan menggantinya dengan yang lain di dalam Kitab Taurat dan Injil. Banyak ayat Alquran yang menerangkan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu.
Sekalipun demikian masih terdapat ayat-ayat Taurat (Wasiat Yang Lama) dan Perjanjian Yang Baru mengisyaratkan akan kedatangan Muhammad itu. Dalam kitab Kejadian 21:13 diterangkan bahwa akan datang seorang nabi akhir zaman nanti dari keturunan Ismail.
Dari ayat Taurat ada beberapa isyarat yang dapat dijadikan dalil untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. itu adalah seorang nabi di antara segala saudaranya. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dinobatkan oleh Tuhan itu akan timbul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil itu sendiri. Adapun saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail (bangsa Arab) sebab Ismail adalah saudaranya yang tua dari Ishak bapak Nabi Yakub. Dan Nabi Muhammad saw. sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.
Kemudian kalimat: "Yang seperti engkau" memberikan arti bahwa nabi yang akan datang haruslah seperti Nabi Musa a.s., yaitu nabi yang membawa syariat baru (agama Islam) yang juga berlaku untuk bangsa Israil. Kemudian diterangkan lagi bahwa nabi itu tidak sombong, baik sebelum menjadi nabi. Sebelum menjadi nabi beliau sudah disenangi orang, terbukti dengan pemberian gelar oleh orang Arab kepadanya yaitu "Al-Amin" yang artinya "orang yang dipercaya." Jika beliau seorang yang sombong, tentu beliau tidak akan diberi gelar yang amat terpuji itu. Setelah menjadi nabi beliau lebih ramah dan rendah hati.
Umat Nasrani menyesuaikan nubuat itu kepada Nabi Isa a.s. di samping mereka mengakui bahwa Isa a.s. mati terbunuh (disalib). Hal ini jelas bertentangan dengan ayat nubuat itu sendiri. Sebab nabi itu haruslah tidak mati terbunuh. Disebutkan pula bahwa Tuhan telah datang dari Tursina, maksudnya memberikan wahyu kepada Musa a.s. dan telah terbit bagi mereka itu di Seir", maksudnya menurunkan kepada Nabi Isa wahyu, serta gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, maksudnya menurunkan wahyu kepada Muhammad saw. Paran (Faron) adalah nama salah satu bukit di negeri Mekah.
Dalam Bab XV Injil Yohanna disebutkan Nnbuat Nabi Muhammad saw. sebagai berikut: "Maka adapun apabila telah datang Faraklit yang Aku telah mengutusnya kepadamu dari bapak, roh yang benar yang berasal dari bapak, maka dia menjadi saksi bagiku, sedangkan kamu menjadi saksi sejak semula." Perkataan "Faraklit" adalah bahasa Ibrani yang artinya sama dengan "Ahmad" dalam bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt.:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad)."
(Q.S As Saff: 6)
Demikianlah sekali pun ada bagian Taurat dan Injil yang diubah, ditambah, dan dihilangkan juga masih terdapat isyarat-isyarat tentang kenabian dan kerasulan Muhammad saw. Itu pulalah sebabnya sebagian ulama Yahudi dan Ibrani yang mengakui kebenaran berita itu segera beriman kepada Muhammad dan risalah yang dibawanya, seperti Abdullah Ibnu Salam, Tamim Ad-Dari dan lain-lain sebagainya.
3. Nabi itu menyuruh berbuat makruf dan melarang berbuat mungkar. Perbuatan yang makruf ialah perbuatan yang baik yang sesuai dengan akal sehat, dan membersihkan jiwa, bermanfaat bagi diri sendiri, manusia dan kemanusiaan. Sedangkan perbuatan yang mungkar ialah perbuatan yang buruk yang tidak sesuai dengan akal yang sehat dan dapat menimbulkan mudarat bagi diri sendiri, bagi manusia dan kemanusiaan. Perbuatan makruf yang paling tinggi nilainya ialah mengakui keesaan Allah, dan menunjukkan ketaatan kepada-Nya, sedang perbuatan mungkar yang tinggi sekali tingkatannya ialah memperserikatkan Allah swt.
4. Menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk. Yang dimaksud dengan yang baik ialah yang halal lagi baik, tidak merusak akal, pikiran, jasmani dan rohani. Sedangkan yang dimaksud dengan yang jelek ialah yang haram yang merusak akal, pikiran, jasmani dan rohani.
5. Menghilangkan beban-beban dan belenggu-belenggu yang memberatkan. Maksudnya ialah dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. tidak ada lagi beban yang berat seperti yang dipikulkan kepada Bani Israil. Umpamanya mensyariatkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan, baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja, tanpa membolehkan membayar diyat, memotong bagian badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang terkena najis, dan sebagainya. Sesuai dengan firman Allah swt.:
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya:
Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur.
(Q.S Al Ma'idah: 6)
Demikian juga Rasulullah saw. bersabda:

بشروا ولا تنفروا يسروا ولا تعسروا وتطاوعوا ولا تختلفوا
Artinya:
Berilah kabar gembira dan janganlah memberikan kabar yang menakut-nakuti, mudahkanlah dan jangan mempersukar, bersatulah dan jangan berselisih.
(H.R Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya kepada Bani Israil telah disyariatkan hukum-hukum yang berat, baik hukum ibadat maupun hukum muamalat. Kemudian kepada Nabi Isa a.s. disyariatkan hukum ibadat yang berat. Sedang syariat Nabi Muhammad saw. sifatnya tidak memberatkan, tetapi melapangkan dan memperingan tanggungan, baik yang berhubungan dengan hukum-hukum ibadat maupun yang berhubungan dengan hukum-hukum muamalat.
Kemudian Allah swt. menerangkan cara-cara mengikuti rasul yang disebutkan ciri-cirinya di atas agar berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti ialah beriman kepadanya dan kepada risalah yang dibawanya, menolongnya dengan rasa penuh hormat, menegakkan dan meninggikan agama yang dibawanya, mengikuti Alquran yang dibawanya yang merupakan sinar terang-benderang, menyinari jalan-jalan untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. 

158 Katakanlah:` Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk `.(QS. 7:158)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 158
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158)

>Pada ayat yang terdahulu Allah swt. menerangkan bahwa kerasulan Muhammad saw. telah diisyaratkan dalam Kitab Taurat dan Injil, dan menyebutkan kemuliaan orang-orang yang mengikuti agamanya, ia akan bahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Pada ayat ini diterangkan tentang keumuman risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw., yaitu agama yang berlaku seluruh umat manusia di dunia, tidak seperti risalah-risalah rasul yang sebelumnya yang hanya khusus untuk sesuatu umat saja. Dan beliau mengajak seluruh umat manusia agar mengikuti agama tersebut.
Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar ia menyeru seluruh umat manusia mengikuti agama yang dibawanya, biar pun di mana saja mereka berada, dan bangsa apa pun dia agar dia menerangkan bahwa dia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka semua. Keumuman risalah Muhammad saw. dinyatakan lagi oleh firman Allah swt.:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
Artinya:
Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.
(Q.S Saba': 28)
Dan firman Allah juga:
وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ
Artinya:
Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya).
(Q.S Al An'am: 19)
Demikian pula hadis Nabi yang menerangkan keumuman risalahnya sebagai berikut:

قال صلى الله عليه وسلم: أعطيت خمسا لم يعط أحد من الأنبياء قبلي نصرت بالرعب مسيرة شهر وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصل وأحلت لي الغنائم ولم تحل لأحد قبلي وأعطيت الشفاعة وكان النبى يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس عامة
Artinya:
Telah diberikan kepadaku lima hal yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku. Aku ditolong dengan memasukkan rasa takut kepada musuhku dalam jarak perjalanan sebulan, dan dijadikan bagiku bumi sebagai mesjid (tempat salat) dan alat bersuci. Maka siapa saja dari umatku yang telah datang padanya waktu salat, maka hendaklah ia salat (di mana pun ia berada). Dan dihalalkan bagiku harta rampasan yang tidak dihalalkan kepada orang yang sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, dan nabi lain diutus kepada kaumnya saja sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya.
(H.R Bukhari dan Muslim)
Dan Allah menerangkan keesaan-Nya, yaitu tidak ada Tuhan selain Dia, hanyalah Dia yang berhak disembah karena Dialah yang mengurus langit dan bumi, mengatur alam seluruhnya. Dia menghidupkan segala yang hidup dan mematikan segala yang mati. Dalam ayat ini diterangkan bahwa ada tiga sifat Tuhan yang utama; yaitu memiliki seluruh makhluk, mengurus dan mengatur seluruh alam dan yang ketiga ialah berhak disembah.
Mengenai keesaan Allah ada dua bentuk; yaitu Esa dalam menciptakan, memiliki, mengatur semesta alam, tidak ada sesuatu pun yang berserikat dengan-Nya. Dan Esa dalam ibadat. Hanyalah Dia saja yang berhak disembah, hendaklah semua makhluk-Nya menghambakan diri hanya kepada-Nya. Iman kepada Allah merupakan rukun pertama dari kepercayaan, kemudian kepada kerasulan Muhammad saw. kemudian kepada adanya hari berbangkit. Tiga hal ini terkandung dalam perintah Tuhan selanjutnya, yaitu perintah kepada seluruh manusia agar beriman kepada Allah dan beriman kepada Nabi yang ummi yang mengajarkan Alquran dan hikmah serta membersihkan manusia dari segala unsur syirik dan kebodohan dalam kepercayaan, ia adalah rasul yang penghabisan yang diisyaratkan oleh kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi sebelumnya.
Rasul yang ummi itu memurnikan pengabdian kepada Allah, beriman kepada Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada para nabi-Nya yang terdahulu. Setela perintah beriman, maka Allah mengiringi dengan perintah agar manusia melaksanakan semua syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. 
159 Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan.(QS. 7:159)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 159
وَمِنْ قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ (159)
Ayat ini menerangkan bahwa di antara kaum Musa ada segolongan besar yang menunjukkan kepada manusia jalan yang benar sesuai dengan yang diperintahkan Allah, mengajak manusia berbuat kebajikan, menetapkan hukum di antara manusia dengan adil, tidak mengikuti hawa nafsu mereka, tidak memakan makanan yang diharamkan Allah, tidak mengerjakan perbuatan yang terlarang, baik mereka itu berada pada masa Musa, maupun mereka berada pada masa sesudahnya.
Keadaan kaum Musa ini dijelaskan lagi dalam firman Allah swt.:

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا
Artinya:
Di antara ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.
(Q.S Ali Imran: 75) 

160 Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya:` Pukullah batu itu dengan tongkatmu! `. Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman):` Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu `. Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.(QS. 7:160)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 160
وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (160)
Allah membagi kaum Musa, baik yang beriman kepada Allah maupun yang ingkar kepada-Nya menjadi dua belas suku yang dinamakan "Sibt". Pada suatu perjalanan di tengah-tengah padang pasir, kaumnya menderita kehausan, maka Allah mewahyukan kepada Musa agar ia memukulkan tongkatnya ke sebuah batu. Setelah Musa memukulkannya, maka terpancarlah dari batu itu dua belas mata air, sesuai dengan banyaknya suku-suku Bani Israil. Untuk masing-masing suku disediakan satu mata air dan mereka telah mengetahui tempat minum mereka; untuk menjaga ketertiban dan menghindarkan berdesak-desakan.
Kejadian ini merupakan mukjizat bagi Nabi Musa a.s. untuk membuktikan kerasulannya dan untuk memperlihatkan kekuasaan Allah swt. Kalau dahulu ia memukulkan tongkatnya ke laut sehingga terbentanglah jalan akan dilalui Bani Israil dari pengejaran Firaun dan tentaranya, maka pada kejadian ini Musa memukulkan tongkatnya ke batu, sehingga keluarlah air dari batu itu untuk melepaskan haus kaumnya. Kejadian ini di samping merupakan mukjizat bagi Nabi Musa juga menunjukkan besarnya karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada Bani Israil.
Di samping karunia itu Allah swt. menyebutkan lagi karunia yang telah diberikan-Nya kepada Bani Israil, yaitu:
1. Allah swt. melindungi mereka dengan awan di waktu mereka berjalan di tengah padang pasir dan di waktu panas terik matahari yang membakar itu. Jika tidak ada awan yang melindungi, tentulah mereka terbakar oleh kepanasan matahari. Hal ini terjadi ketika mereka meninggalkan negeri Mesir dan setelah menyeberangi Laut Merah. Mereka sampai di gurun pasir di Semenanjung Sinai dan ditimpa panas yang terik. Karena itu mereka minta agar Musa berdoa kepada Tuhan agar memberikan pertolongan-Nya. Allah menolong mereka dengan mendatangkan awan yang dapat melindungi mereka dari panas terik matahari.
2. Di samping itu Allah mengaruniakan pula kepala mereka makanan yang disebut "al-manna" semacam makanan yang manis seperti madu yang turun terus-menerus dari langit sejak fajar menyingsing sampai matahari terbit. Di samping itu dianugerahkan Allah pula kepada mereka bahan makanan semacam burung puyuh yang disebut "salwa."
3. Allah memerintahkan kepada mereka agar memakan makanan yang halal yang baik, berfaedah bagi jasmani dan rohani, akal dan pikiran.
Allah swt. telah melimpahkan karunia-Nya yang amat besar bagi Bani Israil tetapi mereka tidak mau bersyukur, bahkan mereka mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, ingkar kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya yang berakibat mereka mendapat azab dan siksaan-Nya. Mereka disiksa itu semata-mata karena perbuatan mereka sendiri, bukanlah karena Allah hendak menganiaya mereka. Tersebut dalam sebuah hadis Qudsi:

يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسى وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا، يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني،
Artinya:
Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan (mengerjakan) kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan perbuatan zalim itu (sebagai suatu perbuatan) yang diharamkan di antaramu, maka janganlah kamu saling berbuat zalim (di antara sesamamu). Wahai hamba-hamba-Ku, kamu sekali-kali tidak akan dapat menimbulkan kemudaratan kepada-Ku, sehingga Aku memperoleh kemudaratan karenanya, dan kamu sekalian tidak dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga Aku memperoleh manfaat karenanya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar