Rabu, 28 Maret 2012

An Nisaa' 161 - 176

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AN NISAA'>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=9&SuratKe=4#Top
161 dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.(QS. 4:161)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 161
وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (161)
. Dan diharamkannya sebagian makanan yang baik kepada orang-orang Yahudi itu, disebabkan pula oleh tindakan mereka makan riba yang nyala-nyala telah dilarang oleh Allah SWT.
Dan pula disebabkan perbuatan mereka memakan harta manusia dengan jalan batil, seperti melalui sogokan, penipuan, perampasan dan sebagainya. Terhadap perbuatan-perbuatan yang jahat itu Allah menyediakan di akhirat siksa yang pedih.

162 Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.(QS. 4:162)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 162
لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا (162)
Tidak semua ahli kitab mengerjakan keburukan-keburukan tersebut itu. Ada pula di antara mereka orang-orang yang mendalam ilmunya, dan orang orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dan yang diturunkan kepada Rasul-rasul sebelumnya. Di antara mereka ada pula yang dengan penuh keyakinan mengikuti ajaran Islam dengan tulus ikhlas.
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Abbas bahwa ayat ini diturunkan berhubung dengan orang-orang Yahudi yang dengan penuh kesadaran masuk Islam seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya. Mereka rajin salat lima waktu dan menunaikan zakat, beriman kepada Allah dan Rasul-rasul Nya tanpa membedakan di antara Rasul yang satu dengan Rasul yang lain. Mereka ini telah sampai kepada tingkat keimanan dan keislaman yang tinggi dan Allah SWT, menjanjikan kepada mereka pahala yang besar di akhirat nanti.


163 Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaqub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.(QS. 4:163)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 163
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (163)
; Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepada Nabi Muhammad saw, seperti memberi wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi yang diutus kemudian. Wahyu itu mempunyai empat pengertian.
1. Isyarat, seperti dalam Firman Allah:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا
Artinya:
Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka "Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang"
(Q.S. Maryam: 11)
2. Ilham seperti dalam Firman Allah:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
Artinya:
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, susuilah dia"
(Q.S. Al Qasas: 7)
3. Insting (naluri) seperti dalam Firman Allah:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Artinya:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia"
(Q.S. An Nahl: 68)
4. Bisikan ha1us, seperti dalam Firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Artinya:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
(Q.S. Al-An'am: 112)
Wahyu yang dimaksud dalam ayat ini, ialah pengertian yang ash yaitu pengertian makrifat yang didapati oleh seorang nabi di dalam hatinya dengan penuh keyakinan, bahwa pengertian itu datangnya dari Allah SWT, baik langsung maupun memakai perantaraan. Allah telah mewahyukan Alquran ini kepada Nabi Muhammad saw sebagaimana Allah telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang datang kemudiannya. Allah SWT, tidak pernah menurunkan sebuah kitab dari langit secara terang-terangan disaksikan oleh pancaindera sebagaimana yang dimintakan oleh orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad saw karena wahyu itu adalah semacam pengumuman yang datangnya cepat lagi sembunyi. Di antara nabi-nabi yang menerima wahyu itu pertama sekali ialah Nabi Nuh, karena beliau termasuk Nabi yang tertua setelah Adam, dan karena beliau dipandang sebagai Adam kedua, yang menurunkan mat manusia setelah terjadinya banjir besar (topan).
Dan Allah telah mewahyukan pula kepada Ibrahim yang diberi julukan Abul Ambiya (ayah dari para nabi) dan Ismail sebagai nenek moyangnya orang Arab dan Ishak dan Ya'kub sebagai nenek moyangnya Bani Israel (Yahudi).
Yang dimaksud dengan "Asbat" ialah anak cucu Nabi Yakub sebanyak 12 orang. Pemakaian kata-kata "Asbat" di kalangan Bani Israel sama dengan pemakaian kata-kata "kabilah" di kalangan orang-orang Arab turunan Ismail.
Dan Allah telah mewahyukan pula kepada Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan telah memberikan Zabur kepada Nabi Daud. Menurut Imam Qurtubi, kitab Zabur itu berisi 150 surat yang tidak mengandung hukum hukum, hanya berisi: nasihat-nasihat hikmah, pujian dan sanjungan kepada Allah SWT.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 163
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (163)
(Sesungguhnya Kami telah menurunkan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah menurunkannya kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya dan) seperti (telah Kami turunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak) yakni kedua putranya (serta Yakub) bin Ishak (dan anak-anaknya) yakni anak-anak Yakub (serta Isa, Ayub, Yunus, Harun, Sulaiman dan Kami datangkan kepada) bapaknya, yakni bapak dari Sulaiman (Daud Zabur) dibaca dengan fathah hingga artinya ialah nama kitab yang diturunkan, dan ada pula yang membaca dengan marfu` yaitu mashdar yang berarti mazbuura artinya yang tertulis.


164 Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.(QS. 4:164)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 164
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (164)
. Ada beberapa Rasul yang telah Allah kisahkan terdahulu. kepada Muhammad saw, dan ada pula beberapa Rasul yang sengaja tidak Allah kisahkan kepadanya, karena umat-umatnya kurang dikenal. Beberapa Rasul telah dikisahkan dalam Alquran sebagaimana firman Allah:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(84)وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ(85)وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ(86)
Artinya:
Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh. dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. Masing masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).
(Q.S. Al-An'am: 84-86)
Kisah para nabi itu sebagian besar terdapat pada Surat Hud dan surat As Syu'ara. Rasul-rasul yang tidak Allah kisahkan itu kurang dikenal umatnya oleh orang Arab dan tidak dikenal pula oleh ahli kitab yang berdampingan masa dengan orang Arab, seperti yang ada di negeri Jepang, Cina, India, Eropa dan Amerika. Hikmah dari mengisahkan nabi-nabi itu ialah untuk mengambil iktibar dan pelajaran darinya, untuk menambah ketabahan hati ketika menghadapi tantangan-tantangan dan permusuhan dan untuk memperkuat kenabian Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman Allah:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
"Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceriterakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya dapat Kami teguhkan hatimu, dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman"
(Q.S. Hud: 120)
Orang-orang Yahudi beranggapan, bahwa yang diberi wahyu dan pangkat kenabian itu hanya dari golongan mereka saja, padahal beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah SWT, telah mengutus beberapa rasul untuk setiap umat sebagai realisasi dari rahmat Allah yang tersebar luas ke seluruh dunia.
Firman Allah SWT:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) "Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu"
(Q.S. An Nahl: 36)
\P Dan firman Allah: 1

وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ
Artinya:
Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.
(Q.S. Fathir: 24)
Dan Allah SWT, telah berbicara kepada Musa dengan pembicaraan yang langsung yaitu dengan menurunkan wahyu kepadanya sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ
Artinya:
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
(Q.S. Asy Syura: 51)
Pembicaraan Allah SWT, kepada Musa itu termasuk pembicaraan di belakang tabir, karena beliau hanya mendengar kalam Ilahi dan tidak dapat melihat-Nya.


165 (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 4:165)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 165
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (165)
. Dan Allah telah mengutus para Rasul yang sebagian telah dikisahkan dan sebagian lagi tidak, ialah supaya mereka menyampaikan berita kegembiraan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar di akhirat dan memberi peringatan kepada orang-orang kafir dan durhaka, bahwa mereka akan mendapat siksa dalam api neraka. Jika Allah SWT, tidak mengutus para Rasul kepada manusia, niscaya orang-orang kafir pada hari kiamat nanti akan menyampaikan hujah atau alasan supaya mereka jangan dipersalahkan atau dituntut sebab belum pernah kedatangan seorang Rasul yang memberi peringatan.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ ءَايَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى(134)قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ
Artinya:
Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Alquran itu (diturunkan). tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?
(Q.S. Thaha: 134)
Jadi jelas sekali, bahwa hikmah diutusnya para Rasul itu ialah untuk membatalkan hujah atau alasan orang-orang kafir nanti pada hari kiamat.
Dam firman Allah SWT:

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya:
Katakanlah: "Allah mempunyai hujah yang jelas lagi kuat, maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya".
(Q.S. Al-An'am: 149)
Allah SWT, adalah Maha Kuasa, tidak dapat dikalahkan dalam segala urusan yang dikehendaki-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam segala perbuatannya. Menurut kebijaksanaan-Nya tidak perlu melayani permintaan orang-orang kafir Yahudi untuk menurunkan sebuah kitab dari langit, sebab sudah ada pengalaman dahulu dengan Musa. Mereka pernah meminta yang aneh-aneh kepada Musa, dan setelah permintaannya dipenuhi, mereka bertambah lagi menampakkan kenakalannya dan keserakahannya.


166 (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikatpun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah menjadi saksi.(QS. 4:166)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 166
لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (166)
. Walaupun orang-orang Yahudi itu mengingkari kenabian Muhammad saw, dan tidak mau menjadi saksi atas kebenarannya namun Allah SWT. yang menjadi saksi atas kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dan Allah SWT, memperkuat lagi kesaksian-Nya dengan menyatakan bahwa Allah telah menurunkan Alquran itu dengan ilmu-Nya yang tertentu, yang belum pernah diketahui oleh Nabi Muhammad dan kaum mukminin, dengan rangkaian dan susunan kata-katanya yang indah dan permai, bukan prosa, bukan puisi, berisi ilmu dan hikmah yang padat, tidak mungkin ditiru oleh siapapun juga, sanggup menghadapi tantangan zaman kapan saja dan di mana saja, mengandung segala ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat, sesuai dengan firman Allah:

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
Artinya:
"Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab"
(Q.S. Al-An'am: 38)
Maksudnya dalam Alquran telah ada pokok-pokok agama, norma-nonna, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat dan kebahagiaan makhluk pada umumnya, Alquran mengandung berita-berita yang gaib tentang masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang, dan barangsiapa yang dengan tekun mempelajari Alquran insya Allah akan bertambah yakin atas kebenarannya dan sanggup pula menjadi saksi. Dan sekalian para malaikatpun terutama Jibril yang jadi perantara dalam turunannya Alquran itu, ikut menjadi saksi alas kebenarannya. Sebenarnya cukup dengan kesaksian dari Allah, sebab tidak ada yang lebih benar dan tepercaya dari pada kesaksian Allah SWT.


167 Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.(QS. 4:167)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 167
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا (167)
. Sesungguhnya orang-orang yang masih tetap dalam kekafiran setelah datang petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan selalu menghalangi manusia supaya jangan percaya kepadanya dan kepada Alquran yang diturutkan kepadanya seperti yang selalu dipraktekkan oleh orang-orang Yahudi Madinah dan orang-orang kafir Mekah, telah dinyatakan oleh Allah bahwa mereka itu sesat dari jalan yang benar sejauh-jauhnya dan sulitlah bagi mereka untuk kembali kepada kebenaran. Memang tepatlah apa yang diterangkan Allah mengenai orang-orang Yahudi itu, karena mereka sebenarnya sudah seharusnya percaya kepada seruan nabi Muhammad, apalagi mereka telah mengenal beliau dalam kitab mereka sendiri, tetapi mereka tetap ingkar dan selalu mengadakan kebohongan tuduhan-tuduhan palsu terhadap beliau dan terhadap Alquran yang dibawanya agar manusia jangan beriman. Di antara tuduhan-tuduhan yang mereka kemukakan itu ialah: "Kalau benar Muhammad itu seorang Rasul mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah kitab yang lengkap sekaligus sebagaimana kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa?". Dengan berbohong mereka berkata: "Allah telah menyebutkan dalam Taurat bahwa syariat Nabi Musa tidak akan diganti dan tidak akan dibinasakan sampai hari kiamat"
Seribu satu alasan mereka kemukakan untuk menolak kebenaran akan kenabian Muhammad dan Alquran tetapi semua alasan-alasan itu hanya dibikin-bikin saja dun tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Oleh sebab itu amat tepatlah bila mereka dicap oleh Allah sebagai orang yang jauh sekali tersesat dari jalan yang lurus.


168 Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka,(QS. 4:168)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 168 - 169
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا (168) إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (169)
Dalam ayat ini di samping orang Yahudi itu dicap sebagai orang kafir, mereka dicap pula sebagai orang yang lalim dan orang yang aniaya. Memang demikianlah halnya orang-orang kafir itu. Mereka lalim terhadap diri sendiri, lalim terhadap kebenaran dan lalim terhadap orang lain. Lalim terhadap dari sendiri karena mereka tetap tidak mau menerima kebenaran, meskipun bukti telah menunjukkan dengan jelas kesesatan mereka dan karena memperturutkan hawa nafsu dan keinginan untuk memelihara kedudukan dan menguasai harta kekayaan. Akhirnya mereka sendirilah yang rugi. Lalim terhadap kebenaran karena mereka selalu berusaha menutupinya dan menyembunyikan agar tidak tersebar di kalangan manusia, dan agar mereka sajalah yang benar dan dipuja-puja. Lalim terhadap orang lain (masyarakat) karena dengan tindakan-tindakan mereka, orang yang seharusnya dapat menikmati kebenaran tetap dalam kesesatan dun terhalang dari merasakan nikmatnya dan menyebarkannya kepada orang-orang yang ingin memahami dan menganutnya. Orang-orang yang demikian sifatnya dan demikian besar bahayanya bagi masyarakat sudah sewajarnya mendapat kemurkaan Allah, dan wajar pula bila Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahanam di mana mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Demikianlah keadilan Tuhan dan amat mudah baginya melaksanakan keadilan itu.


169 kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. 4:169)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


170 Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan sedikitpun kepada Allah) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. 4:170)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 170
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (170)
. Pada ayat ini Allah menunjukkan firman Nya kepada manusia umumnya sesudah menjelaskan pada ayat-ayat yang lalu kebenaran dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dan kebatilan pendirian ahli kitab dan setelah menolak semua hujah dan alasan mereka yang menjelek-jelekkan Nabi dan Alquran yang dibawanya. Tibalah saatnya untuk membenarkan yang dibawa oleh Rasul Nya Muhammad saw, yang kerasulannya tidak saja dikuatkan dengan mukjizat, tetapi telah dibenarkan pula oleh ahli kitab, karena terdapat dalam kitab-kitab mereka sendiri bahwa akan datang seorang Rasul yang membenarkan Rasul-rasul yang sebelumnya.
Allah memerintahkan supaya manusia beriman kepada-Nya karena itulah yang baik bagi mereka. Ajaran-ajaran yang dibawanyalah yang akan membawa manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(Q.S. Al-Anbiya': 107)
Barangsiapa yang mematuhi perintah ini dan menjadi seorang mukmin sejati tentulah ia akan diridai Allah SWT, dan dilimpahi rahmat-Nya dan tentulah ia akan menjadi orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Di dunia ia akan hidup dengan penuh kebahagiaan karena rongga dadanya telah dipenuhi oleh iman, takwa serta tawakal kepada Allah; ia akan dapat merasakan bagaimana manisnya iman itu. Di akhirat ia akan dimasukkan ke dalam surga Jannatun na'im, ia kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Tetapi bila mereka tidak mematuhi seruan ini dan tetap dalam kekafiran, maka mereka sendirilah yang akan menderita kerugian, tidak dapat merasakan ketenteraman dan kebahagiaan, selalu diombang-ambingkan dalam badai kesesatan dan keraguan. karena tidak mempunyai pegangan dalam mengarungi lautan hidup yang tidak diketahuinya di mana ujung dan pangkalnya. Bagi Allah sendiri kekafiran seseorang tidaklah merugikan-Nya dan tidak mengurangi keagungan dan kemuliaan-Nya, karena Dialah yang memiliki langit dan bumi, Dialah Yang Maha Kuasa menyiksa orang-orang yang kafir, memberi rahmat dan nikmat kepada hamba-Nya dan segala isi hati mereka Dia Maha Mengetahui segala tindak tanduk hamba-Nya dan segala isi hati mereka. Dia Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya. Maha Adil dalam segala pembalasannya. Hanya terserah kepada hamba-Nya, apakah ia akan memilih iman yang membawa kepada kebahagiaan yang abadi atau akan memilih kekafiran yang akan membawa kepada penderitaan dan siksaan yang abadi pula.


171 Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ` (Tuhan itu) tiga`, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah untuk menjadi Pemelihara.(QS. 4:171)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 171
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (171)
. Allah melarang kaum Nasrani melampaui batas dalam beragama dengan menambah-nambah hal-hal yang bukan dari agama seperti memuja dan mengagung-agungkan nabi mereka sampai melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah dengan mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya dan dengan mengatakan bahwa Isa itu adalah putra Allah.
Melampaui batas-batas yang telah digariskan Allah SWT. ialah melanggar larangan-larangan-Nya dan mengingkari ketentuan dan ketetapan-Nya. Perbuatan itu adalah amal berbahaya dan nyata-nyata mengingkari tuntunan Allah yang telah diberikan, tindakan mereka akan membawa kepada kedurhakaan dan tidak mustahil akan membawa kepada kekafiran dan kemusyrikan. Hal ini pulalah yang membawa kaum Nasrani kepada anggapan bahwa Tuhan itu salah satu dari Tuhan-tuhan yang tiga atau Tuhan itu terdiri dari oknum-oknum yang tiga. Sebagai penolakan atas paham yang salah ini Allah SWT, menyatakan bahwa Isa ibnu Maryam hanyalah utusan Allah kepada hamba-Nya, bukan Tuhan yang disembah sebagai yang dianggap kaum Nasrani Isa as. sendiri menyeru mereka supaya mengesakan Allah, tak ada yang disembah hanyalah Dia, dan dia melarang pula kaumnya supaya jangan mempersekutukan Allah dengan suatu apapun. Sebagai tambahan atas penegasan tersebut Allah memfirmankan lagi bahwa Isa as, itu diciptakan dengan kalimat berupa ucapan "jadilah" (kun) tanpa ada seorang laki-laki pun (bapak) yang menikahi ibunya dan tanpa air mani yang masuk ke dalam rahim ibunya sebagaimana terciptanya manusia biasa.
Tatkala Allah SWT, mengutus kepada ibunya malaikat Jibril dan memberitahukan bahwa Ia adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan kepadanya berita gembira, yaitu dia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Maryam merasa terkejut dan membantah dengan keras, karena ia masih perawan dan tidak pernah bersuami atau disentuh oleh seorang laki-laki. Lalu Jibril membacakan kepadanya firman Allah:

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya:
Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu. Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah" lalu jadilah.
(Q.S. Ali Imran: 47)
Demikianlah dengan kala "kun" itu terciptalah Isa dalam kandungan ibunya. Inilah suatu bukti kekuasaan Allah, bila Dia hendak menciptakan sesuatu cukup dengan ucapan "kun" saja. Hal serupa ini berlaku pula penciptaan Nabi Adam as sebagaimana tersebut pada firman Allah SWT:
قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah dia.
(Q.S. Ali Imran: 59)
Lalu ditiuplah roh ciptaan Allah ke dalam perut ibunya dan berkembanglah ia sampai datang masa melahirkannya. Sebagaimana kaum Nasrani menduga bahwa yang ditiupkan ke dalam perut ibunya itu adalah sebagian dan roh Allah dan atas dasar inilah mereka menganggap bahwa Isa adalah putra Allah karena ia adalah sebahagian dari roh-Nya. Ada di antara mufassirin menceritakan mengenai anggapan ini bahwa seorang rahib Nasrani yang mengobati Khalifah Harun Ar Rasyid berdiskusi dengan seorang ulama Islam yaitu Ali bin Husein Al Waqidi Al Marwazi. Tabib Nasrani itu berkata kepada Alwaqidi: "Di dalam Kitabmu (Alquran) terdapat ayat yang membenarkan pendapat dan kepercayaan kami bahwa Isa as, adalah sebagian dari Allah, lalu dia membacakan bagian pertama dari ayat 171 ini. Sebagai jawaban atas perkataan tabib itu Al Waqidi membacakan ayat

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya.
(Q.S. al-Jatsiyah: 13)
Kemudian Al Waqidi berkata: "kalau benar apa yang kamu katakan bahwa kata 'min-hu' dalam ayat yang kamu baca itu berarti 'sebahagian dan pada Nya', sehingga kamu mengatakan bahwa Isa as, adalah sebagian dari Allah pula Hal ini berarti bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini adalah sebahagian dari Allah. Dengan jawaban ini terdiamlah tabib Nasrani itu lalu dia masuk Islam. (Tafsir Al-Maeagi, juz VI, hal. 30)
Karena kaum Nasrani itu telah tersesat dari akidah tauhid yang dibawa oleh para rasul, maka Allah memerintahkan kepada mereka agar kembali kepada akidah yang benar dengan beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan beriman kepada rasul-Nya yang selalu menyeru kepada akidah tauhid dan janganlah mereka mengatakan lagi bahwa ada tiga Tuhan yaitu Bapak, Anak dan Ruhul Qudus, atau mengatakan bahwa Allah itu terdiri dari tiga oknum, masing-masingnya adalah Tuhan yang sempurna, dan kumpulan dari tiga oknum itulah Tuhan Yang Esa. Mereka diperintahkan meninggalkan paham yang sesat dan menyesatkan ini, karena meninggalkan paham yang sesat itulah yang balk bagi mereka, mereka akan menjadi penganut agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan para Nabi-nabi sebelum dan sesudahnya akan menjadi orang yang benar-benar dan tidak akan termasuk golongan orang-orang kafir. Dalam ayat lain Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ
Artinya:
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga" padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa.
(Q.S. Al-Ma'idah: 73)
Jika mereka tidak berhenti dan apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih, kemudian ditegaskan lagi kepada mereka bahwa Allah sajalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Maha bersih dari sifat berbilang atau terbagi-bagi kepada beberapa bagian atau tersusun dari tiga oknum atau bersatu dengan makhluk-makhluk lainnya. Maha Suci Allah dari hal-hal tersebut dan mustahil Dia mempunyai anak sebagaimana anggapan mereka atau Isa itu adalah Tuhan sebagaimana dikatakan oleh segolongan lain di antara mereka. Allah adalah Maha Esa tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak beristri sebagai manusia yang melahirkan seorang anak bagi-Nya. Dialah pemilik langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya termasuk Isa as.
Allah berfirman:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا ءَاتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
Artinya:
"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba"
(Q.S. Maryam: 93)
Tidak ada kecualinya dalam hal ini, semua makhluk akan menghadap ke hadirat Tuhan sebagai hamba, apapun pangkat dan derajatnya, baik dia malaikat, seorang Nabi, seorang yang diciptakan-Nya tanpa bapak dan ibu Seperti Nabi Adam as atau yang diciptakan-Nya tanpa bapak saja seperti Isa as maupun yang diciptakan dengan perantara bapak dan ibu; semua-Nya itu adalah hamba-Nya yang berharap kepada karunia dan rahmat-Nya, Dialah yang berkuasa sepenuhnya atas mereka dan Dialah yang memelihara dan kepada-Nya-lah mereka harus menyembah, berdoa dan bertawakal, Akidah tauhid inilah yang dibawa dan disampaikan para Nabi dan Rasul kepada umatnya termasuk Nabi Isa as, dan paham inilah yang dianut oleh para pengikutnya sesuai dengan dakwah dan ajarannya. Tetapi pengikutnya yang datang kemudian terutama pengikut-pengikut yang dahulunya telah menganut agama-agama yang bermacam-macam tidak dapat melepaskan dirinya dari paham lama yang sesat itu sehingga mereka mencoba dan berusaha dengan sekuat tenaga agar agama Masehi yang mereka anut itu mempunyai corak yang sama dengan agama-agama nenek moyang mereka yang dahulu itu. Paham Trinitas (menganggap Tuhan adalah tiga) sudah berkembang di Mesir, semenjak lebih kurang 4.000 tahun sebelum Masehi. Di antara mereka ada yang menganggap bahwa Tuhan itu ialah Osiris, Isis dan Huris. Demikian pula di India terdapat paham ini yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah tiga yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Penganut Budhapun ada yang mengatakan bahwa Budha itu adalah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum. Juga di Persia terdapat paham seperti ini. Mereka menyembah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum pula yaitu Hurmuz, Mitrat dan Ahriman. Akhirnya mereka terbawa hanyut oleh paham trinitas yang beraneka ragam coraknya dan jadilah mereka tersebut tersesat dari paham tauhid yang di bawa Nabi Isa as dan amat sulitlah bagi mereka untuk meniggalkannya. Para intelektual dari penganut agama Masehi ini memang merasakan dan mengetahui bahwa paham "taslis" ini tidak dapat diterima akal, akan tetapi mereka tetap mencari-cari alasan untuk membenarkan paham ini. Di antara pendeta mereka ada yang mengatakan: "Dalam hal ini kita harus menyerahkan persoalan ini kepada hal-hal yang gaib yang belum diketahui oleh manusia dan tidak akan dapat diketahuinya, kecuali bila hijab telah berkata untuk itu dan jelaslah di waktu itu semua yang ada di langit dan di bumi".
Pendeta Bother pengarang buku "Al-Usul wal furu'" (yang asal dari cabang-cabang), dan salah seorang juru penerang agama Nasrani berkata mengenai hal ini: "Kita telah mencoba memahaminya dengan lebih jelas yaitu di kala telah terbuka bagi kita tabir rahasia semua apa yang ada di langit dan di bumi".
Dapat disimpulkan bahwa agama Nasrani benar-benar didasarkan kepada paham tauhid yang murni tetapi para pendetanya mencampur baurkan dan mengubahnya menjadi agama trinitas yang tidak dapat dipahami oleh akal, karena terpengaruh oleh paham-paham "taslis" bangsa Yunani dan Romawi yang mereka ambil dari paham-paham keagamaan Mesir lama dan Brahma.


172 Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.(QS. 4:172)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 172
لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا (172)
. Kemudian sebagai penolakan at anggapan bahwa Isa as, itu adalah Tuhan, Allah menjelaskan bahwa Isa as, sendiri, begitu pula malaikat-malaikat tidak merasa enggan dikatakan hamba Allah dan tidak pernah menyombongkan diri, sehingga mengatakan aku ini adalah Tuhan, karena Isa as, dan malaikat-malaikat itu menyadari dan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa Allah Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Kaya, Dialah yang patut disembah, patut diagungkan dan patut diminta rahmat dun karunia-Nya. Sedangkan malaikat yang tinggi derajatnya dan amat dekat kepada Tuhan dan di antara mereka itu ada yang diutus Allah untuk meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh Maryam, ibu Isa as, yang dimuliakannya dan diangkat menjadi rasul, tentu tidak mungkin akan berkata aku ini adalah Tuhan yang harus disembah dipuja dan diagungkan. Orang-orang yang enggan menyembah Allah dan menyombongkan diri termasuk orang-orang yang tiada mengakui adanya Tuhan, adalah orang-orang yang durhaka, orang-orang yang tak tahu diri dan tak mempergunakan akal pikirannya. Allah akan mengumpulkan mereka di padang mahsyar kelak bersama-sama dengan orang-orang mukmin dun semua makhluk Allah lainnya dan mereka akan menerima siksaan yang pedih karena kesesatan dan keduanya.


173 Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.(QS. 4:173)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 173
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (173)
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang baik mereka akan menerima pahala amalan mereka berlipat ganda dan akan dimasukkan ke dalam surga Jannatun na'im, selalu dilimpahi rahmat dan karunia Ilahi. Tetapi orang-orang yang enggan dikatakan hamba Allah dan selalu menyombongkan diri dan orang yang mengingkari adanya Allah, mereka akan mendapat siksaan yang amat pedih sesuai dengan dosa dari keingkaran mereka. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahim, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Tak ada yang akan membela mereka, dan tak ada yang akan menolong mereka supaya dapat keluar dari neraka, karena semua urusan di kala itu berada di tangan Allah SWT, sebagai tersebut dalam firman-Nya:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
Artinya:
(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikiipun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
(Q.S. Al-Infitar: 19)


174 Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al quran).(QS. 4:174)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 174
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا (174)
Pada ayat ini Allah menyeru semua manusia di alas dunia dan menyatakan bahwa telah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas dan Tuhan, dikuatkan oleh dalil-dalil dan alasan-alasan yang nyata dan benar, yang dibawa oleh seorang Nabi dan Rasul-Nya, yang "ummi" yang tidak tahu tulis baca. Keadaan buta huruf itu saja sudah merupakan bukti yang kuat atas kenabian dan kerasulannya alas kebenaran agama yang dibawanya yang cukup mempunyai peraturan-peraturan dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan memberikan petunjuk berupa ibadah dan amal saleh untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.
Bagaimana seorang ummi yang tidak pernah belajar di sekolah apalagi untuk membaca buku-buku, dan tidak pernah di masa kanak-kanak dan di masa mudanya mengikuti langkah-langkah dan kebiasaan-kebiasaan anak dan pemuda-pemuda di masanya, tidak pernah menghadiri malam-malam senda gurau, malam-malam panjang dl mana mereka bercerita dan bercengkerama mengenai adat-istiadat, sejarah nenek moyang, dan kejadian-kejadian penting di kalangan mereka, seperti peperangan, permusuhan dan lain sebagainya dapat menceritakan sesuatu yang berharga dan tinggi nilainya? Bagaimana seorang ummi yang demikian halnya akan dapat membawa suatu kitab (Alquran) yang di dalamnya terdapat syariat yang mulia dan amat tinggi nilainya, dibawakan dengan gaya bahasa yang amat tinggi pula mutunya yang tidak dapat ditiru dan ditandingi oleh pujangga-pujangga bagaimanapun besarnya. Ini adalah suatu tanda dan bukti atas kebenaran agama yang dibawanya, bahkan tidak ada orang yang dapat membantah bahwa Alquran itu adalah suatu mukjizat yang abadi yang selalu dapat menguatkan dan membenarkan agama yang dibawanya itu. Maka Allah menamakan Alquran itu cahaya yang terang benderang yang memberi petunjuk kepada manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik kepada cahaya iman dan menegakkan dasar-dasar tauhid yang telah menjadi tugas para Rasul sebelum Muhammad saw. Para Rasul sebelumnya telah menyeru umatnya dengan bersungguh-sungguh kepada agama tauhid dan telah banyak pula pengikut mereka. Tetapi ternyata sesudah mereka meninggal, para pengikut itu telah merusak dasar-dasar tauhid itu dengan mencampur adukkannya dengan beraneka ragam kemusyrikan seperti menyembah berhala, menyembah binatang dan matahari bahkan menyembah arwah-arwah dengan memujanya dan memanjatkan doa kepadanya. Akhirnya manusia terjerumus ke lembah syirik dan hanyut dibawa arus berbagai macam paham yang sesat dan menyesatkan sehingga mereka kehilangan pedoman dan tidak tahu lagi mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dalam keadaan gelap gulita seperti inilah Alquran diturunkan sebagai cahaya yang menerangi mereka sehingga manusia dapat berpikir kembali dan menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh selama ini adalah jalan salah yang membawa kepada kerusakan dan keruntuhan.
Dalam ayat lain Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya:
"Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Alquran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu"
(Q.S. Al-Hadid: 9)
Dengan demikian jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw. yang ummi (buta huruf) pembawa suatu syariat yang sempurna untuk kebahagiaan dunia dan akhirat tidak mungkin kalau dia bukan seorang Nabi dan utusan Allah. Dan jelas pulalah bahwa Alquran yang diturunkan kepadanya bukan buatannya, tetapi benar-benar wahyu dari Tuhan semesta Alam.


175 Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar daripada-Nya (syurga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.(QS. 4:175)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 175
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (175)
. Pada ayat ini Allah memberikan ketegasan kepada manusia sesudah menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Rasul-Nya dan Alquran adalah cahaya dan petunjuk yang diturunkan Nya, bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada ajaran Alquran itu, akan demikian ke dalam rahmat-Nya yaitu surga dan akan selalu berada dalam lindungan karunia-Nya, suatu rahmat dan karunia yang tak dapat dibayangkan oleh manusia bagaimana besar dan mulianya. Ibnu 'Abbas berkata: "yang dimaksud dengan rahmat-Nya di sini ialah surga dan dengan karunia-Nya, karunia yang akan dinikmati oleh penghuninya yang belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah terdengar oleh telinga dan tak terbayangkan dalam pikiran betapa bahagia dan senangnya orang yang dapat menikmatinya. Selain dari itu Allah akan memberinya petunjuk dan hidayah seta taufik-Nya agar ia selalu berada di jalan yang lurus, jalan yang benar yang akan menyampaikan kepada rahmat-Nya yang besar dan lurus itu."


176 Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: `Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): Jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. 4:176)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 176
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (176)
Adapun sebab turunnya ayat ini adalah sebagai yang diriwayatkan Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim, demikian pula imam-imam penyusun kitab hadis lainnya dan Jabir bin Abdullah. Antara lain Jabir berkata: "Pada suatu ketika Rasulullah saw masuk ke rumahku dan aku sedang sakit keras dan dalam keadaan tidak sadar. Lalu Rasulullah saw, menumpahkan air ke mukaku sehingga aku menjadi sadar. Aku katakan kepada beliau bahwa tidak ada ahli warisku lagi, baik bapak atau anakku, maka bagaimana cara pembagian harta peninggalanku? Maka turunlah ayat ini."
Pada permulaan surat ini yaitu pada akhir ayat 12, ada pula hukum waris kalalah, maka Al Khattabi berkata tentang kedua ayat kalalah ini: "Allah telah menurunkan dua ayat pada permulaan surat "An Nisa' dan ayat itu bersifat umum dan belum jelas benar, kalau dilihat dari bunyi ayat itu saja. Kemudian Allah menurunkan lagi ayat kalalah di musim panas yaitu ayat terakhir dari surat An Nisa'.
Pada ayat ini terdapat tambahan keterangan mengenai apa yang belum dijelaskan pada ayat pertama karena itu ketika Umar bin Khattab ditanya tentang ayat kalalah yang turun pertama kali, Ia menyuruh penanya itu untuk memperhatikan ayat kalalah kedua.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. supaya menjawab pertanyaan yang dikemukakan orang kepadanya mengenal pusaka kalalah, seperti halnya Jabir bin Abdullah yang tidak lagi mempunyai bapak dan anak, sedang dia mempunyai saudara-saudara perempuan yang bukan saudara seibu. Karena saudara perempuan yang bukan seibu belum ada ditetapkan untuk mereka bagian Tertentu dalam harta pusaka, sedang saudara seibu ditetapkan bagiannya yaitu seperenam jika saudara perempuan itu seorang saja, sepertiga bila lebih dari seorang. Pusaka yang sepertiga itu dibagi rata antara saudara-saudara perempuan ibu, berapapun banyaknya mereka, karena pusaka itu adalah pusaka yang menjadi hak ibu mereka kalau ibunya masih hidup.
Jawaban yang diperintahkan Allah kepada Nabi-Nya tentang masalah ini ialah bahwa bila seseorang meninggal sedang ia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan seibu sebapak atau sebapak saja maka saudara perempuan itu mendapat seperdua dan harta yang ditinggalkannya, jika saudara itu seorang saja.
Dia sendiri, bila saudara perempuannya itu mati lebih dahulu, berhak mewarisi harta yang ditinggalkannya, dan tidak pula mempunyai bapak yang menghijab (menghalanginya) dan hak mewarisi. Dia berhak mewarisi seluruh harta peninggalan saudaranya perempuan, bila tidak ada orang yang berhak atas pusaka itu yang telah ditentukan bagiannya (ashabul furud) Tetapi bila ada orang yang berhak yang telah ditentukan bagiannya seperti suami, maka diberikan lebih dahulu hak suami itu dan selebihnya menjadi haknya sepenuhnya kalau saudara perempuan itu ada berdua, maka kedua saudaranya itu: mendapat dua pertiga. Dan bila saudara-saudaranya yang perempuan itu lebih dari dua orang, maka yang dua pertiga itu dibagi rata (sama banyak) antara saudara-saudara itu. Kalau yang ditinggalkannya itu terdiri dari saudara-saudara (seibu sebapak atau sebapak saja) terdiri saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka harta pusaka yang ditinggalkan itu dibagi antara meraka dengan ketentuan bahwa bagian yang laki-laki dua kali bagian yang perempuan, kecuali bila yang ditinggalkannya itu saudara-saudara seibu, maka saudara saudara seibu seperenam saja, karena hak itu pada asalnya adalah hak ibu mereka. Kalau tidak karena itu, tentulah mereka tidal: berhak sama sekali karena bukan pewaris-pewaris yang berhak mewarisi seluruh harta pusaka. Demikianlah yang ditetapkan Allah mengenai pusaka kalalah, maka wajiblah kaum muslimin melaksanakan ketetapan-ketetapan itu dengan seksama, agar mereka janganlah tersesat dan jangan melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah. Hukum-hukum yang ditetapkan Allah itu adalah untuk kebaikan hamba-Nya, dan ilmu-Nya amat luas meliputi segala sesuatu di dalam alam ini.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 176
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (176)
(Mereka meminta fatwa kepadamu) mengenai kalalah, yaitu jika seseorang meninggal dunia tanpa meninggalkan bapak dan anak (Katakanlah, "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah; jika seseorang) umru-un menjadi marfu' dengan fi'il yang menafsirkannya (celaka) maksudnya meninggal dunia (dan dia tidak mempunyai anak) dan tidak pula bapak yakni yang dimaksud dengan kalalah tadi (tetapi mempunyai seorang saudara perempuan) baik sekandung maupun sebapak (maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan dia) maksudnya saudaranya yang laki-laki (mewarisi saudaranya yang perempuan) pada seluruh harta peninggalannya (yakni jika ia tidak mempunyai anak). Sekiranya ia mempunyai seorang anak laki-laki, maka tidak satu pun diperolehnya, tetapi jika anaknya itu perempuan, maka saudaranya itu masih memperoleh kelebihan dari bagian anaknya. Dan sekiranya saudara laki-laki atau saudara perempuan itu seibu, maka bagiannya ialah seperenam sebagaimana telah diterangkan di awal surah. (Jika mereka itu) maksudnya saudara perempuan (dua orang) atau lebih, karena ayat ini turun mengenai Jabir; ia meninggal dunia dengan meninggalkan beberapa orang saudara perempuan (maka bagi keduanya dua pertiga dari harta peninggalan) saudara laki-laki mereka. (Dan jika mereka) yakni ahli waris itu terdiri dari (saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang laki-laki) di antara mereka (sebanyak bagian dua orang perempuan." Allah menerangkan kepadamu syariat-syariat agama-Nya (agar kamu) tidak (sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) di antaranya tentang pembagian harta warisan. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Barra bahwa ia merupakan ayat yang terakhir diturunkan, maksudnya mengenai faraid.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AN NISAA'>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar